Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 JURNAL TEKNIK INDUSTRI MANAJEMEN DAN MANUFAKTUR JURNAL TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 https://ejournal. id/index. php/jtim Perancangan sistem kerja dan ergonomi beban kerja mental pada apoteker dan asisten apoteker Siti Ibtidaul Chasanah*. Debby Ganesha. Yuliana. Enda Apriani Teknik Industri. Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Indonesia Email: 21440410001@student. ABSTRAK Dalam aktivitas sehari-hari, manusia memanfaatkan fisik dan pikirannya, dengan besarnya tenaga fisik dan mental yang dikeluarkan bergantung pada beban pekerjaan yang dilakukan. Di lingkungan kerja, beban kerja dapat memengaruhi berbagai sistem dalam lingkungan tersebut, termasuk sistem Oleh karena itu, diperlukan perancangan sistem kerja dan ergonomi yang tepat agar tidak menimbulkan kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban kerja mental yang dialami oleh apoteker dan asisten apoteker di apotek X. Pengukuran beban kerja mental dilakukan terhadap 10 responden yang bekerja dalam tiga shift . agi, sore, dan mala. , dengan rentang usia 18-28 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Metode yang digunakan untuk mengukur beban kerja mental adalah NASA-TLX, yang menghasilkan skor untuk tingkat beban kerja mental yang dialami oleh para pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor beban kerja mental tergolong tinggi, dengan rentang nilai 50-79, kecuali pada asisten apoteker 1 yang memiliki nilai antara 30-49, menunjukkan beban kerja yang agak tinggi. Apoteker 2 tercatat memiliki skor tertinggi, yaitu 75,6, yang menunjukkan bahwa apoteker tersebut memiliki jobdesk yang lebih berat dibandingkan dengan apoteker lainnya. Kata kunci: sistem kerja, ergonomi, beban kerja mental ABSTRACT In daily activities, humans utilize their physical and mental abilities, with the amount of physical and mental energy expended depending on the workload being carried out. In the work environment, workload can affect various systems in the environment, including the health system. Therefore, it is necessary to design the right work system and ergonomics so as not to cause This study aims to analyze the mental workload experienced by pharmacists and pharmacist assistants at pharmacy X. Mental workload measurements were carried out on 10 respondents who worked in three shifts . orning, afternoon, and nigh. , with an age range of 18-28 years, both male and female. The method used to measure mental workload is NASA-TLX, which produces a score for the level of mental workload experienced by The results of the study showed that the mental workload score was relatively high, with a range of values 50-79, except for pharmacist assistant 1 who had a value between 30-49, indicating a rather high workload. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 Pharmacist 2 was recorded as having the highest score, namely 75. 6, which indicates that the pharmacist has a heavier jobdesk compared to other Keywords: work system, ergonomics, mental workload Diterima Redaksi: 22 April 2024 Selesai Revisi: 24 April 2024 Diterbitkan Online: 30 April 2025 PENDAHULUAN Saat ini sistem kesehatan di berbagai negara dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat (Yulaika, 2. Pada kehidupan sehari-hari, manusia secara normal bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dalam menjalankan aktivitasnya manusia menggunakan fisik dan pikirannya. Besarnya tenaga fisik dan mental yang ditimbulkan tergantung pada pekerjaan yang dilakukan. Pengeluaran energi dapat diukur dengan metode seperti kalometri tidak langsung, yang meskipun akurat, sering kali mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari (Gaesser et al. , 2. (Halsey et al. , 2. (Perrett et al. , 2. Oleh karena itu diperlukan adanya perancangan sistem kerja dan ergonomi agar tidak menimbulkan kelelahan. Beban kerja fisik dan beban kerja mental erat kaitannya dengan kajian ergonomi (Hikam et al. , 2. Permasalahan ergonomi berfokus pada perancangan sistem produksi yang tidak hanya efisien dan produktif, tetapi juga menguntungkan serta menjamin keselamatan dan kenyamanan bagi para pekerja (Abdous et al. , 2. Perancangan sistem kerja adalah suatu ilmu yang terdiri dari teknik-teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan rancangan terbaik dari sistem kerja yang bersangkutan. Sedangkan ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang secara sistematis memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik secara EASNE (Efektif. Aman. Sehat. Nyaman, dan Efisie. Adapun tujuan dari ergonomi adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang utuh tentang permasalahan-permasalahan interaksi manusia dengan lingkungan kerja. Banyak perusahaan masih bergantung pada pekerja manusia karena keterampilan kognitif dan motorik mereka. Namun, mengabaikan faktor manusia dapat menyebabkan kelelahan, ketidaknyamanan, dan cedera, yang berdampak negatif pada kinerja sistem (Vijayakumar et al. , 2. Pada lingkungan kerja akan timbul beban kerja, yaitu interaksi antara kebutuhan tugas/pekerjaan, kondisi kerja, keterampilan tingkah laku dan persepsi pekerja sesuai dengan kapasitas pekerja. Kapasitas adalah kemampuan manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. Ketika seorang pekerja bekerja diatas kemampuannya akan menimbulkan beban kerja, salah satunya adalah beban kerja Hal ini sangat berpengaruh pada tingkat kepuasan dalam bekerja karena menyangkut pada hal psikologis yang sering terjadi. Beban kerja mental memiliki hubungan negatif dengan kepuasan kerja. Pekerja yang mengalami beban kerja mental tinggi cenderung memiliki tingkat kepuasan kerja yang lebih rendah (Rostami et al. , 2. (Inegbedion et al. , 2. Berfokus pada pengukuran beban kerja mental, terdapat metode objektif ataupun subjektif yang dapat diterapkan. Tetapi pengukuran beban kerja mental secara objektif sangat jarang diterapkan karena mahal dan memiliki hasil yang tidak akurat. Oleh karena pengukur beban kerja mental umumnya menggunakan metode subjektif, karena lebih murah dan memiliki hasil yang lebih representatif, metode yang sering digunakan adalah NASA-TLX, merupakan instrumen yang paling umum digunakan dan telah divalidasi secara luas untuk mengukur tingkat beban kerja secara keseluruhan setelah menyelesaikan suatu tugas (Said et al. Metode NASA-TLX digunakan untuk menganalisis beban kerja mental seseorang dalam melakukan pekerjaannya (Saputra et al. , 2. Metode ini merupakan metode penelitian yang mengukur skor beban kerja secara multi-dimensional, yang mana terdapat 6 dimensi yang Dalam NASA-TLX dimensi yang diperhitungkan adalah Mental Demand. Physical Demand. Temporal Demand. Own Performance. Frustation Level, dan Effort (Nur et al. , 2. Beberapa penelitian yang menggunakan NASA-TLX untuk mengukur beban kerja mental menerapkan metode ini dengan pendekatan subjektif secara keseluruhan, dimana responden akan memberikan penilaian terhadap 6 dimensi yang ada sepenuhnya secara subjektif, berdasarkan apa yang dirasakan responden saat melakukan sebuah pekerjaan. Salah satu beban kerja mental yang sering dialami adalah pada pekerja yang berprofesi sebagai apoteker dan asisten apoteker. Kelelahan kerja pada apoteker dapat berdampak signifikan, antara lain penurunan mutu pelayanan kepada pasien, meningkatnya risiko terhadap keselamatan pasien, serta A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 tingginya tingkat pergantian tenaga kerja (Rahme et al. , 2. Tenaga apoteker dan asisten apoteker merasakan bahwa jumlah SDM yang ada tidak sebanding dengan jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan (Setiawan & Wulandari, 2. Untuk itu peneliti menggunakan metode NASA-TLX pada pengukuran beban kerja mental yang dialami oleh apoteker dan asisten apoteker agar dapat meningkatkan pelayanan dan produktivitas kerja kepada pasien. METODE PENELITIAN Penelitian ini melibatkan 10 responden yang bekerja sebagai apoteker dan asisten apoteker dengan rentang usia 18-28 tahun dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bekerja dalam 3 shift kerja, yaitu shift pagi, shift sore dan shift malam. Dari 10 orang responden tersebut diminta mengisi kuesioner data perbandingan indikator dan kuesioner rating. Beban kerja seluruh responden akan diukur menggunakan metode NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration Task Load Inde. merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis beban kerja mental yang dihadapi oleh pekerja yang harus melakukan berbagai aktivitas dalam pekerjaannya. Pengukuran metode NASA-TLX dibagi menjadi 2 tahap, yang pertama dengan perbandingan yang meliputi 6 dimensi, yaitu Mental Demand (MD). Physical Demand (PD). Temporal Demand (TD). Performance (OP). Effort (EF) dan Frustation Level (FR) (Nur et al. , 2. Kedua adalah pemberian rating skor terhadap pekerjaan yang Perbandingan (Pembobota. Pada bagian ini responden diminta untuk memilih salah satu dari dua indikator yang dirasakan lebih dominan menimbulkan beban kerja mental terhadap pekerjaan tersebut. Kuesioner NASA-TLX yang diberikan berupa perbandingan berpasangan. Dari kuesioner ini dihitung jumlah tally dari setiap indikator yang dirasakan paling berpengaruh. Jumlah tally menjadi bobot untuk tiap indikator beban Berikut tabel perbandingan indikator NASA-TLX ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan . NASA-TLX Pengisian tabel perbandingan seperti yang ditampilkan pada Tabel 1 tersebut diisi oleh responden yang kemudian akan direkapitulasi. Pemberian Rating Skor Pada bagian ini responden diminta memberi rating terhadap keenam indikator beban mental. Rating yang diberikan adalah subyektif tergantung pada beban mental yang dirasakan oleh responden tersebut. Untuk mendapatkan skor beban mental NASA-TLX, bobot dan rating untuk setiap indikator dikalikan kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan 15 . umlah perbandingan Berikut skala rating dari NASA TLX ditampilkan pada Gambar 1. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 Gambar 1. Rating NASA-TLX HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah 10 responden mengisi kuesioner perbandingan dan rating NASA-TLX dan data telah diolah maka hasil data tersebut akan dijabarkan pada bagian pembahasan berikut: Perhitungan Nilai Pembobotan Diperoleh dengan mengalikan rating dengan bobot faktor untuk masing-masing deskriptor. Dengan demikian dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator Mental Demand (MD). Physical Demand (PD). Temporal Demand (TD). Performance (OP). Frustation Level (FR). Effort (EF). Berikut hasil perhitungan nilai produk ditampilkan pada Tabel 2. Tabel 2. Perhitungan nilai pembobotan Indikator Pekerjaan Asisten Apoteker 1 Asisten Apoteker 2 Asisten Apoteker 3 Asisten Apoteker 4 Asisten Apoteker 5 Asisten Apoteker 6 A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 Indikator Pekerjaan Asisten Apoteker 7 Apoteker 1 Apoteker 2 Apoteker 3 Perhitungan Weighted Workload (WWL) Perhitungan Weighted Workload dapat diperoleh dengan menjumlahkan keenam nilai produk, sehingga perhitungan WWL telah diperoleh dengan ditampilkan pada Tabel 3 berikut. Pekerjaan Asisten Apoteker 1 Asisten Apoteker 2 Asisten Apoteker 3 Asisten Apoteker 4 Asisten Apoteker 5 Asisten Apoteker 6 Asisten Apoteker 7 Apoteker 1 Apoteker 2 Apoteker 3 Tabel 3. Perhitungan weighted workload (WWL) Indikator WWL Uji Keseragaman Data Uji keseragaman data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh seragam, sedangkan uji kecukupan data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diambil sudah cukup atau belum. Uji keseragaman data dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Setelah mendapatkan nilai Ex dan E, selanjutnya dilakukan perhitungan nilai Batas Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah. Nilai BKA dan BKB merupakan dua parameter yang digunakan dalam uji keseragaman data. Nilai ini diperoleh dari rumus berikut: Sebelum dilakukan uji keseragaman data perlu menghitung rata-rata WWL dengan membagi WWL dengan jumlah bobot total, agar dapat diperoleh nilai Batas Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB). Berikut hasil perhitungan rata-rata WWL ditampilkan pada Tabel 4 berikut. Pekerjaan Asisten Apoteker 1 Asisten Apoteker 2 Asisten Apoteker 3 Asisten Apoteker 4 Asisten Apoteker 5 Asisten Apoteker 6 Tabel 4. Hasil perhitungan rata-rata WWL Indikator 8,67 8,67 5,33 7,33 3,67 3,33 5,33 3,33 7,33 5,33 Total A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 Pekerjaan Asisten Apoteker 7 Apoteker 1 Apoteker 2 Apoteker 3 Indikator 5,33 4,67 9,33 6,67 5,67 4,67 Total Uji Keseragaman data untuk hasil kuesioner adalah sebagai berikut: Ocycuycn ycuI = ycu 43,3 58,3 73,3 71,6 66,6 53,3 73,6 63,3 75,6 64 = 64,29 yua=Oo Oc. cuycn Oe ycuI )2 ycuOe1 Oc. ,9Oe64,. 2 =Oo 10Oe1 = 8,018 BKA = ycuI 3yua = 64,29 3 . = 64,29 24,05 = 88,34 BKB = ycuI 3yua = 64,29 Ae 3 . = 64,73 Ae 24,05 = 40,68 Dari hasil perhitungan diatas diperoleh hasil uji keseragaman data ditampilkan pada Tabel 5 berikut. Tabel 5. Hasil uji keseragaman data Pekerjaan x bar BKA BKB Asisten Apoteker 1 64,29 8,018 88,34 40,68 Asisten Apoteker 2 64,29 8,018 88,34 40,68 Asisten Apoteker 3 64,29 8,018 88,34 40,68 Asisten Apoteker 4 64,29 8,018 88,34 40,68 Asisten Apoteker 5 64,29 8,018 88,34 40,68 Asisten Apoteker 6 64,29 8,018 88,34 40,68 Asisten Apoteker 7 64,29 8,018 88,34 40,68 Apoteker 1 64,29 8,018 88,34 40,68 Apoteker 2 64,29 8,018 88,34 40,68 Apoteker 3 64,29 8,018 88,34 40,68 Dari hasil perhitungan yang direkapitulasi pada Tabel 5 menunjukkan nantinya akan diolah pada tahap selanjutnya bisa dikatakan seragam. Nilai rata-rata skor NASA-TLX adalah sebesar 64,29. Kemudian untuk standar deviasi diperoleh hasil sebesar 8,018. Nilai BKA diperoleh sebesar 88,34 dan nilai BKB sebesar 40,68. Hasil ini menunjukkan tidak ada data yang nilainya melewati nilai batas kontrol bawah maupun nilai batas kontrol atas, seperti yang terlihat pada Gambar 2 berikut. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 BKA BKB Gambar 2. Grafik uji keseragaman data Uji Kecukupan Data Uji kecukupan data merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah jumlah data dalam kuesioner yang didapatkan telah memenuhi jumlah pengamatan yang dibutuhkan dalam pengukuran atau belum dengan tingkat ketelitian yang sudah ditentukan. Uji kecukupan data dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Dimana: - Untuk tingkat kepercayaan 95% maka nilai k = 2 - Untuk tingkat ketelitian 10% maka nilai s = 0,1 Jika hasil perhitungan NAo < N maka dapat dikatakan jika data yang diperoleh telah mencukupi untuk menjadi bahan penelitian dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 10%. Berikut merupakan perhitungan uji kecukupan data: 2/0,1Oo10. Oe. 20Oo10. Oe. = 9,22142 Berdasarkan hasil perhitungan dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 10% diperoleh hasil NAo sebesar 9,22142. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai NAo lebih kecil dari N, yaitu 9,22142< 10 maka dapat dikatakan bahwa data yang diperoleh mencukupi untuk di uji dengan tingkat kepercayaan 95% dan ketelitian 10%. Klasifikasi Skor NASA-TLX Dari total rata-rata WWL yang didapatkan, maka berdasarkan Tabel 3 didapatkan kategori pada setiap pekerjaan asisten apoteker dan apoteker seperti yang ditampilkan pada Tabel 6 berikut. Pekerjaan Tabel 6. Klasifikasi skor NASA-TLX Nilai Beban Kerja Kategori Asisten Apoteker 1 Agak Tinggi Asisten Apoteker 2 Tinggi Asisten Apoteker 3 Tinggi Asisten Apoteker 4 Tinggi A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC123-131iC2025 Pekerjaan Nilai Beban Kerja Kategori Asisten Apoteker 5 Tinggi Asisten Apoteker 6 Tinggi Asisten Apoteker 7 Tinggi Apoteker 1 Tinggi Apoteker 2 Tinggi Apoteker 3 Tinggi Dalam teori NASA-TLX, skor beban kerja yang diperoleh terbagi dalam beberapa bagian, ditampilkan pada Tabel 7 berikut: Tabel 7. Klasifikasi beban kerja Golongan Beban Kerja Nilai Rendah 0Ae9 Sedang 10 Ae 29 Agak Tinggi 30 Ae 49 Tinggi Sangat Tinggi 50 Ae 79 80 Ae 100 Output yang dihasilkan dari pengukuran dengan NASA-TLX ini berupa tingkat beban kerja mental yang dialami oleh pekerja. Berdasarkan pada Tabel 7 hasil skor NASA -TLX tergolong tinggi, yaitu dengan rentang nilai 50-79, kecuali pada asisten apoteker 1 memiliki nilai antara 30-49 sehingga memiliki beban kerja agak tinggi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan data pada penelitian dengan metode NASA-TLX maka dapat disimpulkan bahwa: Hampir semua pekerja berada dalam kategori beban kerja mental tinggi kecuali pada asisten apoteker 1 memiliki beban kerja mental agak tinggi. Apoteker yang memiliki nilai beban kerja mental tertinggi adalah apoteker 2 dengan skor 75,6. Apoteker 2 memang memiliki jobdesk yang terbilang cukup tinggi, karena selain melayani konsultasi pelayan obat keduanya merupakan apoteker penanggungjawab yang memiliki tanggungjawab terbesar terhadap keberlangsungan pelayanan di apotek, pasien dan asisten Untuk mengurangi beban kerja mental tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi beban kerja apoteker penanggungjawab dengan membagi tanggungjawabnya kepada apoteker pendamping untuk mengelola apotek. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Teknik Universitas Proklamasi 45 atas dukungan yang diberikan dalam publikasi jurnal ini. DAFTAR PUSTAKA