Vol 2 No. 5 September 2025 P-ISSN : 3047-2792 E-ISSN : 3047-2032. Hal 105 - 117 JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jimat Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/4jfrxk87 PENGARUH EPS. ROA. FIRM SIZE. DAN DER TERHADAP RETURN SAHAM Tasya Fauziah Bahrudin a*. Dicky Arisudhana b a Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi, 2132520038@student. Universitas Budi Luhur Jakarta. Indonesia b Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi, arisudhana@budiluhur. Universitas Budi Luhur Jakarta. Indonesia Korespondensi ABSTRACT Stock return is a key indicator for investors to evaluate the level of gain from stock investments. The return value can be influenced by various internal company factors, including financial ratios that reflect corporate performance. This study aims to analyze the effect of Earning Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Firm Size, and Debt to Equity Ratio (DER) on stock returns The research focuses on companies in the food and beverages sector listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2021Ae2024. The research method used is a quantitative approach using multiple linear regression analysis processed using SPSS software version 19. The sample was selected using purposive sampling, from 101 companiesin the population, 39 company samples were obtained that met the criteria. The results indicate that partially. EPS. ROA, and firm size do not have a significant effect on stock returns. Whereas DER do have a significant effect on stock returns partially. Keywords: EPS. ROA. Firm Size. DER. Stock Return. Abstrak Return saham merupakan indikator penting bagi investor dalam menilai tingkat keuntungan atas investasi saham yang dilakukan. Nilai return dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal perusahaan, termasuk rasio keuangan yang mencerminkan kinerja perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Earning Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Firm Size, dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap return saham. Objek penelitian ini adalah perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2021Ae2024. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda yang diolah menggunakan software SPSS versi 19. Sampel dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik purposive sampling, dari 101 perusahaan dalam populasi diperoleh 39 sampel perusahaan yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial. EPS. ROA, dan firm size tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan DER berpengaruh signifikan terhadap return saham secara parsial. Kata Kunci: EPS. ROA. Firm Size. DER. Return Saham. PENDAHULUAN Pasar modal memberikan fungsi penting dalam perekonomian sebagai sarana penghimpunan finansial bagi perusahaan, pemerintah, dan lembaga lainnya melalui penerbitan instrumen keuangan (Tandelilin, 2. Melalui pasar modal investor dapat menanamkan modal atau dana mereka pada beragam jenis Di pasar modal ada beragam jenis instrumen investasi yang dipilih. Saham menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diminati karena potensi return yang tinggi, meskipun memiliki risiko yang sebanding. Return saham sendiri merupakan hasil yang diperoleh investor dari selisih harga jual dan harga beli saham, baik dalam bentuk capital gain maupun capital loss (Jogiyanto, 2. Received June 20, 2025. Revised July 19 , 2025. Accepted August 16, 2025. Online Availabe August 21. Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 Dalam perspektif analisis fundamental, ada berbagai faktor internal yang tercermin dari rasio keuangan perusahaan dapat memengaruhi return saham. Rasio tersebut antara lain EPS. ROA, firm size, dan DER. Berdasarkan teori sinyal . ignalling theor. Prospek masa depan perusahaan dapat dilihat melalui rasio keuangan tersebut. EPS yang tinggi memberi sinyal positif terkait kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan per saham. ROA mencerminkan efisiensi penggunaan aset untuk memperoleh laba (Hanafi, 2. Firm size menunjukkan ukuran besar kecilnya suatu perusahaan yang dapat memengaruhi persepsi stabilitas dan daya saing. Sementara DER menunjukkan struktur permodalan yang dapat memengaruhi risiko keuangan. Objek dari penelitian yang akan dilakukan berfokus pada perusahaan yang tergolong dalam sektor food and Perusahaan dalam sektor food and beverages merupakan perusahaan yang mengelola bahan mentah hingga menjadi produk akhir yang siap dikonsumsi. Perusahaan sektor food and beverages, merupakan salah satu sektor yang cukup diminati investor, bahkan di tengah kondisi ekonomi yang Gambar 1. 1 Grafik rata-rata return saham Sumber : w. id, diolah penulis . Grafik rata-rata return saham sesuai Gambar 1. 1 menunjukkan adanya fenomena fluktuasi return saham pada perusahaan sektor food and beverages periode 2021Ae2024. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian pengaruh faktor-faktor seperti EPS. ROA, firm size, dan DER terhadap return saham. Selain itu, hasil penelitian terdahulu masih menunjukkan perbedaan temuan, misalnya Almira dan Wiagustini . menemukan EPS dan ROA berpengaruh signifikan, sedangkan Fradana dan Widodo . menemukan sebaliknya. Penelitian lainnya oleh Arramdhani dan Cahyono . menyatakan ROA dan DER berpengaruh signifikan. Sementara itu, hasil penelitian oleh Worotikan et al. menunjukkan bahwa ROA dan DER tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Penelitian lainnya oleh Maramis et al. memberikan hasil bahwa firm size tidak berpengaruh signifikan pada return saham, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Chandra dan Darmayanti . yang menyatakan bahwa firm size tidak berpengaruh signifikan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Simamora et al. menemukan bahwa firm size berpengaruh signifikan. Dari penelitian-penelitian tersebut, terlihat bahwa hasilnya masih bervariasi. Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa hubungan antar variabel belum konsisten dan perlu dikaji kembali, khususnya pada sektor food and beverages yang memiliki karakteristik defensif di tengah fluktuasi ekonomi. Dengan mempertimbangkan fenomena return saham pada perusahaan food and baverages periode 20212024 dan adanya research gap pada hasil-hasil penelitian sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah . Apakah EPS berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024? . Apakah ROA berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 20212024? . Apakah firm size berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024? . Apakah DER berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024?. Dari rumusan masalah tersebut yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah . Menganalisis pengaruh EPS terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024. Menganalisis pengaruh ROA terhadap return saham pada perusahaan sektor food JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. September 2025, pp. 105 - 117 Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024. Menganalisis pengaruh firm size terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024. Menganalisih pengaruh DER terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024. Berikut adalah hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini: H1: EPS diduga memiliki pengaruh positif terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 20212024. H2: ROA diduga memiliki pengaruh positif terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024. H3: Firm size diduga memiliki pengaruh positif terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 20212024. H4: DER diduga memiliki pengaruh negatif terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021-2024. TINJAUAN PUSTAKA Teori Sinyal (Signaling Theor. Menurut teori sinyal, manajemen perusahaan memiliki informasi yang lebih lengkap dan komprehensif tentang kondisi dan harapan perusahaan daripada pihak luar. Manajemen perusahaan dapat memberikan informasi tersebut melalui sinyal kepada investor, salah satunya laporan keuangan (Spence, 1. Sinyal positif seperti peningkatan EPS. ROA, firm size yang besar, atau rasio DER yang terkendali dapat meningkatkan persepsi positif investor, mendorong permintaan saham, dan menaikkan return saham. Sebaliknya, sinyal negatif seperti penurunan EPS. ROA, firm size, atau DER yang terlalu tinggi dapat menurunkan minat investor dan harga saham. Return Saham Return saham merupakan jumlah pengembalian yang didapat investor sebagai hasil dari investasi saham yang mereka lakukan, baik berupa capital gain maupun dividen (Jogiyanto, 2. Fahmi . , juga mengemukakan bahwa return saham adalah uang imbal hasil yang diterima oleh perusahaan, individu, maupun lembaga sebagai konsekuensi dari keputusan investasi yang mereka ambil. Return saham diukur berdasarkan perubahan harga saham selama periode pengamatan. Return saham dapat dihitung dari harga saham tahun sekarang dikurangi dengan harga saham tahun sebelumnya, lalu membaginya dengan harga saham tahun sebelumnya. Berikut ini adalah rumus perhitungan return saham. EPS EPS merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah lembar saham yang beredar. Semakin tinggi nilai EPS, maka persepsi investor terhadap prospek keberhasilan perusahaan di masa mendatang juga akan semakin positif. Hal ini mendorong investor menjadi lebih percaya untuk berinvestasi, karena potensi return yang diharapkan pun cenderung lebih tinggi . Investor cenderung menggunakan EPS sebagai indikator awal dalam menilai kinerja suatu perusahaan, sehingga variabel ini dianggap relevan untuk menjelaskan pergerakan return saham pada perusahaan sektor food and beverages. Berikut ini adalah rumus perhitungan EPS. ROA ROA mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih dari total aset yang dimiliki (Hanafi, 2. Semakin tinggi nilai ROA, maka semakin baik kinerja perusahaan dalam mengelola aset untuk menciptakan keuntungan, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan investor untuk berinvestasi dan berdampak positif terhadap return saham. Bagi investor. ROA menjadi salah satu indikator penting dalam mengevaluasi kualitas manajemen dan efisiensi operasional perusahaan. Dalam konteks perusahaan sektor food and beverages, efisiensi penggunaan aset sangat penting karena sektor ini Pengaruh EPS. ROA. Firm Size, dan DER Terhadap Return Saham (Tasya Fauziah Bahrudi. Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 beroperasi secara berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga pencapaian profitabilitas yang optimal menjadi daya tarik tersendiri dalam penilaian return saham. Berikut ini adalah rumus perhitungan ROA. Firm Size Firm Size atau ukuran perusahaan dapat diukur melalui total aset atau aktiva, total penjualan, atau kapitalisasi pasar. Perusahaan yang memiliki ukuran besar biasanya dianggap lebih stabil secara finansial dan memiliki kemampuan bertahan di tengah kondisi ekonomi yang berfluktuasi. Semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka semakin besar pula kemampuan perusahaan tersebut dalam membiayai kebutuhan pendanaannya, termasuk dalam memanfaatkan peluang investasi di mendatang. Menurut Asriyanti . , semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka kualitas keuntungan yang dihasilkan dari pemanfaatan aset cenderung lebih tinggi. Oleh karena itu, peningkatan ukuran perusahaan menjadi hal yang penting untuk menarik minat investor untuk berinvestasi. Berikut ini adalah rumus perhitungan firm size. DER DER termasuk dalam rasio solvabilitas, yaitu rasio yang menggambarkan perbandingan antara utang dan sumber pendanaan perusahaan. Rasio ini menunjukkan sejauh mana perusahaan mampu memenuhi kewajibannya dengan menggunakan modal sendiri dalam upaya membayar utang. Di sektor food and beverages, strategi pembiayaan sangat berperan dalam mendukung operasional jangka panjang. Oleh sebab itu, analisis terhadap DER menjadi penting untuk memahami bagaimana struktur permodalan dapat berkontribusi terhadap pembentukan return saham. Berikut ini adalah rumus perhitungan DER. Kerangka Teoritis Kerangka teoritis pada penelitian ini disusun untuk menjelaskan keterkaitan antara variabel independen, yaitu EPS. ROA, firm size, dan DER, terhadap variabel dependen, yaitu return saham. Melalui kerangka teoritis, peneliti dapat merumuskan dasar pemikiran yang logis dan sistematis mengenai fenomena yang diteliti berdasarkan teori-teori yang telah ada serta hasil penelitian terdahulu. Hubungan antar variabel tersebut disajikan pada Gambar 2. 1 dibawah ini: Gambar 2. 1 Kerangka Teoritis Sumber : Disusun oleh penulis . METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif asosiatif. Populasi penelitian meliputi seluruh perusahaan sektor food and beverages yang tercatat di Bursa Efek Indonesia JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. September 2025, pp. 105 - 117 Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 (BEI) selama periode pengamatan yaitu 2021Ae2024. Sampel ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dari 101 perusahaan dalam populasi terpilih 39 sampel perusahaan yang memenuhi kriteria yaitu perusahaan terdaftar secara berturut-turut dari tahun 2021-2024, mempublikasikan laporan keuangan tahunan secara lengkap, dan menyajikan data harga saham yang dibutuhkan untuk menghitung return saham. Data yang digunakan bersifat data sekunder yang diperoleh melalui laporan keuangan tahunan dan harga saham yang diakses dari situs resmi Bursa Efek Indonesia . HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Statistik deskriptif digunakan untuk memberi ikhtisar mengenai karakteristik data yang digunakan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, statistik deskriptif menyajikan informasi dasar mengenai variabelvariabel penelitian, yaitu return saham. EPS. ROA, firm size, dan DER. Informasi yang ditampilkan mencakup nilai minimum . , maximum . , mean . ata-rat. , dan std. tandar devias. dari seluruh variabel penelitian. Tabel 4. 1 Hasil Uji Statistik Deskriptif Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan Tabel 4. 1 diatas, diketahui bahwa jumlah keseluruhan data dalam penelitian ini terdiri dari 156 Hasil Statistik Deskriptif dari masing-masing variabel penelitian adalah sebagai berikut: Variabel EPS memiliki nilai minimum sebesar -6. 48 dan nilai maksimum sebesar 6. Nilai mean 8504 dan nilai standar deviasi sebesar 2. Variabel ROA memiliki nilai minimum sebesar -8. 98 dan nilai maksimum sebesar -1. Nilai mean 8026 dan nilai standar deviasi sebesar 1. Variabel firm size memiliki nilai minimum sebesar 25. 56 dan nilai maksimum sebesar 32. Nilai mean sebesar 29. 3845 dan nilai standar deviasi sebesar 1. Variabel DER memiliki nilai minimum sebesar -2. 63 dan nilai maksimum sebesar 3. Nilai mean 4459 dan standar deviasi 0. Variabel return saham memiliki nilai minimum sebesar -5. 52 dan nilai maksimum sebesar 2. Nilai mean sebesar -1. 8025 dan nilai standar deviasi sebesar 1. Uji Asusmsi Klasik Uji asumsi klasik merupakan tahap awal yang penting dalam analisis regresi linear berganda guna memastikan bahwa data yang digunakan telah memenuhi syarat dasar dalam model regresi linier, sehingga hasil penelitian menjadi valid, tidak bias . , efisien . , dan konsisten . Adapun uji asumsi klasik dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. 1 Uji Normalitas Uji normalitas adalah uji yang bertujuan untuk mengidentifikasi apakah pola data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak (Ghozali, 2. Distribusi normal merupakan salah satu syarat penting dalam regresi linear klasik. Suatu data dapat dikatakan berdistribusi normal apabila nilai residual dari model regresi menyebar secara simetris di sekitar nilai nol. Jika hasil pengujian menunjukkan data tidak normal, maka perlu dilakukan penyesuaian atau transformasi data. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov (K-S). Ketentuan uji KS sebagai berikut: Jika nilai sig. lebih dari (>) 0. 05, maka data dikatakan berdistribusi normal. Jika nilai sig. kurang dari (<) 0. 05, maka data dianggap tidak berdistribusi normal. Pengaruh EPS. ROA. Firm Size, dan DER Terhadap Return Saham (Tasya Fauziah Bahrudi. Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 Tabel 4. 2 Hasil Uji Normalitas Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan Tabel 4. 2 diatas, hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai Signifikan (Sig. ) dari Unstandardized Residual adalah sebesar . Nilai ini lebih besar dari batas signifikansi 0. Maka dapat dikatakan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini terdistribusi normal. 2 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas adalah uji yang dilakukan untuk mendeteksi apakah ada tidaknya hubungan linear antar variabel independen pada suatau model regresi. Apabila antar variabel independen memiliki korelasi tinggi, maka dapat menyebabkan hasil regresi menjadi bias. Model regresi yang baik seharusnya bebas dari Menurut Ghozali . , pengujian ini dilakukan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance. Ketentuan dalam pengambilan keputusan uji multikolinearitas adalah sebagai berikut: Apabila nilai Tolerance lebih dari (>) 0. 10 dan VIF kurang dari (<) 10, maka model dianggap tidak mengalami atau bebas dari multikolinearitas. Apabila nilai Tolerance kurang dari (<) 0. 10 dan VIF lebih dari (>) 10, maka model dinyatakan mengandung multikolinearitas. Tabel 4. 3 Hasil Uji Multikolinearitas Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan Tabel 4. 3 diatas, hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai Tolerance dari setiap variabel independen yaitu EPS. ROA, firm size dan DER masing-masing adalah sebesar . 670, . 616, . Seluruh nilai tersebut berada di atas batas minimum yang umum digunakan, yaitu 0. Selain itu, nilai VIF dari keempat variabel juga masih berada di bawah angka 10. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi asumsi tidak adanya multikolinearitas, sehingga layak untuk digunakan. 3 Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas adalah uji yang dilakukan untuk memastikan apakah varians dari residual untuk semua pengamatan dalam model regresi adalah konstan. Jika varians residual tidak konstan, maka terjadi heteroskedastisitas yang dapat memengaruhi efisiensi estimasi (Ghozali, 2. Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji Glejser. Apabilah nilai sig. pada uji Glejser lebih dari (>) 0. 05 maka data tidak mengalami heteroskedastisitas. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. September 2025, pp. 105 - 117 Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 Tabel 4. 4 Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan output SPSS pada Tabel 4. 4 Hasil Uji Heteroskedastisitas di atas, terlihat bahwa nilai signifikansi (Sig. ) dari seluruh variabel independen, yaitu EPS (. ROA (. Firm Size . , dan DER (. , memiliki nilai lebih besar (<) dari batas nilai sig. Dengan demikian, hasil uji Glejser ini menyatakan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak mengandung gejala heteroskedastisitas dan model regresi layak digunakan. 4 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi adalah uji yang memiliki tujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat hubungan antara residual pada periode sekarang . dengan residual pada periode sebelumnya . dalam suatu model regresi linear. Apabila ditemukan hubungan tersebut, maka kondisi tersebut disebut adanya autokorelasi (Ghozali, 2. Autokorelasi dapat diuji menggunakan uji Durbin-Watson (DW). Dalam uji DW, kriteria pengujian ditentukan berdasarkan nilai DW yang diperoleh dan dibandingkan dengan nilai batas bawah . L) dan batas atas . U) dari tabel DW, tergantung pada jumlah sampel . dan jumlah variabel independen . Nilai Durbin-Watson yang ideal berkisar antara 1. 5 hingga 2. Tabel 4. 5 Hasil Uji Autokorelasi Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan output SPSS pada Tabel 4. 5 Hasil Uji Autokorelasi diatas, dapat diketahui nilai DW dari model regresi ini adalah 1. Sementara itu, nilai batas bawah . L) dan batas atas . U) pada tingkat 05 yang diperoleh dari Tabel Durbin-Watson, dengan jumlah sampel . = 156 dan jumlah variabel independen . = 4, masing-masing adalah 1. 6860 dan 1. Nilai DW 1. 960 lebih besar (>) dari batas atas . U) yaitu 1. Nilai DW 1. 960 lebih kecil (<) dari 4 dikurangi batas atas . U) yaitu 2. Hasil autokorelasi dengan uji Durbin-Watson digambarkan sebagai berikut: dU < DW < 4-dU = 1. 7911 < 1. 960 < 2. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak mengindikasikan adanya autokorelasi sehingga model regresi layak digunakan. Pengujian Hipotesis 1 Uji Kelayakan Model (Uji F) Menurut Ghozali . Uji F merupakan metode untuk menguji sejauh mana pengaruh seluruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen. Uji F digunakan untuk mengevaluasi kelayakan model regresi dalam suatu penelitian. Keputusan pengujian ini diambil dengan membandingkan nilai F hasil perhitungan (F hitun. dengan nilai F kritis (F tabe. pada tingkat signifikansi 5%. Hasil dari pengujian ini dapat ditemukan pada output SPSS, tepatnya pada bagian tabel ANOVA. Pengaruh EPS. ROA. Firm Size, dan DER Terhadap Return Saham (Tasya Fauziah Bahrudi. Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 Tabel 4. 6 Hasil Uji Kelayakan Model (Uji F) Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan output pada Tabel 4. 6 diatas, nilai F hitung yang ditunjukkan sebesar 4. 166 sedangkan F tabel pada taraf signifikansi 5% ( = 0. diperoleh F Tabel sebesar 2. Dalam hal ini maka nilai F hitung lebih dari (>) nilai F tabel dan nilai signifikansi 0. 003 lebih kecil (<) dari taraf signifikansi 0. 05 yang artinya secara simultan . ersama-sam. , keempat variabel independen yaitu EPS. ROA, firm size, dan DER memiliki pengaruh terhadap variabel dependen yaitu return saham. Dengan hasil tersebut, dapat disimpulkan model regresi ini terbukti layak digunakan dalam penelitian. 2 Uji Parsial (Uji . Uji t bertujuan untuk menguji pengaruh keempat variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dalam model regresi ini. Dengan kata lain, uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah masingmasing variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen secara individual atau tidak. Menurut Ghozali . Uji t bertujuan untuk menguji signifikansi pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Tabel 4. 7 Hasil Uji Parsial (Uji . Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan Tabel 4. 7 diatas. Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel pada taraf signifikansi 5% ( = 0. dan derajat kebebasan . Dari distribusi t, diperoleh nilai t tabel sebesar 1. Berikut adalah hasil pengujian t secara parsial terhadap masing-masing variabel: Pengujian Koefisien Regresi Variabel EPS (X. terhadap Return Saham (Y) Diperoleh nilai t hitung sebesar -. 673 dan nilai Sig. Nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (-. 673 < 1. , maka EPS tidak berpengaruh terhadap return saham secara parsial. Hal ini juga didukung oleh nilai Sig. 502 > 0. 05, sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Pengujian Koefisien Regresi Variabel ROA (X. terhadap Return Saham (Y) Diperoleh nilai t hitung sebesar -1. 121 dan nilai Sig. Nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (-1. 121 < 1. , maka ROA tidak berpengaruh terhadap return saham secara parsial. Hal ini juga didukung oleh nilai Sig. 264 > 0. 05, sehingga H0 diterima dan H2 ditolak. Pengujian Koefisien Regresi Variabel Firm Size (X. terhadap Return Saham (Y) Diperoleh nilai t hitung sebesar -1. 944 dan nilai Sig. Nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (Oe1. 944 < 1. , maka firm size tidak berpengaruh terhadap return saham secara parsial. Hal ini juga didukung oleh nilai Sig. 054 > 0. 05, sehingga H0 diterima dan H3 ditolak. Pengujian Koefisien Regresi DER (X. terhadap Return Saham (Y) Diperoleh nilai t hitung sebesar 2. 071 dan nilai Sig. Nilai t hitung lebih kecil dari t tabel . 071 > 1. , maka DER berpengaruh terhadap Return Saham secara parsial. Hal ini juga didukung oleh nilai Sig. 040 < 0. 05, sehingga H0 ditolak dan H4 diterima. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. September 2025, pp. 105 - 117 Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 3 Analisis Regresi Linear Berganda Sugiyono . , menjelaskan bahwa regresi linier berganda adalah salah satu metode analisis statistik yang digunakan untuk mengukur hubungan atau keterkaitan antara dua atau lebih dari variabel independen . dengan satu variabel dependen . Metode ini tidak hanya dimanfaatkan untuk melihat apakah terdapat hubungan diantara variabel-variabel tersebut, tetapi juga untuk mengetahui seberapa besarnya pengaruh yang diberikan dari masing-masing variabel. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai identifikasi arah hubungan, baik positif ataupun negatif serta seberapa besar kontribusi setiap variabel independen dalam memengaruhi return saham. Pada penelitian ini analisis regresi linier berganda diterapkan untuk menilai pengaruh lebih dari satu variabel independen terhadap satu variabel dependen. Pada penelitian ini, analisis regresi linier berganda bertujuan untuk mengukur seberapa besar pengaruh dari keempat variabel independen, yaitu EPS. ROA, firm size, dan DER terhadap satu variabel dependen, yaitu return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI selama periode 2021Ae2024. Tabel 4. 8 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Model regresi linier berganda. Berdasarkan output SPSS Tabel 4. 8 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda diatas, diperoleh persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini yaitu: Return Saham = 1. 972 - . 030 EPS - . 125 ROA Ae . 132 Firm Size . 246 DER A Melalui persamaan regresi yang terbentuk, peneliti dapat memberikan hasil interpretasi mengenai arah dan besar pengaruh dari tiap variabel independen yaitu EPS. ROA, firm size, dan DER terhadap variabel dependen yaitu return saham. Berdasarkan persamaan tersebut, dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Konstanta () sebesar 1. 972 artinya jika seluruh variabel independen (EPS. ROA, firm size, dan DER) dianggap konstan atau bernilai nol . , maka nilai return saham diperkirakan sebesar 1. Koefisien EPS sebesar -. 030 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 satuan EPS akan menurunkan return saham sebesar . 030, dengan asumsi variabel lainnya tetap. Namun karena nilainya negatif, maka hubungan antara EPS dan return saham bersifat negatif. Koefisien ROA sebesar -. 125 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 satuan ROA akan menurunkan return saham sebesar . 125, dengan asumsi variabel lainnya tetap. Namun karena nilainya negatif, maka hubungan antara ROA dan return saham bersifat negatif. Koefisien firm size sebesar -. 132 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 satuan firm size akan menurunkan return saham sebesar . 132 dengan asumsi variabel lainnya tetap. Namun karena nilainya negatif, maka hubungan antara firm size dan return saham bersifat negatif. Koefisien DER sebesar . 246 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 satuan ROA akan menaikkan return saham sebesar . 246, dengan asumsi variabel lainnya tetap. Hubungan antara DER dan return saham bersifat positif. Pengaruh EPS. ROA. Firm Size, dan DER Terhadap Return Saham (Tasya Fauziah Bahrudi. Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 4 Uji Koefisien Determinasi (Uji RA) Menurut Ghozali . , koefisien determinasi merupakan salah satu indikator penting dalam analisis regresi guna untuk mengukur dan mengetahui seberapa besar proporsi variabel dependen (Y) dapat dijelaskan oleh variabel independen (X) pada suatu model regresi. Nilai RA berada dalam rentang nol . Apabila nilai RA semakin mendekati angka 1, hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi dari variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai RA semakin mendekati angka nol . , menunjukkan bahwa variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat rendah. Pada praktiknya, nilai Koefisien Determinasi RA dapat dilihat dari output program SPSS pada bagian Model Summary, tepatnya di kolom yang bernama Adjusted R Square. Tabel 4. 9 Hasil Uji Koefisien Determinasi (Uji RA) Sumber: Output SPSS 19, diolah penulis . Berdasarkan output Tabel 4. 9 diatas, nilai Adjusted R Square sebesar . 078 atau 7. Artinya, keempat variabel independen dalam penelitian ini, yaitu EPS. ROA, firm size, dan DER hanya memberikan kontribusi sebesar 7. 8% terhadap perubahan return saham. Sedangkan sisanya, yaitu 92. 2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model ini, yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Nilai Adjusted R Square yang tergolong relatif rendah pada hasil analisis regresi ini memberikan indikasi bahwa kemampuan model regresi dalam menjelaskan variasi atau perubahan yang terjadi pada return saham masih terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah variabel lain di luar keempat variabel independen yang digunakan dalam model penelitian ini, yang kemungkinan besar juga memiliki pengaruh terhadap return saham, namun belum dimasukkan atau diperhitungkan dalam analisis regresi yang dilakukan. Pembahasan Hasil Penelitian 1 Pengaruh EPS terhadap return saham Hasil uji parsial menunjukkan bahwa variabel EPS memiliki koefisien regresi sebesar -. 030 dengan nilai signifikansi sebesar . Nilai signifikansi tersebut lebih besar (>) dari batas signifikansi yaitu 0. Maka dapat disimpulkan bahwa EPS berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham pada periode penelitian. Artinya, setiap peningkatan nilai EPS justru cenderung menurunkan return saham, namun secara statistik pengaruhnya tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan. Hasil ini tidak sejalan dengan teori sinyal yang menyatakan bahwa EPS yang tinggi seharusnya memberikan sinyal positif kepada investor mengenai kinerja perusahaan yang baik dan prospek pertumbuhan di masa depan. Dalam teori ini, semakin besar EPS, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan membagikan dividen atau menunjukkan efisiensi laba, sehingga return saham seharusnya Temuan ini juga berbeda dengan hasil penelitian oleh Almira dan Wiagustini . yang menyatakan bahwa EPS berpengaruh postif signifikan. Begitupun dengan penelitian oleh Saraswati et al. yang juga menyatakan bahwa EPS berpengaruh postif signifikan. Namun hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Fradana dan Widodo . yang menunjukkan bahwa EPS memiliki pengaruh negatif terhadap return saham. Perbedaan hasil tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan periode waktu penelitian, di mana dinamika ekonomi dan kondisi pasar pada tahun 2021Ae2024, termasuk dampak lanjutan dari pandemi COVID-19 serta fluktuasi harga bahan baku dan daya beli masyarakat, dapat memengaruhi kinerja keuangan dan persepsi investor secara berbeda dibandingkan periode sebelumnya. 2 Pengaruh ROA terhadap return saham Berdasarkan hasil uji t parsial, variabel ROA memiliki koefisien regresi sebesar -. 125 dengan nilai signifikansi sebesar . Nilai signifikansi tersebut melebihi batas signifikansi yaitu 0. Maka dapat disimpulkan bahwa ROA berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham pada periode Dengan kata lain, peningkatan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki justru diikuti dengan penurunan return saham, meskipun pengaruh tersebut secara statistik tidak cukup kuat. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. September 2025, pp. 105 - 117 Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 Secara teoritis, hasil ini tidak sejalan dengan teori sinyal, di mana perusahaan yang memiliki ROA tinggi dianggap mampu memaksimalkan penggunaan asetnya untuk menghasilkan laba, sehingga memberikan sinyal positif mengenai kinerja perusahaan. Teori ini menyatakan bahwa semakin tinggi nilai ROA, maka kepercayaan investor terhadap perusahaan akan meningkat, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan return saham. Hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian oleh Chandra dan Darmayanti . dan penelitian oleh Prastyawan et al. yang menemukan bahwa ROA berpengaruh positif signifikan. Penelitian lain oleh Arramdhani dan Cahyono . yang juga menyatakan bahwa ROA berpengaruh positif signifikan terhadap return saham. Perbedaan hasil ini, dapat dipengaruhi oleh perbedaan periode waktu pengamatan dan perbedaan strategi bisnis antar perusahaan sampel, termasuk pengelolaan aset dan efisiensi operasional, sehingga dapat menyebabkan variasi dalam tingkat profitabilitas yang akhirnya tidak tercermin secara langsung dalam pergerakan return saham. 3 Pengaruh firm size terhadap return saham Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel firm size memiliki koefisien regresi sebesar -. 132 dengan nilai signifikansi sebesar . Nilai signifikansi tersebut melebihi batas signifikansi yaitu 0. Maka dapat disimpulkan bahwa firm size berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham selama periode penelitian. Artinya, semakin besar ukuran perusahaan, maka cenderung terjadi penurunan return saham, meskipun secara statistik pengaruh tersebut masih berada pada ambang batas signifikansi. Hasil ini tidak sepenuhnya sejalan dengan teori sinyal, yang menjelaskan bahwa perusahaan dengan ukuran besar umumnya memiliki posisi pasar yang kuat, akses pendanaan yang lebih luas, serta reputasi yang baik di mata investor. Oleh karena itu, perusahaan besar seharusnya mampu memberikan kepercayaan lebih kepada investor dan menghasilkan return yang lebih stabil atau bahkan lebih tinggi. Hasil dari temuan ini juga berbeda dengan penelitian oleh Simamora et al. yang menunjukkan hasil bahwa firm size memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Namun, hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Maramis et al. yang menyatakan bahwa firm size memiliki pengaruh negatif. Perbedaan hasil ini, dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah komposisi perusahaan dalam sampel, di mana perusahaan besar belum tentu memiliki kinerja saham yang menarik jika tidak diiringi oleh inovasi bisnis dan pertumbuhan yang konsisten. 4 Pengaruh DER terhadap return saham Berdasarkan hasil uji t, variabel DER memiliki koefisien regresi sebesar . 246 dengan nilai signifikansi Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari batas signifikansi yaitu 0. Maka dapat disimpulkan bahwa DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham selama periode Temuan ini bertentangan dengan teori sinyal. Secara teori sinyal. DER memiliki arah hubungan negatif terhadap return saham, karena semakin tinggi DER, maka semakin tinggi pula risiko finansial perusahaan, yang dapat menurunkan kepercayaan investor dan berdampak pada penurunan return saham. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Marlindja dan Meirisa . yang menunjukkan bahwa DER memiliki pengaruh positif terhadap return saham. Namun tidak sejalan dengan penelitian oleh Arramdhani dan Cahyono . yang menyatakan bahwa DER berpengaruh negatif terhadap return saham. Perbedaan hasil ini dimungkinkan karena kondisi kinerja keuangan perusahaan selama periode pengamatan yang berbeda. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menyimpulkan bahwa DER memiliki pengaruh terhadap return saham, sedangkan EPS. ROA, dan firm size tidak memiliki pengaruh terhadap return saham pada perusahaan sektor food and beverages yang terdaftar di BEI periode 2021Ae2024. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur pendanaan, khususnya proporsi utang terhadap ekuitas, menjadi salah satu faktor kunci yang dipertimbangkan investor dalam pengambilan keputusan investasi. Bagi investor, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk lebih memperhatikan rasio DER dalam menganalisis prospek saham di sektor food and beverages, mengingat tingginya sensitivitas pasar terhadap tingkat leverage perusahaan. Meski demikian, investor tetap disarankan untuk tidak hanya mengandalkan Pengaruh EPS. ROA. Firm Size, dan DER Terhadap Return Saham (Tasya Fauziah Bahrudi. Tasya Fauziah Bahrudin dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 105 Ae 117 satu rasio keuangan, tetapi mengombinasikannya dengan analisis fundamental lainnya serta kondisi Bagi manajemen perusahaan, hasil ini mengisyaratkan pentingnya pengelolaan struktur modal yang optimal. Menjaga rasio utang pada tingkat yang sehat dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan meminimalkan risiko penurunan nilai saham. Saran untuk penelitian selanjutnya agar memperluas cakupan variabel yang juga berpotensi memengaruhi return saham, penggunaan periode penelitian yang lebih panjang, dan cakupan sektor yang lebih beragam guna memperoleh hasil yang lebih komprehensif. Penelitian berikutnya juga dapat mempertimbangkan metode analisis yang berbeda, seperti regresi panel data atau model non-linear, untuk menguji konsistensi hasil dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA