Qismul Arab: Journal of Arabic Education Volume 5 Issue 01 Desember 2025. Page 38-47 ISSN: 2827-9476 (Onlin. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/qismul_arab/ Kontekstualisasi Kosakata Bahasa Arab pada Siswa Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia RofiAoi Husnul Huluk Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil rofi@iaisyaichona. khuluk05@gmail. DOI: https://doi. org/10. 62730/qismularab. Corresponding author: ofi@iaisyaichona. Article Info Abstrak Kata kunci: kontekstualisasi kosakata, pembelajaran bahasa Arab, pendekatan kontekstual, akuisisi bahasa kedua, pendidikan nonformal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses kontekstualisasi kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab pada siswa di Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia. Fokus utama penelitian ini adalah penerapan pendekatan kontekstual dalam pengajaran kosakata serta dampaknya terhadap pemahaman dan penguasaan bahasa Arab siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan konteks nyata dalam proses pembelajaran seperti situasi kehidupan sehari-hari, aktivitas ibadah, dan interaksi sosial secara signifikan membantu siswa dalam memahami makna kosakata serta meningkatkan keterampilan berbahasa Arab mereka. Pendekatan ini juga mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dan memungkinkan mereka mengaitkan kosakata yang dipelajari dengan pengalaman konkret. Temuan penelitian ini diperkuat oleh teori Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. serta teori Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language Acquisitio. yang menekankan pentingnya kebermaknaan materi dan keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penerapan pendekatan kontekstual sebagai strategi yang efektif dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab, khususnya di lingkungan pendidikan nonformal seperti sanggar bimbingan. Keywords: Arabic language learning. Abstract This study aims to examine the process of vocabulary contextualization in Arabic language learning among students at Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia. The primary focus of the study is the implementation of a contextual approach in Received 24 October 2025. Received in revised form 29 October 2025 year. Accepted 10 November 2025 Available online 2 December 2025 / A 2023 The Authors. Published by Jurnal Qismul Arab: Journal of Arabic Education. This is an open access article under the CC BY license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. Qismul Arab: Journal of Arabic Education contextual approach, second language acquisition, non-formal vocabulary instruction and its impact on studentsAo comprehension and mastery of the Arabic language. The research employed a descriptive qualitative method with a field study approach. Data were collected through observation, interviews, and The findings indicate that the use of real-life contexts in the learning process such as everyday situations, religious activities, and social interactions significantly assists students in understanding vocabulary meanings and enhances their Arabic language skills. This approach also encourages active student engagement in learning and enables learners to relate the acquired vocabulary to their concrete These findings are supported by the theory of Contextual Teaching and Learning (CTL) and the theory of Second Language Acquisition (SLA), both of which emphasize the importance of meaningful input and active learner involvement in language learning. Therefore, this study recommends the application of a contextual approach as an effective strategy for teaching Arabic vocabulary, particularly in nonformal educational settings such as learning centers. Pendahuluan Keefektifan dalam pembelajaran bahasa sangat berperan penting terhadap pengetahuan yang diperoleh oleh Pengajaran bahasa tidak semata-mata bertujuan untuk melatih kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara tepat, melainkan juga memiliki tujuan khusus dalam membentuk pola pikir siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan metode pengajaran bahasa yang efektif dan memadai guna mencapai tujuan tersebut. Terciptanya pola pikir yang baik serta penguasaan secara maksimal adalah ketika seseorang dapat mengaplikasikan pengetahuan keterampilannya tersebut dengan bentuk aktivitas atau kegiatan (Widi Astuti, 2. Proses pembentukan pengalaman belajar yang baik adalah pengintegrasian pengetahuan berupa konsep dan teori yang diperoleh dengan aktivitas di kehidupan nyata. Konsep tersebut juga relevan dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, di mana pengalaman belajar yang efektif menurut integrasi antara pengetahuan teoritis, seperti kaidah dan tata bahasa, degan penerapan nyata khususnya dalam penguasaan dan penggunaan kosakata dalam berbagai situasi komunikatif. Dalam bahasa Arab, kosakata merupakan salah satu aspek penting untuk dikuasai dan menjadi syarat utama agar mampu memahami dan menggunakan bahasa Arab secara baik (Rahma & Tohe, 2. Oleh karena itu, penguasaan kosakata berperan sebagai tuntutan sekaligus prasyarat mendasar dalam mempelajari dan menguasai bahasa Arab. Masalah dalam pembelajaran kosakata adalah apakah siswa belajar melafalkan huruf-hurufnya saja atau memahami maknanya secara mandiri atau mengetahui bagaimana cara memperolehnya atau mendeskripsikannya dalam struktur bahasa yang benar. Kriteria kompetensi dalam pengajaran kosakata adalah bahwa siswa harus mampu melakukan semua hal tersebut disamping hal lain yang sama pentingnya. Maka perlu adanya proses pembendaharaan kosakata yang efektif dan memadai dalam setiap materi yang diajarkan supaya dapat menambah khasanah penguasaan kosakata dalam berbahasa. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa penguasaan kosakata perlu dikembangkan secara efektif dengan penguatan kontekstual siswa. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah, bahasa Arab memiliki peran penting dalam mendukung pemahaman materi ajaran Islam lainnya, seperti Al-QurAoan Hadits. Akidah Akhlak. Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (Kemenag. Hal tersebut karena dalam pengajarannya terdapat kompetensi dasar untuk memahami dan menguasai kosakata (Irfan, 2. Dalam dokumen KMA 183 Tahun 2019 tersebut juga dijelaskan bahwa pengajaran bahasa Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ M. RofiAoI. Husnul Huluk Arab tidak hanya fokus pada tataran aspek linguistik saja, tetapi juga sebagai media untuk memahami dan menguasai kosakata yang esensial dalam mempelajari ajaran Islam secara mendalam dan kontekstual. Bahasa Arab juga salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan pada Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga perguruan tinggi (Karim, 2. Dalam praktiknya, untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna, guru memiliki peran besar dalam proses kegiatan belajar mengajar. Peran ini tidak hanya mencakup pemahaman terhadap karakteristik materi yang diajarkan, tetapi juga pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, peneliti mencoba menerapkan strategi pembelajaran kontekstual sebagai upaya untuk membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap bahasa Arab, khususnya dalam menguasai kosakata. Strategi pembelajaran kontekstual atau sering disebut dengan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menentukan hubungan antar materi yang dipelajari dengan realita kehidupan. Strategi ini memiliki tujuan untuk memotivasi siswa agar dapat memahami makna materi ajar dan mengaitkannya ke dalam konteks kehidupan seharihari (Nababan, 2. Penggunaan strategi pembelajaran kontekstual menjadi solusi untuk mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan lingkungan nyata siswa. Hal ini disebabkan oleh konstruktivisme yang menjadi landasan filosofis CTL yaitu belajar yang menekankan agar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi membangun atau mengkonstruksikan pengetahuan dan keterampilan baru melalui fakta-fakta yang dialami oleh siswa dalam Sedangkan inti dari pembelajaran CTL adalah inquiry . Jadi, pembelajaran harus dikemas dalam format siswa menemukan sendiri (Fahmi, 2. Strategi pembelajaran kosakata . berbasis kontekstual melibatkan materi dengan pengalaman, situasi atau lingkungan siswa. Tujuan strategi berbasis kontekstual ini adalah untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami arti kata secara teoritis, tetapi juga dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Strategi ini membantu siswa mengingat dan menggunakan kosakata dalam konteks kehidupan sehari-hari, seperti teks atau Selain itu, pembelajaran menjadi lebih menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Sanggar Bimbingan Kubu Gajah yang terletak di Lot 182. Jalan Batu Bata Kampung Sungai Plong. Sungai Buloh. Selangor. Malaysia merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal yang juga memberikan pelajaran bahasa Arab kepada siswa-siswi didikannya. Sanggar Bimbingan Kubu Gajah dikelola oleh Ibu Ida Mokhtar dan Ibu Sinah senantiasa turut serta membantu anak-anak Indonesia di Malaysia dengan memberikan pendidikan nonformal yang baik. Melalui pendekatan holistik yang digunakan. Sanggar ini memiliki visi untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya pendidikan dan meningkatkan kemampuan mereka dalam berbagai aspek Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia, ditemukan bahwa pembelajaran bahasa Arab di tempat tersebut masih kurang optimal. Hal ini disebabkan oleh minimnya keterlibatan guru dalam proses pembelajaran serta rendahnya minat siswa terhadap bahasa Arab. Oleh karena itu, untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran diperlukan pendekatan yang lebih terstruktur dan inovatif guna mendukung peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Arab di sanggar bimbingan tersebut. Terdapat beberapa temuan penting yang akan menjadi pembahasan dalam penelitian ini. Pertama, sebagian besar siswa tidak memiliki pemahaman dasar tentang bahasa Arab, baik dari segi kosakata maupun struktur kalimat. Kedua, banyak siswa tampak kurang tertarik untuk belajar bahasa Arab yang kemungkinan disebabkan kurangnya pemahaman dan manfaatnya. Ketiga, minimnya ketersediaan bahan bacaan seperti buku bahasa Arab, materi Qismul Arab: Journal of Arabic Education pembelajaran, dan buku-buku pendukung lainnya. Keempat, dalam berkomunikasi, siswa lebih cenderung tidak berbahasa Arab. Kelima, minimnya kesadaran pentingnya menguasai bahasa Arab terutama dalam konteks budaya dan agama. Melihat fenomena yang ada dengan problema pembelajaran yang kurang mengacu pada keefektifan pemahaman kosakata . siswa, peneliti berusaha untuk ikut serta dalam pemecahan masalah. Dilibatkannya penerapan sebuah inovasi pelaksanaan pembelajaran dengan mengaitkan model atau strategi yang tepat dengan materi serta karakteristik siswa, diharapkan mampu meningkatkan pengusaan mufradat yang selama ini menjadi kendala. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penelitian dengan menggunakan model pembelajaran bahasa Arab berbasis kontekstual diharapkan dapat bermanfaat. Dengan menggunakan model ini, peneliti dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman kosakata . bahasa Arab, sehingga mereka dapat mencapai level penguasaan materi yang lebih baik dan berkualitas. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam pengalaman pembelajaran kosakata bahasa Arab secara kontekstual dengan menekankan pada makna dan pemahaman peserta didik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dan fenomenologi, karena peneliti berupaya memahami secara komprehensif praktik kontekstualisasi kosakata bahasa Arab yang diterapkan di Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia sebagai satuan kasus yang diteliti secara intensif dan mendalam. Subjek penelitian ditentukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan keterlibatan dan pengalaman langsung dalam pembelajaran bahasa Arab. Informan penelitian terdiri atas 15 siswa Sanggar Bimbingan Kubu Gajah yang berusia antara 10Ae15 tahun, 2 guru bahasa Arab yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, serta 1 pengelola sanggar yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan pengelolaan program pembelajaran bahasa Arab. Pemilihan informan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka mampu memberikan informasi yang relevan dan mendalam sesuai dengan fokus Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, observasi partisipatif, yaitu peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran bahasa Arab untuk mengamati proses pembelajaran kosakata secara kontekstual, interaksi antara guru dan siswa, serta penggunaan media dan lingkungan belajar. Kedua, wawancara mendalam yang dilakukan secara semi-terstruktur kepada siswa, guru, dan pengelola Sanggar Bimbingan Kubu Gajah Malaysia untuk menggali secara lebih mendalam pengalaman, strategi, serta pemahaman mereka terhadap pembelajaran kosakata bahasa Arab secara kontekstual. Ketiga, dokumentasi, yaitu pengumpulan berbagai dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Arab, seperti modul dan bahan ajar, media pembelajaran, sarana dan prasarana pendukung, foto kegiatan pembelajaran, serta bahan referensi lain yang relevan. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teknik, dengan membandingkan data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta dari berbagai informan yang berbeda. Selain itu, peneliti juga melakukan member check dengan mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada informan guna memastikan kesesuaian dan keakuratan data yang diperoleh. Penelitian ini juga memperhatikan etika penelitian, antara lain dengan memperoleh izin resmi dari pihak pengelola sanggar, meminta Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ M. RofiAoI. Husnul Huluk persetujuan kepada informan sebelum pengumpulan data, serta menjaga kerahasiaan identitas seluruh subjek Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang dilakukan secara berulang dan berkesinambungan. Tahap pertama adalah reduksi data, yaitu proses menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan mengelompokkan data berdasarkan tema-tema yang relevan dengan pembelajaran kosakata bahasa Arab secara kontekstual. Tahap kedua adalah penyajian data, yaitu menyusun data yang telah direduksi ke dalam bentuk teks naratif deskriptif sehingga memudahkan peneliti dalam memahami pola dan makna dari fenomena yang diteliti. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu peneliti merumuskan kesimpulan berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan secara terus-menerus hingga diperoleh temuan penelitian yang valid, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil dan Pembahasan Implementasi pembelajaran kontekstualisasi kosakata bahasa arab terhadap siswa Sanggar Bimbingan Kubu Gajah Malaysia Penggunaan metode pembelajaran kontekstual di Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia, merupakan salah satu pendekatan pendidikan modern yang bertujuan mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan seharihari dan pengalaman nyata siswa. Pada bagian ini, peneliti menjelaskan secara sistematis proses penerapan pembelajaran kosakata bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Pertama, guru melakukan analisis kebutuhan dengan lingkungan siswa. Pada tahap awal ini seorang guru melakukan observasi terhadap latar belakang sosial, budaya dan bahasa siswa, kemudian melakukan identifikasi kosakata bahasa Arab yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Berikut contoh klasifikasi kosakata dalam kehidupan sehari-hari yang digunakan guru di Sanggar Bimbingan Kubu Gajah Malaysia. Tabel 1: Klasifikasi Kosakata Bahasa Arab Klasifikasi Contoh Kosakata UAaOeA UAaI aeA ACA U A eOA A UA a AaI aeA UAa a eOCaA Rumah Masjid Pasar Sekolah Taman UAIA UA eA UAIA Ayah Ibu Saudara (L. Saudara (P. Paman Kegiatan a U AOaeNA UAOaeA UAOa e aA UAOa aaOacA UAOa eC aA Pergi Makan Minum Berwudhu Membaca Peralatan UAaEaA UACaEaIA UAEe aOA UAa aC eOaA A a UA a AIa eIA Buku Pena Kursi Tas Penghapus Makanan & UAeA AEA U AaE eA UAaIA UAa aEOeA UAaOA Minuman Roti Kue Air Susu Tes Tempat Keluarga Kedua, guru membuat perencanaan pembelajaran. Pada tahap ini, guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan pendekatan 7 komponen Kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. yakni konstruktivisme . embangun pengetahuan siswa dari pengalama. , inquiry . iswa mencari makna sendir. , bertanya, diskusi kelompok, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik. Qismul Arab: Journal of Arabic Education Ketiga, kegiatan belajar kontekstual. Guru melakukan pengajaran kosakata bahasa arab dengan menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan kontekstual seperti role-play . ermain pera. yakni siswa bisa diajak bermain peran sebagai pedagang dan pembeli di pasar menggunakan bahasa arab, atau dengan metode story telling yakni guru menceritakan kisah pendek yang berisi kosakata target, atau dengan metode kunjungan lapangan ringan yakni guru mengajak siswa belajar kosakata di masjid, madrasah, taman atau tempat umum di lingkungan Keempat, penilaian autentik dan refleksi. Guru meminta siswa menyusun dialog pendek menggunakan kosakata bahasa arab yang telah dipelajari dan menuliskan jurnal sederhana berbahasa arab tentang aktivitas Kelima, evaluasi. Pada tahap terakhir ini, guru melakukan evaluasi dan penilaian serta mencatat perkembangan tiap siswa dan memberikan umpan balik secara personal baik barupa lisan atau tulisan. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi pembelajaran kontekstualisasi kosakata bahasa arab terhadap siswa Sanggar Bimbingan Kubu Gajah Malaysia Keberhasilan sebuah metode atau pendekatan pembelajaran dalam pendidikan tak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Begitu juga pelaksanaan pembelajaran kontekstualisasi kosakata bahasa Arab siswa Sanggar Bimbingan Kubu Gajah Malaysia yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik yang peneliti rangkum dalam tabel berikut ini. Tabel 2: Faktor Internal dan Eksternal Faktor Internal . Faktor Eksternal . Kemampuan dasar siswa Dukungan keluarga dan lingkungan Kualitas guru dan metodologi Budaya dan konteks lokal Ketersediaan media dan sumber belajar Kebijakan dan kurikulum Waktu dan jadwal belajar Kondisi dan sosial ekonomi Faktor internal meliputi kemampuan dasar siswa yang dipengaruhi oleh tingkat pemahaman bahasa Arab, perbedaan latar belakang pendidikan, serta minat dan motivasi belajar. Kualitas guru dan metode pembelajaran dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan CTL secara kreatif dan menyesuaikan materi dengan latar belakang siswa. Ketersediaan media dan sumber belajar masih terbatas, seperti kurangnya kartu kosakata, video kontekstual, dan buku ajar berbasis lokal. Selain itu, waktu dan jadwal belajar siswa sering terkendala karena jadwal yang padat dan tidak konsisten. Sedangkan dalam Faktor eksternal mencakup dukungan keluarga dan lingkungan yang sangat dibutuhkan untuk mendorong penggunaan kosakata bahasa Arab di sekolah dan di rumah. Faktor budaya dan konteks lokal dipengaruhi oleh kesadaran siswa, guru, dan orang tua terhadap pentingnya bahasa Arab serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam ibadah. Selain itu, kebijakan dan kurikulum di sanggar bimbingan belum sepenuhnya tersosialisasi kepada guru dan orang tua, serta pelatihan guru dan dukungan pemerintah bagi sekolah nonformal masih terbatas. Faktor kondisi sosial ekonomi juga menjadi kendala bagi sekolah dan keluarga dalam menyediakan sarana pendukung pembelajaran. Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ M. RofiAoI. Husnul Huluk Pembahasan Pembahasan dalam penelitian ini berangkat dari landasan teoritis yang relevan untuk mengkaji proses pembelajaran kosakata Arab secara kontekstual di lingkungan non-formal, khususnya di Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia. Dalam konteks ini, dua teori utama dijadikan acuan untuk menganalisis data dan temuan lapangan, yaitu Teori Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. dan Teori Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language Acquisitio. Kedua teori ini dipilih karena mampu menjelaskan secara komprehensif bagaimana siswa membangun pemahaman terhadap kosakata melalui pengalaman belajar yang bermakna dan berhubungan langsung dengan konteks kehidupan mereka. Melalui pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya berfokus pada hafalan kosakata, tetapi juga pada proses internalisasi makna yang terjadi secara alami dalam interaksi sosial dan situasi nyata. Sementara itu, teori pemerolehan bahasa kedua memberikan kerangka untuk memahami bagaimana siswa yang bukan penutur asli Arab dapat mengembangkan kompetensi leksikal mereka melalui proses pembelajaran yang bersifat bertahap dan kontekstual. Teori Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan pendekatan pembelajaran yang penting diterapkan pada siswa Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah karena menghubungkan materi dalam kehidupan nyata, meningkatkan motivasi, pemahaman, dan hasil belajar (Rasyidah et al. , 2. CTL momotivasi anak didik agar lebih aktif melalui diskusi dan proyek berbasis masalah, serta mengembangkan ketrampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan penerapan pengetahuan dalam konteks sosial (Nanda Choirun NisaAo. Pembelajaran dengan teori CTL akan lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri . earning to d. , siswa tidak sekedar pendengar pasif (Rofii & Mabrukah, 2. Teori CTL ini digunakan karena dapat menjadikan pembelajaran lebih holistik dan aplikatif dengan mengkontekstualisasikan kosakata bahasa Arab siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan daya ingat dan penggunaan kosa kata secara bermakna. Karakteristik pengajaran dan pembelajaran dari teori kontektual antara lain: . Making meaningfull connection yakni siswa memposisikan diri sebagai orang yang mengembangkan minat individu, orang yang dapat bekerja secara mandiri, dan orang yang dapat belajar saat mereka belajar. Doing significan work yakni siswa mengaitkan pelajaran sekolah ke dalam kehidupan nyata sebagai pembelajar. Self regulated learning berarti siswa terlibat dalam kegiatan dengan tujuan yang melibatkan menentukan keputusan mereka, dan ada konsekuensi nyata. Collaboration Guru dan siswa secara aktif dalam kelompok. Dalam hal ini, guru membantu siswa memahami, mempengaruhi, dan berkomunikasi satu sama lain. Critical and creative thinking yakni siswa dapat berpikir ke level yang lebih luas cakupannya dalam menganalisis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Nurturing the individual yang berarti bahwa siswa mempertahankan pemeliharaan pribadi dengan mengetahui harapan, motivasi, dan bantuan yang tinggi meskipun masih membutuhkan bantuan guru atau orang tua. Reaching highest standard yakni siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi, maka guru harus mengidentifikasi tujuan dan memotivasi agar tujuannya tercapai. Adapun Teori Second Language Acquisition merupakan teori yang digagas oleh Stephen D. Krashen. Menurutnya, pemrolehan bahasa mengacu pada kemampuan linguistik yang telah diinternalisasikan secara alami atau tanpa disadari dan memusatkan pada bentuk-bentuk linguistik . ata-kat. Sedangkan pembelajaran bahasa dilakukan dengan sadar dan merupakan hasil situasi belajar formal (Krashen, 1. Akuisisi bahasa . anguage acquisitio. adalah proses belajar bahasa, dan karena anak -anak dilakukan ketika mengalami bahasa ibu, pembelajaran bahasa . anguage learnin. diprogram dan konteks akuisisi bahasa secara alami dipertahankan saat Qismul Arab: Journal of Arabic Education merujuk kondisi formal. (Kurniasih & Fridayanti, 2. Dengan kata lain. Siswa juga dapat memahami wacana yang mencakup konteks, pengetahuan tentang kehidupan mereka, dan tata bahasa yang tidak diurutkan secara alami untuk lingkungan mereka (Ungu & Asyatibi, 2. Akuisisi . bahasa kedua, khususnya bahasa Arab, melibatkan proses selain akuisisi bahasa Proses ini melibatkan interaksi antara faktor internal yang meliputi motivasi, usia, latar belakang bahasa asli, dan strategi pembelajaran individu. Faktor eksternal termasuk kualitas pelajaran, lingkungan belajar, dan interaksi sosial. Menurut Ibrahim Hasan Al-Rababah seseorang bisa memperoleh bahasa kedua tentu berbeda denngan memperoleh bahasa ibu dalam beberapa aspek penting (Al-Rababah, 2. Hal ini sebagaimana peneliti rangkum dalam sebuah tabel berikut ini: Tabel 3: Perbedaan Pemerolehan Bahasa Ibu & Bahasa Kedua Perbedaan Pemerolehan Bahasa Ibu Pemerolehan Bahasa Kedua Seorang anak sejak lahir memiliki potensi Bahasa kedua yang dilestarikan dianggap sebagai alami untuk berbahasa, yang berkembang pengalaman berbahasa yang dapat memberikan melalui lingkungan dan pengalaman. dampak positif maupun negatif. Seorang anak itu tahu bahasa ibu secara Bahasa kedua ini dilestarikan oleh materi pendidikan alami, terus menerus dan bertahap. yang ditemukan. Anak-anak menghabiskan setidaknya 10 jam Waktu penggunaan bahasa kedua umumnya kurang dari satu tahun, kecuali jika siswa hidup di lingkungan mempelajari bahasa ibu. bahasa tersebut sejak kecil. Bahasa yang diucapkan seorang anak telah Menerima bahasa lisan setelah membaca dan menulis. selesai dalam beberapa tahun terakhir sebelum ia berlatih membaca dan menulis. Seorang anak membutuhkan bahasa asli Bahasa kedua bergantung pada kebutuhan anak dan untuk menjalani umur. penerimaan bahasa tersebut oleh penutur asli. Anak akan sukses total dalam bahasa ibu. Kesempatan mengajar, mendengar, dan memakai bahasa berbeda, begitu juga keberhasilan belajar bahasa kedua. Kesimpulan Pembelajaran kosakata bahasa Arab secara kontekstual di Sanggar Bimbingan Kubu Gajah. Malaysia, efektif untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan berbahasa siswa. Dengan mengaitkan kosakata dengan kehidupan sehari-hari, seperti di rumah, sekolah, atau tempat ibadah, siswa lebih mudah memahami arti dan penggunaannya serta lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa Arab. Keberhasilan metode ini dipengaruhi oleh faktor internal, seperti kesiapan dan kemampuan awal siswa, kreativitas guru dalam merancang kegiatan kontekstual, dan ketersediaan media pembelajaran. Waktu belajar yang terbatas atau jadwal yang tidak konsisten bisa menjadi hambatan, sehingga guru perlu membuat kegiatan yang relevan, efektif, dan sesuai dengan lingkungan belajar. Faktor eksternal, seperti dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan fasilitas sanggar, juga penting. Lingkungan yang mendorong penggunaan bahasa Arab, terutama dalam Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ M. RofiAoI. Husnul Huluk konteks keagamaan dan budaya lokal, akan memperkuat hasil pembelajaran. Kondisi sosial ekonomi siswa juga memengaruhi akses mereka ke bahan ajar atau kegiatan tambahan. Oleh karena itu, penerapan pembelajaran kontekstual membutuhkan kerja sama antara guru, siswa, keluarga, dan pengelola sanggar agar berjalan optimal dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA