Jurnal Riset Akuntansi dan Manajemen Website: ojs. itb-ad. id/index. php/LQ/ p-ISSN: 1829-5150, e-ISSN: 2615-4846. PENGARUH BOOX TAX DIFFERENCES. AKRUAL. LEVERAGE DAN ALIRAN ARUS KAS OPERASI TERHADAP PERSISTENSI LABA (Studi Pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Index Saham Syariah (ISSI) Periode 2021-2. Eni Rusnaini1. Erike Anggraeni2. Citra Etika3(*) 1-3Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Lampung. Indonesia Abstract Financial statements are a strategic tool for assessing a company's performance through the presentation of high-quality and persistent profit information, where the level of profit persistence reflects the stability and sustainability of profits over time, while volatile profits tend to reduce the reliability of information in decision-making by stakeholders. The purpose of this study is to determine the effect of book tax differences, accruals, leverage, and operating cash flow on profit persistence. The population used in this study consists of food and beverage companies listed on the Indonesian Sharia Stock Index (ISSI) for the period 20212024, using purposive sampling techniques to select a total of 64 samples from 16 companies. The data obtained were secondary data from w. The data analysis technique used was multiple linear regression with the assistance of SPSS software version 25. The results of the partial test showed that the variables of book tax differences and accruals had a significant negative effect on profit persistence. The variables of leverage and operating cash flow have a significant positive effect on profit persistence. Meanwhile, the simultaneous test results indicate that the variables of book tax differences, accruals, leverage, and operating cash flow influence profit persistence. Kata Kunci: Boox tax differences. Akrual. Leverage. Aliran Arus Kas Operasi. Persistensi laba Juli Ae Desember 2025. Vol 14 . : hlm 228-246 A2025 Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan. All rights reserved. (*) Korespondensi: rusnaini2003@gmail. com (E. Rusnain. PENDAHULUAN Laporan keuangan merupakan salah satu alat utama untuk mengukur kinerja finansial sebuah perusahaan. Laporan keuangan ini menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja perusahaan, perubahan posisi keuangan yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan serta sebagai sarana komunikasi dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap informasi tersebut (Pohan. Salah satu penilaian kinerja perusahaan adalah dengan melihat laba. Laba dapat mencerminkan kondisi perusahaan, salah satu prediksi terhadap laba dapat dibentuk oleh informasi keuangan dan rasio keuangan yang terdapat dalam laporan Pada akhirnya, laporan keuangan ini berfungsi sebagai media bagi perusahaan berhubungan dengan pemangku kepentingan dan juga sebagai bahan pertimbangan bagi investor untuk mengurangi kerugian (Dewi, 2. Hal ini sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi (IAI) yang menyatakan bahwa informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas, diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan (Hanafie. Keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dapat dinilai melalui kinerja keuangan. Kinerja keuangan berfungsi sebagai alat untuk mengontrol dan memantau pencapaian dari aktivitas keuangan yang dilakukan (Etika et al. , 2. Salah satu aspek penting dalam menilai kinerja tersebut adalah profitabilitas, karena menunjukkan sejauh mana perusahaan mampu menghasilkan laba secara konsisten. Profitabilitas yang tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnisnya (Yusup et al. , 2. Namun profitabilitas yang tinggi belum tentu mencerminkan laba yang berkualitas (Putra & Anwar, 2. Oleh karena itu, kualitas laba menjadi aspek penting yang tidak dapat diabaikan. Namun, kualitas laba juga menjadi faktor yang sangat diperhatikan. Kualitas laba berkaitan erat dengan persistensi laba, yaitu kemampuan laba untuk mempertahankan tingkat laba yang stabil dan berkelanjutan dari waktu ke waktu sehingga dapat dianggap sebagai laba yang berkualitas. Laba yang berkualitas akan membantu dan memberikan informasi yang berguna bagi para pemangku kepentingan dalam pengambilan kebijakan, seperti kebijakan investasi, kebijakan akuntansi oleh manajemen, serta kebijakan perpajakan oleh pemerintah (Halimatus SaAodiyah & Dwi Suhartini, 2. Laba dapat dikatakan persisten apabila laba menunjukkan kestabilan dan tidak mengalami fluktuasi. Ketidakstabilan laba atau fluktuasi yang tinggi dapat mengurangi daya prediksi laba pada aliran arus kas perusahaan dimasa mendatang. Penurunan daya prediksi laba dapat mengakibatkan informasi laba tahun berjalan menjadi kurang akurat dalam memprediksi laba masa depan (Pratomo & Nuraulia, 2. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memastikan kualitas dan kejujuran dalam pelaporan keuangannya. Prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya keadilan dan tanggung jawab. Hal ini diperkuat dengan dengan firman Allah Swt bahwa setiap orang akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya, sebagaimana tercantum dalam Surah al-AoAnkabt: 13 a ae a a a Aae a A a a ea a a a a ea AaOE aO e aIE acI CE aN eI aOCUE acI a C aE aN eI aOE aO e aiAE acI aO eO aI E aC O aI a acI EI eO aOA a eOIA AuMereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka . dan dosa-dosa . rang lain yang mereka perday. di samping dosa-dosa mereka. Pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan. Ay Sebagaimana yang disampaikan dalam Surah Al-AoAnkabt ayat 13 bahwa setiap individu akan mempertanggungjawabkan dosa atas perbuatannya sendiri, dan mereka yang menyesatkan orang lain akan turut menanggung dosa dari pihak yang Ayat ini memberikan peringatan bahwa segala bentuk penyimpangan, kecurangan, ataupun ketidakjujuran termasuk dalam pelaporan keuangan dan aktivitas bisnis akan mendapat balasan setimpal dari Allah Swt. Oleh karena itu, ayat ini menekankan pentingnya tanggung jawab individu, kejujuran, dan kehati-hatian dalam setiap tindakan, khususnya yang berpotensi berdampak terhadap pihak lain (Munir, 2. Fenomena yang terjadi pada sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) berpotensi mengalami pertumbuhan positif namun juga bisa berpotensi mengalami penurunan yang Beberapa perusahaan yang mencerminkan tantangan tersebut seperti PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) mengalami penurunan yang signifikan sebesar 99,23% dari Rp15,5 miliar pada tahun 2021 menjadi Rp90,6 juta tahun 2022. Kondisi ini diakibatkan oleh meningkatnya beban pokok penjualan, efisiensi operasional yang menurun, atau ketatnya persaingan pasar. Selanjutnya PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) mencatat penurunan laba sebesar 22,9% dari Rp432,2 miliar pada 2022 menjadi Rp333,3 miliar pada 2023, dipengaruhi oleh meningkatnya retur penjualan, beban distribusi, dan tekanan inflasi. Kemudian permasalahan pun juga terjadi pada PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mengalami penurunan laba 6,06% dari Rp3,19 triliun pada 2023 menjadi Rp3 triliun pada 2024, akibat naiknya harga bahan baku dan fluktuasi nilai tukar. Adapun PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) mengalami penurunan laba paling drastis, dari Rp86,2 miliar 2022 menjadi Rp1,5 miliar 2023, lalu rugi Rp75,2 miliar pada 2024, dipicu oleh turunnya pendapatan dan tingginya beban operasional serta bunga utang. Selain itu PT Ultra Jaya Milk Industry and Trading Company (ULTJ) Tbk menunjukkan terjadinya fluktuasi laba bersih selama periode 2021Ae2024. Pada 2021, laba bersih tercatat sebesar Rp1,27 triliun, lalu turun menjadi Rp965,5 miliar pada 2022. Kinerja kembali membaik di 2023 dengan laba mencapai Rp1,18 triliun, namun sedikit menurun pada 2024 menjadi sekitar Rp1,17 triliun. Fluktuasi terjadi karena naiknya beban operasional, tekanan harga bahan baku, ataupun efisiensi biaya produksi, serta pemulihan daya beli masyarakat (Katadata, n. Salah satu contoh nyata fenomena boox tax differences dapat diamati pada PT Mayora Indah Tbk (MYOR), yang merupakan perusahaan sektor makanan dan minuman yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Berdasarkan laporan tahunan tahun 2022 dan 2023. Mayora mencatat adanya perbedaan antara laba sebelum pajak secara komersial dengan beban pajak fiskal yang diakui. Hal ini tercermin dalam bagian rekonsiliasi fiskal pada laporan keuangan, di mana terdapat nilai boox tax differences yang menyebabkan perbedaan antara penghasilan kena pajak dan laba akuntansi. Pada tahun 2023. Mayora membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp4,09 triliun, sementara terdapat perbedaan permanen negatif sebesar Rp18,16 miliar, yang berarti laba fiskal lebih rendah daripada laba akuntansi. Demikian pula pada tahun 2022, perusahaan mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp2,5 triliun dengan perbedaan permanen sekitar Rp2,95 miliar. Perbedaan ini menunjukkan adanya boox tax differences yang mengindikasikan bahwa perusahaan berhasil menurunkan beban pajaknya tanpa mengurangi laba akuntansi. Keberadaan boox tax differences ini mencerminkan adanya pengelolaan pajak yang memungkinkan perusahaan menekan beban pajak tanpa menurunkan laba akuntansi, sekaligus mengindikasikan adanya strategi manajerial dalam optimalisasi pengakuan laba antara aspek komersial dan Penelitian ini juga didasari oleh Teori Agensi (Agency Theor. yang menjelaskan tentang hubungan antara pemilik . dan manajemen . membuat kontrak untuk melakukan suatu pekerjaan, di mana principal mempekerjakan agen untuk memberikan jasa serta mendelegasikan kewenangan dalam pengambilan keputusan demi kepentingan principal (Yusri, 2. Teori Agen memberikan dasar untuk memahami bagaimana hubungan keagenan antara pemegang saham dan manajer dapat memengaruhi persistensi laba. Book Tax Difference mencerminkan strategi manajemen pajak yang dapat mempengaruhi besaran dan stabilitas laba. Akrual menjadi relevan karena dapat mengurangi masalah agensi dan memberikan informasi yang lebih akurat dan transparan kepada para pemangku kepentingan. Leverage menciptakan tekanan finansial yang membuat manajemen lebih disiplin dalam pengambilan keputusan investasi dan operasional. Sementara itu. Aliran arus Kas Operasi, sebagai indikator kesehatan finansial, dapat memainkan peran dalam memoderasi efek variabel lain terhadap persistensi laba. Boox tax differences merujuk pada perbedaan antara metode pencatatan yang digunakan untuk tujuan pelaporan keuangan dan pelaporan pajak. Boox tax differences yang tinggi sering kali menjadi indikasi adanya praktik manajemen laba atau penghindaran pajak yang agresif. Manajemen dapat menggunakan celah ini untuk meningkatkan atau menstabilkan laba yang dilaporkan, sehingga laba tampak lebih persisten dari tahun ke tahun. Dalam perpektif teori agensi Book Tax Difference mencerminkan strategi manajemen pajak yang dapat mempengaruhi besaran dan stabilitas laba. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hasanah et al. , 2. mengemukakan bahwa Faktor Boox Tax Differences memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. Serta diperkuat dengan penelitian (Jannati et al. yang mengemukakan bahwa Boox Tax Differences memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: H1: Boox Tax Differences memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi Akrual merujuk pada suatu metode akuntansi yang mengakui pendapatan dan pengeluaran saat transaksi terjadi, terlepas dari kapan kas diterima atau dibayarkan. Dalam perpektif teori agensi Akrual memberikan fleksibilitas bagi manajemen dalam menentukan waktu pengakuan pendapatan dan beban, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan laba yang tampak stabil atau meningkat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Rahmadhani, 2. mengemukakan bahwa Faktor Akrual memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. Serta diperkuat oleh penelitian (Marvella et al. , 2. yang mengemukakan bahwa Akrual berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: H2: Akrual memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba Leverage merujuk pada kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh kewajibannya, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu perusahaan dipandang menguntungkan apabila dapat membantu menjaga stabilitas posisi keuangannya saat menjalankan bisnis. Dalam perpektif teori agensi Leverage memberikan tekanan dan insentif bagi manajer untuk menjaga stabilitas laba melalui cara-cara yang tidak selalu mencerminkan kinerja riil Perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Agustian, 2. mengemukakan bahwa Faktor Leverage memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. Lalu diperkuat oleh (Susanto, 2. yang mengemukakan bahwa Leverage berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: H3: Leverage memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. Aliran arus kas operasi merujuk pada kemampuan suatu entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam perpektif teori agensi Aliran arus kas operasi ini penting karena sulit dimanipulasi, sehingga dapat mengurangi perbedaan informasi antara principal dan agent. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Abdillah et al. , 2. mengemukakan Aliran arus kas operasi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. Hasil tersebut sejalan dan diperkuat oleh penelitian (Wahyuni & Susanto, 2. yang mengemukakan Aliran arus kas operasi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. H4: Aliran arus kas operasi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap persitensi laba. Dengan latar belakang tersebut, pembahasan mengenai persistensi laba menjadi relevan, yaitu kemampuan perusahaan dalam mempertahankan laba dari waktu ke waktu secara konsisten. Boox tax differences, bersama dengan faktor-faktor lain seperti akrual, leverage, dan arus kas operasi, diduga memiliki peran penting dalam memengaruhi kestabilan laba tersebut. Penting untuk meneliti bagaimana masing-masing variabel tersebut saling berinteraksi dan memberikan dampak terhadap persistensi laba perusahaan, khususnya pada sektor industri makanan dan minuman yang menjadi bagian dari Index Saham Syariah Indonesia (ISSI). Oleh karena itu, peneliti merasa terdorong untuk mengkaji lebih dalam permasalahan pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode tahun 2021-2024. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: . Untuk menganalisis pengaruh Boox Tax Differences terhadap persistensi laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di (ISSI) periode 2021-2024. Menganalisis pengaruh Akrual terhadap persistensi laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di (ISSI) periode 2021-2024. Menganalisis pengaruh Leverage terhadap persistensi laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di (ISSI) periode 2021-2024. Menganalisis pengaruh Aliran Arus Kas Operasi terhadap persistensi laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di (ISSI) periode 2021-2024. Menganalisis pengaruh Boox Tax Differences. Akrual. Leverage, dan Aliran Arus Kas Operasi terhadap persistensi laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di (ISSI) periode 2021-2024. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut (Sugiyono, 2. Penelitian kuantitatif merupakan suatu metode penelitian yang didasarkan pada filosofi positivisme dan digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian, sedangkan analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Sekunder yang diperoleh dari Laporan keuangan pada perusahaan yang terdaftar di Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) Periode Populasi dan Sampel Populasi merupakan kumpulan objek atau subjek dengan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti sebagai dasar untuk pengambilan Kesimpulan (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Index Sahan Syariah Indonesia (ISSI) periode tahun 2021-2024. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, terdapat 29 perusahaan makanan dan minuman yang termasuk dalam populasi tersebut. Sampel penelitian merupakan bagian dari populasi yang menjadi objek penelitian. Dari keseluruhan populasi tersebut diperoleh 64 sampel yang berasal dari 16 perusahaan. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu, yaitu: Perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2021-2024. Perusahaan makanan dan minuman yang mempublikasikan laporan keuangan nya secara berturut-turut periode 2021-2024. Perusahaan makanan dan minuman yang telat melaporkan laporan keuangan nya periode 2021-2024. Definisi Operasional Variabel Tabel 1. Operasional Variabel Definisi Indikator Boox tax differences Mengacu pada perbedaan jumlah laba yang dihitung akuntansi dengan laba yang dihitung sesuai dengan ycEyceycuyciEaycaycycnycoycaycu ycoyceycuyca ycyycaycycayco Oe ycoycaycayca ycayceycycycnEa yaycycyceyc ycycaycyca Oe ycycaycyca Akrual Penyesuaian akuntansi yang pendapatan dan beban pada saat diperoleh atau yaycaycayca ycayceycycycnEa Oe ycaycycyc ycoycayc ycuycyyceycycaycycn ycNycuycycayco yaycycyceyc Leverage Kemampuan utangnya dengan jumlah asetnya. ycNycuycycayco Eaycycycaycuyci ycNycuycycayco yaycycyceyc Aliran Arus Kas Operasi Yaitu aliran masuk dan keluar kas atau setara kas yang terkait dengan aktivitas utama yang menghasilkan pendapatan bagi perusahaan atau yaycycyc ycoycayc ycuycyyceycycaycycn ycNycuycycayco yaycycyceyc Persistensi Laba Kemampuan perusahaan untuk jumlah laba saat ini dan laba masa yaycaycayca ycyceycayceycoycyco ycyycaycycaycoycOe1 Oe ycoycaycayca ycyceycayceycoycyco ycyycaycycaycoyc ycNycuycycayco yaycycyceyc Sumber Pengukuran Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan data dari sumber-sumber relevan seperti buku, jurnal, dan penelitian sebelumnya yang sesuai dengan variabel atau fokus penelitian dalam rumusan masalah, sehingga data yang diperoleh dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah ditetapkan (Saat & Mania. Data tersebut diperoleh melalui Laporan Keuangan dipublikasi oleh perusahaan melalui website resminya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode Analisis Data Selanjutnya proses analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25. Analisis data merupakan metode yang digunakan dalam mencari dan mengolah informasi berdasarkan data yang telah dikumpulkan agar hasil penelitian lebih lebih valid dan mudah dipahami pembaca (Soesana et al. , 2. Sebelum menentukan ketepatan proses analisis perlu dilakukan pengujian beberapa uji asumsi klasik, yaitu uji normalitas, multikolinieritas, autokorelasi, dan heterokedastisitas (Indartini & Mutmainah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Statistik Deskriptif Uji Statistik deskriptif digunakan oleh peneliti untuk memberikan gambaran awal mengenai karakteristik masing- masing variabel yang diteliti. menggambarkan data dalam penelitian dalam bentuk nilai rata-rata . , nilai maksimum, nilai minimum, dan standar deviasi (Wijayanti et al. , n. Tabel 2. Uji Statistik Deskriptif Descriptive Statistics Minimum Maximum Mean Std. Deviation BOOX TAX DIFFERENCES AKRUAL LEVERAGE ALIRAN ARUS KAS PERSISTENSI LABA Valid N . OPERASI Sumber : Data Diolah . Berdasarkan analisis dan hasil deskriptif pada table 2 diatas diketahui bahwa jumlah data (N) yang digunakan untuk menganalisis masing-masing variable berjumlah yaitu 64 sampel. Dari hasil tersebut diperoleh gambaran mengenai nilai maksimum, nilai minimum, rata-rata, serta standar deviasi dari masing-masing variabel penelitian sebagai berikut: Variabel boox tax differences memiliki nilai minimum -0,045, nilai maksimum 0,042, nilai rata-rata -0,00010 dan nilai standar deviasi sebesar 0,022522. Variabel akrual memiliki nilai minimum -0,257, nilai maksimum 0,910, nilai rata-rata 0,00300 dan nilai standar deviasi sebesar 0,134424. AVariabel leverage memiliki nilai minimum 0,122, nilai maksimum 2,904, nilai rata-rata 0,75310 dan nilai standar deviasi sebesar 0,437877. AVariabel aliran arus kas operasi memiliki nilai minimum -0,123, nilai maksimum 0,257, nilai rata-rata 0,06561 dan nilai standar deviasi sebesar 0,080980. Variabel persistensi laba memiliki nilai minimum -0,173, nilai maksimum 132480,485, nilai rata-rata 2069,99962 dan nilai standar deviasi sebesar 16560,061585. Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji Normalitas bertujuan untuk mengevaluasi apakah variable independent dan variabel dependen memiliki distribusi normal atau tidak, model regresi yang optimal seharusnya dilengkapi dengan analisis grafis dan pengujian statistik, dengan ketentuan jika nilai signifikansi hasil perhitungan data (Si. > 0,05 maka data berdistribusi normal, sebaliknya jika (Si. < 0,05 maka tidak berdistribusi normal. Tabel 3. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parameters a,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Sumber : Data Diolah . Berdasarkan hasil uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov pada tabel 3 diatas diketahui nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-taile. sebesar 0,200 lebih besar dari (Si. > 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini distribusi normal. Uji Multikolinearitas Dalam penelitian ini. Uji Multikolineritas digunakan untuk menganalisa hubungan atau korelasi antara variabel yang ada. Multikolonieritas dapat diuji dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF). Dikatakan bahwa tidak ada multikolinieritas jika koefisen terkait antara variabel kurang dari satu atau setara dengan 10 (O. dan untuk nilai tolerance lebih dari atau setara dengan 0,10 (Ou0,. Tabel 4. Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model (Constan. Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Std. Error Beta Sig. Tolerance VIF BOOX TAX AKRUAL LEVERAGE DIFFERENCES ALIRAN ARUS KAS OPERASI Dependent Variable: PERSISTENSI LABA Sumber : Data Diolah . Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada tabel 3 diatas menunjukkan seluruh variabel memiliki nilai Tolerance di atas 0,1 dan nilai VIF di bawah 10. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variable independen tidak terjadi masalah Uji Autokorelasi Uji autokorelasi digunakan untuk mendeteksi adanya korelasi antara residual dari satu pengamatan dengan pengamatan lainnya dalam suatu model regresi (Murniati et al. , 2. Pengujian ini umumnya diterapkan pada data runtun waktu . ime serie. , sehingga tidak wajib digunakan untuk data berskala ordinal atau interval. Autokorelasi dapat dideteksi menggunakan uji Durbin-Watson. Nilai d yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai kritis pada tingkat signifikansi = 0,05. Dalam tabel Durbin-Watson, terdapat batas bawah . L) dan batas atas . U). Jika d < dL atau d > 4 - dL, maka terdapat autokorelasi. Sebaliknya, jika dU < d < 4 - dU, maka tidak ada Autokorelasi. Tabel 5. Uji Autokorelasi Model Summaryb Std. Error of the Model R Square Adjusted R Square Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constan. ALIRAN ARUS KAS OPERASI. BOOX TAX DIFFERENCES. LEVERAGE. AKRUAL Dependent Variable: PERSISTENSI LABA Sumber : Data Diolah . Berdasarkan hasil Uji Durbin-Watson pada tabel 5 di atas, nilai Durbin-Watson sebesar 2,179 menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi yang signifikan dalam model regresi. Nilai ini berada dalam rentang yang menunjukkan tidak adanya masalah autokorelasi positif maupun negatif . ,7303 < 2,179 < 2,2. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyimpangan terhadap asumsi klasik, yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan dalam model regresi (Zahriah et al. , 2. Tabel 6. Uji Heteroskedastisitas Sumber : Data Diolah . Berdasarkan hasil Uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa data tersebar secara simetris di atas dan di bawah garis nol, menandakan tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dan hasil regresi dapat dipercaya. Uji Hipotesis Uji hipotesis merupakan prosedur yang digunakan untuk menentukan kebenaran hipotesis berdasarkan data sampel yang diperoleh. Secara umum, uji hipotesis bertujuan untuk menentukan apakah (HCA) dapat diterima atau ditolak, dengan menggunakan keputusan yang didasarkan pada hasil perhitungan statistik yang dihasilkan dari pengujian (Siregar et al. , 2. Tabel 7. Uji Simultan (Uji F) ANOVAa Model Sum of Squares Mean Square Sig. Regression Residual Total Dependent Variable: PERSISTENSI LABA Predictors: (Constan. X4 Sumber : Data Diolah . Berdasarkan hasil Uji Simultan (Uji . tabel 7 diatas, diperoleh nilai signifikansi lebih kecil dari 0,005 atau 0,000 < 0,05 dan f hitung 835,663 > 2,528 Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara simultan seluruh variabel independent berpengaruh terhadap variabel dependen. Tabel 8. Uji Parsial (Uji T) Coefficientsa Model (Constan. Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Std. Error Beta Sig. Tolerance VIF BOOX TAX DIFFERENCES AKRUAL LEVERAGE ALIRAN ARUS KAS OPERASI Dependent Variable: PERSISTENSI LABA Sumber : Data Diolah . Berdasarkan hasil output pada tabel 8 diatas dapat dilihat nilai signifikansi dan pengaruh parsial antar variabel sebagai berikut: Variabel Boox Tax Differences (X. memiliki nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar -2,422 dan signifikansi 0,000 yang berarti Variabel Boox Tax Differences (X. berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba. Variabel Akrual (X. memiliki nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar 0,063 dan signifikansi 0,000 yang berarti Variabel Akrual (X. berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba. Variabel Leverage (X. memiliki nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar 0,075 dan signifikansi 0,000 yang berarti Variabel Leverage (X. berpengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba. Variabel Aliran Arus Kas Operasi (X. memiliki nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar 0,213 dan signifikansi 0,000 yang berarti Variabel Aliran Arus Kas Operasi (X. berpengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba. Tabel 9. Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model (Constan. Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Std. Error Beta Sig. Tolerance VIF BOOX TAX AKRUAL LEVERAGE ALIRAN ARUS DIFFERENCES KAS OPERASI Dependent Variable: PERSISTENSI LABA Sumber : Data Diolah . Berdasarkan hasil pengujian regresi linear berganda sebagaimana pada tabel 9. Persamaan regresi linear berganda dapat dirumuskan sebagai berikut Y = -49378915,22 Ae 2,422X1 - 0,63X2 0,075X3 0,213X4 A Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda pada tabel 2 maka dapat disimpulkan persamaan regresi sebagai berikut: Nilai Konstanta yang diperoleh sebesar -49378915,22 maka dapat diartikan jika variable boox tax differences, akrual, leverage, aliran arus kas operasi bernilai 0 maka variable persistensi laba akan mengalami penurunan sebesar 49378915,22. Nilai Koefisien regresi variable X1 bernilai negative (-) sebesar -2,422 maka dapat diartikan bahwa jika variable boox tax differences meningkat maka variable persistensi laba juga akan menurun sebesar -2,422. Nilai Kofisien regresi variable X2 bernilai positif ( ) sebesar -0,63 maka dapat diartikan bahwa jika variable akrual meningkat maka variable persistensi laba juga akan menurun sebesar -0,63. Nilai Kofisien regresi variable X3 bernilai positif ( ) sebesar 0,075 maka dapat diartikan bahwa jika variable leverage meningkat maka variable persistensi laba juga akan meningkat sebesar 0,075. Nilai Kofisien regresi variable X4 bernilai positif ( ) sebesar 0,213 maka dapat diartikan bahwa jika variable aliran arus kas operasi meningkat maka variable persistensi laba juga akan meningkat sebesar 0,213. Tabel 10. Uji Analisis Koefisien Determinasi Model Summaryb Std. Error of the Model R Square Adjusted R Square Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constan. X4 Dependent Variable: PERSISTENSI LABA Sumber : Data Diolah . Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana model mampu menjelaskan variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berada dalam rentang 0 hingga 1. Semakin mendekati angka 1, semakin besar kemampuan model dalam menjelaskan variabel dependen secara menyeluruh, dan sebaliknya. Berdasarkan tabel uji koefisien determinasi dapat diketahui bahwa hasil pengujian koefisien determinasi diketahui nilai R- Square (R. sebesar 0,931 hal ini menunjukkan kontribusi dari variabel bahwa boox tax differences, akrual, leverage dan aliran arus kas operasi terhadap persistensi laba 93,1%. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel yang tidak diamati dalam penelitian ini. PEMBAHASAN Pengaruh Boox Tax Differences Terhadap Persistensi Laba Hasil penelitian menunjukkan bahwa Boox Tax Differences berpengaruh negatif signifikan terhadap Persistensi laba. Hal ini terlihat dari nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar sebesar -2,422 dan signifikansi 0,000. Dalam perspektif teori agensi, hal ini mencerminkan konflik kepentingan antara manajer dan pemilik, di mana manajer memanfaatkan fleksibilitas akuntansi untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian. Boox Tax Differences terbukti bahwa semakin besar selisih antara laba akuntansi dan laba fiskal, maka semakin rendah tingkat presistensi laba, yang menunjukkan menurunnya kemampuan laba untuk bertahan secara konsisten. Penelitian (Halimatus SaAodiyah & Dwi Suhartini, 2. menyatakan bahwa boox tax differences berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba. Hal ini didukung dengan penelitian yang di lakukan oleh (Lovita & Lisiantara, 2. Artinya, semakin besar perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiscal, semakin rendah kemampuan laba untuk bertahan atau berulang di periode mendatang. Perbedaan ini dapat mengindikasikan adanya praktik manajemen laba yang menurunkan kualitas laba, sehingga laba yang dilaporkan menjadi kurang andal sebagai prediktor laba di masa Pengaruh Akrual Terhadap Persistensi Laba Akrual juga menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap Persistensi Hal ini terlihat dari nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar -0,063 dan signifikansi 0,000. Dalam perspektif teori agensi, di mana manajer dapat memanfaatkan akrual untuk manajemen laba, yang pada akhirnya merugikan investor karena laba yang dihasilkan menjadi kurang berkualitas dan tidak stabil. Akrual mencerminkan bagian laba yang tidak melibatkan arus kas langsung seperti pendapatan yang belum diterima atau beban yang belum dibayar, serta rentan dikoreksi apabila estimasi akuntansi tidak tepat atau pendapatan tidak terealisasi, sehingga semakin besar akrual, maka semakin rendah tingkat persistensi laba. Penelitian (Putri, 2. menyatakan bahwa akrual berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba. Sejalan dengan penelitian (Utami & Nuraini, 2. bahwa besar atau kecilnya akrual pada perusahaan properti dan real estate tidak secara signifikan memengaruhi kemampuan laba untuk bertahan atau berulang di periode Hal ini dikaitkan dengan kemungkinan risiko piutang tak tertagih yang dapat mengurangi pendapatan serta fakta bahwa laba akuntansi yang tinggi akibat akrual belum tentu mencerminkan arus kas nyata, sehingga tidak dapat dijadikan sinyal yang kuat bagi investor mengenai keberlanjutan laba di masa depan. Pengaruh Leverage Terhadap Persistensi Laba Selain itu. Leverage terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap Persistensi Hal ini terlihat dari nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar 0,075 dan signifikansi 0,000. Dalam perspektif teori agensi, leverage berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap manajer, sehingga informasi laba menjadi lebih andal dan berkelanjutan. Leverage dapat menjadi alat disiplin manajerial, mendorong efisiensi, dan mengurangi praktik manajemen laba. Maka perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi memiliki insentif lebih besar untuk mempertahankan stabilitas laba guna menjaga kepercayaan pihak kreditur, auditor, maupun investor. Penelitian (Susanto, 2. mengatakan leverage berpengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba. Hasil penelitian ini dibuktikan juga dengan (Agustian, 2. berarti semakin tinggi tingkat leverage, semakin besar kemampuan perusahaan mempertahankan laba dari periode ke periode. Kondisi ini sejalan dengan pandangan bahwa utang dapat menjadi alat disiplin manajerial, mendorong efisiensi operasional, dan meminimalkan praktik manajemen laba, sehingga laba yang dihasilkan lebih stabil dan berkualitas untuk jangka panjang. Pengaruh Aliran Arus Kas Operasi Terhadap Persistensi Laba Aliran arus kas operasi juga terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap Persistensi laba. Hal ini terlihat dari nilai Unstandardized Coefficients Beta Sebesar 0,213 dan signifikansi 0,000. Dalam perspektif teori agensi, arus kas operasi yang kuat dapat menurunkan kesenjangan informasi antara manajer dan pemilik, karena kas lebih sulit dimanipulasi. Oleh karena itu, laba yang dihasilkan dari arus kas operasi dianggap lebih dapat dipercaya dan memiliki nilai prediktif yang tinggi bagi investor. Maka semakin besar arus kas yang dihasilkan perusahaan artinya semakin tinggi kemungkinan laba yang dilaporkan perusahaan bersifat berkelanjutan atau presisten. Hasil penelitian ini dibuktikan dengan (Abdillah et al. , 2. yang mengatakan aliran arus kas operasi berpengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba. Dibuktikan pula oleh penelitian (Wahyuni & Susanto, 2. artinya, arus kas operasi menjadi indikator penting dalam menilai laba perusahaan, karena mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari aktivitas operasional utamanya. Sebaliknya, penurunan arus kas operasi akan menurunkan kualitas laba dan mengindikasikan risiko keberlanjutan laba yang lebih rendah yang mengatakan aliran arus kas operasi berpengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba. Pengaruh KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari boox tax differences, akrual, leverage dan aliran arus kas operasi terhadap persistensi laba. Penelitian ini menggunakan 64 sampel perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2021-2024. Berdasarkan hasil analisis secara parsial, disimpulkan bahwa boox tax differences dan akrual berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba, sedangkan leverage dan aliran arus kas operasi berpengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba. Adapun secara simultan, keempat variabel independen tersebut secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, yaitu persistensi laba. DAFTAR PUSTAKA