Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 KETERAMPILAN MENULIS EKSPOSISI MURID MADRASAH ALIYAH BERDASARKAN ARGUMEN TEORI TOULMIN SERTA IMPLIKASI PEMBELAJARANNYA Anandi1. Budiyono2 12Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Semarang Semarang. Indonesia maulidiarahmaniaa@students. id, 2hermanbudiyono61@mail. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas argumentasi dalam teks eksposisi murid kelas X Madrasah Aliyah Al Asror serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran menulis. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Subjek ditentukan melalui teknik purposive sampling, yaitu murid kelas X A dan X B yang telah mempelajari teks eksposisi. Data penelitian berupa 65 teks eksposisi sebagai sumber utama, dilengkapi wawancara guru untuk memperkuat interpretasi temuan. Analisis mengacu pada model argumentasi Toulmin yang meliputi claim, grounds, warrant, backing, qualifier, dan rebuttal melalui tahap pengodean dan klasifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks murid umumnya telah memuat claim dan grounds, namun kualitas argumentasi masih tergolong Claim cenderung umum dan kurang kontekstual, sementara grounds lebih banyak berupa opini daripada data empiris. Komponen warrant umumnya bersifat implisit sehingga hubungan logis antar gagasan kurang terjelaskan. Rendahnya kemunculan backing, qualifier, dan rebuttal menunjukkan bahwa penalaran argumentatif murid belum berkembang secara optimal. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pembelajaran yang secara sistematis mengembangkan penalaran argumentatif agar selaras dengan tuntutan Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia fase E dalam Kurikulum Merdeka. Kata kunci: Implikasi Pembelajaran. Menulis Eksposis. Teori Toulmin Abstract This study aims to analyze the quality of argumentation in expository texts of grade X students of Madrasah Aliyah Al Asror and examine its implications for writing learning. The study used a qualitative descriptive approach with a content analysis method. Subjects were determined through a purposive sampling technique, namely grade X A and X B students who had studied expository texts. The research data consisted of 65 expository texts as the main source, supplemented by teacher interviews to strengthen the interpretation of the findings. The analysis refers to the Toulmin argumentation model which includes claims, grounds, warrants, backings, modal qualifiers, and rebuttals through data coding and classification The results showed that students' texts generally contained claims and grounds, but the quality of the argumentation was still relatively simple. Claims tended to be general and less contextual, while grounds were more in the form of opinions than empirical data. The warrant component was generally implicit so that the logical relationship between ideas was less explained. The low occurrence of backings, qualifiers, and rebuttals indicated that students' argumentative reasoning had not developed optimally. These findings imply the need for learning that systematically develops argumentative reasoning to align with the demands of Phase E of the Indonesian Language Learning Outcomes in the Independent Curriculum. Keywords: Learning Implications. Expository Writing. Toulmin's Theory Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 PENDAHULUAN Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib dalam sistem pendidikan nasional yang memiliki peran strategis dalam mengembangkan kompetensi berbahasa murid sebagai fondasi utama komunikasi, baik secara lisan maupun tulis. Seperti halnya dengan mata pelajaran lain. Bahasa Indonesia memiliki standar kompetensi yang beragam, sesuai dengan tingkatan jenjang pendidikan. Standar tersebut idealnya mencakup empat keterampilan Keterampilan berbahasa adalah kemampuan individu dalam menggunakan bahasa secara efektif sebagai sarana menerima dan menyampaikan informasi kepada orang lain (Tarigan et al. , 2. Empat keterampilan berbahasa meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, yang masing-masing saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan dalam proses penguasaan bahasa. Penguasaan keempat keterampilan berbahasa tersebut berkembang melalui tahapan yang berkesinambungan, dimulai dari keterampilan menyimak, diikuti berbicara, kemudian membaca, dan berpuncak pada keterampilan menulis (Rinawati, 2. Di antara empat keterampilan berbahasa, keterampilan menulis menempati posisi yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa. Keterampilan menulis merupakan aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa (Nurgiyantoro dalam Qodaria et al. , 2. Keterampilan menulis juga merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang bersifat produktif dan kompleks. Dalam keterampilan menulis mencakup kemampuan dalam menyusun gagasan secara sistematis, menguasai kaidah kebahasaan seperti tata bahasa dan sintaksis, serta menggunakan kosakata secara tepat dan Selain itu, keterampilan menulis menuntut keterpaduan antar gagasan agar informasi yang disampaikan dapat dipahami secara menyeluruh oleh pembaca. Menulis bukan hanya sekadar aktivitas menuangkan ide, melainkan sarana penting untuk melatih keterampilan berpikir kritis, logis, dan sistematis. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan menulis menjadi aspek yang sangat esensial bagi murid dalam menunjang keberhasilan komunikasi akademik maupun Teks eksposisi merupakan materi pokok dalam pembelajaran bahasa Indonesia, tepatnya pada kelas X kurikulum merdeka. Teks eksposisi didefinisikan sebagai teks yang memuat pandangan, gagasan, atau pendapat yang disertai argumentasi serta didukung oleh fakta-fakta yang relevan. Sejalan dengan itu. Maelasari . , menjelaskan bahwa teks eksposisi merupakan jenis tulisan yang berisi pemikiran penulis dalam bentuk penjelasan atau uraian mengenai suatu ide dengan tujuan menyampaikan informasi secara jelas kepada pembaca. Teks eksposisi diajarkan dengan fokus pada kemampuan murid untuk menyampaikan gagasan secara sistematis dan berdasarkan argumen yang rasional. Teks eksposisi memiliki tiga struktur yang terdiri dari tesis, rangkaian argumen, dan penegasan ulang. Pada bagian tesis berisi pendapat umum mengenai masalah atau pendapat utama yang akan dibuktikan. Rangkaian argumen berisi alasan, data, atau fakta yang mendukung tesis agar menjadi lebih meyakinkan. Adapun penegasan ulang merupakan bagian akhir yang menekankan kembali posisi atau pendapat penulis berdasarkan argumen yang telah diuraikan sebelumnya. Struktur ini menuntut murid untuk berpikir sistematis, menyusun alasan secara logis, serta menghubungkannya dengan bukti yang kuat. Pembelajaran menulis teks eksposisi dalam penelitian ini selaras dengan Capaian Pembelajaran (CP) Bahasa Indonesia fase E. CP tersebut menuntut murid untuk mampu menulis gagasan, pandangan, arahan, pesan, dan imajinasi dalam berbagai tipe teks secara logis. Untuk menunjang ketercapaian CP tersebut, tujuan pembelajaran diarahkan pada kegiatan menulis teks eksposisi berbasis penelitian sederhana, sehingga peserta murid dilatih untuk mengumpulkan data, mengolah informasi, serta menyusun argumen secara sistematis. Namun, dalam praktiknya, sering kali murid menghadapi tantangan dalam menyusun argumen yang utuh dan logis. Banyak di antara mereka masih cenderung hanya menyampaikan claim tanpa adanya data, alasan, atau penguat argumen yang memadai. Bahkan sering kali ditemukan argumen yang disajikan tidak koheren sehingga sulit dipahami dan kurang meyakinkan pembaca. Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan berpikir kritis dan logis dalam penulisan teks eksposisi oleh murid perlu dilakukan. Situasi tersebut juga mengindikasikan adanya celah Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 dalam pemahaman murid terkait penyusunan struktur argumen yang efektif, khususnya dalam menghubungkan tesis, rangkaian argumen, dan penegasan ulang secara runtut dan konsisten. Fenomena tersebut juga terjadi secara nyata pada murid kelas X MA Al Asror. Berdasarkan pengamatan awal, ditemukan masih banyak murid yang belum memenuhi standar kelengkapan dan kualitas argumen sebagaimana yang diharapkan pada CP. Misalnya, terdapat murid yang hanya sekadar menuliskan pendapat tanpa disertai dengan bukti faktual, atau menyajikan argumen yang bersifat repetitif tanpa adanya penalaran baru yang memperkuat tesis. Selain itu, sejumlah tulisan memperlihatkan kelemahan dalam mengorganisasi ide, sehingga alur berpikir yang ditampilkan kurang runtut dan sulit untuk dipahami pembaca. Fenomena tersebut perlu menjadi perhatian penting, karena kemampuan menulis teks eksposisi tidak sekadar berkaitan dengan keterampilan berbahasa saja, akan tetapi erat kaitannya dengan kemampuan lain seperti berpikir kritis, analisis, dan juga sistematis. Apabila kondisi tersebut tidak segera diatasi, pencapaian tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada aspek keterampilan menulis, berpotensi tidak tercapai secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengidentifikasi secara lebih mendalam kelemahan murid dalam menyusun argumen sebagai dasar perumusan strategi pembelajaran yang tepat dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen serta kualitas argumentasi dalam teks eksposisi murid kelas X MA Al Asror berdasarkan Teori Toulmin, dengan menempatkan argumentasi sebagai unsur pembangun dalam struktur teks eksposisi, serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran menulis teks eksposisi. Penelitian ini penting dilakukan karena dengan menggunakan Teori Argumen Toulmin, penelitian ini dapat memberikan gambaran yang mendalam mengenai kualitas argumen murid, sekaligus menyoroti bagian mana yang masih lemah dan perlu untuk diperbaiki. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan mampu memperluas wawasan keilmuan mengenai keterampilan menulis serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini juga dapat membantu murid untuk memahami cara menyusun argumen yang runtut, logis, dan berbasis data. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru untuk merancang metode pembelajaran yang lebih efektif serta berfungsi sebagai dasar evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis dan pengembangan kurikulum. Dengan demikian penelitian ini tidak sekadar berhenti pada identifikasi masalah, akan tetapi juga dapat menawarkan solusi nyata dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan menulis murid sesuai tuntutan kompetensi abad ke-21. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti menggunakan teori argumentasi yang dikembangkan oleh Stephen Toulmin. Toulmin, merupakan seorang filsuf asal Inggris, dikenal sebagai perintis model argumen yang dianggap efektif dalam menganalisis struktur dan kekuatan sebuah argumen. Dalam karyanya The Uses of Argument (Toulmin, 2. Toulmin mengemukakan suatu kerangka analisis yang sistematis untuk menilai kualitas argumen dalam suatu proses komunikasi. Menurutnya, argumen yang meyakinkan tidak cukup hanya bertumpu pada pendapat pribadi, melainkan perlu dilandasi oleh elemen logis yang saling mendukung sehingga menghasilkan daya persuasif yang kuat dan dapat dipercaya. Toulmin juga menjelaskan bahwa sebuah argumen tersusun atas enam komponen utama yaitu claim, ground, warrant, backing, rebuttal, dan modal qualifiers. Kualitas yang lebih baik atau komprehensif pada sebuah argumen dapat diuji dengan menggunakan model Toulmin yang tidak hanya tertuju pada analisis kebenaran isi atau fakta akan tetapi juga menelaah terkait antar-claim, data, dan Hal tersebut akan berdampak pada kompleksitas argumen yang tidak hanya fokus pada telaah sebuah pernyataan dan fakta, namun juga keterpaduan logika atau rasionalitas dan cara berpikir kritis dalam membentuk sebuah argumen dalam pembuatan teks eksposisi. Dalam teks eksposisi sebuah argumen dibutuhkan untuk menyampaikan informasi serta meyakinkan pembaca terkait suatu hal yang akan diangkat atau dibahas. Dengan demikian, model Toulmin ini dirasa cukup relevan dengan karakteristik teks eksposisi agar dapat memberikan suatu gagasan yang logis atau rasional dan faktual. Dalam model Toulmin terdapat enam komponen yang dapat digunakan sebagai kerangka analisis untuk mengidentifikasi dan menilai keutuhan argumen atau gagasan yang dikemukakan murid dalam teks eksposisi. Melalui Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 kerangka ini, peneliti dapat menilai sejauh mana murid mampu menyusun teks eksposisi yang runtut, mendalam, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pola berpikir kritis pada murid ini dapat ditingkatkan melalui pembelajaran teks eksposisi, dengan adanya tambahan model Toulmin murid tidak hanya diminta untuk mengungkapkan sebuah gagasan namun juga diajarkan memberikan alasan terkait faktor yang melatar belakangi argumen atau gagasannya, fakta dan juga mempertimbangkan adanya sudut pandang lain terhadap suatu objek. Hal tersebut yang menjadi alasan utama penelitian ini harus dilakukan dengan Model Toulmin. Berdasarkan hasil penelusuran sebelumnya, terdapat berbagai penelitian yang telah mengkaji kemampuan argumentasi dan menulis teks eksposisi murid dari berbagai perspektif. Penelitian yang dilakukan oleh Islamiyah et al. , . , mendeskripsikan kemampuan argumentasi murid berdasarkan ToulminAos Argument Pattern (TAP) dan menemukan bahwa sebagian besar murid berada pada kategori sedang dengan dominasi pada komponen claim dan data, sedangkan qualifier dan rebuttal masih rendah. Sementara itu. Suartha et al. , . mengidentifikasi pola argumen Toulmin dalam pembelajaran IPA dan menemukan bahwa argumentasi murid cenderung berada pada pola claimAeground dengan kategori lemah, sementara pola yang lebih lengkap seperti claimAegroundAewarrant masih terbatas. Hapid & Helendra . , juga menemukan bahwa kemampuan argumentasi ilmiah murid MA berada pada kategori sedang hingga rendah, terutama pada komponen warrant dan rebuttal, yang menunjukkan lemahnya aspek penalaran tingkat lanjut. Temuan-temuan tersebut secara umum menunjukkan bahwa murid cenderung mampu menyampaikan pernyataan dan alasan, tetapi belum konsisten dalam membangun argumentasi yang lengkap dan terstruktur. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Ajeng et al. , . , penelitian tersebut mengkaji penerapan Pola Argumentasi Toulmin (PAT) dalam pembelajaran teks eksposisi dan menemukan bahwa penggunaan model tersebut secara signifikan meningkatkan kemampuan menulis argumentatif murid berdasarkan hasil perbandingan nilai pretest dan posttest. Temuan ini menunjukkan bahwa kerangka Toulmin efektif diintegrasikan dalam pembelajaran menulis. Selain itu. Bahri et al. , . , mengembangkan instrumen penilaian berbasis Toulmin yang dinyatakan valid dan layak digunakan untuk mengukur kemampuan argumentasi murid. Temuantemuan tersebut menunjukkan bahwa analisis berbasis Toulmin efektif untuk memetakan kemampuan argumentatif murid. Namun, penelitian terdahulu umumnya berfokus pada deskripsi tingkat kemampuan, efektivitas model pembelajaran, atau pengembangan instrumen evaluasi, serta belum secara khusus menganalisis kualitas dan keterpaduan hubungan antar komponen argumentasi Toulmin dalam teks eksposisi sebagai produk pembelajaran Bahasa Indonesia. Di sisi lain, penelitian mengenai pembelajaran menulis teks eksposisi juga telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Penelitian oleh Hikmah . , menghasilkan instrumen asesmen berbasis rubrik yang valid dan reliabel untuk menilai proses dan produk tulisan eksposisi secara komprehensif. Penelitian juga dilakukan oleh (Putri et al. , 2. , membuktikan bahwa Problem Based Learning dengan media gambar efektif meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi siswa SMA. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Maelasari . menemukan bahwa penggunaan mind mapping membantu murid mengembangkan dan mengorganisasi gagasan sehingga tulisan lebih sistematis dan logis, sedangkan Wulandari et , . menunjukkan Project Based Learning dengan pendekatan saintifik meningkatkan kemampuan menulis eksposisi dari aspek struktur, bahasa, dan mekanik. Temuan-temuan tersebut menegaskan bahwa peningkatan kemampuan menulis eksposisi dapat dicapai melalui strategi pembelajaran yang tepat. Namun, penelitian-penelitian tersebut lebih berfokus pada efektivitas model pembelajaran dan pengembangan instrumen evaluasi, serta belum secara khusus menganalisis kualitas dan keterpaduan komponen argumentasi dalam teks eksposisi berdasarkan kerangka Toulmin. Oleh karena itu, penelitian ini melangkah lebih lanjut dengan menelaah komponen dan kualitas unsur argumentasi Toulmin dalam teks eksposisi murid MA serta mengaitkannya dengan implikasi pembelajaran menulis eksposisi. Kebaruan penelitian ini tampak pada integrasi kajian argumentasi Toulmin dengan konteks pembelajaran teks eksposisi Bahasa Indonesia secara spesifik dan mendalam. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi . ontent analysi. , yaitu teknik pengolahan data yang digunakaan dalam menelaah isi pesan dalam bentuk teks, tuturan melalui proses pengkategorian yang didasarkan pada indikator tertentu (Sumarno, 2. Pendekatan ini digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kualitas argumentasi dalam teks eksposisi murid secara sistematis melalui proses identifikasi, pengodean, pengklasifikasian, dan interpretasi data berdasarkan indikator yang telah ditetapkan. Penelitian dilaksanakan di Madrasah Aliyah Al Asror pada semester ganjil Tahun Ajaran 2025/2026. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan subjek berdasarkan pertimbangan kesesuaian dengan tujuan penelitian. Kelas X A dan X B dipilih karena berada pada peminatan yang sama, telah memperoleh materi penulisan teks eksposisi, menghasilkan teks eksposisi yang disusun berdasarkan hasil penelitian sederhana sebagai bagian dari kegiatan penilaian formatif. Data penelitian berupa satuan-satuan tekstual dalam teks eksposisi murid. Sampel data berjumlah 65 teks yang memenuhi kriteria: . memiliki struktur lengkap, yaitu tesis, rangkaian argumen, dan penegasan ulang. ditulis secara individual. memuat unsur argumentasi minimal berupa claim dan grounds. layak secara komunikatif untuk dianalisis. Teks yang tidak memenuhi kriteria tersebut tidak disertakan dalam analisis. Data dikumpulkan melalui tes menulis sebagai sumber utama, dokumentasi untuk memastikan keaslian dan kelengkapan teks, serta wawancara dengan guru Bahasa Indonesia sebagai data pendukung untuk memahami konteks pembelajaran. Instrumen analisis disusun berdasarkan enam komponen model argumentasi Toulmin . , yaitu claim, grounds, warrant, backing, modal qualifier, dan rebuttal, sebagai dasar untuk menilai komponen argumentasi Toulmin serta menilai kualitas argumen berdasarkan kelengkapan dan keterpaduan hubungan antar komponen dalam teks eksposisi murid. Prosedur analisis data dilakukan secara bertahap dan sistematis. Tahap pertama adalah seleksi data, yaitu memilih teks yang memenuhi kriteria sebagai teks eksposisi sesuai dengan indikator penelitian. Tahap kedua adalah penentuan satuan analisis, yakni mengidentifikasi kalimat atau paragraf yang memuat unsur argumentasi untuk dijadikan unit analisis. Tahap ketiga adalah pengodean, yaitu memberi tanda atau kode pada setiap satuan teks berdasarkan enam komponen argumentasi Toulmin. Tahap keempat adalah pengelompokan data, yaitu mengelompokkan temuan berdasarkan tingkat kelengkapan dan keterpaduan hubungan antar komponen untuk menilai kualitas argumentasi. Tahap kelima adalah penafsiran data, yaitu menjelaskan pola argumentasi yang ditemukan dalam teks. Tahap terakhir adalah penarikan simpulan, yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan implikasi bagi pengembangan pembelajaran menulis teks eksposisi di Madrasah Aliyah Al Asror. Keabsahan data dalam penelitian ini dipastikan melalui teknik triangulasi guna meningkatkan kredibilitas temuan. Triangulasi dilakukan melalui triangulasi sumber dan metode, yaitu dengan membandingkan hasil analisis teks eksposisi murid dengan informasi yang diperoleh dari wawancara guru Bahasa Indonesia, serta mencocokkan data hasil tes menulis dengan dokumentasi tulisan murid untuk memastikan kesesuaian dan keaslian data (Mekarisce. Selain itu, dilakukan pengecekan ulang terhadap proses pengodean komponen argumentasi Toulmin secara berulang untuk menjaga konsistensi dan ketepatan interpretasi. Data yang telah diverifikasi kemudian digunakan sebagai dasar penarikan simpulan dan perumusan implikasi bagi pengembangan pembelajaran menulis teks eksposisi di Madrasah Aliyah Al Asror. HASIL DAN PEMBAHASAN Komponen Argumentasi dalam Teks Eksposisi Murid Data penelitian terdiri dari 65 teks eksposisi karya murid kelas X A dan X B MA Al Asror pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap teks dianalisis menggunakan model argumentasi Toulmin yang mencakup enam komponen yaitu claim, grounds, warrant, backing, qualifier, dan Model ini digunakan untuk menganalisis komponen argumentasi serta menilai kualitas Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 penalaran murid dalam menulis teks eksposisi. Tahap analisis pertama difokuskan pada identifikasi kemunculan dan kelengkapan komponen argumentasi Toulmin dalam teks eksposisi Distribusi komponen argumentasi tersebut disajikan pada tabel 1. Tabel 1. Distribusi Komponen Argumen Toulmin dalam Teks Eksposisi . = . Komponen Frekuensi Persentase Claim Grounds 98,46% Warrant 98,46% Backing 32,30% Qualifier 33,84% Rebuttal 4,61% Claim merupakan pernyataan pendapat atau argumentasi yang disampaikan secara jelas. Kemunculan claim pada seluruh teks menunjukan bahwa murid telah mampu menyampaikan pendapat mengenai isu yang diangkat. Namun demikian, kemampuan tersebut masih berada pada tingkat dasar. Claim yang dituliskan murid cenderung bersifat singkat, umum, dan belum sepenuhnya menggambarkan kedalaman posisi argumentatif. Sebagian besar claim hanya berupa pernyataan satu kalimat tanpa elaborasi konteks, batasan masalah, maupun penjelasan mengenai urgensi isu. Pola ini menunjukkan bahwa murid baru sampai pada tahap menyatakan pendapat, tetapi belum pada tahap memperkuat pendapat atau mengonstruksi posisi argumentatif yang kokoh. Dengan kata lain, kemunculan claim yang konsisten menunjukkan adanya kemampuan awal dalam berargumentasi, namun kompleksitas dan kualitas penyampaiannya masih perlu dikembangkan. Grounds merupakan fakta, alasan, atau bukti yang mendukung claim. Frekuensi kemunculan grounds yang tinggi . ,46%) menunjukkan bahwa sebagian besar murid mampu memberikan alasan untuk memperkuat pendapat yang disampaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa murid telah memahami bahwa sebuah claim tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan Namun demikian, kualitas grounds yang diberikan masih berada pada tingkat Berdasarkan hasil analisis, alasan yang digunakan murid dalam mendukung claim umumnya berupa opini umum, contoh situasional, atau narasi pengalaman pribadi, bukan berupa evidensi yang kuat atau berbasis data. Warrant merupakan penghubung logis antara alasan dan Claim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warrant pada teks murid mayoritas bersifat implisit, yaitu tidak dinyatakan secara jelas dalam bentuk penalaran atau penjelasan. Kondisi ini sejalan dengan karakteristik penulis pemula yang cenderung menganggap bahwa hubungan logis antara claim dan alasan yang diberikan sudah dapat dipahami oleh pembaca tanpa perlu dijelaskan secara eksplisit. Kecenderungan ini menyebabkan argumen tampak bergerak secara inferensial, tetapi tanpa dukungan penjelasan. Backing merupakan penguatan jaminan berupa contoh, teori, atau penjelasan tambahan. Rendahnya kemunculan backing . ,30%) mengindikasikan bahwa murid jarang mengaitkan argumennya dengan data empiris, teori, ataupun pendapat ahli. Dalam kerangka Toulmin, backing memiliki fungsi penting sebagai penopang legitimasi warrant. Ketiadaan komponen ini berimplikasi pada rendahnya kekuatan epistemik argumen yang dihasilkan. Qualifier merupakan komponen argumentatif yang digunakan untuk membatasi, memodifikasi, atau mengurangi tingkat kepastian seorang penulis terhadap claim yang diajukan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa qualifier muncul pada 33,84% teks. Kemunculan qualifier ditandai melalui penggunaan penanda linguistik seperti AuumumnyaAy. Ausebagian besarAy. AucenderungAy, atau AudapatAy yang berfungsi mengindikasikan bahwa claim yang dikemukakan tidak bersifat absolut. Rebuttal merupakan komponen yang mengindikasikan kemampuan penulis dalam mempertimbangkan kemungkinan sanggahan atau pengecualian terhadap claim yang diajukan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rebuttal merupakan komponen dengan frekuensi Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 kemunculan paling rendah, yaitu hanya muncul pada 4,46% teks murid. Minimnya kemunculan rebuttal menunjukkan bahwa sebagian besar murid belum mempertimbangkan keberadaan perspektif alternatif ataupun kemungkinan keterbatasan dari claim yang mereka sampaikan. Dalam penelitian ini, kualitas argumen diklasifikasikan berdasarkan kelengkapan dan keterpaduan komponen argumentasi dalam kerangka Toulmin. Kategori argumentasi dasar, berkembang, dan lengkap disusun dengan mempertimbangkan kemunculan serta fungsi komponen claim, grounds, warrant, backing, qualifier, dan rebuttal dalam teks eksposisi murid. Hasil klasifikasi kualitas argumentasi tersebut disajikan pada tabel 2. Tabel 2. Kategori Kualitas Argumentasi Teks Eksposisi Murid Kategori Argumentasi Kriteria Utama Jumlah Teks Argumentasi Dasar Memuat claim dan grounds. cenderung implisit. backing, qualifier, dan rebuttal belum muncul secara memadai Argumentasi Memuat claim, grounds, dan warrant. Berkembang backing sudah muncul namun terbatas. qualifier dan rebuttal masih jarang Argumentasi Lengkap Memuat claim, grounds, warrant, serta didukung backing yang relevan dan disertai qualifier atau rebuttal Berdasarkan tabel 2, mengindikasikan bahwa kemampuan murid kelas X MA Al Asror, dalam menulis teks eksposisi masih berada pada tingkat dasar. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar teks telah memuat claim dan grounds, namun belum diikuti oleh pengembangan penalaran yang lebih lanjut melalui kehadiran komponen argumentasi tingkat lanjut. Kategori argumentasi berkembang hanya mencakup sebagian teks, yang mengindikasikan bahwa meskipun warrant dan backing mulai dimunculkan, keterpaduan antar komponen masih belum Sementara itu, kategori argumentasi lengkap hanya ditemukan pada sejumlah kecil teks, yang mencerminkan bahwa penggunaan qualifier dan rebuttal sebagai penanda kematangan berpikir kritis masih sangat terbatas. Temuan ini mempertegas bahwa kualitas argumen murid secara umum masih berada pada tingkat dasar dan memerlukan penguatan pembelajaran yang berfokus pada pengembangan penalaran argumentatif secara sistematis. Kondisi demikian menunjukan bahwa pembelajaran menulis di sekolah perlu dikembangkan tidak hanya kemampuan menyatakan pendapat, tetapi juga kemampuan memberikan pembenaran dan pertimbangan alternatif dalam berargumentasi. Selain itu, tulisan murid yang cenderung cukup singkat dan kurang terelaborasi menunjukkan bahwa pembelajaran perlu memberikan perhatian pada pengembangan gagasan agar argumen dapat tersaji secara utuh dan komprehensif. Pola argumentasi yang masih sederhana dalam teks eksposisi murid juga dapat dipahami sebagai karakteristik penulis pemula. Murid cenderung berasumsi bahwa hubungan antara pendapat dan alasan sudah cukup jelas bagi pembaca, sehingga tidak merasa perlu menjelaskan penalaran secara eksplisit maupun menyertakan data pendukung. Akibatnya, komponen warrant dan backing sering kali tidak dimunculkan secara sadar. Temuan ini menunjukkan bahwa keterbatasan argumentasi murid tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya kemampuan menulis, tetapi juga oleh belum berkembangnya kesadaran metakognitif dalam berargumentasi. Untuk memperjelas temuan penelitian, berikut disajikan satu contoh analisis struktur argumen teks eksposisi murid berdasarkan Teori Toulmin. Salah satu teks memuat pernyataan AuSampah di Indonesia merupakan permasalahan serius yang perlu segera ditangani. Ay Pernyataan tersebut berfungsi sebagai claim karena menunjukkan posisi murid terhadap isu yang dibahas. Namun, claim tersebut disampaikan secara singkat dan masih bersifat umum tanpa pembatasan konteks maupun penjelasan urgensi masalah secara lebih spesifik. Alasan yang dikemukakan murid, yaitu Aubanyak masyarakat yang masih membuang sampah Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 sembarangan sehingga lingkungan menjadi kotorAy berperan sebagai grounds yang mendukung claim, tetapi masih berupa pernyataan umum dan belum didukung oleh data empiris atau rujukan Hubungan logis antara claim dan grounds tidak dijelaskan secara eksplisit, sehingga warrant bersifat implisit dan mengharuskan pembaca menyimpulkan sendiri keterkaitan antara perilaku masyarakat dan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Selain itu, teks tidak memuat backing berupa data hasil penelitian, statistik, atau pendapat ahli yang dapat memperkuat alasan yang diajukan. Murid juga tidak menggunakan qualifier untuk membatasi tingkat kepastian claim, sehingga pernyataan disampaikan secara absolut, serta tidak menunjukkan adanya rebuttal sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan sudut pandang alternatif. Contoh ini menunjukkan bahwa argumen yang disusun murid telah memenuhi struktur dasar argumentasi, namun belum mencerminkan konstruksi argumen yang lengkap, logis, dan koheren sebagaimana dituntut dalam penulisan teks eksposisi berbasis penalaran akademik. Untuk memperkaya pemahaman terhadap pola argumentasi murid, disajikan contoh lain dari teks eksposisi dengan topik berbeda. Salah satu teks memuat pernyataan AuPenggunaan media sosial dapat memberikan dampak negatif bagi pelajar. Ay Pernyataan tersebut berfungsi sebagai claim karena menyatakan posisi murid terhadap isu yang dibahas. Namun, claim tersebut masih disampaikan secara umum dan belum disertai batasan ruang lingkup, misalnya jenis media sosial atau bentuk dampak yang dimaksud. Untuk mendukung claim tersebut, murid menyampaikan alasan Aupelajar menjadi kecanduan dan sering mengabaikan tugas sekolah,Ay yang berperan sebagai grounds. Meskipun relevan, grounds tersebut masih bersifat opini umum dan belum didukung oleh data empiris, hasil penelitian, maupun rujukan teoretis. Hubungan logis antara claim dan grounds tidak dijelaskan secara eksplisit, sehingga warrant bersifat implisit dan mengharuskan pembaca menyimpulkan sendiri keterkaitan antara penggunaan media sosial dan penurunan kedisiplinan belajar. Selain itu, teks tidak menunjukkan adanya backing yang dapat memperkuat alasan, tidak menggunakan qualifier untuk membatasi tingkat kepastian claim, serta tidak memuat rebuttal sebagai bentuk antisipasi terhadap pandangan alternatif, misalnya manfaat media sosial dalam pembelajaran. Contoh ini kembali menegaskan bahwa argumen murid masih didominasi oleh komponen dasar dan belum berkembang menjadi struktur argumentasi yang lengkap dan berimbang sesuai dengan kaidah penalaran akademik dalam teks Kondisi tersebut selaras dengan hasil wawancara guru yang mengindikasikan bahwa sebagian murid telah berupaya memasukan temuan atau data dari penelitian ke dalam teks, akan tetapi sebagian besar belum menampilkan pemanfaatan data secara memadai. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya kebiasaan membaca murid terhadap sumber relevan yang dapat dijadikan acuan pendukung dalam penulisan teks eksposisi. Guru juga mengkonfirmasi bahwa terdapat variasi kemampuan murid dalam mengolah dan menyajikan data ke dalam bentuk Sebagian murid mampu melakukannya dengan cukup baik, tetapi sebagian lainnya mengalami kesulitan karena keterampilan membaca dan memahami isi teks belum terlatih secara optimal. Meskipun murid dapat memahami isi suatu bacaan atau fenomena secara lisan, kemampuan untuk merekonstruksi informasi tersebut ke dalam bentuk tulisan ilmiah yang runtut memerlukan latihan lebih lanjut. Guru juga mengidentifikasi bahwa teks murid cenderung singkat dan kurang terelaborasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh budaya membaca dan konsumsi informasi yang bersifat instan, terutama melalui media audiovisual seperti video pendek yang banyak dikonsumsi oleh generasi Pola tersebut berdampak pada kecenderungan murid menghindari proses kognitif yang memerlukan elaborasi, analisis, dan pengembangan ide secara mendalam. Guru menegaskan bahwa kualitas tulisan yang baik selalu berbanding lurus dengan frekuensi membaca dan paparan murid terhadap ragam teks sehingga latihan membaca dan menulis perlu diintegrasikan secara berkesinambungan dalam pembelajaran. Guru menyatakan perlunya peningkatan intensitas kegiatan membaca teks model, penguasaan struktur teks eksposisi, serta pengetahuan mengenai kaidah kebahasaan formal. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan argumentasi murid dan tuntutan pembelajaran menulis teks eksposisi sebagaimana dirumuskan dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia fase E. Secara normatif, murid diharapkan mampu menyusun teks eksposisi berbasis data dengan penalaran yang kritis dan logis. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa argumentasi murid masih didominasi oleh pernyataan pendapat dan alasan sederhana yang belum terintegrasi dengan data empiris maupun penalaran eksplisit. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran menulis teks eksposisi di kelas belum sepenuhnya mendorong murid untuk memanfaatkan hasil pengamatan, data faktual, atau sumber rujukan sebagai dasar argumentasi. Dengan demikian, temuan ini mempertegas perlunya penguatan pembelajaran yang secara sadar menargetkan pengembangan komponen argumentasi tingkat lanjut agar kemampuan menulis murid selaras dengan tuntutan kurikulum. Implikasi Pembelajaran Menulis Teks Eksposisi Berdasarkan distribusi komponen argumentasi tersebut, implikasi pembelajaran menulis teks eksposisi perlu difokuskan pada penguatan unsur argumen yang masih lemah, khususnya rebuttal, backing, dan qualifier. Komponen rebuttal menunjukkan persentase paling rendah . ,61%), yang mengindikasi bahwa murid belum terbiasa mempertimbangkan dan menanggapi sudut pandang alternatif dalam penyusunan argumen. Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh pola pembelajaran yang lebih menekankan pada penyampaian pendapat utama dan data pendukung, tanpa melatih murid mengembangkan kontra argumen secara eksplisit. Selain itu, dalam praktik pembelajaran, kegiatan debat atau diskusi dua perspektif belum secara sistematis diintegrasikan dalam tahap pramenulis, sehingga murid cenderung menyusun argumen secara satu arah dan kurang dialogis. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang untuk melatih murid mengembangkan kontraargumen secara eksplisit agar argumentasi tidak bersifat satu arah, melainkan dialogis dan kritis. Selain itu, rendahnya kemunculan backing . ,30%) menunjukan bahwa argumen murid masih sangat sedikit penguatan data empiris, hasil pengamatan, atau rujukan teoritis. Sendangkan pada teks eksposisi hasil penelitian sederhana secara ideal menuntut adanya data sebagai dasar penguatan argumen. Rendahnya pemanfaatan pada backing tersebut berdampak pada argumen yang cenderung tersusun secara singkat, kurang berkembang, dan lebih bersifat deskriptif dari pada argumentatif, sehingga belum sepenuhnya memenuhi tuntutan CP Bahasa Indonesia pada fase E yang menekankan penalaran kritis, logis, dan berbasis data penelitian Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan literasi akademik murid, seperti kurangnya keterampilan mencari, memilih, dan mengintegrasikan sumber yang relevan ke dalam Selain itu, tugas penulisan berbasis penelitian sederhana kemungkinan lebih dipahami sebagai kegiatan melaporkan hasil, bukan mengembangkan argumentasi berbasis data. Akibatnya, teks yang dihasilkan cenderung bersifat deskriptif daripada argumentatif. Implikasi temuan ini menunjukkan perlunya pembelajaran yang secara sistematis melatih keterampilan literasi akademik, seperti memilih sumber yang relevan, mengutip informasi secara tepat, serta mengintegrasikan data sebagai dasar pendukung claim. Penguatan backing menjadi krusial agar argumen yang disusun murid memiliki dasar yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Rendahnya persentase qualifier . ,84%) mengindikasikan bahwa murid cenderung menyampaikan claim secara absolut tanpa mempertimbangkan tingkat kepastian argumen. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh pemahaman murid yang masih terbatas terhadap prinsip penalaran ilmiah, terutama dalam membedakan fakta, pendapat, dan generalisasi. Kurangnya pembiasaan penggunaan penanda modalitas dalam pembelajaran juga berkontribusi terhadap kecenderungan tersebut. Implikasi dari temuan ini adalah perlunya pembelajaran yang membiasakan murid menggunakan penanda modalitas dan batasan claim secara proporsional, sehingga argumen yang disampaikan lebih akurat dan sesuai dengan prinsip penalaran ilmiah. Oleh karena itu, pembelajaran menulis teks eksposisi perlu diarahkan tidak hanya pada penguasaan struktur dan kaidah kebahasaan, tetapi juga pada pengembangan penalaran argumentatif tingkat lanjut melalui strategi scaffolding berbasis kerangka Toulmin, didukung oleh penyediaan teks model yang representatif, penggunaan rubrik penilaian berbasis penalaran, serta integrasi strategi pembelajaran dialogis seperti debat atau diskusi dua perspektif. Penekanan tersebut sejalan dengan tuntutan Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia fase E Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 dalam Kurikulum Merdeka yang mengharuskan murid menulis secara kritis, logis, dan berbasis Meskipun claim muncul secara konsisten, kualitasnya masih perlu diperbaiki karena cenderung singkat, bersifat umum, dan belum menunjukkan kedalaman posisi argumentatif. Claim yang disampaikan umumnya belum dilengkapi dengan konteks, batasan masalah, maupun penjelasan urgensi isu, sehingga argumen belum berkembang secara memadai. Dalam praktik pembelajaran, penekanan sering kali lebih diarahkan pada struktur teks daripada pendalaman substansi isu, sehingga murid belum terlatih mengembangkan claim yang kontekstual dan Selain itu, meskipun grounds muncul dengan frekuensi tinggi, kualitasnya masih didominasi oleh opini umum, contoh situasional, dan pengalaman pribadi, sehingga belum berfungsi sebagai bukti yang kuat dan berbasis data. Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh keterbatasan literasi akademik murid, terutama dalam mencari, memilih, dan mengintegrasikan data empiris atau rujukan teoretis ke dalam tulisan. Permasalahan lain yang perlu mendapat perhatian adalah warrant yang umumnya bersifat implisit dan tidak dinyatakan secara eksplisit sebagai penalaran yang menghubungkan grounds dan claim. Ketidakjelasan warrant ini menyebabkan hubungan logis antarkomponen argumen kurang transparan dan melemahkan kekuatan persuasif teks eksposisi. Kondisi ini menunjukkan bahwa murid belum terbiasa mengartikulasikan proses berpikirnya secara tertulis, khususnya dalam menjelaskan alasan mengapa data yang disajikan relevan dan mendukung claim yang diajukan. Oleh karena itu, pembelajaran perlu diarahkan pada pengembangan claim yang lebih spesifik dan kontekstual, penguatan grounds berbasis data empiris, serta pelatihan penyusunan warrant secara eksplisit agar argumen murid lebih utuh, logis, dan argumentatif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa rendahnya kualitas pada beberapa komponen argumentasi tidak semata-mata disebabkan oleh kemampuan individual murid, tetapi juga berkaitan dengan pola pembelajaran yang belum secara eksplisit melatih pengembangan kontra argumen, penguatan berbasis data, serta penjelasan hubungan logis antar gagasan. Oleh karena itu, pembelajaran menulis teks eksposisi perlu diarahkan pada penguatan literasi akademik, latihan berpikir dua perspektif, serta penggunaan kerangka Toulmin secara eksplisit agar murid mampu membangun argumen yang lebih utuh, logis, dan dialogis. PENUTUP Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemampuan murid dalam menulis teks eksposisi masih menunjukkan keterbatasan dalam dimensi penalaran argumentatif. Berdasarkan kerangka Toulmin, teks yang dihasilkan umumnya telah mampu mengemukakan claim dan menyertakan grounds sebagai alasan pendukung, namun argumen yang dihasilkan cenderung singkat, bersifat umum, dan kurang terelaborasi secara memadai. Keterbatasan tersebut ditandai oleh warrant yang sebagian besar disampaikan secara implisit serta rendahnya kemunculan backing, qualifier, dan rebuttal, yang mengindikasikan belum optimalnya kemampuan murid dalam mengintegrasikan data empiris, membatasi tingkat kepastian claim secara proporsional, dan mempertimbangkan sudut pandang alternatif. Kondisi ini berdampak pada teks eksposisi yang lebih bersifat deskriptif daripada argumentatif, meskipun secara konseptual teks eksposisi berbasis hasil penelitian sederhana menuntut konstruksi argumen yang kritis, logis, dan berbasis Guru juga mengonfirmasi bahwa murid masih kesulitan mengolah data dan literatur serta cenderung menghasilkan teks yang singkat dan tidak terelaborasi akibat lemahnya literasi membaca dan budaya konsumsi informasi instan. Temuan tersebut mengimplikasikan perlunya perancangan pembelajaran menulis teks eksposisi yang tidak hanya berorientasi pada aspek struktural dan kebahasaan, tetapi juga secara sistematis mengembangkan dimensi penalaran argumentatif agar selaras dengan tuntutan Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia fase E dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 DAFTAR PUSTAKA