Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 12. No. Oktober 2021 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang Analysis Of The Suitability Of Mangrove Ecosystem In Taddan Village. Kecamatan Camplong. Sampang District Maywa Widiya Pratiwi. Firman Farid Muhsoni. * . Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Jurusan Kelautan dan Perikanan. Fakultas Pertanian. Universitas Trunojoyo Madura *Penulis Korespondensi : Email: firmanfaridmuhsoni@trunojoyo. (Diterima September 2021/Disetujui Oktober 2. ABSTRACT Mangrove forest areas have diverse biodiversity and biota, an area that has the potential to be developed as a marine ecotourism area. The purpose of this study was to determine the tourism suitability index, the carrying capacity of the area, and the carrying capacity of using mangrove ecotourism in Taddan Village. Camplong District. Sampang Regency. Mangrove data collection methods use line transects and plots (Line Transect Plo. The results showed that the types of mangroves in the research location were Rhizophora stylosa. Rhizophora mucronata. Rhizophora apiculata. Sonneratia alba. Avicennia marina, and Aegiceras corniculate. The suitability of the area to be used as a marine ecotourism area in the mangrove category for all stations in suitable The carrying capacity of an area shows the results of the ability of an area to provide space for the use of 199 people per day, while for per trip as many as 25 people per trip. The carrying capacity of the utilization by considering the area for conservation is 10%, then the yield is 20 people. Keywords: Mangroves. Ecotourism. Area Supporting Capacity ABSTRAK Kawasan hutan mangrove memiliki keanekaragaman hayati dan biota yang beragam, kawasan ini potensial dikembangkan sebagai kawasan ekowisata bahari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui indeks kesesuaian wisata, daya dukung kawasan, dan daya dukung pemanfaatan ekowisata mangrove di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Metode pengambilan data mangrove menggunakan transek garis dan plot (Line Transect Plo. Hasil penelitian mendapatkan jenis mangrove di lokasi penelitian adalah Rhizophora stylosa. Rhizophora mucronata. Rhizophora apiculata. Sonneratia alba. Avicennia marina, dan Aegiceras cornitulatum. Kesesuaian kawasan untuk dimanfaatkan sebagai kawasan ekowisata bahari kategori mangrove untuk semua stasiun pada kondisi sesuai bersyarat. Daya dukung kawasan menunjukkan hasil kemampuan suatu kawasan dalam menyediakan ruang bagi pemanfaatan sebanyak 199 orang per hari, sedangkan untuk per trip sebanyak 25 orang per trip. Daya dukung pemanfaatan dengan mempertimbangkan persentase kawasan untuk konservasi sebesar 10% maka diperoleh hasil sebanyak 20 orang per hari. Kata Kunci: Mangrove. Ekowisata. Daya Dukung Kawasan PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia, jumlah luasnya kurang lebih 25% luas mangrove yang ada di dunia (Eddy et al. , 2. Wilayah tersebut menjadikan kawasan hutan mangrove yang ada di Indonesia sangat disukai oleh biota dan To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI makhluk hidup lainnya. Sehingga wilayah tersebut memiliki keanekaragaman hayati dan biota yang beragam jenisnya dan dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata bahari. Ekowisata bahari terdiri atas tiga kawasan yaitu kawasan yang berada di atas permukaan laut, kawasan yang berada di bawah laut, dan juga kawasan yang berada di pantai (Yulius et al. , 2. Ekowisata bahari khususnya kawasan yang berada di permukaan laut menyajikan ekosistem mangrove beserta biota yang ada di dalamnya. Provinsi Jawa Timur memiliki kawasan ekosistem mangrove yang luas, menurut Arisandi, . pada tahun 1982 seluas 7,750 ha, salah satunya di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Sedangkan Muhsoni . menjelaskan Luas Mangrove di Desa Taddan mencapai 48 ha. Wardhaniardhani, . dan Edi et al. , . menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan mangrove dapat dilakukan dengan membuat kawasan tersebut menjadi kawasan Hal tersebut dapat dilakukan dengan partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan faktor yang sangat penting agar ekosistem tersebut dapat berkelanjutan. Kajian kesesuaian wisata sangat diperlukan untuk mengetahui potensi pengembangan kawasan mangrove menjadi area ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kesesuaian wisata, mengetahui daya dukung kawasan, dan mengetahui daya dukung pemanfaatan ekowisata mangrove di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - September 2020. Penelitian ini di laksanakan di Kawasan Mangrove Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Lokasi stasiun pengamatan lapang seperti pada gambar 1. Jumlah stasiun ada 5, dan masing-masing stasiun ada 2-3 plot, tergantung dari ketebalan mangrove. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Pengambilan Data Mangrove Metode penelitian ini menggunakan transek garis dan plot (Line Transect Plo. eperti pada gambar . Stasiun pengamatan ditentukan dari hasil pertimbangan observasi awal di lapangan (Metternicht, 2003. Kauffman & Donato, 2012. Hartoko et al. , 2015. Hairiah et al. , 2. Prinsip penentuan stasiun dilakukan berdasarkan keterwakilan lokasi mangrove, dimana terdapat 5 stasiun pengamatan. Setiap stasiun terdiri dari 2 atau 3 plot dan satu jalur yang dibentangkan mulai dari batas laut ditemukannya mangrove terakhir sampai batas daratan tumbuhnya mangrove dengan jarak antar plot adalah 20 meter. To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Gambar 2. Desain unit contoh pengamatan vegetasi di lapan dengan metode jalur (Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, 2. (BNS, 2. Keterangan Gambar 2 menurut Susanto et al. ,( 2. Syahrial et al. Supardjo, . sebagai berikut: Petak . 10 x 10 merupakan kategori pohon yang memiliki tinggi lebih dari 1,5 m dengan diamater batang 10 cm atau lebih. Petak . 5 x 5 merupakan kategori pancang yang memiliki tinggi 1,5 m sampai anakan yang berdiameter kurang dari 10 cm. Petak . 2 x 2 merupakan kategori semai yang memiliki tinggi kurang dari 1,5 m dan keliling <2 cm. Analisa Kesesuaian Ekowisata Bahari Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode analisis kesesuaian wisata kategori Kriterian kesesuaian wisata kategori mangrove seperti pada tabel 1 (Solarbesain, . Yulius et al. , . Muhsoni, . Anwar, . Kurniawan, . (Yusuf, 2. Tabel 1. Matriks Kesesuaian Wisata Kategori Mangrove Parameter Bobot Ketebalan mangrove . Kerapatan mangrove . >500 >200-500 >50-200 <50 >15-20 >5-10 Ikan, udang, kepiting, moluska, reptil, burung Ikan, udang, kepiting, moluska Ikan dan moluska Salah satu biota air Jenis mangrove Skor >10-15. >20 Objek biota Kategori Pasang surut . >1-2 >2-5 Keterangan: To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Nilai maksimum Sesuai Sesuai Bersyarat Tidak sesuai = 39 = 75-100% = 50-<75% = <50% IKW = Oc x 100% Keterangan: IKW = Indeks Kesesuaian Wisata (%) = Nilai parameter ke-1 . obot x sko. Nmax = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata Analisa Daya Dukung Kawasan Analisis daya dukung kawasan membutuhkan informasi Potensi ekologis wisatawan per satuan unit area, total waktu wisata dalam sehari, total waktu jenis kegiatan ekowisata per orang yang dapat dilihat pada tabel 2 dan tabel 3. Tabel 2. Potensi Ekologis Wisatawan (K) dan Luas Area (L. Jenis Kegiatan Jumlah Pengunjung Luas Area (L. Keterangan (Oran. Wisata Mangrove Dihitung panjang track setiap orang dalam 50 m Sumber: (Yulius et al. , . Ketjulan, . Kurniawan, . Anwar, . ) Tabel 3. Waktu yang Dibutuhkan (W. dan Total Waktu 1 Hari (W. Jenis Kegiatan Waktu yang di butuhkan Total waktu 1 Hari Wp (Ja. Wt (Ja. Wisata Mangrove Sumber: (Yulius et al. , . Ketjulan, . Kurniawan, . Anwar, . ) DDK = K x Keterangan (Yulius et al. , . Ketjulan, . Kurniawan, . Anwar, . (Muhsoni. Manafi et al. , . DDK = Daya Dukung Kawasan = Potensi ekologis wisatawan per satuan unit area . Lp = Luas area yang dimanfaatkan = Luas area jenis kegiatan ekowisata Wt = Total waktu dalam 1 hari Wp =Total waktu jenis kegiatan ekowisata per orang Analisa Daya Dukung Pemanfaatan Menurut Yulius et al. , . Ketjulan, . Kurniawan, . Anwar, . Muhsoni, . Muhsoni, . analisa daya dukung pemanfaatan menggunakan rumus sebagai berikut: DDP = DDK x 0,1 Keterangan: DDP = Daya Dukung Pemanfaatan DDK = Daya Dukung Kawasan HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Sampang memiliki garis pantai terpanjang kedua di wilayah Madura yang terletak di Pantai Camplong. Panjang garis pantai tersebut mencapai -/ 14,07 Km. Kecamatan Camplong To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI memiliki 14 Desa yang terdiri dari Desa Anggersek. Banjar Tabulu. Banjar Talela. Batu Karang. Dharma Camplong. Dharma Tanjung. Madupat. Pamolaan. Prajjan. Rabasan. Sejati. Taddan, dan juga Tambaan. Selain itu Kecamatan Camplong juga memiliki kawasan mangrove yang cukup luas salah satunya di Desa Taddan Kecamatan Camplong (Agustin et al. , 2. Luas mangrove di Desa Taddan 48 ha, dengan pola distribusi cenderung menyebar dalam kelompok, dengan tingkat keanekaragaman rendah, dan indeks keseragaman seimbang atau terdapat individu yang mendominasi (Muhsoni, 2. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Ekowisata mangrove merupakan bagian dari ekowisata bahari. Ekowisata bahari sendiri merupakan wisata khusus yang aktifitasnya berkaitan dengan kelautan, yang terdiri dari kawasan permukaan laut, di bawah laut dan di pesisir pantai. Ekowisata mangrove merupakan ekowisata di pesisir pantai. Kegiatan wisata memiliki persyaratan sumberdaya dan lingkungn sesuai objek yang Persyaratan tersebut berupa parameter fisik dan biologi (Yulius et al. , 2. Parameter kesesuaian ekowisata mangrove adalah ketebalan mangrove, kerapatan mangrove, jenis mangrove, pasang surut dan objek biota. Ketebalan Mangrove Ketebalan mangrove di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang berbeda-beda ketebalannya . Ketebalan mangrove yang berbeda-beda diakibatkan oleh perbedaan tipe pantai pada setiap stasiunnya. Jika pantai bertipe landai maka nilai ketebalannya lebih tinggi daripada tipe pantai curam. Stasiun 1 memiliki ketebalan 206,64 m, stasiun 2 memiliki ketebalan mangrove 167,63 m, stasiun 3 memiliki ketebalan mangrove 167,92 m, stasiun 4 memiliki ketebalan mangrove 231,42 m, dan stasiun 5 memiliki ketebalan mangrove 257,44 m. Rata-rata ketebalan mangrove di lokasi penelitian 206,21 m. Johan et al. , . menjelaskan kondisi mangrove yang tebal dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam segi estetika. Semakin tebal mangrove maka wisatawan atau pengunjung semakin tertarik. Mangrove di Desa Taddan perlu adanya jembatan agar memudahkan para pengunjung menyusuri kawasan wisata To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI b. Kerapatan Mangrove Gambar 4. Kerapatan Mangrove Kerapatan mangrove di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang pada stasiun 1 terdapat jenis mangrove Rhizophora stylosa dan Rhizophora mucronata dengan kerapatan masing-masing 4 m2/ind dan 9 m2/ind sehingga total kerapatan di stasiun 1 adalah 13 m2/ind. Pada stasiun 2 ditemukan spesies yaitu Rhizophora stylosa. Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba dengan jumlah pohon sebanyak 3, 7, dan 2, sehingga kerapatan jenisnya berjumlah 12. Pada stasiun 3 ditemukan spesies Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba dengan jumlah pohon sebanyak 12 dan 4, sehingga kerapatan jenisnya berjumlah 16. Pada stasiun 4 ditemukan spesies Sonneratia alba dengan jumlah pohon sebanyak 4, sehingga kerapatan jenisnya berjumlah 4. Pada stasiun 5 ditemukan spesies Sonneratia alba dengan jumlah pohon sebanyak 11, sehingga kerapatan jenisnya berjumlah 11. Kerapatan mangrove dapat dilihat pada gambar 4. Kerapatan mangrove pada indeks kesesuaian wisata memiliki bobot 5. Stasiun 1, 2, 3 dan 5 memiliki kerapatan dalam kategori 10-15 pada matriks indeks kesesuaian wisata sehingga hasil skornya 3. Namun pada stasiun 4 memiliki skor 0 karena masuk dalam kategori <5 pada matriks indeks kesesuaian wisata. Jenis Mangrove Jenis mangrove yang didentifikasi tidak hanya pada titik plot pengukuran, akan tetapi juga pada sekitar stasiun. Jenis mangrove yang ditemukan di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang dapat dilihat pada tabel 4. Pada stasiun 1 terdapat 2 jenis mangrove yaitu Rhizophora stylosa dan Rhizophora mucronata. Pada stasiun 2 terdapat 4 jenis mangrove yaitu Rhizophora stylosa. Rhizophora mucronata. Sonneratia alba, dan Rhizophora apiculata. Stasiun 3 terdapat 3 jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata. Sonneratia alba, dan Rhizophora Stasiun 4 terdapat 3 spesies mangrove yaitu Rhizophora mucronata. Sonneratia alba, dan Avicennia marina. Stasiun 5 ditemukan 3 spesies mangrove yaitu Rhizophora mucronata. Sonneratia alba, dan Aegiceras cornitulatum. Spesies Tabel 4. Jenis Mangrove yang Ditemukan Stasiun Rhizophora stylosa Oo Oo Rhizophora mucronata Oo Oo Oo Oo Oo Rhizophora apiculata Oo Oo Sonneratia alba Oo Oo Oo Oo Avicennia marina Oo Aegiceras cornitulatum Oo Jumlah To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI d. Objek Biota Data objek biota pada indeks kesesuaian mangrove sangat penting karena dapat mempengaruhi nilai estetika kawasan (Yulius et al. , 2. Objek yang digunakan dalam indeks kesesuaian wisata adalah ikan, udang, moluska, reptil, dan burung. Ikan yang ditemukan ada 2 jenis, udang ada 2 jenis, kepiting 3 jenis, moluska ada 20 jenis, reptil ada 1 jenis dan burung ada 4 jenis . da tabel . Tabel 5. Objek Biota di Desa Taddan Stasiun Spesies Ikan Periopthalmus sp. (Ikan Gelodo. Oo Oo Oo Oo Oo Stromateus sp. (Ikan Bawa. Oo Udang Penaeus merguiensis (Udang Puti. Oo Oo Oo Oo Oo Penaeus monodon (Udang Wind. Oo Oo Oo Kepiting Scylla sp. (Kepiting Baka. Oo Oo Oo Oo Oo Uca sp. (Kepiting Biol. Oo Oo Portunidae pelagicus (Rajunga. Oo Moluska Cerithideopsilla alata Oo Oo Oo Oo Oo Cerithidiopsis malayensis Oo Oo Oo Nerita articulata Oo Oo Oo Oo Nerita violacea Oo Gafrarium pectinatum Oo Gafrarium tumidum Oo Oo Oo Rhinoclavis sinensis Oo Oo Oo Rhinoclavis aspera Oo Oo Littoraria undolata Oo Oo Oo Oo Morula margariticula Oo Oo Oo Oo Circe scripta Oo Oo Ostrea sp. Oo Oo Oo Trachycardium rugosum Oo Polinices tumidus Oo Oo Oo Tellina sp. Oo Oo Oo Cassidula aurisfelis Oo Oo Oo Oo Telescopium telescopium Oo Oo Oo Oo Isognomon sp Oo Cerithidea obtusa Oo Oo Nassarius albescens Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Reptil Veranus sp. (Biawa. Burung Corvus enca unicolor (Burung Gaga. To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Ardeidae (Burung Kuntu. Oo Leptoptilos javanicus (Burung Banga. Oo Oo Oriolus chinensis (Burung Kepodan. Oo Pasang Surut Data analisis pasang surut air laut menunjukkan bahwa pasang tertinggi adalah pada bulan Januari. Juni. Juli. September. November, dan Desember dengan ketinggian 2,5 m. Sedangkan pasang surut terendah terjadi pada bulan Februari. Maret. April. Agustus. September. Oktober, dan November dengan ketinggian 0 m. Hal ini menunjukkan bahwa ketinggian pasang surut di Desa Taddan rata-rata setinggi 1,4 m. Nilai pasang surut tersebut sesuai dengan kriteria matriks ekowisata bahari kategori mangrove dan memiliki skor 2. Pasang surut di Desa Taddan merupakan jenis pasang surut campuran condong ke harian ganda. Hal ini karena pasang surut terjadi 2 kali pasang dan 2 kali surut dalam 1 hari yang memiliki ketinggian yang hampir sama. Indeks Kesesuaian Wisata Indeks kesesuaian wisata (IKW) pada stasiun 1 memiliki nilai sebesar 59%, stasiun 2 sebesar 54%, stasiun 3 dan stasiun 5 sebesar 67%, dan stasiun 4 memiliki nilai sebesar 51% . eperti pada tabel . Nilai indeks kesesuaian wisata (IKW) pada setiap stasiun berbeda namun masih pada kelas yang sama, yaitu kelas kesesuaian sesuai bersyarat. Yang berarti bahwa kawasan tersebut masih bisa untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata mangrove namun masih dengan pertimbangan yang besar. Menurut Nugraha et al. , . kawasan yang memiliki kelas sesuai bersyarat mempunyai faktor pembatas atau kendala yang masih dapat mendukung adanya kegiatan ekowisata. Kendala tersebut akan menurunkan produktivitas, oleh karena itu untuk melaksanakan kegiatan ekowisata, kendala tersebut harus lebih diperhatikan guna menjaga Laapo, . menjelaskan pada kategori sesuai bersyarat untuk ekowisata mangrove dapat ditingkatkan menjadi sesuai jika dilakukan upaya konservasi dan rehabilitasi melalui pelibatan masyarakat lokal. Syarat yang harus dilakukan agar menjadi sesuai untuk kawasan ekowisata mangrove di Desa Taddan adalah dengan meningkatkan salah satu parameter seperti nilai dari ketebalan, kerapatan, atau jenis mangrove dapat diatasi dengan cara melakukan penanaman dan melakukan pembatasan zonasi hutan mangrove. Sehingga setelah dihitung dengan rumus indeks kesesuaian wisata (IKW) kawasan mangrove Desa Taddan layak untuk dijadikan kawasan ekowisata jika salah satu atau beberapa parameter ditingkatkan hingga memperoleh nilai indeks kesesuaian wisata (IKW) sebesar >75%. Hasil dari indeks kesesuaian wisata (IKW) ini sesuai dengan persepsi masyarakat Desa Taddan yang menginginkan kawasan tersebut untuk dijadikan sebagai kawasan Menurut penduduk asli Desa Taddan hal positif yang didapat dari diadakannya kegiatan ekowisata ini ada untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat dengan cara membuka rumah makan, menyediakan penginapan, menjadi tour guide, dan juga menjual makanan atau barang khas Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Stasiun Tabel 6. Matriks Kesesuaian Wisata IKW (%) Kelas Sesuai Bersyarat Sesuai Bersyarat Sesuai Bersyarat Sesuai Bersyarat Sesuai Bersyarat Analisa Daya Dukung Kawasan Daya dukung kawasan atau kemampuan kawasan dalam menyediakan ruang untuk pemafaatan tanpa mengurangi kemamapuan kawasan tersebut (Muhsoni, 2016b. Anwar, 2. Daya dukung kawasan juga merupakan acuan untuk menghitung jumlah wisatawan atau pengunjung yang ingin mengunjungi kawasan tertentu. Nugraha et al. , . dan Yulius et al. , . menjelaskan bahwa To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI daya dukung merupakan konsep dasar yang dikembangkan untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan melalui kemampuannya. Konsep daya dukung terutama dikembangkan untuk mencegah terjadinya kerusakan atau degradasi sumber daya alam dan lingkungan, sehingga kelestarian, keberadaan dan fungsinya dapat terwujud, sedangkan masyarakat atau penggunanya tetap sejahtera atau tidak rusak. Anwar, . menjelaskan bahwa potensi ekologis pengunjung juga ditentukan oleh kondisi sumberdaya di kawasan dan jenis kegiatan yang dikembangkan. Pengunjung memerlukan ruang gerak yang cukup luas dalam melakukan kegiatan wisata bahari. Hasil analisis daya dukung kawasan bisa dilihat pada tabel 7. Luas area hutan mangrove 48,03 ha. Panjang track atau jalur yang direncanakan adalah sepanjang 2495 m . Pengunjung atau wisatawan yang mengunjungi ekowisata mangrove per hari maksimal sebanyak 199 orang per hari, dalam sehari lokasi ekowisata ini maksimal pengunjung sebanyak 199 orang. Lt (Luas Are. Tabel 7. Nilai Daya Dukung Kawasan Kategori Mangrove per Hari Lp (Luas Area Wt (Waktu yang Wp (Waktu yang Disediakan dalam 1 Dihabiskan Dimanfaatka. Har. Wisatawa. DDK Gambar 5. Gambar Track Ekowisata Mangrove Analisa Daya Dukung Pemanfaatan Nilai daya dukung pemanfaatan (DDP) dengan mempertimbangkan persentase kawasan untuk area konservasi 10%. Hal ini dilakukan untuk memperketat pengelolaan agar menekan dampak yang ditimbulkan oleh pemanfaatan wisata (Kurniawan, 2011. Muhsoni, 2016. Hasil daya dukung pemanfaatan di Desa Taddan sebanyak 20 orang per hari . Seperti halnya pada penelitian Romadhon et al. , . menjelaskan nilai DDK pada kawasan mangrove di Pulau Sapeken 000 orang per hari karena pengelolaan jumlah pengunjung ini dibatasi karena untuk melindungi, peningkatan kenyamanan, serta kepuasan bagi pengunjung ekowisata mangrove Tabel 9. Nilai Daya Dukung Pemanfaatan Kategori Mangrove DDK Hasil To Cite this Paper: Pratiwi. Muhsoni. , 2021. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 105-115. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang dapat disimpulkan sebagai berikut: Kesesuaian kawasan untuk dimanfaatkan sebagai kawasan ekowisata bahari kategori mangrove untuk semua stasiun pada kondisi sesuai bersyarat. Daya dukung kawasan menunjukkan hasil kemampuan suatu kawasan dalam menyediakan ruang bagi pemanfaatan sebanyak 199 orang per hari, sedangkan untuk per trip sebanyak 25 orang per trip. Daya dukung pemanfaatan dengan mempertimbangkan persentase kawasan untuk konservasi sebesar 10% maka diperoleh hasil sebanyak 20 orang per hari. DAFTAR PUSTAKA