PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. November - Januari e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Pengaruh Intellectual Capital. Efisiensi Operasional dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perbankan Konvensional di Indonesia Tahun 2021-2024 Andhika Sofian MaAoruf1. Ani Kusbandiyah2* . Iwan Fakhruddin3. Edi Joko Setyadi4 Email korespondensi: annykusbandiyah@gmail. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Indonesia1,2*,3,4 Abstrak Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh Intellectual Capital. Efisiensi Operasional, dan Kepemilikan Manajerial terhadap Kinerja Keuangan perusahaan perbankan konvensional di Indonesia tahun 2021Ae2024. Populasi penelitian mencakup seluruh bank umum konvensional yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesioa (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2. , sementara pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling. berdasarkan ketersediaan laporan keuangan tahunan selama periode penelitian diperoleh 23 bank dengan total 92 observasi. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel menggunakan pendekatan Fixed Effect Model (FEM) GLS regression dengan robust standard error untuk mengatasi heteroskedastisitas dan autokorelasi, sehingga semua asumsi klasik diterima. Hasil penelitian menunjukkan Intellectual Capital. Kepemilikan Mannajerial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan, dan Efisiensi Operasional (BOPO) tidak berpengaruh terhadap kinerja Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan Intellectual Capital sebagai aset strategis dalam meningkatkan kinerja keuangan perbankan konvensional di Indonesia. Kata kunci: Intellectual Capital. Efisiensi Operasional. Kepemilikan Manajerial. Kinerja Keuangan. Perbankan Konvensional This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Kinerja keuangan mencerminkan sejauh mana bank mampu mengelola aset secara efektif, menghasilkan laba, serta menjaga keberlangsungan usahanya di tengah persaingan yang semakin ketat dan dinamika ekonomi global yang terus berubah (Audymia Liviana, 2. Dalam sektor perbankan, kinerja keuangan yang baik menunjukkan kemampuan manajemen dalam memanfaatkan aset secara optimal sekaligus mempertahankan kepercayaan para pemangku kepentingan (Audymia Liviana. Salah satu indikator yang umum digunakan untuk menilai kinerja keuangan bank adalah Return on Assets (ROA), yang menggambarkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari total aset yang dikelolanya (Tang, 2. Selain itu, perbankan konvensional memiliki peran strategis dalam menopang stabilitas perekonomian Indonesia sebagai lembaga intermediasi yang menyalurkan dana dari pihak yang memiliki kelebihan dana kepada pihak yang membutuhkan pembiayaan (OJK, 2. Berdasarkan data OJK, total aset perbankan nasional per Desember 2024 mencapai Rp12. 460 triliun, menunjukkan pertumbuhan yang solid meskipun di tengah ketidakpastian ekonomi global (OJK, 2. Namun, pertumbuhan aset tersebut tidak sepenuhnya diikuti oleh peningkatan profitabilitas yang sepadan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 395 Nilai ROA Perbankan di Indonesia Gambar 1 Nilai ROA Perbankan Konvensional di Indonesia Pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa ROA perbankan konvensional meningkat dari 1,85% . ke 2,76% . , namun menurun menjadi 2,61% pada pertengahan 2025 (OJK, 2. Tren ini mengindikasikan ketidakefisienan pengelolaan aset produktif dan strategi manajerial yang belum optimal (Nur Fadilah FH & Puji Muniarty, 2. Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa kinerja keuangan bank tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi ekonomi dan regulasi, tetapi juga sangat ditentukan oleh kekuatan sumber daya internal dan efektivitas tata kelola perusahaan (Roisatun Kasanah, 2. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa faktor internal seperti intellectual capital, efisiensi operasional, dan struktur kepemilikan memiliki peran penting dalam memengaruhi kinerja keuangan perbankan(Audymia Liviana, 2024. Tang. Dalam industri perbankan modern yang sangat bergantung pada efisiensi dan pengelolaan pengetahuan, terdapat tiga faktor penting yang dianggap berperan penting terhadap Kinerja Keuangan, yaitu intellectual capital, efisiensi operasional, dan kepemilikan manajerial. Ketiganya merupakan bagian dari kemampuan dan mekanisme internal yang membentuk daya saing dan kinerja finansial jangka panjang. (Prasetio & Rinova, 2021. Rosella & Santyo Nugroho, 2023. Tang, 2. Faktor pertama. Intellectual capital (IC) menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kinerja keuangan karena menggambarkan kemampuan organisasi dalam memanfaatkan pengetahuan, keterampilan, serta sistem kerja yang dimiliki untuk menciptakan nilai ekonomi (Febriany, 2. Bank dengan tingkat IC yang tinggi cenderung mampu mengembangkan produk inovatif, meningkatkan kualitas layanan, serta mengoptimalkan efisiensi kerja, sehingga berkontribusi pada peningkatan laba (Tang. Ulum, 2. Penelitian (Kania Nurcholisah, 2. menunjukkan bahwa sektor perbankan Indonesia telah mencapai tingkat efisiensi positif pada komponen IC, yang mencerminkan peran IC dalam menciptakan nilai tambah perusahaan. Dengan demikian, kemampuan bank dalam mengelola pengetahuan dan aset tidak berwujud menjadi penentu penting keberhasilan finansial. Pada penelitian (Ishfahani & Burhany, 2022. Sorongan, 2. menemukan bahwa intellectual capital berpengaruh positif signifikan terhadap ROA perbankan, yang menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya intelektual yang optimal mampu meningkatkan profitabilitas. Namun pada penelitian (Alia , 2. menunjukkan bahwa beberapa komponen IC berpengaruh negatif terhadap ROA bank. Faktor berikutnya adalah kepemilikan manajerial, yaitu proporsi kepemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh pihak manajemen, yang memungkinkan terjadinya Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 396 penyelarasan kepentingan antara manajer dan pemegang saham melalui pengambilan keputusan manajerial (Hidayat dkk. , 2. Tingkat kepemilikan manajerial menunjukkan besarnya keterlibatan manajemen dalam struktur kepemilikan perusahaan. Struktur kepemilikan ini memiliki peran strategis dalam menciptakan keselarasan tujuan antara manajemen dan pemegang saham. Ketika manajemen memiliki saham perusahaan, mereka cenderung memiliki motivasi yang lebih besar untuk mengambil keputusan yang berorientasi pada peningkatan nilai perusahaan, karena dampak dari keputusan tersebut juga akan dirasakan secara langsung oleh manajemen (Audymia Liviana, 2. Oleh karena itu, kepemilikan manajerial dapat berfungsi sebagai mekanisme pengendalian internal yang mampu mengurangi konflik kepentingan serta menekan potensi perilaku oportunistik manajer yang dapat menurunkan profitabilitas perusahaan (Jensen & Meckling, 1. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perbankan (Audymia Liviana, 2. (Iswari & Suarmanayasa, 2. Namun demikian, penelitian lain menemukan hasil yang berbeda, di mana kepemilikan manajerial justru berpengaruh negatif terhadap ROA Temuan ini mengindikasikan adanya fenomena managerial entrenchment, yaitu kondisi ketika manajer dengan kepemilikan saham yang tinggi cenderung mempertahankan kepentingan pribadi sehingga berpotensi menurunkan efisiensi dan kinerja perusahaan (Tri Maharani & Sutrisno, 2. Faktor ketiga adalah. Efisiensi operasional ini menggambarkan kemampuan bank dalam meminimalkan biaya operasional tanpa mengurangi kualitas layanan, serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya untuk menghasilkan laba yang maksimal (Saputra & Afrizal, 2. Bank yang efisien dalam mengelola biaya dapat memperkuat posisi kompetitifnya dengan meningkatkan margin keuntungan dan stabilitas keuangan. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) digunakan sebagai indikator utama dalam mengukur tingkat efisiensi operasional perbankan. Semakin rendah nilai BOPO, semakin menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola biaya secara efisien . ewi sartika, 2. Sejumlah penelitian empiris menemukan bahwa efisiensi operasional memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, yang mengindikasikan bahwa semakin efisien pengelolaan biaya operasional, semakin tinggi tingkat profitabilitas bank (Wibowo dkk. , 2. Namun pada penelitian (Safira dkk. , 2. dan (Elsa M. Pondaag & Joy E. Tulung, 2. menunjukkan bahwa BOPO tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, yang mengindikasikan bahwa efisiensi biaya belum tentu secara langsung meningkatkan profitabilitas bank. Dari berbagai hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya kesenjangan terkait hubungan Intellectual capital, kepemilikan manajerial dan efisiensi operasional terhadap kinerja keuangan bank konvensional di Indonesia sebagian besar studi hanya memfokuskan analisis pada satu atau dua variabel secara terpisah Dan belum ada penelitian yang membahas terkait Intellectual capital, efisiensi operasional dan kepemilikan manajerial secara bersama dalam satu model, penelitian oleh (Hariasih dkk. , (Rosella & Santyo Nugroho, 2. , (Tang, 2. telah menguji ketiga variabel tersebut terhadap kinerja keuangan namun secara terpisah dan menggunakan faktor lain untuk variabel lainya dan berfokus pada periode 2018-2020 Yang mempresentasikan kondisi prapandemi. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intellectual capital, efisiensi operasional, dan kepemilikan manajerial terhadap kinerja keuangan perbankan konvensional di Indonesia pada periode pasca pandemi. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyediaan bukti empiris terkini yang merefleksikan kondisi industri Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 397 perbankan konvensional setelah pandemi, di mana terjadi perubahan signifikan dalam strategi operasional, pengelolaan sumber daya internal, dan tata kelola perusahaan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam memperkaya literatur perbankan serta implikasi praktis bagi manajemen bank dan regulator dalam merumuskan strategi peningkatan kinerja keuangan yang berkelanjutan. Landasan Teori Teori Resource-Based View (RBV) Teori Resource-Based View (RBV) yang dikemukakan oleh (Barney, 1. menekankan bahwa keunggulan kompetitif suatu perusahaan bergantung pada kemampuan dalam mengelola sumber daya internal yang unik dan bernilai. Sumber daya yang dimaksud meliputi aset berwujud dan tidak berwujud yang memiliki karakteristik VRIN Valuable. Rare. Inimitable, dan Non-substitutable (Barney, 1. RBV menjelaskan bahwa kinerja keuangan perbankan dapat meningkat apabila perusahaan mampu mengelola dan mengembangkan sumber daya internalnya secara efektif. Sumber daya yang kuat dan unik akan menghasilkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan, yang tercermin melalui peningkatan profitabilitas (Rauf dkk. , 2. Dalam konteks perbankan konvensional, intellectual capital (IC) dan efisiensi operasional dapat dipandang sebagai bentuk sumber daya dan kapabilitas internal yang strategis. Intellectual capital merupakan aset tidak berwujud yang mencakup pengetahuan, kompetensi sumber daya manusia, serta sistem dan proses organisasi yang mendukung penciptaan nilai dan inovasi (Tang, 2. Pengelolaan intellectual capital yang baik memungkinkan bank meningkatkan kualitas layanan, efisiensi kerja, dan daya saing. Hal ini didukung pada penelitian (Tang, 2. yang menunjukkan bahwa bank dengan pengelolaan intellectual capital yang optimal memiliki tingkat profitabilitas yang lebih tinggi. Selain itu, efisiensi operasional juga mencerminkan kemampuan internal bank dalam memanfaatkan sumber daya secara produktif dan Penelitian (Rauf dkk. , 2. serta (Beatrice Sasmita, 2. menemukan bahwa efisiensi operasional berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ROA perbankan. Berdasarkan kerangka RBV tersebut, intellectual capital dan efisiensi operasional diasumsikan sebagai kapabilitas internal yang berpotensi meningkatkan kinerja keuangan bank, sehingga keduanya relevan untuk diuji secara empiris dalam penelitian ini. Teori Agensi Teori agensi menjelaskan hubungan antara dua pihak, yaitu pemilik perusahaan . dan manajemen . , yang berpotensi menimbulkan konflik akibat perbedaan kepentingan di antara keduanya (Jensen & Meckling, 1. Konflik keagenan umumnya muncul ketika manajemen tidak memiliki keterlibatan dalam kepemilikan saham, sehingga manajer cenderung mengambil keputusan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan pemegang saham. Kondisi ini dapat terjadi karena pemegang saham memiliki keterbatasan informasi mengenai kondisi perusahaan. Sebaliknya, manajemen yang terlibat langsung dalam operasional perusahaan memiliki pemahaman yang lebih mendalam terkait informasi internal serta prospek masa depan Perbedaan tingkat informasi tersebut menyebabkan terjadinya asimetri informasi antara pemegang saham dan manajemen (Eufrasia Ogi, 2. Dalam perspektif teori agensi, kepemilikan manajerial dipandang sebagai mekanisme penyelarasan kepentingan . lignment of interes. antara manajemen dan pemegang saham. Ketika manajemen turut memiliki saham perusahaan, mereka memiliki insentif yang lebih kuat untuk meningkatkan kinerja keuangan karena turut menanggung konsekuensi langsung Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 398 dari setiap keputusan yang diambil (Jensen & Meckling, 1. Kepemilikan manajerial juga berfungsi sebagai mekanisme pengendalian internal yang dapat menekan perilaku oportunistik manajer serta meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan strategis (Audymia Liviana, 2. Kinerja Keuangan Kinerja keuangan merupakan cerminan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk menghasilkan laba secara berkelanjutan. Dalam industri perbankan, kinerja keuangan menjadi ukuran utama efektivitas dan stabilitas sistem keuangan nasional (Audymia Liviana, 2. Kinerja keuangan juga menunjukkan sejauh mana perusahaan mampu memberikan nilai tambah kepada pemegang saham serta mempertahankan kepercayaan masyarakat. Indikator yang paling umum digunakan untuk mengukur kinerja keuangan bank adalah Return on Assets (ROA), yang menggambarkan seberapa efektif bank dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya (Tang, 2. Intellectual Capital Intellectual capital merupakan aset tidak berwujud . ntangible asse. yang berperan penting dalam menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pengelolaan pengetahuan, keterampilan, serta sistem organisasi yang dimiliki perusahaan. Dalam konteks industri perbankan, intellectual capital menjadi sumber daya utama yang membedakan bank satu dengan yang lain karena bersifat unik, sulit ditiru, dan memiliki nilai strategis dalam mendukung inovasi dan efisiensi operasional (Rauf dkk. , 2019. Tang, 2. Perusahaan dengan intellectual capital yang kuat mampu memanfaatkan sumber daya berbasis pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat hubungan dengan nasabah, serta memperbaiki proses kerja internal yang berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas (Dancakovy & Glova, 2024. Elsinta dkk. , 2. Dalam dunia perbankan, intellectual capital tidak hanya mencakup kecakapan karyawan, tetapi juga meliputi kemampuan manajemen dalam menciptakan sistem, teknologi informasi, dan budaya organisasi yang mendukung inovasi berkelanjutan (Ulum, 2. Secara umum, intellectual capital terdiri dari tiga komponen utama menurut model Value Added Intellectual Coefficient (VAICE) yang dikembangkan oleh (Pulic, 1. dan diadaptasi oleh Ulum . , yaitu: Human Capital Efficiency (HCE) yang menggambarkan kemampuan sumber daya manusia dalam menciptakan nilai tambah melalui keterampilan dan keahlian. Structural Capital Efficiency (SCE) yang menunjukkan kemampuan organisasi dalam mendukung produktivitas melalui sistem, kebijakan, dan inovasi. Capital Employed Efficiency (CEE) yang menunjukkan efektivitas penggunaan modal finansial dalam menghasilkan laba. Kepemilikan Manajerial Menurut (Filosofia Damarani & Ani Kusbandiyah, 2. Kepemilikan manajerial merupakan proporsi saham perusahaan yang dimiliki oleh pihak eksekutif yang memiliki tanggung jawab dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan. Pihak eksekutif tersebut meliputi manajer, anggota dewan, maupun direktur perusahaan. Pada umumnya, pemegang saham menunjuk manajer sebagai pihak yang menjalankan dan mengelola operasional perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan (Filosofia Damarani & Ani Kusbandiyah, 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 399 Efisiensi Operasional Menurut (Hariasih dkk. , 2. Efisiensi operasional merupakan isu yang bersifat kompleks dalam industri perbankan, karena setiap bank dituntut untuk mampu memberikan kualitas layanan yang optimal kepada nasabah, sekaligus menjalankan kegiatan operasional secara efisien. Di tengah persaingan yang semakin ketat, kompetisi antarbank berpotensi menekan tingkat profitabilitas masing-masing bank. Apabila profitabilitas berada pada tingkat yang rendah, kondisi tersebut dapat menyebabkan kerugian yang signifikan dan pada akhirnya berisiko mengancam keberlangsungan usaha Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel Intellectual Capital berpengaruh positif (Marsintauli dkk. , 2023. Pasaribu dkk. , 2025. Tang, 2. Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif (Hidayat dkk. , 2025. Iswari & Suarmanayasa, 2025. Joshua Gunawan, 2020. Monica Indah Pramesti, 2. dan variabel Efisiensi Operasional berpengaruh negatif (Ananda dkk. , 2023. Ananta dkk. , 2025. Delinda Permatasari & Dijan Mardiati, 2024. Nurkhalifa dkk. , 2. seperti yang dijelaskan pada kerangka penelitian dibawah Intellectual Capital (X. Kepemilikan Manajerial (X. Efisiensi Operasional (X. !"#$%& Kinerja Keuangan(Y) !'$%& !($)& Gambar 2 Kerangka Penelitian. Penulis 2025 Pengaruh Intellectual Capital terhadap kinerja keuangan Intellectual capital (IC) merupakan salah satu bentuk sumber daya internal tidak berwujud yang mencakup human capital, structural capital, dan capital employed. Ketiga komponen tersebut memiliki peran strategis dalam mendorong terciptanya inovasi, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat produktivitas organisasi. Berdasarkan Teori Resource-Based View (RBV), keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya internal yang memiliki karakteristik bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak dapat digantikan (Barney, 1. Sejumlah penelitian empiris menemukan bahwa intellectual capital berpengaruh positif terhadap ROA pada sektor perbankan di Indonesia (Marsintauli dkk. , 2023. Pasaribu dkk. Tang, 2. Pada penelitian (Dancakovy & Glova, 2024. Elsinta dkk. , 2. juga membuktikan bahwa peningkatan efisiensi modal manusia dan struktural berdampak signifikan terhadap profitabilitas bank. Selain itu, penelitian (Marsintauli dkk. , 2. menunjukkan bahwa bank dengan nilai IC yang tinggi memiliki kinerja keuangan yang lebih baik. H1: Intellectual Capital berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap kinerja keuangan Kepemilikan manajerial adalah sebagian saham milik pihak eksekutif yang bertanggung jawab dalam menentukan pilihan perusahaan (Filosofia Damarani & Ani Kusbandiyah, 2. Pihak eksekutif yang dimaksud antara lain manajer, anggota dewan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 400 atau direktur. Sebagian besar, pemegang saham akan menetapkan manajer sebagai pengelola perusahaan dalam upaya meningkatkan nilainya. Kepemilikan manajerial merujuk pada proporsi saham yang dimiliki oleh manajer dalam perusahaan. Menurut Teori Agency. Semakin besar kepemilikan manajerial, semakin tinggi keselarasan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, yang mendorong pengambilan keputusan yang efisien, meningkatkan kontrol internal, dan pada akhirnya memperkuat kinerja keuangan. Pada penelitian (Hidayat dkk. , 2025. Joshua Gunawan, 2020. Monica Indah Pramesti, 2. menemukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial, maka kinerja keuangan bank akan semakin baik karena adanya keselarasan kepentingan antara manajemen dan pemegang saham (Iswari & Suarmanayasa, 2. H2: Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pengaruh Efisiensi Operasional terhadap kinerja keuangan Efisiensi operasional mencerminkan kemampuan bank dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan dengan biaya serendah mungkin. Semakin efisien pengelolaan biaya dan proses operasional, semakin tinggi pula laba yang dihasilkan, yang tercermin dalam peningkatan ROA (Erni Masdupi, 2. Efisiensi ini biasanya diukur melalui rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Rasio BOPO yang rendah menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola biaya dengan efektif, yang berimplikasi pada kinerja keuangan yang lebih baik . ewi sartika, 2. Berdasarkan Teori RBV, efisiensi operasional termasuk pemanfaatan sumber daya bernilai yang dapat menumbuhkan keunggulan kompetitif secara produktif dan berkelanjutan (Barney, 1. Kapabilitas ini mencerminkan keunggulan kompetitif yang tidak mudah ditiru oleh pesaing karena terkait dengan proses internal, sistem kerja, dan budaya organisasi yang unik. Pada penelitian (Ananda dkk. , 2023. Ananta dkk. , 2025. Delinda Permatasari & Dijan Mardiati, 2024. Nurkhalifa dkk. , 2. menegaskan bahwa faktor internal bank seperti efisiensi biaya dan tata kelola operasional memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja keuangan, mengindikasikan bahwa bank dengan proses operasional yang efisien cenderung menghasilkan profit yang lebih tinggi. H3: Efisiensi Operasional berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan. Metode Analisis Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini mencakup seluruh bank konvensional di Indonesia yang mempublikasikan laporan keuangannya secara konsisten. Dengan teknik purposive sampling, terpilih 23 bank umum konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai sampel, meliputi kategori BUMN, swasta, asing, daerah, hingga bank digital. Kriteria pemilihan didasarkan pada ketersediaan laporan tahunan periode 2021Ae2024. Data sekunder yang bersumber dari BEI ini dianalisis menggunakan indikator yang diadaptasi dari penelitian terdahulu untuk menjamin validitas dan reliabilitas. Dengan masa pengamatan empat tahun, total observasi yang dihasilkan adalah 92 data. Tabel 1 Kriteria Penentuan dan Penyaringan Sampel Penelitian Kriteria Jumlah Bank Umum Konvensional yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesioa (BEI) pada tahun 2021 hingga 2024 . Perusahaan Perbankan Konvensional perusahaan yang tidak menyajikan keperluan untuk perhitungan variabel selama 2021-2024 . Jumlah Sumber: Data Amatan Penulis, 2025 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 401 Teknik Analisis Data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi data panel, yang diolah menggunakan bantuan perangkat lunak STATA versi 17. Pendekatan ini dipilih karena dapat menggabungkan data time series dan cross section, untuk memberikan estimasi yang lebih akurat serta menunjukkan bagaimana operasional Bank Umum Syariah berubah seiring waktu. Tahapan analisis meliputi analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan karakteristik data, dilanjutkan dengan uji asumsi klasik yang meliputi heteroskedastisitas, dan autokorelasi guna memastikan kelayakan model. Selanjutnya dilakukan pemilihan model data panel melalui Uji Hausman, untuk menentukan model terbaik antara Fixed Effect, atau Random Effect. Model regresi dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: ycycycyaya = yuya yuya yaOyaCyaya yuya yaOyaUyaya yuyc yaAyaayaayaayaya yuIyaya Hasil estimasi model selanjutnya dianalisis menggunakan Uji t untuk menguji efek parsial setiap variabel independen terhadap profitabilitas, dan Uji F untuk menenrukan efek simultan seluruh variabel independen terhadap ROA. Sementara itu, koefisien determinasi . cI! ) digunakan untuk menilai seberapa besar kemampuan model dalam menjelaskan variasi Kinerja Keuangan Bank Konvensional. Seluruh proses analisis dilakukan dengan menggunakan robust standard error untuk mengatasi potensi heteroskedastisitas dan autokorelasi untuk memastikan hasil estimasi yang konsisten. Definisi dan Pengukuran Variabel Tabel 2 Definisi dan Pengukuran Variabel Variabel Intellectual Capital (X. Kepemilikan Manajerial (X. Efisiensi Operasional (X. Kinerja Keuangan (Y) Definisi Menurut (Nasution & Haryono, 2. IC merupakan aset tidak berwujud yang Intellectual Capital dapat menambah nilai bisnis jika digunakan dengan baik (Ulum, 2. mendefinisikan intellectual capital adalah sebagai total seluruh aset dalam bisnis. Kepemilikan manajerial merupakan situasi yang memperbolehkan manajer untuk menjadi investor dalam sebuah perusahaan dengan jumlah saham yang diukur menurut persentase kepemilikannya (Zalogo & Duho. BOPO adalah rasio efisiensi yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Data BOPO membandingkan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional. BOPO diirumuskan seibagaii beiriikut Kinerja keuangan merupakan indikator posisi keuangan suatu perusahaan dengan menghasilkan laba (Pramono dkk. , 2. Kinerja keuangan merupakan faktor penting Pengukuran Variabel VA = OP EC D A VACA = VAHU = %# STVA = &# VAIC = VACA VAHU STVA (Ulum, 2. KM = '()* , & , ) /*/0 . 1 234/ * y 100% '()* , & , ) 53436 4 5/ 7 8934 :/. BOPO= <316 9 = 1 x 100% 8934 :/. > ? 534:/, ROA = @. = * ":3= y 100 % Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 402 dalam perusahaan dalam mencapai tujuan. Sumber: Data Amatan, 2025 Hasil dan Pembahasan Deskriptif Analisis Tabel 3 Hasil Uji Statistik Deskriptif ROA VAIC BOPO Mean 0,014 4,572 0,274 3,817 Min -0,083 -1,734 0,000076 0,487 Max 0,056 9,636 0,989 19,04 Std Dev 0,081 2,125 0,363 4,126 Sumber: Hasil Output Stata 17, 2025 Berdasarkan hasil statistik deskriptif Variabel Kinerja Keuangan yang diukur dengan Return on Assets (ROA) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,014 dengan standar deviasi 0,081, nilai minimum Ae0,083, dan maksimum 0,056. Nilai rata rata tersebut tergolong rendah bila dibandingkan dengan benchmark kinerja industri perbankan di Indonesia. Pada penelitian (Venty Feminda, 2. mengatakan bahwa rata-rata ROA bank umum sebagai indikator kesehatan bank pada kisaran 1,5% hingga 3% untuk dikategorikan sebagai bank AusehatAy atau Ausangat sehatAy. Variabel Intellectual Capital memiliki nilai minimum -1,734, dan maksimum 9,636 dan nilai rata-rata sebesar 4,572 dengan standar deviasi 2,125. Nilai ratarata tersebut menunjukan nilai IC yang kuat, yang berarti perusahaan mampu menciptakan nilai tambah melalui modal intelektual yang kuat. hasil ini sesuai pada penelitian (Pulic, 1. dimana nilai IC di atas 2 menunjukan nilai Intellectual Capital yang Variabel Kepemilikan Manajerial (KM) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,274 dengan standar deviasi 0,363, nilai minimum 0,000076 dan maksimum 0,989. Rata-rata tersebut menunjukkan bahwa sekitar 27,4% saham perusahaan dimiliki oleh manajer atau pihak internal perusahaan. Variabel Efisiensi Operasional memiliki nilai rata-rata 3,817 dengan standar deviasi 4,126, nilai minimum 0,487, dan maksimum 19,045. Nilai rata-rata BOPO yang tinggi menunjukkan bahwa semakin besar biaya operasional yang dikeluarkan dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh, sehingga efisiensi bank menurun (Ahmad Ramadani, 2025. Dwi Lestari & Suria Manda, 2. Tabel 4 Hasil Uji Hausman Test Uji Hausman Chi-Square Hausman Test Prob > Chi2 8,23 0,041 Model Terpilih Fixed Effect Sumber: Hasil Output Stata 17, 2025 Uji Hausman dilakukan untuk menentukan model estimasi panel data yang paling tepat antara Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM). diperoleh nilai ChiSquare sebesar 8,23 dengan nilai probabilitas Prob > Chi2 sebesar 0,041. Nilai probabilitas yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara estimasi parameter pada Fixed Effect Model dan Random Effect Model. Dengan demikian, model yang paling tepat digunakan dalam penelitian ini adalah Fixed Effect Model (FEM). Tabel 5 Hasil Uji Heteroskedastisitas dan Autokorelasi Model 1 Full Sampel Heteroskedastisitas Chi2 Prob > Chi2 Autokorelasi Prob > F 17526,63 0,0000 4,646 0,0423 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 403 Berdasarkan hasil pengujian yang disajikan pada Tabel 5, nilai ChiA . sebesar 17526,63 dan Prob > ChiA = 0,0000. Nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa model regresi data panel ini mengalami heteroskedastisitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa varians residual antar-bank tidak homogen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan karakteristik internal antar-bank, seperti perbedaan ukuran aset, tingkat efisiensi operasional, maupun kemampuan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Wardani & Nurhayati, 2. yang menyatakan bahwa perbedaan skala kegiatan dan strategi pengelolaan antar-bank sering kali menyebabkan munculnya heteroskedastisitas dalam model regresi panel. Selanjutnya hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai F sebesar 4,646 dengan Prob > F = 0,0423, yang berarti model juga mengalami autokorelasi. Nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan adanya hubungan korelatif antara nilai residual pada periode sebelumnya dengan residual pada periode sesudahnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja keuangan bank pada satu periode dipengaruhi oleh kinerja pada periode sebelumnya, yang menunjukkan adanya konsistensi pola kebijakan manajemen dari waktu ke waktu. Tabel 6 Hasil Uji Hipotesis Variabel Koefisien VAIC 0,00428 0,08073 BOPO -0,00087 R-Square Prob >F ***10% Sign **5% Sign T-value 1,76 2,82 -1,00 Prob. Keterangan 0,092 Berpengaruh Positif Signifikan 0,010 Berpengaruh Positif Signifikan 0,328 Tidak Berpengaruh 0,3318 5,86 0,0042 Sumber: Hasil Hasil Output Stata 17, 2025 Hasil uji hipotesis pada Tabel 6 menunjukkan pengaruh variabel independen variabel independen terhadap kinerja keuangan bank konvensional yang diukur menggunakan ROA. Analisis regresi data panel dalam penelitian ini menggunakan Fixed Effect Model (FEM) yang diestimasi melalui Generalized Least Square (GLS) dengan robust standard error untuk mengatasi potensi heteroskedastisitas dan autokorelasi. Nilai koefisien menunjukkan arah hubungan antarvariabel, sedangkan nilai kinerja keuangan menentukan signifikansi pada taraf 5% dan 10% . Pembahasan Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Keuangan Hasil pengujian terhadap H1 menunjukkan bahwa Intellectual Capital (IC) berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan bank konvensional di Indonesia, dengan koefisien 0,00428 dan nilai probabilitas 0,092, sehingga hipotesis 1 yang menyatakan bahwa Intellectual Capital berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi IC maka akan semakin tinggi Kinerja Keuangan dan menunjukkan bahwa kemampuan bank dalam mengelola intellectual capital yang mencakup human capital, structural capital, dan capital employed berkontribusi langsung terhadap peningkatan nilai tambah dan efisiensi operasional yang pada akhirnya meningkatkan kinerja keuangan. Dibuktikan dengan nilai rata-rata sebesar 4,57 yang berarti menunjukan nilai ic yang kuat karena pada penelitian (Pulic, 1. mengatakan dimana nilai IC di atas 2 menunjukan nilai Intellectual Capital yang kuat. Hasil ini didukung teori Resource-Based View (RBV) (Barney, 1. yang mengatakan bahwa sumber daya yang bernilai, langka, dan sulit ditiru termasuk modal Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 404 intelektual dapat menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Ira Kondoy & Soewignyo, 2023. Nanda dkk. , 2024. Ulum, 2. yang menyatakan bahwa Intellectual Capital (IC) berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan dan menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya intelektual secara optimal mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta profitabilitas sektor perbankan. Dengan demikian. Intellectual Capital terbukti menjadi aset strategis yang berperan langsung dalam peningkatan kinerja keuangan bank konvensional. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Kinerja Keuangan Hasil pengujian terhadap H2 menunjukkan bahwa Kepemilikan Manajerial (KM) berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan, dengan nilai koefisien sebesar 0,08073, dan nilai probabilitas 0,010. Sehingga hipotesis yang menyatakan Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan 2 diterima. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kepemilikan manajerial akan mendorong manajer untuk bertindak secara hati-hati dalam pengambilan keputusan, karena manajer akan ikut menanggung konsekuensi atas keputusan yang diambilnya, maka semakin besar kepemilikan manajerial dalam perusahaan membuat manajer memiliki kepentingan yang tinggi, hal ini mengakibatkan manajer akan lebih serius dalam mengendalikan perusahaan untuk memperoleh keuntungan bagi pemegang kepentingan, karena manajer memiliki dampak resiko yang tinggi apabila perusahaan mengalami kerugian (Monica Indah Pramesti, 2. Hasil ini sejalan dengan Teori Agensi, yang yang menyatakan kepemilikan manajerial dapat mengurangi konflik kepentingan antara agent dan principal (Jensen & Meckling, 1. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Hidayat dkk. , 2025. Joshua Gunawan, 2020. Monica Indah Pramesti, 2. yang menyatakan Kepemelikan Manajerial berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan Hal ini dikarenakan kesadaran manajer akan keadaan perusahaan yang sebenarnya. Manajer yang memiliki andil dalam perusahaan tempat mereka bekerja akan berusaha sangat keras untuk meningkatkan kinerja dan meningkatkan laba. Tujuannya adalah agar manajemen mendapatkan keuntungan dari investasinya dalam bisnis dengan pengembalian yang menguntungkan dan merata. Pengaruh Efisiensi Operasional terhadap Kinerja Keuangan Hasil pengujian terhadap H3 menunjukkan bahwa Efisiensi Operasional (BOPO) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, dengan koefisien sebesar Ae0,00087 dan nilai probabilitas 0,328. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa efisiensi operasional berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan ditolak, yang mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya BOPO tidak secara langsung memengaruhi profitabilitas bank. Temuan ini diperkuat oleh data empiris yang menunjukkan bahwa bank dengan nilai BOPO di atas maupun di bawah rata-rata . tetap dapat mengalami peningkatan atau penurunan ROA. Sebagai contoh. Bank BRI memiliki BOPO yang relatif rendah sebesar 1,72, namun hanya mencatatkan ROA sebesar 0,034, sehingga mencerminkan tidak adanya hubungan yang konsisten antara efisiensi biaya dan kinerja Hasil ini tidak sejalan dengan Teori Resource-Based View (RBV) yang menekankan bahwa efisiensi internal merupakan bagian dari kapabilitas strategis yang seharusnya meningkatkan kinerja keuangan. Namun, dalam konteks perbankan pasca pandemi, rasio BOPO tidak sepenuhnya mencerminkan tingkat efisiensi strategis bank. Pada periode ini, banyak bank mengalami peningkatan biaya operasional akibat penyesuaian struktural, seperti digitalisasi layanan, penguatan manajemen risiko, dan restrukturisasi kredit, yang bersifat strategis dan berorientasi jangka panjang. Kondisi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 405 tersebut menyebabkan BOPO menjadi kurang sensitif dalam menjelaskan profitabilitas jangka pendek, sehingga hubungan antara BOPO dan ROA menjadi tidak signifikan (Amina Buallay & Allam Hamdan, 2020. Ozkan & Zeytinoglu, 2. Namun Temuan ini didukung oleh penelitian (Safira dkk. , 2024b. Setyaningsih & Ernitawati, 2. yang menunjukkan bahwa BOPO tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Simpulan dan Saran Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Intellectual Capital. Efisiensi Operasional, dan Kepemilikan Manajerial terhadap Kinerja Keuangan perbankan konvensional di Indonesia. Berdasarkan hasil pengujian empiris, dapat disimpulkan bahwa Intellectual Capital dan Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan, sedangkan Efisiensi Operasional yang diukur melalui BOPO tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Temuan ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan bank lebih dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan sumber daya tidak berwujud dan mekanisme tata kelola, khususnya dalam konteks perbankan pasca pandemi. Keterbatasan penelitian ini terletak pada nilai Adjusted R Square yang relatif rendah sebesar 0,331 . ,1%) menunjukkan bahwa masih terdapat variabel lain di luar model yang berpotensi memengaruhi kinerja keuangan perbankan. Berdasarkan hasil penelitian, manajemen perbankan disarankan untuk lebih memfokuskan strategi pengelolaan pada penguatan intellectual capital, khususnya melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pengembangan sistem informasi dan teknologi perbankan, serta penguatan struktur organisasi yang mendukung inovasi dan pengambilan keputusan berbasis Selain itu, struktur kepemilikan manajerial perlu dioptimalkan sebagai bagian dari mekanisme tata kelola perusahaan, dengan mendorong keterlibatan manajemen dalam kepemilikan saham secara proporsional. Hal ini penting untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham sehingga keputusan yang diambil lebih berorientasi pada peningkatan nilai perusahaan dan kinerja keuangan jangka panjang. Bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk menambahkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi kinerja keuangan, seperti risiko kredit (NPL), kecukupan modal (CAR), ukuran bank (SIZE). Loan to Deposit Ratio (LDR), leverage, dan efisiensi aset, serta mempertimbangkan variabel makroekonomi seperti inflasi. BI rate, dan pertumbuhan Selain itu, perluasan periode penelitian di luar fase pasca pandemi diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan stabil mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja keuangan perbankan. Daftar Pustaka