Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Nopi Risdiani Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia nopirisdiani@upi. Syahidin Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia syahidin@upi. Wawan Hermawan Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia wawan_hermawan@upi. Agus Fakhruddin Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia agusfakhruddin@upi. Abstract This research discusses the importance of education in the progress of the nation and highlights the need for effective teaching methods in learning, especially Islamic Religious Education. The phenomenon faced is a learning method that is less focused on critical and applicable thinking skills, which causes students to have theoretical understanding but are less able to apply religious knowledge in everyday life. This research aims to explore the collaboration of the Inquiry Based Learning model and the Hiwar method to increase understanding and application of Islamic religious teachings in schools. Using a qualitative approach through library research, this research evaluates relevant literature to explain the concept and practical application of the two methods. The results of the research show that the combination of Inquiry Based Learning and the Hiwar method can create a dynamic and interactive learning environment, improve students' critical thinking, analytical and communication skills, and motivate them to be more active in learning Islamic religion, so that the quality of Islamic religious education in schools can be achieved improved significantly. Keywords: Inquiry Based Learning. Hiwar. Islamic Religious Education. Abstrak Penelitian ini membahas pentingnya pendidikan dalam kemajuan bangsa dan menyoroti kebutuhan akan metode pengajaran yang efektif dalam pembelajaran, khususnya Pendidikan Agama Islam. Fenomena yang dihadapi adalah metode pembelajaran yang kurang fokus pada Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah keterampilan berpikir kritis dan aplikatif, yang menyebabkan siswa memiliki pemahaman teoritis tetapi kurang mampu mengaplikasikan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kolaborasi model Pembelajaran Inquiry Based Learning dan metode Hiwar untuk meningkatkan pemahaman dan aplikasi ajaran agama Islam di sekolah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui riset pustaka, penelitian ini mengevaluasi literatur yang relevan untuk menjelaskan konsep dan aplikasi praktis kedua metode tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Inquiry Based Learning dan metode Hiwar dapat menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif, meningkatkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan komunikasi siswa, serta memotivasi mereka untuk lebih aktif dalam pembelajaran agama Islam, sehingga kualitas pendidikan agama Islam di sekolah dapat ditingkatkan secara signifikan. Kata Kunci: Inquiry Based Learning. Hiwar. Pendidikan Agama Islam. Pendahuluan Pendidikan adalah pilar utama dalam kemajuan suatu bangsa, pendidikan berperan penting dalam membentuk pemimpin-pemimpin masa depan yang akan mengarahkan negara menuju tujuan-tujuan publik yang telah ditetapkan, terutama dalam mencapai kemajuan yang mencakup berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, dan Pentingnya pendidikan bagi suatu negara adalah begitu besar sehingga setiap individu berhak mendapatkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas sesuai dengan standar yang ditetapkan (Santoso, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang berkualitas bukan hanya menjadi hak dasar warga negara, tetapi juga menjadi kunci utama dalam menciptakan masyarakat yang berdaya saing di era global. Perkembangan pesat dalam pembelajaran disemua tingkatan menuntut peningkatan dalam metode pengajaran yang digunakan. Dalam hal ini, pengembangan pembelajaran dapat memanfaatkan beragam metodologi, teknik, dan model pembelajaran yang berbeda (Aziz et al. , 2. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, diperlukan pengaturan yang serius dan profesional. Berbagai komponen pembelajaran, termasuk guru, kurikulum, infrastruktur, ruang pembelajaran, dan lainnya, harus bekerja secara sinergis. Guru harus memiliki kualifikasi yang kompeten, kurikulum harus relevan dengan kondisi dan zaman, infrastruktur harus memadai, dan ruang pembelajaran harus mendukung efisiensi dan efektivitas pembelajaran (Sidik, 2. Dengan demikian, sinergi antara berbagai komponen pendidikan menjadi faktor penting dalam menjamin keberhasilan proses pembelajaran di sekolah. Kegiatan pembelajaran di sekolah melibatkan interaksi antara Guru dan siswa dalam mempelajari modul pendidikan yang telah disusun dalam kurikulum. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Guru tidak hanya perlu memahami materi, tetapi juga perlu mengetahui cara menyampaikan materi dengan baik dan memahami karakteristik siswa yang menerima materi tersebut. Kegagalan seorang guru dalam menyampaikan materi bukanlah karena kurangnya pemahaman akan materi, tetapi karena kurangnya pemahaman akan metode penyampaian yang efektif dan sesuai (Kurniawan, 2. Oleh karena itu, kompetensi pedagogik guru dalam memilih dan POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 87 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah menerapkan strategi penyampaian yang tepat menjadi kunci keberhasilan proses belajarmengajar yang mampu menjangkau kebutuhan dan gaya belajar siswa secara optimal. Dalam metode pembelajaran, siswa seringkali kurang difokuskan pada keterampilan berpikir. Metode pembelajaran seringkali menekankan pada penghafalan data, sehingga otak siswa diminta untuk mengingat dan mengakumulasi berbagai data tanpa dituntut untuk menguasai data tersebut dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, siswa yang lulus dari sekolah mungkin cerdas secara teoritis namun kurang mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan seharihari, terutama dalam Pembelajaran Agama Islam di mana banyak siswa yang kurang dalam mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Penentuan metode pembelajaran yang tepat memiliki dampak yang signifikan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Metode pembelajaran dapat dianggap sebagai strategi yang digunakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan pembelajaran (Farias et al. , 2. Ada berbagai model dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran. Namun, tidak semua model dan metode pembelajaran tersebut cocok untuk diterapkan dalam setiap situasi pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu mempertimbangkan dan memilih opsi tentang metode mana yang paling sesuai untuk pendidikan yang sedang Prinsip yang tidak boleh diabaikan dalam memilih metode adalah bahwa metode yang diterapkan harus membuat siswa merasa nyaman dan bersemangat dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung (Naim et al. , 2. Oleh karena itu, guru harus mampu menyesuaikan metode dengan kebutuhan dan karakteristik siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Secara umum, metode pembelajaran dapat dianggap sebagai alat yang digunakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan pembelajaran. Ada banyak metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Namun, tidak semua metode pembelajaran cocok untuk diimplementasikan secara bersamaan dalam setiap pembelajaran (Musthofa et al. , 2. Oleh karena itu, guru perlu mempertimbangkan dan memastikan pilihan mengenai metode mana yang paling sesuai untuk pendidikan yang sedang dijalankan. Prinsip yang tidak boleh diabaikan dalam pemilihan metode adalah memastikan bahwa metode yang diterapkan dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman dan nyaman bagi siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru adalah Inquiry Based Learning, yaitu model yang menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan inovatif siswa melalui pengajuan pertanyaan dan pencarian jawaban secara mandiri (Gunardi, 2. Model ini mendorong siswa untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan pertanyaan, dan mengeksplorasi solusi secara Relevansinya masih kuat hingga kini, terutama di tingkat sekolah menengah pertama, karena mampu membangkitkan kreativitas serta mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih kompleks dibandingkan dengan tingkat sebelumnya. Menariknya, model ini memiliki keselarasan dengan metode Hiwar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yang menekankan dialog, diskusi, dan pemikiran kritis (Musriah, 2. Oleh karena itu, integrasi antara pendekatan modern seperti Inquiry Based Learning dan metode berbasis nilai seperti Hiwar berpotensi menciptakan suasana belajar yang interaktif, reflektif, dan aplikatif, sehingga mampu menjawab tantangan pembelajaran agama di era kontemporer. Dalam pembelajaran agama Islam, metode Hiwar dapat digunakan sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif. Metode Hiwar memungkinkan siswa untuk POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok untuk memahami dan menerapkan prinsipprinsip ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Melalui diskusi, siswa dapat berbagi pemahaman mereka tentang ajaran agama, saling mendukung dalam pemahaman, dan mencari solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam konteks kehidupan sehari-hari. Metode Hiwar juga memungkinkan guru untuk memfasilitasi refleksi dan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang relevan dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, metode Hiwar dapat menjadi alat yang efektif dalam mengaitkan ajaran agama Islam dengan kehidupan sehari-hari siswa (Hasria et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran agama tidak harus bersifat satu arah dan kaku, melainkan dapat dikemas secara dialogis dan kontekstual sehingga lebih membumi dalam realitas kehidupan siswa. Kolaborasi antara Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah menciptakan suatu pendekatan yang saling melengkapi antara penguatan kemampuan berpikir kritis dan penanaman nilainilai keagamaan melalui dialog. Inquiry Based Learning mendorong siswa untuk menjadi pembelajar aktif yang mengeksplorasi pertanyaan dan merumuskan solusi, sementara metode Hiwar memberikan ruang untuk diskusi terbuka, pertukaran pandangan, dan pemahaman nilai secara kontekstual. Integrasi kedua pendekatan ini dapat menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya menstimulasi aspek kognitif dan analitis siswa, tetapi juga membangun kesadaran spiritual dan sosial melalui interaksi yang reflektif. Dengan demikian, kolaborasi ini tidak hanya memperkuat penguasaan materi ajar Pendidikan Agama Islam secara akademik, tetapi juga menumbuhkan sikap keberagamaan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Pendekatan kolaboratif ini relevan diterapkan dalam konteks pendidikan masa kini yang menuntut pembelajaran bermakna, adaptif, dan berbasis nilai. Penelitian ini bertujuan untuk membahas kolaborasi model Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar dalam meningkatkan pemahaman Pendidikan Agama Islam pada siswa. Selain itu, penelitian ini juga akan membahas terkait kombinasi kedua metode tersebut dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih interaktif dan dinamis, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan metode pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dalam konteks Pendidikan Agama Islam. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjelaskan fenomena yang terjadi dengan menggunakan data yang diperoleh dari berbagai sumber literatur. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan model Inquiry Based Learning dan metode Hiwar dalam Pembelajaran Agama Islam secara lebih mendetail, berfokus pada eksplorasi konsep, teori, dan aplikasi praktisnya dalam meningkatkan mutu pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan melalui riset pustaka . ibrary researc. , yang mengakses berbagai sumber informasi seperti buku, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang mendukung tema penelitian. Penelitian ini menggali literatur yang relevan dengan kolaborasi model Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan mutu pendidikan peserta didik. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 89 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah berbasis pada analisis literatur untuk mendukung pemahaman dan implementasi metode pembelajaran yang efektif dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Hasil dan Pembahasan Model dan metode pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, termasuk dalam Pendidikan Agama Islam. Dalam pembelajaran agama, metode yang dipilih dapat mempengaruhi pemahaman siswa terhadap ajaran-ajaran agama, kemampuan mereka dalam mengaplikasikan nilainilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dan juga keberhasilan mereka dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan (Aris, 2. Oleh karena itu, penting bagi Guru untuk memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa serta tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dengan demikian, metode pembelajaran yang efektif dalam Pendidikan Agama Islam dapat membantu menciptakan suasana belajar yang menarik, mendalam, dan bermakna bagi siswa, sehingga mereka dapat mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Salah satu metode pembelajaran yang inovatif dan efektif dalam Pendidikan Agama Islam adalah kolaborasi model Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar. Inovasi ini menggabungkan keunggulan dari kedua pendekatan pembelajaran tersebut untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh dan berkesan bagi siswa. Dengan menggunakan model Inquiry Based Learning, siswa didorong untuk menjadi aktif dalam proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan, mengeksplorasi konsep, dan mencari jawaban secara mandiri. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan kreatif dalam memahami ajaran agama (Fajri et al. , 2. Sementara itu, metode Hiwar, memungkinkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam berbagi pemahaman, mendiskusikan konsep-konsep agama, dan mencari solusi atas masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat saling mendukung dalam pemahaman, merangsang refleksi, dan mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan mereka (Abdusshomad. Kolaborasi antara Inquiry Based Learning dan metode Hiwar merupakan pendekatan yang relevan untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam, karena mampu menggabungkan penguatan berpikir kritis dengan penanaman nilai melalui dialog. Pendekatan ini diyakini dapat meningkatkan pemahaman siswa secara mendalam dan aplikatif terhadap ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Model Inquiry Based Learning Model Inquiry Based Learning adalah model pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari jawaban atas suatu masalah yang diajukan. Proses berpikir ini biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa (Asror, 2. Inquiry merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang dimulai dari pengajuan pertanyaan, penelitian jawaban, interpretasi informasi, presentasi temuan, hingga refleksi. Dalam proses ini, peserta didik didorong untuk berpikir kritis dan tingkat tinggi. Model Inquiry Based Learning berasumsi bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk menemukan pengetahuan sejak lahir. Ketertarikan pada lingkungan sekitar adalah hal alami bagi manusia sejak kecil, dan keingintahuan ini terus berkembang seiring dengan pertumbuhan mereka. Pengetahuan yang diperoleh akan menjadi lebih bermakna saat didorong oleh keingintahuan. Oleh karena itu, model Inquiry Based Learning dikembangkan untuk memfasilitasi proses pembelajaran yang berpusat pada eksplorasi dan penemuan (Nurshibah et al. , 2. Hal POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah ini menunjukkan bahwa model ini sangat sesuai diterapkan dalam pembelajaran abad ke-21, karena mampu menumbuhkan kemandirian belajar, rasa ingin tahu, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam menghadapi tantangan zaman. Secara sederhana, model Inquiry Based Learning adalah serangkaian kegiatan yang meminta peserta didik untuk berpikir secara analitis, kritis, dan kreatif untuk menemukan solusi dari masalah yang diberikan, secara mandiri. Peran guru dalam model ini hanya sebagai fasilitator, sementara siswa memiliki peran utama dalam mengajukan pertanyaan atau mengeksplorasi gagasan mereka. Model ini menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran dan dapat menggunakan berbagai pendekatan, termasuk diskusi kelompok . etode hiwa. dan pembelajaran terpadu (Syafruddin et al. Tujuan utamanya adalah agar siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu membangun pengetahuan mereka sendiri melalui eksplorasi, diskusi, dan pengalaman langsung. Dalam model Inquiry Based Learning, berbagai pendekatan dapat digunakan, mulai dari diskusi kelompok kecil hingga pembelajaran terpadu. Model ini lebih efektif dibandingkan metode di mana siswa hanya diminta menghafal materi dan fakta (MaAorifataini, 2. Dengan model Inquiry Based Learning, siswa dapat membangun pengetahuan mereka melalui eksplorasi gagasan, diskusi dengan teman, dan pengalaman langsung. Model ini dirancang agar siswa dapat melakukan percobaan secara mandiri, sehingga memperluas pengalaman mereka dalam ilmu pengetahuan dan mendorong rasa ingin tahu untuk mengajukan pertanyaan serta mencari jawabannya sendiri. Khairul Anam . menjelaskan bahwa Inquiry Based Learning merupakan rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Senada dengan itu. Wardoyo . menyatakan bahwa model ini menuntut siswa untuk mampu menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai bentuk perubahan perilaku. Sementara itu. Yunus Abidin . menyebutkan bahwa Inquiry Based Learning dikembangkan agar peserta didik dapat menemukan dan menggunakan berbagai sumber informasi serta ide-ide guna meningkatkan pemahaman mereka terhadap masalah, topik, dan isu tertentu. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa model Inquiry Based Learning menekankan pada keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, memungkinkan mereka untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam melalui penemuan dan Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam perjalanan belajar mereka, mendorong rasa ingin tahu, dan memfasilitasi diskusi serta percobaan yang mendukung pembelajaran yang lebih bermakna. Inquiry Based Learning merujuk pada gagasan John Dewey, seorang ahli pendidikan Amerika, yang menyatakan bahwa pembelajaran dan perkembangan individu mencapai titik optimal ketika mereka dihadapkan pada masalah nyata yang memerlukan pemecahan. Dewey meyakini bahwa kurikulum dan instruksi sebaiknya didasarkan pada tugas-tugas dan aktivitas komunitas yang melibatkan pembelajar dalam tindakan sosial yang praktis dan bermanfaat bagi dunia sekitarnya dalam (Arifin, 2. Model ini menempatkan siswa sebagai pusat proses belajar, di mana keterlibatan aktif dan eksplorasi menjadi kunci utama. Inquiry Based Learning didasarkan pada semangat pencarian dan penemuan yang memotivasi siswa untuk terus bertanya dan menggali Berbeda dengan pendekatan tradisional yang menekankan pada transfer POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 91 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah pengetahuan yang seragam, pendekatan ini lebih menekankan proses belajar yang bersifat individual dan kontekstual. Guru berperan sebagai fasilitator yang menantang siswa untuk mengidentifikasi permasalahan dan membimbing mereka dalam proses penyelidikan yang mendalam (Maryace, 2. Oleh karena itu. Inquiry Based Learning merupakan pendekatan yang efektif untuk menumbuhkan kemandirian, rasa ingin tahu, dan kemampuan berpikir kritis dalam diri siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berdampak jangka panjang. Menurut Neil Postman dan Charles Weingartner dalam (Nurhadi, 2. , karakteristik yang diharapkan muncul dari siswa dalam ruang lingkup Inquiry Based Learning mencakup kepercayaan diri terhadap kemampuan belajar, kesenangan dalam mencoba memecahkan masalah, serta keyakinan pada penilaian diri sendiri tanpa terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Siswa juga diharapkan memiliki keberanian untuk membuat kesalahan, ketegasan dalam memberikan jawaban, serta fleksibilitas dalam Selain itu, penghargaan terhadap fakta dan kemampuan untuk membedakan antara fakta dan opini menjadi bagian penting dari karakter yang dikembangkan. Siswa dalam pembelajaran berbasis inkuiri juga tidak merasa perlu untuk selalu memiliki jawaban akhir dari setiap pertanyaan, dan justru merasa lebih nyaman berada dalam ketidaktahuan daripada menerima jawaban yang terlalu disederhanakan. Dari pandangan para ahli, dapat disimpulkan bahwa karakteristik utama dari model Inquiry Based Learning adalah kemampuan siswa untuk menemukan dan mengatasi masalah dengan keyakinan diri. Langkah-langkah dalam model ini, menurut Suchman dalam (Arikunto, 2. , dimulai dengan mendorong siswa untuk membayangkan suatu situasi seolah-olah mereka benar-benar mengalaminya, kemudian mengidentifikasi komponen-komponen yang berkaitan dengan situasi tersebut. Setelah itu, siswa diarahkan untuk merumuskan permasalahan dan mengajukan hipotesis yang Proses berlanjut dengan pengumpulan data melalui penyusunan pertanyaan yang dapat dijawab secara eksplisit, seperti dengan "ya" atau "tidak". Langkah terakhir adalah menyimpulkan temuan berdasarkan data yang telah dikumpulkan secara Dalam model Inquiry Based Learning, pembelajaran berfokus pada proses berpikir kritis dan analitis siswa untuk menemukan jawaban atas suatu masalah yang Proses ini melibatkan langkah-langkah seperti pengajuan pertanyaan, penelitian jawaban, interpretasi informasi, presentasi temuan, dan refleksi. Model ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk menemukan pengetahuan, sehingga pembelajaran difokuskan pada eksplorasi dan penemuan. Para siswa diberdayakan untuk mengembangkan pemahaman mereka melalui proses eksplorasi, diskusi, dan pengalaman langsung, dengan peran guru sebagai fasilitator. Dengan demikian, model Inquiry Based Learning bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menemukan dan memecahkan masalah dengan keyakinan diri. Metode Hiwar Metode Hiwar diambil dari bahasa Arab yang mengacu pada percakapan atau Secara metodologis, metode hiwar adalah percakapan antara dua pihak atau lebih yang dipandu dengan pertanyaan dan jawaban terkait suatu topik tertentu demi mencapai tujuan tertentu (Faizin et al. , 2. Metode hiwar merupakan interaksi dialogis antara dua pihak atau lebih yang bertukar tanya jawab mengenai suatu topik tertentu dengan tujuan tertentu. Percakapan ini bisa berlangsung secara langsung dengan kedua belah pihak aktif terlibat, atau bisa juga salah satu pihak yang lebih aktif sementara pihak lainnya merespon dengan perasaan, penghayatan, dan kepribadian POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dalam hiwar, seringkali tercapai suatu kesimpulan dari kedua belah pihak, namun terkadang satu pihak mungkin tidak merasa puas dengan hasil percakapan Meskipun demikian, pelajaran dapat diambil dan sikap dapat ditentukan dari percakapan tersebut. Menurut (Rosidin, 2. , metode hiwar memiliki dampak yang signifikan bagi kedua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran. Dialog yang terjadi berlangsung secara dinamis karena kedua belah pihak terlibat langsung dalam percakapan, sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup dan tidak membosankan. Pendengar pun cenderung tertarik untuk terus mengikuti jalannya diskusi karena ingin mengetahui kesimpulan akhir, sehingga mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan semangat. Selain itu, metode ini juga mampu membangkitkan perasaan dan meninggalkan kesan yang mendalam, yang pada akhirnya membantu individu dalam menemukan kesimpulan secara mandiri. Apabila metode hiwar dilakukan dengan baik dan sesuai dengan tuntunan akhlak Islam, maka cara berdialog serta sikap para peserta akan memberikan pengaruh positif, khususnya dalam pendidikan akhlak, etika berbicara, dan penghargaan terhadap pendapat orang lain. Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi dalam (Mariani, 2. , metode Hiwar memiliki beberapa tujuan utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Metode ini bertujuan untuk mendorong siswa agar lebih aktif dalam mengemukakan pendapat sehingga tercipta suasana belajar yang dinamis dan interaktif. Selain itu, metode ini membiasakan siswa untuk terbiasa mencari dan memecahkan masalah, serta mengajarkan mereka cara menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam Metode Hiwar juga membantu menghilangkan keraguan dalam pikiran siswa dan membimbing mereka agar berani menyampaikan pemikiran secara terbuka. Di samping itu, metode ini melatih siswa untuk berpikir secara sistematis dan mengembangkan keterampilan berpikir yang baik. Siswa juga diajarkan untuk mampu mengambil keputusan, melakukan analisis terhadap permasalahan, serta mengatasi kebingungan dalam pengambilan keputusan. Lebih lanjut, metode Hiwar mendorong siswa untuk mencari pengetahuan baru dan mengambil manfaat dari diskusi serta tanya jawab, sekaligus melatih kemampuan mendengarkan agar mereka memperoleh pengetahuan secara lebih efektif. Secara keseluruhan, metode ini mendorong kemajuan dan perkembangan siswa dengan memberi mereka keleluasaan untuk mengekspresikan pendapat serta mengeksplorasi pemikiran secara mendalam. Maka, metode Hiwar menjadi metode yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan keterampilan siswa. Dengan mendorong siswa agar lebih aktif dalam mengemukakan pendapat, suasana pembelajaran menjadi lebih hidup dan dinamis, memungkinkan interaksi yang lebih baik antara guru dan siswa. Kebiasaan mencari dan memecahkan masalah yang dihasilkan melalui diskusi juga membantu siswa menjadi lebih tanggap dan kreatif dalam menghadapi tantangan Selain itu, metode ini berperan penting dalam menghilangkan keraguan dalam pikiran siswa, sehingga mereka menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pemikiran mereka (Ningke et al. , 2. Dengan demikian, metode Hiwar tidak hanya memperkuat kemampuan berpikir sistematis tetapi juga membentuk siswa yang mampu menganalisis situasi dan membuat keputusan yang tepat. Proses mencari pengetahuan baru melalui diskusi dan tanya jawab juga memperkaya wawasan siswa, membantu mereka memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang materi POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 93 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Latihan mendengarkan yang dilakukan melalui metode Hiwar juga penting dalam mengasah kemampuan siswa untuk menyerap informasi secara efektif. Kemampuan mendengarkan ini, bersama dengan dorongan untuk mengemukakan pendapat dan mengeksplorasi pemikiran, mendorong siswa untuk terus maju dan berkembang dalam perjalanan pendidikan mereka (Syamsi et al. , 2. Maka, metode hiwar tidak hanya meningkatkan keterampilan akademik siswa tetapi juga membentuk karakter mereka untuk menjadi pembelajar yang aktif, kritis, dan percaya diri. Dalam penerapan metode Hiwar untuk pembelajaran, langkah-langkah yang digunakan dapat berbeda-beda tergantung pada mata pelajaran yang diajarkan. Menurut Ahmad Izzan . , pelaksanaan metode Hiwar yang efektif memerlukan beberapa langkah strategis. Pertama-tama, guru perlu mempersiapkan materi Hiwar dengan matang dan menentukan topik yang relevan untuk disajikan. Materi diskusi harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik, menggunakan bahasa yang mudah dipahami serta terus memperluas lingkup pembahasan. Untuk menarik perhatian dan mempertahankan minat siswa, penggunaan alat peraga sangat disarankan sebagai penunjang dalam menjelaskan maksud dari percakapan. Guru juga dianjurkan untuk menjelaskan makna kata-kata dalam Hiwar terlebih dahulu dengan menuliskannya di papan tulis. Setelah siswa memahami maknanya, mereka diberi kesempatan untuk mempraktikkannya di depan kelas sambil disimak oleh temantemannya. Pada tingkat Hiwar yang lebih lanjut, guru sebaiknya memberikan ruang lebih besar kepada siswa untuk berpartisipasi aktif, dengan guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pengatur alur diskusi. Setelah sesi Hiwar selesai, guru perlu membuka forum tanya jawab dan diskusi untuk mengatasi kebingungan siswa serta mengulang poin penting yang belum dipahami, bahkan mencatatnya di papan tulis agar siswa dapat Di akhir sesi, guru sebaiknya memberikan motivasi dan semangat kepada siswa untuk terus belajar dan menyiapkan diri dengan baik untuk materi Hiwar Dengan mengikuti langkah-langkah ini, metode hiwar dapat membantu siswa dalam memahami dan menguasai materi pelajaran melalui dialog yang aktif dan Secara keseluruhan, metode hiwar adalah pendekatan yang sangat bermanfaat dalam pendidikan. Dengan mendorong interaksi aktif dan pemikiran kritis, metode ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami materi pelajaran tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang mampu berpikir secara independen, membuat keputusan yang tepat, dan berkomunikasi dengan efektif. Metode hiwar, jika diterapkan dengan baik, dapat menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, mendalam, dan bermakna bagi siswa. Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif. Metode ini menggabungkan kekuatan inkuiri, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan analitis, dengan dialog aktif, yang merupakan inti dari metode Hiwar. Dalam penerapannya, guru memulai dengan mengajukan pertanyaan atau masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan ajaran agama Islam. Siswa kemudian terlibat dalam proses penelitian dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber, baik literatur keagamaan maupun sumber lainnya yang relevan. Proses ini diikuti oleh sesi Hiwar, di mana siswa berpartisipasi dalam dialog yang dipandu oleh guru, mengemukakan pendapat, bertanya, dan mendengarkan pandangan teman-teman mereka. Guru berperan sebagai fasilitator, memastikan bahwa diskusi tetap fokus dan produktif (Kismatun. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Kolaborasi kedua pendekatan ini tidak hanya menguatkan pemahaman konseptual siswa terhadap materi keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai reflektif dan aplikatif yang relevan dengan kehidupan mereka secara nyata. Setelah diskusi, siswa menganalisis informasi yang telah mereka kumpulkan, memikirkan bagaimana ajaran agama dapat diterapkan dalam konteks masalah yang dibahas, dan merefleksikan proses pembelajaran mereka. Siswa kemudian mempresentasikan temuan mereka kepada kelas, memungkinkan mereka untuk berbagi wawasan dan mendapatkan umpan balik. Tahap akhir adalah refleksi, di mana siswa menilai apa yang telah mereka pelajari dan bagaimana mereka dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan mereka. Metode ini tidak hanya mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan komunikasi siswa tetapi juga membuat pembelajaran lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, kolaborasi Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar dalam Pendidikan Agama Islam membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri, kreatif, dan reflektif, siap menghadapi tantangan akademik dan kehidupan sehari-hari dengan lebih percaya diri (Syafruddin et al. , 2. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran agama Islam tidak harus bersifat satu arah dan teoritis, tetapi dapat dirancang sedemikian rupa agar lebih kontekstual, partisipatif, dan membentuk karakter siswa secara menyeluruh. Kolaborasi model Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar diharapkan efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip ajaran agama Islam serta kemampuan mereka untuk mengaitkan ajaran tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Metode ini memungkinkan siswa untuk berpikir kritis, berpartisipasi aktif dalam diskusi, dan menerapkan ajaran agama dalam konteks kehidupan mereka. Dengan demikian, kolaborasi model Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan relevansi dan penerapan ajaran agama Islam dalam kehidupan siswa secara praktis dan bermakna (Srifitriani et al. , 2. Pendekatan ini juga dapat menjadi solusi atas tantangan pembelajaran agama yang selama ini cenderung bersifat teoritis, karena lebih menekankan pemahaman mendalam dan pengalaman belajar yang autentik sesuai perkembangan zaman. Dalam kolaborasi Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar, penting untuk mengintegrasikan kedua pendekatan ini secara menyeluruh agar tercipta suasana belajar yang interaktif, kritis, dan reflektif. Implementasi metode ini dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat dimulai dengan mengidentifikasi masalah atau pertanyaan kritis yang relevan dengan ajaran Islam dan kehidupan sehari-hari siswa. Pertanyaan tersebut harus mampu mendorong siswa untuk berpikir mendalam dan mengeksplorasi topik lebih lanjut. Selanjutnya, siswa didorong untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, seperti kitab suci, literatur Islam, dan referensi lain yang relevan. Kegiatan ini bisa dilakukan secara individu maupun dalam kelompok kecil untuk memungkinkan diskusi dan pertukaran informasi yang lebih kaya. Setelah itu, guru memfasilitasi sesi Hiwar, di mana siswa berperan aktif dalam dialog yang dipandu, saling mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan mendengarkan pandangan orang lain, sementara guru bertindak sebagai mediator agar diskusi tetap terarah dan produktif. Tahapan berikutnya adalah analisis dan refleksi, di mana siswa diminta untuk menganalisis informasi yang telah dikumpulkan serta mendiskusikan bagaimana ajaran agama Islam dapat diterapkan dalam konteks masalah yang sedang dibahas. Mereka juga diajak untuk merefleksikan pengalaman belajar selama proses inkuiri dan dialog. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 95 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Kemudian, siswa mempresentasikan hasil temuan mereka di hadapan kelas melalui berbagai media seperti presentasi lisan, poster, atau alat bantu visual lainnya. Presentasi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi wawasan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menerima umpan balik dari teman-teman dan guru. Sebagai penutup, guru mengajak siswa melakukan refleksi akhir terhadap proses pembelajaran, termasuk menilai sejauh mana mereka memahami materi, bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, serta keterampilan berpikir kritis dan komunikasi yang telah dikembangkan selama proses berlangsung. Kelebihan dari kolaborasi model Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar terletak pada kemampuan pendekatan ini dalam mengembangkan berbagai aspek keterampilan siswa secara holistik. Pertama, kolaborasi ini mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis, di mana siswa dilatih untuk menganalisis masalah secara mendalam, mengajukan pertanyaan yang tajam, dan mencari solusi berdasarkan bukti serta argumen yang logis. Selain itu, kegiatan diskusi dalam metode Hiwar membantu meningkatkan keterampilan komunikasi siswa. Mereka belajar untuk mengemukakan pendapat secara jelas, mendengarkan pandangan orang lain dengan penuh perhatian, dan berdialog secara konstruktif. Proses pembelajaran juga menjadi lebih bermakna dan relevan karena siswa mampu mengaitkan ajaran agama dengan pengalaman serta permasalahan kehidupan nyata mereka, sehingga nilai-nilai keagamaan tidak hanya dipahami secara teoritis tetapi juga aplikatif. Tak kalah penting, kolaborasi ini mendorong kemandirian belajar. Siswa terbiasa mencari informasi sendiri dan menyelesaikan masalah tanpa bergantung sepenuhnya pada guru, yang pada akhirnya membentuk karakter pembelajar yang aktif, mandiri, dan bertanggung jawab. Simpulan Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi Inquiry Based Learning dengan metode Hiwar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam menawarkan berbagai manfaat yang signifikan. Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa tentang ajaran agama, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan komunikasi yang esensial untuk keberhasilan akademik dan kehidupan sehari-hari. Dengan menggabungkan proses inkuiri yang mendorong eksplorasi mandiri dan dialog aktif yang menjadi inti dari metode hiwar, siswa dapat terlibat dalam pembelajaran yang lebih mendalam dan reflektif. Penerapan metode ini juga menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif, di mana siswa merasa termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi, mengajukan pertanyaan, dan mencari solusi terhadap masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Peran guru sebagai fasilitator dalam model ini sangat penting, membantu siswa untuk tetap fokus dan produktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, kolaborasi Inquiry Based Learning dengan hiwar dalam Pendidikan Agama Islam dapat membantu menciptakan suasana belajar yang menarik, mendalam, dan bermakna bagi siswa, sehingga mereka dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Nopi Risdiani. Syahidin Syahidin. Wawan Hermawan. Agus Fakhruddin: Kolaborasi Inquiry Based Learning dengan Metode Hiwar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Referensi