RUNGKAT : Ruang Kata Jurnal Inovasi Pembelajaran. Bahasa, dan Sastra Vol. No. September 2024, pp. https://e-jurnal. id/index. php/rungkat || KODE SIMBOLIK PADA NOVEL NY. TALIS KISAH MENGENAI MADRAS KARYA BUDI DARMA (KAJIAN SEMIOTIK) Hariyanto 1,*. Nisaul Barokati Selirowangi 2, *1 SDN Napis VI Kec. Tambakrejo Bojonegoro - Indonesia. 2 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan - Indonesia. 1 hariyanto. cbr@gmail. 2 nisa@unisda. ARTICLE INFO Article history Received: 10-07-2024 Revised: 08-09-2024 Accepted: 20-09-2024 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kode simbolik yang terdapat dalam novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras karya Budi Darma dengan menggunakan pendekatan semiotik. Karya ini dikenal dengan penggunaan simbol-simbol yang kompleks dan mendalam, yang merefleksikan berbagai aspek kehidupan sosial, psikologis, dan kultural masyarakat. Melalui pendekatan semiotik Roland Barthes, penelitian ini menganalisis tanda-tanda dan simbol-simbol yang terdapat dalam narasi, dialog, dan deskripsi yang ada di dalam novel. Analisis dilakukan dengan membedakan makna denotatif . dan konotatif . akna yang lebih dala. , serta mengaitkan simbolsimbol tersebut dengan konteks sosial dan budaya Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras memanfaatkan simbol-simbol tertentu untuk menggambarkan konflik batin para tokoh, relasi sosial yang rumit, serta kekuatan budaya yang mempengaruhi kehidupan Kode simbolik yang digunakan oleh Budi Darma berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan kritik terhadap nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat, serta sebagai cerminan dari kondisi eksistensial manusia. Simbolsimbol seperti benda, warna, dan tindakan tertentu dalam novel ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar fungsi naratif, yaitu sebagai representasi dari realitas sosial dan psikologis. Kata Kunci: Semiotik Sastra. Kode Simbolik Sastra. Budi Darma. ABSTRACT This research aims to reveal the symbolic code contained in the novel Ny. Tales of Stories about Madras by Budi Darma using a semiotic approach. This work is known for its use of complex and profound symbols, which reflect various aspects of society's social, psychological and cultural life. Using Roland Barthes' semiotic approach, this research analyzes the signs and symbols contained in the narrative, dialogue and descriptions in the novel. The analysis was carried out by distinguishing denotative . and connotative . eeper meanin. , as well as linking these symbols to the Indonesian social and cultural context. The research results show that the novel Ny. Talis Tales About Madras utilizes certain symbols to depict the inner conflicts of the characters, complex social relations, and cultural forces that influence individual lives. The symbolic code used by Budi Darma functions as a medium to convey criticism of the social values that exist in society, as well as as a reflection of the human existential condition. Symbols such as objects, colors and certain actions in this novel have a broader meaning than just a narrative function, namely as representations of social and psychological reality. Keywords: Literary Semiotics. Literary Symbolic Code. Budi Darma. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/rungkat rungkat@unisda. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. Pendahuluan Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras karya Budi Darma merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang kaya akan simbolisme (Lestari, 2. Sebagai pengarang yang dikenal dengan gaya penulisannya yang unik dan kompleks. Budi Darma sering kali memanfaatkan simbol-simbol dan kode-kode simbolik untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang lebih dalam dari sekadar narasi permukaan (Ulfah, 2. Dalam konteks ini, penggunaan simbol dalam novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras memberikan dimensi makna yang berlapis, yang membutuhkan kajian mendalam agar pemahaman terhadap pesan yang terkandung dalam novel tersebut dapat diungkap secara lebih komprehensif. Permasalahan utama yang dihadapi dalam dunia kritik sastra modern adalah kecenderungan untuk menafsirkan karya-karya sastra yang kaya simbolisme dengan cara yang terlalu literal (Mubarok, 2. Sering kali, pembaca dan kritikus tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap makna simbolik yang tersembunyi di balik tindakan tokoh, deskripsi latar, atau dialog dalam teks sastra (Marzuqi, 2. Hal ini menyebabkan berkurangnya apresiasi terhadap keindahan dan kompleksitas karya sastra, khususnya yang dihasilkan oleh pengarang-pengarang seperti Budi Darma, yang karyanya sarat akan simbol dan tanda-tanda. Simbol-simbol ini sering kali berkaitan dengan aspek sosial, budaya, dan psikologis yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk menggali kembali karya-karya sastra Indonesia yang penuh dengan makna simbolik namun belum banyak mendapatkan perhatian dari kajian semiotik. Simbol-simbol dalam novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras mencerminkan realitas sosial dan kultural yang ada di masyarakat, tetapi juga mencerminkan kondisi psikologis dan eksistensial manusia modern (Sukowati, 2. Oleh karena itu, kajian semiotik sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana Budi Darma menggunakan simbol-simbol ini untuk menyampaikan gagasan yang lebih luas mengenai kehidupan, hubungan antar manusia, dan dinamika sosia 9Agustina, 2. Selain itu, dalam konteks perkembangan kritik sastra di Indonesia, penelitian tentang simbolisme dalam novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras dapat memberikan kontribusi yang Hingga saat ini, kajian semiotik terhadap karya-karya sastra Indonesia masih tergolong sedikit dibandingkan dengan kajian lain seperti kajian struktural atau realisme. Dengan demikian, penelitian ini juga diharapkan dapat menambah khazanah penelitian sastra Indonesia dengan memberikan perspektif semiotik yang lebih komprehensif terhadap karya Budi Darma. Penelitian ini juga menawarkan sebuah kontribusi baru, yaitu penelaahan simbolisme dalam novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras melalui pendekatan semiotik yang Dengan memanfaatkan teori-teori semiotik modern, penelitian ini akan mengungkap bagaimana tanda-tanda dan simbol-simbol dalam novel tersebut berfungsi tidak hanya sebagai elemen naratif, tetapi juga sebagai refleksi dari dinamika sosial dan kultural yang ada di masyarakat. Pendekatan ini berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya yang mungkin lebih fokus pada aspek plot atau karakterisasi, dan memberikan perhatian khusus pada bagaimana simbol-simbol tersebut membentuk makna yang lebih dalam. Jebaruan lain dari penelitian ini adalah analisis simbolik yang dikaitkan dengan konteks sosial dan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras tidak hanya merupakan cerminan dari dunia fiksional, tetapi juga merefleksikan fenomenafenomena yang terjadi dalam kehidupan nyata, seperti peran gender, dinamika kekuasaan, dan hubungan antar manusia. Melalui kajian semiotik, penelitian ini akan mengungkap bagaimana Budi Darma memanfaatkan simbolisme untuk menggambarkan realitas ini, serta memberikan interpretasi baru terhadap elemen-elemen sosial yang mungkin terlewatkan dalam kajiankajian sebelumnya. Dalam konteks kekinian, penelitian ini relevan karena dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana karya sastra berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan kritik sosial melalui simbolisme. Dalam dunia yang semakin kompleks dan sarat dengan simbol-simbol, baik dalam media massa, politik, maupun kehidupan sehari-hari, kajian semiotik terhadap (Kode Simbolik pada Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras Karya Budi Darma (Kajian Semioti. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. sastra menjadi sangat penting. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang cara pengarang Indonesia seperti Budi Darma mengolah simbolisme untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang semakin dinamis dan plural. Akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan teori semiotik dalam kajian sastra Indonesia. Dengan mengungkap lapisanlapisan makna simbolik dalam novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras, penelitian ini dapat menjadi landasan bagi kajian semiotik terhadap karya-karya sastra Indonesia lainnya, serta memperkaya pemahaman kita terhadap cara-cara pengarang Indonesia menggunakan simbolisme untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai yang relevan bagi kehidupan sosial dan kultural masyarakat saat ini. Metode Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik untuk mengkaji kode simbolik dalam novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras karya Budi Darma. Pendekatan semiotik dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna tersembunyi dan simbol-simbol yang terdapat dalam teks novel, serta bagaimana simbol-simbol tersebut berfungsi dalam menyampaikan pesan atau tema sentral yang diusung oleh pengarang. Semiotik merupakan metode yang sangat relevan untuk menggali lapisan-lapisan makna yang terdapat dalam karya sastra, khususnya dalam memahami tanda-tanda, simbol, dan kode-kode yang digunakan dalam membangun narasi dan karakterisasi. Data dalam penelitian ini adalah teks novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras. Peneliti akan menganalisis berbagai elemen simbolik yang muncul dalam novel, seperti objek, tindakan, dialog, dan suasana, yang memiliki makna mendalam atau metaforis. Data yang diambil dari novel akan dikategorikan berdasarkan kode-kode simbolik yang teridentifikasi, misalnya kode warna, kode benda, atau simbol-simbol yang berkaitan dengan aspek sosial dan budaya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan cara membaca dan memahami novel secara menyeluruh untuk mengidentifikasi simbol-simbol yang muncul. Peneliti kemudian mencatat dan mengklasifikasikan berbagai tanda atau kode simbolik yang ditemukan dalam teks. Dalam proses ini, perhatian khusus diberikan pada bagian-bagian yang dianggap penting dan sarat akan simbolisme, baik dalam dialog antar tokoh maupun dalam deskripsi naratif. Analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis semiotik model Roland Barthes, yang membedakan antara makna denotatif . akna literal dari sebuah tand. dan makna konotatif . akna yang lebih dalam atau kultura. Tahapan analisis dimulai dengan mengidentifikasi tanda-tanda . yang terdapat dalam teks dan menghubungkannya dengan makna yang lebih luas . Melalui analisis konotatif, peneliti akan menggali makna kultural, sosial, atau psikologis yang tersembunyi di balik simbol-simbol tersebut, serta bagaimana mereka berkontribusi terhadap tema dan alur cerita. Hasil dan Pembahasan Kode-kode simbolik dalam novel Ny. Talis (Kisah Mengenai Madra. dapat dideskripsikan sebagaimana dalam leksia-leksia berikut ini. Data Leksia . Simbol dari kehidupan yaitu antara ada dan tidak ada (Darma, 1996: bagian I/. Ada dan tidak ada adalah bentuk antitesis yang perlu dimaknai secara simbolis. Kehidupan selalu terkait dengan hukum-hukum seperti itu. Hal mengada dan tidak ada adalah bentuk kepastian tentang realitas. AuMadras pernah menghadiri sebuah ceramah Guru Besar Matematika mengenai ada dan tidak ada, maka di bawah tulisan Santi Wedanti dia menulis. AuYang ada, itu ada. Yang tidak ada, itu adaAy (Darma, 1996:. Hukum kepastian dalam hidup perlu ditafsirkan dengan memadukan hukum alam di dalamnya ada logika-logika kebenaran dan hukum sosial di dalamnya terdapat norma-norma (Kode Simbolik pada Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras Karya Budi Darma (Kajian Semioti. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. Perpaduan dua macam hukum tersebut dapat digunakan untuk mencari hubungan sebab akibat dan antiteesis tentang kehidupan. Data Leksia . Simbol tentang perempuan desa yang bertubuh besar, berotot kekar, dan tulang-tulangnya kuat (Darma, 1996: bagian I/. Simbol tentang perempuan desa begitu menarik Waniata desa adalah simbol feminisme yang sebenarnya. Sebagaimana dialog Santi Wedanti berikut ini. Di kolom Santi Wedanti sedang berolahraga, wartawan Draham bertanya: AuBagaimana mengenai potongan tubuh kamu, kalau saya boleh tahu. AuTidak ada komentar. Tapi saya senang potongan tubuh perempuan desa. Tubuh besar, otot-ototnya kekar, tulang-tulangnya bersodok-sodokan. AuDaya tahan tinggi, terhadap apa pun. Kerja keras, melahirkan, membesarkan anak, memberantas kesulitan, bertempur melawan penyakit, dan entah apa lagi. Perempuan harus siap berhadapan dengan segala cuaca (Darma, 1996:. Di tengah tubuh perempuan kota, yang kebanyakan memiliki lekuk tubuh tidak beraturan. Bentuk tubuh perempuan desa lebih menarik bagi orang kota kebanyakan. Tubuh perempuan desa lebih kokoh, dan siap menghadapi segala bentuk kondisi, atau dapat dikatakan tahan Hal ini merupakan kode simbolik bahwa perempuan desa adalah kekuatan baik fisik maupun mental. Data Leksia . Simbol tentang kebahagiaan Ny. Talis dibalik penderitaan yang dialaminya. Penderitaan dan kebahagiaan Ny. Talis sulit dibedakan (Darma, 1996: bagian II/. Kebahagiaan dan penderitaan adalah antitesis. Seseorang telihat bahagia, tetapi kebahagiaan itu ada di atas penderitaan yang dialaminya. Sebagaimana yang dialami Ny. Talis. AuNy. Talis luar biasa cantik. Dia nampak sangat bahagia. Tapi say yakin dia sangat menderita. Saya tahu dari sorot matanya. Belum pernah saya menghadapi makhluk yang lebih menderita tapi nampak lebih bahagia daripada Ny. Talis. Ay (Darma, 1996:. Sebuah antitesis dalam kehidupan Ny. Talis bahwa apa yang tampak di dalam kehidupan Ny. Talis tidak serta merta kebahagiaan. Di dalam kehidupan Ny. Talis terdapat kesengsaraan yang begitu dahsyat. Kesengsaraan dan penderitaan itu tidak telihat. Hal ini dikarenakan. Ny. Talis tidak pernah memepertentangkan kesengsaraan dan kebahagiaannya. Oleh karena itu, kebanyakan orang atau tokoh lain dalam cerita hanya mengetahui kebahagiaan di balik kecantikan, keanggunan, dan kewibawaan Ny. Talis sebagai seorang perias pengantin. Data Leksia . Ny. Talis lebih suka takhayul. Seluruh hidup Ny. Talis selalu diperhitungkan (Darma, 1996: bagian II/. Leksia ini adalah leksia lanjutan dari leksia 31. Meskipun dia tidak pernah mempertentangkan kebahagiaan dan kesengsaraan. Ny. Talis selalu percaya dengan Takhayul. Kode simbolik semacam inilah lantas membawa kesengsaraan hidup Ny. Talis. Sebagaimana kutipan di bawah ini. AuRupanya Ny. Talis sangat percaya tahyul. Saya tidak suka. Dan karena itu, saya tidak mengoreknya lebih jauh. Kalau di berjalan, dia memperhitungkan irama kakinya. Kalau dai berbicara juga demikian. Juga kalau dia makan. Semua dia perhitungkan. Bukan untuk kepentingan kecantikan. juga bukan untuk kepentingan sopan santun, tapi Beberapa kali saya lihat dia komat kamit. Saya curiga itu bukan doa kepada (Kode Simbolik pada Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras Karya Budi Darma (Kajian Semioti. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. Tuhan. Doa takhyul. Ay (Darma, 1996:. Sebagai bentuk antitesis: doa Tuhan dan doa takhayul. Ny. Talis lebih percaya pada doa Oleh karena itu, apa pun yang dilakukan selalu diperhitungkan. Doa takhayul itu bukan untuk kepentingan kecantikan atau sopan santun, tetapi benar-benar untuk takhayul belaka. Doa takhayul adalah doa untuk kesengsaraan dan penderiataan Ny. Talis. Data Leksia . Madras mengingat kunjungan burung aneh tadi malam. Burung itu sudah beberapa kali mengunjungi Madras (Darma, 1996: bagian II/. Burung menjadi simbol berita. Sejak lama burung bertugas menyampaikan berita. Bahkan sejak lama manusia berteman dengan burung. Nabi Sulaiman berteman dengan burung. Karena burung itu pula, oran-orang kafir mau menyembah Tuhan. Dalam konteks masyarakat Jawa, kehadiran burung tertentu seperti gagak atau burung hantu adalah penanda musibah. Penandaan itu sudah berjalan cukup lama. Dalam konteks ini, burung adalah penanda/berita musibah bahkan kematian yang disampaikan kepada Madras. AuSekonyong Madras teringat kunjungan burung aneh tadi malam. Memang sudah beberapa kali burung aneh itu Tapi, tadi malam sikap burung aneh agak berbedaAy (Darma, 1996:. Leksia 5 ditegaskan kembali pada bagian i/9. Sebagaimana kutipan berikut ini. AuMata burung aneh memancarkan sinar sedih, marah, dan balas-dendam. Nampak burung aneh tidak datang demi kepentingan nafsu sendiri. Demi kewajiban untuk menegakkan kebenaran, itulah nafsu burung aneh (Darma, 1996:. Data Leksia . Madras bersahabat dengan burung aneh. Ia yakin bahwa burung aneh sahabatnya ada kaitannya dengan Ny. Talis (Darma, 1996: bagian i/. Sejak jaman dahulu manusia sudah bersahabat dengan burung. Juga melalui burung, nabi Sulaiman dapat meyakinkan orang-orang kafir untuk menyembah Tuhan. Dan dalam sekian banyak perang jaman dulu, berita dari satu ajang ke ajang lain juga disampaikan oleh burung. Burung memang istimewa. Untuk menghindari musim tertentu, mereka sanggup terbang ribuan kilometer. Sekarang Madras bersahabat dengan burung aneh Dia bahkan berusaha berbicara dengan burung aneh. Bahasa sandi pun segera Manusia dan burung saling mengerti (Darma, 1996:. Sejak lama pula manusia membaca isyarat burung. Begitu juga dengan Madras. Sebagai representasi orang Jawa. Madras selalu menafsirkan isyarat burung. Malahan ia berteman dengan burung. Setiap kali burung aneh itu datang, ia selalu mengorek informasi mengenai apa Akan tetapi ia lebih suka mencari informasi tentang penderitaan Ny. Talis dalam kutipan berikut ini. Tapi ketika dia berusaha mengorek keterangan mengenai asal usul burung aneh, nampaknya burung aneh berkeberatan menjawabnya. Demikian juga ketika di menghubungkan burung aneh dengan Jl. Supratman. Tapi dia yakin, burung aneh pasti ada sangkut pautnya dengan Ny. Talis. Kemudian dia ambil senapan angin yang diketemukan tidak jauh dari Jl. Supratman. Tiba-tiba wajah burung aneh menunjukkan warna murka, geram, dan penasaran (Darma, 1996:. Burung dalam cerita ini sebagai penanda hubungan kode simbolik dengan kode-kode yang Kehadiran burung aneh dalam kehidupan Madras memberikan dampak yangluar biasa bagi jalan cerita. dengan demikian, burung aneh adalah penghubung rantai cerita, simbolik: (Kode Simbolik pada Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras Karya Budi Darma (Kajian Semioti. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. burung aneh, penyambung cerita. Data Leksia . Serombongan pengiring jenazah dan upacara pemakaman. Rombongan pengiring jenazah juga silih berganti masuk (Darma, 1996: bagian i/. Hal-hal yang berkaitan dengan kematian, seperti rombongan pengiring jenazah, pemakaman, dan pintu gerbang makam, menjadi kode simbolik kematian. Hal ini menandakan bahwa manusia harus memngingat akan kematian. Semua yang hidup di dunia akan mengalamai peristiwa kematian. Oleh karena itu, simbol tentang kematian dimunculkan dalm beberapa titik cerita. AuSerombongan pengantar jenazah sedang menuju pintu gerbang. Belum sempat rombongan seluruhnya masuk ke pekarangan pemakaman, rombongan lain sudah Dan itu, di sana, ada rombongan lainAy (Darma, 1996:. Data Leksia . Madras melakukan apapun dengan lincah, cepat, dan tidak bersuara (Darma, 1996: bagian i/9 s. Sebagai tokoh pengisah. Madras memiliki keunikan simbol karakter. Ia mampu menembus segala hal yang berkaitan dengan kedidupan manusia dalam teks sastra. Kelincahan, kecepatan adalah simbolik keliaran. Keliaran itu muncul sebagai akibat kemaskulinan, sebagaimana data berikut ini. AuWahai burung aneh. Lihatlah saya. Sekarang juga saya akan berlatih. Ay Lalu dia meloncat ke pohon, berjalan di pohon, meloncat dari dahan ke dahan. Setelah meloncat ke tanah, dia meloncat ke tembok. Dan dari tembok melesat ke atap rumah. Semua dilakukan dengan cepat, sangat lincah, dan tidak menerbitkan suara (Darma, 1996:. Sebagai tokoh yang bergerak dari kisah yang satu ke kisah yang lain. Madras adalah repesentasi simbol tokoh yang serba tahu dengan cepat segala hal yang berkaitan dengan Kecepatan dan ketangkasan sebagai kode simbolik maskulin. AuDia juga sanggup lari dengan kecepatan yang sulit disimak mata. Derap kaki dia tidak menimbulkan bunyi. Dan nafas dia selalu ringan dan teratur (Darma, 1996:. Data Leksia . Wiwin mencintai Madras, tetapi Wiwin tidak dapat menerima cinta Madras (Darma, 1996: bagian i/. Sebagai bentuk kcepatannya dalam bertindak. Madras langsung jatuh cinta kepada Wiwin. Pengisahan berjalan sampai dia dengan segera melamar Wiwin. Sebagaimana kutipan dialog berikut ini. AuLalu bagaimana dengan surat saya? Pinangan saya?Ay AuTerima kasih. Madras, terima kasih. Saya sudah katakan, diam-diam saya sudah menghitung-hitung hari-hari saya. Saya makin tua. Dan saya seolah tidak mempunyai tujuan (Darma, 1996:. Madras sangat yakin Wiwin menerima cintanya, karena dia tahu bahwa Wiwin juga Meski Madras berusaha merayu Wiwin untuk menerima cintanya. Wiwin dengan kecerdasannya berusaha menolak cinta Madras. Hal ini menandakan secara simbolik bahwa mencintai tidak harus saling memiliki. Sebagaimana dalam fakta kehidupan, cinta dan (Kode Simbolik pada Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras Karya Budi Darma (Kajian Semioti. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. mencintai bukan sebagai ukuran. Cinta dan mencintai adalah pengendalian, sebagaimana dalam kutipan dialog Wiwin berikut ini. AuTerima kasih Madras. Tapi saya tidak bisa menerima cincin yang sangat aneh dan sangat indah ini. Saya benar-benar mencintai kamu. Tapi saya tidak dapat menerima cinta kamu. Ay AuMadras, saya mencintai kamu. Sejak dulu memang saya sudah mencintai kamu. Sebelum saya tahu siapa kamu, saya sudah mencintai kamu. Tapi ketahuilah Madras, sebentar lagi saya harus meninggalkan dunia ini (Darma, 1996:. Kode simbolik berupa antitesis: mencintai, tidak dapat menerima cinta. Di tengah perasaan yang menggebu tentang cinta. Wiwin mampu meredam rasa cintanya. Hal ini berkaitan dengan kode hermeneutika tentang leksia pertanyaan kematian Wiwin. Data Leksia . Kebahagiaan dan kesengsaraan bukan hanya berbeda, juga bertolak belakang (Darma, 1996: bagian i/. Leksia tentang kesengsaraan dan kebahagiaan yang dialami oleh Ny. Talis juga terjadi dalam kehidupan Santi Wedanti sebagaimana kutipan berikut ini. Kebahagiaan dan kesengsaraan bukan hanya berbeda, tapi juga bertolak belakang. Maka, kebahagiaan dan kesengsaraan dapat membaur, menyatu, dan memadu, justru karena keduanya tidak sama. Itulah yang dialami santi Wedanti ketika dia bersama Madras mengantarkan Wiwin ke lapang terbang Juanda Kemesraan Wiwin dan Madras membuat dia bahagia. Andaikata dia Wiwin, pasti dia dapat berangkul-rangkulan dengan Madras (Darma, 1996:. Kebahagiaan sebagai antitesis: kesengsaraan membuat Santi Wedanti tidak tahu yang mana yang harus ia pilih. Satu sisi dia bahagia melihat Wiwin dan Madras saling memanjakan satu sama lain. Satu sisi lainna, ia sengara melihat Madras bersama dengan Wiwin. Sebagaimana kutipan berikut ini. AuSewaktu dia di rumah Wiwin itu, kebahagiaan dan kesengsaraan dalam dirinya juga membaur, menyatu dan memadu. Dia tidak tahu mana yang mana (Darma, 1996:. Data Leksia . Santi Wedanti hanyalah makhluk terpencil sendirian. Ia merasa sendiri saat berkendara satu mobil dengan Madras dan Wiwin (Darma, 1996: bagian i/. Leksia ini adalah leksia lanjutan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Di tengah kebahagiaan Madras dan Wiwin. Santi Wedanti merasa terpencil. Kebahagiaan antitesis: terpencil dan kesepian menjadikan keterasingan. Ia merasa terpencil dalam mobil ketika bersama Madras dan Wiwin ketika hendak mengantarkan Wiwin ke bandara Juanda. Sebagaimana kutipan berikut ini. AuTapi dia sadar, bahwa dia adalah makhluk terpencil. Bagaikan dalam kapal Nabi Nuh, dalam mobil sudah ada tiga pasang binatang dan sepasang manusia. Mau tidak mau dia harus diceburkan ke air bahAy (Darma, 1996:. Data Data Leksia . Ny. Talis merasa asing dan kesepian di tengah hingar bingar keluarga Raden Mas Ompreng (Darma, 1996: bagian IV/. Simbol keterasingan dan kesepian adalah keterjepitan perasaan di tengah keluasan (Kode Simbolik pada Novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras Karya Budi Darma (Kajian Semioti. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. keluarga Raden Mas Ompreng. AuMeskipun keluarga Raden Mas Ompreng sering mengatakan bahwa Ny. Talis tidak lain adalah anggota keluarga mereka sendiri. Ny. Talis tetap merasa Makin sering mereka mengatakan bahw Ny. Talis adalah keluarga sendiri, makin merasa asing Ny. TalisAy (Darma, 1996:. Serba gemerlapnya keluarga Raden Mas Ompreng selalu membuat Ny. Talis dilanda Akan tetapi, imajinasinya berkelejatan, liar dan mampu menembus cakrawala. tangah kesepiannya ia bermimpi. Jalan satu-satunya mengusir kesepian adalah kawin. Kesepian sebagai antitesis kawin. Untuk mengusir kejenuhan karena ke sepian adalah kawin. Sebagaimana data di bawah ini. Hingar bingar di rumah Raden Mas Ompreng selalu membuat Ny. Talis merasa kesepian. Perasaan asing adalah saudara kembar perasaan terpencil. Dan begitu seseorang merasa terpencil, angan-angannya berkelejatan. Dan Ny. Talis sering bermimpi. Dan dalam mimpi dia sering mengembara ke alam bebas tanpa cakrawala, tanpa lelah, tanpa lapar. Apa yang disadarinya sejak dulu makin bertambah kuat. Satu-satunya jalan keluar dari keterpencilan adalah kawin. Tapi rahasia tembong dia akan terbongkar. Bagi dia lebih baik tidak kawin daripada diketahui sebagai pembawa sial (Darma, 1996:. Ny. Talis berseteru dengan kenyataan dan perasaannya. Di tengah keinginan untuk segera menikah agar terusir dari keterpencilan, perasaan tentang rahasia tembong menjadi Ia tidak mau tembong pembawa sial akan menjadi malapetaka dalam kehidupan setelah menikah. Data Leksia . Dunia makin tua, tapi kota Surabaya sebagai seting cerita tampak lebih muda. Bangunan baru tampak lebih indah dan menjulang lebih tinggi (Darma, 1996: bagian VII/. Sebuah antitesis ketika dunia semakin tua, kota-kota besar seperti kota Surabaya semakin Kode simbol: antitesis dunia tua, generasi dan kota semakin muda. Sebagai latar cerita, ketika tokoh-tokoh semakin tua, kota Surabaya disulap menjadi kota yang lebih muda dengan bangunan gedung-gedung yang menjulang tinggi, dan kota tambak megah. Sebagaimana kutipan berikut ini. AuDunia makin tua, namun tak nampak makin tua. Karena generasi demi generasi datang. Manusia nampak selamanya muda. Apalagi kota-kota besar. Semua kota besar termasuk Surabaya, justru makin lebih mudaAy (Darma, 1996:. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan mengenai Kajian Semiotika dalam novel Ny. Talis (Kisah mengenai Madra. karya Budi Darma, tentang kode-kode semiotik dalam karya sastra dapat disimpulkan sebagai berikut. kode Simbolik dalam novel tersebut, yaitu simbol antitesis kehidupan. Kehidupan selalu dikaitkan dengan kematian sebagai Simbol antitesis yang lain yaitu kebahagiaan bertolak belakang dengan kesengsaraan, serta simbol yang lainnya adalah realitas dan takhayul sebagai kontradiksinya. Daftar Pustaka