Volume 8 | Nomor 2 | Tahun 2025 | Halaman 485Ai496 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1240 Investigasi keterbacaan bahan ajar bahasa Jawa jenjang sekolah dasar: Analisis grafik Fry dan teknik Klose Investigation of the readability of Javanese language teaching materials elementary school level: Fry graph analysis and Klose technique Endang Sri Maruti Universitas PGRI Madiun Jalan Auri No 6-8. Madiun. Indonesia Email: endang@unipma. Orcid iD: https://orcid. org/0000-0001-6911-8857 Article History Received 8 April 2025 Revised 26 April 2025 Accepted 10 May 2025 Published 14 June 2025 Keywords readability level. Javanese language textbooks. FryAos graph. KloseAos technique Kata Kunci tingkat keterbacaan. buku teks bahasa Jawa. grafik Fry. Klose. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract The purpose of this study is to evaluate the degree of readability of fourth-grade Javanese textbooks used in East Java. Indonesia. The data provided from 20 pupils, 7 of whom were male and 13 of whom were female, between the ages of 10 and 12. Primary school textbooks and worksheets were the source of the secondary data. To ascertain the textbooks' degree of readability, the data was examined using the Klose approach and Fry's Graph. The Javanese language textbook that was used had a score of 9. 285 according to the data analysis results, indicating that it has higher expectations for fourth graders. While the klose technique classifies the textbook as frustrating, meaning it is too difficult for grade IV elementary school students to understand, the analysis results indicate that the textbook is appropriate for grades 6 . lementary schoo. , 7, and 8 . unior high schoo. The teacher team must pay attention to this when creating or selecting Javanese language textbooks for fourth-grade elementary school pupils, particularly in East Java Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat keterbacaan buku teks bahasa Jawa kelas empat yang digunakan di Jawa Timur. Indonesia. Data diperoleh dari 20 siswa, 7 di antaranya laki-laki dan 13 di antaranya perempuan, berusia antara 10 dan 12 tahun. Sumber data sekunder adalah buku teks dan lembar kerja sekolah dasar. Untuk mengetahui tingkat keterbacaan buku teks, data diperiksa menggunakan pendekatan Klose dan Grafik Fry. Buku teks bahasa Jawa yang digunakan memiliki skor 9,285 menurut hasil analisis data, yang menunjukkan bahwa buku teks tersebut memiliki ekspektasi yang lebih tinggi untuk siswa kelas empat. Meskipun teknik klose menggolongkan buku teks tersebut sebagai buku yang membuat frustrasi, yang berarti terlalu sulit dipahami oleh siswa sekolah dasar kelas IV, hasil analisis menunjukkan bahwa buku teks tersebut sesuai untuk kelas 6 . ekolah dasa. , 7, dan 8 . ekolah menengah pertam. Tim guru harus memperhatikan hal ini ketika membuat atau memilih buku teks bahasa Jawa untuk siswa sekolah dasar kelas empat, khususnya di Jawa Timur. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Maruti. Investigasi keterbacaan bahan ajar bahasa Jawa jenjang sekolah dasar: Analisis grafik Fry dan teknik Klose. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 485Ae496. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Endang Sri Maruti Pendahuluan Aspek keterbacaan buku teks dalam pendidikan merupakan salah satu kajian yang sangat Tingkat keterbacaan suatu buku ajar merupakan salah satu unsur terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu pembelajaran (Peng, 2. Artinya, tingkat kesulitan bacaan dalam buku ajar yang digunakan harus sebanding dengan tingkat kemampuan berbahasa siswa. Sampai saat ini, banyak cara yang digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan suatu buku ajar, baik secara manual maupun secara otomatis yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Peranan buku sangatlah penting karena masih adanya permasalahan yang dihadapi siswa, yaitu siswa masih kesulitan memahami isi materi dalam buku. Hal itu dibuktikan dengan perolehan nilai siswa, yakni banyak siswa yang memperoleh angka di bawah batas nilai yang Oleh karena itu, salah satu hal yang perlu diperhatikan saat menyusun materi pelajaran adalah kalimat. Kalimat merupakan satu-satuan kebahasaan yang sangat penting. Pemilihan kalimat yang tepat dengan diksi yang sesuai dengan tingkatannya menentukan seberapa baik buku dibaca siswa. Seperti yang telah diketahui, dalam praktik pembelajaran bahasa di Indonesia, telah terjadi persinggungan antar bahasa, yakni bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Hal tersebut terjadi karena dalam proses pembelajaran tidak terlepas dari konsep pembelajaran yang multilingual (Oktavianti et al. , 2. Buku ajar harus dibaca dengan tingkat kemampuan dan penalaran siswa agar memenuhi syarat dan tujuan yang diharapkan. Kesesuaian buku dengan tingkat keterbacaan tertentu sangat penting karena hal itu akan sangat memengaruhi minat dan keinginan siswa untuk membaca. Untuk mencegah masalah seperti itu, perlu dilakukan penelitian tentang keterbacaan buku ajar, khususnya buku ajar tematik di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini diperlukan untuk menentukan seberapa sulit atau mudah suatu teks dipahami siswa. Penelitian-penelitian terkait keterbacaan telah banyak dilakukan dalam berbagai bidang Secara umum, penelitian tersebut banyak mengkaji aspek bahasa, pendidikan, media dan ilmu komunikasi, bahkan aspek medis dalam ilmu kedokteran. Buku teks yang dianalisis keterbacaannya hanya sebatas pada buku teks berbahasa Inggris (Miftaahurrahmi et al. , 2. dan berbahasa Indonesia (Isabela, 2013. Johan, 2018. Widyaningsih & Zuchdi, 2. Astuti & Mujimin . menganalisis model pembelajaran berdasarkan buku teks bahasa Jawa. Penelitian-penelitian tersebut berfokus pada model pembelajaran yang telah digunakan dalam bahasa Jawa, dan belum menyentuh tentang keterbacaan buku yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Jawa. Penelitian tentang keterbacaan dalam bidang pendidikan juga telah banyak dilakukan. Hakim et al. , . telah mengukur tingkat keterbacaan buku ajar bahasa Inggris untuk siswa sekolah menengah. Begitu juga dengan Hidayat . , telah meneliti tingkat keterbacaan buku untuk materi pelajaran bahasa Inggris. Sholihah . telah mengukur tingkat keterbacaan buku ajar bahasa Inggris pada tingkat sekolah menengah atas (SMA). Selanjutnya. Yulianto . memanfaatkan AI untuk mengukur tingkat keterbacaan buku-buku ajar berbahasa Inggris yang digunakan di sekolah. Berdasarkan hasil kajian-kajian tersebut, bacaan dalam buku teks bahasa Inggris yang digunakan di sekolah sulit untuk dibaca dan dipahami siswa. Dari penelitian tentang keterbacaan di atas, sampai saat ini belum ada penelitian keterbacaan dalam bahasa Jawa di tingkat sekolah dasar. Selain dalam bidang pendidikan, keterbacaan juga digunakan untuk penelitian dalam bidang Fabian et al. telah mengukur keterbacaan terkait kebijakan privasi publik. Keterbacaan dalam berita tentang perkembangan ekonomi juga telah diukur. Selanjutnya. Monton et al. telah mengevaluasi dan mengukur tingkat keterbacaan berita-berita online yang sedang ramai diperbincangkan. Begitu pula penelitian tentang dampak berita online bagi para pembaca dari segi keterbacaan juga telah dilakukan (Zou et al. , 2. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat keterbacaan khususnya kebijakan privasi dalam artikel online sulit dibaca. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 485Ai496 Investigasi keterbacaan bahan ajar bahasa Jawa jenjang sekolah dasar: Analisis grafik Fry dan teknik Klose Penelitian keterbacaan lainnya dilakukan oleh (Schumacher & Eskenazi, 2. yang hasilnya menyatakan bahwa pidato setiap kandidat mengalami evolusi dari waktu ke waktu dan kandidat juga memvariasikan pidatonya dari satu tempat ke tempat yang lain. Penelitian keterbacaam dari aspek medis dalam ilmu kedokteran banyak dilakukan terutama dalam membaca hasil tes medis (Basch et al. , 2020. Dalziel et al. , 2016. Skierkowski et al. , 2019. Weiss et al. , 2016. Zou et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tes kesehatan memiliki tingkat keterbacaan yang rendah untuk pasien dengan literasi rendah. Secara teoretis, tujuan pentingnya dilakukan penelitian keterbacaan dalam dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran bahasa Jawa adalah untuk mengetahui akar permasalahan banyak siswa yang menganggap buku-buku berbahasa Jawa lebih sulit dibaca dan dipahami. Kesesuaian tingkat keterbacaan buku ajar harus sesuai dengan kemampuan dan penalaran siswa agar buku ajar memenuhi syarat dan tujuan yang diharapkan. Ini sangat penting karena hal itu dapat berpengaruh terhadap minat dan keinginan siswa untuk membaca. Ketidaktersediaan buku yang mudah untuk dibaca dan dipahami menjadi tantangan tersendiri dan perlu dicari solusi (International Literacy Association, 2. Penelitian tentang keterbacaan buku ajar, khususnya buku ajar bahasa Jawa pada tingkat sekolah dasar, diperlukan untuk mencegah masalah seperti itu terjadi. Penelitian ini akan dibatasi pada keterbacaan buku ajar bahasa Jawa yang digunakan di sekolah dasar di Jawa Timur, karena provinsi ini memiliki tingkat kesamaan buku yang tinggi. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keterbacaan buku ajar bahasa Jawa yang digunakan di sekolah dasar Provinsi Jawa Timur. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keterbacaan buku teks pelajaran yang digunakan pada mata pelajaran bahasa Jawa di tingkat sekolah dasar. Metode Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Objek penelitian adalah bacaan dalam buku teks mata pelajaran bahasa Jawa tingkat Sekolah Dasar sedangkan subjek penelitiannya adalah buku ajar bahasa Jawa tingkat Sekolah Dasar se-Jawa Timur. Data sampel diperoleh dari dua sekolah pada tiap sampel kabupaten di Jawa Timur, yang terdiri atas Kabupaten Pacitan. Madiun. Tuban. Surabaya. Malang, dan Jember. Setiap sampel diperoleh dari buku paket dan lembar kerja siswa . elanjutnya ditulis LKS) Bahasa Jawa yang digunakan. Teknik pengumpulan data penelitian adalah teknik pustaka dan teknik dokumentasi. Peneliti mengumpulkan beberapa sampel buku ajar bahasa Jawa di beberapa wilayah lalu menentukan beberapa teks sebagai sampel ukur. Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis dengan dua rumus yang telah ditentukan, yakni dengan rumus keterbacaan Fry (Fry, 1. dan dengan prosedur klose (Bormuth, 1. untuk mengetahui tingkat keterbacaan buku ajar. Kedua rumus yang digunakan memiliki prosedur yang berbeda. Dalam prosedur Fry, penggalan teks sejumlah 100 kata yang representatif dari buku ajar bahasa Jawa ditentukan terlebih dahulu. Setelah itu, jumlah kalimat yang terpilih dihitung jumlah suku kata yang ada. Terakhir memasukkan hasil hitungan sampel pada grafik Fry. Adapun bentuk grafik Fry seperti Gambar 1. Setelah ditentukan data sampel, data lalu dianalisis sesuai petunjuk Fry. Dalam hal ini ada dua langkah, yakni: pertama, menghitung rata-rata jumlah kalimat per 100 kata. menghitung rata-rata jumlah suku kata per 100 kata, baru dimasukkan ke rumus. Berikut ini hasil rata-rata jumlah per 100 kata. Selanjutnya adalah penghitungan jumlah suku kata per 100 kata. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 485Ai496 Endang Sri Maruti Gambar 1. Grafik Fry Teknik analisis data yang kedua adalah dengan teknik klose. Prosedur klose baku yang dilakukan adalah diawali dengan memilih teks yang terdiri atas kurang lebih 250 kata. Setelah itu baru dibuat teks rumpang dengan menghilangkan beberapa bagian kecuali kalimat pertama dan Selanjutnya, kalimat tersebut diberikan kepada siswa untuk dikerjakan dengan mengisi bagian yang telah dihilangkan. Setelah data terkumpul, langkah analisis yang dilakukan adalah dengan memberikan skor pada jawaban yang sama persis dengan kata aslinya. Jawaban lainnya tidak dibenarkan meski maknanya sama. Ini dilakukan jika jumlah pesertanya banyak. Kedua, nilai diberikan tidak hanya pada jawaban yang sama persis asal makna dalam struktur konteksnya tetap utuh. Rumus yang digunakan untuk pengukuran adalah sebagai berikut. Skor = . umlah jawaban benar/jumlah semua kata ke-. x 100% Penilaian prosedur klose dilakukan dengan kriteria persentase sesuai Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Kriteria Penilaian Prosedur Klose Persentase skor tes klose >60% 41-60% <40% Tingkat baca Independen/bebas Instruksional Frustrasi Pembahasan Dalam sub-bab analisis data dari se-Jawa Timur, disajikan secara berurutan, yakni: . wacana lengkap. penghitungan dan analisis wacana berdasarkan grafik Fry. Di setiap Kabupaten terpilih . kabupaten/kot. diambil dua sampel bahan ajar berupa 1 buku teks . uku pake. dan 1 buku LKS. Dari buku paket diambil tiga sampel bacaan, yaitu bacaan di awal, tengah dan di akhir buku. Sementara untuk LKS diambil dua sampel bacaan saja yakni di bagian awal dan di bagian akhir. Hasil Analisis Data Pada bagian ini dipaparkan hasil analisis keterbacaan buku teks yang berupa buku paket dan LKS yang digunakan siswa SD Kelas IV di Jawa Timur yang terdiri atas Kabupaten Pacitan. Madiun. Tuban. Surabaya. Malang, dan Jember. Masing-masing wilayah diambil 2 sampel buku Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 485Ai496 Investigasi keterbacaan bahan ajar bahasa Jawa jenjang sekolah dasar: Analisis grafik Fry dan teknik Klose Hasil Analisis Data dengan Grafik Fry Data sampel bacaan diperoleh dari bagian awal buku, di bagian tengah, dan di bagian akhir buku, kemudian dihitung jumlah suku kata dan jumlah kalimatnya. Kemudian dihitung berdasarkan rumus Fry, dan hasilnya dibandingkan dengan Grafik Fry yang tersedia (Fry, 1. Pada Tabel 2 berikut, hasil analisis keterbacaan di setiap buku ajar di 6 Kabupaten disajikan secara lebih lengkap, kemudian hasilnya bisa disimpulkan dalam Gambar 2. Tabel 2. Analisis Sampel Bacaan dengan Grafik Fry Kabupaten Pacitan Madiun Tuban Surabaya Malang Jember Wacana sampel . Bagian awal Bagian tengah Bagian akhir Jumlah Rata-rata Bagian awal Bagian tengah Bagian akhir Jumlah Rata-rata Bagian awal Bagian tengah Bagian akhir Jumlah Rata-rata Bagian awal Bagian tengah Bagian akhir Jumlah Rata-rata Bagian awal Bagian tengah Bagian akhir Jumlah Rata-rata Bagian awal Bagian tengah Bagian akhir Jumlah Rata-rata Jumlah Suku Kata 137,3 = 137 Rata-rata keseluruhan Jumlah Kalimat 6,04 29,64 9,88 9,87 9,075 Gambar 2. Pencocokan pada Grafik Fry Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 485Ai496 Endang Sri Maruti Berdasarkan keenam wilayah tersebut dapat pula digambarkan dengan grafik dalam Gambar 3. Grafik Fry Tingkat Kelas Tingkat Kelas Grafik Fry Pacitan Madiun Tuban Surabaya Malang Jember Gambar 3. Grafik Sebaran Tingkat Keterbacaan Buku Ajar Bahasa Jawa Berdasarkan diagram pada Gambar 3, buku ajar yang sesuai dengan tingkat keterbacaannya yang digunakan di Kabupaten Tuban. Surabaya, dan Malang, sedangkan ketiga wilayah yang lain yakni Kabupaten Pacitan. Madiun, dan Jember tidak sesuai. Hasil Analisis Data dengan Teknik Klose Selain dianalisis berdasarkan grafik Fry, buku teks di atas juga dianalisis berdasarkan teknik klos (Skorecova et al. , 2. Adapun hasil analisis keterbacaan dengan teknik klose dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Analisis Sampel Bacaan dengan Teknik Klose Kabupaten Pacitan Madiun Tuban Surabaya Malang Jember Rata-rata keseluruhan Inisial RAL REY. Rata-rata Rata-rata AM. Rata-rata FYDO CTA. HMA. Rata-rata RWIC. NFS. Rata-rata NNA. AFAF. FCK. Rata-rata Jumlah . y100%= 25% . y100%= 40% . y100%= 50% . y100%= 47% . y100%= 27% . y100%= 40% . y100%= 80% . y100%= 60% . y100%= 60% . y100%=73,3% . y100%=80% . y100%=80% . y100%=20% . y100%=6,7% . y100%=60% . y100%=26,7% . y100%=26,7% . y100%=33,3% 48,17% Katagori Frustasi Frustasi Frustasi Frustasi Frustasi Frustasi Frustasi Frustasi Independen Independen Independen Independen Independen/bebas Independen/bebas Independen/bebas Independen/bebas Instruksional Frustasi Frustasi Frustasi Frustasi Frustasi Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 485Ai496 Investigasi keterbacaan bahan ajar bahasa Jawa jenjang sekolah dasar: Analisis grafik Fry dan teknik Klose Berdasarkan keenam wilayah tersebut dapat pula digambarkan dengan grafik pada Gambar 4. Teknik Klose Tingkat Kelas Tingkat Kelas Teknik Klose Pacitan Madiun Tuban Surabaya Malang Jember Gambar 4. Grafik Sebaran Tingkat Keterbacaan Buku Ajar Bahasa Jawa Berdasarkan grafik pada Gambar 4, buku ajar yang sesuai dengan tingkat keterbacaannya digunakan di wilayah Kabupaten Tuban. Surabaya, dan Malang, sedangkan ketiga wilayah yang lain yakni Kabupaten Pacitan. Madiun, dan Jember tidak sesuai. Pembahasan Indikator keterbacaan suatu teks bukan dialog adalah keterbacaan masing-masing Untuk dapat memahami suatu teks perlu pemahaman yang utuh terhadap masingmasing paragraf pembentuk teks (Puspaningtyas et al. , 2. Cacah kalimat dalam suatu paragraf dapat dijadikan indikator sederhana-tidaknya atau kompleks-tidaknya pokok pikiran yang dikembangkan dalam sebuah paragraf (Yulianto, 2. Hal ini berarti bahwa cacah kalimat berpengaruh terhadap tingkat keterbacaan paragraf. Semakin berkurangnya cacah kalimat dari batas tertentu dalam suatu paragraf dapat dijadikan indikator bahwa paragraf yang bersangkutan semakin padat dan informasi yang disampaikan secara eksplisit semakin sedikit. Sebaliknya, bila cacah kalimatnya lebih banyak dari yang dibutuhkan, di dalam paragraf itu akan terjadi keterulangan . kalimat yang akhirnya akan mempengaruhi proses pemahaman pembaca terhadap paragraf tersebut (Larcher, 2. Formula keterbacaan saat ini menggunakan dua tolok ukur, yakni . panjang-pendeknya kalimat, dan . tingkat kesulitan kata (Sulistyaningsih et al. , 2. Semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata maka bahan bacaan yang dimaksud semakin sukar. Begitu pula sebaliknya, apabila kalimat dan katanya pendek-pendek maka wacana yang dimaksud tergolong wacana yang mudah. Dalam menentukan keterbacaan suatu teks pelajaran dilakukan kajian pada tiga hal, yaitu keterbacaan teks, latar belakang pembaca, dan interaksi antara teks dengan pembaca (Bormuth. Keterbacaan berhubungan dengan peristiwa membaca yang dilakukan seseorang, sehingga akan bertemali dengan aspek . Ketiga komponen tersebut akan dapat menerangkan keterbacaan buku teks pelajaran. Adanya perbedaan komponen pada setiap bacaan tentu berpengaruh pada pemahaman pembaca. Seperti yang diungkapkan (Onafiani, 2. , bahwa perbedaan struktur kalimat dalam bentuk pasif dalam satu bahasa saja bisa berbeda bentuk dan ragam. Berdasarkan kedua jenis pendekatan penghitungan keterbacaan dalam buku ajar bahasa Jawa di atas, terdapat hasil yang berbeda. Hasil penghitungan dengan grafik Fry menyatakan bahwa ada 3 wilayah yang tingkat keterbacaan buku ajar sesuai dengan tingkat SD yaitu Tuban. Surabaya, dan Malang, sedangkan berdasarkan penghitungan teknik klose, hanya ada 2 wilayah Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 485Ai496 Endang Sri Maruti yang sesuai dengan tingkat SD, yaitu Madiun dan Surabaya. Perbedaan itu terjadi karena adanya perbedaan subjek yang dipilih. Hasil ini sesuai juga dengan pendapat Widyaningsih & Zuchdi . yang menyatakan bahwa responden dalam penghitungan klose dipilih dengan berdasarkan pada kategori tertentu dan bertujuan untuk memudahkan pembatasan responden, namun pemilihan katagori tersebut ternyata sangat berpengaruh secara signifikan dalam penelitian ini. Dengan memilih responden yang sesuai arahan guru kelas, yakni siswa dengan prestasinya cukup bagus, setelah diuji dengan teknik klose banyak yang hasilnya tidak lagi frustrasi, tetapi independen dan instruksional. Selain perbedaan tersebut, dalam bahasa Jawa banyak terdapat kosakata serapan dan paling banyak dari bahasa Sansekerta (Zen, 2. Kosakata serapan itulah yang menjadikan tingkat frustrasi pada teknik klose dapat terjadi karena kosakata tersebut masih tergolong baru bahkan asing bagi kalangan anak sekolah dasar. Bahkan sang guru harus menjelaskan kata-kata tersebut ke dalam bahasa Indonesia dengan mencari padanan kata yang sesuai. Hal ini tentu bertolak dengan pendapat (Tiani, 2. yang menyatakan bahwa dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia terdapat perbedaan yang mencolok dalam struktur Fonologi. Morfologi, dan Sintaksis. Perbedaan tersebut harus menjadi catatan dan pertimbangan khusus untuk guru bahasa Jawa di SD. Grafik Fry yang awalnya digunakan untuk mengukur keterbacaan teks berbahasa Inggris, setelah digunakan dalam bahasa Jawa, hasilnya bisa dikatakan signifikan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Fitzgerald . bahwa jumlah sampel menentukan keakuratan Apa pun bahasanya, jika jumlah sampel telah memenuhi kriteria maka hasilnya sudah pasti akurat. Sampel yang diambil dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria, yakni dengan mengambil wacana bagian depan, tengah, dan belakang buku ajar yang digunakan. Wacana yang diambil juga merupakan wacana yang utuh, bukan berupa kalimat-kalimat yang terpisah-pisah seperti kalimat yang digunakan dalam butir soal. Jumlah kalimat pada wacana yang diambil juga telah memenuhi kriteria, yakni tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu Cacah suku kata dalam setiap kata yang terdapat dalam kalimat sampel juga telah memenuhi kriteria. Hanya saja, dalam bahasa Jawa memang banyak terdapat suku kata yang agak panjang dan terdiri dari huruf yang asli dari aksara Jawa seperti huruf /dha/ dan /tha/ (Subiyanto, 2. Hal itu mungkin yang sedikit berpengaruh pada tingkat keterbacaan teks berbahasa Jawa. Selain proses fonologis, proses morfologis bahasa Jawa yang tergolong unik juga berpengaruh cukup signifikan. Seperti yang diutarakan oleh (Shiyam, 2. , dalam buku bacaan anak yang dikonsumsi usia sekolah, banyak kata yang sudah mengandung afiksasi, reduplikasi dan komposisi yang cukup beragam. Penggunaan buku ajar yang berbeda-beda ditentukan oleh tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Kelompok Kerja Guru (KKG) tiap Kabupaten. Tim KKG Bahasa Jawa dari Kabupaten Tuban. Surabaya, dan Malang sebagian besar anggotanya berasal dari tamatan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Guru muatan lokal bahasa Jawa di tiga kabupaten itu bukan diampu oleh guru kelas yang berasal dari S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), melainkan guru asli muatan lokal Bahasa Jawa yang paham dengan tata bahasa Jawa, sehingga buku ajar yang dipilih dan digunakan juga sudah sesuai dengan usia siswa sekolah dasar. Berbeda halnya jika guru bahasa Jawa yang berasal dari S1 PGSD yang hanya menerima mata kuliah bahasa Jawa 2 SKS selama jenjang S1. Hal itu tentu membuat guru tamatan S1 PGSD berbeda kualitas maupun pemahaman tentang materi bahasa Jawa dibanding guru tamatan S1 Pendidikan Bahasa Jawa (Maruti et al. , 2. Hasil penelitian ini juga mendukung apa yang dinyatakan Kaplan et al. , . tentang berbagai alasan yang menjadi penyebab gagalnya pembelajaran bahasa di sekolah. Dalam hal ini penyebab utamanya yaitu kurangnya materi ajar bahasa Jawa, sehingga guru memungut materi dengan sesuka hatinya. Layaknya pembelajaran bahasa Inggris, pada kegiatan pembelajaran bahasa Jawa tentu saja membutuhkan bahan dan materi ajar seperti kamus besar, tata bahasa, ejaan, buku pelajaran, kaset audio, komputer, dan banyak sumber daya lainnya yang seharusnya semua itu disediakan gratis atau setidaknya mudah dijangkau. Kesulitan yang dialami guru Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 485Ai496 Investigasi keterbacaan bahan ajar bahasa Jawa jenjang sekolah dasar: Analisis grafik Fry dan teknik Klose bahasa Jawa inilah yang menyebabkan banyak guru mengambil teks untuk dimasukkan dalam bahan ajar dengan tidak memperhatikan tingkat keterbacaannya. Penutup Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik simpulan bahwa buku ajar baik berupa buku paket maupun LKS yang dipakai dalam pembelajaran bahasa Jawa di wilayah Jawa Timur masih ada yang tidak sesuai sasaran. Berdasarkan hasil analisis, sebagian buku ajar yang digunakan sesuai untuk kelas 6 (SD), namun sebagian lainnya tidak sesuai dengan jenjang SD. Sebagian buku ajar bahasa Jawa yang digunakan di SD justru sesuai untuk tingkat kelas 7 dan 8. Tingkat 7 dan 8 merupakan jenjang SMP, sehingga bisa disimpulkan bahwa buku ajar yang digunakan tidak sesuai dengan jenjang SD yang seharusnya. Berdasarkan teknik klose, buku ajar yang digunakan masuk dalam kategori frustrasi, yang artinya buku itu tidak sesuai karena terlalu sulit untuk dipahami siswa SD. Hal itu perlu mendapat perhatian dari tim KKG khususnya di Jawa Timur dalam merancang buku ajar atau memilih buku ajar Bahasa Jawa untuk siswa SD. Hasil ini tentu bisa dijadikan evaluasi terhadap hasil pembelajaran bahasa Jawa yang dicapai belum bisa maksimal karena belum tersedianya buku ajar yang relevan. Dari simpulan ini bisa dimanfaatkan untuk para guru dan juga para pengembang buku ajar bahasa Jawa, sebagai pedoman dalam penyusunan dan pengembangan bahan ajar bahasa Jawa yang lebih komprehensif dan memadai untuk menunjang ketercapaian pembelajaran. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada Universitas PGRI Madiun yang telah membantu menyelenggarakan penelitian ini. Daftar Pustaka