SOSFILKOM Volume XVI Nomor 01 Januari-juni 2022 AKULTURASI BUDAYA DALAM TRADISI SATU SURO DI LERENG GUNUNG KAWI KABUPATEN MALANG Tiara Risa Ninda Gramidia. Bagus Wahyu Setyawan Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung tiararisa699@gmail. com, bagus. wahyu@uinsatu. Abstrak Akulturasi budaya merupakan suatu perpaduan unsur budaya oleh seseorang atau bahkan sekelompok orang terhadap kebudayaan lain sebagai dampak atas interaksi antar budaya tersebut dengan tidak meninggalkan unsur budaya aslinya. Akulturasi budaya tersebut dapat terjadi dalam upacara adat, tradisi, maupun arsitektur bangunan. Penelitian ini mengkaji tentang akulturasi budaya yang terjadi dalam tradisi satu suro di daerah lereng Gunung Kawi. Kabupaten Malang. Tujuan dari penelitian ini untuk . mendeskripsikan hakikat akulturasi budaya, . mendeskripsikan bentuk akulturasi budaya dalam tradisi satu suro di lereng Gunung Kawi. Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan. Peneliti menggunakan internet untuk mendapatkan data penelitian. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah sumber data. Teknik pengumpulan data untuk memperoleh data dalam penelitian ini yaitu teknik dokumentasi dengan data atau variabel yang berupa catatan, artikel, atau jurnal. Instrumen pengumpulan data dalam bentuk verbal simbolik. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deduktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa akulturasi budaya yang terjadi pada tanggal satu suro di daerah lereng Gunung Kawi. Kabupaten Malang. Akulturasi tersebut terjadi antara budaya Jawa. Tionghoa dan budaya Islam yang tertuang dalam beberapa tradisi suran. Kata Kunci: Akulturasi budaya. Jawa. Satu Suro Abstract Cultural acculturation is a combination of cultural elements by a person or even a group of people against other cultures as a result of the interaction between these cultures by not leaving the original cultural elements. This cultural acculturation can occur in traditional ceremonies, traditions, and building architecture. This study examines the cultural acculturation that occurs in the one suro tradition on the slopes of Mount Kawi. Malang Regency. The purpose of this study is to . describe the nature of cultural acculturation, . describe the form of cultural acculturation in the one suro tradition on the slopes of Gunung Kawi. Malang Regency. This research uses literature study method. Researchers use the internet to get research data. While the data source used is the data source. Data collection techniques to obtain data in this study are documentation techniques with data or variables in the form of notes, articles, or journals. The data collection instrument is in the form of symbolic The data analysis technique used is deductive technique. The results of this study indicate that there are several cultural acculturations that occur on the first suro in the slopes of Mount Kawi. Malang Regency. The acculturation took place between Javanese. Chinese and Islamic cultures as contained in severaltraditions suran. Keywords: Cultural Acculturation. Java. One Suro PENDAHULUAN Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya akan kebudayaan dan tradisi dalam hal tersebut adalah suatu realita yang ada di tengah masyarakat multikultural sehingga mereka tidak bisa lepas dari beraneka ragam suku, agama, maupun Salah satu budaya dan tradisi itu Diterbitkan oleh FISIP UMC khususnya ada di Jawa. Di Jawa sangat kaya akan ritual, tradisi maupun kepercayaan budaya warisan nenek moyang hingga saat ini masih ada dan masih dipercayai oleh masyarakat setempat. Budaya warisan nenek moyangtelah mendarah daging dan sudah menjadi bagian kehidupan sepertinya tidak mungkin untuk dilupakan begitu saja SOSFILKOM Volume XVI Nomor 01 oleh masyarakat era modern saat ini. Dengan sudah berasumsi seperti itu maka coorak yang khas dalam keberagamaan yang masuk ke wilayah Indonesia memiliki kekuatan akulturatif yang luar biasa. Budaya kesepakatan tentang cara hidup sekelompok manusia yang berkaitan dengan akal dan Budaya tidak bisa terlepas dari masyarakat, setiap masyarakat pasti memiliki budaya. Dimana budaya tersebut berembangnya zaman. Perkembangan budaya di Indonesia selain terjadi karena beragamnya suku bangsa juga dikarenakan oleh masuknya pengaruh nilai-nilai budaya luar yang datang ke Indonesia. Salah satu penyebab datangnya budaya luar ke Indonesia ialah karena Indonesia terletak di tengah jalur perdagangan yang strategis, sehingga tidak dapat dipungkiri jika banyak bangsa lain yang datang ke tanah air membawa budaya mereka dan berakulturasi dengan budaya masyarakat setempat. Akulturasi ialah suatu fenomena yang terjadi dalam sekelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan berbeda komunikasi langsung secara terus menerus sehingga saling memengaruhi antar budaya (Thaumaet & Soebijantoro, 2. Sedangkan busaya Fenomena akulturasi budaya tersebut banyak terjadi di Indonesia, terutama pada budaya Jawa. Salah satu akulturasi budaya di Jawa yaitu tradisi malam satu suro di daerah lereng Gunung Kawi. Suroan dalam pandangan agama Islam merupakan sebuah hasil akulturasi yang dilakukan oleh agama dan budaya. Banyak kalangan masyarakat menganggap bahwa istilah suro diambil dari hasil Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-juni 2022 akulturasi agama Islam dan budaya Jawa dan banyak orang mengatakan bahwa ritual suroan merupakan ragam budaya Jawa. Bulan suro dalam perspektif agama Islam adalah peringatan tahun baru Islam yang bertepatan pada tanggal 1 Muharram dalam bulan ini tak sedikit dari masyarakat Jawa yang menganggap keramat dan sakral. Maka tidak heran apabila ritual suroan masih tetap dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa yang sangat mengharapkan untuk mendapatkan berkah dari ritual suroan tersebut. Kajian penelitian terdahulu yang memiliki relasi atau keterkaitan dengan kajian penelitian ini yaitu penelitian berjudul Akulturasi Budaya dalam Tradisi di Gunung Kawi (Studi Di Desa Wonosari. Kecamatan Wonosari. Kabupaten Malan. oleh Toni Kurniawan. Penelitian ini membahas mengenai akulturasi budaya yang terjadi dalam sebuah tradisi di daerah Gunung Kawi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa teori akulturasi sesuai dengan pembauran masyarakat di Gunung Kawi melalui tradisi barikAoan, tirakatan malam satu suro, selamatan adat dan tolak bala bulan sapar ritual satu suro. Penelitian yang berjudul Suran: Upacara Tradisional dalam Masyarakat Jawa Madhan oleh Madhan Anis. Penelitian ini membahas tentang tradisi suran yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat tradisi suran yang hingga saat ini masih tetap dijunjung tinggi nilainya oleh masyarakat Jawa. Sehubungan dengan latar belakang yang telah dirumuskan di atas, maka mendeskripsikan hakikat akulturasi budaya dan bentuk akulturasi budaya dalam tradisi | 10 SOSFILKOM Volume XVI Nomor 01 satu suro di lereng Gunung Kawi. Kabupaten Malang. Dari hasil penelitian ini, nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak yaitu bagi memberikan sumbangan konseptual yang edukatif mengenai akulturasi budaya serta menambah wawasan mengenai akulturasi budaya pada malam satu suro di lereng Gunung Kawi. Kabupaten Malang. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat digunakan sebagai referensi atau perbandingan terhadap penelitian yang relevan. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian perhatian pada kepustakaan . ibrary Supriyadi . berpendapat bahwasanya studi pustaka atau kepustakaan dapat diartikan sebagai gugusan kegiatan pengumpulan data pustaka dengan membaca dan mencatat serta mengelola bahan penelitian. Peneliti menggunakan internet untuk mendapatkan data penelitian. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah sumber data sekunder yaitu sumber data yag digunakan sebagai literatur pendukung, data sekunder tersebut meliputi buku, artikel, dan jurnal yang terkait dengan judul penelitian ini. Teknik pengumpulan data untuk memperoleh data dalam penelitian ini yaitu teknik dokumentasi dengan data atau variabel yang berupa catatan, artikel, atau jurnal. Instrumen pengumpulan data dalam bentuk verbal simbolik, yaitu dengan mengumpulkan naskah yang belum dianalisis. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deduktif dengan cara menarik kesimpulan dari yang bersifat umum menjadi bersifat Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-juni 2022 HASIL DAN PEMBAHASAN Akulturasi Budaya Akulturasi bersatunya dua budaya yang berbeda menjadi budaya baru tanpa menghapuskan budaya aslinya (Setiawan et al. , 2. Sedangkan Koentjaraningrat dalam Yulianthi . 9: . adalah segala hasil kelakuan manusia yang tersusun dalam lingkungan masyarakat dan didapatkan dari proses belajar. Akulturasi kebudayaan ialah proses masuknya budaya asing dalam suatu lingkup masyarakat kemudian budaya tersebut menyatu dengan budaya yang ada sehingga tercipta budaya baru tanpa menghilangkan unsur budaya Di Indonesia terdapat beragam bentuk akulturasi budaya. Salah satunya yaitu di Gunung Kawi. Jawa Timur dimana terdapat pertemuan budaya Islam. Jawa dan Tionghoa. Hal tersebut dapat dilihat dari corak bangunan pesarean Gunung Kawi maupun dari interaksi sosial masyarakat sekitar (Kurniawan, 2. Selain itu, bentuk akulturasi budaya lebih dapat dilihat kegiatan-kegiatan terutama dalam kegiatan besar seperti dalam tradisi satu suro yang dilaksanaan dengan beragam ritual dan dihadiri oleh banyak masyarakat luar yang ikut Bentuk Akulturasi Budaya dalam Tradisi Satu Suro di Lereng Gunung Kawi. Kabupaten Malang Gunung Kawi terletak di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Jawa Timur, dimana masyarakatnya masih kental dengan tradisi dan budaya. Masyarakat Jawa percaya bahwa tradisi dan budaya dapat mempererat persatuan, baik status sosial, | 11 SOSFILKOM Volume XVI Nomor 01 agama, maupun keyakinan. Hal tersebut salah satunya tampak pada tradisi menyambut tanggal 1 Muharram atau oleh masyarakat Jawa lebih dikenal dengan satu Masyarakat Jawa memperingati tanggal satu suro dengan melakukan beberapa tradisi yang disebut dengan suran. Suran ialah suatu adat tradisional dalam menyambut tahun baru Jawa dengan kegiatan-kegiatan spiritual yang seringkali disebut dengan selamatan (Anis, 2. Pola pikir masyarakat Jawa masih percaya dengan suatu keyakinan pada harihari atau bulan yang dianggap sebagai hari suci dan keramat sehingga harus tetap diperingati dengan melakukan beberapa ritual atau tradisi yang telah diajarkan oleh nenek moyang. Untuk memperingati satu suro, masyarakat Gunung Kawi memiliki beberapa tradisi ritual suran, yaitu sedekah bumi, pencucian pusaka, pembakaran ogohogoh, dan pesta rakyat wayangan. Sedekah Bumi Sedekah bumi merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan dengan prosesi seserahan hasil bumi yang dikelola oleh masyarakat kepada Upacara dilaksanakan dengan pesta rakyat di tempat-tempat sakral, salah satunya di pesarean Gunung Kawi ini. Ritual sedekah bumi dilaksanakan pada nahas Muharram/Suro. Tujuan dari upacara Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-juni 2022 sedekah bumi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas rahmat dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT (Arinda R. , 2. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya ritual sedekah bumi disetiap tahunnya, maka hasil bumi yang akan mereka dapatkan akan melimpah di tahun berikutnya. Selain itu, sedekah bumi juga bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur. Upacara sedekah bumi dihadiri oleh berbagai kalangan dalam masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga para sesepuh. Para sesepuh memimpin upacara adat sedekah bumi tersebut sekaligus memberikan pengetahuan kepada masyarakat, terutama kepada para generasi muda agar mereka tidak meninggalkan tradisi sedekah bumi ini. Sehingga peninggalan nenek moyang yang dilaksanakan setiap tanggal satu Suro ini tidak luntur di kemudian hari. Pencucian Pusaka Pencucian pusaka merupakan ritual mencuci benda pusaka seperti benda-benda yang memiliki sejarah, benda kuno, maupun benda-benda yang memiliki roh atau tuah di Ritual pencucian pusaka tersebut oleh masyarakat Jawa dianggap sebagai tradisi sakral yang hanya dilakukan pada waktu tertentu, seperti pada malam satu suro. Ritual | 12 SOSFILKOM Volume XVI Nomor 01 pencucian pusaka ini biasanya disebut dengan jamasan pusaka. Menurut Ilafi, . jamasan berasal dari krama inggil jamas yang artinya cuci atau membersihkan. Sedangkan pusaka adalah istilah untuk benda-benda yang memiliki keramat. Suyanti . pengertian jamasan pusaka yaitu suatu kegiatan membersihkan pusaka dengan cara mencuci pusaka tersebut dengan perlengkapan yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu. Pembakaran Ogoh-ogoh Sangkalala Ogoh-ogoh Sangkalala masyarakat daerah Gunung Kawi dianggap sebagai simbol manusia yang berwatak jelek, jahat, dan pemarah. Ogoh-ogoh adalah suatu tiruan dari roh dursila juga sifat jahatyang diwuju dkan dalam suatu bentuk patung atau boneka yang sangat besar. Ogoh-ogoh dibuat dari bahan-bahan mirip kertas, sterofom, karet, dan lain sebagainya (Alfattah, 2. Pembakaran ogohogoh sebagai salah satu ritual di hari yang sakral ini dimaksudkan sebagai representasi pembakaran segala sifat jahat atau nafsu angkara murka dengan harapan di hari yang suci tersebut bisa membersihkan diri dan menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-juni 2022 . Pesta Rakyat Wayangan Wayang merupakan kesenian tradisional yang digemari masyarakat Jawa sejak zaman prasejarah. Menurut Nur Awalin . wayang sebagai penyebarluasan nilai-nilai yang telah di agungkan dari zaman leluhur agar tidak ditinggalkan oleh masyarakat, terutama oleh generasi muda. KESIMPULAN Akulturasi budaya merupakan proses masuknya budaya asing dalam suatu lingkup masyarakat kemudian budaya tersebut menyatu dengan budaya yang ada sehingga tercipta budaya baru tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya. Akulturasi budaya pasti terjadi dalam sekelompok masyarakat. Seperti yang terjadi di daerah lereng Gunung Kawi Kabupaten Malang. Akulturasi budaya di daerah tersebut dapat dilihat ketika peringatan hari-hari besar seperti pada tanggal satu suro. Pada hari yang sakral tersebut terdapat beberapa akulturasi budaya yang terjadi, yaitu sedekah bumi, pencucian pusaka, pembakaran ogoh-ogoh, dan pesta rakyat wayangan. DAFTAR PUSTAKA