Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DAN KEBIASAAN MENGONSUMSI FAST FOOD PADA REMAJA DI KOTA MAKASSAR The Use Of Social Media And Fast Food Consumption Habits Among Adolescents In Makassar City Nadimin*. Lydia Fanny. Annisa Nurmagfira T. Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar Email: *nadimin@poltekkes-mks. ABSTRACT Background. The level of social media usage, especially among teenagers, is very high. This can have an impact on the habit of consuming fast food and the nutritional status of teenagers. Objective. This study is a survey research conducted using a cross-sectional study design. The research sample was recruited online, with inclusive criteria of age 12-21 years, education level of junior high school, senior high school, and college, and residing in Makassar City. The frequency of social media usage was collected through an online questionnaire. The habit of consuming fast food was assessed using the Food Frequency Questionnaire (FFQ) form. Data analysis was performed using the Chi-Square test. Results. The research findings indicate that teenagers who frequently use social media generally have a low frequency of consuming fast food . 4%). The most commonly used social media platform is Instagram . 7%), with food-related information being frequently accessed . 9%). The habit of consuming fast food is generally categorized as infrequent . 5%). There is a significant relationship between the frequency of social media usage and the habit of consuming fast food . =0. Conclusion. The frequency of social media usage influences the habit of consuming fast food among teenagers in Makassar City. Keywords: Fast food, social media ABSTRAK Latar belakang. Tingkat penggunaan media social terutama pada remaja sangat tinggi. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kebisaan mengonsumsi makan siap saji . ast foo. dan status gizi remaja. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi penggunaan media sosial dengan kebiasaan mengonsumsi fast food pada remaja di Kota Makassar. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan menggunakan desain cross sectiona study. Sampel penelitian direkrut secara online dengan kriteria inklusif usia 12-21 tahun, pendidikan SMP. SMU, perguruan tinggi dan berdomisili di Kota Makassar. Frekuensi penggunaan media sosial dikumpulkan dengan cara mengisi kuesioner online. Kebiasaan mengonsumsi fast food menggunakan formulir FFQ (Food Frequency Questionnair. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan remaja yang sering menggunakan media sosial umumnya rendah . ,4%). Media sosial yang paling banyak digunakan umumnya adalah Instagram . ,7%) dengan informasi yang sering akses adalah makanan . ,9%). Kebiasaan mengonsumsi fast food umumnya tergolong jarang . ,5%). Ada hubungan frekwensi penggunaan media sosial dengan kebiasaan mengonsumsi fast food . =0,. Kesimpulan. Frekuensi penggunaan media sosial berpengaruh terhadap kebiasaan mengonsumsi fast food pada remaja di Kota Makassar. Kata kunci : Fast Food. Media Sosial PENDAHULUAN Kemenkes RI . menemukan bahwa 40,7% penduduk berusia di atas 10 tahun di Indonesia mengonsumsi makanan berlemak, berkolesterol, dan gorengan, konsumsi makanan asin 26,2%, dan makanan manis 53,1%. Konsumsi sayur dan buah 93,6%. Kebiasaan makan yang buruk, seperti sedikit makan buah dan sayur, mengkonsumsi makanan cepat saji dan jajanan modern, dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan psikologis seseorang (Karini dkk,2. Dilihat dari segi gizinya, fast food memiliki ciri kandungan gizi yang tidak seimbang, sebagian besar tinggi kalori, tinggi lemak . ermasuk kolestero. , gula, dan garam namun sangat rendah serat (Yulyanti, dkk, 2. Hasil penelitian Health Education Authority menunjukkan usia 1534 tahun adalah konsumen terbanyak yang memilih menu fast food (Firdianty, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Anshari, 2. menunjukkan bahwa mengonsumsi fast food yaitu sebanyak 41 orang . ,4%). Tidak dapat dipungkiri makanan cepat saji ini memiliki rasa yang sedap sehingga remaja lebih tertarik mengkonsumsi fast food daripada makanan bernutrisi lainnya (Pinasti, 2. Remaja pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dan merupakan periode kritis berkaitan dengan kesehatan seperti pemilihan makanan dan aktivitas fisik (Maehara,dkk, 2. Apabila remaja kurang memperhatikan kuantitas dan kualitas dalam mengonsumsi makanan gangguan kesehatan pada tubuh yang Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar dapat meningkatkan resiko penyakit (Pamelia, 2. Salah satu masalah kesehatan yang sering kali dialami oleh remaja yaitu masalah gizi lebih yang biasa disebut dengan obesitas. Obesitas dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pola asupan makan dengan aktivitas fisik (Pamelia, 2. Menurut data RISKESDAS 2018, prevalensi obesitas pada orang berusia di atas 18 tahun terus meningkat antara tahun 2007 hingga 2018 di Indonesia. Untuk obesitas, pada tahun 2018 mencapai angka 21,8 % (Kemenkes, 2. Faktor prevalensi obesitas pada remaja yaitu perubahan gaya hidup dan kebiasaan Kebiasaan makan yang berlebihan . enyebabkan jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh tidak sesuai dengan kebutuhan energ. dan konsumsi fast food yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan lemak (Cahyorini, dkk, 2. Hasil penelitian dari (Resky, dkk, 2. menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi fast food dengan kejadian obesitas pada mahasiswa yang tinggal di sekitar Universitas Muhammadiyah Pare-pare. Konsumsi fast food pada remaja juga dapat dipengaruhi oleh paparan iklan, pengaruh media, terjadinya urbanisasi dan teman sebaya (Normate, dkk, 2. Zaman yang serba modern pada saat ini banyak sekali makanan dan minuman fast food yang populer di kalangan remaja, didukung dengan iklan yang sangat menarik, sehingga fast food sangat cepat dalam Media merupakan salah satu faktor konsumsi fast food pada remaja. Hasil penelitian (Yetmi, dkk, 2. menunjukkan bahwa dari 120 responden yang diteliti, ada sebanyak 50 . ,97%) responden terpapar dengan media dan mengonsumsi fast food. Munculnya ponsel pintar, tablet, dan peningkatan konektivitas online telah menyebabkan peningkatan pemasaran perusahaan makanan dan minuman menggunakan platform digital (Gascoyne et al, 2. Media sosial adalah jenis platform digital yang banyak digunakan sebagai media pemasaran makanan dan minuman (Masitah, dkk, 2. Hasil penelitian (Hidayat, 2. menunjukkan banyak pengguna aplikasi go food kurang dari tiga kali penggunaan sebanyak 32 responden, lebih dari tiga kali pemakaian sebanyak 52 ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. responden dan yang menyatakan dengan pemakaian berulang-ulang kali sebanyak 16 Berbagai akun kuliner atau Iklan makanan di media sosial cenderung menampilkan makanan siap saji . ast foo. (Potvin Kent et al, 2. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa anakanak dan remaja melihat iklan makanan 30 hingga 189 kali seminggu di media sosial makanan cepat saji dan minuman manis. Perkembangan tren seperti wisata antusiasme di kalangan pengguna media sosial untuk membuat berbagai akun Rekomendasi food blogger dapat dijadikan sebagai informasi, pengaruh, nasehat, saran dan juga sebagai acuan (Khoiriani, 2. Kebiasaan dipengaruhi dari apa yang kita lihat. Adanya media sosial juga dapat membuat konsumen lebih gampang melihat adanya makanan terbaru dan menarik sehingga pembeli tertarik untuk membelinya. Hasil penelitian (Latifah, 2. menunjukaan adanya hubungan bermakna antara perubahan kebiasaan makan mahasiswa tingkat 1 dan 2 Stikes Perintis Padang. Berdasarkan masalah di atas perlu melakukan penelitian tentang Hubungan frekuensi penggunaan media sosial dengan kebiasaan mengonsumsi fast food pada remaja di Kota MakassarAy. METODE Desain dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan menggunakan rancangan cross penggunaan media sosial dan variabel kebiasaan mengonsumsi fast food diukur dalam waktu satu titik waktu. Pengumpulan data penelitian dilakukan secara online mulai pada bulan Pebruari 2023. Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel Sampel penelitian adalah remaja yang berdomisili di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan, yang pendidikan mulai tingkat SMP. SMU/sederajat dan perguruan tinggi dengan umur antara 12-21 tahun. Jumlah sampel penelitian sebanyak 253 orang yang dihitung menggunakan rumus Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Lemeshow. Sampel dipilih secara online dengan kriteria inklusif: berdomisili di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. SMP. SMU/sederajat dan perguruan tinggi dan berumur antara 12-21 tahun. Responden yang tidak memenuhi kriteria tersebut dikeluarkan sebagai sampel penelitian. Penjaringan sampel dilakukan secara online dengan menyebarkan link registrasi melalui aplikasi Instagram, facebock dan grup whataApp dan grup Telegram. Berdasarkan hasil kuesioner terdapat 277 orang yang mengisi kuesioner, namun yang memenuhi kriteria dan ditetapkan sebagai sampel sampai sebanyak 253 orang. ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. dengan kebiasaan mengonsumsi fast food dengan tingkat kepercayaan 95%. HASIL Cara Pengumpulan Data Data penelitian yang dikumpulkan terdiri atas data karakteristik sampel, penggunaan media social dan kebiasaan konsumsi Fast Food. Data kebiasaan Fast Food FFQ (Food Frequency Questionnair. Pengumpulan data karateristik remaja dan penggunaan media sosial menggunakan kuesioner dalam dalam bentuk pertanyaan tertutup. Kuesioner dan FFQ dibuat menggunakan aplikasi Google Form kemudian disebarkan https://forms. gle/1E1v2QUJh4jESYTN8. Peyebaran kuesioner dilakukan denagn membagikan link kuesioner secara terbuka di media social maupun melalui grup WhatsApp dan telegram SMP. SMA dan mahasisiswa di kota Makassar. Tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin terbanyak ialah perempuan berjumlah 193 orang . ,3%), usia sampel paling banyak ialah 18-21 tahun berjumlah 165 orang . ,2%), dan pendidikan paling banyak dari sampel ialah perguruan tinggi berjumlah 148 orang . ,5%). Tabel 2 menunjukkan lebih dari setengah dari responden . ,6%) memiliki frekuensi penggunaan media sosial rendah dan durasi penggunaan media sosial yang paling banyak digunakan oleh responden adalah termasuk ke dalam medium users . ,1%). Tabel 3 menunjukkan jenis media sosial yang paling banyak digunakan oleh responden adalah Instagram . ,7%). Tabel 4 menunjukkan setengah dari reponden . ,6%) memiliki kebiasaan jarang mengonsumsi fast food. Tabel 5 menunjukkan bahwa responden frekuensi pengguna media sosial rendah dengan kebiasaan mengonsumsi fast food jarang . ,1%) lebih tinggi dibandingkan frekuensi penggunaan media sosial tinggi yang memiliki kebiasaan mengonsumsi fast food jarang . ,4%). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji chi square yuUyuU value = 0,035 < 0. menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan kebiasaan mengonsumsi fast food. Pengolahan dan Analisis Data Hasil rekapan data dari google drive dikonversi ke program excel sebelum diinput dalam program SPSS. Data penggunaan media social dikategorikan menjadi dua yaitu sering jika menggunakan > 4 kali sehari dan kurang jika < 4 kali sehari. Kebiasaan konsumsi Fast Food didasarkan pada frekwensi konsumsi setiap minggu, sering jika konsumsi 3-6 kali/minggu dan kurang jika frekwensi konsumsi kurang 3 kali/minggu. Analisa data dilakukan dengan cara univariate dan bivariate. Analisa univariate menganalis data karakteristik, penggunaan media sosial dan kebiasaan mengonsumsi fast food, yaitu dengan menggunakan nilai (%). Analisis menggunakan uji Chi-Square untuk menguji hubungan penggunaan media sosial PEMBAHASAN Hasil dari penelitian yang dilakukan pada remaja di Kota Makassar didapatkan setengah dari remaja memiliki frekuensi rendah menggunakan media sosial yaitu 161 orang . ,6%). Hasil ini sejalan dengan penelitian Latifah . yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah mahasiswa jarang menggunakan media sosial yaitu 23 orang . ,1%). Durasi penggunaan media sosial pada remaja pada penelitian ini umumnya tergolong medium users, sekitar 3-6 jam per hari, dan media social yang sering digunakan remaja adalah Instagram. Hasil ini sejalan yang dilaporkan oleh Karmila . yang bahwa frekwensi dan durasi penggunaan media sosial Instagram pada mahasiswa tergolong tinggi. Media social selama ini banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan dan edukasi, terutama Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar COVID-19. Penggunaan internet dan media sosial saat ini bukan hanya untuk kebutuhan edukasi semata, namun juga dipergunakan untuk hiburan, belanja, media sosial dan hal lainnya (Karini, dkk, 2. Temuan kami menunjukkan bahwa remaja lebih banyak media social untuk memperoleh informasi terkait makanan . ,9%), ilmu agama . ,3%), online shop . ,5%), kecantikan dan fashion . ,6%). Kebiasaan mengonsumsi Fast food bagi remaja pada temuan ini relative rendah. Hanya seperti dari remaja yang memiliki kebiasaan mengonsumsi Fast food. Hal ini tentu berbeda dengan kebiasaan remaja pada umumnya yang gemar dan memiliki frekwensi yang tinggi dalam mengonsumsi Fast food. Selama ini Fast food banyak digemari kalangan remaja dikarenakan mudah didapatkan dan praktis (Daulay & Purwati . Kesibukan orang tua yang tidak sempat menyediakan makanan dirumah menyebabkan remaja cenderung makan makanan siap saji. Disamping itu, kondisi sosial ekonomi dan kepraktisan untuk menyediakan makanan dan waktu menjadi pendukung remaja dalam memilih makanan fast food (Kristiantietal, 2016. Rahma . Menurut (Lubis,2. fast food yang dimaksud mengacu pada makanan yang dapat diperoleh dan disajikan dalam waktu yang singkat, seperti ayam goreng, hamburger, dan pizza. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti yang menunjukkan fried chicken dan bakso merupakan jenis fast food terbanyak yang dikonsumsi remaja yaitu 231 . ,3%). Hasil penelitian tersebut juga sejalan dengan penelitian (Lestari, dkk, 2. yang menunjukkan bahwa 3 jenis makanan cepat saji . ast foo. yang terbanyak di pilih oleh responden adalah ayam kentucky sebanyak 252 orang . %), mie instant sebanyak 241 orang . ,5%), dan kentang goreng sebanyak 198 orang . ,7%) dibandingkan jenis makanan cepat saji . ast foo. Hasil analisis statistic menunjukkan bahwa terdapat hubungan frekuensi . =0,. Kebiasaan menggunakan media social berpengaruh terhadap kebiasaan mengkosnumsi fast food. Remaja yang sering menggunakan media social memiliki kecenderungan mengonsumsi fast food ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. yang lebih tinggi. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Latifah . yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara penggunaan media sosial dengan kebiasaan makan mahasiswa . =0. Penggunaan media sosial saat ini mahasiswa menjadi sangat tergantung karena kebanyakan dari mereka menjadikan media sosial untuk mencari informasi, berkomunikasi dengan orang lain, untuk hiburan, bahkan melihat gambar atau video (Margawati. Frekuensi penggunaan media sosial ini bisa saja (Khrishananto, dkk, 2. dan juga seseorang (Wilksch et al. , 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Karini . yang menunjukkan bahwa ada hubungan akses media sosial terkait informasi makanan dengan prilaku makan. Melalui media social para remaja sering terpapar dengan berbagai informasi dan iklan serta promo tentang makanan cepat saji. Disamping itu pula, melalui media social akan lebih mudah mengakses dan memesan makanan termasuk fast food. KESIMPULAN Sepertiga remaja puteri di Kota Makassar sering menggunakan media sosial . ,6%). Media social yang paling sering digunakan oleh remaja adalah Instagram, youtub dab tik tok. Sebagian besar remaja di kota ini memiliki kebiasaan mengonsumsi fast food . ,5%). Frekuensi penggunaan media sosial berpengaruh terhadap kebiasaan mengonsumsi fast food pada remaja di Kota Makassar. SARAN Remaja diharapkan lebih cerdas menggunakan media social terutama dalam menanamkan kebiasaan makanan yang baik, sehat dan bergizi seimbang. DAFTAR PUSTAKA