Volume 8 | Nomor 4 | Tahun 2025 | Halaman 1039Ai1056 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1328 Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan Enhancing senior high school studentsAo interest and performance skills in tembang macapat through the e-srambahan mobile application Ahmad Rizky Wahyudi1*. Darni2, & Octo Dendy Andriyanto3 1,2,3 Universitas Negeri Surabaya Jalan Lidah Wetan. Kelurahan Lidah Wetan. Kecamatan Lakarsantri. Kota Surabaya. Indonesia Email: 24020835003@mhs. Orcid: https://orcid. org/0009-0003-0867-8289 Email: darni@unesa. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-9482-7812 Email: octoandriyanto@unesa. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-3493-9919 Article History Received 13 June 2025 Revised 2 September 2025 Accepted 8 November 2025 Published 19 December 2025 Keywords tembang macapat. e-srambahan. performance skill. mobile learning classroom action Kata Kunci tembang macapat. e-srambahan. keterampilan menyanyi. penelitian tindakan Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This study aimed to improve the ability and interest of tenth-grade students at SMAN 13 Surabaya in performing tembang macapat within the context of Javanese language learning through the integration of the E-Srambahan application. The research employed the Kemmis and McTaggart classroom action research model. Data were collected through performance tests, observation, questionnaires, and interviews, involving 36 students from class X-2 with diverse cultural backgrounds. Quantitative analysis was conducted using SPSS version 25, including LeveneAos Test and paired sample t-test, complemented by descriptive analysis. The findings revealed significant improvement in vocal performance, covering pleng . itch accurac. , ngeng . hythmic consistenc. , and greng . ocal strengt. The studentsAo mean score increased from 64. re-cycl. ycle I) and 83. ycle II), while the mastery level rose from 25% to 91. The paired sample t-test yielded a significance value of 0. 000, confirming meaningful differences across cycles. The effectiveness of E-Srambahan was attributed to studentsAo improved interest and ability to imitate pitch, maintain rhythm, and enhance vocal Challenges related to low self-confidence and limited vocal technique were successfully addressed through structured practice with the application. These results highlight the importance of integrating digital media grounded in local wisdom to enrich Javanese language education. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan dan minat siswa kelas X-2 SMAN 13 Surabaya dalam menyanyikan tembang macapat pada pembelajaran bahasa Jawa melalui pemanfaatan aplikasi E-Srambahan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kemmis dan McTaggart. Data dikumpulkan melalui tes performatif, angket, observasi, serta wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di kelas X-2 SMAN 13 Surabaya yang berjumlah 36 siswa dengan beragam latar budaya. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan SPSS versi 25, termasuk LeveneAos Test dan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam aspek pleng . etepatan nad. , ngeng . eselarasan iram. , dan greng . ekuatan voka. Terdapat peningkatan rata-rata nilai siswa dari yang semula 64,7 . ra-siklu. menjadi 74,3 . iklus I) dan 83,2 . iklus II). Tingkat ketuntasan belajar naik dari 25% menjadi 91,7%. Uji t m sebesar menghasilkan 0,000 menandakan adanya perbedaan bermakna antarsiklus. Aplikasi E-Srambahan terbukti efektif meningkatkan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat dengan signifikansi 0,000 (<0,. Faktor yang mempengaruhi peningkatan tersebut meliputi kemudahan siswa menirukan nada, menjaga irama, dan memperkuat proyeksi suara. Hambatan berupa rendahnya kepercayaan diri dan keterbatasan teknik vokal, berhasil diatasi melalui latihan terstruktur menggunakan E-Srambahan. Temuan ini menunjukkan pentingnya integrasi media digital berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa Jawa. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Wahyudi. Darni. , & Andriyanto. Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 1039Ae1056. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Ahmad Rizky Wahyudi. Darni, & Octo Dendy Andriyanto Pendahuluan Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terus bergerak seiring kebutuhan manusia yang semakin kompleks, termasuk dalam ranah pendidikan (Ivanova et al. , 2020. Peter, 2020. Scanlon, 2. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan pemanfaatan teknologi agar generasi muda mampu memahami dan menggunakannya secara bijak di setiap aspek. Pendidikan tidak hanya membicarakan teori abstrak, tetapi juga menghadirkan pengalaman kultural yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari (Ding & Ho, 2021. Golding, 2017. Marini, 2. Sejumlah penelitian Chapla . Haslam . Salam . , dan Vatan . menegaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk identitas budaya di tengah dinamika sosial. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 16 yang menerangkan bahwa pendidikan berbasis masyarakat harus mempertimbangkan kekhasan budaya serta dilaksanakan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Salah satu bentuk konkret pembelajaran berbasis budaya adalah pelajaran bahasa Jawa, yang di Jawa Timur diajarkan sebagai muatan lokal dengan tujuan menanamkan nilai-nilai luhur (Wahyudi & Adipitoyo, 2. Pembelajaran Bahasa Jawa membuka ruang bagi siswa untuk bersentuhan langsung dengan budaya hidup masyarakat Jawa (Farikah et al. , 2022. Ngadimah & Tarto, 2022. Utami, 2022. Zen, 2. , salah satunya melalui tembang macapat, karya sastra Jawa yang sarat estetika dan filosofi (Cahyono et al. , 2. Setiap bait atau gatra disusun berdasarkan jumlah suku kata . uru wilanga. dan diakhiri dengan bunyi vokal tertentu . uru lag. dengan sebelas jenis utama seperti Maskumambang. Pocung, hingga Dhandhanggula yang mencerminkan kekayaan ekspresi budaya Jawa (Adipitoyo, 2018. Wahyudi. Darni, et al. , 2. Tembang macapat diajarkan pada pembelajaran bahasa Jawa di tiap jenjang sekolah formal (Adnan et al. , 2024. Rochadiana et al. , 2022. Wahyudiono et al. , 2. Di ruang kelas, guru diharapkan mampu mengenalkan dan melatih pelafalan tembang macapat secara langsung, melalui media atau bantuan pihak lainnya. Hal ini penting karena materi tembang macapat cukup kompleks yakni siswa harus memahami unsur musikal seperti titilaras . , laras . angga nad. , serta pathet . nada yang terdiri atas dua sistem nada yaitu Pelog dan Slendro. Perbedaan karakter vokal antara siswa laki-`laki dan perempuan juga menuntut perlakuan berbeda dalam pembelajaran. Kemudian Siswa harus menguasai lirik dan mampu menyanyikan tembang macapat berdasarkan kesesuaian pleng . ada dan notas. , ngeng . eselarasan iram. , serta greng . arna dan kekuatan suar. sebagai ketentuan penyajiannya (Wahyudi. Darni, et al. , 2. Menurut Suwarna . , ketentuan penyajian tembang macapat meliputi penguasaan teknik vokal seperti pengeluaran suara, pelafalan, pemenggalan kata, pernapasan, hingga penghayatan makna syairnya. Namun, penerapan ketentuan penyajian tembang macapat ini masih menghadapi Banyak guru belum sepenuhnya menguasai teknik pembelajaran tembang macapat sehingga kurang optimal (Basir & Marifatulloh, 2. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Nugrahanta et al. yang menunjukkan bahwa dari 50 guru bahasa Jawa, hanya 8,7% yang memiliki pemahaman mendalam atas tembang macapat. Mayoritas masih kesulitan dalam menentukan nada serta membaca notasi, sehingga berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam praktik menyanyikan tembang macapat. Keterbatasan tersebut berpengaruh langsung pada kesulitan siswa dalam memahami serta mempraktikkan materi. Kesenjangan antara rancangan pembelajaran dan realitas kelas ini diperparah oleh minimnya media pembelajaran yang mampu membangkitkan minat dan keterlibatan siswa sehingga tembang macapat kerap kali dirasakan tak lagi berkesinambungan dengan kehidupan mereka (Nadhiroh & Setyawan, 2. Pembelajaran tembang macapat di tengah arus digital yang terus berkembang masih kerap terjebak dalam pola konvensional, yaitu meniru lantunan gamelan atau tembang macapat secara Pembelajaran konvensional pada dasarnya memang belum sepenuhnya menyentuh ranah emosional dan kreativitas siswa (Ghilay, 2021. Nokes, 2. Ketika suasana kelas pun belum kondusif, pembelajaran yang seharusnya menghidupkan budaya justru terasa monoton dan sulit Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih segar dan interaktif, berbasis teknologi digital untuk membangkitkan keterlibatan siswa serta memperdalam pemahaman mereka akan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan tembang macapat. Sejumlah penelitian mendukung kebutuhan tersebut, seperti temuan Utami . yang menunjukkan bahwa media digital dapat meningkatkan pemahaman makna tembang macapat Pangkur. Sementara Daryanto & Karsono . Nugrahanta et al. , serta Raharjayanti . membuktikan video interaktif efektif dalam menunjang pembelajaran pelafalan tembang macapat. Dalam konteks yang berbeda . Nabilunnuha et al. menambahkan bahwa aplikasi seperti Canva dan Wordwall mampu mengontekstualkan nilai budaya tembang macapat secara menarik, dan Wahyudiono et al. menemukan bahwa konten audiovisual di YouTube dapat meningkatkan penguasaan cengkok dan gregel dalam pelafalan tembang macapat. Namun. Hermawan dan Sukoyo . menyoroti masih dalam pembelajaran tembang macapat di kelas, baik dari faktor guru maupun infrastruktur. Dengan ini penelitian menghadirkan ESrambahan, sebuah aplikasi digital interaktif yang dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan guru dan siswa SMA, terutama kelas X, dalam menyelami tembang macapat secara menyenangkan, kontekstual, dan sesuai tantangan zaman. Aplikasi E-Srambahan merupakan media pembelajaran berbasis Android yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar tembang macapat secara interaktif dan kontekstual. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur unggulan seperti antarmuka ramah pengguna, pilihan titilaras, kumpulan tembang macapat lengkap dengan paugeran . turan temban. , serta audio pelafalan berdasarkan laras dan pathet, yang disesuaikan dengan karakter suara laki-laki dan perempuan. Kelebihan lainnya, aplikasi ini dapat diakses tanpa koneksi internet . , menjadikannya fleksibel dalam penggunaan. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 13 Surabaya, sebuah sekolah negeri unggulan yang mendukung pelestarian budaya lokal melalui pembelajaran bahasa Jawa dan telah menerapkan Kurikulum Merdeka berbasis teknologi dan pembelajaran diferensiasi. Kelas X2, dengan jumlah 36 siswa yang berlatar budaya beragam dan hampir separuhnya bukan berlatar belakang Jawa, menjadi subjek penelitian ini. Berdasarkan hasil observasi dan angket awal, ditemukan bahwa 69% siswa kesulitan dalam melagukan tembang macapat, dan 58% menyatakan kurang berminat terhadap materinya, terutama karena pembelajaran masih bersifat konvensional dan monoton. Hanya 19% yang menunjukkan ketertarikan dan kepercayaan diri dalam mengikuti Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara materi budaya lokal dan keberagaman siswa, sehingga diperlukan media inovatif seperti E-Srambahan untuk menjembatani perbedaan tersebut, sekaligus menumbuhkan minat belajar dan memperkuat keterampilan menyanyikan tembang macapat. Pembelajaran tembang macapat di SMAN 13 Surabaya mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) khususnya pada elemen berbicara dan mempresentasikan fase E kelas Xyang menargetkan kemampuan siswa dalam menyanyikan tembang macapat dengan baik dan benar. Kompetensi ini mencakup aspek psikomotorik tingkat artikulasi yang menuntut siswa untuk mengoordinasikan ketepatan pleng, ngeng, dan greng serta intonasi suara secara harmonis dalam performa yang utuh. Menanggapi kebutuhan tersebut, tujuan dari penelitian ini yakni mengkaji peningkatan keterampilan dan minat siswa kelas X-2 SMAN 13 Surabaya dalam menyanyikan tembang macapat melalui aplikasi E-Srambahan, sebuah media digital yang dirancang untuk mendukung pembelajaran yang interaktif dan kontekstual. Sejalan dengan Kyrylova et al. , penggunaan aplikasi pembelajaran dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik, sedangkan menurut Faisal et al. , media digital juga mampu meningkatkan pelafalan notasi tembang serta menumbuhkan minat terhadap sastra tradisional. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah membuktikan potensi aplikasi maupun konten audiovisual dalam mengontekstualkan nilai budaya Jawa serta meningkatkan penguasaan teknik vokal, sebagian besar kajian tersebut masih berhenti pada tahap pengembangan atau penggunaan media secara terbatas. Belum ada penelitian yang menguji efektivitas media digital dalam praktik pembelajaran tembang macapat di sekolah perkotaan, khususnya dengan beragam latar budaya siswa, sebagai SMAN 13 Surabaya. Penelitian ini menempati celah penting dengan mengimplementasikan aplikasi E-Srambahan dalam pembelajaran kelas yang heterogen melalui model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kemmis dan McTaggart . PTK dipilih karena menekankan siklus perencanaan, tindakan, observasi, dan juga refleksi yang memungkinkan kelemahan pembelajaran segera diidentifikasi dan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Ahmad Rizky Wahyudi. Darni, & Octo Dendy Andriyanto diperbaiki (Lodge et al. , 2018. Prihantoro & Hidayat, 2019. Arikunto et al. , 2. Dengan pendekatan ini, peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat dapat terukur secara nyata sekaligus menawarkan strategi pembelajaran digital bagi guru bahasa Jawa. Secara luas hasil penelitian ini menjadi respons terhadap tantangan pelestarian dan perkembangan pembelajaran tembang macapat dengan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan generasi digital. Metode Penelitian ini mengacu pada pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan mendeskripsikan proses, prosedur, dan hasil dari suatu tindakan pembelajaran secara sistematis (Arikunto et al. , 2015. Lodge et al. , 2018. Prihantoro & Hidayat, 2019. Suhirman, 2. Pendekatan ini tetap melibatkan data kuantitatif sebagai pendukung untuk mengukur perkembangan keterampilan siswa dari waktu ke waktu. Peneliti berperan sebagai pengamat sekaligus pelaksana tindakan (Anugrah, 2019. Arikunto et al. , 2015. Rahman, 2. Dalam pelaksanaannya, peneliti menyusun perangkat pembelajaran, memfasilitasi kegiatan belajar, dan memandu penggunaan aplikasi E-Srambahan. Selama proses pembelajaran, kegiatan siswa diamati menggunakan instrumen berupa lembar observasi performatif dan catatan lapangan untuk mencatat keterlibatan, respons, serta kendala yang muncul selama proses pembelajaran. Kemudian terdapat pula angket minat belajar siswa untuk mengukur perubahan sikap dan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran tembang macapat. Penelitian ini dilakukan di SMAN 13 Surabaya pada kelas X-2 yang berjumlah 36 siswa. Penelitian berlangsung selama satu bulan, dari 14 April hingga 12 Mei 2025 yang mencakup tahap prasiklus, dilanjutkan siklus I, serta siklus II, dengan sekali pertemuan pada masing-masing Instrumen penelitian yang digunakan mencakup media pembelajaran berbasis aplikasi E-Srambahan, modul ajar, serta instrumen penilaian performatif yang terdiri dari sepuluh butir indikator deskriptif. Masing-masing siklus pada penelitian ini mencakup empat tahapan utama PTK sebagaimana gagasan Arikunto . : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Empat tahapannya berikut ini. Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Kelas Model Arikunto . Langkah-langkah penelitian telah dijelaskan sebagaimana gambar di atas. Tahap awal berupa pembelajaran prasiklus dilakukan secara konvensional tanpa menggunakan aplikasi E-Srambahan untuk memperoleh gambaran awal keterampilan siswa dalam menyanyikan tembang macapat. Pada siklus I, peneliti menyusun perangkat ajar seperti modul, dan instrumen penilaian yang telah Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan divalidasi, lalu melaksanakan pembelajaran dengan bantuan aplikasi E-Srambahan. Siswa mengikuti kegiatan pembelajaran, sementara aktivitas mereka diamati menggunakan lembar observasi performatif. Hasilnya selanjutnya dijadikan acuan refleksi sekaligus pijakan dalam menyusun strategi perbaikan pada siklus II. Kemudian, pembelajaran pada siklus II difokuskan pada pemanfaatan fitur aplikasi secara lebih intensif dan personalisasi pendekatan vokal untuk mengoptimalkan aspek pleng, ngeng, dan greng. Setelah seluruh tahapan selesai dan indikator ketercapaian meningkat, termasuk banyaknya siswa yang sudah mencakupi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) peningkatan performa vokal, penelitian dinyatakan selesai lalu hasilnya disusun dalam bentuk laporan akhir. Data penelitian diperoleh melalui teknik tes dan nontes. Teknik tes berfungsi sebagai pengukuran keterampilan vokal siswa dalam menyanyikan tembang macapat melalui lembar penilaian yang mencakup aspek pleng, ngeng, dan greng. Teknik nontes meliputi observasi, dan angket yang bertujuan menggali data tentang keterlibatan siswa, serta refleksi proses pembelajaran pada setiap siklus. Selain data keterampilan menyanyikan tembang macapat, penelitian ini juga mengumpulkan terkait minat dan sikap siswa terhadap pembelajaran tembang macapat. Data tersebut diperoleh melalui angket tertutup dan lembar observasi sikap yang diberikan pada akhir setiap siklus. Angket digunakan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan aplikasi E-Srambahan berpengaruh terhadap ketertarikan, perhatian, keaktifan, dan motivasi belajar siswa. Proses analisis data dilaksanakan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah analisis kuantitatif menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Data yang dianalisis berupa skor keterampilan menyanyikan tembang macapat, meliputi aspek pleng, ngeng, dan greng. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan rata-rata nilai, persentase ketuntasan, serta distribusi capaian siswa pada tahap prasiklus, siklus I, kemudian siklus II. Adapun analisis inferensial dilakukan dengan uji homogenitas (LeveneAos Tes. untuk memastikan kesamaan variansi, serta paired sample t-test guna menguji seberapa signifikan perbedaan nilai yang terdapat pada tahapan prasiklus dan siklus berikutnya. Dengan demikian, peningkatan skor dari prasiklus . menuju siklus I dan siklus II . dapat dipantau secara terukur. Selain itu, data kualitatif diperoleh melalui observasi, wawancara, dan angket untuk mendeskripsikan kondisi awal siswa pada prasiklus yang sebagian besarnya belum mampu menyanyikan tembang macapat dengan tepat, hingga perkembangan pada setiap akhir siklus. Kemudian dilanjutkan data mengenai minat dan sikap siswa terhadap pembelajaran tembang Data tersebut diperoleh melalui angket tertutup dan observasi sikap yang siswa isi pada tiap akhir siklus. Penggunaan angket ini guna mengetahui sejauh mana penggunaan aplikasi ESrambahan berpengaruh terhadap ketertarikan, keaktifan, dan motivasi belajar siswa. Selanjutnya , analisis kuantitatif dilakukan untuk memastikan peningkatan skor yang diperoleh bersifat signifikan secara statistik. Apabila nilai signifikansi pada uji homogenitas melebihi 0,05, variansi yang terdapat pada tiap kelompok boleh dipastikan homogen (Pallant. Sugiyono, 2018. Zhou et al. , 2. Data kualitatif dianalisis menggunakan teknik deskriptif tematik yang merinci pola-pola respons siswa terhadap intervensi media pembelajaran serta mencatat refleksi guru dan siswa pada setiap siklus. Hasil dari kedua pendekatan ini kemudian dipadukan untuk menghasilkan simpulan komprehensif peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat siswa menggunakan aplikasi E-Srambahan. Pembahasan Perencanaan Tahap ini difokuskan pada persiapan instrumen penelitian berupa instrumen penilaian, media pembelajaran, dan modul ajar. Instrumen penilaian dirancang dalam bentuk rubrik dengan sepuluh indikator deskriptif yang mengukur tiga aspek utama keterampilan menyanyikan tembang macapat, yaitu pleng, ngeng, dan greng. Tiap indikator dinyatakan dalam format skala deskriptif Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Ahmad Rizky Wahyudi. Darni, & Octo Dendy Andriyanto dengan kategori penilaian validitas oleh ahli. Sementara itu, media yang divalidasi berupa aplikasi E-Srambahan dengan fitur titilaras, kumpulan tembang macapat, dan audio pelafalan sesuai laras serta Modul ajar yang divalidasi memuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), materi pokok, langkah-langkah pembelajaran, serta lembar kerja siswa. Seluruh instrumen, media, dan modul tersebut telah melalui proses validasi oleh ahli materi dan ahli media guna memastikan kesesuaian substansi, konstruksi, dan bahasa sebelum digunakan dalam penelitian. Hasil validasi kemudian dirangkum dalam bentuk skor rata-rata yang menjadi dasar penentuan kelayakan. Instrumen penelitian ini kemudian divalidasi oleh ahli sebelum digunakan. Validitas ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2016 perihal standar penilaian pendidikan pada pasal 14 ayat 2 yang menyebutkan bahwasanya instrumen penilaian harus memenuhi syarat substansi, konstruksi, dan bahasa. Kemudian untuk instrumen penelitiannya, pengategorian nilai sangat valid jika nilai rata-rata validasi ahli Ou 3,5 dari skala 4 (Riduwan, 2016. Sugiyono, 2. Berikut ini adalah hasil validitas isi instrumen penelitian. Tabel 1. Hasil Uji Validitas Isi Instrumen Penelitian Validator Validator 1 Validator 2 Skor Rata-Rata Kategori Media Pembelajaran Sangat Valid Instrumen Penilaian Sangat Valid Modul Valid Selain validasi isi, instrumen penilaian juga perlu melalui analisis kualitas lanjutan agar memenuhi kriteria sebagai alat ukur penelitian yang baik. Terdapat sepuluh indikator deskriptif pada rubrik penelitian ini yang dirancang sebagai landasan penilaian keterampilan penyajian tembang macapat siswa. Untuk menilai keselarasan konstruk dan kejelasan butir penilaian, dilakukan perhitungan koefisien AikenAos V pada tiap item. Berikut sajian hasil uji statistik tersebut. Tabel. 2 Hasil Uji Validitas Instrumen Penilaian Menyanyikan Tembang Macapat No. Item Rata-rata Aspek Pleng Pleng Pleng Pleng Ngeng Ngeng Ngeng Greng Greng Greng Item Nada tepat Nada awal TinggiAerendah nada Konsistensi nada Tempo tepat Jeda dan kesinambungan PanjangAependek irama Kekuatan suara Stabilitas vokal Pengaturan napas AikenAos V Kategori Sangat Valid Valid Valid Valid Sangat Valid Sangat Valid Sangat Valid Valid Valid Valid Valid Berdasarkan analisis AikenAos V, instrumen penilaian yang meliputi sepuluh butir penilaian performatif menyanyikan tembang macapat memperoleh koefisien antara 0,631 hingga 0,959. Mengacu pada Azwar . , nilai AikenAos V Ou 0,80 dikategorikan Ausangat valid,Ay nilai antara 0,60 hingga 0,79 dikategorikan Auvalid,Ay dan nilai di bawah 0,60 dikategorikan Autidak valid. Ay Dalam penelitian ini, sebagian besar butir penilaian tergolong cukup valid, sementara empat butir dinyatakan sangat valid. Nilai tertinggi . terdapat pada indikator ngeng, dan nilai terendah . pada indikator pengaturan napas greng. Hasil ini mengindikasikan bahwa meskipun instrumen layak digunakan, beberapa butir penilaian masih dapat disempurnakan agar lebih selaras dengan tujuan asesmen. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan Hasil Pembelajaran Tembang Macapat Pra-Siklus Tahap prasiklus dilakukan untuk menilai keterampilan awal siswa dalam menyanyikan tembang macapat sebelum penerapan aplikasi E-Srambahan. Tahap ini mengidentifikasikan kemampuan dasar siswa tanpa pengaruh media digital, sehingga peningkatan keterampilan dan minat siswa pada tahap berikutnya dapat diukur secara lebih akurat. Sebanyak 36 siswa dari kelas X-2 SMAN 13 Surabaya mengikuti pembelajaran secara konvensional dengan menggunakan bahan ajar cetak dan penjelasan lisan dari guru. Selama prasiklus, aktivitas siswa cenderung pasif, hanya sedikit yang berani mencoba sementara sebagian besar ragu atau menolak tampil. Beberapa siswa hanya membaca lirik tanpa melagukan, ada yang berhenti di tengah bait karena kehabisan napas, dan banyak yang kesulitan menjaga ketepatan nada maupun irama. Suasana kelas terlihat monoton sehingga partisipasi siswa rendah. Penilaian difokuskan pada tiga indikator utama performa vokal: pleng, ngeng, dan greng. Berikut rekapitulasi hasil penilaian menyanyikan tembang macapat pada tahap pra-siklus. Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Penilaian Menyanyikan Tembang Macapat (Pra-Siklu. Aspek Penilaian Pleng . %) Ngeng . %) Greng . %) Total Skor Gabungan Rata-Rata Nilai Kelas Jumlah Siswa Tuntas 12 siswa 10 siswa 8 siswa 9 Siswa Jumlah Siswa Belum Tuntas 24 siswa 26 siswa 28 siswa 27 Siswa Berdasarkan hasil penilaian awal terhadap keterampilan menyanyikan tembang macapat Pangkur Paripurna Laras Slendro Pathet Sanga yang dilakukan pada tahap prasiklus, diperoleh gambaran umum bahwa kemampuan 36 siswa kelas X-2 SMAN 13 Surabaya masih berada di bawah standar ketuntasan. Rata-rata nilai gabungan dari tiga aspek performa vokal pleng, ngeng, dan greng adalah 64,7, sementara KKM yang ditetapkan adalah 75, nilai ini muncul karena sebagian besar siswa mengalami kesulitan teknis dalam menyanyi. Pada aspek pleng, siswa sering salah menentukan nada awal dan tidak konsisten menjaga tinggi-rendah nada. Rata-rata nilai aspek ini hanya mencapai 67,3 dengan 12 siswa . ,3%) yang tuntas. Pada aspek ngeng, banyak siswa tidak mampu menjaga tempo tetap stabil serta kesulitan mengatur panjangpendek irama sehingga rata-rata hanya 64,1 dengan 10 siswa . %) yang tuntas. Sementara pada aspek greng, siswa cenderung bersuara lemah, cepat kehabisan napas, dan belum mampu mengatur proyeksi suara dengan baik, menghasilkan rata-rata 62,8 dengan hanya 8 siswa . %) yang tuntas. Instrumen penilaian yang digunakan dalam prasiklus terdiri atas rubrik dengan kriteria deskriptif pada setiap indikator. Misalnya, pleng dinilai dari ketepatan nada, konsistensi, serta penentuan nada awal. ngeng dari ketepatan tempo, kesinambungan antar-bait, dan panjang-pendek sedangkan greng dari kekuatan suara, stabilitas vokal, serta pengaturan napas. Skor diberikan pada rentang 1Ae4 sesuai kriteria pencapaian tiap indikator. Dengan demikian, rendahnya skor prasiklus mencerminkan bahwa sebagian besar siswa belum menguasai teknik dasar menyanyikan tembang macapat. Perlu dicatat bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian tidak semuanya memiliki kemampuan menyanyi sejak awal. Secara keseluruhan, melalui tahap ini, ditemukan hanya 9 siswa . %) yang mencapai skor gabungan Ou75 dan dianggap tuntas dalam penyajian tembang macapat Pangkur Paripurna Laras Slendro Pathet Sanga. Sebanyak 27 siswa . %) masih belum memenuhi standar minimal dan mengalami hambatan dalam satu atau lebih aspek performatif. Hasil prasiklus ini menggambarkan kondisi dasar siswa secara umum sebelum adanya intervensi melalui aplikasi E-Srambahan. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Ahmad Rizky Wahyudi. Darni, & Octo Dendy Andriyanto Tabel 4. Kesulitan Pembelajaran Tembang Macapat bagi Siswa Aspek Pleng Ngeng Greng Uraian Penyajian lirik tembang macapat dengan nada yang tepat. Penentuan nada awal saat memulai menyanyikan tembang Penyesuaian tinggi rendah nada dengan notasi tembang macapat yang dibaca. Pengonsistensian nada dari awal hingga akhir tembang macapat. Penyajian tembang macapat bertempo tepat . idak terlalu lambat atau cepa. Pengaturan jeda dan kesinambungan antarbait tembang macapat. Penyesuaian panjang dan pendek irama sesuai guru wilangan. tembang macapat. Pengaturan kekuatan suara . eras/lembu. penyajian tembang Pengaturan stabilitas kualitas penyajian tembang macapat supaya tidak datar atau monoton. Pengaturan pernapasan agar tidak kehabisan napas saat menyanyikan tembang macapat. Jumlah Persentase (%) Jawaban Mudah Sangat Sulit Sulit Sangat Mudah 28,9% 41,1% 24,7% 5,3% Tabel 4 merupakan hasil pengisian angket oleh 36 siswa kelas X-2 di SMAN 13 Surabaya untuk mengukur tingkat kesulitan dalam menyanyikan tembang macapat. Angket terdiri atas 10 pernyataan dengan skala Likert 4 poin (Sangat Mudah. Mudah. Sulit. Sangat Suli. sehingga terkumpul sebanyak 360 respons. Data tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa menghadapi hambatan pada beragam aspek teknis. Sebanyak 148 respons . ,1%) berada pada kategori AuSulitAy dan 104 respons . ,9%) pada kategori AuSangat SulitAy, yang berarti hampir 70% dari total respons mencerminkan adanya hambatan signifikan. Sementara itu, hanya 89 respons . ,7%) yang menyatakan AuMudahAy dan 19 respons . ,3%) yang tergolong AuSangat MudahAy. Dari segi teknis, siswa mengalami hambatan dalam ketiga aspek performatif. Pada aspek pleng, mereka kesulitan menjaga ketepatan nada sesuai notasi tembang. kesalahan nada sering muncul terutama pada bagian akhir larik. Pada aspek ngeng, irama yang dihasilkan sering kali tidak konsisten, dengan tempo yang terlalu cepat atau terlalu lambat, sehingga alur lagu terdengar terputus-putus. Sementara itu, pada aspek greng, suara siswa terdengar lemah dan tidak memiliki warna vokal yang jelas, menunjukkan kurangnya penguasaan teknik vokal dasar seperti pernapasan diafragma dan proyeksi suara. Kondisi ini mencerminkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan belum mampu mendorong siswa untuk memahami dan menjiwai tembang macapat secara utuh. Temuan kuantitatif ini diperkuat oleh hasil observasi selama proses pembelajaran prasiklus yang berlangsung secara konvensional, yaitu dengan menggunakan buku teks dan penjelasan lisan dari guru tanpa bantuan media digital. Dalam kegiatan tersebut, mayoritas siswa menunjukkan partisipasi yang rendah. Hanya sebagian kecil yang berani mencoba menyanyikan tembang secara sukarela, sementara sebagian besar lainnya tampak pasif, ragu-ragu, bahkan menolak ketika diminta tampil. Suasana kelas terlihat kurang dinamis, cenderung hening dan monoton, serta tidak menunjukkan adanya keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. Salah satu akar permasalahan rendahnya partisipasi ini adalah keterbatasan kemampuan dasar siswa dalam menyanyi. Banyak siswa belum terbiasa melatih vokal, kesulitan menentukan nada awal, serta tidak mampu menjaga kestabilan tempo. Situasi ini menimbulkan inferioritas atau rasa kurang percaya diri siswa saat diminta tampil di depan kelas. Guru Bahasa Jawa kelas X-2 SMAN 13 Surabaya, melalui sesi wawancara, menyampaikan bahwa terdapat sejumlah tantangan krusial dalam menyampaikan pembelajaran tembang macapat kepada siswa. Guru mengakui bahwa dirinya belum memiliki pelatihan vokal formal, terutama dalam menguasai komponen teknis seperti pleng, ngeng, dan greng, yang sangat penting dalam Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan memberi contoh lagu macapat secara tepat. Penyampaian materi juga terkendala oleh tidak tersedianya media pembelajaran interaktif, sehingga guru hanya mengandalkan bahan ajar cetak dan penjelasan lisan. Pendekatan ini dirasakan kurang efektif karena siswa kesulitan memahami struktur melodi dan menunjukkan keterlibatan yang rendah. Selain itu, keterbatasan akses terhadap sumber digital atau aplikasi khusus tembang macapat menambah kesulitan dalam menciptakan pembelajaran yang bervariasi dan menarik. Guru juga menghadapi kendala dalam manajemen kelas saat praktik menyanyi, sebab sebagian besar siswa enggan tampil karena kurang percaya diri dan takut melakukan kesalahan. Temuan ini menunjukkan bahwa metode pengajaran konvensional belum mampu menjawab tuntutan pedagogis maupun performatif dalam pembelajaran tembang macapat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perlu diterapkan intervensi inovatif seperti aplikasi E-Srambahan untuk penunjang pembelajaran menyanyikan tembang macapat. Peningkatan Hasil Pembelajaran Tembang Macapat Perbandingan antara sebelum menggunakan media pembelajaran aplikasi E-Srambahan yakni pada siklus I, siklus II dilakukan untuk memantau seberapa jauh peningkatan minat keterampilan siswa dalam menyanyikan tembang macapat. Pada siklus I, tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun RPP, menyiapkan modul ajar, serta memperkenalkan aplikasi E-Srambahan kepada Pada tahap pelaksanaan, guru memberi contoh penggunaan aplikasi, kemudian siswa mencoba menyanyikan tembang secara berkelompok dengan bantuan fitur audio titilaras. Observasi menunjukkan sebagian siswa mulai berani mencoba, meskipun masih ada yang ragu atau kesulitan mengikuti nada. Refleksi pada akhir siklus mencatat bahwa siswa memerlukan latihan lebih intensif secara individu agar lebih percaya diri. Pada siklus II, tindakan diperbaiki dengan menekankan latihan individu, memberikan umpan balik langsung, serta memfasilitasi siswa untuk berlatih menggunakan aplikasi di luar kelas. Aktivitas siswa terlihat lebih aktif: mereka lebih cepat menyesuaikan diri dengan pathet yang ditentukan, mampu menjaga tempo dengan stabil, dan mulai menunjukkan suara yang lebih kuat. Hasil observasi menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dan partisipasi, di mana hampir seluruh siswa mencoba menyanyi tanpa dipaksa. Refleksi akhir siklus menegaskan bahwa pembiasaan melalui aplikasi membantu siswa yang sebelumnya pasif untuk lebih terlibat, sekaligus meningkatkan aspek pleng, ngeng, dan greng secara signifikan. Berikut ini sajian peningkatan hasil pembelajaran tembang macapat. Tabel 5. Peningkatan Hasil Pembelajaran Tembang Macapat dari Prasiklus hingga Siklus II Siklus Pra Rata-Rata Nilai Pleng Ngeng Greng Rata-Rata Nilai Total Persentase Peningkatan dari Prasiklus 0,00% 14,8% 28,6% Jumlah Siswa Tuntas 9 Siswa 22 Siswa 33 Siswa Persentase Kenaikan Jumlah Siswa Tuntas 0,00% 36,1% 66,7% Data pada Tabel 5 menunjukkan peningkatan yang konsisten dan signifikan dalam performa siswa pada seluruh aspek penilaian baik itu pleng, ngeng, maupun greng dari tahap prasiklus hingga siklus II. Pada tahap awal, skor rata-rata untuk pleng, ngeng, dan greng berturut-turut adalah 67,3. 64,1. dan 62,8, yang menunjukkan siswa masih mengalami kesulitan dalam semua aspek vokal. Skor ini diperoleh dari instrumen penilaian berupa rubrik performa vokal dengan rentang nilai 1Ae Rubrik tersebut mencakup tiga aspek utama: . etepatan nada awal, konsistensi nada, dan kestabilan intonas. , . etepatan tempo, kesinambungan antar-bait, serta panjangAe pendek iram. , dan . ekuatan suara, kontrol pernapasan, serta stabilitas warna voka. Setiap indikator dinilai dengan deskripsi kriteria, mulai dari AukurangAy hingga Ausangat baikAy. Setelah tindakan pada siklus I, peningkatan paling mencolok terjadi pada aspek greng, yang naik menjadi 74,1. Peningkatan ini berkaitan dengan proses pembelajaran menggunakan aplikasi Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Ahmad Rizky Wahyudi. Darni, & Octo Dendy Andriyanto E-Srambahan. Dengan penggunaan aplikasi ini, siswa berlatih menyanyi secara berkelompok dengan mendengarkan contoh audio sesuai laras dan pathet. Aktivitas ini mendorong mereka untuk lebih percaya diri dalam mengeluarkan suara, meskipun sebagian masih kesulitan menjaga ketepatan nada dan irama. Pada siklus II, penggunaan aplikasi difokuskan pada latihan individu, dengan siswa diminta menyesuaikan nada awal menggunakan fitur titilaras dan mengulangi tembang hingga stabil. Guru memberikan umpan balik langsung setelah siswa mencoba, sementara aplikasi memfasilitasi latihan mandiri di luar kelas. Hasilnya, ketiga aspek meningkat signifikan: pleng mencapai 84,2. ngeng 81,7. dan greng 83,6. Hal ini menunjukkan bahwa selain peningkatan skor, siswa juga memperlihatkan perubahan nyata yaitu lebih berani tampil, mampu menjaga kestabilan irama, dan menghasilkan vokal yang lebih kuat serta terkontrol. Rata-rata skor keseluruhan naik dari 64,7 pada prasiklus menjadi 74,3 pada siklus I, lantas meningkat lagi hingga 83,2 pada siklus II, menunjukkan peningkatan total sebesar 28,6%. Ketuntasan belajar pun mengalami peningkatan signifikan: dari hanya 9 siswa yang tuntas pada prasiklus menjadi 22 siswa pada siklus I dan 33 siswa pada siklus II. Ini berarti terjadi kenaikan ketuntasan sebesar 66,7% dari kondisi awal. Untuk memperkuat temuan deskriptif yang telah diperoleh, penelitian ini juga dilengkapi dengan analisis statistik inferensial guna menguji signifikansi perbedaan hasil belajar siswa dalam menyanyikan tembang macapat sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Uji statistik ini digunakan untuk mengetahui apakah peningkatan nilai dari prasiklus dilanjut dengan Siklus I ke Siklus II bersifat signifikan secara statistik atau hanya terjadi karena variasi acak. Oleh karena itu , serangkaian uji prasyarat diterapkan, yakni uji normalitas, homogenitas, dan uji t berpasangan . aired sample t-tes. pada data nilai siswa. Selain itu, rata-rata, standar deviasi, dan standar error mean turut dianalisis untuk menunjukkan pola distribusi data di tiap siklus. Hasil dari analisis ini memberikan dasar yang lebih kuat untuk menarik kesimpulan terkait efektivitas penggunaan aplikasi E-Srambahan dalam meningkatkan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat. Hasil pengolahan data ditampilkan pada tabel berikut ini. Tabel 6. Distribusi Hasil Pembelajaran Tembang Macapat dari Siswa Sesuai Rata-Rata Prasiklus dan Siklus I Siklus Pra Mean Std. Deviation 3,17 2,38 Independent Samples Test LeveneAos Test for Equality of Variances Sig. 3,8495 0,0537 -20,991 Std. Error Mean 0,49 0,35 Paired Sample t-Test Sig. -taile. 0,000 Kondisi prasiklus dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran tembang macapat masih dilakukan secara konvensional tanpa dukungan media berbasis digital. Pada tahap ini, nilai rata-rata siswa hanya mencapai 64,7, dengan sebagian besar siswa belum tuntas dalam aspek teknik Setelah dilakukan tindakan pada siklus I melalui penggunaan aplikasi E-Srambahan, terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 74,3. Perbedaan sebesar 9,6 poin ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat secara signifikan. Sesuai dengan hasil uji paired sample t-test, didapatkan nilai t = -20,991 dengan df = 35 dan nilai signifikansi 0,000. Nilai uji tersebut menegaskan adanya perbedaan yang nyata antara hasil pada prasiklus dan siklus I. Sementara itu, hasil uji LeveneAos menghasilkan nilai F = 3,8495 dengan Sig. = 0,0537. Karena nilai signifikansi melebihi 0,05, dapat disimpulkan bahwa data tersebut memiliki variansi yang homogen, sehingga penggunaan uji t dianggap valid dan hasil analisisnya dapat dipercaya. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan Tabel 7. Distribusi Hasil Pembelajaran Tembang Macapat dari Siswa Sesuai Rata-Rata Prasiklus dan Siklus II Siklus Pra Mean Std. Deviation 6,85 5,40 Independent Samples Test LeveneAos Test for Equality of Variances Sig. 2,0901 0,1527 -40,138 Std. Error Mean 1,14 0,90 Paired Sample t-Test Sig. -taile. 0,000 Untuk memastikan peningkatan yang terjadi tidak bersifat kebetulan, dilaksanakan siklus II. Nilai rata-rata siswa naik dari 64,7 menjadi 83,2 atau selisih 18,5 poin dibandingkan kondisi awal. Uji paired sample t-test menghasilkan t = -40,139, df = 35, dan Sig. = 0,000, menegaskan adanya perbedaan yang sangat signifikan antara prasiklus dan siklus II. Sementara itu, uji LeveneAos memperoleh F = 2,0901 dengan Sig. = 0,1527, sehingga dapat disimpulkan variansi data homogen. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan aplikasi E-Srambahan secara konsisten meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Tabel 8. Distribusi Hasil Pembelajaran Tembang Macapat dari Siswa Sesuai Rata-Rata Siklus I dan Siklus II Siklus Mean Std. Deviation Independent Samples Test LeveneAos Test for Equality of Variances Sig. Std. Error Mean Paired Sample t-Test Sig. -taile. 0,000 Hasil perbandingan siklus I dan II memperlihatkan tren peningkatan yang konsisten. Ratarata nilai siswa bertambah dari 74,3 menjadi 83,2, dengan perbedaan 8,9 poin. Uji paired sample ttest . = -44,741. df = 35. Sig. = 0,. menunjukkan perbedaan signifikan antar siklus, sedangkan uji LeveneAos (F = 0,1679. Sig. = 0,6. mengonfirmasi homogenitas variansi. Dengan demikian, perbaikan pada siklus II terbukti efektif guna menaikkan hasil belajar. Peningkatan Minat Siswa dalam Pembelajaran Tembang Macapat Selain peningkatan keterampilan menyanyikan tembang macapat, hasil observasi, wawancara, dan angket menunjukkan adanya perubahan positif pada sikap dan minat belajar siswa terhadap pembelajaran tembang macapat. Pada prasiklus, sebagian besar siswa menunjukkan minat yang rendah terhadap kegiatan menyanyikan tembang macapat karena menganggap pembelajaran ini monoton, sulit diikuti, dan tidak relevan dengan minat remaja masa kini. Hasil angket awal menunjukkan hanya 58% siswa yang menyatakan senang mengikuti pembelajaran tembang Setelah penerapan aplikasi E-Srambahan pada siklus I, terjadi peningkatan minat yang cukup Siswa mulai menunjukkan antusiasme baru dalam berlatih tembang macapat menggunakan fitur panduan nada dan rekaman suara. Sebagian siswa bahkan mencoba menirukan tembang lain di luar jam pelajaran. Hasil pengisian angket pada siklus I memperlihatkan bahwa rata-rata skor minat siswa mencapai 72% dengan peningkatan terbesar pada indikator keterlibatan aktif dalam pembelajaran. Guru pengampu juga mencatat peningkatan keaktifan siswa dalam berdiskusi dan berpartisipasi saat latihan kelompok. Peningkatan yang lebih nyata terlihat pada siklus II, ketika siswa kian terbiasa menggunakan aplikasi E-Srambahan. Mereka menunjukkan sikap percaya diri saat tampil, antusias menyanyikan tembang dengan ekspresi yang tepat, dan aktif memberikan umpan balik kepada teman sekelas. Berdasarkan hasil angket, tingkat minat Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Ahmad Rizky Wahyudi. Darni, & Octo Dendy Andriyanto belajar siswa meningkat menjadi 86%, sedangkan hasil observasi memaparkan bahwa hampir semua siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sajian tabel yang memuat perubahan dalam aspek sikap dan minat siswa dalam pembelajaran tembang macapat seperti dalam tabel berikut ini. Tabel 9. Peningkatan Minat Belajar Siswa terhadap Pembelajaran Tembang Macapat Aspek Minat Perasaan senang mengikuti pembelajaran Keterlibatan aktif dalam pembelajaran Perhatian terhadap materi Keinginan berlatih mandiri Rata-rata Prasiklus 59,5% Siklus I Siklus II Diskusi Pada tahap prasiklus, pembelajaran tembang macapat yang dalam tahap ini berjenis Pangkur Paripurna Laras Slendro Pathet Sanga masih berlangsung secara konvensional tanpa dukungan media interaktif, sehingga keterlibatan aktif siswa menjadi minim dan hasil belajar siswa rendah. Dengan begitu, temuan ini memperkuat gagasan Ismail & Groccia . Qureshi et al. , dan Sari et al. yang menunjukkan bahwa rendahnya tingkat minat dan prestasi belajar siswa berkaitan dengan kurangnya keaktifan dalam mengikuti proses pembelajaran. Dalam praktik menyanyikan tembang macapat Pangkur Paripurna Laras Slendro Pathet Sanga, banyak siswa kesulitan dalam menirukan nada, menjaga irama, dan mengatur kekuatan vokal. Kepercayaan diri siswa juga tampak rendah, dan keterlibatan dalam pembelajaran cenderung pasif. Pendekatan pasif dalam pembelajaran musik berbasis budaya seperti tembang macapat berisiko melemahkan kemampuan vokal siswa sekaligus mengurangi kedekatan mereka dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (Angraini & Kadir, 2020. Kashapova & Ni, 2023. Nurgayanova & Karkina, 2020. Poon & Chen, 2023. Wu, 2. Alih-alih memahami tembang macapat sebagai bagian dari kehidupan dan identitas budaya, siswa cenderung memandangnya sebagai materi akademik yang kaku. Refleksi yang dilakukan pada prasiklus berperan sebagai landasan penting bagi pelaksanaan tindakan pada siklus I untuk memperbaiki hambatan yang muncul dan mendorong peningkatan keaktifan serta capaian belajar siswa. Pemanfaatan E-Srambahan pada siklus I menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan keterampilan siswa. Aktivitas siswa difokuskan pada latihan kelompok menggunakan fitur audio titilaras sebagai acuan nada. Mereka mendengarkan contoh melodi, lalu mencoba menyanyikan secara bersama-sama. Proses ini membantu siswa menyesuaikan nada dasar dan melatih kekompakan dalam tempo. Namun, beberapa siswa mengalami kesulitan saat menyanyikan bagian-bagian tembang macapat Pangkur Paripurna Laras Slendro Pathet Sanga yang memiliki frasa panjang, terutama dalam hal proyeksi suara dan konsistensi nada. Selain itu, keterlibatan siswa belum sepenuhnya merata. Masih terdapat siswa yang bersikap pasif yang kemungkinan disebabkan oleh ketidakbiasaan mereka terhadap struktur musikal tembang macapat serta belum sepenuhnya menguasai cara memanfaatkan fitur-fitur dalam aplikasi secara optimal. Meskipun demikian, skor rata-rata naik menjadi 74,3, terutama pada aspek greng karena aplikasi mendorong siswa lebih berani mencoba bersuara keras sesuai contoh. Oleh karena itu, proses pembelajaran ini selanjutnya dapat mengacu pada temuan Matvienko dan Tsyvin . Nduru dan Genua . Pennefather . Phillips & Lund . , serta Rassokhina et al. yang menekankan bahwa pendampingan dan latihan intensif tetap dibutuhkan agar siswa dapat beradaptasi dengan format pembelajaran yang baru meskipun media digital mampu meningkatkan aspek performatif. Refleksi atas pelaksanaan siklus I menjadi landasan penting dalam menyusun perbaikan strategi pembelajaran pada siklus II. Pada siklus II, aktivitas diperbaiki melalui latihan individu. Siswa diminta menggunakan aplikasi untuk menyesuaikan nada awal, mengulangi bagian-bagian sulit, dan memanfaatkan fitur pengulangan tempo. Guru memberi umpan balik langsung. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Peningkatan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat pada siswa SMA melalui pemanfaatan aplikasi e-srambahan sementara siswa berpasangan untuk saling menilai performa. Aktivitas ini membuat siswa lebih mandiri dalam berlatih, sekaligus meningkatkan keberanian tampil di depan kelas. Hasilnya, hampir seluruh siswa lebih percaya diri, tempo kian stabil, dan kekuatan vokal menjadi terkontrol. Skor rata-rata meningkat menjadi 83,2 dengan ketuntasan 91,7% . dari 36 sisw. Refleksi pada siklus II ini mengonfirmasi temuan Henry . Islapirna et al. Menrisal . Muhsen . , dan Ulzheimer et al. bahwa strategi pembelajaran berbasis media digital yang dipadukan dengan pendekatan interaktif mampu menjawab hambatan teknis sekaligus meningkatkan motivasi serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Selain dari segi peningkatan keterampilan siswa, penelitian ini juga memaparkan adanya peningkatan minat dan sikap positif siswa terhadap pembelajaran tembang macapat. Berdasarkan hasil angket dan observasi, rata-rata minat belajar siswa meningkat dari 59,5% pada prasiklus menjadi 72% pada siklus I dan 86% pada siklus II. Peningkatan terbesar terjadi pada aspek keterlibatan aktif dalam pembelajaran . ari 61% menjadi 88%) dan perasaan senang mengikuti pembelajaran . ari 58% menjadi 85%). Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi ESrambahan berhasil membuat kegiatan belajar terasa lebih interaktif dan menyenangkan karena siswa dapat berlatih secara mandiri dengan panduan audio serta visual yang interaktif. Peningkatan minat ini juga berdampak langsung terhadap keterampilan menembang siswa, sebab semakin tinggi ketertarikan mereka terhadap pembelajaran, semakin besar pula usaha untuk memperbaiki kemampuan menyanyikan tembang macapat. Hasil peningkatan minat siswa dalam pembelajaran tembang macapat ini mendukung temuan Kang & Wu . dan Schnell et al. yang menyatakan bahwa minat belajar yang tumbuh dari rasa senang dan keterlibatan aktif akan mendorong peningkatan hasil belajar secara keseluruhan. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan dan minat menyanyikan tembang macapat siswa kelas X-2 SMAN 13 Surabaya melalui aplikasi E-Srambahan. Hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis bagi pelaksanaan pembelajaran selanjutnya. Penerapan aplikasi E-Srambahan dapat dijadikan acuan bagi guru dalam menentukan media pembelajaran yang bersesuaian dengan kebutuhan peserta didik serta konteks lingkungan sekolah. Integrasi teknologi dalam kurikulum mendukung terciptanya pengalaman belajar yang sesuai dengan perkembangan zaman (Fathurrahman et al. , 2. Guru bahasa Jawa dituntut mampu merancang pembelajaran yang inovatif, menyenangkan, serta menumbuhkan minat siswa terhadap tembang macapat melalui pemanfaatan media digital. Begitu pula, sekolah juga seyogianya tidak hanya memfasilitasi guru bahasa Jawa, tetapi semua guru untuk mengikuti pelatihan reguler yang kaitannya dengan pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran. Inovasi berbasis teknologi dalam pembelajaran tembang macapat membawa dampak positif bagi proses belajar siswa. Penutup Penelitian ini membuktikan bahwa pemanfaatan aplikasi E-Srambahan dapat meningkatkan keterampilan dan minat siswa kelas X-2 SMAN 13 Surabaya dalam menyanyikan tembang macapat, baik dalam aspek pleng, ngeng, maupun greng yang sebelumnya menjadi kendala utama dalam pembelajaran tembang macapat secara konvensional. Implementasi pembelajaran berbasis digital yang semacam ini dapat mendorong keterlibatan siswa secara aktif serta memberikan ruang bagi pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap keragaman latar budaya siswa, khususnya di SMAN 13 Surabaya yang bersifat heterogen. Peningkatan minat keterampilan yang dicapai menunjukkan bahwa penggabungan unsur lokal dan teknologi mampu menjembatani kesenjangan antara budaya lokal dan generasi digital. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi media digital berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa Jawa untuk meningkatkan partisipasi siswa menyanyikan tembang macapat sebagai produk kebudayaan Jawa. Atas dasar ini, guru memiliki alternatif untuk menggunakan aplikasi digital sejenis dalam mengoptimalkan kegiatan pembelajaran tembang Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1039Ai1056 Ahmad Rizky Wahyudi. Darni, & Octo Dendy Andriyanto macapat dan sekolah perlu mendukung pengembangan sarana pembelajaran digital berbasis budaya Penelitian ini dapat membuka peluang bagi pengembangan aplikasi serupa yang dapat diperluas hingga genre sastra lisan Nusantara lainnya. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan melalui pengembangan fitur E-Srambahan berbasis kecerdasan buatan guna menyesuaikan laras dan tempo secara otomatis sesuai karakter vokal pengguna, serta uji efektivitas lintas sekolah dengan tingkat latar budaya yang lebih beragam atau bahkan adanya keterlibatan siswa etnis nonJawa untuk mengukur daya adaptasi dan generalisasi aplikasi ini secara lebih luas. Daftar Pustaka