GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. DETERMINAN FAKTOR DARI GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DETERMINANT FACTORS OF COGNITIVE IMPAIRMENT IN OLDER ADULTS Siti Yuliharni*1. Mohd Jamil2. Bunga Permata Wenny3. Sukmah Fitriani4. Rima Berlian Putri5. Nurleny6 Departemen Keperawatan Jiwa Komunitas Keluarga Gerontik. Fakultas Keperawatan. Kampus Unand Limau Manis. Padang, 25166. Indonesia Departemen Keperawatan Komunitas Keluarga Gerontik. Universitas Sriwijaya Departemen Keperawatan Komunitas. Institut Tarumanagara Jakarta Universitas Mercubaktijaya 1,2,3 (Email: sitiyuliharni27@gmail. ABSTRAK Proses menua mengakibatkan konsekuensi penurunan fungsi pada lansia, salah satunya penurunan fungsi kognitif, sehingga lansia berisiko mengalami demensia. Gangguan fungsi kognitif akan memberi dampak pada kemandirian lansia, dan penurunan kualitas hidup. Gangguan fungsi kognitif pada lansia dapat disebabkan banyak faktor. Penelitian ini bertujuan yaitu untuk melihat hubungan antara faktor-faktor dengan gangguan fungsi kognitif. Jenis penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 101 orang lansia menggunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data menggunakan instrument MMSE. PASE. Tensimeter, dan kuesioner data usia dan perilaku merokok. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Terdapat hubungan yang bermakna pada usia . value < 0,. , hipertensi . value < 0,. , aktivitas fisik . value < 0,. dengan gangguan fungsi kognitif, serta tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku merokok dengan gangguan fungsi kognitif. Intervensi terkait pengontrolan tekanan darah dan aktivitas fisik perlu ditingkatkan untuk menghambat terjadinya gangguan fungsi kognitif pada lansia. Kata kunci :Gangguan fungsi kognitif. determinan faktor ABSTRACT The aging process results in consequences of decreased function in the elderly, one of which is decreased cognitive function, so that the elderly are at risk of experiencing dementia. Cognitive impairment will have an impact on the independence of the elderly, and decreased quality of life. Cognitive impairment in the elderly can be caused by many factors. This study aims to see the relationship between factors and cognitive impairment. This type of research uses a cross-sectional The sample of this study was 101 elderly people using convenience sampling techniques. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Data collection used the MMSE. PASE. Tensimeter instruments, and age and smoking behavior Data were analyzed using the Chi-Square test. There was a significant relationship between age . value <0. , hypertension . value <0. , physical activity . value <0. with cognitive impairment, and there was no significant relationship between smoking behavior and cognitive impairment. Interventions related to blood pressure control and physical activity need to be increased to prevent cognitive impairment in the elderly. Keywords : Cognitive impairment. older adults. determinant factors PENDAHULUAN Proses menua mengakibatkan terjadinya banyak perubahan pada lansia baik psikologis, psikososial, dan spiritual. Salah satu perubahan yang dialami yaitu pada sistem saraf yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif (Coresa & Ngestiningsih, 2. Adapun perubahan pada sistem saraf yang dialami lansia massa otak berkurang, aliran darah. berkurang, dan. mielin pada lansia berkurang (Setiati, dkk. , 2. Gangguan fungsi kognitif merupakan suatu gangguan yang terjadi pada fungsi kognitif seperti pada fungsi memori, orientasi, perhatian, dan konsentrasi (Thouhy & Jett, 2. Gangguan kognitif pada lansia bervariasi mulai dari penurunan kognitif ringan, hingga bentuk demensia parah dan penyakit Alzheimer (Chobe, dkk. , 2. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa saat ini lebih dari 55 juta orang menderita demensia di seluruh dunia. Setiap tahunnya terdapat hampir 10 juta kasus Demensia saat ini menduduki peringkat ketujuh penyebab kematian dan salah satu penyebab utama kecacatan dan ketergantungan pada lansia secara global (WHO, 2. Prevalensi demensia di Asia Tenggara meningkat dari tahun 2010 sebanyak 2,48 juta menjadi 5,3 juta pada tahun 2030 (Ong et al. Di Indonesia, terkait kondisi lansia terhadap gangguan fungsi kognitif berada di angka 121 juta dengan persentase 5,8% laki-laki dan 9,5% perempuan (Wulandari et al. , 2. Beberapa faktor telah diidentifikasi berhubungan dengan fungsi kognitif lansia. Faktor tersebut mencakup yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat demensia JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 keluarga, riwayat penyakit . ipertensi, diabetes mellitus, dislipidemi. , status gizi, aktivitas fisik, merokok, trauma (Wreksoatmodjo, 2014. Miller Reitz, 2013. Lewis dkk. , 2. Pada penelitian ini meneliti faktor usia, hipertensi, merokok, dan aktivitas fisik. Kemampuan kognitif dapat menurun karena usia tua. Hal ini terjadi karena perubahan pada sel dalam otak yang terjadi seiring dengan Hipertensi menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Hal ini terjadi akibat penyempitan dan sklerosis arteri kecil di daerah subkortikal yang mengakibatkan penurunan aliran darah, kehilangan autoregulasi, penurunan sawar otak, dan pada akhirnya akan merusak white matter subcortical, mikroinfark, dan penurunan kognitif (Suhardjono, 2009 dikutip dari Wulandari dkk. , 2. Para peneliti menemukan bahwa untuk setiap 10-mmHg peningkatan tekanan darah sistolik, ada peningkatan 9 persen risiko fungsi kognitif yang buruk (National Institute on Aging, 2. Merokok dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer dan demensia melalui sistem Stres mekanisme lain yang dapat menjelaskan efek negatif merokok pada fungsi kognitif. Stres oksidatif yang disebabkan oleh merokok merusak sel-sel dalam darah pembuluh darah dan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan mengurangi aliran darah otak (Momtaz dkk. , 2. Seseorang yang banyak beraktivitas memiliki memori yang lebih tinggi dari pada yang jarang beraktivitas, misalnya kegiatan GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. yang harus melibatkan fungsi kognitif seperti berjalan kaki, senam, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dapat membantu tubuh mencegah penurunan daya kerja otak pada lansia (Mulyadi et al. , 2. Melakukan aktivitas fisik dapat menstimulasi otak, sehingga lansia yang berolahraga secara teratur dapat menghasilkan peningkatan protein di otak yang disebut Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Protein Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) sangat penting untuk menjaga sel saraf tetap sehat dan bugar, kadar protein BDNF yang rendah dapat menyebabkan risiko demensia. Orang yang tidak banyak bergerak berisiko lebih tinggi mengalami demensia (Yan et al. , 2020. Lee, 2. Gangguan kognitif membuat kualitas hidup lansia menurun dan meningkatkan resiko demensia dan kematian. Selain itu akibat lainnya kemandirian, sehingga lansia membutuhkan bantuan keluarga atau dari layanan kesehatan. Lansia menjadi bergantung kepada orang lain. Ini juga berkontribusi pada kesehatan mental lansia yang buruk, dan dapat menigkatkan resiko depresi dan gangguan kecemasan (Chobe, dkk. Pais, dkk. , 2. Penelitian ini bertujuan faktor-faktor berhubungan dengan fungsi kognitif lansia. Sehingga dengan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan fungsi kognitif lansia, kita dapat berupaya untuk mencegah ataupun memperlambat terjadinya penurunan fungsi kognitif pada lansia. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 BAHAN DAN METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional dan pendekatan cross sectional study. Populasinya adalah seluruh lansia di wilayah kerja Puskesmas Rawang kota Padang sebanyak 2. 348 orang, dengan jumlah Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience Pengambilan data dilakukan melalui wawancara terpimpin terhadap lansia yang datang berkunjung pada kegiatan integrasi PTM dan Prolanis hingga melakukan kunjungan rumah sampai jumlah sampel Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah MMSE (Mini Mental State Examinatio. untuk mengukur fungsi kognitif. PASE (Physical Activities Scale for Elderl. untuk mengukur tingkat aktivitas fisik. Tensimeter dan verifikasi rekam medis di Puskesmas untuk memperoleh data terkait Riwayat hipertensi, kuesioner perilaku merokok, kuesioner demografi untuk mencatat usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan status pernikahan. MMSE merupakan Instrumen yang sudah valid dan reliabel dengan Cronbach alpha 0,82. Begitu juga dengan kuesioner PASE memiliki nilai r tabel adalah 0,3610 . hitung > r tabe. dan nilai cronbach alpha adalah 0,768. Pengolahan data dilakukan secara analisis univariat dan bivariat. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif dianalisis secara bivariat dengan menggunakan uji Chi-square . -value< 0,. I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. HASIL Tabel 3. Karakteristik lansia VariabelAU Jenis kelamin - Laki-laki - Perempuan Pekerjaan - Bekerja - Tidak bekerja Pendidikan Terakhir - Tidak sekolah - Sekolah dasar - Sekolah menengah Pertama - Sekolah Menengah Atas - Perguruan Tinggi Status Pernikahan - Kawin - Tidak kawin - Janda - Duda Tabel 3. 1 menunjukkan bahwa hampir seluruh . ,1%) responden berjenis kelamin perempuan, hampir seluruh . ,2%) responden sudah tidak bekerja, hampir setengah . ,6%) responden memiliki pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas, dan sebagian besar . ,4%) responden berstatus pernikahan kawin. Tabel 3. Analisa Univariat VariabelAU Usia - 60-74 tahun - 75-90 tahun Hipertensi - Hipertensi Tidak Hipertensi Perilaku Merokok - Ya - Tidak Aktivitas Fisik - Rendah - Sedang - Tinggi JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Fungsi Kognitif - Gangguan - Tidak Gangguan Tabel 3. 2 menunjukkan bahwa Sebagian besar . ,3%) responden berumur 60-74 tahun atau berada pada kategori lanjut usia . Kurang dari separuh . ,6%) responden memiliki riwayat Hanya sebagian kecil . ,8%) responden yang merokok. Sebagian besar . ,4%) responden memiliki aktivitas fisik pada tingkat sedang dan lebih dari separuh . ,6%) responden menunjukkan gangguan fungsi kognitif. Kategori Usia Lansia Lansia Tua Tabel 3. Analisa Bivariat Gangguan Kognitif Gangguan Tidak 0,002 0,002 Riwayat HT Hipertensi Tidak 0,010 Perilaku Merokok Merokok Tidak Usia Lansia Lansia Tua Data yang disajikan menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan gangguan fungsi kognitif . =0,002 <0,. Secara spesifik responden dengan kategori lansia tua lebih banyak yang mengalami gangguan kognitif . ,6%) dibandingkan dengan yang tidak . ,4%). Sebaliknya, persentase responden dengan kategori lansia awal ditemukan lebih banyak yang tidak mengalami gangguan kognitif. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan gangguan fungsi kognitif . =0,010 <0. Secara spesifik responden dengan Riwayat hipertensi lebih banyak yang mengalami gangguan kognitif . ,6%) dibandingkan dengan yang tidak JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 0,501 mengalami gangguan kognitif . ,4%). Selanjutnya dari tabel di atas kita juga dapat mengetahui bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan gangguan fungsi kognitif . =0,000 <0. Secara spesifik responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik sedang lebih banyak yang tidak mengalami gangguan kognitif . ,6%). Hasil berbeda ditemukan pada variabel perilaku merokok yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara perilaku merokok . = 0,501 >0,. Dalam penelitian ini terlihat bahwa persentase responden yang mengalami gangguan kognitif tidak jauh berbeda antara yang merokok dengan yang tidak merokok. I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan gangguan fungsi kognitif. bahwa Sebagian besar responden berumur 60-74 tahun atau berada pada kategori lanjut usia . Rentang usia ini menunjukkan bahwa responden sudah masuk kedalam usia yang mulai mengalami penurunan fungsional. Gillis dkk . dikutip dari Firdaus . penurunan sejalan dengan bertambahnya usia. Insiden bertambahnya usia, hampir dua kali lipat setiap 5 tahun setelah usia 65 tahun (Khanna & Metgud. Penuaan membuat otak dan sistem saraf pusat mengalami perubahan yang berpotensi mempengaruhi kemampuan kognitif seperti berkurangnya berat otak, berkurangnya aliran darah otak, kehilangan dan penyusutan neuron, berkurangnya neurotransmiter atau tempat Bentuk neuron mengalami perubahan yang terjadi yaitu penurunan jumlah dan panjang dendrit, hilangnya duri dendritik, penurunan jumlah akson, peningkatan akson dengan demielinasi segmental, dan hilangnya sinapsis yang signifikan. Kehilangan sinaptik adalah penanda struktural utama penuaan dalam sistem saraf (Murman, 2. Hal ini secara langsung memengaruhi kemampuan kognitif, perubahan terkait usia ini menyebabkan waktu reaksi lebih lambat dan memengaruhi kecepatan pemrosesan informasi (Miller, 2. Riwayat hipertensi memiliki hubungan dengan fungsi kognitif lansia. Temuan ini sejalan dengan penelitian Mizan . dan Srimega . dimana terdapat hubungan bermakna antara hipertensi dan gangguan kognitif pada Hipertensi membuat sirkulasi aliran darah otak menjadi menimbulkan gangguan fungsi kognitif (Sari, , 2. Mekanisme gangguan kognitif karena hipertensi belum diketahui jelas (Arshinta, , 2. Namun diketahui hipertensi membuat pembuluh darah serebral mengalami JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 perubahan-perubahan, yaitu kapiler dan arteriol jaringan serebral mengalami penebalan dinding arteriol dan bagian dalam pembuluh darah penyumbatan pembuluh darah otak. Hal ini membuat perfusi jaringan serebral menurun. Akibatnya terjadi iskemia dan infark lakunar jaringan serebral pada bagian substansia alba serebri yang telah dihubungkan dengan gangguan kognitif vascular (Iadecola, dkk. Studi oleh Richard dan Cohen menemukan bahwa reponden yang memiliki hipertensi esensial mengalami ketidaknormalan pada saraf pusat, khususnya pada bagian frontal (Sari, dkk. , 2. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hipertensi mengakibatkan gangguan fungsi kognitif karena membuat struktur pembuluh darah menjadi rusak sehingga menganggu aliran darah ke otak. Dalam penelitian ini perilaku merokok tidak memiliki hubungan dengan gangguan fungsi kognitif. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yuza . , namun tidak sejalan dengan penelitian Rawis dkk . yang menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan fungsi kognitif lansia. Penelitian lain yang dilakukan pada pria JepangAmerika, didapatkan perokok dan mantan perokok memiliki risiko gangguan kognitif lebih besar dibandingkan dengan yang tak pernah merokok (Wreksoatmodjo, 2. Merokok dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer dan demensia melalui sistem kardiovaskular. Stres oksidatif adalah mekanisme lain yang dapat menjelaskan efek negatif merokok pada fungsi kognitif. Stres oksidatif yang disebabkan oleh merokok merusak sel-sel dalam darah penyempitan pembuluh darah dan mengurangi aliran darah otak. Akibatnya, penurunan perfusi serebral dapat menyebabkan gangguan kognitif (Momtaz, dkk. , 2. I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Hasil penelitian yang tidak signifikan ini dapat terjadi karena terdapat kelemahan pada penelitian dimana ada masalah pada pertanyaan, sehingga hasil yang didapat pada penelitian ini berbeda dengan teori. Selain itu, karena responden juga rutin berobat di Puskesmas, maka mereka telah mendapatkan pendidikan kesehatan mengenai menghindari resiko perburukkan terkena Disamping itu, ada banyak faktor yang membuat seseorang dapat mengalami gangguan kognitif seperti penyakit hipertensi, diabetes mellitus, dan aktivitas fisik. Pendidikan juga mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Pada penelitian ini hampir sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMA yang artinya responden memiliki pendidikan yang cukup baik. Pendidikan yang baik membuat seseorang memiliki pengalaman mental dan rangsangan intelektual yang baik, hal ini menghasilkan perkembangan kognitif yang Dalam perspektif yang berbeda, beberapa ilmuan beranggapan bahwa nikotin yang terdapat pada rokok dapat menjalankan reseptor khusus yang menurun pada penyakit . eseptor asetilkolin nikona. Sehingga ilmuan berpikir bahwa nikotin rokok dapat mengaktifkan reseptor yang teregulasi ini pada penyakit alzheimer, maka mungkin merokok dapat mengurangi resiko alzheimer. Penelitian berdampak positif bagi kognitif manusia. Pengembangan uji klinis patch nikotin dilakukan pada pasien penyakit alzheimer. Namun hasi uji coba ini mendapatkan hasil yang beragam, dengan beberapa menunjukkan perlindungan kognitif, dan temuan lain yang tidak menunjukkan efek (Sahyouni, dkk. , 2. Aktivitas fisik mempunyai hubungan dengan fungsi kognitif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Afconneri et al. Situmorang . dan Polan et al. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan gangguan fungsi kognitif dan risiko Melakukan aktivitas fisik dapat membantu aliran darah ke otak lebih tinggi sehingga dapat membuat suplai nutrisi ke otak menjadi lebih baik. Otak manusia sangat membutuhkan nutrisi terutama berupa oksigen dan glukosa yang berfungsi sebagai bahan bakar supaya otak dapat berfungsi secara Kurangnya suplai oksigen ke otak akan menimbulkan disorientasi, kebingungan, gangguan konsentrasi, kelelahan dan masalah memori (Ariestya et al. , 2. Aktivitas kemungkinan dapat menghambat penurunan fungsi kognitif pada lansia. Saat melakukan aktivitas fisik, otak akan distimulasi sehingga dapat meningkatkan protein di otak yang disebut Brain Derived Neuropathic Factor (BDNF) yang berperan penting dalammenjaga sel saraf agar tetap sehat. Kadar BDNF yang rendah dapat menyebabkan risiko demensia. Aktivitas fisik dapat mempertahankan aliran darah yang optimal dan juga meningkatkan penghantaran nutrisi ke otak. Selain itu aktivitas fisik juga memfasilitasi metabolisme neurotransmitter, menghasilkan faktor tropik yang merangsang proses neurogenesis, meningkatkan stimulai aktivitas molekuler dan seluler di otak yang nantinya mendukung dan menjaga plastisitas otak. Proses- proses ini penting untuk menghambat hipertrofi jaringan otak yang dapat menyebabkan degenerasi terhadap kognitif (Maulidia et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Ada hubungan antara usia, hipertensi dan aktivitas fisik dengan gangguan fungsi Tidak terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan gangguan fungsi Mempertahankan aktivitas fisik yang teratur dan terukur pada lansia dapat mendukung fungsi kognitif. Diharapkan lansia dengan Riwayat hipertensi dapat menjaga agar tekanan darah tetap terkontrol. I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. DAFTAR PUSTAKA