Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 Representasi Adat Perkawinan Dalam Budaya Batak (Analisis Semiotika John Fiske Pada Film Mursal. Ade Herawati1* dan Farid Pribadi2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya 20002@mhs. Abstract This research aims to reveal marriage customs in the Batak cultural concept by knowing the meaning of the signs contained in the film Mursala. The research method used is descriptive qualitative by analyzing film media texts using John Fiske's semiotic analysis approach. There are 3 levels of code to analyze, the first is the reality level which includes appearance, clothing, behavior, language style, customs, culture, speech, movements, expressions, dialogue, environment and daily life of the Batak people. Second, the level of representation which includes technical code regarding the camera, editing aspects, sound aspects, lighting, narration, characters and conflict. Third, the ideological level includes acceptance and social relations such as belief, social systems, capitalism, race, patriarchy and so on. The research results show that in Batak society there are beliefs that are passed down from generation to generation and are the basis of tradition. This cultural concept is reflected in the film Mursala with the use of signs that form myths, representing the cultural heritage values that are still strong. This tradition describes the kinship system of the Batak community which is called Dalihan Na Tolu. One example of this kinship is the prohibition on marriage within the same clan which has been passed down from generation to generation in Batak society. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap adat perkawinan dalam konsep budaya Batak dengan mengetahui makna tanda yang terkandung dalam film Mursala. Metode penelitian yang digunakan berbentuk deskriptif kualitatif dengan menganalisis teks media film memakai pendekatan analisis semiotika John Fiske. Terdapat 3 level kode untuk menganalisis, pertama level realitas yang didalamnya mencakup penampilan, pakaian, perilaku, gaya bahasa, adat, budaya, ucapan, gerakan, ekspresi, dialog, lingkungan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Batak. Kedua, level representasi yang mencakup kode teknis mengenai kamera, aspek editing, aspek tata suara, pencahayaan, narasi, karakter dan konflik. Ketiga, level ideologi meliputi penerimaan dan hubungan sosial seperti kepercayaan, sistem sosial, kapitalisme, ras, patriarki dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam masyarakat Batak terdapat keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi landasan tradisi. Konsep budaya ini tercermin dalam film Mursala dengan penggunaan tandatanda yang membentuk mitos, mewakili nilai-nilai warisan budaya yang masih kental. Tradisi ini menggambarkan sistem kekerabatan masyarakat Batak yang disebut sebagai Dalihan Na Tolu. Salah satu contoh kekerabatan tersebut adalah larangan pernikahan dengan marga yang sama yang telah diwariskan turun temurun dalam masyarakat Batak. Keywords: Representation. Batak Culture. Customs. Mursala Film. Pendahuluan Di Indonesia, film mempunyai peran penting dalam membentuk stereotip terhadap budaya Sebagai contoh ketika sebuah film menggambarkan ciri khas budaya Batak, maka penonton yang bukan berasal dari masyarakat Batak dapat membentuk persepsi mereka tentang budaya Batak berdasarkan apa yang disaksikan dalam film tersebut. Film memegang peranan penting dalam membentuk pandangan masyarakat satu sama lain. Dalam film AuMursalaAy yang disutradarai oleh Viva Westi, budaya dan karakter masyarakat Batak dijelaskan dengan sangat kuat hampir dalam setiap adegannya. Film Mursala ini menceritakan tentang Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 kisah pemuda Batak bernama Anggiat Simbolon (Rio Dewant. yang merantau dari kampung halamannya Tapanuli Tengah ke Jakarta hingga akhirnya sukses menjadi pengacara. Di Jakarta. Anggiat telah memiliki kekasih seorang presenter televisi berdarah Batak yang sangat dicintainya bernama Clarissa Saragih (Anna Sinag. Persoalan dalam film ini terjadi ketika Anggiat memperkenalkan Clarisa kepada kedua orang tuanya dan berencana untuk menikahi kekasihnya itu. Orang tua dan keluarga Anggiat tidak setuju dengan hal tersebut karena perbedaan marga Anggiat dan Clarissa, yaitu AuSimbolonAy dan AuSaragihAy ternyata bertentangan dengan aturan adat yang menghalanginya untuk menikah, kecuali jika mereka keluar dari marga masing-masing. Film Mursala ini merupakan sebuah contoh bagaimana media dapat digunakan sebagai sarana untuk menginformasikan budaya. Di antara banyak film lain yang juga membahas isu budaya atau berupaya memperkenalkan budaya, film ini juga berfungsi sebagai sumber informasi terkait budaya. Film Mursala bertujuan untuk memperkenalkan budaya Batak yang mungkin belum begitu dikenal oleh masyarakat Indonesia. Batak merupakan salah satu suku bangsa Indonesia dari Sumatra Utara yang sejak zaman dahulu hingga saat ini mempunyai kebijakan yang kuat terhadap adat dan nilai-nilai kekeluargaan serta rasa solidaritas. Sifat-sifat khas, gaya hidup dan kepribadian masyarakat Batak mencerminkan seluruh aspek kehidupan suku Batak, baik di wilayah perantauan maupun di daerah Budaya gotong royong yang diterapkan dalam lingkungan keluarga telah membentuk sifat-sifat seperti ketekunan, kerja keras dan kesungguhan yang menjadi bagian dari kepribadian masyarakat Batak. Salah satu contoh adat istiadat suku Batak yang saat ini sering dijumpai adalah sistem perkawinan. Sistem perkawinan suku Batak merupakan perkawinan yang dilakukan antara individu dari berbagai marga yang berbeda. Hal ini disebut sistem eksogami dimana individu diperbolehkan untuk menikah dengan individu lain di luar marga sendiri. Sistem perkawinan ini didasarkan pada pemisahan garis keturunan dari pihak ayah untuk menghindari konflik dan untuk menjaga prinsip hukum Dalihan Na Tolu. Sitem kekerabatan Dalihan Na Tolu atau yang dikenal sebagai AuTungku nan TigaAy ini mengatur kehidupan masyarakat Batak secara khas dengan tiga unsur yang tidak terpisahkan. Pertama Hula-Hula, merupakan kelompok yang menduduki posisi tinggi, terdiri dari keluarga marga pihak istri yang disebut Ausomba marhula-hulaAy yang diharapkan mampu memberikan penghormatan kepada keluarga pihak istri untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan. Kedua Dongan Sabutuha, adalah kelompok yang memiliki posisi sejajar seperti teman atau saudara sekeluarga yang disebut Aumanat mardongan tubuAy yang berarti menjaga hubungan kekerabatan untuk menghindari konflik. Ketiga Boru, merupakan kelompok yang berada di posisi lebih rendah, seperti saudara perempuan, keluarga pihak suami dan keluarga perempuan pihak ayah yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai Auelek marbobuAy yaitu saling memberikan kasih sayang untuk maraih berkah. Konsep identitas Batak secara visual dipaparkan dalam film Mursala. Mursala diambil dari nama pulau terbesar di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, yakni pulau Mursala. Pulau ini terletak di wilayah Kecamatan Barus. Tapanuli Tengah, berada di sebelah Barat Daya Kota Sibolga. Film Mursala ini memperlihatkan keindahan Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai pemegang Brand Image AuNegeri Wisata Sejuta PesonaAy. Hal ini terbukti dari banyaknya lokasi syuting film Mursala di daerah tersebut. Fenomena yang diceritakan dalam film Mursala menarik untuk dikaji lebih lanjut. Keterkaitan cerita film ini dengan realitas masyarakat Batak pada masa kini terutama terkait larangan pernikahan dari leluhur Batak dimana beberapa marga telah berjanji untuk tidak menikah satu sama lain. Oleh karena itu, menghubungkan fenomena larangan pernikahan dalam adat Batak yang direpresentasikan Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 dalam film dengan situasi yang ada dalam masyarakat Batak membuat film Mursala ini menjadi objek yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metoode deskriptif kualitatif dalam menganalisis teks media pada film Mursala dengan memakai pendekatan analisis semiotika John Fiske. Teori semiotika John Fiske menegaskan bahwa apapun yang ditayangkan dalam media televisi seperti film atau iklan merupakan gambaran dari realitas sosial, dimana hal tersebut merupakan hasil dari interaksi dalam masyarakat atau manusia itu sendiri. Subjek penelitian utama dalam penelitian ini adalah film Mursala. Penelitian ini akan memecah film tersebut menjadi beberapa bagian atau adegan yang kemudian akan dianalisis secara mandalam oleh Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi langsung terhadap film Mursala dengan memperhatikan adegan atau potongan-potongan tertentu dari film tersebut serta menggunakan tinjauan literatur dan dokumentasi. Dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan tiga level kode analisis semiotika John Fiske, yakni level realitas, level representasi dan level ideologi. Fokusnya adalah untuk mengungkap makna dari simbol-simbol yang muncul dalam film tersebut sesuai dengan interpretasi yang diberikan oleh tiga level kode tersebut. Tujuan akhirnya adalah untuk memaparkan dan menyimpulkan sejauh mana film Mursala merepresentasikan budaya Batak dan bagaimana ketepatan dan kesesuaian ideologi yang diungkapkan oleh film Mursala terkait dengan budaya Batak. Hasil dan Pembahasan 1 Makna Tanda pada Level Realitas Gambar 1. Adegan 1 Level realitas yang muncul pada adegan 1 memperlihatkan kejadian yang sebenarnya dan terjadi di tengah-tengah masyarakat Batak Toba yang mencakup aspek kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti lingkungan, cara berpakaian, gerakan tubuh dan ekspresi yang ditampilkan. Pertama, jika dilihat dari segi lingkungan, latar tempat yang digunakan dalam adegan ini adalah di pinggir laut. Ibu Anggiat atau biasa dipanngil Inang sedang berbincang-bincang dengan beberapa masyarakat yang sedang menjemur Film ini menceritakan tentang lingkungan masyarakat Batak yang berada di Pulau Mursala, sehingga memperlihatkan set tempat yang sering ditampilkan adalah di pinggir laut. Mayoritas masyarakat Batak yang tinggal di pesisir laut adalah bermata pencaharian sebagai nelayan, oleh karena itu pada adegan ini menampilkan aktivitas masyarakat yang sedang menjemur ikan. Kedua, tampilan pakaian pada adegan ini memperlihatkan Inang sedang berbicara dengan wanita yang memakai penutup kepala atau tudung yang disebut Uis. Dalam kebudayaan Batak. Uis ini merupakan selembar kain tenun karo yang umumnya dipakai sebagai penutup kepala pada acara-acara Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 adat Batak. Ketiga adalah gesture dan ekspresi pada adegan ini yang memperlihatkan Inang sedang berbicara dengan suara yang keras dan tegas dengan gesture tangan yang menunjukkan sebuah penegasan dari apa yang diucapkan. Gambar 2. Adegan 2 Level realitas yang muncul pada adegan 2 memperlihatkan kejadian yang sebenarnya dan terjadi di tengah-tengah masyarakat Batak Toba yang mencakup aspek kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti lingkungan, cara berpakaian, gerakan tubuh dan ekspresi yang ditampilkan. Pertama, menampilkan set lingkungan masyarakat Batak yang masih terlihat tradisional seperti suasana pedesaan. Dalam adegan ini, terlihat anak-anak pulang sekolah menumpang pada mobil pengangkut barang kemudian bertemu dengan keluarga yang sedang mengantar anaknya pergi merantau ke Jakarta untuk melanjutkan Kedua, dari segi pakaian, keluarga yang mengantar anaknya untuk pergi melanjutkan pendidikan terlihat memakai pakaian adat Batak dan anak yang hendak pergi melanjutkan pendidikan terlihat menggunakan setelan hitam putih serta mengenakan kain ulos di pundaknya. Dalam budaya Batak, pemberian kain ulos ini memiliki arti sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan untuk yang Ketiga, dari segi gesture dan ekspresi adegan ini memperlihatkan suka cita dan kesenangan. Terlihat dari anak-anak sekolah yang sangat antusias menyapa keluarga yang mengantarkan anaknya pergi melanjutkan pendidikan ke luar kota. Dalam adegan ini juga terlihat Inang yang memberhentikan mobilnya untuk sekedar menyapa dan memberikan doa kepada anak dari keluarga tersebut. Sebagai sesama masyarakat Batak. Inang sangat senang jika ada salah satu warga Batak yang berhasil melanjutkan pendidikan tinggi ke Ibukota, apalagi jika bisa mendapatkan pekerjaan disana. Kesenangan dan suka cita dalam adegan ini juga terlihat dari proses iring-iringan yang dilakukan keluarga dengan menyanyikan lagu-lagu Batak. Gambar 3. Adegan 3 Level realitas yang muncul pada adegan 3 memperlihatkan kejadian yang sebenarnya dan terjadi di tengah-tengah masyarakat Batak Toba yang mencakup aspek kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti lingkungan, cara berpakaian, gesture dan ekspresi. Pertama, dari segi lingkungan memperlihatkan acara Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 Martumpol yang dilaksanakan di sebuah gereja. Martumpol merupakan tahapan yang wajib dilakukan dalam upacara pernikahan adat Batak bagi yang beragama Kristen. Kedua, dari segi penampilan, semua orang yang menghadiri acara pernikahan tersebut terlihat memakai pakaian adat Batak. Untuk wanita terlihat memakai kebaya dengan kain ulos melintang di dada, sedangkan laki-laki menggunakan setelan jas dengan memakai kain ulos di dada. Dalam acaraacara khusus seperti pernikahan, masyarakat Batak selalu menggunakan kain ulos . ain tenun tradisional Bata. Ketiga, dari gesture dan ekspresi calon pengantin menunjukkan perasaan suka cita dan penuh khidmat dalam menjalani prosesi pernikahan. Setelah prosesi di gereja selesai. Anggiat memperkenalkan Clarissa . ekasih Anggia. kepada Inang (Ibu Anggia. Bapa Uda (Paman Anggia. dan adik Anggiat. Gesture dan ekspresi Inang saat bertemu Clarissa menunjukkan kesenangan dan ketertarikan serta diungkapkan lewat pujian kata. Namun, saat mengetahui jika Clarissa memiliki marga Saragih, gesture dan ekspresi wajah Inang langsung berubah menjadi muram dan menunjukkan Gambar 4. Adegan 4 Level realitas yang muncul pada adegan 4 memperlihatkan kejadian yang sebenarnya dan terjadi di tengah-tengah masyarakat Batak Toba yang mencakup aspek adat istiadat atau tradisi, penampilan dan Pertama, dalam adegan ini menampilkan tradisi Mangulosi, yakni salah satu prosesi adat dalam pernikahan budaya Batak Toba. Mangulosi . emberikan ulo. merupakan tradisi yang mengakar dalam budaya Batak Toba yakni acara pemberian kain tenun khas Batak yang disebut ulos. Mangulosi dilakukan oleh orang tertentu, tidak sembarang orang dapat melakukannya. Mangulosi biasa dilakukan oleh hula-hula atau orang yang dihormati dalam adat Batak. Kain ulos ini terdapat pola dan motif yang mempunyai makna tersendiri. Ulos hanya memliki tiga warna dasar yaitu merah, putih dan hitam. Menurut T. M Sihombing dalam bukunya tentang filsafat Batak, mengungkap bahwa tiga warna ulos ini mencerminkan siapa yang berhak memakainya. Warna merah dikenakan oleh Dongan tubu . eluarga semarg. , warna putih untuk pihak Boru . eluarga suam. dan warna hitam untuk Hulahula . eluarga wanit. Mangulosi menjadi lambang kasih sayang yang disalurkan oleh pemberi ulos kepada penerima . edua mempelai penganti. Memberikan ulos kepada kedua mempelai dianggap sebagai upaya untuk menyampaikan doa yang suci bagi keduanya. Ulos dianggap sebagai Auselimut saat dingin dan payung saat hujanAy, bukan hanya sebagai kain, melainkan juga sebagai simbol perlindungan dalam segala Tradisi mangulosi menjadi warisan leluhur yang sangat dijunjung tinggi hingga saat ini. Kedua, dari segi penampilan, terlihat kedua mempelai pengantin dan para tamu undangan mengenakan pakaian rapi, seperti kebaya, kemeja, celana berbahan brokat dan memakai kain ulos. Inang dan para tamu perempuan juga menggunakan riasan wajah yang bertujuan untuk menghadiri Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 acara pernikahan tersebut. Ketiga, ekspresi wajah Anggiat dan Calrissa dalam adegan ini menunjukkan senyuman lebar dan turut bahagia atas pernikahan saudaranya. Hal ini berbeda dengan ekspresi wajah Inang yang menunjukkan ketidaksukaan saat melihat Anggiat bersama Clarissa, terlihat tidak fokus pada acara yang sedang berlangsung. 2 Makna Tanda pada Level Representasi Gambar 5. Adegan 1 Pada adegan 1, level representasi ini menampilkan sesuatu lain diluar dirinya yang berkaitan dengan kode-kode teknis, seperti penggunaan kamera dan pencahayaan. Pertama, adegan ini menggunakan teknik pengambilan gambar medium full shot dimana Inang dan Taruli sedang berbincang dengan memperlihatkan bagaimana kondisi sekitar objek, seperti latar belakang pesisir pantai tempat menjemur ikan, pakaian yang dikenakan dan suasana disekitarnya. Dengan demikian, teknik pengambilan gambar memiliki pengaruh terhadap apa yang terlihat di sekitar objek, seperti gambaran kehidupan sehari-hari di lingkungan Batak Toba. Tapanuli Tengah. Sumatra Utara. Budaya berkaitan dengan cara hidup, pemikiran dan keyakinan manusia (Sihabudin, 2. Oleh karena itu, penggunaan teknik pengambilan gambar dapat mencerminkan aspek-aspek tersebut. Kedua, pencahayaan . yang digunakan dalam adegan ini menggambarkan suasana sekitar objek dengan cahaya terang, seperti suasana pagi menejelang siang hari. Dalam adegan ini juga terlihat ada beberapa warga yang masih melakukan aktivitas menjemur ikan, hal ini mengindikasikan bahwa suasana yang terjadi adalah di pagi atau di siang hari karena warga masih melakukan pekerjaan. Gambar 6. Adegan 2 Level representasi pada adegan 2 ini menampilkan sesuatu lain diluar dirinya yang berkaitan dengan kode-kode teknis, seperti penggunaan kamera, pencahayaan, dialog dan konflik. Pertama, dalam adegan ini teknik pengambilan gambarnya menggunakan medium full shot dimana Anggiat. Inang dan beberapa sepuh yang dihormati dalam adat Batak sedang berkumpul. Pengambilan gambar dalam adegan ini memperlihatkan bagimana kondisi sekitar objek, seperti latar belakang laut dan suasana. Pencahayaan . dalam adegan ini menggambarkan suasana di sekitar objek dengan cahaya sedikit redup dan terlihat ada bayangan sinar matahari. Hal ini menunjukkan bahwa hari sudah menjelang Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 Selanjutnya adalah munculnya konflik dalam adegan ini, dimana Anggiat menentang dan tidak percaya mengenai larangan pernikahan karena parna, dimana marga Anggiat Simbolon dan marga Clarissa Saragih. Ekspresi Anggiat terlihat kesal, menurut Anggiat zaman sudah berubah dan kondisi sudah berbeda sehingga setiap orang bebas memilih pasangan hidupnya, selama itu tidak melanggar Anggiat menunjukkan ekspresi marah dengan sedikit memukul meja dan memalingkan wajah. Anggiat terus menentang bahwa aturan ini hanya kata leluhur, tidak ada pernyataan resmi secara Inang memeperlihatkan ekspresi sabar saat menasehati ankanya bahwa harus menghromati adat leluhur. Inang meminta Anggiat untuk tenang dan memikirkan kembali rencana pernikahannya yang bertentangan dengan adat leluhur. Gambar 7. Adegan 3 Level representasi pada adegan 3 ini menampilkan sesuatu lain diluar dirinya yang berkaitan dengan kode-kode teknis, seperti penggunaan kamera, pencahayaan, dialog dan konflik. Pertama, dalam adegan ini teknik pengambilan gambar dilakukan secara medium close up. Tujuan dari penggunaan teknik pengambilan gambar ini adalah untuk menampilkan secara jelas ekspresi wajah dan gesture dari Inang dan Clarissa. Adegan ini memperlihatkan Clarissa sedang berbincang dengan Inang di sebuah tempat makan di sekitar laut. Dari segi pencahayaan, adegan ini menunjukkan suasana pagi hari yang Dalam adegan ini. Inang menunjukkan ekspresi kasihan kepada Clarissa. Hal ini juga diungkapan dari percakapan Inang dan Clarissa dimana Inang menjelaskan bahwa alasan Anggiat dan Clarissa tidak bisa menikah adalah karena parna. Dengan lemah lembut Inang menjelaskan kepada Clarissa bahwa tidak ada yang salah dengan marga Saragaih, namun marga Simbolon dan Saragaih itu masih terlalu dekat dan masih satu keturunan sehingga tidak baik jika menikah dengan satu saudara kandung. Clarissa hanya menujukkan ekspresi sedih mendengarkan perkataan Inang tanpa menjawab dan membantah apapun. Gambar 8. Adegan 4 Level representasi pada adegan 4 ini menampilkan sesuatu lain diluar dirinya yang berkaitan dengan kode-kode teknis, seperti penggunaan kamera, pencahayaan, dialog dan konflik. Pertama, pengambilan gambar dalam adegan ini menggunakan teknik medium close up. Pada objek manusia, pengambilan Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 gambar dengan teknik ini berada pada bagian dada hingga atas kepala. Tujuan dari teknik pengambilan gambar ini adalah untuk menampilkan secara jelas ekspresi wajah dan gesture dari Anggiat dan Bapa Uda . aman Anggia. Kedua, pencahayaan . memperlihatkan suasana gereja yang cukup terang, seperti suasana pagi hari. Terlihat juga ada beberapa orang yang melakukan ibadah, hal ini mengindikasikan bahwa ini terjadi pagi hari karena masih ada aktivitas di dalam gereja. Ketiga, dalam adegan ini konflik muncul saat Anggiat bertanya apakah tidak ada jalan keluar untuk permasalahan parna. Melalui ekspresi wajahnya Anggiat memperlihatkan kekesalan, terus menyanggah dan berusaha melanggar aturan adat tersebut. Bapa Uda dengan sabar menenangkan Anggiat, terlihat saat Bapa Uda memegang wajah Anggiat sebagai upaya menasehati agar Anggiat tidak melanggar adat yang sudah ada. 3 Makna Tanda pada Level Ideologi Gambar 9. Adegan 1 Level ideologi yang muncul pada adegan 1 ini merupakan sistem keyakinan dan sistem sosial meliputi nilai-nilai yang berlaku dalam struktur sosial. Pada adegan ini, ideologi yang muncul adalah sistem kepercayaan pada adat leluhur. Aturan dari leluhur walaupun bersifat tidak resmi atau tidak tertulis, akan tetapi masyarakat Batak wajib mengikutinya karena sudah menjadi tradisi yang turun Dalam adegan ini terlihat orang yang paling dihormati di keluarga Anggiat sangat menentang rencana pernikahan Anggiat dengan Clarissa. Ideologi dalam adegan ini juga mencerminkan sistem patriarki, dimana orang tua yang paling dihormati dan paham tentang adat dalam sebuah keluarga sangat medominasi, terlihat saat menentang pernikahan Anggiat dan Clarissa dan segala keputusan untuk menikah sudah ditentukan. Alasan pernikahan Anggiat dan Clarissa ini tidak disetujui adalah karena parna. Parna merupakan singkatan dari Pomparan ni si Raja Naiambaton, yaitu kelompok marga yang diyakini berasal dari keturunan langsung Raja Naiambaton yang karena itu tidak diperbolehkan untuk saling menikah . ianggap masih saudara kandun. Gambar 10. Adegan 2 Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 Level ideologi pada adegan 2 ini merupakan sistem keyakinan dan nilai sistem sosial. Pada adegan ini ideologi yang muncul adalah patriarki dimana Inang tetap tidak setuju jika Anggiat ingin menikahi Clarissa. Anggiat meyakinkan Inang bahwa semua pasti bisa dilewati dan akan berjalan lancar. Akan tetapi. Inang tidak menghiraukan kemauannya dan menyarankan anaknya untuk menikahi Taruli . ariban Anggia. Dalam adegan ini sangat terlihat bahwa adat leluhur dan keluarga memiliki peran yang sangat kuat. Seseorang sudah diatur kehidupan pernikahannya tanpa diperbolehkan untuk memperjuangkan keinginannya sendiri. Adegan ini juga memperlihatkan saat Inang meminta Anggiat untuk menikah dengan pariban-nya saja karena hal tersebut pasti didukung oleh keluarga karena diperbolehkan secara agama maupun adat. Anggiat masih menyanggah saran ibunya tersebut, karena baginya perasaan tidak semudah itu untuk Namun. Inang mengartikan hal tersebut sebagai penolakan anaknya untuk menikah dengan wanita yang tinggal di kampung. Gambar 11. Adegan 3 Level ideologi pada adegan 3 ini merupakan sistem keyakinan dan nilai sistem sosial. Pada adegan ini ideologi yang muncul adalah patriarki dimana ayah Clarissa juga menentang pernikahan tersebut. Adegan ini menunjukkan Anggiat menemui dan berbicara dengan ayah Clarissa untuk meminta tolong agar membantu berbicara kepada keluarganya dan mengatakan bahwa tidak keberatan dengan hubungan ini, sehingga Anggiat dan Clarissa bisa menikah. Ayah Clarissa menjelaskan bahwa ia memang orang Batak, tetapi lahir dan besar di Jawa sehingga tidak mengerti adat istiadat orang Batak. Ayah Clarissa mulai mempelajari adat istiadat orang Batak karena permasalahan hubungan putrinya dengan Anggiat ini. Ayah Clarissa menjadi tahu alasan putrinya dan Anggiat tidak bisa menikah adalah karena parna dan sebagai orang Batak harus menghormati adat istiadat dari leluhur. Kesimpulan Film Mursala merupakan sebuah drama berdurasi satu jam tiga puluh menit menit enak detik karya Viva Westi yang fokus ceritanya adalah pada budaya lokal suku Batak. Film ini menggambarkan konflik sosial yang muncul karena larangan pernikahan dari leuhur suku Batak, dimana beberapa kelompok marga telah berjanji untuk tidak menikah satu sama lain. Tradisi ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Batak hingga saat ini. Cerita yang diangkat dalam film mencerminkan realitas yang ada dalam masyarakat Batak, terutama terkait dengan konsep budaya Batak, yaitu sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu. Film ini dikaji dengan tiga level kode. Pertama, level realitas terlihat dalam beberapa adegan tercermin dalam pengambilan gambar yang dilakukan secara langsung di lingkungan masyarakat Batak yakni di Pulau Mursala. Tapanuli Tengah. Sumatra Utara. Cara pakaian yang dikenakan oleh Inang. Bapa Uda dan warga Batak yang identik dengan penggunaan kain ulos dalam kehidupan sehari-hari. Ekspresi dan gesture tubuh juga mendukung komunikasi verbal. Kedua, level representasi yang terlihat Paradigma. Volume 13. Nomor 2, 2024, 41-50 dalam beberapa adegan didasarkan pada kode-kode teknis, seperti pengambilan gambar, lighting, dialog dan konflik. Teknik pengambilan gambar dilakukan secara medium close up dan medium full shot yang memiliki tujuan masing-masing. Teknik medium close up memfokuskan pada ekspresi dan gesture pemain dalam film Mursala saat berinteraksi dengan lawan mainnya. Sedangkan, teknik medium full shot bertujuan untuk menampilkan kondisi sekitar objek seperti lingkungan di pesisir pulau Mursala dan cara berpakaian dengan pakaian adat Batak. Ketiga, level ideologi terlihat dalam beberapa adegan yang meggambarkan tradisi leluhur dan orang tua paling dihormati dalam keluarga Anggiat memegang peran sistem sosial patriarki. Perannya terlihat dominan dengan keinginan agar ketentuan dari leluhur harus diikuti oleh anggota keluarga. Anggiat tidak memiliki kebebasan untuk menentang adat leluhur dan keputusan keluarga. Daftar Pustaka