HUBUNGAN ANTARA FAMILY SUPPORT DAN SELF EFFICACY TERHADAP KUALITAS HIDUP ANAK KANKER Tika Roudotul Jannah1* Universitas Islam Sultan Agung. Program Keperawatan Email tikaroudotulj22@std. Studi Ilmu Kurnia Wijayanti2 Universitas Islam Sultan Agung. Program Studi Ilmu Keperawatan Email kurnia@unissula. Indra Tri Astuti3 Universitas Islam Sultan Agung. Program Studi Ilmu Keperawatan Email indra@unissula. *Corresponding author ABSTRAK Latar Belakang: Quality of life adalah konsep penting dalam penilaian kesehatan anak-anak dengan penyakit kronis seperti kanker. Di Jawa Tengah, prevalensi peningkatan yang signifikan terdapat di RSUP Dr. Kariadi, total 2. 506 anak dengan kanker tercatat antara 2020 hingga Agustus 2024. Aspek yang terlibat dalam proses manajemen kanker meliputi Family support dan self efficacy parent. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara Family support dan Self efficacy parent terhadap Quality of life Anak Kanker Di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain analitik korelasi dan pendekatan crosectional. Teknik non probability sampling metode consecutive sampling dengan besar sampel menggunakan rumus infinite population didapatkan sebanyak 49 responden. Intrumen menggunakan MOS-s (Medical Outcomes Study: Social Support Surve. Self efficacy parent menggunakan SEPTI (Self efficacy Parenting Test Instrumen. , serta Quality of life Anak PedsQL TM 4. (Pediatric Quality of life Inventor. Analisa data menggunakan uji Contingensy coefficient untuk mengukur hubungan data nominal dan nominal pada penelitian. Hasil: Karakteristik responden mayoritas ibu usia 40 tahun dengan anak terdiagnosa kanker usia 5-17 tahun. Hasil uji menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara Family support . >0,. dengan nilai . = 0,. dan self efficacy parents . >0,. ilai r = 0,. terhadap Quality of life anak kanker di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kesimpulan:Rekomendasi kepada perawat untuk mengoptimalkan layanan penatalaksanaan kanker pada Kata Kunci: Dukungan keluarga. Efiksasi Orang Tua. Kanker ABSTRACT Background: Quality of life is an important concept in the health assessment of children with chronic diseases such as cancer. In Central Java, a significant increase in prevalence is found at Dr. Kariadi Hospital, a total of 2,506 children with cancer were recorded between 2020 and August 2024. In the cancer management process. Family support and Self efficacy parent are the aspects involved. The purpose of the study was to determine the relationship between Family support and Self efficacy parent on the Quality of life of Cancer Children at Dr. Kariadi Hospital Semarang. Method: This quantitative research uses a correlation analytical design and a crosectional approach. The non- probability sampling technique of ISSN : 2502-1524 Page | 182 Tika Roudotul Jannah dkk Hubungan antara family support dan self efficacy Terhadap kualitas hidup anak kanker the consecutive sampling method with a sample size using the infinite population formula was obtained as many as 49 respondents. The instrument used MOS-s (Medical Outcomes Study: Social Support Surve. Self efficacy parents used SEPTI (Self efficacy Parenting Test Instrumen. , and Quality of life PedsQL TM 4. 0 (Pediatric Quality of life Inventor. Data analysis uses the Contingensy coefficient test to measure the relationship between nominal and nominal data in the study. Results: Characteristics of the majority of respondents are mothers aged 40 years with children diagnosed with cancer aged 5-17 years. The results of the test showed that there was no significant relationship between Family support (>0. = 0. and sself efficacy parents (>0. = 0. on the sQuality of life of cancer children at Dr. Kariadi Semarang Hospital. Conclusion: Recommendations to nurses to optimize cancer management services in children. Keywords: Family support. Self efficacy parent. Qualiity of Life. Cancer PENDAHULUAN Kualitas hidup (Quality of lif. merupakan aspek krusial dalam evaluasi kesehatan anak dengan kanker, yang mencakup perubahan fisik, psikologis, dan sosial (Ariyani et. ,2. Penelitian di RSUD Dr. Hasan Sadikin Bandung menunjukkan 53. 3% anak kanker memiliki kualitas hidup buruk (Nurhidayah, 2. , sementara studi di RSUP Dr. Kariadi pada 2024 mengungkapkan 52% anak leukemia memiliki kualitas hidup tidak baik (Ariyani Data epidemiologis menunjukkan lebih dari 000 anak terdiagnosis kanker setiap hari (Pusmaika et al. , 2. , dengan kanker sebagai penyebab kematian kedua terbanyak pada anak usia 1-14 tahun di Amerika Serikat (Satrika, 2. Di Indonesia, tercatat 8. 677 anak berusia 0-14 tahun didiagnosis kanker pada 2020, dengan RSUP Dr. Kariadi mencatat 506 kasus anak kanker . -18 tahu. antara 2020 hingga Agustus Diagnosis kanker pada anak berdampak signifikan terhadap aspek fisik dan psikologis, termasuk efek samping kemoterapi seperti mual, muntah, dan gangguan kognitif, serta tantangan psikologis berupa kecemasan dan ISSN : 2502-1524 perkembangan anak dan keluarga (Wijayanti & Astuti, 2. Family support dan self efficacy parents berperan vital dalam manajemen kanker anak, dimana dukungan keluarga yang instrumental, dan informasional terbukti meningkatkan kualitas hidup (Putri. Self efficacy orang tua yang tinggi berkontribusi pada efektivitas pemberian dukungan dan manajemen (Nurhidayah, 2. , mengingat anak dengan diagnosa kanker mengalami peningkatan kecemasan, stres, dan isolasi sosial yang dapat memperburuk kondisi fisik dan psikologis mereka (Dwidiyanti et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasi, dengan menyediliki korelasi antar skala data nominal-nominal menggunakan uji statistik Contingensy coefficient (Yulianto, 2. Penelitian antara Family support dan Self efficacy parents terhadap Quality of life anak Model analisis penelitian ini adalah kuantitatif, bertujuan untuk Page | 183 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :182-197 mengukur,membedakan menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya (Jaya, 2. Metode pengambilan data pada penelitian ini Consecutive sampling yaitu peneliti menetapkan kriteria inklusi dan ekslusi yang jelas(Swarjana & SKM, 2. Pada penelitian ini semua sampel yang diperoleh merupakan responden yang ditemui pada bulan November Desember 2024. Besar sampel dari penelitian ini Infinite Population dari rumus Lemeshow menentukan sampel pada populasi yang terlalu besar dan tidak diketahui secara pasti (Saputra et al. , 2. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak49 responden orang tua dengan anak terdiagnosa kanker usia 5-17 tahun di RSUP Dr. Kariadi Semarang. HASIL DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diambil di RSUP Dr. Kariadi Semarang, sebagai berikut: Karakteristik Orang Tua Tabel 1 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin Responden (N=. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Frekuensi . Persentase (%) 18,4 % 81,6 % Total Hasil analisis karakteristik demografis responden penelitian, didapatkan bahwa mayoritas responden adalah ibu dari anak dengan diagnosa kanker mencapai 81,6%. Tabel 2 ISSN : 2502-1524 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Usia Variabel Orang Tua (N=. Usia orang tua Median Minimummaximum 24 - 48 tahun Rata-rata usia orang tua adalah 40 tahun, yang merupakan usia matang dalam Meskipun umumnya dikategorikan sebagai usia produktif, data menunjukkan mayoritas responden . ,3%) adalah Ibu Rumah Tangga yang memiliki fleksibilitas waktu lebih tinggi untuk pendampingan Hal ini sejalan dengan temuan bahwa Ibu Rumah Tangga menunjukkan Family support tertinggi . ,4%), mengindikasikan bahwa ketersediaan waktu berperan penting dalam kualitas dukungan keluarga (Firdausi, 2. Orang tua dengan usia 40 tahun-an cenderung memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap peran pengasuhan dan perawatan pada anggota keluarga yang sedang sakit, hal ini dapat dilihat pada angka keikutsertaan ibu usia 40 tahun dalam edukasi pengetahuan caregriver oleh perawat (Lasmini et al. , 2. Usia orang tua juga mempengaruhi bagaimana bentuk pola asuh yang diterapkan. Semakin matang usia orang tua, semakin baik pula perannya dalam memberikan dukungan emosional kepada anak dalam pengobatan(Hastuti, 2. Tabel 3 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Status Nikah Orang Tua (N=. Status Nikah Menikah Cerai Total Frekuensi . ersentase (%) 95,9 % 4,1 % Ditinjau berdasarkan analisis tabulasi silang Page | 184 Tika Roudotul Jannah dkk Hubungan antara family support dan self efficacy Terhadap kualitas hidup anak kanker antara status pernikahan dengan Family support, ditemukan pola hubungan yang menarik dalam konteks dukungan Dari total 49 responden yang kelompok orang tua dengan status menikah mendominasi sampel dengan jumlah 45 orang . 8%). Dalam kelompok ini, mayoritas . menunjukkan tingkat dukungan keluarga memberikan dukungan yang kurang baik. Pada kelompok orang tua dengan status cerai, yang juga mewakili 8,2 % dari total responden . , 3 diantaranya keluarga yang baik. Hal ini sangat mempengaruhi tingkat dukungan yang diberikan kepada anak. Berdasarkan penelitian Mayastuti, single parent memiliki tingkat dukungan keluarga yang lebih rendah dibandingkan dengan orang tua yang memiliki pasangan (Mayastuty, 2. Tabel 4 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua (N=. Tingkat Pendidikan Tidak sekolah SMP SMA S1 Lainnya Total Frekuensi . ersentase (%) 10,2 % 26,5 % 40,8 % 12,2 % 10,2 % Tabel 5 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua (N=. Pekerjaan ekuensi . Persentase (%) ISSN : 2502-1524 PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Ibu Rumah Tangga ani/Peternak/Perkebunan Lainnya Tidak Total 6,1 % 12,2 % 4,1 % 67,3 % 4,1 % 4,1 % 2,0 % Tabel 6 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Penghasilan Orang Tua (N=. Penghasilan <500. >2. Frekuensi . Persentase (%) 10,2 % 14,3 % 24,5 % 51,0 % Total Meskipun 40,8% berpendidikan SMA dan 12,2% S1, mayoritas memilih berperan sebagai Ibu Rumah Tangga ,3%), terhadap pengasuhan anak dengan Stabilitas finansial keluarga tetap terjaga dengan 51% responden memiliki penghasilan >Rp 2. mengindikasikan dukungan ekonomi dari pasangan atau anggota keluarga lain. Kombinasi pendidikan yang memadai dan ketersediaan waktu ini berkontribusi pada Family support yang optimal. Data crosstab mengungkap bahwa Ibu Rumah Tangga menunjukkan Family support tertinggi . ,4%), sedangkan karyawan swasta memiliki dukungan keluarga yang baik . ,3%), yang menegaskan bahwa ketersediaan waktu dan sistem kerja yang terstruktur kualitas dukungan keluarga. Selain itu, pengalaman perawatan keluarga oleh Ibu Rumah Tangga berkorelasi positif dengan Quality of life anak kanker (Layyina et al. , 2. , serta analisis self efficacy mengindikasikan bahwa Ibu Page | 185 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :182-197 Rumah Tangga memiliki self efficacy yang baik, berbeda dengan karyawan petani/peternak/buruh menunjukkan self efficacy kurang baik. Penghasilan >Rp 2. 000 juga berkorelasi dengan peningkatan Quality of life . %). Family support . %), dan self efficacy . %), yang menegaskan bahwa stabilitas finansial mendukung kapasitas orang tua dalam memberikan dukungan optimal. Meskipun demikian, terdapat perbedaan dengan temuan Dewi & Widari . yang tidak menemukan hubungan signifikan antara kondisi sosial ekonomi dengan Quality of life pasien kanker, sehingga implikasinya mengarah pada urgensi pengembangan program peningkatan self efficacy parent di RSUP Dr. Kariadi dengan latar belakang Karakteristik Anak Tabel 7 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin Anak (N=. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi . ersentase (%) 57,1 % 42,9 % Penelitian di RSUP Dr. Kariadi mengindikasikan prevalensi kanker lebih tinggi pada anak laki-laki . ,1%) . ,9%), sejalan dengan data dari RSUP Adam Malik Medan . ,5% laki-lak. dan RSUP Dr. Djamil Padang . ,5% laki-lak. Tren ini konsisten dengan laporan American Cancer Society . yang menunjukkan rasio global 1,2:1 antara laki-laki dan perempuan dalam ISSN : 2502-1524 insiden kanker (Kaatsch, 2. Faktor penyebabnya meliputi perbedaan genetik dan hormonal, seperti ekspresi gen CXCL13 yang lebih tinggi pada lakilaki dengan kanker nasofaring, variasi sistem imun, serta tingkat paparan risiko lingkungan yang lebih tinggi pada anak laki-laki (Faiq et al. , 2. Studi sebelumnya oleh Apri . dan Pangestuti . mengonfirmasi risiko kanker 2-3 kali lebih besar pada anak laki-laki, terutama untuk jenis kanker nasofaring, paru, dan Analisis kualitas hidup berdasarkan gender menunjukkan pola menarik. 28 anak laki-laki, 53,6% memiliki kualitas hidup baik, sementara dari 21 anak perempuan, 61,9% menunjukkan kualitas hidup baik. Persentase lebih mengindikasikan adaptasi lebih baik terhadap kondisi penyakit, yang dapat dijelaskan melalui perbedaan pola sosialisasi dan ekspektasi sosial, dimana anak perempuan cenderung lebih perasaan dan mencari dukungan (Taylor et al. , 2000. Tamres et al. , 2. , sesuai dengan teori sosialisasi gender yang menunjukkan perempuan dikondisikan untuk lebih ekspresif secara emosional dan berorientasi pada hubungan interpersonal (Bem, 1981. Chodorow. Tabel 8 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Usia Anak (N=. Variabel Median Minimum- Usia Anak 5-17 tahun Penelitian pada 49 anak dengan kanker RSUP Kariadi Page | 186 Tika Roudotul Jannah dkk Hubungan antara family support dan self efficacy Terhadap kualitas hidup anak kanker distribusi usia responden berkisar antara 5- 17 tahun, dengan mayoritas berada pada usia 11-12 tahun . asing-masing 2%). Analisis mengungkapkan bahwa 57. 1% anak memiliki kualitas hidup baik, dengan variasi signifikan berdasarkan kelompok Pada usia 5-7 tahun, terdapat kecenderungan kualitas hidup yang kurang baik . % pada usia 5 tahu. , sementara kelompok usia 8-10 tahun menunjukkan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik . -80%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Apri . dan Pangestuti et al. yang mengindikasikan prevalensi kanker tertinggi pada usia remaja, dengan karsinogenik lingkungan (Faiq et al. dan kebiasaan hidup yang buruk (Susanti et al. , 2. Hasil penelitian mendemonstrasikan korelasi positif antara pertambahan usia dengan peningkatan kualitas hidup, dimana usia 14 tahun menunjukkan hasil optimal dengan 100% responden memiliki kualitas hidup baik. Hal ini perkembangan anak yang menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif dan bertambahnya usia (Ulfa et al. , 2. Family support dan Self efficacy parent kelompok usia yang lebih muda, dengan 17 anak usia 11-14 tahun mendapatkan dukungan keluarga yang Temuan ini menggarisbawahi pentingnya intervensi yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, dengan penekanan pada pendekatan yang lebih intensif untuk kelompok usia muda dan fokus pada penguatan strategi koping untuk kelompok usia yang lebih Tabel 9 ISSN : 2502-1524 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Jenis Kanker Anak (N=. Jenis kanker Adrenal Corticol Carcinoma Glioblastoma Cancer Kanker otot bola Kanker ovarium Kanker paruparu Leukimia Limfoma non Hodgkin Malignant neoplasma of Medulloblastoma Myelodysplastic Syndromes Neuroblastoma Osteosarkoma Reganasa MBS TB Abdomen Rwing Sarkoma Sarkoma tulang Total Frekuensi . Persentase (%) 67,3 % 4,1 % Leukemia mendominasi sebagai jenis kanker terbanyak dalam penelitian ini dengan persentase 67. 3% dari total kasus, dimana 68. 8% . dari 32 ana. dengan leukemia menunjukkan kualitas hidup yang baik. Temuan ini konsisten dengan data nasional, dimana pada tahun 2016 tercatat 6. 590 kejadian kanker anak dengan lebih dari 1. kematian akibat leukemia (Achsan et al. , dan diperkuat oleh data Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) tahun 2022 (Windasari et al. , 2. Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) merupakan jenis leukemia yang paling prevalent, mencakup 50% kasus (Fetriyah et al. , 2. , dengan karakteristik dominan pada anak laki-laki Page | 187 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :182-197 usia 5-12 tahun dan status nutrisi di bawah normal (Kamilah et al. , 2. Etiologi leukemia pada anak masih belum dapat dipastikan, namun beberapa faktor risiko yang diidentifikasi meliputi mutasi genetik prenatal atau awal kehidupan, infeksi virus, faktor lingkungan, kondisi medis khusus seperti Down syndrome, paparan radiasi, dan riwayat keluarga (Deswita et al. , 2. Analisis tabulasi silang menunjukkan variasi signifikan dalam kualitas hidup berdasarkan jenis kanker, dimana beberapa jenis seperti karsinoma, sarkoma, limfoma, kanker otak dan sumsum tulang belakang, glioblastoma, dan kanker bola mata menunjukkan 100% kualitas hidup kurang baik. Sebaliknya, myeloma, kanker kolon dan rektum, kanker paru, dan kanker ovarium menunjukkan 100% kualitas hidup baik. Secara keseluruhan, dari 49 responden, 57. 1% . memiliki kualitas hidup baik, mengindikasikan adanya korelasi antara jenis kanker dengan kualitas hidup anak, dimana leukemia menunjukkan proporsi kualitas hidup baik tertinggi, yang kemungkinan dipengaruhi oleh tingkat self efficacy orang tua dalam pengelolaan penyakit. Tabel 10 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Lama (N=. Lama Frekuensi . <1 tahun 1-2 tahun >2 tahun Persentase (%) Total 40,8 % 32,7 % 26,5% Hasil penelitian menunjukkan distribusi durasi pengobatan pada anak dengan kanker di RSUP Dr. Kariadi, dimana 8% . berada dalam tahap awal pengobatan (<1 tahu. , 32. 7% . telah menjalani pengobatan 1-2 ISSN : 2502-1524 tahun, dan 26. 5% . telah menjalani pengobatan >2 tahun. Analisis tabulasi silang mengungkapkan hubungan antara durasi pengobatan dan dukungan keluarga, dimana terdapat kecenderungan penurunan dukungan keluarga seiring bertambahnya waktu pengobatan . % dukungan baik pada <1 tahun menurun menjadi 69. pada >2 tahu. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh beberapa faktor, termasuk keletihan keluarga . aregiver burde. , penyesuaian emosional, dan perubahan prioritas keluarga seiring waktu. Secara memiliki dukungan keluarga yang baik, dengan persentase tertinggi pada kelompok <1 tahun . 7%). Kualitas hidup anak menunjukkan pola yang bervariasi berdasarkan durasi pengobatan, dimana 60% anak dengan pengobatan <1 tahun memiliki kualitas hidup baik, sementara pada kelompok 1-2 tahun terjadi pembagian sama rata . %). Pada kelompok >2 tahun, terjadi peningkatan dengan 61. 5% menunjukkan Hal mengindikasikan pola hubungan tiga fase: awal pengobatan yang relatif baik, fase transisi dengan penurunan kualitas, dan fase adaptasi jangka panjang dengan peningkatan kualitas hidup. Fitri et al. menyatakan bahwa durasi psikologis akibat hospitalisasi, sementara Rafiska et al. mengonfirmasi bahwa lama pengobatan dapat menyebabkan post traumatic growth yang mempengaruhi kualitas hidup anak usia sekolah. Tabel 10 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Penyakit Penyerta (N=. Penyakit penyerta Frekuensi Persentase (%) . Page | 188 Tika Roudotul Jannah dkk Hubungan antara family support dan self efficacy Terhadap kualitas hidup anak kanker Anemia Appendix Epilepsi Glukoma Hernia Pecahnya pembuluh darah otak kejang Thypoid Thypoid Gerd Tidak ada Total 4,1 % 79,6 % Penelitian terhadap 49 anak penderita RSUP Dr. Kariadi mengungkap bahwa 20,4% . 79,6% . Analisis silang menunjukkan bahwa dari anak dengan komorbiditas, 60% memiliki kualitas hidup rendah dan 40% baik. pada anak tanpa komorbiditas, 61,5% memiliki kualitas hidup baik dan 38,5% Temuan ini konsisten dengan studi oleh Varni et al. yang menyatakan bahwa komorbiditas dapat memperburuk semua dimensi kualitas hidup anak dengan kanker, termasuk aspek fisik, emosional, sosial, dan Kasus komorbiditas yang pernapasan, tifoid, dan sindrom Down. Menariknya, keberadaan komorbiditas tidak berhubungan signifikan dengan dukungan keluarga dan self efficacy orang tua. baik anak dengan maupun tingkat dukungan keluarga dan self efficacy orang tua yang baik. Dari perspektif kualitas hidup, 28,6% anak dengan kualitas hidup rendah memiliki komorbiditas, sementara pada kelompok dengan kualitas hidup baik, hanya 14,3% yang memiliki komorbiditas. Sebaliknya, 85,7% anak dengan kualitas hidup baik tidak memiliki komorbiditas, negatif dari kompleksitas kondisi medis ISSN : 2502-1524 terhadap kualitas hidup anak dengan Tabel 11 Distribusi Karakteristik Berdasarkan Stadium Kanker(N=. Stadium Kanker Tidak Frekuensi . Persentase (%) 4,1 % Total 89,8 % Anak dengan penyakit penyerta memiliki kualitas hidup yang kurang baik, sedangkan 61,5% anak tanpa penyakit penyerta memiliki kualitas hidup yang Temuan ini konsisten dengan penelitian Varni et al. yang menyatakan bahwa penyakit penyerta dapat memperburuk semua dimensi kualitas hidup anak dengan kanker, termasuk aspek fisik, emosional, sosial, dan sekolah. Menariknya, keberadaan penyakit penyerta tidak berhubungan signifikan dengan dukungan keluarga dan self efficacy orang tua. baik anak dengan maupun tanpa penyakit penyerta menerima tingkat dukungan keluarga dan self efficacy orang tua yang baik. Secara keseluruhan, 28,6% anak dengan kualitas hidup kurang baik memiliki penyakit penyerta, sementara hanya 14,3% anak dengan kualitas hidup baik yang memiliki penyakit penyerta, mengindikasikan bahwa kompleksitas kondisi medis dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup anak dengan Hasil Uji Penelitian Dalam penelitian ini, uji hubungan antara Family support dan Self efficacy parent terhadap Quality of life antar variabel Page | 189 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :182-197 dengan skala data x1 ordinal, x2 nominal terhadap y1 nominal menggunakan Uji Contingensy coefficient. Hubungan antara Family support dan Self efficacy parent terhadap Quality of life Anak Kanker di RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan hasil sebagai berikut: Sebuah penelitian di RSUP Dr. Kariadi terhadap 49 anak penderita kanker mengungkap bahwa 20,4% . memiliki penyakit penyerta seperti gangguan pernapasan, tifoid, dan sindrom Down, sementara 79,6% . tidak memiliki penyakit penyerta. Analisis menunjukkan bahwa 60% anak dengan Tabel 12 Hasil Uji Hubungan Antara Family support terhadap Quality of life Anak Kanker Variabel penelitian Family support dengan Quality of life Anak 49 ,843 ,028 Analisis hubungan antara Family support terhadap Quality of life anak kanker menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan . =0,843 > 0,. dengan koefisien korelasi yang sangat lemah dengan arah hubungan . =0,. Hubungan positif dalam konteks ini memungkinkan apabila semakin tinggi Family support maka akan diikuti dengan semakin baik Quality of life anak kanker. Meskipun begitu, mayoritas responden memiliki dukungan keluarga yang baik, hal ini tidak berkorelasi secara signifikan dengan kualitas hidup anak kanker. Family support yang cukup masih belum mampu untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Pada penelitiannya menggunakan instrument EORTC QLQ Hal ini bisa disebabkan karena bantuan keluarga belum sepenuhnya berpengaruh, mengingat banyaknya ISSN : 2502-1524 keluhan dan ketidaknyamanan akibat kemoterapi yang sangat mengganggu sehari-hari pasien(Fudiariyanti, 2. Selain itu, sistem pendukung yang lebih kompleks pada anak dengan kanker. Azizatunnisa, dimana kualitas hidup tidak hanya dipengaruhi oleh dukungan keluarga tetapi juga sistem pendukung Sistem pendukung dukungan keluarga diantaranya . konsep diri sehat sakit pasien dan keluarga, sistem pendukung pelayanan perawatan kanker, serta kemampuan melakukann koping terhadap penyakit. Konsep perkembangan dan kematangan usia. Pada penelitian ini, responden mayoritas anak-anak memungkinkan konsep diri belum terbentuk dengan baik pada anak dengan diagnosa kanker. Selain itu, konsep diri juga dibentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan, pengalaman dan pola asuh orang tua dan lingkungan. Pasien dengan konsep diri positif menunjukan kualitas hidup yang lebih baik(Achsan et al. , 2. Selain itu, kemampuan melakukan Melalui kegiatan. Self Help Group (SHG) atau sering disebut juga kelompok yang saling menolong, saling membantu, atau kelompok SHG juga efektif dalam meningkatkan fungsi dukungan sosial dan kualitas 19 hidup. Kualitas hidup adalah cara pandang individu dari segi fungsi fisik, emosional, sosial, dan mental(Achsan et al. , 2. Tabel 13 Hasil Uji Hubungan Antara Self efficacy parent terhadap Quality of life Anak Kanker Page | 190 Tika Roudotul Jannah dkk Hubungan antara family support dan self efficacy Terhadap kualitas hidup anak kanker Variabel penelitian Self efficacy parent dengan Quality of life Anak 0,801 Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara Self efficacy parent dengan Quality of life anak kanker . =0,801 > 0,. dengan korelasi sangat lemah dan positif . = 0,. Hubungan yang positif ini baiknya Self efficacy parent maka semakin baik Quality of life pula anak dengan diagnosa kanker . Meskipun begitu, hasil penelitian ini tidak menunjukan adanya hubungan yang Pada Supaati menyebutkan bahwa sebanyak 36 ,7%) menggunakan Uji Spearman Rank menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara Self efficacy terhadap kualitas Didapatkan hasil penelitian menunjukkan nilai p-value 0,077 (>0,. , dengan arah korelasi positif 0,276 hubungan lemah. Meskipun begitu, pasien dengan kemauan sembuh yang tinggi dapat melewati proses penyakit yang dideritanya dengan baik melalui Self efficacy(Supaati et al. , 2. Cara meningkatkan Self efficacy parent salah satunya dengan empowerment education yaitu suatu pendidikan yang kemampuan mengambilm keputusan dalam mematuhi pengobatan pada perawatan diri dan meningkatnya kualitas hidup (Pitta dan Agustina, 2019. Diana, 2. Penelitian cross-sectional Stenmarker . menemukan bahwa kualitas hidup anak dengan kanker dipengaruhi oleh pengalaman unik ISSN : 2502-1524 masing- masing individu, bukan hanya oleh self efficacy orangtua dalam systematic review menemukan bahwa masih ada kesenjangan penelitian terkait kualitas hidup anak dengan kanker, terutama pada usia tertentu, yang menunjukkan kompleksitas hubungan antar variabel. Saito . menemukan bahwa self efficacy hanya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup, dengan cancer-related fatigue sebagai faktor penting lainnya. Quality of life anak kanker di RSUP Kariadi Semarang Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup anak kanker di RSUP Dr. Kariadi Semarang bervariasi dengan dominasi kualitas baik dengan 57,1%. Beberapa penelitian terkait mendukung temuan ini diantaranya . penelitian di RSUP Dr. Kariadi oleh Adilah . menunjukkan bahwa kualitas hidup anak kanker sangat dipengaruhi oleh proses kemoterapi yang dijalani. Ambrella . menemukan bahwa kelelahan sebagai efek samping pengobatan secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup anak dengan kanker. Selain itu, faktor antara lain: . Jenis Jenis kanker yang dalam penelitian ini. Sebagian besar anak dalam penelitian ini menderita leukemia . ,3%). Leukemia, sebagai jenis kanker darah, signifikan terhadap kualitas hidup anak karena mempengaruhi fungsi sumsum tulang dan produksi sel darah Jenis kanker lain, seperti tumor otak dan osteosarkoma, juga dapat mempengaruhi kualitas hidup anak secara berbeda. Tahap pengobatan. Tahap pengobatan yang bervariasi. Tahap pengobatan memainkan peran penting dalam kualitas hidup anak. Sebanyak 40,8% anak berada dalam tahap pengobatan kurang dari satu tahun. Page | 191 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :182-197 Durasi dan intensitas pengobatan, seperti kemoterapi, dapat menyebabkan efek samping yang mempengaruhi kualitas hidup, termasuk kelelahan, mual, dan penurunan nafsu makan. Efek samping pengobatan . Efek samping pengobatan seperti kelelahan, mual, dan nyeri, secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup anak dengan kanker. Kelelahan, misalnya, telah ditemukan memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas hidup anak. Selain itu, dampak psikologis dari efek samping ini dapat menyebabkan kecemasan dan depresi, yang selanjutnya menurunkan kualitas hidup. SIMPULAN Dalam penelitian ini. Family support dan Self efficacy parent tidak memiliki hubungan yang signifikan dan bermakna dengan kualitas hidup anak kanker di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Quality of life pasien anak terdiagnosa kanker sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti jenis kanker, tahap pengobatan yang bervariasi, efek samping pengobatan, stadium kanker, serta usia anak yang beragam dapat mempengaruhi persepsi anak terhadap penyakit dan pengobatannya, serta kemampuan mereka dalam menghadapi stres dan efek samping. SARAN Perawat diharapkan dapat meningkatkan perannya sebagai edukator dan advokat bagi keluarga pasien, dengan memberikan informasi yang akurat dan dukungan emosional yang Hal ini penting untuk memastikan bahwa keluarga merasa didukung dan mampu dalam melakukan perawatan dan pengasuhan anak dengan diagnosa kanker. ISSN : 2502-1524 Pihak RSUP Dr. Kariadi Semarang diharapkan meningkatkan optimalisasi Layanan Dukungan Keluarga, institusi mendukung keluarga, seperti konseling psikososial dan kelompok pendukung, untuk membantu keluarga dalam menghadapi tantangan merawat anak dengan kanker. Bagi melakukan penelitian dengan jumlah responden yang lebih besar dan teknik pengambilan sampel yang lebih beragam, guna memperoleh hasil yang lebih generalizable dan memahami dinamika antara dukungan keluarga, self efficacy orang tua, dan kualitas hidup anak penderita kanker serta mengeksplorasi variabel lain yang mempengaruhi Kualitas Hidup Anak. UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul AuHubungan Antara Family support dan Self efficacy Terhadap Kualitas Hidup Anak KankerAy. Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak dapat selesai tanpa adanya doAoa, bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada: Direktur RSUP Dr. Kariadi Semarang. Dr. Bambang Sudarmanto Sp. A(K). MARS. yang telah menjadi Pembimbing Lapangan saya. Ibu Ns. Kurnia Wijayanti . Kep selaku Dosen Pembimbing dan Ns. Indra Tri Astuti. Kep. Kep. ,Sp. selaku pembimbing dan penguji serta seluruh pasien anak kanker beserta orang tua yang telah bersedia menjadi responden penelitian. Page | 192 Tika Roudotul Jannah dkk Hubungan antara family support dan self efficacy Terhadap kualitas hidup anak kanker Canissa Ajeng Rafiska. Siti Lestari, & Muhammad Anis Taslim. Hubungan post traumatic growth dengan kualitas hidup pada anak usia sekolah yang sedang menjalani palliative care. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan, 2. , 26Ae36. https://doi. org/10. 55606/jurrikes. DAFTAR PUSTAKA