Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. ANALISIS KUALITAS PRODUK MENGGUNAKAN METODE FAILURE MODE EFFECT ANALYSIS (FMEA) UNTUK MENGIDENTIFIKASI FAKTOR PENYEBAB DOMINAN Ayi Tejaningrum. Indri Rustyani Jurusan Manajemen STIE EKUITAS Bandung Indonesia tejaningrum@ekuitas. Jurusan Manajemen STIE EKUITAS Bandung Indonesia indrirustyani20@gmail. Diterima : 06 Juli 2019 Disetujui : 24 September AbstractAi Determining the cause of the dominant suitability in a process is the final goal of this study, so the company is able to take action for improvement. The study was conducted at PT. Berdikari Metal Engineering with object research products of Dies Holder Comp Element. The main problem at this time regarding the number of defects is still high, reaching 7. In January to June 2018, the total production reached 735,395 pcs with the number of incompatible products of 52,382 pcs. Case study resear ch methods with quantitative descriptive analysis as the basis for analysis, and Failure Mode Effect Analysis (FMEA) are used as tools in problem solving. Based on field analysis, the highest RPN value is found in the casting process with a value of 400, so companies must improve accuracy in the stages of material refinement, material classification and rolling process so that it reaches a thickness of 0. 4 mm and a length of 39. 5 mm. Some actions that should be taken by the company include improving HR skills, especially in the process of working accuracy, making changes in factory air temperature, doing engine maintenance. With this proposal, it is expected to reduce product incompatibility by 31%. KeywordsAi Quality Product. FMEA. RPN (Risk Priority Numbe. AbstrakAi Menetapkan penyebab ketasesuain dominan pada suatu proses adalah tujuan akhir dari penelitian ini, sehingga perusahaan mampu mengambil tindakan untuk perbaikan. Penelitian dilakukan di PT. Berdikari Metal Engineering yang dengan objek penelitian produk Dies Holder Comp Element. Permasalhan utama saat ini berkenaan dengan jumlah cacat yang masih tinggi yaitu mencapai 7. Pada bulan Januri s/d Juni 2018, jumlah produksi mencapai 735. 395 pcs dengan jumlah produk taksesuai 382 pcs. Metode penelitian studi kasus dengan analisis deskriptif kuantitatif sebagai dasar analisis, dan Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dipakai sebagai tools dalam penyelesaian masalah. Berdasarkan analisis lapangan menunjukan nilai RPN tertinggi ada pada proses pengecoran dengan nilai 400, sehingga perusahaan harus meningkatkan akurasi pada tahapan penghalusan material, pembolongan material dan proses penggulungan sehingga mencapai ketebalan 0. 4 mm dan panjang 39. 5 mm. Beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan perusahaan diantaranya adalah meningkatkan skill SDM terutama dalam proses ketelitian kerja, melakukan perubahan suhu udara pabrik, melakukan maintenance mesin. Dengan usulan tersebut diharapkan akan menurunkan ketaksesuaian produk mencapai 31%. Kata Kunci: Kualitas Produk. Metode FMEA. RPN . isk Priority Numbe. PENDAHULUAN Kualitas produk merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan perusahaan, hal ini disebabkan karena konsumen akan benar benar melakukan transaksi ketika produk yang dikonsumsi terbebas dari kesalahan, fitness for use, juga melebihi nilai nilai yang dihasilkan Beberapa pakar kualitas mendefinisikan kualitas dengan beragam interpretasi (Prihantoro : 2. Kualitas bisa juga disebut sebagai pemenuhan batasan spesifikasi, tidak melebihi dan juga tidak kurang. Pada referensi lainnya kualitas juga bisa disebut sebagai upaya perusahaan untuk memenuhi keinginan dan harapan konsumen (Tejaningrum : Dalam implementasi pelaksanaan kualitas produk banyak perusaahaan mengimplementasikan berbagai metode mulai dari TQM. MBNQA. House of Quality. QFD. Statistical Quality Control. FMEA. Metode FMEA (Failure Mode Effect Analysi. semula di kembangan dan digunakan dalam proses tahapan six sigma pengendalian kualitas. Metode ini berkembang tidak saja di area manufaktur tetapi sudah masuk ke industri jasa seperti rumah sakit, hotel, perbankan bahkan pariwisata. Secara konsep metode FMEA digunakan untuk mencegah terjadinya kegagalan proses, di mana output yang dihasilkan berupa angka risiko prioritas atau sering disebut RPN (Risk Priority Numbe. Menurut McDermott, . FMEA adalah tools untuk mengidentifikasi akar penyebab kegagalan suatu produk atau tidak terpenuhinya spesifikasi produk. Dalam kaitan lebih lanjut penggunaan FMEA akan mengenal istilah yang berhubungan dengan potential failure modes, effect dan ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. TABEL 1. JUMLAH PRODUKSI DAN JUMLAH CACAT Firdaus . bahwa FMEA adalah analisis untuk menetapkan rating tertinggi dari perkalian antara pengaruh, penyebab dan deteksi atau dikenal dengan istilah S-O-D . everal, occurrence, detectio. PT. Berdikari Metal Engineering terletak di Jl. Industri i No. 6 Leuwigajah-Cimahi. Bandung. Didirikan oleh Mr. Hasan Wahyudi pada tahun 1960, berfokus pada sepeda motor & aksesoris. PT. Berdikari Metal Engineering menghasilkan produk berstandar internasional dengan kualitas yang diakui di berbagai negara. Sebagai pemasok suku cadang, aksesoris motor & diesel. Salah satunya yang diproduksi yaitu Dies Part Holder Comp Element, yaitu komponen atau bagian dari mesin motor yang berfungsi sebagai penyaring. Penyaring yang berada dibagian mesin motor ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian, seperti Holder Comp Element. Plat A Comp. Plat B Comp dan Plat V Comp, dan yang akan penulis bahas di penelitian ini yaitu bagian Holder Comp Element nya. Dies adalah cetakan pressing yang dipergunakan untuk proses pemotongan . dan pembentukan . dari bahan plat . heet meta. baja atau plat alumunium, stainless steel dll. Proses ini sendiri dilakukan dengan mesin press, baik dengan sistem hidrolik maupun mekanik. Sampai sekarang masih banyak ditemui mesin press manual yang dipergunakan untuk kebutuhan tersebut. Dengan mempergunakan dies tersebut kita dapat memproduksi barang atau komponen metal dengan jumlah yang besar sesuai dengan kebutuhan dan kualitas yang sama dan dapat dipertahankan. Dalam menjalankan proses produksi Holder Comp Element. PT. Berdikari Metal Engineering menerapkan suatu prosedur . lowchart prose. yang bertujuan sebagai pedoman dalam menjalankan proses produksi. Berikut flowchart proses produksi Holder Comp Element PT. Berdikari Metal Engineering. GAMBAR 1 : PROSES PRODUKSI HOLDER COMP ELEMENT Dalam kegiatan produksi Holder Comp Element memiliki masalah berkenaan dengan tingginya kecacatan produk. Berikut adalah data produksi dan kecacatan produk yang dihasilkan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2018. ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Bulan Jumlah Produksi Putus Goresan Januari Febuari Maret April Mei Juni Jumlah Rata Rata Sumber : PT. Berdikari Metal Engineering Gap Renggang Jumlah Cacat Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa jumlah produksi cacat pada bulan Januari Ae Juni 2018 yaitu 52. pcs atau mencapai 7. 9% dari target 2%. Terdapat 3 jenis kecacatan pada produksi Holder Comp Element yaitu, putus lubang, cacat goresan kasar, dan gap renggang. Jenis cacat pertama pada produk Holder Comp Element yaitu cacat putus lubang, yang terdapat pada saat proses pembolongan material menggunakan mesin, jumlah cacat pada saat proses pembolongan selama bulan Januari Ae Juni 2018 terdapat 26. 167 pcs, jumlah cacat terbanyak terdapat pada bulan Februari sebesar 6. 700 pcs, hal ini dikarenakan pada saat proses pembolongan mesin yang digunakan tidak stabil dalam proses pemanfaatannya. Jenis cacat yang kedua pada produk Holder Comp Element yaitu terdapat cacat goresan kasar pada saat produk sudah jadi. Jumlah cacat goresan selama bulan Januari Ae Juni 2018 255 pcs, dan jumlah cacat terbanyak pada bulan Januari sebesar 4. 500 pcs, hal ini dikarenakan dalam proses produksi nya yang tidak rapi atau kurangnya pengawasan sehingga menghasilkan produk jadi yang masih terdapat cacat goresan kasar yang banyak. Kemudian jenis cacat yang terakhir pada produk Holder Comp Element yaitu terdapat gap renggang pada saat proses penggulungan material nya. Jumlah cacat gap renggang selama bulan Januari Ae Juni 2018 terdapat 8. 140 pcs, dan jumlah cacat terbanyak pada bulan Maret sebesar 2. 790 pcs, hal ini dikarenakan dalam proses produksi penggulungan pada material nya tidak pas yang diakibatkan oleh mesin yang digunakannya kurang bertenaga dalam penekanan nya. Pada hakikatnya mesin-mesin di perusahaan PT. Berdikari Metal Engineering ini tergolong canggih namun tetap saja mesin tidak selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan, selalu ada masalah atau kegagalan dalam proses kerja mesin, dan hal ini pun mengakibatkan kerugian pada PT. Berdikari Metal Engineering karena perusahaan harus melakukan pekerjaan ulang dan menambah biaya atas proses pengerjaan ulang . Dalam penelitian terdahulu Menurut Nanda dkk. rework merupakan proses pengerjaan ulang suatu hal . karena tidak sesuai standar. Penenlitian ini untuk menganalisis penyebab terjadinya cacat dengan menggunakan metode FMEA. Beberapa penelitian berkenaan dengan penggunaan metode FMA diantaranya adalah Richma dkk( 2. Nia Budhi Puspita dkk . Muzakkir dkk . Rakesh. Jos & Mathew . Iswanto . Dengan menggunakan metode FMEA untuk mengidentifikais jenis kecacatan yang terjadi, menetapkan faktor penyebab dan solusi yang harus dilakukan. KAJIAN TEORI Penelitian ini menganalisi kecacatn produk dnegan menggunakan metode FMEA. Untuk konsep kecacatan produk mengadopsi teori teori yang disampaikaan oleh ahli kualitas diantaranya Deming. Goest. Juran. Ishikawa. Crosby yang berhasil penulis simpulkan, bahwa kualitas adalah sesuatu yang memenuhi standar yang ditetapkan atau membandingkan dengan pesaing dengan tujuan utama mendapakan kepuasan konsumen. Kualitas ini bersifat dinamis atau berubah seiring dengan perubahan ilmu pengetahuan, teknologi dan peradaban manusia (Tejaningrum Beberapa kajian menyampaikan perspektif kualitas yaitu dari pendekatan trascedental, product, manufature, user and value. Dalam kajian ini kualitas difokuskan kedalam pendekatan produk, dimana kualitas harus memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditetapkan perusahaan. Oleh sebab itu kecacatan berhubungan dengan penyimpangan dari nilai standar yang ditetapkan perusahaan. Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian studi kasus pada PT. Berdikari Metal Engineering Cimahi, dengan analisis penelitian deskriptif kuantitatif yang berusaha menggambarkan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa terjadi dengan tujuan menggambarkan secara sistematis, fakta, dan karakterisitik objek yang diteliti secara tepat. Penelitian ini terdiri dari sejumlah tahapan yakni observasi dan diskusi awal dengan bagian produksi dan quality control, kajian pustaka, perumusan masalah penelitian, identifikasi variabel, pengumpulan data, pengolahan data, dan kesimpulan, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi. Adapun tahapan dalam proses analisis metode FMEA nampak seperti pada gambar 2 dibawah ini Konsep FMEA sebagai metode untuk menganalisi nilai risiko tertinggi dan mencari factor penyebab juga menganalisis bagaimana melakukan perbaikan, mengadopsi apa yang disampaikan Ookalkar. Joshi and Ookalkar, 2009. Tahapan yang dilakukan untuk metode FMEA adalah . Mengidentifikasi jenis kegagalan, dalam tahap ini mengumpulkan data terkait produk dan membandingkannya dengan spesifikasi, . Menentukan Severity atau intensitas kejadian yang berakibat pada kecacatn produk akhir, . Menetapkan Occurace yaitu faktor penyebab kegagalan atau ketasesuain produk dan terakhir . berkaitan dengan detection yaitu proses pengendalian yang sudah dilakukan Berikut adalah nilai dari Severity (S). Occurance (O) dan Detection (D). GAMBAR 2. TAHAPAN PENYELESAIAN MASALAH DENGAN METODE LFMEA TABEL 2. NILAI SEVERITY. OCCURANCE. DETECTION Severity Rating Occurance Rating Detection Rating Sumber : Richma Yulinda dkk . yang disesuikan Ket : M (Mino. L (Lo. Md (Moderat. H (Hig. VH (Very Hig. U (Unlike. VL (Very Lo. Dalam perhitungan FMEA akan dianalisi moda kegagalan yang dinilai dengan tingkat risiko dengan analisi risiko yang di hitung dari tingkat kecenderuangan dan dampak (Sutrisno & Lee : 2. Sementara untuk menghitung besarnya RPN (Risk Priority Numbe. sangat ditentukan oleh besarnya nilai S. O dan D (Stamatis : 1. Secara matematis formula dari RPN adalah perkalian antara S. O dan RPN = S x O x D Ket : Severity (S). Occurance (O) dan Detection (D). RPN : Risk Priority Number HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis lapangan melalui kegiatan observasi dan wawancara. PT. Berdikari Metal Engineering, dalam proses manajemen kualitas melalui beberapa tahapan. Tahap pertama dimulai dengan bahan baku pada saat pertama masuk ke pabrik akan dilakukan inspeksi atau pemeriksaan untuk memastikan kualitas produk. Spesifikasi dari row material adalah . tidak cacat . tidak belah dan . memiliki ukuran yang sama atau tidak bervarians. Selanjutnya adalah tahap pemotongan material dengan spesifikasi ketebalan 0. 4 mm dan panjang 39. 5 mm. Berikutnya adalah tahap pierching-cutting-roll, untuk proses penghalusan permukaan sehingga cacat karena permukaan kasar bisa dihilangkan. Tahap berikutnya adalah pembolongan material atau pengeboran yang sering kali menimbulkan masalah kecacatan dengan indikasi, bolongan belah, terpotong, gap renggang dan goresan. Terakhir adalah pengecekan kualitas output dengan kriteria sebagai berikut : C Bolongan full . idak setengah bula. pada setiap C Tidak terdapat gap renggang pada gulungan C Tidak ada goresan kasar ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. A). Failure Mode. Failur Case dan Failur Effect Berikut adalah jenis jenis kegagalan (Failure Mod. , akibat yang akan ditimbulkan (Effect of Failur. dan Penyebab kegagalan ( Cause of Failur. TABEL 3. FAILURE MODE. FAILURE CAUSE AND FAILURE EFFECT Failure Mode Failur Cause Failur Effect Produksi tertunda Pemotongan Pembolongan Keterlambatan Mesin dengan akurasi rendah Stabilitas pressing kurang Produsi off Material tidak jadi diproses Bahan setengah Cacat renggang dan bolong Bahan setengah jadi tidak halus Renggang dan Produk Roll Goresan Kasar Penggulungan Penghalusan kembali . Sumber : Analisis data lapangan Mesin dengan akurasi Mesin sering macet Mesin tidak stabil Akurasi pierching yang rendah Berdasarkan tabel 3 diatas, teridentifikasi 7 jenis kegagalan yang mungkin terjadi yaitu berhentinya produksi, proses ini disebabkan oleh keterlambatan kedatangan bahan Berikutnya adalah kegagalan pemotongan material yang disebabkan oleh mesin pemotong tidak berjalan dengan baik sehingga berakibat pada penolakan bahan untuk proses Kegagalan ketiga adalah cutting, yang menyebabkan terjadinya kegagalan yaitu mesin cutting . setiap bahan setengah jadi tersebut tidak pas atau tidak memenuhi spesifikasi, misalkan patah, bolongan tidak sempurna, lingkaran terlalu kecil atau terlalu besar dll. Ke enam berhubungan dengan kegagalan roll . hal yang menyebabkan terjadinya kegagalan yaitu dari aspek Mesin yang berguna untuk penggulungan dari bahan setengah jadi yang sudah dilakukan proses pembolongan, dalam proses penggulungan sering terjadinya renggang antara kedua sisinya . idak menyat. B) Menetapkan RPN (Risk Priority Numbe. Langkah berikutnya adalah menentukan besarnya nilai serevity (S), occurence (O), dan detection (D) dengan berpedoman pada tabel 2, dan untuk besarnya nilai dari S-O-D di PT. Berdikari Metal Engineering dilakukan observasi dan diskusi dengan kepala bagian operasi. Semakin tinggi angka yang didapat maka semakin besar resiko yang didapat perusahaan dan sebaliknya ketika nilai kecil maka nilai risiko Dengan diketahuinya nilai severity, occurrence dan detection, maka kita bisa menghitung besarnya RPN. Berikut adalah nilai yang didapat, seperti nampak pada tabel 4. TABEL 4. FAILURE MODE. FAILURE CAUSE AND FAILURE EFFECT Failure Mode Produksi tertunda Pemotongan Pembolongan Failur Cause Failur Effect Keterlambatan Produsi off Mesin pemotong dengan Material tidak jadi diproses akurasi rendah Stabilitas mesin pressing Bahan setengah jadi mengandung Roll Mesin dengan akurasi rendah Cacat renggang dan bolong Goresan Kasar Mesin pierching sering macet Bahan setengah jadi tidak halus Penggulungan Mesin penggulung tidak Renggang dan pecah Penghalusan kembali Akurasi mesin pierching Produk tidak halus . yang rendah Sumer : Diolah dari Data Lapangan Ket (S) : Serevity (O) : Occurence (D) : Detection (RPN) : Risk Priority Number Pada tabel 4 RPN proses produksi dihasilkan beberapa modus kegagalan, yang memiliki risiko tertinggi rank 1 dengan nilai RPN 400 yaitu terjadinya proses pemanfaatan mesin cutting . RPN Diagram Fishbone Proses Cutting (Pembolonga. Methods Man Tidak ada pengawasan C) Menetepkan Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Berdasarkan hasil penelitan menggunakan metode failure mode and effect analysis (FMEA) pada proses produksi Holder Comp Element terdapat 3 potensi mode kegagalan yang mempunyai nilai RPN di atas 150. Cause and effect diagram atau sering disebut diagram tulang ikan adalah diagram yang biasa digunakan untuk mengidentifkasi faktor penyebab dari suatu problem. Berikut adalah fishbond diagram untuk mengidentifikasi penyebab ketasesuaian pada proses cutting,pierching dan roll. ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Lalai saat pengecekan Tidak ada standar waktu yang digunakan Lingkungan sekitar panas, karena tempatnya di lantai 2 dan atapnya dari Environment Mesin kurang Machines GAMBAR 3. FAKTOR PENYEBAB KEGAGALAN PUTUS LUBANG Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. Terdapat 4 penyebab putus lupang pada produk, seperti nampak pada gambar 3, yaitu material, machine, eviromentaal dan method. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan dan diskusi dengan bagian produksi diduga bahwa factor penyebab dominan dari 4 hal tersebut adalah pada mesin. Mesin pressing yang tidak stabil/ tidak pas dalam proses pembolongan setiap material nya sehingga menimbulkan bolongan yang tidak sesuai dengan standar perusahaan. Potensi bahaya ini terjadi pada saat material berada di mesin pressing yang tidak bisa diberhentikan begitu saja, karena mesin nya sudah otomatis berfungsi sendiri jadi tidak bisa terkontrol oleh para pekerja. Penyebab mesin pressing yang tidak stabil dalam proses produksi didapatkan ada empat faktor penyebab, yaitu faktor methods, man, environment, dan machine. Pada faktor metode, penyebab dapat terjadi karena tidak adanya standar waktu yang digunakan, maksudnya yaitu mesin pressing ini berjalan otomatis jadi tidak bisa diberhentikan begitu saja saat ada produk setengah jadi yang cacat. Faktor penyebab lainnya yaitu man, pada faktor manusia penyebab dapat terjadi karena lalai dalam pengecekan kembali produk setengah jadi tersebut setelah dilakukan proses cutting . , tetapi penyebab ini sangat minim dan jarang Faktor lingkungan yang tidak nyaman adalah suhu ruangan yang panas, dikarenakan proses pproduksinya dilakukan di lantai 2 dan atapnya yang menggunakan asbes, sehingga para pekerja tidak fokus dalam bekerjanya. Berdasarkan hasil diskusi factor ini bisa terjadi tetapi masih dianggap tidak dominan. Semua faktor-faktor penyebab kegagalan proses tersebut mengakibatkan ketidak sesuaian output (Holder Comp Elemen. yang tidak sesuai dengan keinginan perusahaan sehingga harus dilakukan proses produksi kembali . agar dapat dilanjutkan ke proses berikutnya. Potensi bahaya ini terjadi pada saat bahan baku/ material dalam tahap proses piercing, kegagalan proses teridentifikasi pada saat hasil bahan baku/ material selesai dilakukan penghalusan dan bahan baku/ material masih terdapat goresan-goresan kasar yang terkesan tidak rapi karena tidak Penyebab mesin piercing yang kurang kontinyu/ macet ada tiga faktor penyebab, yaitu faktor methods, man, dan Pada faktor penyebab metode yaitu tidak adanya batasan material yang harus dimasukkan sehingga apabila bahan baku/ material terlalu banyak maka tidak semua bahan baku terproses oleh mesin, banyak yang terlewatkan sehingga masih terdapat material yang kurang halus. Pada faktor manusia penyebab teridentifikasi adanya para pekerja yang sangat kurang hati-hati dalam bekerja, contohnya para pekerja yang tidak bisa memperkirakan bahan baku yang seharusnya dimasukan sudah terlalu penuh atau tidak, apalagi sudah tidak terdapatnya metode kapasitas yang harus dimasukkan setidaknya para pekerjanya yang harus lebih cermat lagi dalam proses bekerjanya sehingga tidak banyak menimbulkan kecacatan pada material nya. Faktor penyebab lainnya yaitu pada machine, mesin yang dipakai dalam proses pemanfaatannya kurang kontinyu bahkan mesin yang macet. Semua faktor-faktor penyebab kegagalan proses tersebut mengakibatkan ketidak sesuaian output (Holder Comp Elemen. yang tidak sesuai dengan keinginan perusahaan . idak halu. sehingga harus diproses kembali . agar dapat melanjutkan ke proses berikutnya. Diagram Fishbone Proses Penggulungan Bahan Setengah Jadi Machines penekanan mesin saat penggulungan Diagram Fishbone Proses Piercing (Penghalusa. Material Methods Methods tidak benar saat penyimpanan material ke dalam mesin nya Man Tidak ada kapasitas mesin tidak melakukan Kurang hati-hati Terdapat Man Kegagalan dalam proses berjalannya Machines GAMBAR 4. FAKTOR PENYEBAB GORESAN KASAR PADA MATERIAL. Kecacatan berikutnya adalah terdapat goresan kasar pada Proses ini terjadi pada tahapan proses piercing . Proses dilakukan dengan menyimpan material di atas mesin yang nantinya akan secara otomatis menghaluskan material-material tersebut. Akibat dari potensi penyebab kegagalan teridentifikasi terdapatnya mesin piercing yang kurang kontinyu/ macet. GAMBAR 5. FAKTOR PENYEBAB GAP RENGGANG Gambar 5 merupakan diagram sebab akibat pada tahapan proses penggulungan bahan setengah jadi Holder Comp Element. Terdapat 3 faktor penyebab produk mengalami perenggangan, yaitu aspek manusia, mesin dan metode. Pada faktor metode yang tidak benar saat penyimpanan bahan setengah jadi di mesin penggulungan yang mengakibatkan bahan setengah jadi tersebut tidak maksimal dan akhirnya mendapatkan gap renggang antar sisi nya. Pada faktor penyebab mesin yaitu, kurangnya penekanan saat proses mesin bekerja, hal itu dikarenakan mesin yang kurang perawatan sehingga mengahasilkan mesin yang kurang bertenaga saat dipakai untuk proses produksi Holder Comp Element ini. Faktor penyebab lainnya yaitu manusia, para pekerja tidak melakukan pengawasan saat proses mesin bekerja, dan setelah ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. mesin selesai bekerja terdapat Holder Comp Element banyak yang renggang, saat pengecekan kembali banyak yang terlewatkan, sehingga saat pengumpulan masih ditemukan menurunkan kecacatan. Berikut adalah upaya yang dilakukan. Upaya ini adalah hasil observasi dan dikusi dengan tenaga kerja yang terlibat dan juga manajer produksi. D) Tindakan yang Dilakukan untuk Menurunkan Kecacatan Berdasarkan analisis faktor penyebab, langkah berikutnya adalah melakukan tindakan yang harus dilakukan untuk TABEL 5. TINDAKAN UNTUK PENURUNAN KECACATAN Jenis Cacat Penyebab Cacat Tindakan Putus Lubang Tidak ada Pengawasan Mengharsukan Menetapkan standar waktu Memberikan reward and Perbaikan ventilasi udara Maintenance Machine Pengaturan SOP Tidak ada standar waktu Lalai saat pengecekan Goresan Gap Suhu panas ditempat kerja Mesin kurang akurat Batasan kapasitas mesin Kurang hati hati Kegagalan dalam proses berjalannya mesin Kurang penekanan mesin saat penggulungan Posisi penyimpnan kurang Pengawasan Standardisasi oeprasional Maintenance machine Peluang Penurunan Jumlah produk cacat Penuruanan Hasil Penggantian mesin Perbaikan SOP pengawasan saat mesin berjalan Sumber : Diolah dari data lapangan Dari tabel 5 didapatkan dari hasil wawancara dengan Ibu Elsa Novianti selaku manajer produksi, dapat dilihat bahwa dari jenis kecacatan putus lubang saat proses cutting . didapatkan presentase peluang penurunan cacat sebesar 25%, sehingga didapatkan penurunan jumlah produk cacat sebesar 6. 542 pcs dari jumlah produk cacat 167 pcs dari bulan Januari-Juni 2018 menjadi 625 pcs. Selanjutnya jenis kecacatan goresan kasar pada material saat proses piercing . pada material didapatkan presentase peluang penurunan cacat sebesar 45%, sehingga didapatkan penurunan jumlah produk cacat sebesar 8. 201 pcs dari jumlah produk cacat sebesar 18. 225 pcs dari bulan Januari-Juni 2018 menjadi 10. 024 pcs. Lalu yang terakhir pada jenis kecacatan gap renggang pada produk Holder Comp Element saat proses penggulungan dengan mesin, didapatkan presentase peluang penurunan cacat sebesar 30%, sehingga didapatkan penurunan jumlah produk cacat sebesar 2. 442 pcs dari jumlah produk cacat sebesar 140 pcs dari bulan Januari-Juni 2018 menjadi 5. 698 pcs. Dari penurunan jumlah cacat produk Holder Comp Element dari bulan Januari-Juni 2018 didapatkan jumlah kecacatan keseluruhan dari ketiga jenis cacat tersebut dari jumlah awal produk holder comp element yang cacat sebesar 532 pcs ke 35. 347 pcs . ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Untuk menurunkan angka kecacatan, berikut adalah beberapa usulan yang penulis sarankan. Usulan ini sebagaai hasil dari observasi selama dilapangan dan dari analisis penyebab kegagalan seperti yang sudah disampaikan dengan diagaraam sebab akibat. Usulan pertama adalah penambahan safety stock untuk mencegah berhentinya proses produksi sehubungan dengan ketasesuaian bahan baku. Kedua berkaitan dengan kegiatan perawatan mesin terutama berkenaan dengan preventive maintenance, pada mesin cutting, mesin roll dan mesin piercing. Beberapa perawatan yang bisa dilakukaan diantaranya adalah pembersihan debu debu, pemberian oil sesuai dengan manual book, start up sebelum dipakai, menjauhkan dari barang barang yang membuat lingkungan kotor, perawatan berkala, penggantian spare part sesuai dengan ketentuan dll. Usulan berikutnya adalah terkait bidang peningkatan motivasi dan skill pekerja. Beberapa analisi lapangan menunjukan kekurang hati hatian pekerja dalam proses memasukan bahan baku kedalam mesin juga lalai dalam proses pengawasan. Usulan penulis terlihat pada tabel 6 berikut ini. Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. TABEL 6 : USULAN TINDAKAN PERBAIKAN Failure Mode Produksi tertunda Pemotongan material/bahan baku Cutting . Roll Cacat/ goresan kasar Penggulungan Holder Comp Element yang renggang . Penghalusan material yang masih ada cacat goresan . Failure Cause Usulan Perbaikan Kedatangan material terlambat Menambah jumlah safetystock agar saat terjadi keterlambatan material yang datang tidak akan berpengaruh pada berjalannya proses produksi Mesin pemotong yang tidak akurat saat penggunaan Memberikan perawatan pada mesin, khususnya bagian pisau yang akan memotong material nya, sehingga tidak terjadi waste of inventory Mesin pressing untuk pembolongan setiap bahan setengah jadi tidak stabil Memberikan perawatan pada mesin dan saat penyimpanan material pada mesinnya harus di cek ulang apakah sudah pas atau belum Mesin yang beroperasi tidak akurat dalam proses penggulungan bahan setengah jadi (Holder Comp Elemen. Memberikan perawatan pada mesin, dan menambah daya tekanan pada mesin penggulung agar penekanannya maksimal. Mesin piercing yang belum kontinyu/ macet dalam pengerjaannya Memberikan perawatan pada mesin, dan melakukan penajaman ulang pada mesin agar tajam saat proses piercing Mesin penggulung yang terkadang tidak stabil Melakukan pengawasan saat berlangsung proses produksi, sehingga bisa dilakukan perbaikan ketika terjadi penyimpangan. Mesin piercing yang kurang dalam proses penghalusan Melakukan pengawasan saat proses berjalan, agar bisa langsung dimasukkan lagi ke dalam mesin piercing dan bisa mengefisiensikan waktu, sehingga tidak terjadi waste of proceses dan waste of motion Sumber : Diolah dai data lapangan. Pada tabel 6 memperlihatkan solusi yang diberikan penulis kepada perusahaan, semua kegiatan proses yang berisiko menimbulkan kegagalan dalam setiap proses produksinya, sehingga harus memiliki solusi karena semua proses sangat Berdasakan hasil dari FMEA dan RPN maka dapat dilihat bahwa perbaikan difokuskan pada seluruh tahapan proses yang memiliki potensi kegagalan, karena semuanya memiliki potensi kegagalan dan mempengaruhi produk yang dihasilkan. GAMBAR 6 : FLOW CHART PROSES PRODUKSI YANG DIUSULKAN Peningkatan pada tahapan proses tersebut dengan adanya inspeksi, tujuan diterapkannya sistem inspeksi ini agar dapat mengurangi jumlah produk cacat/ tidak sesuai standar Selain itu dengan diterapkannya sistem inspeksi diharapkan tidak ada bahan baku Holder Comp Element dan produk setengah jadi yang cacat/ tidak sesuai standar perusahaan, sehingga dapat mengurangi proses rework pada produksi Holder Comp Element. E) Pembahasan Sebelum dan Sesudah Menggunakan Metode FMEA Metode FMEA (Failure Mode Effect Analysi. adalah metode usulan yang disarankan pada perusahaan PT. Berdikari Metal Engineering oleh penulis, dimana metode FMEA (Failure Mode Effect Analysi. ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi kegagalan pada setiap tahap proses produksinya, lalu diberikan nilai serevity, occurence, dan detection nya, setelah didapatkan nilainya lalu dicari nilai RPN . isk priority numbe. dengan cara mengkalikan serevity, occurence, dan detection (S x O x D), lalu diperingkatkan nilai RPN tertinggi sampai terendah, dengan menggunakan metode pendukung lainnya seperti fishbone dan flowchart. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka didapatkan perbandingan antara jumlah produk cacat yang dihasilkan oleh metode perusahaan dengan jumlah produk cacat yang dihasilkan oleh metode yang diusulkan penulis sebagai berikut: TABEL 7. PERBANDINGAN JUMLAH PRODUK CACAT Pada gambar 6 dapat dilihat usulan aliran perencanaan proses produksi Holder Comp Element pada PT. Berdikari Metal Engineering, dalam usulan ini penulis meningkatkan salah satu tahapan proses produksi, yaitu pada tahapan proses pemotongan material, tahapan proses piering-cutting-roll. Jenis Cacat Putus lubang Cacat goresan kasar Gap renggang Produk Cacat sebelum Produk Cacat dengan Metode Usulan FMEA Jumlah ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. Dapat dilihat dari tabel 7 di atas bahwa dengan proses produksi yang dilakukan oleh metode perusahaan menghasilkan jumlah produk cacat Holder Comp Element 532 pcs, sedangkan dengan metode usulan FMEA dapat mengurangi jumlah produk cacat sebesar 17. 185 pcs, sehingga dapat menurunkan jumlah produk cacat menjadi 347 pcs, yang dalam artian setidaknya dapat mengurangi waktu proses produksi untuk menjalankan proses produksi kembali produk cacat . dan yang pastinya dapat mengurangi biaya perusahaan. dalam proses produki, adanya system reward dan punishment yang dijalan dengan konsisten. Melakuakan briefing tentang langkah apa yang dilakukan pada setiap karyawan sebelum proses produksi dilakukan setiap harinya, melakukan pengawasan langsung pada setiap mesin yang berjalan pada setiap tahapan proses produksi agar tindakan mitigasi dapat dengan mudah dilakukan sehingga kendala ataupun kegagalan dalam proses produksi dapat diindentifikasi dan dicegah untuk sementara Ardj/Swd***) KESIMPULAN DAN SARAN Referensi