JURNAL BASICEDU Volume 7 Nomor 5 Tahun 2023 Halaman 3347 - 3356 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Syofan Syofian1A. Usman Radiana2. Fazarudin3. Rani Nuryani4 Universitas Tanjungpura Pontianak. Indonesia1,2,3. Sekolah Dasar Negeri 09 Sandai Ketapang. Indonesia4 E-mail: syofansyofian2023@gmail. com1, radianausman@gmail. com2, fazarudin2020@gmail. raninuryani2023@gmail. Abstrak Penelitian ini didasari dari latar belakang Supervisi Kepala Sekolah yang terkait dengan pelaksanaan supervisi sudah dilaksanakan tetapi belum maksimal. Kepala sekolah belum sepenuhnya melakukan perannya seperti mendorong, memotivasi, dan melatih kinerja guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan supervisi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran di SMP Negeri 2 Sandai Kabupaten Ketapang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi, selanjutnya data dianalisis data kontekstual meliputi tiga prosedur yaitu: . penyajian data. penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan . untuk mengetahui permasalahan kebutuhan siswa, kepala sekolah senantiasa memberi arahan kepada setiap guru mata Karena guru mata pelajaran merupakan orang yang lebih mengetahui perkembangan siswa melalui pertemuan dalam kegiatan belajar mengajar. kegiatan supervisi Kepala Sekolah yang terkait dengan proses pembelajaran, khususnya dalam pemilihan strategi dan metode serta penerapan media pembelajaran, yaitu observasi kelas, yang dilakukan setiap bulan. Kepala Sekolah sebagai supervisor, menganjurkan guru untuk mempelajari lebih dalam tentang KKM dalam KTSP dalam evaluasi pembelajaran, di antaranya adalah cara melaksanakan suatu evaluasi, penafsiran hasil evaluasi, dan laporan hasil evaluasi. Maka dapat disimpulkan bahwa plihak seklolah lmemberikan straltegi atau alternatlif dengaln membelrikan pelatlihan, pendelkatan, pengalwasan, komunikalsi, koordinalsi kepalda para gurlu yang mengallami kesuliltan dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: Mutu. Pembelajaran. Supervisi. Abstract This research is based on the background of Principal Supervision which is related to the implementation of supervision which has been implemented but has not been optimal. The principal has not fully carried out his role, such as encouraging, motivating and training teacher performance. The aim of this research is to find out how the principal's supervision is implemented in improving the quality of learning at SMP Negeri 2 Sandai. Ketapang Regency. The research method used is a qualitative method with a descriptive research Data collection techniques through interviews, observation, documentation, then contextual data analysis includes three procedures, namely: . data presentation. drawing conclusions and verification. The research results show that. To find out the problems of student needs, the principal always gives direction to each subject teacher. Because subject teachers are people who know more about student development through meetings in teaching and learning activities. the Principal's supervision activities related to the learning process, especially in the selection of strategies and methods as well as the application of learning media, namely classroom observations, which are carried out every month. The principal as supervisor, encourages teachers to learn more deeply about KKM in KTSP in learning evaluation, including how to carry out an evaluation, interpreting evaluation results, and reporting evaluation results. So it can be concluded that the school authorities provide strategies or alternatives by providing training, approach, supervision, communication and coordination to teachers who experience difficulties in the learning process. Keywords: Quality. Learning. Supervision. Copyright . 2023 Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani ACorresponding author : Email : syofansyofian2023@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. Salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru. Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif . atang, duduk, nonton, berlatih. , dan lup. Guru memberikan konsep, sementara siswa menerima bahan jadi. Ada hal yang menyebabkan siswa tidak menikmati . untuk belajar, yaitu kebanyakan siswa tidak siap terlebih dahulu dengan . membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong (Fazarudin & Indrasari, 2. Lebih parah lagi, siswa tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya nanti. Supervisi pendidikan didefinisikan sebagai proses pemberian layanan bantuan profesional kepada guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas pengelolaan proses pembelajaran secara efektif dan efisien (Bafadal, 2. Dengan adanya pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah diharapkan memberi dampak terhadap terbentuknya sikap professional guru. Sikap profesional guru merupakan hal yang amat penting dalam memelihara dan meningkatkan profesionalitas guru, karena selalu berpengaruh pada perilaku dan aktivitas keseharian guru. Perilaku profesional akan lebih diwujudkan dalam diri guru apabila institusi tempat ia bekerja memberi perhatian lebih banyak pada pembinan, pembentukan, dan pengembangan sikap profesional (Pidarta, 1. Supervisi merupakan salah satu fungsi kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru dalam melaksanakan pengajaran. Sehubungan dengan pentingnya aktifitas supervisi sekoalah yang berkaitan dengan peningkatan kualitas guru pada khususnya dan peningkatan mutu pendidikan pada Menurut Suhardan (Suhardan, 2. Supervisi merupakan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan teknis edukatif di sekolah, bukan sekedar pengawasan terhadap fisik material. Supervisi merupakan pengawasan terhadap kegiatan akademik yang berupa proses belajar mengajar, pengawasan terhadap guru dalam mengajar, pengawasan terhadap murid yang belajar dan pengawasan terhadap situasi yang Berdasarkan pengamatan penulis di SMP Negeri 2 Sandai, terdapat beberapa kendala pada pembelajaran selama ini antara lain: . Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep. Siswa kurang aktif/siswa pasif dalam proses pembelajaran. Siswa belum terbiasa untuk bekerja sama dengan temannya dalam belajar. Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Hasil nilai ulangan / hasil belajar siswa pada pembelajaran rendah. KKM tidak tercapai. Pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran. Sebagai pendidik, penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung mengedepankan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru untuk menerapkan modelmodel pembelajaran melalui kegiatan supervisi kelas di SMP Negeri 2 Sandai dengan menyusun berbagai Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. perangkat pembelajaran yang dibutuhkan seperti: RPP, alat peraga, teknik pengumpulan data, dan instrumen yang dibutuhkan untuk membantu guru dalam mengelola kelas dan mengevaluasi pembelajaran yang Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut AuApakah penerapan model-model pembelajaran melalui kegiatan supervisi kelas dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa SMP Negeri 2 Sandai Tahun Pelajaran 2022/2023. Ay Secara operasional rumusan masalah di atas dapat dijabarkan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut AuApakah penerapan model-model pembelajaran melalui kegiatan supervisi kelas dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMP Negeri 2 Sandai Tahun Pelajaran 2022/2023? Sehingga berdasarkan penjelasan di atas penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMP Negeri 2 Sandai dengan penerapan model-model pembelajaran melalui kegiatan supervisi kelas Tahun Pelajaran 2022/2023. METODE Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilakukan di SMP Negeri 2 Sandai Tahun Pelajaran 2022/2023. Waktu pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini pada semester Ganjil, dimulai dari bulan Juli sampai dengan Oktober 2022. Subjek dalam penelitian ini adalah guru pada SMP Negeri 2 Sandai Tahun Pelajaran 2022/2023 yang berjumlah lima belas orang, terdiri dari 3 orang guru laki-laki dan 12 orang guru Penelitian ini tergolong penelitian tindakan sekolah, dengan empat langkah pokok yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan . , dan refleksi, dengan melibatkan sembilan orang guru SMP Negeri 2 Sandai. Penelitian dilakukan tahapan secara berkelanjutan selama 4 bulan. Indikator kinerja yang ditetapkan adalah meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model-model pembelajaran melalui kegiatan supervisi kelas di SMP Negeri 2 Sandai. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru SMP Negeri 2 Sandai dalam menerapkan model-model pembelajaran, interaksi siswa denganguru dalam proses belajar mengajar, interaksi dengan siswa dengan siswa dalam kerja sama kelompok, dan aktivitas siswa dalam diskusi kelompok. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi berupa hasil karya penyusunan Kurikulum 2013, wawancara dan instrumen analisis penilaian. Perencanaan Tindakan, berupa. Pemilihan topik. Melakukan review silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selanjutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Merencanakan penerapan pembelajaran. Menentukan indikator yang akan dijadikan acuan. Mempersiapkan kelompok mata pelajaran. Mempersiapkan media pembelajaran. Membuat format evaluasi. Membuat format . Membuat angket respon guru dan siswa. Pelaksanaan Tindakan Menerapkan tindakan sesuai dengan rencana, dengan langkah-langkah. Setiap guru yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara guru lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik. Guru yang ditunjuk menggunakan masukanmasukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran. Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan kelas untuk mendapatkan umpan balik. Pengamatan . , berupa. Observer melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar . Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi. Pada tahap ini seorang guru melakukan implementasi rencana pembelajaran yang telah disusun, guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan. Selain itu dilakukan pemotretan yang meng-close up kejadian-kejadian khusus selama pelaksanaan pembelajaran. Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila. Peningkatan nilai rata-rata siswa kelas VII. Vi. IX. Peningkatan nilai rata-rata 6,5. Tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dinilai berhasil apabila masing-masing aktivitas yang menunjang keberhasilan belajar persentasenya di atas 70 %. Keterlaksanaan langkah-langkah dalam proses belajar mengajar Ou 80 %. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Awal Dari hasil wawancara terhadap sembilan orang guru, peneliti memperoleh informasi bahwa semua guru . ima belas oran. belum tahu kerangka penyusunan RPP dengan menerapkan model-model pembelajaran, hanya seorang yang memiliki dokumen standar proses . atu bua. , hanya 1 orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP yang menerapkan model-model pembelajaran didalamnya, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dengan menerapkan model-model pembelajaran dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP yang menerapkan model-model pembelajaran secara Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap sembilan RPP yang dibuat guru . husus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan subsubkomponen RPP penerapan model pembelajaran tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar . edoman penskoran dan kunci jawaba. Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis. Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus. Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran dari siklus ke siklus. Siklus I (Pertam. Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan, dan . refleksi seperti berikut ini. Perencanaan (Plannin. Perencanaan yang terdiri dari. Membuat lembar wawancara. Membuat format/instrumen penilaian RPP penerapan model-model pembelajaran. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP penerapan modelmodelpembelajaran siklus I dan II. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP penerapan modelmodelpembelajaran dari siklus ke siklus. Pelaksanaan (Actin. Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP penerapan modelmodel pembelajaran belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya komponen RPP penerapan model-model pembelajaran yang belum dibuat oleh guru. Sebelas komponen RPP penerapan model-model pembelajaran yakni. identitas mata pelajaran. kompetensi dasar. indikator pencapaian kompetensi. tujuan pembelajaran. materi ajar. alokasi waktu. metode pembelajaran. langkah-langkah kegiatan pembelajaran. sumber belajar. penilaiaan hasil belajar . oal, pedoman penskoran, dan kunci jawaba. Pengamatan. Hasil pengamatan pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini: Pengamatan dilaksanakan Senin, 25 Juli 2022, terhadap lima belas orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP penerapan model-model pembelajaran tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut. Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen. Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedomanpenskoran, dan kunci jawaban. Sebelas orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban. Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban. Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban. Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk Siklus II (Kedu. Siklus kedua juga terdiri dari empat tahap yakni: . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan, dan . Hasil pengamatan pada siklus ke dapat dideskripsikan berikut ini: Pengamatan dilaksanakan Senin, 29 Agustus 2022, terhadap lima belas orang guru. Semuanya menyusun RPP dengan penerapan modelmodel pembelajaran, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkahlangkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai . Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya. Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih. Satu orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran. Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa. Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya. Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Negeri 2 Sandai Kabupaten Ketapang yang merupakan sekolah berstatus negeri, terdiri atas lima belas guru, dan dilaksanakan dalam siklus. Lima belas guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan penerapan modelmodel pembelajaran dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP dengan penerapan model-model pembelajaran. Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus. Komponen Identitas Mata Pelajaran Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan identitas mata pelajara. Jika dipersentasekan, 86%. Sembilan orang guru mendapat skor 3 . dan empat orang mendapat skor 4 . angat bai. Pada siklus II ke lima belas guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Semuanya mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I. Komponen Standar Kompetensi Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan standar kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan standar kompetens. Jika dipersentasekan, 80%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 . urang baik, cukup baik, dan bai. Sembilan orang guru mendapat skor 4 . angat bai. Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP penerapan model-model Delapan orang mendapat skor 3 . dan tujuh orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 93%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I. Komponen Kompetensi Inti Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. kompetensi dasa. Jika dipersentasekan, 80%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 . urang baik, cukup baik, dan bai. Delapan orang guru mendapat skor 4 . angat bai. Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP penerapan modelmodel Tujuh orang mendapat skor 3 . dan enam orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 93%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi Pada siklus pertama tiga belas orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan indikator pencapaian kompetens. Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 53%. Delapan orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 . urang baik dan cukup tujuh orang guru mendapat skor 3 . Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. tiga belas orang mendapat skor 3 . dan dua orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 73%, terjadi peningkatan 20% dari siklus I. Komponen Tujuan Pembelajaran Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan tujuan pembelajara. Jika dipersentasekan, 60%. Satu orang guru mendapat skor 1 . urang bai. , delapan orang mendapat skor 2 . ukup bai. , dan delapan orang mendapat skor 3 . Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. sepuluh orang mendapat skor 3 . dan dua orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 80%, terjadi peningkatan 20% dari siklus I. Komponen Materi Ajar Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan materi ajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan modelmodel pembelajarannya dengan materi Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 . urang baik dan sangat bai. , enam orang mendapat skor 2 . ukup bai. , dan sembilan orang mendapat skor 3 . Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP penerapan model-model sembilan orang mendapat skor 3 . dan tiga orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 80%, terjadi peningkatan 14% dari siklus I. Komponen Alokasi Waktu Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan alokasi waktu dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajaran penerapan modelmodel pembelajarannya dengan alokasi wakt. Semuanya mendapat skor 3 . Jika dipersentasekan. Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP penerapan modelmodel pembelajarannya. lima orang mendapat skor 3 . dan sepuluh orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 93%, terjadi peningkatan 18% dari siklus I. Komponen Metode Pembelajaran Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan metode pembelajara. Jika dipersentasekan, 73%. Dua orang guru mendapat skor 2 . ukup bai. , sepuluh orang mendapat skor 3 . , dan tiga orang mendapat skor 4 . angat bai. Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. orang mendapat skor 2 . ukup bai. , sembilan orang mendapat skor 3 . , dan tiga orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 86%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I. Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan modelmodel pembelajarannya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajara. Jika dipersentasekan, 53%. Dua belas orang guru mendapat skor 2 . ukup bai. , sedangkan tiga orang mendapat skor 3 . Pada siklus II ke lima belas guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. tiga orang mendapat skor 2 . ukup bai. dan dua belas orang mendapat skor 3 . Jika dipersentasekan, 73%, terjadi peningkatan 20% dari siklus I. Komponen Sumber Belajar Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan sumber belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya . elengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan sumber Jika dipersentasekan, 66%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 . ukup bai. , sedangkan delapan orang mendapat skor 3 . Pada siklus kedua, lima belas guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Lima orang mendapat skor 2 . ukup bai. dan sepuluh orang mendapat skor 3 . Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I. Penilaian Hasil Belajar Pada siklus pertama semua guru . ima belas oran. mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun sub-sub komponennya . eknik, bentuk instrumen, soa. , pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 60%. empat orang guru mendapat skor 1 . urang bai. dan tiga orang guru mendapat skor 3 . , tiga orang mendapat skor 2 . ukup bai. , dan tiga orang mendapat skor 4 . angat bai. Pada siklus ke dua lima belas guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Dua belas orang mendapat skor 3 . dan tiga orang mendapat skor 4 . angat bai. Jika dipersentasekan, 80%, terjadi peningkatan 20% dari siklus I. Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP penerapan model-model pembelajaran. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP penerapan model-model pembelajaran 63%, pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP penerapan model-model pembelajaran 84%, terjadi peningkatan 21%. Tabel Menyajikan Rekap Dua Siklus Kompetensi Guru dalam Menyusun RPP dengan Penerapan Model-Model Pembelajaran. No. Komponen dalam RPP Siklus I Siklus II Identitas Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Inti Indikator Pencapaian Kompetensi Tujuan Pembelajaran Materi Ajar Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Sumber Belajar Hasil Belajar Kepala Sekolah sangat diperlukan untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran. Kepala Sekolah dapat menyelenggarakan pertemuan kolaboratif bersama guru-guru untuk membahas perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran. metode dan media pembelajaran inovatif Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. yang dapat digunakan guru. dan menyelenggarakan pelatihan tindakan kelas (Sugiyanti. , & Narimo, 2. Selain itu guru-guru dapat melakukan diskusi untuk membahas dan memecahkan masalah bersama melalui tukar pikiran dan saling berbagi informasi. Usaha dan upaya tersebut dapat digunakan sebagai wujud dari pemecahan masalah yang dihadapi guru. Samsuadi (PEP, 2. menyatakan bahwa supervisi akademik yang dilakukan pengawas adalah usaha dalam upaya memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pembelajaran, bahan pengajaran, metode, evaluasi dan penilaian pengajaran. Kepala sekolah dalam melakukan supervisi akademik, diharapkan untuk mempertimbangkan hal-hal yang menjadi prinsip supervisi akademik yaitu mempertimbangkan hubungan konsultatif, kolegial, tidak hierarkis, melaksanakan manajemen yang demokratis, dan berpusat pada guru, serta dilakukan berdasarkan kebutuhan guru secara profesional (Rahabav, 2. Supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah kepada seorang guru adalah bagian penting dari keseluruhan proses kinerja guru yang bersangkutan, karena hasil yang diperoleh dari kegiatan pengawasan menjadi dasar bagi pengembangan guru profesional yang berkelanjutan. Pendekatan yang berarti untuk mengevaluasi supervisi akademik adalah alat yang tak ternilai bagi kepala sekolah, pengawas dan guru sendiri untuk mengatasi kebutuhan guru dalam pembelajaran dan untuk menembangkan profesionalisme (Moss, 2. Semua guru membutuhkan alat yang tepat untuk melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Para kepala sekolah harus dapat memberi guru sumber daya yang mereka butuhkan. Ini bisa menjadi tantangan karena kita saat ini hidup di era di mana pendanaan pendidikan adalah masalah yang signifikan. Namun, di era internet, ada lebih banyak alat yang tersedia untuk guru daripada sebelumnya. Guru harus diajar untuk menggunakan Internet dan teknologi lainnya sebagai sumber daya pendidikan di kelas mereka. Guru-guru hebat akan menemukan cara untuk mengatasinya masalah mereka. Namun, para kepala sekolah harus melakukan segala yang mereka bisa untuk memberikan guru sumber daya terbaik atau memberikan pengembangan profesional untuk menggunakan sumber daya yang mereka miliki secara efektif (Iskandar. Selanjutnya yang paling penting dari semuanya adalah kepala sekolah harus membangun komunikasi yang baik dengan guru. Mereka harus mendorong guru-guru mereka untuk membahas masalah atau mencari nasihat kapan saja. Mereka harus melibatkan guru mereka dalam dialog dinamis yang berkelanjutan. Dialog ini harus berkesinambungan terutama bagi para guru yang membutuhkan perbaikan (Suhayati, 2. Para kepala sekolah hendaknya membangun hubungan saling percaya dengan guru mereka. Ini penting untuk meningkatkan kualitas guru. Para kepala sekolahyang tidak memiliki hubungan semacam ini dengan guru mereka tidak akan melihat peningkatan dan pengembangan profesionalsime guru. Para kepala sekolah harus menjadi pendengar aktif yang memberikan dorongan, kritik membangun, dan saran bila perlu bagi peningkatan mutu guru, mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di sekolah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut, bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi/pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Implementasi Model Pembelajaran Melalui Supervisi Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Ae Syofan Syofian. Usman Radiana. Fazarudin. Rani Nuryani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 63% dan pada siklus II 84%. Jadi, terjadi peningkatan 21% dari siklus I. Relevlansi tugas melngajar denglan bidlang kealhlian gurlu di SMPN 2 Sandai Kabupaten Ketapang, dapat pelnulis simplulkan gluru-guru di selkolah ini mlasih adla yang menjalanlkan tugaslnya tildak sesluai atau tidlak relelvan antalra tugas mengajalr denglan bidalng keahlialnnya. Meskipun delmikian, plihak seklolah lmemberikan straltegi atau alternatlif dengaln membelrikan pelatlihan, pendelkatan, pengalwasan, komunikalsi, koordinalsi kepalda para gurlu yang mengallami kesuliltan, dukulngan diberilkan juga dallam benltuk faslilitas, meldia dan sulmber ajarl, walauplun hamblatan menyelrtai para guru yang menglalami kesullitan karlena tidak memlahami malteri pelajlaran dan halrus menlcari referlensi agar peserlta didlik tidak mendalpatkan damlpak penylerapan mlateri DAFTAR PUSTAKA