Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 Pengaruh Broken Heart Terhadap Kualitas Tidur Pada Mahasiswa UINSU WahyudiA*. Assyifa Azzahra SalsabilaA. Dinda Natasya Putri3. Khoirunnisa4. Rumaisha Assyifa5 1,2,3,4,5Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Email korespondensi: apt. wahyudi@uinsu. Info Artikel Submitted: 28 Apr 2025 Accepted: 12 Mei 2025 Publish Online: Mei Kata Kunci: Broken heart, kualitas tidur, remaja, stres, gangguan tidur Keywords: Broken heart, sleep quality, teens, stress, sleep disorders Abstrak Latar Belakang: Remaja sering mengalami perubahan emosional yang signifikan, salah satunya adalah perasaan patah hati akibat berakhirnya hubungan percintaan. Perasaan patah hati dapat menimbulkan stres emosional yang berpengaruh pada kualitas tidur Kualitas tidur yang buruk dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental remaja, sehingga penting untuk mengetahui pengaruh broken heart terhadap kualitas tidur pada remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh broken heart terhadap kualitas tidur pada remaja di kalangan mahasiswa/i UINSU. Metode: Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif analitik observasional dengan desain cross sectional, data dikumpulkan dari 160 mahasiswa melalui kuesioner terstandar, termasuk Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur. Data penelitian dianalisis menggunkan uji chi-square dengan bantuan aplikasi spss versi 25. Hasil: Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara broken heart dengan kualitas tidur . =0. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa broken heart berpengaruh negatif terhadap kualitas tidur remaja. Stres emosional yang disebabkan oleh patah hati dapat mengganggu ritme tidur dan menyebabkan gangguan tidur. Oleh karena itu, penting bagi remaja yang mengalami patah hati untuk mendapatkan dukungan emosional guna mengurangi dampak negatif terhadap kualitas tidur mereka. Abstract Background: Adolescents often experience significant emotional changes, one of which is the feeling of heartbreak due to the end of a romantic relationship. Feelings of heartbreak can cause emotional stress that affects the quality of adolescent sleep. Poor sleep quality can have an impact on the physical and mental health of adolescents, so it is important to know the effect of broken heart on sleep quality in Objective: This study aims to analyze the effect of broken heart on sleep quality in adolescents among UINSU students. Methods: Using an observational analytic descriptive quantitative approach with a cross sectional design, data were collected from 160 students through a standardized questionnaire, including the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to measure sleep The research data were analyzed using the chi-square test with the help of the spss version 25. Results: Statistical analysis showed a statistically significant difference between broken heart and sleep quality . =0. Conclusion: This study concludes that broken heart negatively affects adolescents' sleep quality. Emotional stress caused by a broken heart can disrupt sleep rhythms and cause sleep disturbances. Therefore, it is important for adolescents who experience a broken heart to receive emotional support to reduce the negative impact on their sleep quality. PENDAHULUAN Kesehatan mental telah menjadi isu global yang semakin mendesak, terutama di kalangan generasi muda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 1 dari 5 orang berusia 15-29 tahun mengalami gangguan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai masalah Gangguan tidur, seperti insomnia, juga semakin umum dan berdampak negatif pada kemampuan individu untuk berfungsi optimal dalam berbagai aspek kehidupan. Kualitas tidur yang buruk dan kesehatan mental memiliki hubungan yang erat, saling Mahasiswa, yang berada dalam fase transisi "emerging adulthood" . -25 tahu. , sangat rentan terhadap masalah kesehatan mental akibat tekanan akademik dan sosial (Titin. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 Patah hati, sebagai pengalaman emosional yang intens, dapat memicu gangguan kesehatan mental pada remaja dan Patah hati atau "broken heart syndrome" dapat menyebabkan stres emosional ekstrem, yang termanifestasi dalam gejala seperti kesedihan, kemarahan, gangguan tidur, dan perubahan perilaku. Kurang tidur pada mahasiswa dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan penurunan kinerja akademik. Putus cinta, yang sering dianggap remeh, sebenarnya dapat memiliki dampak signifikan pada kesehatan mental mahasiswa (Sukma et al. Patah psikologis terhadap hilangnya hubungan serangkaian perubahan neurobiologis dan hormonal yang berdampak luas pada pola tidur dan kesehatan mental. Secara ilmiah, stres yang diinduksi oleh patah hati mengaktifkan sumbu hipotalamus-pituitariadrenal (HPA), yang meningkatkan pelepasan kortisol, hormon stres utama. Peningkatan kortisol ini merusak regulasi internal tidur dan bangun, yang dikenal sebagai ritme sirkadian tubuh yang menyebabkan insomnia, tidur gelisah, atau mimpi buruk. Selain itu, patah hati sering kali dikaitkan dengan penurunan kadar serotonin dan dopamin, neurotransmiter yang mengatur suasana hati dan emosi. Ketidakseimbangan ini dapat memicu atau memperburuk kondisi kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, yang (Sustikasari, 2. Selain memengaruhi hasil belajar, dampak negatif dari tidur yang tidak mencukupi pada mahasiswa juga terbukti signifikan terhadap kondisi psikologis. Studi mengungkapkan bahwa mahasiswa yang jam tidurnya kurang cenderung lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan mental seperti rasa cemas berlebihan dan depresi. Defisit tidur dapat memicu perubahan emosi yang cukup besar serta menyulitkan pengendalian stres. Kondisi ini dapat menurunkan mutu kehidupan mahasiswa secara keseluruhan, termasuk interaksi sosial dengan rekan dan keluarga. Bahkan, dalam situasi kurang tidur yang berlangsung lama, dapat terjadi kelelahan mental akibat tekanan akademik yang parah, yang pada akhirnya menghambat efektivitas dan daya cipta dalam proses pembelajaran. Dari sudut pandang kesehatan jasmani, kurang tidur yang berkelanjutan dapat meningkatkan kemungkinan munculnya berbagai masalah kesehatan yang serius (Anisa, 2. Gangguan tidur mencakup berbagai kondisi yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk tidur nyenyak secara Gangguan ini dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental secara signifikan, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Insomnia, salah satu gangguan tidur yang paling umum, ditandai dengan kesulitan untuk tertidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi. Gangguan tidur lainnya termasuk sleep apnea, kondisi di mana pernapasan terhenti sementara selama tidur, dan sindrom kaki gelisah, yang menyebabkan dorongan tak tertahankan untuk menggerakkan kaki. Gangguan irama tidur-bangun, seperti jet lag atau gangguan kerja shift, juga dapat mengganggu pola tidur yang sehat. Selain itu, kondisi kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan sering kali dikaitkan dengan gangguan tidur (Asram, 2. Untuk mengisi kesenjangan tersebut, penelitian ini menyelidiki dampak broken heart terhadap pola tidur dan kesehatan mental di kalangan mahasiswa/i UINSU. Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang hanya berfokus pada gejala-gejala umum broken heart, karena Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 penelitian ini secara khusus menganalisis perubahan pola tidur dan kesehatan mental yang terjadi akibat pengalaman tersebut. Hal ini memberikan wawasan baru bagi mahasiswa/i tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan pola tidur saat mengalami broken heart. UINSU, sebagai mahasiswa/i yang beragam, rentan terhadap masalah ini. Faktor-faktor seperti tekanan akademik, hubungan sosial, dan pengalaman pribadi dapat memengaruhi dampak broken heart terhadap pola tidur dan kesehatan mental mahasiswa/i. Selain itu, pemahaman yang kurang tentang cara mengatasi broken heart dapat memperburuk kondisi ini di kalangan mahasiswa/i UINSU. METODE Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif analitik observasional dengan desain cross sectional, untuk mengukur secara numerik variabelvariabel seperti intensitas pengalaman broken heart, kualitas dan durasi tidur, serta tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada mahasiswa dan mahasiswi. Pengumpulan data akan dilakukan melalui kuesioner terstandar, dengan menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Nonprobability sampling dengan metode Accidental sampling atau teknik pengambilan sampel secara kebetulan atau tidak sengaja. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak mahasiswa sampel yang dianggap cukup untuk menggambarkan prevalensi mahasiswa yang mengalami Kesehatan mental dan gangguan tidur dikarenakan broken heart. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kampus UINSU. Penelitian ini dilakukan pada Maret 2025 sampai April Pengumpulan data yang dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan dengan format Google Form. Analisis data chi-square menggunakan aplikasi spss versi 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Responden Tabel 1. Distribusi Responden di UINSU Karakteristik Responden Usia < 18 18 - 20 21 - 23 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pengalaman patah hati Tidak Broken heart Berat Ringan Kualitas tidur Buruk Baik Total Tabel 1. menyajikan distribusi responden berdasarkan jenis kelamin. Terlihat bahwa mayoritas responden adalah perempuan dengan jumlah 122 orang atau 3% dari total responden. Sementara itu, responden laki-laki berjumlah 38 orang atau sekitar 23. 8 % dari keseluruhan responden yang berjumlah 160 Distribusi responden berdasarkan kelompok usia. Kelompok usia 18 hingga 20 tahun merupakan kelompok dengan jumlah responden terbanyak, yaitu 86 orang atau 8% dari total responden. Diikuti oleh kelompok usia 21 hingga 23 tahun dengan jumlah 68 responden atau sekitar Sementara itu, kelompok usia di bawah 18 tahun memiliki jumlah responden paling sedikit, yaitu hanya 6 orang atau Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 8 % dari keseluruhan 160 Secara keseluruhan, mayoritas responden dalam data ini berada dalam rentang usia 18 hingga 23 tahun. Sampel 160 mahasiswa dalam 1 tahun terakhir ini lebih banyak yang mengalami broken heart yaitu sebesar 57,5% atau sebanyak 92 mahasiwa, sedangkan mengalami broken heart dalam 1 tahun terakhir yaitu sebesar 42,5% atau 68 Pada mahasiswa yang disurvei, menyatakan bahwa beberapa kondisi psikologis dalam dirinya dapat terganggu saat mengalami broken heart. Dari skor depresi yang dianalisis, didapatkan bahwa tingkat broken heart ringan lebih banyak dibanding broken heart berat. Ada sebanyak 146 mahasiswa atau 91,3% dari total yang mengalami broken heart ringan, sedangkan tingkat broken heart berat terdapat 14 mahasiswa atau sebnyak 8,8% dari total. Terkait pola tidur, sampling mahasiswa yang mengisi kuesioner memiliki durasi tidur yang cukup variatif. Berdasarkan tabel 5 dapat dinyatakan bahwa pola tidur dari 160 mahasiswa dikategorikan buruk sebesar 52,5% atau dikategorikan baik sebesar 47,5% atau sebesar 76 mahasiswa. Pola tidur baik atau buruk dapat dipengaruhi dengan kondisi tubuh dan kebiasaan dalam mendisiplinkan jam tidur, seperti jam berapa tidur, jam berapa bangun, durasi tidur, dan beberapa kondisi lainnya, yaitu terbangun di tengah malam, ke kamar mandi, sulit bernapas, kepanasan, kedinginan, hingga mimpi buruk. Tabel 2. Signifikansi Uji Statistik untuk Broken Heart dan Kualitas Tidur Kualitas Tidur Total Broken Heart Buruk Baik Berat Ringan Total Hasil analisis menujukan adanya hubungan antara fenomena broken heart dengan kualitas tidur siswa di UISN yang ditunjukan dengan nilai p-value sebesar 0,012. Penurunan kualitas tidur yang ditemukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan melalui berbagai mekanisme psikologis yang dipicu oleh perasaan patah Patah hati sering menyebabkan stres emosional yang tinggi, yang dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti Kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu ritme tidur dan menghambat kemampuan tubuh untuk tidur nyenyak. Perasaan cemas dan tertekan yang menyertai broken heart dapat memicu PValue 0,012 respons fisiologis yang mengganggu tidur. Stres emosional ini dapat mengakibatkan gangguan dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movemen. , yang sangat penting untuk pemulihan mental dan fisik. remaja yang mengalami broken heart cenderung lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi, yang merupakan faktor risiko untuk gangguan tidur. Gangguan tidur ini sering kali berupa insomnia, di mana remaja merasa kesulitan untuk tidur, atau terbangun beberapa kali di malam hari. Hasil penelitian ini secara konsisten menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengalaman broken heart Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 dengan kualitas tidur dan kesehatan mental pada mahasiswa UINSU. Hal ini didukung oleh temuan pada Tabel 6 dan Tabel 7 yang menunjukkan nilai P-value sebesar 0. untuk kedua variabel tersebut. Nilai P-value yang kurang dari 0. 05 mengindikasikan bahwa perbedaan kualitas tidur dan mahasiswa yang mengalami broken heart dan yang tidak, bukanlah terjadi secara kebetulan, melainkan signifikan secara Hasil penelitian ini berbanding lurus dengan penelitian oleh Sri dan Agus . yang menyatakan bahwa akibat broken heart responden yang diuji sebagian besar mengalami depresi ringan. Depresi yang dialami berupa gangguan alam bawah sadarnya seperti kesedihan, harga diri rendah, merasa bersalah, dan putus asa. Broken heart secara umum banyak menyebabkan seseorang yang mengalaminya akan merasakan gangguan pada kesehatan Adanya gangguan ini dapat berdampak pada pola tidur si penderita. Penderita secara tidak sadar akan mengalami penurunan kualitas tidur akibat depresi yang dihasilkan oleh broken heart (Faradisa, et. Lebih lanjut, penelitian Faradisa et . juga mendukung adanya dampak broken heart terhadap pola tidur. Stres dan tekanan emosional yang dialami setelah putus cinta dapat mengganggu regulasi tidur, menyebabkan kesulitan tidur, tidur tidak nyenyak, atau terbangun di malam hari. Berdasarkan penelitian Sun-Kyung . menyatakan bahwa broken heart akan mempengaruhi pola tidur seseorang. Hal ini disebabkan adanya penurunan hormon Hormon ini berfungsi untuk mengatur siklus tidur-bangun seseorang sehingga tubuh dapat mengatur kapan akan merasa mengantuk dan kapan tubuh akan KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa broken heart memiliki hubungan yang signifikan terhadap kesehatan mental dan pola tidur mahasiswa/i UINSU. Tingkat keparahan broken heart berkorelasi positif dengan penurunan kesehatan mental dan kualitas tidur yang lebih buruk. Mahasiswa/i yang mengalami broken heart dengan tingkat yang lebih berat menunjukkan gejala depresi yang lebih tinggi dan pola tidur yang cenderung buruk. Remaja yang mengalami patah hati disarankan untuk mencari dukungan emosional dari keluarga, teman dekat, atau Penelitian selanjutnya dapat mengkaji lebih mendalam mengenai perbedaan dampak broken heart terhadap kualitas tidur antara remaja perempuan dan laki-laki, serta faktor sosial lainnya yang dapat mempengaruhi pengalaman patah hati dan kualitas tidur, seperti dukungan sosial atau norma budaya. DAFTAR PUSTAKA