E-ISSN: 2528-388X P-ISSN: 0213-762X INERSIA Vol. No. Mei 2022 Analisis Sifat Mekanik Lentur Papan Laminasi Kombinasi Bambu Petung dan Bambu Ater Nur Noviana Belatrixa*. Yudhi Arnandhaa. Dedy Firmansyaha *Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Tidar. Magelang, 56116. Indonesia. ABSTRACT ater bamboo petung bamboo flexural strength laminated board kata kunci: bambu ater bambu petung kuat lentur papan laminasi Technological advances have led to alternative building materials to replace wood, such as laminated bamboo. Bamboo lamination uses a combination of two types of bamboo, namely petung bamboo and ater bamboo. Petung bamboo has greater flexural strength than ater bamboo which can increase the MOR and MOE values. This study aims to determine the flexural strength, the effect of the arrangement of the layers of the laminate, the effect of adding petung bamboo to the laminated bamboo ater from the laminated combination of two types of bamboo. The flexural strength test of laminated boards measuring 55 cm x 10 cm x 2 cm refers to ASTM D1037-06a with a concentrated load in the middle of the span. Laminate board consists of 3 variations of the arrangement, each variation there are 4 layers with a thickness of 0. 5 cm slats. Variation A consists of bamboo ater-ater-ater-ater, variation B consists of bamboo petung-ater-petung-ater, variation C consists of bamboo petung-petung-ater-ater. The results of the flexural strength test of laminated boards obtained the average value of Modulus of Rupture (MOR) for variation A of 89. 462 MPa, variation B of 96. 778 MPa, and variation of C of 79. 173 MPa. The average value of the Modulus of Elasticity (MOE) for variation A is 13256. 830 MPa, variation B is 14856. MPa, and variation C is 12981. 294 MPa. The arrangement of variations in B petung-aterpetung-ater can increase the value of the Modulus of Rupture and the Modulus of Elasticity. ABSTRAK Kemajuan teknologi memunculkan alternatif bahan bangunan pengganti kayu, seperti bambu laminasi. Laminasi bambu menggunakan kombinasi dua jenis bambu yaitu bambu petung dan bambu ater. Bambu petung memiliki kuat lentur lebih besar dibandingkan bambu ater dapat meningkatkan nilai MOR dan MOE. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat lentur, pengaruh susunan lapisan laminasi, pengaruh penambahan bambu petung pada laminasi bambu ater dari laminasi kombinasi dua jenis bambu. Pengujian kuat lentur papan laminasi berukuran 55 cm x 10 cm x 2 cm yang mengacu pada ASTM D1037-06a dengan beban terpusat ditengah bentang. Papan laminasi terdiri dari 3 variasi susunan, setiap variasi ada 4 lapisan dengan tebal bilah 0,5 cm. Variasi A terdiri dari susunan bambu ater-ater-aterater, variasi B terdiri dari bambu petung-ater-petung-ater, variasi C terdiri dari bambu petung-petung-ater-ater. Hasil pengujian kuat lentur papan laminasi didapat nilai rata-rata Modulus of Rupture (MOR) variasi A sebesar 89,462 MPa, variasi B sebesar 96,778 MPa, dan variasi C sebesar 79,173 MPa. Nilai rata-rata Modulus of Elasticity (MOE) variasi A sebesar 13256,830 MPa, variasi B sebesar 14856,552 MPa, dan variasi C sebesar 12981,294 MPa. Susunan variasi B petung-ater-petung-ater dapat meningkatkan nilai Modulus of Rupture dan Modulus of Elasticity. This is an open access article under the CCAeBY license. *Corresponding author. E-mail: noviasuryadwanti@uny. https://doi. org/10. 21831/inersia. Received 1 March 2022. Revised 6 April 2022. Accepted 27 May 2022 Available online 31 May 2022 Nur Noviana Belatrix, dkk. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 bambu berada diatas . aerah teka. memiliki nilai MoE sebesar 16256,181 MPa dan nilai kuat lentur ratarata sebesar 111,473 MPa untuk kulit berada dibawah serta 118,204 MPa untuk kulit berada diatas . Pendahuluan Kebutuhan kayu di Indonesia bisa mencapai 58,86 juta m3 per tahun. Kayu digunakan sebagai furnitur, bahan bangunan, bahan bakar industri, maupun kesenian. Berdasarkan . , kerusakan hutan hujan primer meningkat 12% dari tahun 2019 hingga tahun 2020. Hutan di Indonesia mengalami deforestasi oleh perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab seperti pembakaran hutan untuk pembukaan lahan, penebangan liar . llegal loggin. Menurut . , kadar air minimum untuk pengujian mekanik properties bambu yaitu 12%. Pengujian kadar air bambu dilakukan dengan menggunakan spesimen pengujian yang dikeringkan dengan oven pada temperatur 103 A 2oC selama 24 jam. Sampel kemudian ditimbang kembali untuk mendapatkan berat kering bambu. Kemajuan teknologi memunculkan alternatif bahan pengganti kayu seperti bambu laminasi. Bambu laminasi merupakan bambu yang dibuat menjadi bilah dengan ukuran yang sama, kemudian direkatkan dan dikempa menjadi sebuah balok, papan, ataupun bentuk yang diinginkan . Laminasi bambu sebagai alternatif bahan bangunan pengganti kayu, perlu memenuhi syarat kualitas sesuai dengan pedoman. Bambu yang sudah dilaminasi akan jauh lebih kuat bahkan sama seperti kuat kayu dan dapat digunakan sebagai struktur utama. Kuat lentur atau lentur Modulus of Rupture (MOR) merupakan kekuatan untuk menahan gaya yang berusaha melengkungkan bambu atau menahan beban mati atau beban hidup sebagai beban pukulan, maka kondisi elastis akan terlewati dan menjadi kondisi Nilai modulus lentur dapat dihitung menggunakan . dengan rumus: Fb = . Modulus elastisitas merupakan kekuatan lentur pada batas elastis suatu bahan. Sifat kelengkungan dapat dipergunakan menjadi indikator jumlah beban yang ditahan oleh luas penampang benda dan diikuti pembebanan panjang atau regangan . benda Tabel 1. Kekuatan Bambu Petung . Jenis Pengujian Modulus of Rupture Kuat Tekan Tegak Lurus Serat Kuat Tekan Sejajar Serat Kuat Geser Kuat Tarik Sejajar Serat Modulus Elastisitas Lentur 2 b h2 Dimana P merupakan beban maksimum (N). L adalah jarak bentang antar tumpuan . , b adalah lebar benda uji . , dan h adalah tinggi benda uji . Bambu dengan nama latin Bambusoideae merupakan tanaman dengan jenis rumput-rumputan mirip tanaman berkayu dari suku Gramineae. Bambu tumbuh relatif cepat dengan masa panen hanya membutuhkan waktu 3-5 tahun dan dapat dipanen terus menerus tanpa penanaman ulang . Bambu petung dengan nama latin Dendrocalamus asper memiliki sifat mekanik seeperti yang disajikan pada Tabel 1. ycEA ya3 Nilai (MP. MoE = 48yuya 1 Dimana PAo merupakan beban yang bekerja (N). L ialah jarak bentang antar tumpuan . , adalah defleksi . , dan I adalah momen inersia . Laminasi menggunakan perekat PVAc tidak perlu dikempa panas, dalam penggunaan secara luas dapat menghasilkan kuat rekat yang baik. Perekat ini akan menghasilkan ikatan rekat yang cepat pada suhu kamar serta tidak memerlukan banyak biaya karena tidak memerlukan kempa panas. Lem presto DN didesain untuk kebutuhan perekatan antara kayu dengan kayu, kayu dengan HPL, kayu dengan MDF, veneer pada kayu dan sebagainya. Gigantochloa atter atau yang sering disebut bambu ater dengan batang berwarna hijau terang hingga hijau gelap serta berdiameter sekitar 5 Ae 10 cm, panjang ruas sekitar 40 Ae 50 cm dengan tinggi batang biasa mencapai 22 m. Bambu ater memiliki nilai rata-rata MoE sebesar 15375,026 MPa untuk kulit bambu berada dibawah . aerah tari. sedangkan untuk kulit Nur Noviana Belatrix, dkk. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Penggunaan bambu petung dan bambu ater pada penelitian ini dipilih karena bambu petung memiliki dinding bambu yang tebal dan kuat, sedangkan bambu ater memiliki harga yang ekonomis dibandingkan bambu petung sehingga dapat menekan harga mempermudah saat proses planer. Permukaan bambu agar lurus sejajar dan halus, kemudian melakukan mengetam terlebih dahulu pada kedua permukaannya. Pengetaman dilakukan menggunakan table planer dengan ketebalan bilah sesuai rencana dengan menambah A0,1 cm untuk mengantisipasi pada saat proses finishing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat lentur pada papan bambu laminasi kombinasi bambu petung dan bambu ater, pengaruh variasi susunan lapisan laminasi secara horizontal pada papan laminasi, dan pengaruh penambahan bambu petung terhadap papan laminasi bambu ater. Metode Penelitian ini merupakan eksperimental dengan menggunakan 3 variasi susunan papan laminasi yang terdiri dari 4 lapisan. Pembuatan benda uji di Rosse Bambu Yogyakarta dan pengujian kuat lentur menggunakan Universal Testing Machine di Laboratorium Struktur. Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Tidar. Pengujian ini mengacu . tentang standar pengujian kuat lentur pada papan berbasis kayu dengan ukuran papan laminasi 55 x 10 x 2 cm. Bilah bambu yang digunakan dalam pembuatan papan laminasi memiliki lebar 1 cm dan tebal 0,5 cm. Bahan utama yang digunakan yaitu bambu Petung dan bambu Ater yang diperoleh dari petani bambu di Seyegan. Yogyakarta. Bahan perekat yang digunakan yaitu lem PVAc merk Presto DN. Gambar 1. Proses Planer Bilah Bambu. Memotong bilah bambu sesuai dengan ukuran rencana untuk memudahkan pada saat proses pengeleman dan Menyusun bilah sesuai dengan jumlah dan variasi bilah yang dibutuhkan secara vertikal agar setiap sisi bilah terlabur dengan lem, kemudian mengelem menggunakan lem presto DN. Tabel 2. Variasi Benda Uji Variasi Benda Uji Variasi A Variasi B Variasi C Susunan Lapisan Ater-Ater-Ater-Ater Petung-Ater-PetungAter Petung-Petung-AterAter Jumlah Sample Pembuatan benda uji dilakukan dengan membelah bambu menjadi bilah dengan ukuran yang sesuai rencana dengan menambah A 1 cm untuk mengantisipasi batang bambu yang tidak simetris. Pembelahan bambu menjadi bilah ini menggunakan alat pembelah bambu. Kemudian pengeringan secara alami yaitu dengan menjemur bilah di bawah sinar matahari untuk pengurangan kadar air. Tahap selanjutnya menghilangkan bagian ruas pada bilah bambu baik bagian dalam maupun luar agar Gambar 2. Proses Pengeleman Antar Bilah Bambu Tahap selanjutnya, pengkleman menggunakan klem F dan klem kayu untuk merekatkan antar bilah bambu menjadi lapisan laminasi yang rata. Pengkleman ini Nur Noviana Belatrix, dkk. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 memakan waktu A 12 jam untuk menghasilkan rekatan antar bilah yang kuat. Lapisan-lapisan laminasi ini selanjutnya disusun sesuai rencana, kemudian mengelem dengan melaburkan di kedua sisi lapisan laminasi dengan lem presto DN. Tahap selanjutnya yaitu pengkleman antar lapisan menggunakan plat baja dan klem F untuk meningkatkan daya rekat antar Pengkleman ini membutuhkan waktu A 4 jam untuk lem merekat dan agar lebih cepat kering, papan laminasi dapat menjemurnya dibawah sinar matahari. Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Tidar. Gambar 4. Pengujian Kuat Lentur Hasil Pengukuran kadar air pada papan bambu laminasi menggunakan alat ukur kadar air . oisture mete. , dalam pengujian ini dilakukan 3 kali tusukan pada setiap benda uji untuk mendapatkan rata-rata setiap Gambar 3. Proses Pengkleman Antar Lapisan Laminasi Tahap terakhir yaitu, finishing dengan meratakan setiap permukaan laminasi menggunakan hand planer untuk mendapatkan hasil permukaan laminasi yang rata dan rapi sesuai dengan ukuran rencana. Tabel 3. Kadar Air Kadar Air Benda Uji Pengujian kuat lentur ini menggunakan acuan . dengan ukuran spesimen benda uji yaitu jarak antar tumpuan benda uji yaitu 24 x tebal benda uji . Lebar benda uji yaitu 76 mm A 1 mm. Panjang benda uji = 24 x tebal benda uji . 51 mm. Apabila iP/iy hasilnya diantara 10 Ae 40% dari Pmax maka menunjukan hasil yang bagus. Ketentuan tersebut ditetapkan dimensi benda uji dibuat panjang 55 cm, lebar 10cm, ketebalan 2 cm. Jarak antar tumpuan yaitu 48 cm untuk pengujian kuat lentur. Pada pengujian kuat lentur papan laminasi kombinasi bambu petung dan bambu ater diuji menggunakan Universal Testing Machine (UTM). Jarak antar tumpuan sepanjang 48 cm dengan pemberian beban terpusat ditengah bentang. Tujuan dari pengujian ini yaitu untuk menentukan nilai Modulus of Rupture (MOR) dan Modulus of Elasticity (MOE). Pengujian kuat lentur dilakukan di Laboratorium Struktur Tusukan 1 (%) Tusukan 2 (%) Tusukan 3 (%) 13,50 12,20 12,80 11,90 12,70 12,70 11,50 11,00 12,70 11,60 10,00 11,50 13,20 11,90 13,00 12,10 11,80 13,20 12,30 12,10 12,80 12,00 10,70 12,30 13,70 11,70 12,40 12,50 12,10 12,40 12,30 11,30 12,50 12,40 11,40 12,30 Kadar Air Rata-rata Per variasi (%) 12,58 12,12 11,85 Berdasarkan hasil dari pengujian kadar air, papan laminasi memiliki nilai rata-rata yang memenuhi standar kadar air pada bambu lamina yaitu maksimal Nur Noviana Belatrix, dkk. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Modulus of Rupture merupakan sifat mekanik yang menunjukkan kekuatan suatu bahan dalam menahan beban lawan yang bekerja. Hasil perhitungan Modulus of Rupture (MOR) dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 5. Tabel 4. Modulus of Rupture Benda uji P (N) L . MOR (MP. 88,939 5979,04 88,064 5138,72 83,897 5386,06 96,949 125,251 5724,03 93,454 97,058 4544,96 71,349 5697,14 83,089 4859,13 77,777 81,665 4678,62 74,161 MoR Rata-Rata (MP. 89,462 96,778 79,173 Tabel 5. Momen Inersia MOR Rata-rata (MP. Benda Panjang L . Lebar b . Tinggi h . Momen Inersia I . Benda Uji Gambar 5. Grafik Modulus of Rupture Nilai MOR benda uji A dengan variasi susunan aterater-ater-ater diperoleh rata-rata sebesar 89,462 MPa, benda uji B den gan variasi susunan petung-aterpetung-ater diperoleh nilai rata-rata 96,778 MPa, dan benda uji C dengan variasi susunan petung-petungater-ater diperoleh nilai rata-rata 79,173 MPa. Hasil pengujian Modulus of Rupture rata-rata ketiga variasi benda uji menunjukkan nilai rata-rata MOR yang paling tinggi diperoleh benda uji B dengan variasi susunan petung-ater-petung-ater, sedangkan nilai ratarata MOR paling rendah diperoleh bnda uji C dengan variasi susunan petung-petung-ater-ater. Berdasarkan hasil perhitungan Momen Inersia, selanjutnya menghitung besaran Modulus of Elasticity. Modulus elastisitas merupakan sifat mekanik yang menunjukkan tingkat elastisitas pada papan laminasi. Hasil perhitungan Momen Inersia untuk mencari besarnya nilai MOE dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 6. Nur Noviana Belatrix, dkk. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Hasil perhitungan Momen Inersia dengan beban terpusat untuk mencari besarnya nilai Modulus of Elasticity. Tabel 6. Modulus of Elasticity Benda uji PAo (N) L . I . MOE (MP. 3054,54 3884,615 4347,368 6,538 7,78 8,142 6,52 6,422 7,85 8,724 6,899 6,716 7,598 6,616 7,01 79490,25 89620,667 66666,667 66666,67 12459,499 15988,768 11000,084 13578,970 18058,577 11462,324 14877,042 15028,265 16093,608 11001,821 13363,731 11466,015 MoE Rata-rata (MP. 13256,830 14856,552 12981,294 ater-petung-ater, sedangkan nilai rata-rata MOE paling rendah diperoleh bnda uji C dengan variasi susunan petung-petung-ater-ater. MOE Rata-rata (MP. Gambar 6. Grafik Modulus of Elasticity Berdasarkan hasil pengujian kuat lentur papan laminasi kombinasi bambu petung dan bambu ater untuk bentuk kegagalan disetiap variasi benda uji jenis kegagalan yang terjadi sama yaitu kegagalan lentur. Papan laminasi mengalami kegagalan lentur, pola kerusakannya berada di bagian tengah tepatnya di titik pusat pembebanan. Hal ini terjadi karena pada saat pengujian lentur momen terbesar terjadi di tengah bentang yang mengakibatkan kegagalan yang terjadi di titik yang sama. Hasil perhitungan Modulus of Elasticity (MOE) memiliki nilai yang berbeda untuk setiap variasi benda uji A. B dan C. Nilai MOE benda uji A dengan variasi susunan ater-ater-ater-ater diperoleh rata-rata sebesar 13256,830 MPa, benda uji B dengan variasi susunan petung-ater-petung-ater diperoleh nilai rata-rata 14856,552 MPa, dan benda uji C dengan variasi susunan petung-petung-ater-ater diperoleh nilai ratarata 12981,294 MPa. Hasil pengujian Modulus of Elasticity rata-rata ketiga variasi benda uji 3 menunjukkan nilai rata-rata MOE yang paling tinggi diperoleh benda uji B dengan variasi susunan petung- Gambar 7. Bentuk Kegagalan Benda Uji Benda Uji Nur Noviana Belatrix, dkk. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Perbandingan nilai kuat lentur pada papan laminasi kombinasi bambu petung dan bambu ater dilakukan guna mengetahui perbedaan hasil kuat lentur dari penelitian lainnya. tentang Sifat Mekanika Bambu Petung Laminasi. tentang Pengaruh Susunan dan Ukuran Bilah Bambu Petung (Dendrocalamus aspe. dan Bambu Apus (Gigantochloa apu. terhadap Kekuatan Tarik Kekuatan Tekan dan Kekuatan Lentur untuk Komponen Konstruksi Kapal. Penelitian . tentang Pengujian Sifat Fisis dan Mekanis Bilah Bambu Ater (Gigantochloa atter Kur. Hal yang dibandingkan dari penelitian lain yaitu perbandingan nilai Modulus of Rupture (MOR) dan Modulus of Elasticity (MOE). MOR Rata-rata (MP. berbentuk balok, serta susunan bilah terdiri dari susunan arah radial dan susunan arah tangensial. Perbandingan nilai rata-rata MOR dan MOE pada penelitian . disebabkan oleh jenis bambu yang digunakan yaitu bambu petung dan bambu apus, susunan bilah yang dibuat seperti susunan bata, tebal bilah yang digunakan 7 mm, matriks lem polyvinyl asetat serta benda uji berbentuk balok. Pada penelitian ini menggunakan variasi bambu petung dan bambu ater dengan tebal bilah 5 mm, dengan susunan bilah horizontal dan benda uji yang berbentuk papan. Pada penelitian . yang disebabkan oleh perbedaan bahan yang digunakan yaitu bambu ater dan bagian bambu yang diuji merupakan bambu untuk kulit berada di bawah serta bambu ini tidak dilaminasi, hanya dibuat bilah rata dengan dimensi 30 cm x 2 cm x 2 cm. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu, nilai kuat lentur pada balok atau papan laminasi dapat dipengaruhi oleh jenis bambu yang digunakan, susunan bilah laminasi, jenis perekat yang digunakan, jumlah perekat terlabur, variasi tebal bilah, serta penyusunan setiap lapisan Simpulan Intang dkk Manik dkk Anugrah Belatrix Berdasarkan hasil penelitian, perhitungan, dan analisis serta pembahasan maka didapat kesimpulan bahwa: Hasil pengujian sifat mekanik lentur pada papan laminasi kombinasi bambu petung dan bambu ater didapat nilai rata-rata Modulus of Rupture (MOR) variasi A dengan susunan ater-ater-ater-ater sebesar 89,462 MPa, variasi B dengan susunan petung-aterpetung-ater sebesar 96,778 MPa, dan variasi C dengan susunan petung-petung-ater-ater sebesar 79,173 MPa. Hasil perhitungan didapat nilai rata-rata Modulus of Elasticity (MOE) variasi A sebesar 13256,830 MPa, variasi B sebesar 14856,552 MPa, dan variasi C sebesar 12981,294 MPa. Variasi benda uji B memiliki nilai rata-rata MOR dan MOE yang paling tinggi dibandingkan variasi A dan C. Pada susunan variasi B bambu petung berfungsi sebagai perkuatan bambu ater terhadap nilai MOR dan MOE yang disusun secara selang-seling. Sedangkan pada variasi C ada potensi ketidakseimbangan kekuatan antara bambu petung dan bambu ater dalam penerimaan beban sehingga nilai MOR dan MOE yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan variasi A dan B. Berdasarkan analisis anova, variasi B terhadap variasi A tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap nilai MOR dan MOE. Sebaliknya, variasi C terhadap variasi A memberikan perbedaan yang MOE Rata-rata (MP. Gambar 8. Perbandingan Nilai Rata-rata MOR dengan Penelitian Sejenis Intang dkk Manik dkk Anugrah Belatrix Gambar 9. Perbandingan Nilai Rata-rata MOE dengan Penelitian Sejenis Berdasarkan gambar grafik diatas, terdapat perbedaan nilai rata-rata Modulus of Rupture (MOR) dan Modulus of Elasticity (MOE) dibandingkan dengan penelitian . terdapat perbedaan nilai rata-rata MOR dan MOE disebabkan oleh jenis bambu yang digunakan hanya terdiri dari satu jenis yaitu bambu petung, perekat yang digunakan yaitu urea formaldehyde-UA 181 yang diproduksi dari PT. PAI Probolinggo, dan benda uji pada penelitian ini Nur Noviana Belatrix, dkk. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 . Anugrah. Pengujian Sifat Fisis dan Mekanis Bilah Bambu Ater (Gigantochloa atter Kur. Skripsi Institut Pertanian Bogor. signifikan terhadap nilai MOR dan tidak signifikan terhadap nilai MOE. Hal ini dikarenakan tidak ada penambahan atau pengurangan baik bambu petung maupun bambu ater. Daftar Rujukan . ISO 22157 . Bamboo structures Determination of physical and mechanical properties of bamboo culms Ai Test methods. International Standard. World Resources Institute Indonesia . Pantau Jejak Penebangan Hutan Ilegal. https://wri-indonesia. org/id/blog-tags/10051 . Standar Nasional Indonesia. Nomor 033959-1995. Metode pengujian kuat lentur kayu di Jakarta: Badan Standarisasi Nasional Indonesia . Putri R. Keberterimaan Masyarakat Terhadap Inovasi Teknologi Bambu Laminasi sebagai Alternatif Pengganti Kayu Konstruksi. Jurnal Sosek Pekerjaan Umum, 12-22. American Society for Testing and Materials, . Standard Methods for Testing Small Clear Specimens of Timber. ASTM D 143 Ae 94. West Conshohocken. Pennsylvania. United State of America. Asmah. Daitey. , & Steiner. Locally Produced Laminated bamboo Lumber: A Potential Substitute for Traditional Wood Carving in Ghana. European Journal of Research and Reflection in Arts and Humanities Vol 4 No. ISSN 2056-5887. Intang, dkk. Sifat Mekanika Bambu Petung Laminasi. Dinamika Rekayasa. Vol 10. No. 1 ISSN 1858-3075. Manik, dkk. Pengaruh Susunan dan Ukuran Bilah Bambu Petung (Dendrocalamus aspe. dan Bambu Apus (Gigantochloa apu. terhadap Kekuatan Tarik. Kekuatan Tekan dan Kekuatan Lentur untuk Komponen Konstruksi Kapal. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan. Vol. No. 3, 94-101. Irawati. , & Saputra. Januari . Analisis Statistik Sifat Mekanika Bambu Petung. Simposium Nasional Rekayasa dan Budidaya Bambu I. Rekayasa Bambu sebagai Solusi Pelestarian Lingkungan ISBN: 978-602-95687-69.