Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article The Role Of Family Knowledge In The Incidence Of Pulmonary Tuberculosis Peran Keluarga Dan Pengetahuan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Eva Yustati Program Studi Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Al-MaAoarif Baturaja *Corresponding Author: Eva Yustati Program Studi Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AlMaAoarif Baturaja Email: eva_yustati@yahoo. Keyword: Pulmonary TB. Family Support Kata Kunci: TBC Paru. Peran keluarga, pengetahuan A The Author. 2025 Abstract Tuberculosis can be caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis, which attacks the lungs in 80% of cases. Socioeconomic conditions, age, gender, family knowledge and support, nutritional status, and smoking habits are some of the factors that influence pulmonary TB disease. This study aims to investigate the role of family support and knowledge in cases of pulmonary TB at the Lubuk Rukam Community Health Center, although smoking is not the main cause of the disease. Cross-sectional study of the population of TB patients who came to the polyclinic, consisting of 125 patients aged 23 to 50 years. Samples taken by chance from 80 samples in this study showed the results of univariate analysis of 12. 5 percent, suffering from pulmonary TB who did not suffer 87. percent, 20. 0 percent, and lack of knowledge 80. 0 percent. There is family support of 25. and no family support of 75. Bivariate analysis showed that the p value of 0. indicates that statistically there is a significant relationship between knowledge and the incidence of pulmonary tuberculosis. Meanwhile, family support had a p-value of 0. Statistically, there was a significant relationship between family support and the incidence of pulmonary TB. Conclusion: There was a significant relationship between understanding and family support and the incidence of pulmonary tuberculosis at the Lubuk Rukam Community Health Center. Abstrak Article Info: Received : August 25, 2025 Revised : September 10, 2025 Accepted : September 17, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Tuberkolosis bisa disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang menyerang organ paru-paru 80% dari situasi ini. Kondisi sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, pengetahuan dan dukungan keluarga, status gizi, dan kebiasaan merokok adalah beberapa faktor yang mempengaruhi penyakit TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peran dukungan keluarga dan pengetahuan dalam kasus TB Paru di Puskesmas Lubuk Rukam, meskipun merokok bukanlah penyebab utama penyakit tersebut. Penelitian crosectional populasi pasien TB yang datang ke poli, yang terdiri dari 125 pasien berusia 23 hingga 50 tahun. Sampel yang diambil secara kebetulan dari 80 sampel dalam penelitian ini menunjukkan hasil analisis univariat 12,5 persen, menderita TB paru yang tidak menderita 87,5 persen, 20,0 persen, dan pengetahuan kurang pengetahuan 80,0 persen. Terdapat dukungan keluarga sebesar 25,0% dan tidak adanya dukungan keluarga sebesar 75,0%. Analisis Bivariat menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,003 mengindikasikan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan kejadian Tuberkulosis Paru. Sementara itu, dukungan keluarga memiliki nilai p sebesar 0,002. Secara statistik, terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan terjadinya TB paru. Kesimpulan. Terdapat keterkaitan yang signifikan antara pemahaman dan dukungan dari keluarga terhadap kejadian Tuberkulosis Paru di Puskesmas Lubuk Rukam PENDAHULUAN Tuberkulosis Paru merupakan penyakit infeksi yang dapat menular dan menjadi salah satu penyebab kematian di berbagai penjuru dunia. Sebelum pandemi COVID-19. Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit dengan angka kematian tertinggi setelah penyakit HIV/AIDS. Penyebab tuberculosis paru adalah Mycobacterium tuberkulosis yang keluar dari pasien tuberculosis paru saat mereka bersin, batuk, atau berbicara. Sekitar 25% populasi dunia diperkirakan telah terinfeksi oleh bakteri tuberkulosis, tetapi mayoritas dari mereka tidak menunjukkan gejala penyakit dan sejumlah orang akan sembuh dari infeksi tersebut. Sekitar 5 hingga 10% individu yang terinfeksi bakteri tuberkulosis akan mengalami tanda dan gejala serta menderita penyakit TB Paru. Pada tahun https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 2021, terdapat sekitar 10,6 juta kasus TB Paru di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, enam juta adalah laki-laki, tiga juta empat ratus ribu adalah perempuan, dan satu juta dua ratus ribu adalah anak-anak. TB paru dapat ditemukan di seluruh negara dan di semua kelompok usia. Tuberkulosis paru yang resisten terhadap banyak obat (TB MDR) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan mengancam keamanan Pada tahun 2022, hanya sekitar 1 dari 3 pasien MDR TB yang berhasil mendapatkan akses terhadap pengobatan. Penyakit TB Paru di Indonesia merupakan isu kesehatan masyarakat yang kompleks dan berpengaruh, karena efeknya meluas ke bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Berdasarkan Laporan Global Tuberulosis. Indonesia memiliki jumlah pasien TB Paru tertinggi kedua di dunia, setelah India. Pada tahun 2021, kasus TB Paru di Indonesia 000 orang . Estimasi angka kematian akibat Tuberkulosis Paru adalah sekitar 144. 000 pendudu. Pada tahun 2020-2021, insiden TBC Paru mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2019-2020, dan demikian pula tercatat peningkatan angka kematian akibat penyakit TBC. Lima provinsi dengan jumlah kasus TBC Paru paling tinggi adalah provinsi dengan populasi besar, yaitu: Jawa Tengah. Jawa Timur, dan Jawa Barat. Jumlah pasien TB Paru dari ketiga provinsi tersebut mencapai 44% dari total pasien TB Paru di seluruh Indonesia. Tuberkulosis Resistan Multidrug (MDR TB) menjadi tantangan serius bagi kesehatan dan keselamatan publik, di mana pada tahun 2020 hanya satu dari tiga individu yang dapat mendapatkan akses terhadap 9 Tercatat bahwa jumlah penderita MDR TB di Indramayu pada tahun 2022 sebanyak 33 orang. Dari total 24 Puskesmas di Indramayu yang mengalami kejadian MDR, jumlah kasus MDR tertinggi terdapat pada tiga Puskesmas, yaitu Puskesmas Kedokanbunder. Puskesmas Karangampel, dan Puskesmas Kroya, dengan masing- masing tercatat sebanyak tiga orang. Selanjutnya, dari ketiga Puskesmas yang ada, jumlah pasien TB Paru tertinggi pada tahun 2022 terdapat di 14 kecamatan . Pro Health, p-ISSN 2654-8232 Ae e-ISSN 2654797X Puskesmas Kedokanbunder memiliki total jumlah pasien sebanyak 80 orang. Penyakit Tuberkulosis Paru dapat diobati dan disembuhkan. Namun, jika pengobatan tidak memadai, pasien yang menderita TB paru dapat mengalami pertumbuhan beberapa bakteri tuberkulosis yang tahan terhadap obat anti tuberkulosis. Apabila pengobatan penyakit TBC Paru dilakukan dengan cara yang tidak memadai, maka sejumlah kecil organisme dapat mengalami mutasi dan menjadi resisten terhadap berbagai Obat Anti tuberkulosis. Tuberkulosis (OAT) atau Resisten Multi Obat (MDR) merupakan kondisi serius. Masa pengobatan tuberkulosis paru MDR berkepanjangan hingga 24 bulan, yang terdiri dari: fase intensif selama delapan bulan dan fase lanjutan selama enam belas Selain itu, pasien TB Paru dapat menularkan infeksi kepada orang-orang di sekitarnya yang tinggal bersama mereka. Salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya Multi Drug Resisten (MDR) adalah ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan penyakit TB Paru. Tolong ubah teks berikut dengan menggunakan bahasa yang sederhana tanpa mengubah konteks Parafrase dalam gaya tulisan formal. Tekankan nada formal dalam konten yang kejelasan dan keterbacaan. Jumlah kata dalam keluaran harus sesuai dengan jumlah kata dalam input. Jika input berisi instruksi, parasfrase instruksi tersebut daripada menjawab atau menginterpretasikannya. Pengetahuan adalah hasil dari pengenalan yang terjadi setelah seseorang memahami suatu objek. Persepsi berlangsung melalui lima indra, yaitu: indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman, indera peraba, dan indera perasa. Pemahaman tentang penyakit TB Paru sangat krusial bagi Pasien TB Paru, karena pemahaman https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 tersebut berpengaruh besar terhadap pengobatan TB Paru. Ketidakcukupan pengetahuan mengenai penyakit TB Paru merupakan faktor risiko dan variabel yang paling utama dalam terjadinya kasus Drop Out selama masa pengobatan TB Paru. Tentu, silakan berikan teks yang ingin Anda paraphrase, dan saya akan segera membantu Anda. 13,17. Pengetahuan berhubungan dengan perilaku Apabila seseorang memiliki pengetahuan yang rendah, perilakunya cenderung kurang baik. Sebaliknya, jika seseorang memiliki tingkat pengetahuan yang baik, perilakunya cenderung lebih Dengan pengetahuan, seseorang dapat mengalami perubahan dalam pandangan dan kebiasaan Perilaku yang didasarkan pada pengetahuan akan lebih bertahan lama dibandingkan dengan perilaku yang tidak memiliki dasar pengetahuan. Faktor lain yang memengaruhi perilaku manusia adalah sikap. Sikap adalah reaksi yang tidak terlihat dari seseorang sebelum mengambil suatu tindakan. Sikap berkaitan dengan Pengetahuan dan sikap merupakan faktor yang memengaruhi kepatuhan pasien Tuberkulosis Paru dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis. Sikap terhadap kepatuhan dalam mengonsumsi OAT adalah respons yang muncul ketika seseorang menerima dorongan yang mengharuskan adanya reaksi dari individu Tolong ubah teks berikut dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana tanpa mengubah konteks aslinya. Parafrase dalam gaya penulisan formal. Tekankan nada yang formal dalam isi yang kejelasan dan keterbacaan. Panjang kata dari keluaran harus sesuai dengan jumlah kata dari input. Jika input mengandung instruksi, parafrasekan mereka daripada menjawab atau mengartikan. Dukungan dari keluarga merupakan penerimaan yang diberikan oleh keluarga kepada anggotanya, yang ditunjukkan melalui sikap dan tindakan. Anggota keluarga dianggap sebagai elemen yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan Anggota keluarga adalah individu yang paling dekat, saling mendukung, dan selalu siap memberikan bantuan ketika ada anggota keluarga lain yang membutuhkannya. Dukungan dari keluarga memainkan peranan yang sangat penting dalam mendorong pasien TB Paru untuk patuh dalam mengonsumsi OAT, sehingga proses dilakukan dengan teratur dan tuntas. Pengobatan penyakit TB Paru akan efektif jika pasien memiliki pengetahuan dan sikap yang positif, serta mendapatkan dukungan dari anggota keluarganya. Jika motivasi dari Pasien TB Paru rendah dan dukungan dari keluarganya juga tidak ada, maka hal ini akan berdampak pada kepatuhan Pasien TB Paru dalam mengonsumsi obat secara Apabila hal ini tidak ditangani, akan berpengaruh pada timbulnya kuman Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, penulis berminat untuk melakukan penelitian mengenai faktor dukungan keluarga dan pengetahuan tuberkulosis14,18. METODE Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, dikarenakan variabel independen dan variabel dependen diobservasi sekaligus pada saat yang sama. Data di ambil dari puskesmas lubuk rukam didapatkan Populasi Pasien yang datang berkunjung ke poli Tb paru yaitu berjumlah 125 dari Januari Ae Maret 2025. Sampel dalam penelitian ini diambil secara accidental sampling yaitu responden yang datang pada saat penelitian saja sebanyak 80 Tempat penelitian dilakukan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Lubuk Rukam OKU dengan teknik wawancara kepada responden menggunakan kuisioner. Waktu pelaksanaan penelitian ini atau pengumpulan data dilakukan selama bulan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 April Ae Juni 2025. Sebelum pengumpulan data responden diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang penelitian yang akan dilakukan kemudian meminta responden untuk mengisi form persetujuan menjadi responden. Hasil dari kuesioner kemudian dilakukan tabulasi dengan analisis univariat kemudian dilanjutkan dengan Analisa bivariat untuk melihat hubungan dari semua variabel dengan uji chi square melihat nilai pvalue <0,05. Keterbatasan dalam penelitian ini tidak dapat menunjukkan hubungan kausal HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Tabel 1 Distribusi Frekuensi Masing-Masing Variabel Yang Diteliti Di Di UPTD Puskesmas Lubuk Rukam OKU Tahun 2025. Variabel Jumlah Persentase Kejadian TB Paru Tidak Pengetahuan Kurang Baik Dukungan Keluarga Rendah Tinggi Berdasarkan table 1, sebanyak 10 orang dukungan keluarga 20 . 0%) Tidak ada . 5%) menderita TB paru sedangkan yang dukungan keluarga 60 . ,0%). tidak menderita sebanyak 70 . 5%), Analisis Bivariat pengetahuan kurang 16 . sedangkan untuk pengetahuan baik 64 . 0%) . Ada Tabel 2 Analisis Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Lubuk Rukam Kabupaten OKU Variabel Kejadian TB Paru Tidak Jumlah A Value Pengetahuan Kurang Baik 0,003 Dukungan Keluarga Tidak ada Ada Dari hasil analisis bivariat dengan uji statistik Chi-Square menunjukkan bahwa, ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian TB paru yaitu dengan nilai p value 0. Ada 0,002 dukungan keluarga dengan kejadian Tb paru di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lubuk rukam Tdengan nilai p value 0. Hasil Analisa Univariat dari 80 responden https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 terdapat 16 responden . 0%) yang pengetahuan kurang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang pengetahuan baik yaitu 64 responden ( 80. 0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan p value 0,003, yang artinya ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian TB Paru Di UPTD Puskesmas Lubuk Rukam Kabupaten OKU tahun 2025. Pemahaman termasuk pendidikan (Afandi, 2017 ), pengalaman, serta sarana yang tersedia. Ketika seseorang menerima informasi, baik dari individu lain maupun melalui media massa, semakin banyak informasi yang diterima, semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh mengenai Pernyataan ini sejalan dengan temuan penelitian Soejadi . dalam (Afandi 2. , yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tingkat pengetahuan terhadap kejadian kasus TB. Pengetahuan merujuk pada informasi yang dimiliki dan pengertian TB Paru, dampak samping, faktor penyebab TB Paru, metode penularan TB Paru, kebiasaan yang dapat memperburuk kondisi penderita TB Paru, gejala-gejala menderita TB Paru, sifat menular dari TB Paru, langkah-langkah pencegahan penularan TB Paru, tindakan untuk mencegah penularan TB Paru, serta langkah-langkah yang harus dilakukan jika mengalami batuk selama satu bulan. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam mengarahkan perilaku individu ke arah yang lebih 3 Penelitian yang dilaksanakan oleh Nurhaini 2019 menunjukkan bahwa dari responden kasus, terdapat 22 orang . ,7%) pengetahuan rendah, sedangkan pada responden kontrol terdapat 11 orang . ,3%). Hasil pengujian menunjukkan nilai p sebesar 0,015 10. Hasil analisa univariat dari 110 responden sebanyak 45 . ,9%) kualitas fisik air bersih tidak memenuhi syarat lebih kecil dibandingkan dengan kualitas fisik air yang memenuhi syarat yaitu sebanyak 65 . ,1%). Hasil Uji statistik Chi-Square di peroleh p value 0,000. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara kualiatas fisik air dengan kejadian Stunting pada balita. Pada dasarnya, kualitas fisik air tidak terlepas dari asal air itu diperoleh. Dari hasil penelitian ini, menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan kejadian tb paru, hal ini dapat terjadi karena berdasarkan hasil data sumber air pada beberapa responden pengetahuan rendah12 Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Azizah, 2. faktor faktor yang hubungan dengan kejaidan TB Paru bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian TB paru di Desa Bena Nusa Tenggara Timur. Dengan nilai p value = 0,002. Hal ini berarti responden dengan pengetahuan rendah memiliki risiko lebih besar menderita TB paru Hasil Analisa Univariat dari 80 responden didapatkan hasil bahwa dari 80 responden, terdapat 20 responden . 0%) yang tidak ada dukungan keluarga lebih kecil bila dibandingkan dengan yang ada dukungan keluarga yaitu 60 responden . 0%). Hasil uji statistik dengan Chi-Square test menunjukkan p value 0,002, yang artinya ada hubungan yang bermakna antara Dukungan Keluarga dengan kejadian TB Paru 2. Keluarga https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 keadaan kesehatan anggota keluarganya agar tetap memiliki produktifitas tinggi keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan, kemampuan merawat anggota memodifikasi lingkungan agar tetap sehat memanfaatkan sarana kesehatan yang tersedia di lingkungannya13 Dukungan Keluarga merupakan sebuah bantuan motivasi yang diberikan kepada anggota keluarga untuk mecapai keinginan tertentu berupa nasihat, jasa, barang serta informasi yang mungkin bisa di butuhkan. Dukungan keluarga pada Penderita Tuberkulois bersifat mendukung akan kesehatan dan pemulihan untuk memiliki kualitas hidup yang baik. Dukungan yang diberikan bersifat tindakan serta sikap terhadap anggota keluarga yang sakit agar memiliki rasa kepedulian. Pasien penderita penyakit Tuberkulosis membutuhkan peran dalam dukungan keluarganya agar memiliki semsngat untuk sembuh dan untuk rutin meminum Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Peran keluarga sangat lah penting khususnya membantu memberikan perawatan tidak hanya fisik tetapi juga perawatan Dukungan keluarga dalam perawatan akan membantu pasien agar memiliki kualitas hidup yang lebih 10,20 Hal ini dapat dilihat pada Hasil Penelitian yang menunjukkan bahwa hampir emosional dan penghargaan yang baik dimana keluarga selalu mendampingi, mencintai, dan memperhatikan anggota keluarganya selama pengobatan. Hal ini sejalan dengan pernyataan dukungan keluarga yaitu dukungan emosional dan penghargaan dimana keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasan emosional. Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diterima oleh anggota keluarga berupa ungkapan empati, kepedulian, dihargai, perhatian, cinta, kepercayaan, rasa aman dan selalu mendampingi pasien dalam perawatan. Dukungan ini sangat penting dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak terkontrol karena seiring dengan lamanya waktu pengobatan, pasien Tuberkulosis membutuhkan orang terdekat yang tinggal dukungan emosional dan penghargaan yang cukup agar pasien merasa dicintai dan tetap semangat menjalani pengobatan. Pengetahuan rendah dan kuranganya peran keluarga terhadap kejadian Tb paru sangat mempengaruhi kejadian Tb di masyarakat 9,19 KESIMPULAN Kesimpulan menunjukkan bahwa dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan kejadian TB Paru serta pengetahuan yang baik juga berkontribusi pada kejadian Tb Dukungan mengingatkan pasien untuk minum obat meningkatkan motivasi dan kepatuhan dalam upaya penurunan kasus TB paru di Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan dukungan keluarga sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB paru. SARAN Saran Bagi penderita TB paru dan keluarga hendaknya tetap menjaga motivasi dan semangatnya dalam menjalani tahapantahapan pengobatan menjalankan anjuran- https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 anjuran yang diberikan petugas kesehatan dan melaksanakan anjuran tersebut, seperti tetap patuh dalam mengkonsumsi obatobatan dan memakai masker. Pihak keluarga juga sebaiknya meningkatkan perhatiannya pada anggota keluarga yang menderita TB paru dan memotivasi anggota keluarga tersebut agar menyelesaikan tahapan sampai tuntas dan mendukung apa-apa saja yang dibutuhkan pasien agar pengobatannya dapat berjalan optimal. Kemenkes RI. Petunjuk Teknis Managemen Dan Tatalaksana TB Tahun 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Kemenkes RI. Infodatin: Tuberculosis. Pusat Data Informasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 67 Tahun 2016. Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Nurhaini. Hidayati. Oktavia. Gambaran Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberculosis Di Balai Kesehatan Masyarakat (BALKESMAS) Wilayah Klaten. [Jurna. STIKES Muhammadiyah Klaten 3. Octavienty. Hafiz. Ihsanul. Khairani Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru (TB) Di UPT Puskesmas Simalingkar Kota Medan. [Jurn. Medan. Institut Kesehatan Helvetia. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Tuberkulosis (TBC). Jakarta Sekretariat Pengurus Pusat PPTI. Yani . Wahyuningsih. Hubungan Pengetahuan Dengan Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Di RSUD Dr. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN. [Jurna. Sukoharjo: POLTEKES Bhakti Mulia Sukoharjo. Rustiningsih. Sajidin. Suryantini. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pederita TB Paru Di Wilayah Kerja Pukesmas Modopuro Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto [Jurna. Mojokerto: STIKes Bina Sehat DAFTAR PUSTAKA