Meiranny, et al. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (2)p1-13 ISSN 2809-6541 Received: 29 May 2024 Accepted: 13 July 2024 Published online: 31 August 2024 Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung DOI: 10.30659/jmhsa.v3i2.55 LITERATUR REVIEW Analisis Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Edukasi Seksual oleh Anak Usia Dini di Lingkungan Sekolah Dasar Arum Meiranny1*, Anggie Dini Ayuningrum2, Mufidhatul Khasanah3 1 * Prodi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Islam Sultan Agung Prodi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Islam Sultan Agung 2,3 Corresponding author: arummeiranny@unissula.ac.id The high number of cases of violence in Indonesia, including sexual violence against children, has raised concerns at various levels of society. Lack of sexual education is often the cause of increasing cases of sexual violence, which can damage children's moral aspects and internalization of life norms. This literature review explores the factors that influence the acceptance of sexual education in early childhood by reviewing relevant research articles. The method used was a literature review using references from Google Scholar and PubMed, producing 10 relevant articles, consisting of 6 national and 4 international articles. The results obtained were that acceptance of sexual education was influenced by various factors, including the role of parents, teacher readiness, and cultural and social norms. The conclusion is that parents' attitudes and their knowledge play an important role in the acceptance of sexual education programs in schools. Teacher readiness and training also influence the effectiveness of sexual education in elementary schools. In addition, cultural and social norms often act as barriers to implementing these programs. Keywords: Sexual violence, sex education, early childhood PENDAHULUAN Tingginya kasus kekerasan di Indonesia telah menjadi perhatian pemerintah. Korban kekerasan bahkan tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak.(Reswita & Bernadet Buulolo, 2023). Kekerasan seksual terhadap anak adalah hubungan atau interaksi antara seorang anak dengan orang yang lebih tua, dimana anak tersebut dijadikan sebagai objek bagi pelaku yang mencari kepuasan seksual.(Kayowuan Lewoleba & Helmi Fahrozi, 2020). Semakin meningkatnya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak telah meresahkan banyak orang, termasuk orang tua, pendidik, dan seluruh lapisan masyarakat. Karena hal ini pasti akan berdampak pada masa depan anak. (Janah, 2023) Pendidikan seksual pada anak usia dini telah menjadi topik yang semakin mendapatkan perhatian, terutama dalam konteks pendidikan dasar. Kurangnya pendidikan seks bagi anak merupakan salah satu alasan mengapa kekerasan seksual terhadap anak menjadi marak. 1 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 Penyimpangan seksual yang terjadi pada anak dapat merusak moral dan berpengaruh pada internalisasi norma-norma kehidupan yang tidak selaras, sehingga dapat mempengaruhi aspek fisiologis, psikologis, dan religius. (Rahayu & Islam, 2024). Pendidikan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang tepat kepada anak-anak tentang tubuh mereka, hubungan sosial, dan aspek-aspek dasar kesehatan reproduksi, yang semuanya penting untuk perkembangan pribadi yang sehat. Namun, penerimaan terhadap edukasi seksual di kalangan anak usia dini seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk peran orang tua, peran dan kesiapan guru, serta norma-norma budaya dan sosial yang berlaku dalam masyarakat. (Muhimmah & Fajrin, 2022). Lingkungan sosial dan budaya tempat anak-anak tumbuh juga memiliki dampak yang signifikan terhadap penerimaan pendidikan seksual. Faktor-faktor seperti norma-norma budaya, tradisi agama, dan ekspektasi gender dapat menjadi penghalang atau pendukung dalam implementasi program ini di sekolah dasar (Salim, 2020). Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap berbagai faktor ini guna memahami dinamika yang mempengaruhi penerimaan pendidikan seksual oleh anak usia dini di lingkungan sekolah dasar. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa sikap dan pengetahuan orang tua tentang pendidikan seksual sangat menentukan bagaimana program ini diterima oleh anak-anak mereka. Orang tua yang memiliki pemahaman yang baik dan sikap positif cenderung lebih mendukung program pendidikan seksual di sekolah, yang pada gilirannya mempengaruhi penerimaan positif anak-anak terhadap materi tersebut.(Gandeswari et al., 2020). Selain itu, guru dan staf sekolah memiliki peran penting dalam penyampaian pendidikan seksual yang efektif. Kesiapan dan pelatihan yang memadai dapat mengurangi konflik internal yang mungkin timbul akibat perbedaan budaya atau agama dalam topik ini, sehingga meningkatkan keberhasilan program. (Pangestuti et al., 2021). Literatur review ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai faktor yang mempengaruhi penerimaan edukasi seksual pada anak usia dini, dengan fokus pada peran orang tua, kesiapan dan pelatihan guru, serta pengaruh sosial dan budaya berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan cara mereview beberapa artikel penelitian. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai faktor-faktor ini, diharapkan dapat dikembangkan strategi yang lebih efektif untuk mendukung penerimaan dan pelaksanaan pendidikan seksual yang komprehensif di tingkat sekolah dasar. METODE Penulisan artikel ini dilakukan dengan menggunakan metode Literature Review yang menggunakan referensi dari jurnal dan artikel mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan edukasi seksual oleh anak usia dini di lingkungan sekolah dasar. Artikel-artikel diperoleh melalui database Google Scholar dan PubMed. Kriteria inklusi dan seleksi dokumen dengan menggunakan kata kunci yaitu "faktor penerimaan edukasi seksual anak usia dini", "kesiapan guru dalam mengajar edukasi seksual" dan "norma budaya dan sosial dalam edukasi seksual" atau "acceptance factors for early childhood sexual education", "teacher readiness in teaching sexual education" and "cultural and social norms in sexual education". Penulisan literatur melalui database penulis menemukan 8 artikel melalui Google Scholar dan 6 artikel melalui PubMed. Setelah dilakukan telaah maka ada 10 artikel yang sesuai untuk dijadikan acuan dalam penelitian ini yang terdiri dari 6 artikel Nasional dan 4 artikel Internasional. 2 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 HASIL NO PENULIS TAHUN 1 Nur hapipa, Hanifah 2020 2 Melbert O. Hungo1, Leomarich F. Casinillo 2023 Tabel 1. Analisis Artikel Ilmiah JUDUL METODE PENELITIAN Factors Penelitian ini Affecting the merupakan Provision of Sex penelitian kualitatif Education In dengan wawancara Early Childhood mendalam. (Faktor-Faktor Subjeknya Yang adalah tiga orang Mempengaruhi ibu, 1 orang guru Pemberian dan kepala sekolah. Pendidikan Seks Data dikumpulkan Pada Anak Usia melalui wawancara Dini) yang terstruktur dan tidak terstruktur. Evaluating Parents' Perspective on Sex Education in Elementary Schools (Mengevaluasi Perspektif Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks di Sekolah Dasar) Desain penelitian deskriptif-korelasi digunakan untuk menjelaskan hubungan yang signifikan antara profil orang tua dan persepsi mereka terhadap integrasi pendidikan seks dalam kurikulum sekolah dasar dengan menggunakan beberapa ukuran statistik standar dan uji Chi-square. Penelitian ini dilakukan pada orang tua yang anaknya bersekolah di sekolah dasar negeri di Southern Leyte, Filipina yaitu: (1) Matalom Central Elementary School (MCES), dan (2) JP Olo Elementary School (JPOES). Simple random sampling digunakan HASIL Pendidikan seks pada anak pada dasarnya diberikan oleh orang tua perempuan. Namun dengan pemahaman dan cara yang berbeda. Anak usia dini belum perlu menggunakan istilah langsung pada alat reproduksinya. Orang tua perlu diberitahu secara langsung perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana alat reproduksinya dan bagaimana hubungan antara anak laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memiliki persepsi yang sangat kurang baik terhadap pendidikan seks dari segi intelektual, emosional, moral, psikologis, dan sosial. Kesimpulannya, persepsi negatif orang tua terhadap pendidikan seks di tingkat sekolah dasar diyakini akan merugikan anakanak mereka karena mungkin mereka kurang memiliki pengetahuan tentang pendidikan seks, dan faktanya, membahas pendidikan seks masih dianggap tabu dalam budaya Filipina, khususnya di tingkat sekolah dasar. tingkat dasar. 3 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 3 Fumiko Shibuya, Crystal Amiel Estrada, Dian Puspita Sari, Rie Takeuchi, Hirono Sasaki, Cut Warnain , Saki Kawamitsu, Hamsu Kadriyan dan Jun Kobayashi 2023 Teachers’ conficts in implementing comprehensive sexuality education: a qualitative systematic review and metasynthesis (Konflik guru dalam penerapan pendidikan seksualitas komprehensif: tinjauan sistematis kualitatif dan meta-sintesis) 4 Firza Nur Afifah, Dian Miranda, Annisa Amalia 2023 Peran guru sebagai mediator dalam memberikan pendidikan Seks pada anak usia dini usia 4-6 tahun untuk memilih responden penelitian yang berjumlah 280 orang tua. Artikel ini berfokus pada konflik guru dalam penerapan Pendidikan seksualitas komprehensif dari tahun 2010 hingga 2022. Basis data bibliografi online, seperti PubMed, Web of Science, dan ERIC, digunakan untuk mencari artikel yang relevan. Istilah pencarian berikut digunakan: Guru, Pendidikan Seksualitas Komprehensif, dan Konflik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian kualitatif. Subyek di penelitian ini adalah dua orang guru yang mengajar di Bina Empat Lima TK, Pontianak Timur. Teknik Studi-studi tersebut mengidentifikasi bahwa penerapan pendidikan seksualitas komprehensif terkait dengan berbagai konflik, bergantung pada konteks negaranya. Tinjauan sistematis kualitatif dan meta-sintesis tematik ini menyoroti beberapa konflik di kalangan guru dalam penerapan Pendidikan seksualitas komprehensif. Meskipun para guru mempunyai persepsi bahwa pendidikan seks harus diberikan, pendidikan seks tradisional belum bertransformasi menjadi Pendidikan seksualitas komprehensif. Temuan penelitian ini juga menekankan perlunya mengidentifikasi peran guru dalam implementasi Pendidikan seksualitas komprehensif. Metasintesis tematik juga sangat mencerminkan konteks Kekristenan di Eropa dan Afrika; Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai konteks keagamaan di wilayah lain Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Peran guru sebagai salah satu mediator dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia dini adalah dengan melakukan mediasi dan bagaimana peran yang diberikan anak mengenai pendidikan seks dengan memberikan solusi; 4 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. 5 Meliana Sari, Feby Andriyani 2021 Cara Guru Dalam Pengenalan Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini Di TK Kurnia Illahi Kecamatan Rambatan 6 Ellya Rakhmawati, Siti Fitriana, Suyitno 2023 Hambatan guru dalam menerapkan pendidikan seksual anak usia dini berbasis budaya jawa 7 Syiddatul Muhimmah, Nilamsari Damayanti Fajrin 2022 Urgensi Pendidikan Seks Melalui Pendidikan Karakter Bagi Anak Usia SD Jenis penelitian kualitatif field research dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi, dengan responden anak usia dini di TK Kurnia Illahi Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Subjek diambil menggunakan sampling purposif dan data dikumpulkan melalui wawancara guru taman kanakkanak. Teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan model pendekatan studi kasus. Penelitian ini memilih guru kelas III sebagai informan 2. Teknisi menciptakan suasana belajar metode didaktik ketika berada di kelas dengan bernyanyi dan bertepuk tangan bersama anak selagi mereka mempelajari pelajaran tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwasanya guru memahami dan menguasai cara pengenalan pendidikan seks kepada anak namun guru tidak melaksanakannya Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi masalah dalam menyampaikan pendidikan seksual pada anak usia dini, seperti kesulitan dalam menyebutkan nama asli alat kelamin, kurangnya komunikasi antara guru dan orang tua, serta praktik seksual di sekolah yang tidak sesuai dengan praktik seksual di rumah. Ada kebutuhan akan layanan informasi lebih lanjut untuk menerapkan budaya Jawa dalam pendidikan seksual untuk anak usia dini. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendidikan seks dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah dengan upaya memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan komitmen moral, etika, dan agama, 5 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 8 Thaddeus Mahoso, Roy Venketsamy & Michelle Finestone 2023 Cultural Factors Affecting the Teaching of Comprehensive Sexuality Education in Early Grades in Zimbabwe (Faktor Budaya yang Mempengaruhi Pengajaran Pendidikan Seksualitas Komprehensif di Kelas Awal di Zimbabwe) 9 Isabella Hasiana 2020 Peran Orangtua Dalam Pendidikan dengan menggunakan wawancara sebagai metode penelitian. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi tidak terstruktur di kelas III sebagai triangulasi data. Setelah mendapatkan hasil, peneliti menganalisis data tersebut menggunakan analisis kualitiatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretivis. Sampel purposif yang terdiri dari sepuluh orang tua dan sepuluh guru kelas awal dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Penelitiandengan pendekatan kualitatif menggunakan sehingga terhindar dari penyalahgunaan organ reproduksi. Apabila anak sudah memahami tentang pendidikan seks, maka sudah dapat dipastikan bahwa anak tersebut bisa saja terhindar dari kekerasan seksual Kajian ini menyoroti beberapa budaya faktor-faktor yang menghambat pengajaran pendidikan seksualitas komprehensif kepada anak anak kelas awal di Zimbabwe, yang kemudian menjadikan mereka rentan terhadap pelecehan seksual. Temuannya mengungkapkan bahwa meskipun para guru mengakui pentingnya pendidikan seksualitas komprehensif bagi anak-anak, mereka merasa tidak nyaman dengan tugas mengajarkannya. Beberapa penolakan dari orang tua jika mereka mengajari anak tentang pendidikan seksualitas komprehensif karena keterbatasan budaya. Penggunaan terminologi eksplisit terkait organ seksual manusia dianggap tabu sehingga menjadi topik pembicaraan yang sensitif. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa pada dasarnya orangtua sudah melakukan edukasi kepada anak dengan 6 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 Seksual Anak Usia Dini 10 Muslim, Ihcwan PS 2020 Peran orang tua dalam pendidikan seks pada anak usia dini 11. Neni Maemunah, Wahidyanti Rahayu Hastutiningtyas, Megiwati Inka Wello 2023 Pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media video terhadap pengetahuan tentang sex abuse pada anak sekolah di sdn merjosari 4 kota malang desain studi kasus. Sumber informasi adalah keluarga yang memiliki anak dengan rentang usia 5-6 tahun. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa data Miles and Huberman. Penelitian ini adalah penelitian fenomenologis dengan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dimaksudkan untuk mengungkap peran orang tua dalam pendidikan seks bagi anak usia dini. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara semi terstruktur. Desain penelitian menggunakan desain penelitian pre-eksperimental dengan desain one group pretestposttest design. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak sekolah di SDN Merjosari 4 Kota Malang. Jumlah anak sekolah sebanyak 84 orang dengan jumlah sampel sebanyak 69 anak. Sampel diambil dengan teknik simple gaya bahasa sederhana yang mudah dipahamianak. Meskipun membicarakan seksual kepada anak masih dianggap tabu namun secara tidak disadari pendidikan seks sudah dilakukan oleh mereka. Hasil penelitian: (1) Pemahaman orangtua tentang istilah seks adalah hubungan badan antara laki-laki dan perempuan (2) Peran orangtua dalam pendidikan seks pada anak usia dini yaitu (a) menjelaskan perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan (b) pembiasaan menutup aurat serta menjelaskan batasan aurat (c) pembiasaan menggunakan toilet serta mengajarkan cara membersihkan diri. Menunjukkan bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan hampir separuh anak mempunyai pengetahuan tentang kekerasan seksual pada anak sekolah kategori kurang baik di SDN Merjosari 4 Kota Malang, setelah diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar anak mempunyai pengetahuan tentang kekerasan seksual pada kategori baik pada anak sekolah di SDN Merjosari 4 Kota Malang dan terdapat pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media video terhadap pengetahuan tentang pelecehan seksual pada anak sekolah di SDN Merjosari 4 Kota Malang. 7 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 random sampling. Variabel bebasnya adalah pendidikan kesehatan dengan media video, variabel terikatnya adalah pengetahuan tentang pelecehan seksual. Instrumen yang digunakan adalah video SAP dan kuesioner. Analisis data menggunakan uji homogenitas marginal. KESIMPULAN Pendidikan seks merupakan usaha untuk memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan tahap usianya tentang fungsi dan alat seksual, memberikan bimbingan mengenai cara merawat dan menjaga organ intim, serta memberikan pengetahuan mengenai tanda-tanda kekerasan seksual. Pendidikan seks di usia dini bertujuan untuk memberikan bimbingan sebagai bentuk pembelajaran dan keterampilan, serta sebagai langkah pencegahan terhadap kekerasan seksual pada anak.(Irsyad, 2019). Namun, penerimaan pendidikan seksual di kalangan anak usia dini seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk peran orang tua, peran dan kesiapan guru, norma-norma budaya dan sosial yang ada dalam masyarakat serta media edukasi. 1. Peran orang tua Peran orang tua dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak usia pra sekolah cukup besar. Pendidikan seks pada anak usia dini akan lebih efektif jika dilakukan langsung oleh orang tua.(Ciptiasrini & D. Astarie, 2020). Orang tua berperan sebagai madrasah pertama bagi anak dalam keluarga, sehingga mereka perlu memiliki pengetahuan yang sangat luas agar mampu memahami, mengerti, dan terampil dalam memberikan informasi, arahan, serta pemahaman yang tepat mengenai seksualitas kepada anak.(Nurhapipa & Hanifah, 2020)Top of Form Penelitian yang dilakukan (Nurhapipa & Hanifah, 2020) menunjukkan bahwa Sikap dan keyakinan orang tua sangat berperan dalam penerimaan pendidikan seksual di sekolah. Faktor-faktor seperti tingkat pengetahuan seksual orang tua, latar belakang budaya, serta nilai-nilai agama dapat memengaruhi pandangan mereka terhadap pendidikan seksual. Kekhawatiran mengenai kesesuaian topik ini untuk anak-anak sering kali muncul di kalangan orang tua, yang dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaannya di sekolah dasar. Sejalan dengan penelitian (Hungo & Casinillo, 2023) yang meneliti pandangan orang tua mengenai pendidikan seksual di sekolah dasar. Penelitian ini menemukan bahwa sikap orang tua 8 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 beragam, dipengaruhi oleh latar belakang budaya, agama, dan tingkat pendidikan mereka. Beberapa orang tua mendukung pendidikan seksual karena alasan pencegahan, sementara yang lain khawatir akan efek negatifnya. Orang tua sering kali memiliki harapan yang tinggi terhadap anak-anak mereka. Namun, harapan tersebut tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada orang tua yang benar-benar memberikan perhatian dan waktu untuk mendidik anak-anaknya, tetapi ada juga yang melihat anak dan keluarga hanya sebagai pelengkap dalam hidup mereka. Penelitian dilakukan oleh (Hasiana, 2020) Penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya orangtua sudah memberikan edukasi kepada anak dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh anak. Meskipun berbicara tentang seksualitas kepada anak masih dianggap tabu, secara tidak langsung pendidikan seks sudah dilakukan oleh orangtua. Orangtua semakin menyadari pentingnya memberikan edukasi sejak dini untuk mencegah kekerasan seksual pada anak. Penelitian lain oleh (Muslim & PS, 2020) menunjukkan bahwa: (1) Pengertian orangtua tentang seks adalah hubungan fisik antara pria dan wanita, dan (2) Peran orangtua dalam pendidikan seks untuk anak usia dini mencakup (a) menjelaskan perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita, (b) membiasakan menutup aurat serta menjelaskan batasan aurat, dan (c) membiasakan penggunaan toilet serta mengajarkan cara membersihkan diri. 2. Peran dan kesiapan guru Pendidikan kesehatan di sekolah dapat memberikan hasil kesehatan yang lebih baik dengan metode intervensi di lingkungan sekolah.(Kholis & Pranoto, 2020). Upaya promosi kesehatan tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan tentang sikap dan perilaku sehat, tetapi juga bertujuan mengurangi perilaku seksual aktif dan masalah kesehatan mental. Untuk itu, pendidik perlu memberikan pendidikan kecakapan hidup, termasuk tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi seksual, dengan melibatkan orang tua dan masyarakat. Kurikulum saja tidak cukup untuk menyampaikan pendidikan seks secara efektif. Meskipun guru sudah mendapatkan pelatihan, masih banyak yang merasa kurang percaya diri dalam mengajarkan pendidikan seks kepada siswa.(Shibuya et al., 2023). Penelitian dilakukan oleh (Shibuya et al., 2023) Menyoroti berbagai konflik yang dihadapi oleh para guru dalam penerapan Pendidikan Seksualitas Komprehensif. Meskipun para guru percaya bahwa pendidikan seks perlu diberikan, pendidikan seks tradisional belum mengalami transformasi menjadi Pendidikan Seksualitas Komprehensif. Sejalan dengan penelitian (Sari & Andriyani, 2020) menunjukkan bahwa guru memahami dan menguasai metode pengenalan pendidikan seks kepada anak, namun mereka belum menerapkannya dalam praktik. Seorang guru juga berperan dalam membantu siswa, terutama anak usia dini, untuk mengembangkan pengetahuan mereka. Oleh karena itu, guru perlu mampu menarik minat anak terhadap pembelajaran dan materi yang disampaikan. Guru diharapkan memiliki keterampilan profesional, kreatif, dan mampu menciptakan suasana yang menyenangkan. Penelitian dilakukan oleh (Afifah et al., 2023) mengungkapkan bahwa: 1) Guru berfungsi 9 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 sebagai mediator dalam pendidikan seks untuk anak usia dini dengan melakukan mediasi dan memberikan solusi terkait peran yang dijalankan anak dalam pendidikan seks. 2) Teknisi menciptakan suasana belajar dengan metode didaktik di kelas melalui kegiatan bernyanyi dan bertepuk tangan bersama anak saat mereka mempelajari materi tersebut. 3. Norma-norma budaya dan sosial Pengajaran pendidikan seks sangat dipengaruhi oleh norma-norma sosial dan budaya. (Shibuya et al., 2023). Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, membahas topik seksualitas di depan umum atau di masyarakat dianggap tabu karena bertentangan dengan norma budaya. Biasanya, berbicara tentang seksualitas sebelum menikah dipandang sebagai tidak bermoral atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga guru sering enggan membahasnya dengan anak-anak. Hal ini menyebabkan keterbatasan dalam penyampaian pengetahuan mengenai perkembangan seksualitas kepada mereka.(Rakhmawati et al., 2023). Penelitian yang dilakukan oleh (Mahoso et al., 2023) menunjukkan bahwa meskipun para guru menyadari pentingnya pendidikan seksualitas komprehensif untuk anak-anak, mereka merasa tidak nyaman dengan tanggung jawab untuk mengajarkannya. Beberapa orang tua menolak pendidikan seksualitas komprehensif untuk anak-anak mereka karena alasan budaya, dan penggunaan terminologi eksplisit terkait organ seksual manusia dianggap tabu, menjadikannya topik yang sensitif untuk dibahas. Sejalan dengan penelitian (Rakhmawati et al., 2023) menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak usia dini, seperti kesulitan dalam menyebutkan nama alat kelamin dengan benar, kurangnya komunikasi antara guru dan orang tua, serta perbedaan antara praktik seksual di sekolah dan di rumah. Diperlukan layanan informasi tambahan untuk mengintegrasikan budaya Jawa ke dalam pendidikan seksual bagi anak usia dini. Namun, pendidikan seks dianggap sangat penting untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan anak usia SD. Hal ini karena ada kekhawatiran bahwa anak-anak bisa terlebih dahulu terpapar informasi tentang pornografi dari lingkungan masyarakat yang tidak bertanggung jawab dan di luar kendali orang tua. Oleh karena itu, pendidik harus segera memberikan pengetahuan ini kepada anak-anak dan remaja, baik yang sudah baligh maupun yang belum, sebelum mereka menerima informasi yang salah yang dapat mengarah pada penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual pada anak dapat merusak moral dan memengaruhi pemahaman norma kehidupan, yang pada gilirannya dapat berdampak pada aspek fisiologis, psikologis, dan religius. Penelitian dilakukan oleh (Muhimmah & Fajrin, 2022) bahwa pendidikan seks dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah dengan memberikan pengetahuan mengenai fungsi organ reproduksi sambil menanamkan komitmen moral, etika, dan agama. Dengan demikian, siswa dapat terhindar dari penyalahgunaan organ reproduksi. Jika anak sudah memahami pendidikan seks dengan baik, maka kemungkinan besar mereka akan terhindar dari kekerasan seksual. 4. Media edukasi 10 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 Penyampaian pendidikan seksualitas kepada anak sangatlah penting. Dalam proses pendidikan kesehatan, penggunaan media seperti video sangat diperlukan. Video adalah salah satu bentuk media audio-visual yang dapat menampilkan objek bergerak disertai dengan suara alami atau suara yang relevan. Untuk memperkenalkan anggota tubuh, bisa dilakukan melalui media seperti gambar atau poster, video animasi, lagu, dan permainan. Penelitian dilakukan oleh (Maemunah et al., 2023) mendapatkan hasil bahwa sebelum menerima pendidikan kesehatan, hampir setengah dari anak-anak di SDN Merjosari 4 Kota Malang memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang kekerasan seksual. Namun, setelah mengikuti pendidikan kesehatan, sebagian besar anak-anak menunjukkan pengetahuan yang lebih baik tentang topik tersebut. Pendidikan kesehatan yang menggunakan media video terbukti mempengaruhi peningkatan pengetahuan tentang pelecehan seksual di kalangan siswa di SDN Merjosari 4 Kota Malang. KESIMPULAN DAN SARAN Sesuai literature review yang telah dilakukan penulis, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa perhatian terhadap pendidikan seksual di usia dini sangat penting. Pendidikan seksual yang memadai dapat mencegah penyalahgunaan organ reproduksi dan kekerasan seksual dengan memberikan pengetahuan yang sesuai tentang tubuh dan hubungan sosial. Faktor-faktor seperti sikap dan pengetahuan orang tua, kesiapan dan pelatihan guru, norma-norma budaya dan sosial serta media yang digunakan memainkan peran krusial dalam keberhasilan implementasi pendidikan seksual di sekolah dasar. Keterlibatan aktif orang tua dan kesiapan guru yang baik, pemahaman dan penyesuaian terhadap norma budaya, serta media edukasi, akan sangat mempengaruhi efektivitas pendidikan seksual. Penting untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dan pelatihan guru, menyesuaikan kurikulum dengan norma budaya, melaksanakan kampanye kesadaran, serta membangun kerjasama antara sekolah dan orang tua untuk efektivitas pendidikan seksual. DAFTAR PUSTAKA Afifah, F. N., Miranda, D., & Amalia, A. (2023). Peran Guru Sebagai Mediator Dalam Memberikan Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini Usia 4-6 Tahun. JPPK: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 12(3), 1113–1119. Ciptiasrini, U., & D. Astarie, A. (2020). Persepsi dan Peran Orang Tua Terhadap Pemberian Pendidikan Seksual pada Anak. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan Aisyiyah, 16(1), 19–26. https://doi.org/10.31101/jkk.612 Gandeswari, K., Husodo, B. T., & Shaluhiyah, Z. (2020). Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Orangtua Dalam Memberikan Pendidikan Seks Usia Dini Pada Anak Pra Sekolah Di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(3), 398–405. http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm%0A 11 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 Hasiana, I. (2020). Peran Orangtua Dalam Pendidikan Seksual Anak Usia Dini. Wahana, 72(2), 118– 125. https://doi.org/10.36456/wahana.v72i2.2725 Hungo, M., & Casinillo, L. F. (2023). Evaluating Parents’ Perspective on Sex Education in Elementary Schools. JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia), 12(4), 826–835. https://doi.org/10.23887/jpiundiksha.v12i4.67469 Irsyad, M. (2019). Pendidikan PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA DINI. Elementary: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 5(1), 73. https://doi.org/10.32332/elementary.v5i1.1374 Janah, R. (2023). Pentingnya Memberikan Edukasi Seksual Sejak Usia Dini Di Era Digital. BUNAYYA: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2(2), 10–19. https://journal.almaarif.ac.id/index.php/bunayya/article/view/192 Kayowuan Lewoleba, K., & Helmi Fahrozi, M. (2020). Studi Faktor-Faktor Terjadinya Tindak Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak. Esensi Hukum, 2(1), 27–48. https://doi.org/10.35586/esensihukum.v2i1.20 Kholis, M., & Pranoto, S. K. Y. (2020). Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Literatur Review: Efektivitas Penerapan Pendidikan Seksual di Sekolah Formal untuk Anak Usia Dini. Prosiding Seminar Nasional …, 635–640. http://pps.unnes.ac.id/pps2/prodi/prosiding-pascasarjanaunnes Maemunah, N., Rahayu Hastutiningtyas, W., Inka Wello, M., Ilmu Kesehatan, F., & Tribhuwana Tunggadewi Malang, U. (2023). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Video Terhadap Pengetahuan Tentang Sex Abuse Pada Anak Sekolah Di Sdn Merjosari 4 Kota Malang. Journal of Nursing Care & Biomolecular, 8(1), 2023–2031. Mahoso, B. T., Venketsamy, R., & Finestone, M. (2023). Cultural Factors Affecting the Teaching of Comprehensive Sexuality Education in Early Grades in Zimbabwe. 23(5). Muhimmah, S., & Fajrin, N. D. (2022). Urgensi Pendidikan Seks melalui Pendidikan Karakter bagi Anak Usia SD. Antroposen: Journal of Social Studies and Humaniora, 1(2), 105–112. https://doi.org/10.33830/antroposen.v1i2.4076 Muslim, & PS, I. (2020). PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI Muslim 1 , Ihcwan PS. Jurnal Pelangi; Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 02(01). http://solo.tribunnews.com/2016/05/23/marak Nurhapipa, & Hanifah. (2020). Science Midwifery Factors Affecting the Provision of Sex Education In Early Childhood. Science Midwifery, 8(2), 52–60. www.midwifery.iocspublisher.org 12 Lusito. J. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. (2024) 3: (1)p1-9 ISSN 2809-6541 Pangestuti, D., Wijayanti, O., & Hawanti, S. (2021). Persepsi Guru tentang Pendidikan Seks di SD Negeri 2 Sudagaran. Jurnal Education and Development, 9(1), 39–44. Rahayu, S., & Islam, P. (2024). PENERAPAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN. 9(1), 37–47. Rakhmawati, E., Fitriana, S., & Suyitno. (2023). Layanan informasi: Hambatan guru dalam menerapkan pendidikan seksual anak usia dini berbasis budaya Jawa. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 6(2), 1895–1903. http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/view/21465%0Ahttp://journa l.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/download/21465/15222 Reswita, & Bernadet Buulolo. (2023). Dampak Kekerasan Verbal di Lingkungan Sekolah. CERDAS - Jurnal Pendidikan, 2(1), 9–22. https://doi.org/10.58794/cerdas.v2i1.176 Salim, A. (2020). AKTIVISME AGAMA & PEMBANGUNAN YANG MEMIHAK : Esai-Esai untuk Editor : Rahman Mantu Esai-esai untuk Sulawesi Utara Sulur Pustaka (Issue May). Sari, M., & Andriyani, F. (2020). Cara Guru dalam Pengenalan Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini. Journal Education Child, 1(2), 53–60. Shibuya, F., Estrada, C. A., Sari, D. P., Takeuchi, R., Sasaki, H., Warnaini, C., Kawamitsu, S., Kadriyan, H., & Kobayashi, J. (2023). Teachers’ conflicts in implementing comprehensive sexuality education: a qualitative systematic review and meta-synthesis. Tropical Medicine and Health, 51(1). https://doi.org/10.1186/s41182-023-00508-w 13