Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Akreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012 DOI: 10. 24034/j25485024. p-ISSN 2548 Ae 298X e-ISSN 2548 Ae 5024 PENGUJIAN TERHADAP KUALITAS PENGUNGKAPAN CSR DI INDONESIA Dian Yuni Anggraeni dianyuni12@gmail. Chaerul D. Djakman Universitas Indonesia ABSTRACT The purpose of this study is to identify the quality of corporate social responsibility disclosure within sustainability report in Indonesia for 2012-2014. The disclosures made by corporations are varies across industries, so this study also identifies the quality of corporate social responsibility disclosure across different types of industry. This study use content analysis to identify whether those informations are qualitative or quantitative. The study shows that the informations disclosed more quantitative than qualitative because the information tags along with the quantitative data in terms of currency, weight, volume, size, etc. It also finds that even most of them use GRI as their standard, but the disclosure made by the corporation does not adequately cover the informational needs of However, the increasing disclosure trends can be considered as a first step toward improved corporate social responsibility disclosure. The increasing disclosure trends can be considered as the fact that corporates in Indonesia have increasing their interest in social and environmental problems and dominated by high profile The study therefore supports the need for a suitable framework for corporate social responsibility disclosure, so the stakeholders can use it as credible information. Key words: disclosure quality, sustainability. CSR, legitimacy theory, stakeholder theory ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas pengungkapan tanggung jawab sosial pada laporan keberlanjutan perusahaan yang terdaftar di BEI selama periode 2012-2014. Pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan di setiap industri berbeda-beda, oleh karena itu penelitian ini juga menganalisis secara sub sampel industri agar dapat mengetahui kualitas informasi perusahaan di masing-maing industri. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi yang diungkapkan lebih didominasi oleh informasi yang bersifat Artinya, perusahaan bukan hanya menyajikan informasi tanggung jawab sosial secara narasi saja, namun juga menyertakan data numeriknya seperti dalam mata uang, bobot, volume, ukuran, dan lain sebagainya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar sampel menggunakan GRI sebagai acuan pelaporan tanggung jawab sosial perusahaan, namun informasi yang disajikan belum mencakup keseluruhan indikator GRI sehingga kebutuhan stakeholder atas informasi tanggung jawab sosial belum dapat terpenuhi dengan maksimal. Namun demikian, peningkatan tren pengungkapan mengindikasikan adanya langkah perbaikan terhadap kualitas informasi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Meningkatnya perusahaan dalam menerbitkan laporan keberlanjutan menunjukkan bahwa semakin tingginya minat perusahaan di Indonesia mengenai isu sosial dan lingkungan, khususnya pada perusahaan yang termasuk ke dalam industri high profile. Kata kunci: kualitas pengungkapan, keberlanjutan. CSR, teori legitimasi, teori stakeholder daya tarik untuk meningkatkan nilai perusahaan (Roberts, 1992. Suchman, 1995. Clarkson, 1995. Cormier et al. , 2011. Kuo dan PENDAHULUAN Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) memiliki Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman Chen, . Pada tahun 2014. Nielsen Global Survey menginisiasikan suatu survei online mengenai kecenderungan konsumen dalam memilih suatu produk. Hasilnya menunjukkan bahwa, 55% konsumen akan membeli produk dan jasa dari perusahaan yang berkomitmen terhadap isu sosial dan Oleh sebab itu, perusahaan semakin berlomba-lomba untuk memberikan kesejahteraan terhadap lingkungan dan sosial mereka dengan berbagai aktivitas CSR. Ragam aktivitas CSR diwadahi dalam suatu laporan. Beberapa kata didefinisikan untuk menggambarkan informasi mengenai tanggung jawab social perusahaan. Laporan sosial, laporan tanggung jawab sosial perusahaan . orporate social responsibility (CSR) repor. , laporan keberlanjutan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, secara garisbesar informasi yang disertakan dalam laporan tersebut bertujuan untuk mengelaborasi berbagai aktivitas serta hasil pencapaian perusahaan untuk melestarikan lingkungan dan sosial dengan tidak lupa untuk mempertimbangkan dampak ekonominya. Laporan CSR merupakan suatu narasi perusahaan yang menunjukkan informasi mengenai aktivitas, aspirasi dan citra perusahaan tentang lingkungan, pegawai, pelayanan konsumen, penggunaan energi, kesetaraan, bisnis yang wajar, tata kelola perusahaan, dan lain-lain (Gray et al. , 2. Salah satu manfaat dari laporan CSR ialah dapat digunakan sebagai salah satu media perusahaan dalam berkomunikasi dengan Agar komunikasi berjalan efektif, informasi yang diberikan harus relevan dengan kebutuhan pembaca . Di Indonesia, perusahaan diwajibkan untuk turut aktif dalam pelaksanaan aktivitas CSR. Hal tersebut tertuang dalam berbagai regulasi . erdasarkan UndangUndang (UU) No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. UU No. tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No. 6 tentang Penyampaian Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik melalui Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK nomor: Kep431/BL/2012, serta Peraturan Pemerintah (PP) No. 47 tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbata. Namun demikian, bentuk serta konten laporan CSR cenderung bervariatif. Hal tersebut terjadi karena belum ada aturan resmi dalam menyajikan laporan kegiatan CSR. Hal ini juga disepakati oleh Jain et al. yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa belum ada kontrol legislatif yang jelas mengenai pelaporan CSR di negaranegara kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan keadaan tersebut, maka muncul kekhawatiran akan kualitas pelaporan CSR. Gunawan . juga mengemukakan bahwa masih terdapat gap antara informasi yang diekspektasikan oleh stakeholder dengan yang dilaporkan oleh perusahaan. Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa informasi CSR yang diungkapkan perusahaan masih terbatas pada informasi yang bersifat naratif dan deskriptif (Fatima et al. , 2015. Raar, 2007. Sen et al. Raar . menemukan bahwa sebanyak 70% perusahaan mengungkapkan informasi CSR secara deskriptif atau penjelasan secara kualitatif, kemudian terdapat 16% perusahaan yang memberikan kombinasi informasi antara kualitatif dan kuantitatif. Di India, sebanyak 74% pengungkapan CSR ialah bersifat kualitatif, dan sisanya bersifat kuantitatif (Sen et al. , 2. Fatima et . mengemukakan bahwa kualitas informasi CSR yang diungkapkan masih rendah, apalagi ketika masih belum ada regulasi yang menunjang dalam mengatur pemberian informasi tersebut kepada publik. Kondisi ini direspon dengan munculnya berbagai institusi yang membuat suatu kerangka bagi perusahaan dalam melaporkan aktivitas CSR mereka. Berbagai macam organisasi, baik pemerintah maupun swasta dan baik nasional maupun internasional, yang peduli terhadap sosial dan lingkungan. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 menawarkan standar untuk digunakan perusahaan dalam melaporkan aktivitas mereka. Berdasarkan keadaan tersebut, maka muncul kekhawatiran akan kualitas konten informasi yang diungkapkan perusahaan. Kondisi ini direspon dengan munculnya berbagai institusi yang membuat suatu kerangka bagi perusahaan dalam melaporkan aktivitas CSR mereka, seperti Global Reporting Initiative (GRI). FTSE4Good. ISO 14001, dan lain-lain. Jenis atau profil perusahaan menjadi salah satu determinan kualitas pengungkapan CSR (Roberts, 1992. Hackston dan Milne. Zuhroh dan Sukmawati, 2003. Sayekti. Perusahaan yang tergolong dalam high profile memiliki potensi risiko lingkungan, sosial, persaingan, dan politik yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan low profile. Risiko tersebut muncul karena aktivitas operasional perusahaan yang berpotensi menghadapi benturan kepentingan dengan pihak-pihak lainnya. Sen et al. mengatakan bahwa pengungkapan informasi CSR merupakan salah satu informasi krusial bagi perusahaan high profile karena hal tersebut menunjukkan tingkat partisipasi mereka terhadap isu CSR. Kuo dan Chen . mengklaim bahwa perusahaan yang termasuk kedalam industri high profile dapat memperbaiki legitimasinya dan memuaskan kepentingan stakeholder dengan menerbitkan laporan CSR. Secara konten, perusahaan yang memberikan informasi bahwa mereka melakukan upaya untuk memitigasi kerusakan lingkungan dan sosial akan meningkatkan legitimasi lingkungan dan sosial mereka. Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas pengungkapan laporan tanggung jawab sosial pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menerbitkan laporan keberlanjutan . ustainability repor. pada periode 2012-2014. Perusahaan yang menerbitkan laporan tersebut mengindikasikan bahwa mereka memiliki perhatian khusus terhadap keberlanjutan usahanya, bukan hanya dilihat dari aspek profit, namun juga aspek planet . dan people . sebagaimana tertuang dalam Triple Bottom Line. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis deskriptif dengan menganalisis konten skala 0-3 pada setiap laporan keberlanjutan perusahaan dan dibandingkan dengan indikator-indikator yang ada pada GRI generasi keempat (G. GRI G4 dipilih karena standar tersebut ialah yang paling banyak digunakan oleh entitas sebagai acuan dalam menyusun laporan keberlanjutan (KPMG. Penelitian ini juga menganalisis demografi kualitas pengungkapan CSR berdasarkan jenis industri sehingga pemahaman mengenai kedalaman kualitas pengungkapan informasi CSR di Indonesia akan lebih Penelitian ini terdiri dari lima bagian. Bagian pertama memberikan review singkat mengenai penelitian ini. Bagian kedua memberikan penjabaran dan analisa mengenai studi literatur penelitian sebelumnya diberbagai negara. Bagian ketiga membahas metode yang digunakan dalam penelitian. Bagian keempat memberikan analisa hasil penelitian dan penelitian ini diakhiri dengan TINJAUAN TEORETIS Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility (CSR)) Konsep tanggung jawab sosial perusahaan hadir sebagai suatu respon akan kekhawatiran isu keberlanjutan suatu Campbell . menyatakan bahwa jika perusahaan mengisolasi tujuan kesejahteraan sosial serta lingkungan dan hanya berfokus pada target peningkatan profit saja, maka tidak heran jika perusahaan tersebut tidak sustain. Roberts . mengatakan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR ialah suatu kebijakan atau tindakan yang dapat mengidentifikasi perusahaan sebagai entitas yang peduli terhadap masalah sosial. Selanjutnya. Baron . dan Davis et al. menyatakan bahwa terkadang CSR didefinisikan sebagai suatu Aukontrak sosialAy Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman antara bisnis dan masyarakat yang bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi keduanya. Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa tanggung jawab sosial ialah suatu perangkat kebijakan, program, dan inisiatif lainnya yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan bagi sosial dan lingkungan namun tidak mengabaikan tujuan utama entitas itu sendiri Berdasarkan stakeholder theory, kepentingan stakeholder, selain pemegang saham, juga menjadi perhatian dari keberadaan organisasi (Ansoff, 1965 dalam Roberts. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa salah satu objektif utama hadirnya perusahaan ialah untuk menyeimbangkan berbagai konflik kepentingan antar stakeholder perusahaan dan CSR dapat dijadiakan sebagai alat penyeimbang antara kedua pihak tersebut. Beragam definisi untuk menerjemahkan Clarkson . menyatakan bahwa stakeholder merupakan individu atau kelompok yang memiliki, atau menyatakan, kepemilikan, hak, atau kepentingan di dalam perusahaan dan aktivitasnya, baik di masa lalu, sekarang, atau yang akan datang. Kemudian. Roberts . menyebutkan bahwa stakeholder perusahaan meliputi pemegang saham, kreditur, pegawai, pelanggan, pemasok, organisasi masyarakat, serta Freeman . dalam (Sayekti, 2. , mendefinisikan stakeholder sebagai suatu kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi karena adanya organisasi. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa organisasi dengan seluruh elemen kebijakannya dan stakeholder memiliki keterkaitan, yaitu ketika dipengaruhi oleh stakeholder dan ketika mempengaruhi mereka. CSR mengandung makna bahwa entitas mengemban tugas moral untuk berlaku jujur, mematuhi hukum, menjunjung integritas, dan tidak melakukan pelanggaran hukum lainnya (Roberts, 1. Melalui pengungkapan aktivitas CSR, perusahaan berkesempatan untuk memberikan penjelasan mengenai berbagai hal yang mendukung kesejahteraan pemegang saham, pegawai, pemasok, konsumen, regulator, serta masyarakat sekitar yang bersinggungan secara langsung dengan aktivitas perusahaan sehari-hari. Keadaan sosial dan lingkungan tidak dapat diisolasi dengan kepentingan suatu entitas begitu saja. Entitas dituntut untuk dapat mewadahi kepentingan sekitarnya hingga pada akhirnya kepentingan entitas sendiri dapat tercapai dengan maksimal. Oleh sebab itu, pemetaan kepentingan stakeholders merupakan suatu agenda penting bagi perusahaan. Sehingga dapat terbentuk jalinan komunikasi yang baik sebagai salah satu alat pengerat hubungan keduabelah Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa CSR berfungsi sebagai suatu penyeimbang antara kepentingan para stakeholder dan perusahaan itu Teori lain yang mendasari hadirnya CSR ialah teori legitimasi. Teori legitimasi merupakan salah satu teori yang mendasari inisiasi perusahaan secara sukarela dalam mengungkapkan laporan CSR (Luo et al. Legitimasi erat kaitannya dengan berbagai aktivitas yang dilakukan entitas, sehingga persepsi atau asumsi tersebut dapat tercipta. Deegan . mengatakan bahwa teori legitimasi ialah ketika perusahaan akan bereaksi sesuai dengan ekspektasi masyarakat dan lingkungan tempat perusahaan tersebut berada. Berdasarkan pemahaman tersebut, teori ini fokus pada strategi-strategi perusahaan dalam mengelola berbagai ekspektasi yang akan berdampak pada perusahaan agar mendapatkan status legal. Salah satu alat untuk mendapatkan status tersebut ialah aktivitas tanggung jawab sosial dan lingkungan. Selain itu, risiko risiko penurunan reputasi juga dapat diminimalisir dengan patuh pada regulasi dan norma sosial serta mengadakan kegiatankegiatan yang melibatkan masyarakat disekitar lokasi perusahaan beroperasi. Sebagai upaya dalam mendapatkan legitimasi masyarakat. Suaryana . menyatakan Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 bahwa perusahaan akan melakukan beragam aktivitas sosial dan lingkungan. Aktivitas tersebut menjadikan suatu upaya perusahaan dalam memenuhi harapan masyarakat akan manfaat hadirnya perusahaan yang berlokasi di wilayah mereka. Namun, ketika perusahaan gagal untuk memenuhi harapan masyarakat, maka akibatnya akan berbanding terbailk, yaitu hilangnya legitimasi terhadap perusahaan, sehingga perusahaan pun akan kehilangan dukungan dari mereka. Ahmad dan Hossain . mengatakan bahwa profitabilitas perusahaan juga akan terpengaruh oleh adanya gap atau celah legitimasi antara perusahaan dan masyarakat. Hal tersebut terjadi karena jika masyarakat merasa mendapatkan kerugian akan adanya perusahaan, maka mereka dapat saja memboikot hasil produksi perusahaan tersebut. Dalam rangka meminimalisir gap tersebut. Cho dan Patten . mengatakan bahwa pengungkapan lingkungan dalam laporan keuangan dapat dijadikan tools bagi perusahaan untuk mendapatkan legitimasi. Almilia dan Wijayanto . mengatakan bahwa berdasarkan perspektif masyarakat, perusahaan dianggap sebagai entitas yang dapat menghasilkan berbagai kesempatan yang baik, seperti terbukanya lapangan pekerjaan, menyediakan barang dan jasa yang dapat dikonsumsi, penyumbang pajak untuk membangun infrastruktur, pemberian santunan, dan lain-lain, namun, tak jarang orientasi perusahaan hanya mengedepankan peningkatan keuntungan bagi dirinya sendiri. Sehingga, perusahaan mengesampingkan keadaan sosial dan bahkan menimbulkan kerusakan lingkungan sekitar agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Pelaporan Informasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility (CSR)) Pelaporan CSR menjadi salah satu instrumen transparansi perusahaan dalam mengartikulasikan bagaimana peran mereka untuk memenuhi kepentingan berbagai stakeholders, bukan hanya kepentingan pemegang saham. Beattie et al. menyatakan bahwa model pelaporan bisnis membutuhkan perbaikan agar transparasi dan akuntabilitas perusahaan meningkat, yaitu dengan memberikan informasi dan perubahannya yang diperlukan oleh pasar. Gelb dan Strawser . mengatakan bahwa perusahaan yang lebih respon terhadap aktivitas sosial akan menyediakan informasi yang lebih luas dibandingkan dengan perusahaan yang kurang berkomitmen dengan aktivitas sosial. Hasil ini juga didukung oleh Wiseman . yang menemukan adanya pengaruh positif antara pengungkapan CSR dan aktivitas aktual CSR. Berbagai macam organisasi yang peduli terhadap sosial dan lingkungan, menawarkan standar untuk digunakan perusahaan dalam melaporkan aktivitas mereka. Salah satunya ialah organisasi yang memiliki inisiasi untuk memberikan pedoman bagi perusahaan dalam melaporkan keberlanjutan usaha . ustainability repor. , yaitu Global Reporting Initiative (GRI). Laporan keberlanjutan digunakan sebagai salah satu cara bagi perusahaan untuk lebih sustain dan turut berkontribusi dalam perkembangan Awal mulanya. GRI dibentuk di Boston pada tahun 1997. Organisasi ini berinduk pada organisasi non-profit di Amerika Serikat, yaitu The Coalition for Environmentally Responsible Economies (CERES) dan The Tellus Institute. Organisasi ini menerbitkan standar untuk laporan keberlanjutan atau sustainability report. Standar yang dikeluarkan oleh GRI, yang sekarang sudah memasuki generasi keempat (G. , menjadi salah satu panduan utama pelaporan keberlanjutan perusahaan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pedoman pelaporan generasi pertama dipublikasikan pada tahun 2000. Kemudian, seiring berjalannya waktu. GRI sudah mulai terpisah dan berdiri sendiri . nstitusi independe. hingga pedoman pelaporan generasi kedua hadir pada tahun Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman 2002 di Johannesburg pada World Summit on Sustainable Development. Pedoman ini dikenal juga dengan sebutan G2. Selanjutnya. G3 dipublikasikan pada tahun 2006, dalam perkembangan ini diprakarsai oleh lebih 000 pelaku bisnis, kelompok masyarakat, dan serikat pekerja. Agar lebih memaksimalkan standar pelaporan keberlanjutan perusahaan, pada Mei 2013 dipublikasikan pedoman GRI terbaru, yaitu generasi keempat atau G4. Dikutip dari website resmi GRI . G4 dirancang agar dapat diterapkan secara universal di semua jenis dan sektor organisasi, baik yang berskala besar maupun kecil, di seluruh G4 mencakup rujukan ke rerangka lain yang dikenal luas, dan dirancang sebagai rerangka konsolidasian untuk kinerja pelaporan dengan berbagai standar dan norma keberlanjutan. Hal ini mencakup harmonisasi dengan rerangka global penting lain, termasuk Pedoman OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Developmen. untuk Perusahaan Multinasional. Prinsip Global Compact PBB, dan Prinsip Pedoman Bisnis dan Hak Asasi Manusia PBB. Untuk menghasilkan laporan yang lebih tepat sasaran. G4 memosisikan konsep materialitas sebagai pusat pelaporan keberlanjutan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa G4 mendorong perusahaan untuk memberikan informasi tentang hal-hal yang relevan agar dapat mencapai tujuan perusahaan untuk keberlanjutan dan mengelola dampaknya terhadap lingkungan dan sosial. GRI menganggap bahwa penting bagi perusahaan untuk mengungkapkan serta melaporkan keberlanjutan perusahaan, karena dengan adanya laporan keberlanjutan dapat memberikan pengungkapan tentang dampak terpenting suatu perusahaan/ organisasi . aik positif atau negati. terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dengan menggunakan pedoman ini, entitas diharapkan dapat menghasilkan informasi yang andal, relevan, dan terstandardisasi sehingga dapat digunakan untuk menilai peluang dan risiko, serta memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat bagi perusahaan itu sendiri maupun pihak yang memiliki kepentingan lainnya, namun demikian, bentuk laporan CSR tersebut masih sangat bervariatif karena belum ada aturan resmi dalam menyajikan kegiatan CSR. Hal tersebut juga disetujui oleh Jain et . yang menyatakan bahwa di negaranegara kawasan Asia Pasifik, belum ada kontrol legislatif yang jelas mengenai pelaporan CSR. Berdasarkan keadaan tersebut, maka muncul kekhawatiran akan kualitas pelaporan CSR. Gunawan . juga menemukan bahwa masih terdapat gap antara informasi yang diekspektasikan oleh stakeholder dengan yang dilaporkan oleh Informasi yang diungkapkan perlu didukung oleh data-data yang akurat sehingga informasi tersebut dapat dipergunakan sebagaimana mestinya sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan masih terbatas pada informasi yang bersifat deskriptif saja (Fatima et al. , 2015. Raar, 2007. Sen et al. , 2. Lebih lanjut. Raar . menyatakan bahwa 70% perusahaan mengungkapkan informasi CSR secara deskriptif atau penjelasan secara kualitatif, sedangkan 16% lainnya memberikan kombinasi informasi antara kualitatif dan kuantitatif. Hal tersebut juga disetujui oleh penemuan Sen et al. pada perusahaan high profile di India, 74% bersifat kualitatif, 22% mengungkapkan dampak secara keuangan, dan 4% informasi yang bersifat fisik. Berdasarkan pemaparan tersebut. Fatima et . menyimpulkan bahwa kualitas informasi CSR yang diungkapkan masih rendah, apalagi ketika masih belum ada regulasi yang menunjang dalam mengatur pemberian informasi tersebut kepada Determinan Pelaporan Jenis industri menjadi suatu determinan demografi informasi CSR yang diungkapkan oleh perusahaan. Perusahaan yang high Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 profile ialah perusahaan yang berpotensi memiliki tingkat risiko lingkungan, sosial, persaingan, dan politik tinggi sehingga profil industri ini akan mendapatkan perhatian publik lebih besar daripada profil industri lainnya . ow profil. Risiko tersebut muncul karena aktivitas operasional perusahaan yang berpotensi menghadapi benturan kepentingan dengan kepentingan Sen et al. mengatakan bahwa pengungkapan informasi biaya pengolahan limbah dan tanggung jawab lingkungan lainnya merupakan salah satu informasi krusial bagi perusahaan high profile karena hal tersebut menunjukkan tingkat partisipasi mereka terhadap kerusakan lingkungan. Oleh karena itu. Kuo dan Chen . mengklaim bahwa perusahaan yang termasuk kedalam industri high profile dapat memperbaiki legitimasinya dan memuaskan kepentingan stakeholder dengan menerbitkan laporan CSR. METODE PENELITIAN Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2012 sampai dengan periode 2014. Terdapat beberapa alasan mengenai pemilihan awal periode pengamatan dalam penelitian ini. Pertama, pada 4 April 2012, pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas yang pada pasal dua dinyatakan bahwa selaku subjek hukum, setiap perusahaan memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan. Kedua, pada 1 Agustus 2012 terdapat revisi Peraturan Bapepam-LK X. 6 mengenai kewajiban perusahaan publik untuk mengungkapakan informasi tanggung jawab sosialnya dalam laporan tahunan. Campbell . mengungkapkan bahwa salah satu dorongan perusahaan untuk melakukan CSR ialah ketatnya regulasi oleh suatu Oleh sebab itu, karena penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan saja, maka pemilihan tahun tersebut di- anggap tepat. Rentang waktu tiga tahun tersebut diharapkan cukup representatif untuk memberikan analisis kualitas pengungkapan CSR dalam penelitian ini. Penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan saja agar tidak terjadi kesenjangan antara perusahaan yang sudah dan belum menerbitkan laporan tersebut (Holland dan Foo, 2. Sampel tersebut juga dipilih karena fokus penelitian ialah untuk mengetahui alasan perusahaan memberikan informasi tanggung jawab sosial mereka, dan informasi yang komprehensif tersebut bisa didapat dari laporan keberlanjutan perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini dapat diperoleh dari berbagai sumber. Semua data adalah bersifat sekunder dan dapat ditemukan dalam tahunan dan laporan keberlanjutan setiap perusahaan. Laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan dapat diunduh di website BEI . , website masing-masing perusahaan, dan website National Center of Suatainability Reporting . ncsr-id. Untuk mendapatkan sampel yang representatif dan sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian, pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan tabel 1. Berdasarkan tabel 1, pada tahun 2012, terdapat 33 perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan. Tahun 2013, ada 39 perusahaan, dan tahun 2014 terdapat 42 perusahaan. Berdasarkan seleksi sampel tersebut, maka jumlah perusahaan yang termasuk kedalam sampel ialah 44 perusahaan dan jumlah observasi . erusahaan-tahu. dalam penelitian ini ialah 114. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih medalam mengenai demografi kualitas pengungkapan perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan di Indonesia selama periode 2012 sampai dengan 2014, maka peneliti mengelompokkan perusahaan berdasarkan jenis industrinya masingmasing. Pengelompokkan industri ini dibagi berdasarkan Fact Book Bursa Efek Indonesia Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman periode 2012-2014. Tahapan analisis pada penelitian ini dijelaskan dalam gambar 1. Metode analisis konten merupakan metode yang tepat untuk mengukur kualitas informasi yang diungkapkan. Metode ini suatu cara pengukuran data berupa kodifikasi informasi kualitatif menjadi suatu bentuk skala kuantitatif (Abbott dan Monsen, 1. atau dengan mengklasifikasikan suatu unit teks menjadi suatu kategori (Beattie et al. , 2. Menurut Neuman . , metode analisis konten merupakan prosedur yang objektif dan sistematis untuk menggambarkan suatu pengukuran kuantitatif atas informasi yang bersifat kualitatif karena metode ini diproses melalui perhitungan dan pencatatan informasi itu sendiri. Tabel 1 Seleksi Sampel Kriteria Terdaftar di BEI selama periode 2012-2014 Perusahaan menerbitkan laporan keberlanjutan dan memiliki data yang lengkap pada tahun: Jumlah Observasi (Perusahaan-Tahu. Sumber: Data yang diolah Indikator GRI merupakan suatu standar yang komprehensif dan umum digunakan oleh entitas untuk melaporkan informasi keberlanjutan usahanya . ustainability repor. Hedberg dan Malmborg . mengatakan bahwa perusahaan akan berusaha untuk menyesuaikan dengan prinsip yang berlaku umum atau kerangka umum ketika entitas berinisiasi untuk menyajikan laporan yang dapat diandalkan. GRI dipandang sebagai salah satu pedoman yang komprehensif dan dapat diandalkan karena telah dipublikasikan secara global dan didukung oleh struktur laporan yang mewakili kepentingan berbagai pihak (Kartawijaya. Dengan adanya pedoman, informasi yang dihasilkan entitas dapat menjadi lebih andal, relevan, dan terstandardisasi sehingga dapat digunakan untuk menilai peluang dan risiko, serta memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat (Sayekti. Perusahaan Untuk menyempurnakan permintaan stakeholders, pada saat ini GRI telah disempurnakan menjadi GRI G4, atau GRI generasi keempat, oleh karena itu, penelitian ini mengacu pada indikator pengungkapan GRI generasi keempat tersebut. Indikator G4 dapat diperoleh melalui website resmi GRI, yaitu w. Dalam G4, terdapat sembilan indikator yang termasuk kategori ekonomi, 34 indikator untuk kategori lingkungan, dan 48 indikator untuk kategori sosial. Berbeda dari penelitian sebelumnya, penelitian ini menggunakan skala penilaian antara 0-3 untuk setiap indikator. Penjelasan skor tersebut ialah sebagai berikut: Bernilai 0: tidak mengungkapkan. Bernilai 1: mengungkapkan tanpa ada penjelasan atau perusahaan hanya memberikan suatu pernyataan mengenai indikator pengungkapan tersebut secara Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 Bernilai 2 : mengungkapkan dan memberi penjelasan secara kualitatif. Bernilai 3 : jika mengungkapkan dan memberi penjelasan secara kualitatif serta menyediakan data dengan nominal angka untuk setiap indikator yang Pengujian terhadap Kualitas Pengungkapan CSR di Indonesia Mengumpulkan Penelitian Terdahulu dan Referensi Pendukung Lainnya Mengumpulkan data dan Mengolah Data PENGOLAHAN DATA ANALISIS DATA Analisis Sampel (Secara Keseluruhan dan Berdasarkan Jenis Indust. Analisis Pedoman Pelaporan CSR (Secara Keseluruhan dan Berdasarkan Jenis Industr. Analisis Kualitas Pengungkapan CSR (Pada Keseluruhan Sampel dan Berdasarkan Jenis Industri, kategori CSR, dan skor CSR) Analisis dengan Penelitian Sebelumnya dan Referensi Lainnya Kesimpulan dan Saran Gambar 1 Tahapan Penelitian Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman Analisis kualitas pengungkapan CSR dilakukan dengan metode content analysis, yaitu suatu cara pengukuran data berupa kodifikasi informasi kualitatif menjadi suatu bentuk skala kuantitatif (Abbott dan Mosen, 1. atau dengan mengklasifikasikan suatu unit teks menjadi suatu kategori (Beattie et , 2. Menurut Ne man . , metode analisis konten merupakan prosedur yang objektif dan sistematis untuk menggambarkan suatu pengukuran kuantitatif atas informasi yang bersifat kualitatif karena metode ini diproses melalui perhitungan dan pencatatan informasi itu sendiri. Pengukuran ini mengacu pada penelitian Jizi et al. Fatima et al. Kuo dan Chen . , dan Roberts . Skala tersebut juga diharapkan mampu menjelaskan bagaimana kualitas informasi CSR yang diungkapkan perusahaan. Untuk meminimalisir subjektivitas dalam pemberian skor setiap indikator pengungkapan, penelitian ini dibantu oleh asisten peneliti dan kemudian skor tersebut dievaluasi kembali oleh peneliti. Selanjutnya, untuk mendapatkan indeks kualitas pengungkapan CSR perusahaan, total skor kualitas pengungkapan CSR setiap perusahaan dibandingkan dengan total skor pengungkapan maksimum. Rumusnya ialah sebagai berikut (Jizi et al. , 2. QCSR = (Persamaan . Keterangan: QCSRi : Kualitas pengungkapan CSR perusahaan i SQCSRi : Skor kualitas pengungkapan CSR SQMAX : Skor maksimum kualitas pengungkapan CSR ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pelaporan Berdasarkan Industri Pada tahun 2012, terdapat 451 perusahaan yang tercatat di BEI. Dari keseluruhan perusahaan yang terdaftar di BEI, pada tahun 2012 hanya 7,32% . /451 y . atau 33 perusahaan yang menerbitkan laporan Pada tahun 2013, terdapat 477 perusahaan yang terdaftar di BEI, namun demikian hanya 8,18% . /477 y . atau 39 perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan. Selanjutnya, perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2014 ialah sebanyak 498 dan hanya 8,43% . /498 y . atau 42 perusahaan saja yang menerbitkan laporan keberlanjutan, namun demikian berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan selama periode 2012, 2013, dan 2014 ialah terus meningkat. Hal ini mengindikasikan adanya tren positif penerbitan laporan keberlanjutan di Indonesia karena terus menerus bertambah setiap Hal ini juga memberikan satu sinyal bahwa informasi mengenai tanggung jawab sosial yang tercatat dalam laporan keberlanjutan semakin diminati oleh para Berdasarkan sektor industri, tabel 2 berikut ini menggambarkan sebaran sampel dalam penelitian ini. Pengelompokan industri ini dibagi berdasarkan Fact Book Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014. Berdasarkan tabel 2 tersebut, industri keuangan ialah yang paling dominan dalam penelitian ini, yaitu 9 perusahaan pada tahun 2012, 10 perusahaan pada 2013, dan 11 perusahaan Hasil ini dapat dijadikan kabar gembira sebagai dukungan Roadmap Keuangan Berkelanjutan untuk periode 20152019 karena berdasarkan tabel 2, ternyata sebelum inisiasi tersebut dilaksanakan, industri keuangan telah memberikan dukungan positif untuk menciptakan keuangan berkelanjutan melalui penerbitan sustainability reporting. Terdapat dua kelompok perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan Masing-masing kelompok terdiri atas dua perusahaan. Kelompok pertama ialah Indo Agri, dari industri pertanian. Kelompok ini terdiri atas PT. Salim Ivomas Pratama Tbk. dan PP London Sumatra Indonesia Tbk. Kelompok kedua ialah Asia Pulp Paper (APP), dari miscellaneous industry. Kelompok ini terdiri atas PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Dan PT. Pabrik Kertas Tjiwi Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 Kimia Tbk. Kedua Kelompok tersebut menerbitkan laporan keberlanjutan secara konsisten dari tahun 2012-2014. Karena keterbatasan jumlah sampel penelitian, maka setiap anggota kelompok diperlakukan menjadi satu entitas yang diteliti, sehingga nilai kualitas pengungkapan CSR mereka ialah sama karena mereka hanya menerbitkan satu laporan keberlanjutan saja. Tabel 2 Pelaporan Berdasarkan Industri Industri Pertanian Industri dasar & Kimia Industri Barang Konsumsi Keuangan Infrastruktur. Utilitas & Transportasi Pertambangan Miscellaneous Industry Property. Real Estate & Construction Perdagangan. Jasa & Investasi TOTAL Obs Tot Tot Tot Keterangan: Tabel ini menyajikan deskripsi sampel yang digunakan dalam penelitian berdasarkan tahun dan 9 jenis industri (Fact Book IDX). Kolom Obs merupakan jumlah observasi dalam penelitian berdasarkan jenis industri. Kolom s merupakan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan jenis industri. Kolom Total merupakan jumlah keseluruhan perusahaan berdasarkan jenis industri yang terdaftar pada BEI setiap tahunnya. y 100 b . y 100 Sumber: Data yang diolah Berdasarkan tabel 2, industri pertanian memiliki jumlah pelapor yang konstan dari tahun 2012 hingga tahun 2014, yaitu 4 Dalam penelitian ini, industri pertanian berkontribusi sebesar 10,53%. Pada industri ini, dari 18 perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2012, hanya 22,22% yang menerbitkan laporan keberlanjutan, kemudian, pada tahun 2013 dan 2014, dari 20 perusahaan, hanya 20% nya saja yang menerbitkan. Industri dasar dan kimia berkontribusi sebesar 8,77% dalam penelitian ini. Pada tahun 2012, dari 63 perusahaan jenis industri dasar dan kimia yang terdaftar di BEI, hanya 4,76% atau 3 perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan, begitu juga pada tahun 2013, yaitu 5% perusahaan dari total keseluruhan 60 perusahaan terdaftar. Kemudian, pada tahun 2014 meningkat menjadi 6,35% atau 4 perusahaan dari total keseluruhan sebesar 63 perusahaan. Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman Industri barang dan konsumsi memiliki tren yang unik, yaitu terdapat penurunan pelapor pada tahun kedua penelitian, 2013. Industri ini memiliki kontribusi yang paling rendah dalam penelitian ini, yaitu sebesar 2,63%. Pada tahun 2012, dari 35 perusahaan yang terdaftar di BEI, terdapat 1 perusahaan atau 2,86% yang menerbitkan laporan keberlanjutan, kemudian, tahun 2013 tidak ada perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan meskipun jumlah total perusahaanya meningkat. Selanjutnya, pada tahun 2014, ada 2 perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan dari total keseluruhan 38 perusahaan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa terdapat inkonsistensi perusahaan dalam menerbitkan laporan keberlanjutannya. Industri keuangan merupakan industri dengan jumlah pelapor terbanyak setiap Dalam penelitian ini, industri keuangan berkontribusi sebesar 26,32%. Pada tahun 2012, dari 73 total keseluruhan perusahaan yang terdaftar di BEI, terdapat 9 perusahaan atau 12,33% yang menerbitkan laporan keberlanjutan. Pada tahun 2013, ada 10 perusahaan atau 13,33% dari 75 perusahaan, dan pada tahun 2014 terdapat 11 perusahaan atau 13,58% dari 81 perusahaan. Sama seperti industri pertanian, industri infrastruktur, utilitas, dan transportasi juga memiliki jumlah pelapor yang konstan selama tahun 2012 hingga 2014, yaitu sebanyak 5 perusahaan. Industri infrastruktur, utilitas, dan transportasi memberikan kontribusi sebesar 13,04% dalam penelitian ini. Pada tahun 2012, terdapat 39 perusahaan yang terdaftar di BEI, dan hanya 12,82% nya saja yang menerbitkan laporan keberlanjutan. Pada tahun 2013, terdapat peningkatan jumlah perusahaan yang terdaftar di BEI, yaitu 45 perusahaan, namun jumlah pelapornya tetap, begitu juga pada tahun 2014. Industri pertambangan berkontribusi sebesar 14,91% dalam penelitian ini. Pada tahun 2012, terdapat 4 perusahaan atau 12,50% yang menerbitkan laporan keberlanjutan dari 32 total keseluruhan perusahaan yang terdaftar di BEI pada industri ini, 7 perusahaan atau 18,92 dari 37 perusahaan di tahun 2013, dan menurun 1 perusahaan . enjadi 6 perusahaa. atau 15,38% di tahun 2014 dari 39 perusahaan. Hasil ini juga mengindikasikan adanya inkonsistensi pelaporan keberlanjutan perusahaan pada industri ini. Miscellaneous industry juga memiliki jumlah pelapor yang konstan selama tahun 2012 hingga 2014, yaitu sebanyak 4 Industri ini berpartisipasi sebesar 10,53% di penelitian ini. Pada tahun 2012, dari 41 perusahaan yang terdaftar di BEI, hanya 9,76% yang menerbitkan laporan keberlanjutan, kemudian, pada tahun 2013 terdapat 9,52% dari 42 perusahaan, dan 9,76% dari 41 perusahaan di tahun 2014. Industri property, real estate, dan konstruksi memberikan kontribusi sebesar 9,65% pada penelitian ini. Pada industri ini, dari 50 perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2012, ditemukan bahwa 6% atau 3 perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan. Kemudian, di tahun 2013 terjadi peningkatan yaitu 4 perusahaan atau 7,41% dari 54 perusahaan dan di tahun 2014 ialah Industri terakhir ialah industri perdagangan, jasa, dan investasi yang berkontribusi sebesar 4,35% dalam penelitian ini. Pada tahun 2012, tidak ada perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan, namun pada tahun 2013 meningkat menjadi 2 perusahaan atau 1,87% dari total keseluruhan 107 perusahaan. pada tahun 2014 sebenarnya terdapat 3 perusahaan yang melaporkan laporan keberlanjutan, namun demikian satu perusahaan harus dikeluarkan dari observasi penelitian karena memiliki nilai rasio leverage yang negatif sehingga akan mengganggu hasil regresi, yaitu PT. Bakrie & Brothers Tbk. pada tahun 2014. Nilai negatif tersebut dikarenakan perusahaan memiliki nilai ekuitas yang minus atau disebut dengan defisiensi modal karena kerugian dari penanaman modal yang ditempatkan pada saham. Kemungkinan perusahaan tersebut menerbitkan laporan keberlanjutan untuk menjadi sinyal bagi stakeholders lainnya bahwa meskipun modal Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 mereka defisien, namun mereka memiliki kemungkinan prospek yang baik di masa yang akan datang karena aktivitas bisnis mereka telah sesuai dengan norma yang berlaku dan kesejahteraan sosial serta lingkungan mereka terjaga. Berdasarkan tabel 2 tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun terdapat peningkatan jumlah perusahaan yang terdaftar di BEI setiap tahunnya, namun peningkatan tersebut tidak diiringi oleh peningkatan perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan, bahkan ada yang tidak konsisten dalam penerbitan laporan tersebut setiap tahunnya. GRI Hal ini mengindikasikan bahwa laporan keberlanjutan belum dapat dijadikan media komunikasi yang umum dengan para stakeholders mereka. Pedoman Pelaporan Keberlanjutan Perusahaan Pembahasan selanjutnya ialah mengenai pedoman pelaporan yang digunakan oleh perusahaan untuk mengungkapkan dan melaporkan laporan keberlanjutan mereka. Hasilnya dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini. Tidak Menyebutkan Gambar 2 Acuan Laporan Keberlanjutan Berdasarkan gambar 2, sampel penelitian ini didominasi oleh perusahaan yang menggunakan GRI sebagai acuan laporan keberlanjutan mereka. Lebih spesifik, 93% . menggunakan GRI, sedangkan 7% . lainnya tidak memberikan informasi mengenai acuan laporan keberlanjutan yang mereka gunakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa di Indonesia. GRI dipandang sebagai salah satu pedoman yang komprehensif dan dapat diandalkan untuk memberikan informasi kepada stakeholders mereka. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartawijaya . Hedberg dan Malmborg . juga mengatakan bahwa perusahaan akan berusaha untuk menyesuaikan dengan prinsip yang berlaku umum atau kerangka umum ketika entitas berinisiasi untuk menyajikan suatu laporan, sehingga laporan tersebut dapat menjadi acuan untuk menilai peluang dan risiko serta memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat, baik untuk perusahaan itu sendiri maupun stakeholrders mereka. Hasil tersebut juga mendukung teori stakeholder, perusahaan berusaha untuk menyeimbangkan berbagai konflik antar stakeholders melalui penerbitan laporan keberlanjutan yang terstandardsisasi, relevan dan handal. Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman Kualitas Pengungkapan CSR Tabel 3 memberikan informasi mengenai kualitas pengungkapan CSR ber- dasarkan jenis industri dan per periode Tabel 3 Rata-Rata Kualitas Pengungkapan CSR Rata-rata Total Total Skor (%) OBS Pertanian 65,74 35,29 30,21 52,78 41,18 32,82 56,48 52,94 33,85 QCSR 36,42 38,77 44,21 39,80 N 4 Industri dasar & 85,93 66,47 60,42 76,29 57,45 41,81 72,84 57,84 49,65 Kimia QCSR 66,67 52,21 56,24 58,37 N 3 Industri Barang 92,59 55,88 48,61 59,26 49,02 31,94 Konsumsi QCSR 56,91 41,95 32,95 N 1 Keuangan 53,33 19,61 33,54 58,15 25,78 39,24 51,18 17,02 28,54 QCSR 30,97 36,89 27,07 31,64 N 9 Infrastruktur. Utilitas & 77,78 50,59 53,47 52,59 30,19 38,33 61,48 25,29 33,05 Transportasi QCSR 56,03 37,52 33,71 42,42 N 5 Pertambangan 78,71 62,01 57,12 73,15 54,41 34,46 70,89 47,62 32,72 QCSR 62,45 46,77 43,02 50,75 N 4 Miscellaneous 51,85 37,25 22,22 42,59 33,33 17,01 57,41 23,04 18,75 Industry QCSR 31,46 26,22 24,72 27,47 N 4 Property. Real Estate, & 64,20 30,39 28,70 50,93 10,29 25,87 35,56 11,57 18,47 Construction QCSR 33,58 23,03 17,98 24,86 N 3 Perdagangan, 55,56 44,12 25 51,85 29,90 32,99 Jasa & Investasi QCSR 35,96 34,46 23,47 N 0 Semua OBS 18,97 43,03 62,55 16,39 37,87 50,31 15,98 34,81 46,93 QCSR 124,55 104,57 97,72 40,35 Total OBS Keterangan: Tabel ini merupakan demografi rata-rata kualitas pengungkapan CSR berdasarkan jenis industri, tahun pengamatan, dan kategori CSR. EC merupakan kategori ekonomi. EN merupakan kategori lingkungan, dan SC merupakan kategori sosial. OBS merupakan observasi. Sumber: Data yang diolah Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 Berdasarkan tabel 3, kualitas pengungkapan CSR pada sampel penelitian ini memiliki nilai rata-rata . sebesar 0,4035 . ,35%). Hasil tersebut mengindikasikan bahwa kualitas pengungkapan CSR perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini ialah masih rendah . i bawah 50%). Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa untuk keseluruhan sampel pada penelitian ini, informasi CSR yang terdapat pada laporan keberlanjutan periode 2012 memiliki nilai rata-rata kualitas pengungkapan CSR tertinggi bila dibandingkan dengan tahun lainnya, 2013 dan 2014. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa meskipun jumlah perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, namun demikian peningkatan tersebut tidak diikuti dengan kualitas pelaporan mereka. Berdasarkan hasil analisis dalam tabel 3, dapat dikatakan bahwa peningkatan jumlah pelapor menjadi salah satu penyebab menurunnya nilai rata-rata kualitas pelaporan CSR per tahunnya. Berdasarkan kategori CSR, nilai rata-rata tertinggi ada pada kategori sosial karena dalam kategori ini memiliki jumlah indikator pengungkapan yang paling banyak bila dibandingkan dengan kategori ekonomi . dan lingkungan . , yaitu 48 indikator. Posisi kedua diduduki oleh kategori lingkungan, dan yang terakhir ialah kategori ekonomi. Industri pertanian memiliki tren kualitas pengungkapan CSR yang meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2012, skor kualitas pengungkapan CSR industri ini ialah 36,42%, pada tahun 2013 sebesar 38,77%, dan pada tahun 2014 sebesar 44,21%. Lebih spesifik, terdapat peningkatan kualitas pengungkapan pada kategori lingkungan dan sosial pada setiap tahunnya. Untuk kategori lingkungan, pada tahun 2012 skor kualitas pengungkapannya ialah sebesar 35,29%, tahun 2013 sebesar 41,18%, dan tahun 2014 sebesar 52,94%. Untuk kategori sosial, pada tahun 2012 ialah sebesar 30,21%, pada tahun 2013 ialah sebesar 32,82%, dan 33,85% di tahun 2014. Sementara itu, untuk kategori ekonomi trennya fluktuatif, yaitu menurun di tahun 2013 dan kemudian meningkat pada tahun 2014. Meskipun tidak ada perubahan jumlah perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan, pada tahun 2013 industri dasar dan kimia mengalami penurunan skor kualitas pengungkapan CSR. Nilai skor kualitas pengungkapan CSR pada tahun 2012 ialah sebesar 66,67%, tahun 2013 menurun menjadi 52,21%, dan meningkat lagi ditahun 2014, yaitu 56,24%. Kategori ekonomi memiliki nilai skor yang menurun setiap tahunnya, 85,93% di tahun 2012, 76,29% di tahun 2013, dan 72,84% pada Kategori lingkungan juga meng alami tren yang sama, 66,47% di tahun 2012, 57,45% di tahun 2013, dan 57,84% di tahun Untuk kategori sosial, kualitas pengungkapan CSR mengalami penurunan hanya pada tahun 2013. Tahun 2012 skornya ialah 60,42%, 41,82% pada tahun 2013, dan 49,65% di tahun 2014. Tidak ada perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan pada periode 2013 dalam industri barang konsumsi. Industri ini memiliki tren rata-rata skor kualitas pengungkapan CSR yang menurun selama periode 2012 hingga 2014. Pada tahun 2012, rata-rata skor pengungkapan CSR ialah sebesar 56,91% dengan hanya 1 perusahaan Pada tahun 2014 nilai rata-rata skornya ialah sebesar 41,95%, dengan 2 perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan. Hasil tersebut memberikan bukti bahwa peningkatan jumlah pelapor tidak diikuti oleh peningkatan kualitas pengungkapan dalam laporan keberlanjutan tersebut. Dalam industri ini, kategori ekonomi memiliki rata-rata skor yang paling tinggi bila dibandingkan dengan kategori lingkungan dan sosial setiap tahunnya. Kategori sosial merupakan rata-rata skor yang terendah setiap tahunnya. Pada industri keuangan, ada peningkatan rata-rata skor kualitas pengungkapan CSR di tahun 2013, namun menurun pada Niali rata-rata skor di tahun 2012 ialah sebesar 30,97%, 36,89% di tahun 2013. Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman dan 27,07 di tahun 2014. Dalam industri ini, kategori ekonomi menjadi kategori yang memiliki nilai skor tertinggi bila dibandingkan dengan kategori lingkungan dan sosial di setiap tahunnya. Posisi kedua ialah kategori sosial, dan yang terakhir ialah kategori Rata-rata skor kualitas pengungkapan CSR pada industri infrastuktur, utilitas, dan transportasi mengalami tren menurun di setiap tahunnya. Tahun 2012 nilai rata-rata skornya ialah sebesar 56,03%, kemudian menurun menjadi 37,52% di tahun 2013, dan menurun lagi sebesar 33,71% di tahun 2014. Sama seperti industri keuangan, dalam industri ini, kategori ekonomi menjadi kategori yang memiliki nilai skor tertinggi bila dibandingkan dengan kategori lingkungan dan sosial di setiap tahunnya. Posisi kedua ialah kategori sosial, dan yang terakhir ialah kategori Rata-rata skor kualitas pengungkapan CSR pada industri pertambangan juga mengalami tren menurun di setiap tahunnya. Tahun 2012 nilai rata-rata skornya ialah sebesar 62,45%, kemudian menurun menjadi 46,77% di tahun 2013, dan menurunlagi sebesar 43,02% di tahun 2014. Kategori ekonomi juga menjadi kategori yang memiliki nilai rata-rata skor tertinggi, kemudian diikuti oleh kategori lingkungan, dan yang terakhir ialah kategori sosial. Demografi miscellaneous industry tidak berbeda dengan industri pertambangan. Terdapat penurunan nilai rata-rata skor kualitas pengungkapan CSR setiap tahunnya, yaitu 31,46% di tahun 2012, 26,22% di tahun 2013, dan 24,72% pada tahun 2014. Kategori ekonomi juga menjadi kategori yang memiliki nilai rata-rata skor tertinggi, kemudian diikuti oleh kategori lingkungan, dan yang terakhir ialah kategori sosial. Industri property, real estate dan construction pun mengalami tren nilai skor kualitas pengungkapan CSR yang menurun. Pada tahun 2012 ialah sebesar 33,58%, pada tahun 2013 menurun menjadi 23,03%, padahal terdapat penambahan perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan. Pada tahun 2014 nilai skornya menurun lagi menjadi 17,98% dengan jumlah perusahaan yang konstan. Pada industri ini, kategori ekonomi juga menjadi kategori dengan nilai skor tertinggi. Pada tahun 2012, posisi kedua ialah kategori lingkungan, dan yang terakhir ialah kategori sosial, namun pada tahun 2013 dan 2014, posisi kedua diduduki oleh kategori sosial dan posisi terakhir ialah kategori Tidak ada perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan pada periode 2012 di industri perdagangan, jasa, dan investasi. Industri ini juga mengalami tren penurunan nilai rata-rata skor kualitas pengungkapan CSR setiap tahunnya. Tahun 2013 nilainya ialah 35,96% dan tahun 2014 menurun menjadi 34,46%. Pada industri ini, kategori ekonomi juga menjadi kategori dengan nilai skor tertinggi. Pada tahun 2013, posisi kedua ialah kategori lingkungan, dan yang terakhir ialah kategori sosial, namun pada tahun 2014, posisi kedua diduduki oleh kategori sosial dan posisi terakhir ialah kategori lingkungan. Berdasarkan tabel 3 tersebut, dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata kualitas CSR tertinggi ialah industri dasar dan kimia, yaitu 58,37%. Kemudian diikuti oleh industri pertambangan . ,75%), infrastruktur, utilitas, dan transportasi . ,42%), pertanian . ,80%), industri barang dan konsumsi . ,95%), keuangan . ,64%), miscellaneous industry . ,47%), property, real estate, dan konstruksi . ,86%), dan industri perdagangan, jasa, dan investasi . ,47%). Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara deskriptif, industri high profile memiliki nilai rata-rata kualitas pengungkapan CSR yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan industri lainnya . ow Hasil ini didukung oleh beberapa penelitian yang menemukan bahwa perusahaan yang termasuk pada industri high profile akan berusaha untuk meningkatkan kualitas pengungkapan CSR mereka sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap kondisi lingkungan dan sosial dan untuk mendapatkan legitimasi para pihak yang berkepentingan (Roberts, 1992. Hack- Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 2. Nomor 1. Maret 2018 : 22 Ae 41 ston dan Milne, 1996. Zuhroh dan Sukmawati, 2003. Sayekti, 2. Untuk mengetahui secara spesifik mengenai kualitas pengungkapan CSR, tabel 4 menyajikan informasi mengenai frekuensi jumlah skor yang paling banyak didapat dan yang paling sedikit didapat per kategori CSR dan per tahun Tabel 4 memberikan informasi mengenai frekuensi pengungkapan berdasarkan kategori CSR. ekonomi, lingkungan, dan social per periode pelaporan. Berdasarkan tabel 4, pada tahun 2012, kategori ekonomi didominasi oleh skor 3, kemudian diikuti oleh skor 2, 0, dan 1. Pada kategori lingkungan, skor yang paling sering didapat ialah skor 0, kemudian diikuti oleh skor 3, 2, dan 1. Kemudian, pada kategori sosial, skor 0 ialah yang paling sering di- dapat, kemudian diikuti oleh skor 3, 2, dan 1. Pada tahun 2013, kategori ekonomi paling sering mendapatkan skor 3, kemudian diikuti oleh skor 0, 2, dan 1. Untuk kategori lingkungan, skor yang mendominasi ialah skor 0, selanjutnya ialah skor 3, 2, dan 1. Dalam kategori sosial, skor 0 juga mendominasi, kemudian diikuti oleh skor 3, 2. Yang terakhir ialah pada tahun 2014. Skor yang mendominasi dalam kategori ekonomi ialah skor 3, selanjutnya diikuti oleh skor 3, 2, dan 1. Dalam kategori lingkungan, skor 0 menjadi skor yang paling sering didapat, kemudian diikuti oleh skor 3, 2, dan Untuk kategori sosial, skor 0 merupakan skor yang mendominasi, kemudian diikuti oleh skor 3, 2, dan 1. Tabel 4 Frekuensi Skor Pengungkapan CSR Frekuensi Skor TOTAL Tahun 2012 Ekonomi Lingkungan Sosial Tahun 2013 Ekonomi Lingkungan Sosial Tahun 2014 Ekonomi Lingkungan Sosial TOTAL Keterangan: Tabel ini menyajikan frekuensi nilai skor 0, 1, 2, dan 3 yang didapat per tahun dan per kategori pengungkapan CSR. Secara keseluruhan, terdapat 374 amatan . observasi y91 indikator pengungkapa. Sumber: Data yang diolah Berdasarkan tabel 4, dapat dikatakan bahwa skor yang paling sedikit ialah skor 1, yaitu pernyataan singkat mengenai pengungkapan indikator CSR. Berbeda dari hasil penelitian Sen et al. di India, bila dibandingkan antara skor 2 dan 3, penelitian ini menemukan bahwa skor 3 ialah lebih banyak daripada skor 2. Hasil ini mengindikasikan bahwa di Indonesia, informasi mengenai penjelasan secara kualitatif dan kuantitatif lebih banyak bila dibandingkan dengan pengungkapan informasi secara kualitatif saja. Hasil ini juga senada dengan penelitian yang dilakukan Fatima et al. Pengujian Terhadap Kualitas Pengungkapan CSR . Ae Anggraeni. Djakman di Malaysia, namun demikian skor 0 masih mendominasi, yang berarti masih rendahnya informasi yang diungkapkan oleh sampel perusahaan dalam penelitian ini. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kualitas pengungkapan laporan tanggung jawab sosial pada perusahaan yang terdaftar di BEI dan menerbitkan laporan keberlanjutan . ustainability repor. pada periode 2012-2014. Berdasarkan analisis sampel, perusahaan yang menerbitkan laporan keberlanjutan meningkat dari tahun 2012-2014 dan didominasi oleh industri keuangan, namun demikian, peningkatan tersebut tidak diiringi dengan peningkatan kualitas pengungkapan CSR. Berdasarkan analisis konten yang dilakukan dalam penelitian ini, nilai skor 0 ialah yang paling dominan, artinya tingkat pengungkapan informasi CSR perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini ialah masih rendah, namun demikian, ditemukan bahwa lebih banyak informasi yang menyajikan informasi secara kualitatif dan kuantitatif daripada kualitatif saja. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu masih rendahnya jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian karena hanya menggunakan perusahaan yang terdaftar di BEI dan menerbitkan laporan keberlanjutan selama periode 20122014 saja, sehingga membatasi generalisasi hasil penelitian. Penelitian ini juga hanya menggunakan laporan keberlanjutan dan tahunan perusahaan untuk menganalisis kualitas informasi CSR yang diungkapkan Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperpanjang periode pengamatan sehingga dapat menghasilkan sampel yang lebih banyak dan menggunakan sumber informasi CSR lainnya seperti website perusahaan atau berita-berita di media cetak dan elektronik mengenai aktivitas perusahaan dalam melakukan kebijakan yang mendukung kesejahteraan sosial dan lingkungan. DAFTAR PUSTAKA