Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 4. Nomor 1. Januari 2023, pp. 23 Ae 31 ISSN 2720-8842 (Onlin. Journal homepage: http://jurnal. id/index. LITERATURE REVIEW: PERBEDAAN PEMBERIAN OKSITOSIN PROFILAKSIS SECARA INTRAVENA DAN INTRAMUSKULAR TERHADAP KEJADIAN PERDARAHAN POSTPARTUM Dwi Kartika Cahyaningtyas1A . Evi Diliana Rospia2 . Rika Agustina3 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mataram Indonesia Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu Indonesia ARTICLE INFO Article history Submitted : 2022-02-19 Revised : 2022-06-28 Accepted : 2022-08-10 Keywords: Pospartum Haemorrhage. Oxytocin Intramuscular. Oxytocin Intravena. Vaginal Delivery. Kata Kunci: Perdarahan postpartum. Oksitosin Intramuskular. Oksitosin Intravena. Persalinan pervaginam. ABSTRACT Postpartum Haemorrhage is a condition of blood loss of more than 500 cc that occurs within 24 hours after delivery. Postpartum hemorrhage is a significant cause of morbidity and mortality in Postpartum Haemorrhage occurs in about 1% to 6% of all deliveries. Uterine atony, the leading cause of primary postpartum hemorrhage, accounts for 70% to 80% of all bleeding. Early prevention in postpartum hemorrhage cases is the usage of uterotonics in the third stage of labor which has become the standard of intervention worldwide. The choice of uterotonic in managing postpartum hemorrhage should be adjusted to the administration and dosage. This Study aims to analyze the difference in prophylactic administration of oxytocin injected in intramuscular and intravenous during postpartum hemorrhage. Data were searched using PICO, articles were selected using PRISMA, and critical appraisal. There is decreased postpartum hemorrhage compared to IM oxytocin administration. Intra Vena oxytocin administration could reduce the incidence of severe postpartum hemorrhage and prevent blood transfusions compared to IM oxytocin administration in the third stage of labor in postpartum hemorrhage. However, there was no significant difference in hemoglobin changes. The side effects caused by intravenous administration are still manageable compared to intramuscular administration. Intravenous oxytocin prevented postpartum hemorrhage in stage i more effectively than intramuscular administration. The side effects that emerged in the two groups of intravenous and intramuscular administration were not significantly different and were still within mild The administration of oxytocin in preventing postpartum hemorrhage in the third stage of labor has become a procedure and recommendation of health organizations. Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai darah lebih dari 500 cc yang terjadi dalam 24 jam setelah melahirkan. Perdarahan postpartum merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada persalinan. Perdarahan postpartum terjadi pada sekitar 1% sampai 6% dari semua persalinan. Atonia uteri, penyebab utama perdarahan postpartum primer, menyumbang 70% sampai 80% dari semua perdarahan. Pencegahan dini yang dapat dilakukan pada perdarahan postpartum adalah penggunaan uterotonika pada persalinan kala i dan telah menjadi standar intervensi di seluruh dunia. Pemilihan uterotonika dalam penanganan perdarahan postpartum harus disesuaikan dengan cara pemberian dan dosisnya. Tujuan penelitian ialah untuk menganalisis pemberian profilaksis oksitosin secara intramukular dan intravena pada perdarahan postpartum. Pencarian data menggunakan PICO, proses pemilihan artikel menggunakan PRISMA dan penilaian kritis. Penurunan perdarahan postpartum dibandingkan pemberian oksitosin IM, pemberian oksitosin IV dapat menurunkan kejadian perdarahan postpartum berat dan mencegah transfusi darah dibandingkan dengan pemberian oksitosin IM kala i persalinan pada perdarahan postpartum, namun tidak terdapat perbedaan perubahan hemoglobin yang bermakna. Efek samping yang ditimbulkan oleh pemberian intravena masih dalam batas sebanding dengan pemberian intramuskular. Hasil tinjauan pustaka pada penelitian ini menemukan bahwa oksitosin intravena lebih efektif dalam mencegah perdarahan postpartum pada stadium i daripada pemberian intramuskular. Efek samping yang terjadi pada kedua kelompok pemberian intravena dan intramuskular tidak berbeda nyata dan masih dalam batas ringan. Pemberian oksitosin dalam mencegah perdarahan postpartum pada persalinan kala i telah menjadi prosedur dan rekomendasi organisasi kesehatan. A Corresponding Author: This is an open access article under the CC BY-SA Dwi Kartika Cahyaningtyas Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mataram Telp. Email: ayawika99@gmail. https://doi. org/10. 33490/b. Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 4. Nomor 1. Januari 2023 Perbedaan Pemberian Oksitosin Intravena danA PENDAHULUAN Postpartum Haemorrhage perdarahan pasca-persalinan sebagai hilangnya darah lebih dari 500 cc yang terjadi dalam rentang waktu 24 jam setelah melahirkan (Gylmezoglu et al. , 2. Kematian maternal dapat disebabkan oleh 2 hal yaitu penyebab langsung dan tidak langsung, berdasarkan hal tersebut penyebab secara langsung kematian ibu terjadi dikarenakan perdarahan postpartum, sepsis dan hipertensi dengan presentasi 37,1% (Halder et al, 2. WHO menyatakan bahwa terjadinya kematian maternal tiap tahun ada 140. 000 atau 1 wanita tiap 4 menit, 25% kematian maternal disebabkan oleh perdarahan pasca lahir dan telah diperhitungkan terdapat 100. 000 kematian maternal setiap tahunnya (Jekti & Mutiatikum. Perdarahan pasca lahir merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada Perdarahan pasca lahir terjadi pada sekitar 1% sampai 6% dari semua Atonia uteri, penyebab utama perdarahan pasca lahir primer, menyumbang 70% sampai 80% dari semua perdarahan (Wormer et al. , 2. Menurut World Health Organization (WHO) terdapat 14 juta ibu atau sebesar 11,4% wanita yang mengalami perdarahan pasca lahir di seluruh dunia. Perdarahan pasca lahir tertinggi di negara berkembang, yaitu sebesar 480. %), sedangkan di negara maju 1. (Say et al. , 2. Di Indonesia persentase pendarahan selama persalinan dan pasca lahir selama 3 tahun berturut Ae turut pada tahun 2015 sebesar 31%, tahun 2016 sebesar 29,2%, dan tahun 2017 sebesar 27,1%. Meskipun mengalami penurunan setiap tahun, komplikasi pendarahan masih menjadi 3 penyebab utama kematian pada ibu. Menurut data Kementerian Kesehatan terjadinya peningkatan kematian ibu pada tahun 2020 sebanyak 4. 627 kematian dibandingkan tahun 2019 sebanyak 4. Sebagian besar disebabkan oleh perdarahan 330 kasus (Kemenkes, 2. Trias tertinggi penyebab langsung kematian maternal di Indonesia karena perdarahan pasca lahir . %), preeklamsia dan eklamsia . %), aborsi . %), infeksi . %), emboli obstetrik . %), komplikasi puerperium . %) dan lain-lain . %) (Baron & Kenny. Faktor penyebab terjadinya perdarahan pasca lahiran adalah atonia uteri, retensio plasenta, laserasi jalan lahir, plasenta previa dan penyakit pembekuan darah (Kristianingsih et al. Pencegahan awal yang dapat dilakukan pada perdarahan pasca lahir yaitu dengan penggunaan uterotonika pada persalinan kala i dan telah menjadi standar intervensi di seluruh dunia (Koh et al. , 2. Pemilihan uterotonika dalam penanganan perdarahan pasca lahir harus disesuaikan dengan cara pemberian dan dosis pemberian (Escobar et al. , 2. Pemberian oksitosin merupakan uterotonika yang paling Rute penatalaksanaan secara umum paling banyak menggunakan intramuscular (IM) dan intravena (IV). Pemberian IV memiliki mula kerja segera setelah disuntikan, sedangkan pemberian intramukular (IM) memiliki mula kerja 2-5 Sehingga kontraksi uterus akan lebih lama tercapai dibandingkan dengan pemberian secara IV (Arnov et al, 2. Dosis oksitosin yang diberikan secara IV maupun IM sebanyak 10 IU, namun pada pemberian secara IV dengan kecepatan 1 mL/menit (Oguz Orhan et al. , 2. Injeksi IM diberikan kedalam otot, sedangkan IV diberikan melalui infus atau bolus. Untuk infus intravena oksitosin akan diencerkan dalam 500 atau 100 ml cairan dengan pemberian 1 mL/menit dan IV bolus diberikan selama 1-2 menit (Zhou et al. , 2. Walaupun demikian dosis dan cara pemberiannya sangat bervariasi dan tidak ada pedoman yang benar tentang cara pemberian dan dosis yang efektif. Dalam praktek sehar-hari sering digunakan bolus intravena 5-10 Walaupun demikian efek samping yang timbul tergantung dari dosis pemberian dan biasanya tidak akan muncul bila pemberiannya dilarutkan dengan cairan intravena (Yulianto Sarim, 2. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa Infus oksitosin IV lebih efektif daripada penatalaksanaan perdarahan pasca lahir (Charles et al. , 2019. Ebada. Elmatboly and Baligh, 2020. Oladapo et al. , 2. Pemberian oksitosin intravena tidak menimbulkan masalah keamanan setelah persalinan pervaginam dan memiliki profil efek samping yang sebanding dengan pemberian intramuskularnya (Charles et al. Oladapo et al. , 2020. Penelitian Adnan. Conlan-Trant. McCormick. Bmj, et al. , . menyatakan bahwa hasil uji coba yang telah dilakukan pada kejadian perdarahan pasca lahir sebanyak 500 ml tidak adanya perbedaan yang signifikan antara https://doi. org/10. 33490/b. Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 4. Nomor 1. Januari 2023 Perbedaan Pemberian Oksitosin Intravena danA pemberian oksitosin intramuscular maupun intravena, akan tetapi adanya pengurangan darah yang signifikan pada kejadian perdarahan pasca lahir berat Ou1000 ml dengan pemberian Berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Sangkomkamhang et al . , yang menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan antara pemberian oksitosin intramuskular maupun intravena dalam mencegah perdarahan postpartum. Namun, pada pemberian oksitosin intravena menunjukkan adanya efek samping seperti hipotensi, takikardi. Uterotonika yang paling sering digunakan dalam perdarahan pasca lahir salah satunya adalah oksitosin dan terbukti dapat menurunkan angka kejadian perdarahan pasca Oksitosin merupakan uterotonika yang paling sering digunakan untuk pemeliharaan tonus uterus. Oksitosin diberikan dengan konsentrasi 10-20 IU secara intramuscular maupun 10 IU secara intravena bolus atau dengan dicampurkan dengan 500 ml cairan Secara farmokinetik pemberian oksitosin secara intravena memiliki distribusi yang cepat. Pemberian IV memilliki mula kerja segera setelah disuntikan, sedangkan pemberian IM memiliki mula kerja 2-5 menit (Arnov et al, 2. (Tunyalp et al. , 2. Karena uterotonika yang sering digunakan dalam mencegah kejadian perdarahan postpartum adalah oksitosin dengan beberapa cara pemberian baik secara intravena dan intramuskular maka Tujuan dalam penelitian untuk menganalisis perbedaan intramukular dan intravena pada perdarahan pasca lahir. Oleh karena itu perlunya mengevaluasi perbedaan dari kedua rute pemberian oksitosin dengan dosis yang diberikan serta efek samping yang ditimbulkan. Tabel 1. PICO PICO Keterangan Ibu Pemberian intramuscular dan Intravena Kecepatan penurunan volume darah < 500 cc Penurunan perdarahan pasca lahir yang signifikan antara intramukular dan intravena Mengembangkan protocol peneltian Proses PRISMA Flowchart. PRISMA Flowchart merupakan Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analysis, membantu penulis dalam melaporkan Systematic Reviews (SR) dan Meta-Analysis (MA). PRISMA dinilai tepat digunakan pada systematic review ini dan melihat gambaran untuk melihat perbedaan pemberian oksitosin profilaksis secara intramuskular dan intravena pada perdarahan pasca lahir yang sudah diteliti oleh peneliti sebelumnya (Peters et al. , 2. Konsep PRISMA yang dilakukan sebagai berikut: Pencarian data Sesuai pertanyaan penelitian, artikel yang digunakan pada studi ini didapatkan komprehensif . omprehensive article Artikel tentang perbedaan pemberian oksitosin profilaksis secara intramuskular dan intravena pada perdarahan postpartum, termasuk cara pengambilan sampel dan variabelnya. METODE Penelitian ini adalah Literature Review, merupakan sebuah desain penelitian yang bertujuan untuk menjawab masalah penelitian tertentu serta dirumuskan dalam PICO (Population. Intervention. Comparasion and Outcom. serta menerapkan prosedur baku PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysi. yang meliputi cara pencarian artikel, skrining dan penilaian kualitas bukti penelitian. https://doi. org/10. 33490/b. Pertanyaan penelitian berdasarkan prioritas Identifikasi merupakan pertanyaan yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan review. Penelitian ini akan menjawab pertanyaan AuBagaimana oksitosin profilaksis secara intramukular dan intravena dengan kejadian perdarahan postpartum?Ay. Acuan memformulasikan pertanyaan penelitian dapat menggunakan PICO (Halas et al. Jurnal Kebidanan Malakbi Perbedaan Pemberian Oksitosin Intravena danA Volume 4. Nomor 1. Januari 2023 Metode pencarian artikel yang diterbitkan pada periode tahun 20152021 dan menggunakan tiga database elektronik dari PubMed. ScienceDirect dan google Strategi mendapatkan jurnal menggunakan advance search postpartum hemorrhage hemorrhage AND vaginal birth AND Intramuscular AND Intravenous oxytocin. Pemilihan artikel Skrining data dilakukan melalui aplikasi Mendeley Dekstop dan Mendeley Web Importer. Aplikasi tersebut dapat melakukan rekapitulasi artikel dan memudahkan dalam Artikel duplikat dapat dengan mudah ditemukan dan dihilangkan. Selanjutnya, dalam aplikasi ini peneliti akan menskrining artikel yang tidak dapat digunakan dan dihapus. Artikel yang tersisa akan dibuka untuk melihat judul yang terkait dengan pemberian oksitosin profilaksis intramuskular dengan intravena terhadap kejadian perdarahan pasca lahir dan melihat abstrak untuk mengetahui tujuan Setelah didapat persamaan tujuan, dicari pula metode penelitian yang sama agar dapat dianalisis. Tahap akhir skrining yaitu memastikan artikel dapat diakses untuk melihat artikel secara keseluruhan dan dinilai kualitas Pemilihan artikel berdasarkan kriteria inklusi merupakan dasar artikel dipertimbangkan, memberikan batasan untuk peninjauan, harus ada kesesuaian https://doi. org/10. 33490/b. yang jelas antara judul, tujuan, pertanyaan penelitian (Peters et al. Proses pemilihan artikel sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi Kriteria inklusi . Artikel yang diterbitkan pada tahun . Metode kuantitatif dengan desain penelitian Cohort. RCT, doubleblind, artikel terindeks scopus Q1. Q2. Q3, dan Q4. Kriteria eksklusi . Artikel review/systematic review/systematic review/scoping review. Artikel terpublikasi tanpa melalui peer review/grey literature seperti skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian publikasi yang diterbitkan oleh perguruan tinggi/perpustakaan, naskah brosu. Buku Pencarian pada database, scanning, dan screening artikel dilakukan secara mandiri oleh peneliti, hasil yang didapatkan dari PRISMA sebanyak 10 artikel yang akan direview,dengan tahap-tahap sebagai Critical Appraisal Peneliti melakukan pengkajian dengan melihat kualitas studi . ritical appraisa. pada artikel yang telah dieliminasi dari kriteria inklusi. Pengkajian kualitas studi menggunakan Critical Appraisal Skills Program (CASP) (Tricco et al. , 2. Critical appraisal digunakan menilai kualitas 10 artikel yang sesuai dengan tujuan Jurnal Kebidanan Malakbi Perbedaan Pemberian Oksitosin Intravena danA Volume 4. Nomor 1. Januari 2023 Gambar 1. PRISMA Flowchart HASIL Temuan artikel Perbandingan antara pemberian oksitosin intramuskular dan intravena Artikel yang mendukung adanya perbandingan antara oksitosin intramuskular dan intravena sebanyak 7 artikel yang membandingkan 2 rute pemberian oksitosin. Dalam hal ini Kehilangan perdarahan pasca lahir secara bertahap lebih signifikan pada pemberian infus IV dan bolus IV dibandingkan pada pemberian injeksi IM. Kehilangan perdarahan pasca lahir rata-rata adalah 5,9% pada pemberian infus IV dan 11,1% pada pemberian bolus IV. Akan tetapi hasil menunjukkan resiko terjadinya kehilangan darah pasca lahir > 500 ml pada wanita dengan diberikan oksitosin melalui infus IV lebih efektif dibandingkan menerima oksitosin injeksi IM yaitu 1,5% dengan 0,8%. Hasil ini tidak menemukan adanya masalah efek samping yang buruk pada salah satu rute pemberian oksitosin termasuk secara bolus IV (Charles et al. Rata-rata temuan didapatkan bahwa lebih dari separuh sampel persalinan dengan https://doi. org/10. 33490/b. induksi, hasil temuan dalam penelitian ini merekomendasikan rute intravena. Hasil ini intramuskular dianggap kurang efektif, dibandingkan dengan pemberian secara Pada insiden perdarahan pasca lahir yang ringan lebih rendah pada intramuskular, tetapi perbedaannya tidak teralu signifikan . erbedaan mulak 4,4%. OR 0,. Oksitosin dengan pemberian secara intravena pada kala i persalinan meminimalisir kejadian perdarahan pasca lahir yang berat, seta mengurangi kebutuhan transfusi dan pemberian uterotonika lainnya dibandingkan dengan pemberian oksitosin secara intramuskular (Adnan et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian perdarahan pasca lahir pada ibu hamil yang melahirkan pervaginam. Studi penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara oksitosin intravena dan intramuskular dalam mencegah pengurangan yang diamati pada 5 kasus kelompok intravena, dibandingkan 11 kasus kelompok intramuskular. Akan tetapi Jurnal Kebidanan Malakbi Perbedaan Pemberian Oksitosin Intravena danA Volume 4. Nomor 1. Januari 2023 oksitosin pemberian intravena menunjukkan jumlah kehilangan darah pasca lahir yang lebih sedikit. Pada penelitian ini tidak menemukan adnaya efek samping pasca pemberian (Sangkomkamhang Kruangpatee, 2. Studi penelitian ini menunjukkan tidak adanya penurunan secara signifikan dalam kejadian perdarahan pasca Ketika intramuskular dan intravena. Respons uterus terhadap pemberian oksitosin intravena hampir sama ketika dibandikan dengan intramuskular, yaitu membutuhkan waktu sekitar 5-7 menit untuk bekerja. Ketika diberikan secara intravena terjadi konsentrasi yang tinggi setelah 30 menit dan memerlukan tindakan segara. Sebaliknya pemberian intramuskular menghasilkan onset kerja yang lebih lambat tetapi menghasilkan efek klinis yang bertahan lebih lama (Dagdeviren et al. Hasil analisis menemukan bahwa pemberian oksitosin secara IV saja dibandingkan IM terjadi penurunan sebesar 76% pada tingkat PPH. Pemberian oksitosin melalui infus IV akan menghasilkan tingkat perdarahan pasca lahir 50% lebih rendah daripada pemberian intramuskular (Durocher et al. , 2. Studi penelitian didapatkan bahwa pada dua kelompok terjadinya peningkatan resiko kehilangan darah yang berlebihan pada kelompok intramuskular dibandingkan dengan kelompoki intravena, meskipun perbedaannya secara statistik tidak Meskipun secara statistik tidak signifikan akan tetapi tindakan episiotomi, adanya laserasi pada serviks,dan robekan perineum yang diamai serupa pada dua kelompok (Biradar et al. , 2. signifikan berdasarkan nilai statistic . istolik=0,236, diastolic=0,. (Charles et , 2. Pada penelitian ini terdapat 2 kelompok yaitu pemberian secara intravena dan intramuskular menyatakan bahwa tidak adanya peningkatan insiden efek samping pemberian oksitosin pada kelompok intravena dan intramuscular. Namun adapun efek samping yang dominan adalah hipotensi dan takikardi, dan tidak terdapat reaksi obat yang berat terjadi. Pada pemberian oksitosin secara intravena harus lebih berhati-hati pada ibu dengan kondisi kardiovaskuler yang tidak stabil seperti hipovelemia, syok, atau penyakit jantung (Adnan et al. , 2. Pada studi penelitian ini tidak temukan adanya efek samping atau masalah pada denyut jantung, tekanan darah sistolik dan diastolik (Biradar AM et al, 2. PEMBAHASAN Profilaksis okksitosin menjadi salah satu pilihan yang tepat diberikan pada pasien postpartum yang mengalami perdarahan pasca lahir dan efek samping yang ditimbulkan rendah. Oleh karena itu studi penelitian ini ingin mengetahui efektifitas pemberian oksitosin profilaksasi baik secara intramuskular maupun Berdasarkan hasil review yang telah dilakukan bahwa secara signifikan pemberian oksitosin IV dapat menurunkan kejadian perdarahan postpartum dibandingkan pemberian oksitosin IM, pemberian oksitosin secara IV postpartum yang berat dan mencegah pemberian transfusi darah dibandingkan pemberian oksitosin IM pada kala i persalinan dalam mencegah perdarahan postpartum, akan tetapi dalam perubahan kadar hemoglobin tidak ada perbedaan yang secara signifikan. Efek samping yang ditimbulkan dalam pemberian intravena masih dalam batasan ringan sebanding dengan pemberian secara intramuskular. Hal ini sejalan yang disampaikan oleh (Adnan et al. , 2. bahwa pemberian oksitosin intramuskular dianggap kurang efektif, dibandingkan dengan pemberian oksitosin Pada insiden perdarahan pasca lahir yang ringan lebih rendah pada kelompok intravena dibandingkan intramuskular, tetapi perbedaannya tidak teralu signifikan , pemberian oksitosin secara intravena pada kala i persalinan meminimalisir kejadian perdarahan Efek samping yang ditimbulkan Pada ketiga intervensi tersebut didapatkan hasil bahwa tidak adanya efek samping dalam perawatan intesif yang telah dilakukan syok, atau kematian. Penelitian ini melakukan pengukuran tekadanan darah 1 jam setelah melahirkan didapatkan pada pemberian injeksi IM . ata-rata sistolik = 113, rata-rata diastolic = . , pemberian infus IV . ata-rata sistolik =113, rata-rata diastolic = . , sehingga pada ketiga kelompok tidak ada perbedaansecara https://doi. org/10. 33490/b. Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 4. Nomor 1. Januari 2023 Perbedaan Pemberian Oksitosin Intravena danA pasca lahir yang berat, seta mengurangi kebutuhan transfusi dan pemberian uterotonika lainnya dibandingkan dengan pemberian oksitosin secara intramuskular. Berbanding terbalik dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Sangkomkamhang & Kruangpatee, 2. mengatakan bahw tidak ada perbedaan yang signifikan antara oksitosin intravena dan intramuskular dalam mencegah perdarahan pasca lahir meskipun pengurangan yang diamati pada 5 kasus kelompok intravena, dibandingkan 11 kasus kelompok intramuskular. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dagdeviren et al. , 2. tidak adanya penurunan secara signifikan dalam kejadian perdarahan pasca lahir Ketika diberikan oksitosin intramuskular dan intravena. Ketika diberikan secara intravena terjadi konsentrasi yang tinggi setelah 30 menit dan memerlukan tindakan segara. Hal ini juga sejalan dengan ulasan dari (Oladapo et al. , 2. menyatakan bahwa pemberian oksitosin tidak dapat mempengaruhi kemungkinan dikarennakan kurangnya sampel yang digunakan dalam penelitian tersebut. Sehingga didapatkan bahwa oksitosin adalah agen yang paling banyak digunakan dan direkomendasikan oleh organisasi Kesehatan internasional, akan tetapi hingga saat ini belum ada bukti yang jelas mengenai rute pemberian BMJ, https://doi. org/10. 1136/bmj. Arnov. Bisri. , & Suwarman. Perbandingan Efek Metilergometrin Maleat antara Pemberian Intravena dan Intramuskular yang Dikombinasikan dengan Drip Oksitosin terhadap Kontraksi Uterus dan Tekanan Darah pada Seksio Sesarea Elektif dengan Anestesi Umum Comparison Between Methylergometri. 78Ae85. https://macc. org/index. php/myjournal/article/view/152 Baron. , & Kenny. The moderatorAemediator variable distinction in social psychological research: Conceptual, strategic, and statistical considerations. Journal of Personality and Social Psychology, 51. , 1173Ae1182. https://doi. org/10. 1037/00223514. Biradar. Yaliwal. Kori. Mathapati. Shiragur. , & Mudanur. Randomised Control Trial of 3 IU Intravenous Oxytocin Bolus With 7 IU Oxytocin Infusion Versus 10 IU Intramuscular Oxytocin in the Third Stage of Labour in the Prevention of Postpartum Hemorrhage. International Journal of WomenAos Health and Reproduction Sciences, 9. , 171Ae175. https://doi. org/10. 15296/ijwhr. Charles. Anger. Dabash. Darwish. Ramadan. Mansy. Salem. Dzuba. Byrne. Breebaart. & Winikoff. Intramuscular injection, intravenous infusion, and intravenous bolus of oxytocin in the third stage of labor for prevention of postpartum hemorrhage: a three-arm randomized control trial. BMC Pregnancy and Childbirth, 19. , https://doi. org/10. 1186/s12884-019-21812 Dagdeviren. Cengiz. Heydarova. Caypinar. Kanawati. Guven. & Ekin. Intramuscular versus intravenous prophylactic oxytocin for postpartum hemorrhage after vaginal delivery: a randomized controlled study. Archives of Gynecology and Obstetrics, 294. , 911Ae916. https://doi. org/10. 1007/s00404-016-40607 KESIMPULAN DAN SARAN Hasil literature review dalam penelitian ini didapatkan bahwa pemberian oksitosin intravena lebih efektif dalam mencegah perdarahan postpartum pada kala i tahap persalinan dibandingkan pemberian secara Efek samping yang ditimbulkan pada dua kelompok pemberian intravena dan intramuskular tidak berbeda secara signifikan dan masih dalam batas ringan. Pemberian postpartum pada kala i persalinan sudah menjadi prosedur dan rekomendasi organisasi Kesehatan. DAFTAR PUSTAKA