MARKA (Media Arsitektur dan Kot. : Jurnal Ilmiah Penelitian p-ISSN: 2580-8745 e-ISSN: 2685-4201 DOI: 10. 33510/marka DOI: 10. 33510/marka. Literature Review Interaksi Manusia dan Lingkungan dalam Kajian Filosofis Citation: Ratnasari. , & Basuki Dwisusanto. Interaksi Manusia dan Lingkungan dalam Kajian Filosofis. MARKA (Media Arsitektur Dan Kot. : Jurnal Ilmiah Penelitian, 7. , 195-208. https://doi. org/10. 33510/marka. Article Process Submitted: 03/11/2023 Anisza Ratnasari1,2*. Yohanes Basuki Dwisusanto2 Universitas Pradita, 2Universitas Katolik Parahyangan *anisza. ratnasari@pradita. Accepted: 30/12/2023 Published: 29/01/2024 ABSTRACT The study of human and environmental interactions focuses on the symbiotic relationship between humans and the This discussion cannot be separated from socio-cultural aspects that involve cross-disciplinary discussions, such as psychology, anthropology, sociology, social psychology, geography, ethology, and so on seek to find answers to questions about how the environment has been shaped, perceived, used and enjoyed. This study aims to explore the nature of human interaction and the environment. A qualitative method with an explanatory descriptive approach was used to find the philosophical background of human and environmental Based on the exploration, it was found that human characteristics as individuals or groups play a role in shaping their environment, there are unique mechanisms for connecting humans and the environment, and there is an influence of the environment on humans or vice versa. Keywords: human-environment interaction, environmental determinism, pro-environment behavior, biophilia, philosophy background. Office: Departement of Architecture Matana University ARA Center. Matana University Tower Jl. CBD Barat Kav. RT. Curug Sangereng. Kelapa Dua. Tangerang. Banten. Indonesia ABSTRAK Studi interaksi manusia dan lingkungan menitikberatkan pada hubungan simbiotik antara manusia dan lingkungan. Pembahasan tentang hubungan manusia dan lingkungan ini tidak terlepas dari aspek sosio budaya. Diskusi lintas disiplin ilmu, seperti. This is an open access article published under the CCAeBY-SA license. Interaksi Manusia dan Lingkungan: dalam Kajian Filosofis Anisza Ratnasari. Yohanes Basuki Dwisusanto psikologi, antropologi, sosiologi, psikologi sosial, geografi, etologi, dan sebagainya pertanyaan tentang bagaimana lingkungan telah dibentuk, bagaimana hal tersebut harus dirancang, apa pengaruh lingkungan terhadap manusia dan bagaimana mekanisme keterhubungan manusia dan lingkungan. Studi ini bertujuan untuk menggali hakikat interaksi manusia dan lingkungannya. Berangkat dari kerangka kajian interaksi manusia dan lingkungan, metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif eksplanatori dilakukan untuk menemukan landasan filosofis interaksi manusia dan lingkungan. Berdasarkan penelusuran ditemukan bahwa karakteristik manusia sebagai individu atau kelompok berperan dalam membentuk lingkungannya, terdapat mekanisme unik keterhubungan manusia dan lingkungan, serta ada pengaruh lingkungan terhadap manusia atau sebaliknya. Kata Kunci: interaksi manusia lingkungan, deterministik lingkungan, perilaku pro lingkungan, biofilia, kajian filosofis. Vol. 7 No. 2 January 2024 PENDAHULUAN Memahami interaksi manusia dan lingkungan merujuk pada bagaimana manusia memahami, merasakan, dan bertindak terhadap lingkungan mereka. Kerangka kajian utama interaksi manusia dan lingkungan mencakup karakteristik manusia dalam membentuk lingkungan, mekanisme keterhubungan manusia dan lingkungan, serta pengaruh lingkungan terhadap manusia atau sebaliknya (Haryadi. Setiawan, 2. Studi ini melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk berusaha menjawab pertanyaan kompleks mengenai bagaimana manusia dan lingkungan mempengaruhi satu sama lain. Pemahaman manusia tentang lingkungan melibatkan aspek geografis dan psikologis. Manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok sosial, mempengaruhi pembentukan lingkungan melalui norma, nilai, dan keputusan mereka. Lingkungan di sini tidak hanya mencakup aspek fisik, melainkan juga psikologis dan sosial, membentuk ruang hidup Proses kognitif dan persepsi manusia terhadap lingkungan membentuk suatu lingkungan yang dipersepsikan dan diimajinasikan, menciptakan kerangka pemahaman lingkungan yang unik bagi setiap individu. Dalam konteks hubungan manusia dan lingkungan, terdapat perdebatan antara determinisme lingkungan dan posibilisme. Determinisme lingkungan menganggap manusia sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan, sementara posibilisme mengakui bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memilih tindakan pada berbagai peluang yang ditawarkan lingkungan. Dua konsep ini membentuk pemahaman bahwa manusia bukan hanya hasil dari lingkungan, tetapi juga memiliki peran aktif dalam mempengaruhi lingkungan mereka. Biofilia hadir dengan konsep bahwa kecenderungan manusia untuk mencintai dan terhubung dengan lingkungan alami memainkan peran penting dalam perilaku pro lingkungan. Kesadaran untuk berperilaku dan bertanggungjawab terhadap lingkungan mendorong manfaat positif bagi manusia. Berangkat dari kerangka kajian interaksi manusia dan lingkungan yang didefinisikan oleh Rapoport . , metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif eksplanatori dilakukan untuk menemukan landasan filosofis karakteristik manusia sebagai individu atau kelompok berperan dalam pembentukan lingkungannya, mekanisme keterhubungan manusia dan lingkungan, dan pengaruh lingkungan terhadap manusia atau sebaliknya. Dengan memahami kompleksitas interaksi manusia dan lingkungan serta menghargai kecenderungan bawaan manusia untuk terhubung dengan lingkungan, manusia dapat menciptakan perilaku pro lingkungan sekaligus mendapatkan manfaat positif baik fisik maupun psikologis. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan eksplanatori. Studi ini menerapkan peninjauan studi pustaka . iterature revie. dengan tujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis dan menilai secara kritis dan sistematis penelitian terdahulu yang relevan. Data primer berupa artikel dari buku atau jurnal terpercaya melalui pencarian digital. Penelusuran berangkat dari kerangka kajian interaksi manusia dan lingkungan yang didefinisikan oleh Rapoport . untuk menemukan landasan filosofis karakteristik manusia dalam pembentukan lingkungan, mekanisme keterhubungan manusia dan lingkungan, dan pengaruh lingkungan terhadap manusia. Tahap yang dilakukan dalam studi ini, meliputi. pengklasifikasian topik penelitian yang relevan sesuai dengan sub bahasan, yaitu. karakteristik manusia dalam membentuk lingkungan, . mekanisme keterhubungan manusia dan lingkungan, dan . pengaruh lingkungan pada manusia atau sebaliknya. Tahap berikutnya adalah penelaahan temuan dan analisis hasil dari masing-masing sub bahasan. Tahap telaah literatur dilakukan dengan pembacaan mendalam dan memoing untuk memperoleh pemahaman komprehensif dari sisi filosofis. Pada tahap akhir dilakukan simpulan hasil dengan deskripsi mendalam masing-masing sub bahasan. Interaksi Manusia dan Lingkungan: dalam Kajian Filosofis Anisza Ratnasari. Yohanes Basuki Dwisusanto HASIL DAN PEMBAHASAN Relasi Manusia dan Ruang Hidupnya Dijelaskan oleh van Peursen . bahwa hidup manusia berlangsung ditengah arus kehidupan dan semesta. Dalam prosesnya, muncul ketegangan-ketegangan imanen . erada dalam kesadara. dan transenden . iluar kesanggupa. dimana manusia harus tunduk pada lingkungan sekitarnya bekerja namun juga mampu menilai untuk dapat mengubahnya . an Peursen, 1. Dalam menilai dan mengevaluasi lingkungannya, baik manusia sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok sosial menyesuaikan norma dan sistem nilai yang dianut. Manusia yang juga merupakan makhluk berpikir mempunyai persepsi dan keputusan dalam interaksinya dengan lingkungan. Interaksi antara manusia dan lingkungan ini tidak dapat diinterpretasikan dengan sederhana, namun cenderung dilihat sebagai mekanisme yang kompleks dan probabilistik (Haryadi. Setiawan, 2. Dengan demikian manusia sebagai suatu spesies, sebagai individu, dan sebagai anggota kelompok sosial mempengaruhi terbentuknya lingkungan. Hal tersebut memberikan rentang dan batasan tentang bagaimana lingkungan sebagai ruang hidup manusia dapat dipahami dan diinterpretasikan sesuai dengan dimensi pemikiran manusia. Van Peursen . menjelaskan bahwa dimensi-dimensi baru pemikiran manusia berkembang sejalan dengan perkembangan budaya. Tahapan ini tidak mengacu pada tingkatan, namun merupakan pandangan manusia dalam memahami lingkungan fisik dan sosialnya. Dimensi-dimensi tersebut mencakup pemikiran mitis, ontologis dan fungsional . an Peursen, 1. Dimensi mitis atau ekosentris ditandai dengan pemahaman dasar bahwa ada gaya atau kekuatan alam yang mengelilingi manusia. Pondasi berpikir manusia didasari dari sudut pandang atau persepsi bahwa kehidupan manusia terintegrasi dengan alam dan dikendalikan oleh alam. Misalnya, bencana gunung berapi dipercayai sebagai bentuk kemarahan alam atau kemarahan dewa penunggu gunung yang disebabkan oleh perbuatan buruk yang sudah dilakukan manusia. Selain itu, pondasi dibentuknya peradaban dan buah pikiran manusia pada dimensi ini didasarkan pada hal-hal yang berbau mitis dan metafisika, bukan berdasarkan nalar dan logika . an Peursen, 1. Namun demikian, hasil peradaban dari dimensi mistis ini jauh melampaui peradaban modern saat ini, seperti piramida di Mesir. Candi Borobudur, kuil Suku Aztec di Meksiko. Stonehenge di Inggris dan peninggalan lainnya. Partisipasi manusia sebagai subjek (S) dalam dimensi mitis dikelilingi oleh dunia atau obyek (O), dimana manusia tidak digambarkan bulat namun terbuka terhadap daya/kekuatan alam yang mengelilinginya. Partisipasi ini mengindikasikan bahwa manusia belum sepenuhnya merupakan subjek yang berdikari dan belum mempunyai identitas yang solid sehingga lingkungan sekitarnyapun belum dapat disebut sempurna dan utuh. Tahap kedua adalah dimensi ontologis atau antroposentris. Manusia tidak lagi hidup dalam cara berfikir mitis, mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dahulu dirasakan sebagai kepungan dan berani menguji suatu hal secara konkret. Selain ini, manusia mulai menggunakan logika sebagai pijakan berpikir. Pada tahap ini juga pemikiran manusia sebagai makhluk istimewa dan mempunyai kuasa untuk mengendalikan alam. Manusia mengambil jarak, mengamati dan mengkotak-kotakkan sekitarnya. Fungsi pemikiran ontologis adalah memetakan segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia, merasionalisasi proses alam yang terjadi disekitar manusia dan menyajikan kausalitas pengetahuan. Manusia sebagai subjek (S) tidak lagi dikelilingi oleh dunia atau obyek (O) dan berada diluarnya. Manusia digambarkan sebagai entitas yang utuh dan tidak lagi sepenuhnya terbuka terhadap daya/kekuatan alam yang mengelilinginya. Sebagai contohnya, perspektif manusia melihat bencana banjir bukan sebagai kemarahan alam melainkan akibat perilaku manusia membuang sampah disungai yang menyebabkan terjadi penyumbatan. Tahap ketiga adalah dimensi fungsional. Dimensi ini ditandai memudarnya sikap mitis dan tidak lagi mementingkan sikap ontologis, namun lebih cenderung membangun relasi baru dan kebertautan terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya . an Peursen, 1. Beberapa ciri dimensi fungsional antara lain. cara pandang berdasarkan aspek peran dan fungsi, sikap eksistensial dan manusia makin aktif mencampuri perkembangan alam dan budaya sekitarnya. Jika dalam dimensi mitis ada magi, dalam dimensi ontologis ada substansialisme, maka dalam dimensi fungsional ada proses/operasionalisasi. Dimensi fungsional menyangkut hubungan, pertautan dan Vol. 7 No. 2 January 2024 relasi, baik teori maupun praktik, perbuatan etis dan karya artistik, sektor pekerjaan dan keputusan Namun ditengah gejala yang nampak, perbuatan atau ativitas manusia dipandang menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam keseluruhan yang saling berhubungan. Dalam dimensi fungsional nampak bagaimana manusia dan lingkungan saling terhubung, berelasi dan bertautan antar satu dan lainnya. Aspek dalam dimensi fungsional yaitu. eksistensi daya/kekuatan yang dialami manusia, memberi dasar pada masa kini dan menjelaskan ilmu pengetahuan. Pemahaman ruang hidup manusia ini dapat dilakukan dengan pendekatan geografi dan Dalam studi geografi, ruang hidup dikaitkan dengan wilayah spasial individu atau masyarakat untuk tinggal, beraktivitas, berinteraksi dan berpartisipasi menjalankan peran sosialnya (Liddle dkk. , 2014 dalam Douma et al. , 2. Gagasan umum ruang hidup fisik berawal dari konsepsi relasional tentang ruang yang mendominasi geografi manusia (Jones, 2. Akibatnya, ruang hidup geografis dipandang sebagai sebuah proses yang heterogen dan merupakan produk interaksi manusia dengan lingkungannya (Jones, 2. Setiap aktivitas berlangsung dalam ruang ini bersifat unik bagi setiap individu. Hal ini menjadikan ruang hidup geografis sebagai faktor penting untuk dipertimbangkan ketika mempelajari interaksi antara manusia dan lingkungan Sedangkan dalam studi psikologis pemahaman lingkungan sebagai ruang hidup (Life space-L) yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin dalam Burnes & Cooke . mencakup aspek realitas psikologis yang dirasakan individu pada tingkat sadar atau tidak sadar yang menentukan perilaku seseorang (Behavior-B). Ruang hidup yang menjelaskan hubungan antara manusia dan lingkungan ini mencakup segala sesuatu yang ada dalam lingkungan (Environment-E) yang memengaruhi perilaku manusia. Lingkungan yang dimaksud mencakup segala sesuatu di luar manusia . erson-P) termasuk aspek fisik, psikologis, dan sosial (Burnes & Cooke, 2. Secara matematis, perilaku manusia dalam ruang hidupnya digambarkan sebagai: B = f(L) = f (P,E) yang merujuk pada perilaku manusia (B) pada waktu tertentu merupakan fungsi . dari ruang hidup (L) individu atau kelompok (P) didalam lingkungan lingkungan (E). Diluar konteks ini ada lingkungan fisik lain yang tidak secara langsung yang juga mempengaruhi perilaku manusia yang disebut sebagai foreign hull. Bagaimana manusia memahami ruang hidupnya ternyata berkaitan dengan pemahaman dan proses kognitif manusia yang selalu berevolusi. Gambar 1. Ruang hidup geografi-psikologi manusia . umber: diadaptasi dari Burnes & Cooke, 2013 dan Douma et al. , 2. Dalam konteks ini, manusia dilihat sebagai subjek yang aktif dalam menginterpretasikan, berinteraksi, dan membentuk lingkungannya. Interaksi kompleks antara manusia dan lingkungan menciptakan dinamika yang terus berubah dalam ruang hidup manusia. Oleh karena itu. Interaksi Manusia dan Lingkungan: dalam Kajian Filosofis Anisza Ratnasari. Yohanes Basuki Dwisusanto pemahaman tentang ruang hidup manusia tidak bisa dipisahkan dari pemahaman tentang perkembangan pemikiran manusia yang dinamis, interaksi kompleks, dan relasi yang terjalin antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Mekanisme Kebertautan Manusia dan Lingkungan Dijelaskan sebelumnya bahwa pemikiran dasar manusia akan berpengaruh pada proses manusia menjelajah, memaknai dan menginterpretasikan lingkungannya. Sejalan dengan pendapat tersebut. Wohlwill . menjelaskan bahwa interpretasi manusia terhadap lingkungan ini melibatkan proses kognitif yang berkaitan dengan proses mental manusia dalam mengorganisasi dan menggunakan pengetahuannya untuk memberi arti dan makna lingkungan yang digunakannya (Haryadi. Setiawan, 2. Proses kognitif ini merupakan bagian dari proses manusia mempersepsikan lingkungannya. Haryadi & Setiawan, . mendeskripsikan persepsi lingkungan . nvironment perceptio. sebagai suatu interpretasi seting dalam lingkungan. Dalam konteks studi antropologi lingkungan, isu tentang persepsi lingkungan ini mencakup aspek emic dan etic. Emic menggambarkan bagaimana individu atau kelompok di dalam suatu sistem mempersepsikan lingkungannya, sedangkan etic menggambarkan sudut pandang pengamat . mempersepsikan lingkungannya (Haryadi. Setiawan, 2. Aspek emic dan etic akan mempengaruhi pandangan subjektif individu atau kelompok secara berbeda terhadap lingkungan yang sama. Contohnya individu akan merasakan kesesakan, ruang personal, teritori dan tekanan lingkungan yang berbeda pada sebuah lingkungan yang sama. Lebih lanjut Haryadi & Setiawan . menambahkan bahwa persepsi individu terhadap lingkungannya mencakup proses kognisi, afeksi dan kognasi. Proses kognisi berkaitan dengan penerimaan, pemahaman, dan pemikiran manusia terhadap lingkungannya. Sementara proses afeksi meliputi perasaan, keinginan, emosi dan nilai lingkungan. Sedangkan, proses kognasi menjelaskan tindakan dan perlakuan individu terhadap lingkungan sebagai respon dari proses kognisi dan afeksi. Dijelaskan lebih lanjut oleh Haryadi & Setiawan . bahwa keseluruhan proses ini membentuk suatu lingkungan yang telah dipersepsikan . erceived environmen. Persepsi terhadap lingkungan ini tentu saja akan berbeda berdasarkan latar belakang budaya, nalar dan pengalaman masing-masing individu (Rapoport. Dengan demikian, perbedaan pandangan dalam mempersepsikan lingkungan tersebut akan memunculkan gambaran atau lingkungan yang diimajinasikan . maginary environmen. individu atau kelompok (Rapoport, 1. Telah dijelaskan sebelumnya, dalam mempersepsikan lingkungannya, proses kognisi Dari sisi psikologi, proses kognisi menjelaskan mekanisme bagaimana manusia mengetahui dan memahami lingkungan. Proses ini berlangsung pragmatis-fungsional. Sedangkan dari sisi antropologi lebih menekankan pada pemberian arti dan makna lingkungan (Haryadi. Setiawan, 2. dengan melibatkan dimensi kultural. Pengalaman terhadap lingkungan yang pernah dialami ini terkonstruksi pada individu membentuk suatu skemata . Rapoport . menjelaskan bahwa faktor lingkungan, organisme dan budaya mempengaruhi perilaku seseorang melalui proses kognisi. Kognisi lingkungan yang bersifat abstrak ini dapat diproyeksikan secara spasial dan membentuk peta mental atau cognitive maps manusia. Sebagai contoh, masyakarat desa adat dimungkinkan memiliki peta mental yang mirip, sebab secara kolektif masyarakat desa tersebut memiliki interaksi atau pengalaman relatif sama terhadap lingkungan Begitu juga sebaliknya, perkembangan kota memungkinkan perbedaan yang signifikan bagi warganya untuk dapat mengetahui, memahami, dan memaknai komponen kota secara kolektif. Secara keseluruhan konsep mengenai kognisi lingkungan, skemata dan peta mental ini akan membentuk sebuah pemahaman lingkungan . nvironmental learnin. Namun demikian, pemahaman terhadap lingkungan tidak sepenuhnya mengandalkan interpretasi manusia, namun juga tergantung bagaimana lingkungan memberikan stimulanstimulan untuk dipahami manusia. Reaksi manusia terhadap lingkungannya, baik suka ataupun tidak tergantung makna lingkungan yang ditangkap manusia. Rapoport . dalam Haryadi & Setiawan . menjelaskan bahwa makna lingkungan dapat ditinjau dari 3 . pendekatan, pendekatan semiotik, simbolik dan komunikasi nonverbal. Pendekatan semiotik menitikberatkan pada pertanda . , acuan dari pertanda, dan pengaruhnya terhadap perilaku. Vol. 7 No. 2 January 2024 Komponen dari semiotik mencakup sintak . ertanda dalam suatu sistem pertand. , semantik . ertanda dengan sesuatu yang mewakil. dan pragmatik . ertanda dengan perilaku manusi. Lingkungan nyatanya juga menstimuli manusia lewat unsur khusus berupa simbol-simbol yang dapat diinterpretasikan melalui latar belakang budaya manusia. Rapoport . menjelaskan bahwa ada simbol yang maknanya bisa dimengerti bersama oleh masyarakat dan simbol yang bersifat khusus . yang terbatas dipahami oleh individu atau kelompok tertentu. Disamping itu, lingkungan dapat dilihat sebagai suatu bentuk komunikasi nonverbal. Manusia dan masyarakat bertindak sesuai isyarat lingkungan dengan bahasa yang bisa dipahami. Jika lingkungan dipandang sebagai proses pengkodean informasi maka pengguna dapat dilihat sebagai Jika kode tidak dipahami maka lingkungan tidak terkomunikasi dengan baik (Rapoport, 1976. Rapoport, 1977 & Rapoport, 1. Gambar 2. Model proses persepsi dan kognisi manusia dan lingkungannya . umber: diadopsi dari Rapoport, 1976, 1977, 1990 & Haryadi. Setiawan, 2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kognisi manusia mempengaruhi cara manusia menjelajah, memahami, dan menginterpretasikan lingkungan. Proses persepsi lingkungan dapat mempengaruhi pandangan subjektif individu atau kelompok dalam terbentuknya skemata dan peta mental yang mempengaruhi pemahaman lingkungan. Namun, pemahaman manusia terhadap lingkungan juga tergantung pada stimulannya, yaitu makna lingkungan yang dapat diinterpretasikan melalui pendekatan semiotik, simbolik, dan komunikasi nonverbal manusia atau Keseluruhan, interaksi antara manusia dan lingkungan melibatkan proses kompleks interpretasi, pemahaman, dan komunikasi yang saling mempengaruhi. Interaksi Lingkungan dan Manusia Pemahaman lingkungan mencakup interaksi lingkungan dan manusia yang merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. Lingkungan tempat kita hidup dan bekerja mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku kita. Manusia yang merupakan produk evolusi organik nyatanya berhasil bertahan hidup berkat adaptasi biososial lingkungannya yang secara sadar mengubah lingkungan menyesuaikan diri mereka. Perubahan ini merupakan bukti utama berlangsungnya evolusi manusia. Sayangnya, akibat dari evolusi budaya yang kompleks, manusia sebagai produk evolusi organik memandang lingkungan sebagai sesuatu yang asing. Dikotomi antara tubuh . volusi organi. dan pikiran . volusi buday. menghasilkan hal yang menarik, namun pada dasarnya terbatas, anggapan bahwa lingkunganlah yang menentukan manusia (Esser, 1. Hubungan manusia dan lingkungan ini bersifat dua arah, dimana manusia terkena dampak lingkungan dan juga mempengaruhi lingkungan. Memahami hubungan antara manusia dan lingkungan tidak terlepas dari paradoks dan perdebatan panjang yang bahkan sudah berkembang dari periode kuno hingga modern. Dikotomi lainnya adalah dualisme determinisme dan posibilisme lingkungan. Determinisme adalah istilah yang banyak digunakan di berbagai bidang, mulai dari disiplin ilmu sains/alam hingga Interaksi Manusia dan Lingkungan: dalam Kajian Filosofis Anisza Ratnasari. Yohanes Basuki Dwisusanto sosial, seperti. filsafat, agama, matematika, fisika, geografi dan disiplin ilmu lainnya. Namun arti determinisme sendiri mengarah pada segala sesuatu yang terjadi harus terjadi sebagaimana adanya dan tidak dapat terjadi dengan cara lain (Fekadu, 2. Dari sudut pandang metafisik dan filosofis. Doyle . dalam Fekadu . menjelaskan bahwa setiap peristiwa mempunyai sebab dan bahwa segala sesuatu di alam semesta sepenuhnya bergantung dan diatur oleh hukum sebab-akibat. Teori ini menyatakan bahwa tatanan lingkungan fisik secara psikologis dapat mempengaruhi perilaku dan budaya individu atau masyarakat secara keseluruhan (Judkins et al. , 2008, dan Livingstone, 2. Determinisme lingkungan menjadi perhatian para filsuf, seperti. Hippocrates. Eratosthenes. Strabo. Aristoteles. Herodotus. Ptolemy dan Montesquieu (Fekadu, 2. dimana disebutkan bahwa iklim mempengaruhi pembangunan pemerintah dan stimulan bagi kemajuan masyarakat (Judkins et al. , 2. Dalam lingkup geografi modern istilah determinisme lingkungan secara resmi dinyatakan oleh Ratzel pada 1860-an. Ahli geografi lain yang mendukung teori ini pada awal abad ke-19 ini antara lain Humboldt. Ritter. Huntington. Spencer dan Semple. Para determinis ini menyakini bahwa perilaku manusia ditentukan oleh lingkungannya serta fenomena kebudayaan dapat dijelaskan melalui dasar kerangka acuan pada lingkungan dimana mereka tinggal (Rapoport, 1. Dijelaskan lebih lanjut oleh Judkins et al. , . dan Livingstone . bahwa inti dari determinisme lingkungan mencakup . lingkungan mengendalikan tindakan dan aktivitas manusia, . manusia sangat bergantung pada alam, . manusia hidup bergantung pada kekuatan lingkungan. sikap manusia dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh Contoh determinisme lingkungan tentang pengaruh iklim terhadap populasi manusia dan pemukiman adalah tidak adanya kota besar di Antartika karena daerah tersebut selalu tertutup salju, terlalu dingin, dan sebagian besar sinar matahari terpantul sebagai akibat kemiringan sumbu bumi dan sudut datangnya radiasi matahari. Berbeda dari kaum determinis yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya berada di bawah pengaruh alam, muncul sekelompok ahli yang mengkritik paham tersebut, dengan hipotesis bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya lepas dari pengaruh lingkungan. Fekadu . menambahkan bahwa terdapat ruang bagi usaha manusia yang mempengaruhi tindakan dan membawa dampak Paham ini disebut sebagai posibilisme lingkungan yang memandang bahwa lingkungan fisik memberikan peluang bagi berbagai kemungkinan respon manusia untuk menentukan aktivitas mereka (Anonymous, 2. Diperkuat pendapat Judkins et al. , . sementara kaum determinis mengandalkan geografi fisik, sebaliknya kaum posibilis lebih mengandalkan geografi manusia. Posibilisme juga menghilangkan kausalitas atau hubungan sebab akibat absolut dengan mempertahankan hak pilihan manusia (Fekadu, 2. Para geograf pendukung posibilisme lingkungan ini antara lain. La Blache. Fabre. Brunch. Bowman dan Sauer. Brunch menyatakan aktivitas manusia mengubah fitur organik dan anorganik lingkungan. La Blache mengutarakan bahwa lingkungan fisik menciptakan batas bagi aktivitas manusia, yang pada gilirannya bergantung pada budaya dan psikologi di mana manusia menjadi bagian didalamnya. Sementara pernyataan serupa diutarakan oleh Fabre bahwa manusia turut berkontribusi pada hal-hal yang terjadi disekitarnya, seperti kelaparan, kekeringan dan peradaban. Sedangkan Carl. Sauel dan Barrow percaya bahwa manusia bukan sepenuhnya AobudakAo alam namun rekan atau AopenasehatAo lingkungan Hipotesis ini berpendapat bahwa manusia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh lingkungan, namun tetap terjerat dalam suatu sistem dan aturan yang berlaku (Fekadu, 2. Meskipun lingkungan dapat mempengaruhi manusia, konsep posibilisme menekankan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memilih tindakan mereka dalam bentuk teknologi, sikap, kebiasaan, dan nilai. Meskipun perdebatan panjang pendukung determinisme dan posibilisme berlanjut, namun harus diakui bahwa manusia bukan hanya produk dari pengaruh lingkungan sekitarnya, namun mereka juga memiliki peran aktif dalam mempengaruhi lingkungan mereka (Livingstone, 2. Konsep ini menciptakan pemahaman bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memilih dari berbagai peluang yang ditawarkan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan mereka (Moran & BrondAzio, 2. Hal tersebut sejalan dengan La Blache bahwa manusia dan alam adalah mitra, pengaruh manusia terhadap lingkungan dan sebaliknya menciptakan hubungan integral antara komunitas manusia dan lingkungan. Vol. 7 No. 2 January 2024 Pengaruh Lingkungan terhadap Manusia Lingkungan dapat menghambat atau memfasilitasi perilaku atau bertindak sebagai katalisator perilaku melalui fungsi simbolisnya. Melalui simbol-simbol tertentu yang menunjukkan perilaku yang sesuai dengan situasi tertentu dan melalui ini terkait dengan identitas individu dan kelompok (McBride & Clancy, 1980 dan Duncan, 1986 dalam Rapoport, 1. Dampak lingkungan yang dirasakan manusia dimediasi oleh 'filter' lingkungan yang melibatkan harapan, motivasi, penilaian, makna simbolis penggunanya (Rapoport, 1976 dan Rapoport, 1. Dijelaskan lebih lanjut bahwa manusia akan bertindak tepat dan berperilaku berbeda dalam lingkungan yang berbeda (Barker Erving Goffman, 1972. dalam Rapoport, 1. Dijelaskan sebelumnya bahwa pengaruh lingkungan terhadap manusia adalah nyata, manusia bukan entitas pasif yang hanya dipengaruhi oleh lingkungan. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak untuk melakukan interaksi dengan lingkungan. Manusia membawa perubahan pada lingkungan melalui teknologi. Namun rupanya hubungan teknologi, lingkungan, dan manusia merupakan dualitas yang kompleks dan beragam. Lewis, . menjelaskan bahwa manfaat kemajuan teknologi tersebut berbanding lurus dengan risiko lingkungan dan sosial yang besar, dimana pada titik ini manusia kurang memikirkan keseimbangan lingkungan. Akar penyebab ketidakseimbangan tersebut merupakan persoalan filosofis di sebagian besar manusia. Dengan bangkitnya revolusi ilmu pengetahuan, teknologi dan kapitalisme prioritas dan mentalitas manusia terfokus pada eksistensial dan komodifikasi (Byrne, dkk, 2002:286 dalam Lewis, 2. Inilah yang merupakan akar perubahan drastis dalam hubungan manusia dan lingkungan. Selain itu, kurangnya kesadaran, pemahaman, dan pengetahuan untuk mengeksplorasi teknologi nampaknya menjadi penyebab aktivitas kurang ramah lingkungan (Lorenzoni. Nicholson-Cole dan Whitmarsh, 2007. Stoll-Kleemann. O'Riordan dan Jaeger, 2001 dalam Pereira & Forster, 2. Gambar 3. Model interaksi manusia dan lingkungan . umber: Fekadu, 2014. Judkins et al. , 2008. Livingstone, 2. Penelitian psikologi lingkungan beberapa dekade terakhir menyatakan bahwa sebagai respon melemahnya dominasi manusia atas alam dan lingkungan sekitar, manusia mulai melakukan tindakan protektif yang merupakan dorongan sadar untuk mempedulikan lingkungan (Carson, 1962 dalam Seymour, 2. Tumbuhnya kesadaran akan dampak negatif dari aktivitas manusia dan penerapan teknologi membawa perubahan pada perilaku yang mendukung lingkungan. Lee, dkk . dalam Sawitri et al. , . menggambarkan bahwa kepedulian manusia terhadap lingkungan dapat dilakukan melalui perilaku peduli, berdampak signifikan, bertanggung jawab, dan perilaku pro-lingkungan . ro-environmental behavior. Perilaku pro-lingkungan ini merupakan tindakan sadar yang dilakukan oleh individu untuk mengurangi dampak negatif aktivitas manusia terhadap lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan (Sawitri et al. , 2. Hal ini termasuk menyelidiki perilaku yang mendorong pilihan berkelanjutan. Interaksi Manusia dan Lingkungan: dalam Kajian Filosofis Anisza Ratnasari. Yohanes Basuki Dwisusanto menyehatkan iklim, dan meningkatkan kualitas alam dan intervensi untuk meningkatkan perilaku pro-lingkungan (Grifford, 2014 dalam Sawitri et al. , 2. Perilaku yang mencerminkan kecintaan manusia terhadap lingkungan terutama alam nampaknya sudah terlihat lebih dari 2. 000 tahun yang lalu, misalnya lukisan pada piramida Mesir kuno, sisa reruntuhan kuil Pompeii, ornamentasi keramik china, dan lainnya. Kecenderungan untuk memasukkan unsur alam dalam lingkungan tampaknya menjadi ciri universal manusia (Wilson, 1. Perilaku pro-lingkungan dengan menghadirkan kembali representasi alam dalam lingkungan ini erat kaitannya dengan biofilia. Biofilia sebagai Bentuk Perilaku Pro Lingkungan Biofilia . berasal dari kata 'bio' yang artinya hidup atau makhluk hidup dan 'philia' yang berarti cinta, sehingga biofilia bisa dipahami sebagai menjadi cinta terhadap makhluk hidup (Wilson, 1. Hipotesa biofilia pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikoanalis Amerika. Erich Fromm pada 1964 untuk menggambarkan orientasi psikologis terhadap ketertarikan pada semua yang hidup. Gagasan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mencari hubungan dengan alam dan bentuk kehidupan lainnya menjadi populer ketika Edward O. Wilson dalam bukunya Biophilia mengemukakan afiliasi mendalam yang dimiliki manusia dengan alam (Dias, 2. Bukti anekdotal biofilia menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya tertarik pada Penampilan alam yang kaya bentuk, warna, dan kehidupan dihargai secara universal, penggunaan alam secara simbolis dalam bahasa manusia, penghormatan spiritual terhadap hewan dan alam dalam budaya manusia, serta berbagai ornamentasi alam dalam produk kebudayaan manusia. Manusia, seperti halnya spesies lainnya telah telah terbentuk oleh kekuatan evolusi, yang mana menjelaskan hubungan naluriah antara manusia dan alam serta keinginan untuk terhubung dengan alam (Grinde & Patil, 2009 dan Oana et al. , 2. Pengalaman spiritual dan afiliasi luas dengan metafora alam tampaknya berakar pada sejarah evolusi manusia, yang berasal dari era ketika manusia hidup dalam kontak yang lebih dekat dengan alam dibandingkan kebanyakan manusia saat ini. Wilson . dalam Kellert . dan Kellert . menggambarkan biofilia sebagai hubungan emosional dan bawaan yang dimiliki manusia dengan semua makhluk hidup. Wilson . menambahkan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk menfokuskan diri pada kehidupan dan proses yang menyerupai kehidupan. Manusia memerlukan alam lebih dari sekedar yang bisa diberikan alam secara fisik, yaitu menyangkut kebutuhan estetika, kognitif bahkan spiritual (Kellert & Wilson, 1. Mengembalikan hubungan manusia dan alam penting untuk mewujudkan hubungan yang saling menguntungkan (Kellert et al. , 2. Dijelaskan lebih lanjut oleh Kellert et al. , . bahwa terdapat 2 . dimensi biofilia, yaitu dimensi organik dan dimensi vernakular/berbasis tempat. Dimensi organik atau naturalis merupakan wujud dalam lingkungan yang secara langsung, tidak langsung maupun simbolis merefleksikan hubungan yang melekat pada alam (Kellert et al. , 2. Melalui dimensi ini, manusia mendapatkan pengalaman langsung, tidak langsung dan simbolis dari keterhubungannya dengan alam. Dimensi berbasis tempat berkaitan dengan budaya atau ekologi dari suatu wilayah geografis (Kellert et al. , 2. Dimensi vernakular ini menciptakan ruang dan sekaligus menghindari kesan ketidakhadiran tempat/placelessness yang biasa nampak pada lingkungan terbangun dewasa ini. Kellert . menyatakan bahwa ada 4 . hal pokok dalam dimensi berbasis tempat ini, yaitu. ekologi tempat, budaya dan sejarah tempat, perpaduan budaya dan ekologi dan menghindari ketidakhadiran tempat. Bagaimana manusia merasakan dimensi naturalis dan vernakular ini tergantung pada persepsi masing-masing individu. KESIMPULAN Selama beberapa dekade terakhir, banyak penelitian yang mendokumentasikan bahwa pengalaman terhubung dengan alam dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Studi tentang lingkungan dan psikologi menekankan interaksi ini. Psikologi lingkungan didedikasikan untuk mempelajari hubungan timbal balik antara proses psikologis dan lingkungan fisik, baik yang alami maupun buatan manusia. Hubungan timbal balik yang merupakan proses dua arah ini membawa pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia dan juga bagaimana manusia Vol. 7 No. 2 January 2024 mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang dimaksud meliputi lingkungan fisik, lingkungan sosial-budaya, dan lingkungan psikologi. Lingkungan dianggap sebagai wilayah atau lingkup penting bagi individu dan masyarakat yang mempunyai kemampuan unik yang mempengaruhi kesejahteraan warga (Sadeghi et al. , 2. Menambahkan elemen alam ke ruang hidup manusia atau lingkungan fisik ternyata dapat mendorong perubahan kognisi dan emosi kearah positif yang berdampak pada tingkat stres, kesehatan dan kesejahteraan (Grinde & Patil, 2. Hal ini sejalan dengan Kellert & Calabrese . bahwa teori biofilia bahwa lingkungan alamiah memiliki potensi manfaat psikologis dan pemulihan kesehatan mental. Sebagian besar penelitian yang berhubungan dengan manfaat psikologis dari keterhubungan alam berada dalam bidang lingkungan psikologi dan didasarkan pada teori restorasi perhatian atau Attention Restorative Theory - ART (Kaplan & Kaplan, 1. Ulrich et al. , . menegaskan bahwa manfaat psikologis alam dapat dikaitkan dengan pemulihan Restorasi atau pemulihan dalam konteks ini tidak hanya mengandung arti proses mendapatkan kembali kapasitas psikologis namun juga kapasitas sosial dan fisik (Hartig, 2. Lingkungan fisik yang didominasi oleh unsur alam dianggap bersifat restoratif Gambar 4. Model trajectory perilaku pro lingkungan Sumber: analisis penulis, 2024 Lebih khusus lagi, berada dalam lingkungan yang terhubung dengan alam memiliki manfaat psikologis, antara lain. berkurangnya stres, peningkatan perhatian, pemulihan mental, dan dengan mengatasi defisit perhatian. Ulrich . dalam Grinde & Patil . menyatakan bahwa kualitas visual lingkungan yang terhubung alam lebih cepat memulihan stres dibandingkan lingkungan Hal ini disebabkan kehadiran vegetasi yang merepresentasikan alam dapat memberikan respon afektif terhadap rangsangan visual dengan melepaskan ketegangan yang dirasakan. Mengarahkan perhatian pada aktivitas yang menuntut dan menghadapi faktor lingkungan yang mengganggu dapat menyebabkan kelelahan mental. Di sisi lain, lingkungan yang memberikan kemungkinan perhatian yang lebih mudah menawarkan peluang untuk memulihkan kapasitas mental (Dellinger, 2. Menurut Kellert . , otak manusia secara fungsional merespons pola sensorik dari lingkungan alami. Lingkungan alami ini dapat memberikan persepsi sensorik yang intensif, perasaan harmoni dan menyatu dengan alam, wellbeing dan kualitas hidup, energi yang diperbarui, pemikiran Aohere-and-nowAo, dan rasa tenang (Kjellgren & Buhrkall, 2. Bahkan (Kellert, 2. menyatakan bahwa kontak dengan alam berkorelasi dengan fungsi kognitif yang membutuhkan konsentrasi dan kemampuan menghafal. Lingkungan binaan yang terkoneksi dengan alam dapat mendukung pemulihan perhatian, pengurangan stres, emosi positif, dan manfaat fisik Interaksi Manusia dan Lingkungan: dalam Kajian Filosofis Anisza Ratnasari. Yohanes Basuki Dwisusanto lainnya (Berto, 2005. Barton dan Pretty, 2010. Marcus dan Sachs, 2013. Kim et al. , 2016. White et , 2019 dalam Hung & Chang, 2. Respon lainnya diukur dengan peningkatan kognitif dan memulihkan kemampuan perhatian terarah (B. Browning, 2015. Berman et al. , 2. Mengingat manfaat positif lingkungan alami, penting menjembati interaksi manusia dan lingkungan dalam wadah lingkungan binaan yang menghubungkan manusia dengan alam. DAFTAR PUSTAKA