Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu ISSN 2656-7202 (P) ISSN 2655-6626 (O) Volume 4 Nomor 2. Juli-Desember 2021 DOI: https://doi. org/10. 35961/perada. NALAR IRFANI DALAM PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASYARAKAT MELAYU NATUNA Muhammad Alfan Sidik STAIN Sultan Abdurrahman Kepri Muhammad_alfan@stainkepri. ABSTRAK Tradisi keilmuan irfani yang berbasis pada tradisi pemikiran tasawuf merupakan salah satu corak keilmuan Islam di kalangan Arab-Islam menurut pandangan M. Abid al-Jabiri, selain tradisi keilmuan bayani Aeyang cenderung tekstual dan burhani Aeyang diskursif logikal. Tidak dapat dimungkiri bahwa nalar irfani yang berbasis tradisi keilmuan tasawuf sedikit banyak telah memberikan dampak positif dalam perkembangan karakteristik Islam di Indonesia, yakni Islam yang lebih moderat dan toleran. Begitu juga Islam di Melayu Natuna yang kental dengan tradisi Tulisan ini mencoba mengidentifikasi nalar irfani dalam perkembangan Islam di Natuna. Berdasarkan kajian ini dapat diidentifikasikan bahwa Nalar Aoirfani memiliki beberapa corak pemikiran yang berasal dari tradisi para sufi yang membawa Islam ke Nusantara. Faktor sufi, wali atau spiritualitas ini menjadi faktor yang penting dalam proses Islamisasi di Nusantara dan memberikan dampak pada karakteristik Islam di Nusantara yang moderat dan toleran. Corak nalar irfani ini juga muncul dalam indentifikasi perkembangan Islam di Natuna, yang dapat dilihat dalam beberapa poin. Pertama. Nalar irfani dalam Sejarah Islamisasi di Natuna. Kedua. Tokoh UlamaAo Natuna. Ketiga. Seni dan Tradisi Keagamaan di Natuna dan Keempat adalah dalam Perkembangan Tasawuf dan Tarekat di Natuna. Abid al-Jabiri stipulated that the Irfani practices originally rooted in the tradition of Sufism thought is one of the characteristics of Islamic scholarship in Muslim Arab communities in addition to the bayani scientific tradition Ae which tends to be textual and burhani Ae which is logically discursive. The framework of IrfaniAos way of thinking based on the scientific tradition of Sufism has more or less shaped the characteristics of Islam in Indonesia leading to more moderate and tolerant Islam. Likewise. Islam in Malay Natuna is thick with Islamic traditions. This article aims to reveal IrfaniAos thought in the development of Islam in Natuna. The findings indicate 'irfaniAos thought has several patterns of thought originating from the traditions of the Sufis who brought Islam to the Indonesia. Some important factors in the process of Islamization in the archipelago are the Sufi. Wali or spirituality factor and those have had an impact on the moderate and tolerant characteristics of Islam in Indonesia. The IrfaniAos thought is also identifiable in the development of Islam in Natuna, represented in several points: IrfaniAos thought in the history of Islamization in Natuna. Natuna Ulama' Figures. art and religious traditions in Natuna. and the development of Sufism and Tarekat in Natuna. Kata Kunci: irfani, nalar irfani, natuna, tasawuf Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan PENDAHULUAN Seorang pemikir Islam yang bertipologi cenderung reformistik yakni melakukan penafsiran-penafsiran baru yang lebih hidup terhadap tradisi sehingga lebih cocok dengan tuntutan zaman. Yang kemudian ia mencari metode kritik dalam rangka membaca sejarah-sejarah pemikiran Arab-Islam. ia adalah Mohammed Abid alJabiri yang melahirkan proyek besarnya yang disebut dengan Naqd al-Aql al-Arabi (Kritik Nalar Ara. , yang terdiri dari trilogi karyanya Takwin al-Aql al-Arabi (Formasi Nalar Ara. Bunyah al-Aql al-Arabi (Struktur Nalar Ara. kemudian al-Aql alSiyasi al-Arabi (Nalar Politik Ara. , ia ingin mengungkapkan kecenderungan epistemologis di kalangan bangsa Arab menjadi tiga macam kecenderungan atau model berpikir, yakni Bayani. Irfani dan Burhani. Irfani akan menjadi pembahasan pada tulisan ini, nalar irfani sebagai sebuah tradisi keilmuan sering identik dengan tradisi keilmuan para sufi, yang lebih memfokuskan pada aspek batin dengan pengalaman batin/spiritual, tentu ia kurang begitu disukai oleh tradisi berfikir keilmuan lain seperti Bayani (Fiqh dan Kala. , bahkan dikaburkannya tradisi berfikir keilmuan Irfani dengan dengan kelompokkelompok organisasi-organisasi tarekat dengan sathahat-sathahatnya serta memang kurang dipahaminya struktur dasar epistemologi. Tidak dapat dimungkiri bahwa nalar irfani atau tradisi keilmuan tasawuf sedikit banyak telah memberikan dampak positif dalam perkembangan Islam terutama di Indonesia. Teori penyebaran melalui para sufi merupakan salah satu teori yang memiliki peranan paling penting dalam Islamisasi di Nusantara. Salah satu faktor 1 M. Amin Abdullah. Islamic Studies Di Perguruan Tinggi. Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. keberhasilan para sufi dalam Islamisasi Nusantara adalah karena kemampuanya dalam mendialogkan antara ajaran Islam dengan budaya lokal. Menurut Azzumardi Azra Islam di Asia Tenggara memiliki sebuah kekhasan, yang berbeda dengan karakteristik Islam di kawasan lain, khususnya di Timur Tengah. Azra karakteristik terpenting Islam di Asia Tenggara itu, adalah watak yang lebih damai, ramah, dan toleran. 3 Azra juga memperkuat pendapat itu dengan pengakuan banyak pengamat tentang keunikan karakteristik tersebut. antaranya dalam buku The Preaching of Islam . Thomas W. Arnold menjelaskan tentang keunikan itu dimulai sejak proses Islamisasi di Asia Tenggara yang berlangsusng secara damai. dalam istilah Arnold disebut penetration pacifigure, yang berbeda dengan penyebaran Islam di wilayah lain, yang sering melibatkan kekuatan militer. Salah satu faktor Islamisasi itu adalah melalui para wali atau sufi, yang corak keilmuannya bernalar irfani, yang cukup berkontribusi memberikan corak Islam di nusantara yang toleran dan cinta Tamaddun Melayu merupakan sebuah pertautan yang apik antara Islam dan budaya lokal melayu, yang mana sudah sejak lama mempunyai karakteristik Islam yang juga moderat, toleran dan cinta Tulisan ini akan mengkaji tentang nalar irfani dalam perkembangan Islam di masyarakat melayu kabupaten Natuna. 2 Nur Syam. Islam Pesisir (Yogyakarta: LKiS, 2. , hlm. Pendapat al-Attas bisa dilihat di Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam and Secularism (Kuala Lumpur : International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), 1. , h. Pendapat Azra bisa dilihat di Azyumardi Azra. Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara (Bandung: Mizan, 2. 3 Azzumardi Azra. Renaisans Islam Asia Tenggara (Sejarah Wacana & Kekuasaa. , (Bandung: Rosda Karya, 2. , h. 4 Ibid. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan PENGERTIAN NALAR IRFANI Irfani berasal dari bahasa Arab alAoirfan berasal dari kalimat Aoarafa berarti almaAorifah atau al-Aoilm . Dalam kalangan sufi al-Aoirfan berarti al-kasyf dan alilham. 5 Dalam mengartikan kata al-Aoirfan, terdapat dua padanan kata yaitu AugnosisAy yang berarti Aupengetahuan intuitif tentang hakikat spiritual yang diperoleh tanpa proses belajarAy. Atau AugnostikAy yang dikhususkan kepada pengetahuan tentang Allah AugnostisismeAy, sebuah aliran kebatinan yang muncul di abad ke-2 M, sejalan dengan pengertian irfani dari al-Jabiri. Dapat disimpulkan bahwa irfani . adalah sebuah sistem pengetahuan tentang bagaimana mengetahui tentang Allah melalui kasyf . , yang memang sangat identik dengan tasawuf. Irfani Sebagai Corak Nalar Keilmuan Irfani sebagai nalar keilmuan merupakan salah satu prinsip dasar konsep epistemologi yang membangun dunia berpikir khususnya di Dunia Islam (Arab pada khususny. Tradisi keilmuan Irfani dalam peradaban Arab, dapat dijelaskan dengan menggunakan pasangan makna eksoteris/esoteris yang sejajar dengan pasangan kata/makna, hanya saja dalam tradisi irfani melihatnya secara terbalik artinya menjadikan makna sebagai asal dan kata sebagai cabang, sama halnya dengan istilah dalam kata al-ashl/al-farAo dan pasangan al-jauhar/al-Aoardh dalam tren akal Dalam Formasi nalar Arab Jabiri menyebutkan bahwa dalam proses formasi sistem pengetahuan Irfani ini dalam asalusul dan percabangannya mendapatkan 5 Al-Jabiri. Bunyah al-Aql al-Araby, (Beirut: Markaz Dirarat al-Wahidah al- Arabiyah, 1. , h. 6 Muhammad Aunul Abied Shah dan Sulaiman Mappiase. Kritik Akal Arab: Pendekatan Epistemologis terhadap Trilogi Kritik Al-Jabiri, h. 7 Ibid. , h. pengaruh dari Aotradisi kuno pra IslamAo yang terkait dengan neo-Platonisme dan Hermetisme, bahkan Gnostisisme Yahudi, bisa jadi masuk ke dalam kebudayaan Arab-Islam melalui neo-Platonisme. Jika sumber pokok pengetahuan dalam tradisi bayani adalah AoteksAo . , maka sumber pokok pengetahuan dalam tradisi berpikir AoIrfani adalah experience . Pengalaman dalam hal ini sehari-hari. Sehingga untuk mengetahui sesuatu pengetahuan tentang Tuhan misalnya, tidak perlu bersumber dari teks. Dalam kehidupan selalu ada dunia yang dihayati dan yang dikatakan atau persepsikan. yang dihayati ini adalah berupa Pengalaman ini yang menjadi medan dari pengetahuan irfani ini, termasuk pengalaman kongkrit tentang kehidupan keagamaan misalnya tentang pengalaman kurang baik. pahitnya konflik, kekerasan dan disintegrasi sosial dan pengalaman otentik semacam ini dapat dirasakan oleh masyarakat, tanpa perlu dalil-dalil keagamaan. Fondasi-fondasi intelektual dari nalar Irfani ini, dapat ditelisik dalam ilmu hudhuri . engetahuan dengan kehadira. yang bersifat self evident . erbukti dengan dirinya sendir. Pengetahuan ini dapat dicontohkan dalam pengetahuan yang nyata bagi subjek yang mengetahui secara perantaraan representasi mental atau Pengetahuan dicontohkan seperti ungkapan subjek Auaku berfikirAy atau Auaku berkataAy, secara khusus menjadi sarana pernyataan pengetahuan AuakuAy performatif yang dibedakan dari AoakuAo metafisika, atau Diri, yang selama ini 8 Muhammad Abed al-Jabiri. Formasi Nalar Arab, (Yogyakarta: IRCisoD, 2. , h. 9 M. Amin Abdullah. Islamic Studies Di Perguruan Tinggi. Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan merupakan isu mendasar dalam setiap penyelidikan filosofisnya. Lebih jauh, gagasan aku performatif telah berfungsi sebagai basis bagi penyatuan ide-ide yang darinya teori umum mistisisme diturunkan dan dapat dijelaskan atau diteorikan secara Semua pengalaman otentik baik itu hal-hal yang sifatnya rohani . atau hal-hal dalam keseharian, perasaan rasa sakit dsb. dapat dirasakan secara langsung oleh seluruh umat manusia apapun warna kulit, ras, budaya dan agama yang dipeluknya, tanpa harus mengatakannya terlebih dahulu lewat pengungkapan bahasa maupun logika. Validitas kebenaran nalar AoIrfani hanya dapat dirasakan dan dihayati secara langsung, intuisi, al-dzauq atau psikognosis. Dalam nalar irfani, tidak ditemukan batas-batas formal sebagaimana yang tercipta dalam tradisi nalar Bayani dan Burhani. Batas-batas perbedaan bahasa, ras, agama dan sebagainya, dari nalar bayani dan irfani dapat diminimalisir dalam tradisi nalar AoIrfani. Pemahaman tentang keberadaan yang lain . ang lia. misalnya individu, kelompok dan penganut agama lain dengan metode Verstehen. Understanding Others misalnya dengan melatih sikap empati dan simpati, dapat mengantarkan tradisi epistemologi Irfani pada pola pikir yang lebih bersifat unity in difference, tolerant dan pluralist. Dengan demikian hubungan antar AusubjekAy dan AuobjekAy dalam pengetahuan Irfani, bukannya bersifat subjektif . eperti yang biasa terjadi dalam tradisi bayani . ) dan bukan pula bersifat objektif . eperti yang biasa ditanamkan pada tradisi burhani. , tetapi lebih pada Kebenaran apa pun, khususnya dalam hal-hal yang terkait sosial-keagamaan 10 A. M Safwan, dalam Mehdi HaAoiri Yazdi. Ilmu Hidhuri, (Bandung: Mizan, 1. , h. Amin Abdullah. Islamic Studies. , h. 12 Ibid. , h. adalah bersifat intersubjektif. Apa yang dirasakan oleh penganut suatu kultur, ras, agama, kulit, bangsa tertentu-dengan sedikit tingkat perbedaan juga dirasakan oleh manusia dalam kultur, ras, agama, kulit dan bangsa yang lain. 13 Artinya dalam tradisi Irfani, lebih toleran dengan Corak dan Karakteristik Nalar Irfani Nalar irfani cenderung bersifat bathiniyah sehingga aspek metodologinya intuitif/melalui pengalaman langsung secara spiritual. Sebagaimana langkah-langkah ditempuh oleh para Urafa atau para Sufi yaitu menggunakan metode al-dzauqiyah, alriyadlah, al-mujahadah, al-isyraqiyah, alladuniyyah, istilah yang sering digunakan oleh para Sufi. Dalam proses laku spiritual itu dimulai dengan perjalanan ruhani . ayr wa sulu. yaitu ajaran praktek dari irfani ini. Dengan fokus utamanya adalah dengan membersihkan hati dan menyucikan batin . , karena pengetahuan ini diperoleh melalui rasa . l-dzauqiya. atau pengalaman Dari uraian tentang nalar irfani, dapat dirangkum beberapa poin tentang corak dan karakteristik nalar irfani sebagai Pertama, nalar irfani diperoleh melalui pengalaman langsung, merasakan baik secara spiritual/batin maupun secara Pengetahuan dalam nalar irfani dicapai melalui epistemologi ilmu hudhuri . pengetahuan yang diperoleh melalui kehadiran yang tanpa perantara atau korespondensi konsep-konsep. Kedua, nalar irfani cendrung spiritual, memandang pengetahuan lebih kepada aspek batinnya ketimbang lahirnya karena dalam nalar irfani menggunakan media intuisi sehingga lebih kontemplatif. Ketiga, karena pengetahuan dalam nalar irfani bersifat eksistensial melalui pengalaman langsung, maka dalam nalar Ibid. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan irfani pengenalan terhadap suatu objek pengetahuan bersifat intim dan kasuistik bukan melalui katgorisasi, sehingga coraknya cenderung subjektif meskipun pengetahuan ini lebih akurat karena menyentuh pada objek secara langsung secara hudhuri . Dengan begitu dalam nalar irfani setiap pengetahuan menjadi unik, karena setiap pengalaman memiliki konteks peristiwanya baik ruang dan waktunya. Sebagaimana dalam tradisi di masyarakat, banyak orang yang memiliki kepercayaan terhadap sesuatu yang memiliki kesakralan, pada tempat yang dianggap keramat, waktu-waktu tertentu, benda-benda atau orang tertentu. Dalam tradisi Nalar Irfani, pada sebuah Tarekat misalnya seorang Salik atau murid, akan diberikan perintah atau tugas sebagai ijazah dalam mencapai maqam tertentu atau mencapai hajat tertentu dengan melaksanakana sebuah amalan dari seorang Mursyid atau Syeikh, seperti dzikir dan puasa, tanpa berdikusi, karena pengetahuan yang ingin diperoleh bukan secara konsep namun langsung praktik melalui pengalaman . Dalam tradisi irfani pengalaman tersebut perlu diasa dan dibimbing oleh seorang guru, untuk meningkatkan intensitasnya, melalui pembersihan jiwa . azkiyatun naf. Metode merupakan modal awal bagi pelaku sufi dalam berjalan menuju Tuhan, . yair wa sulu. Dengan begini para salikin dalam tradisi irfani, akan mencapai suatu pengetahuan atau ilmu yang diberikan langsung dari Tuhan melalui pengalaman batin, atau dikenal dengan ilmu ladunni. Nalar Irfani, juga dapat dikonstruksi menjadi dua poin utama yaitu . Sebuah sikap terhadap dunia. suatu Nasrullah. Nalar AoIrfani: Tradisi Pembentukan dan Karakteristiknya. Hunafa: Jurnal Studia Islamika, 9. , h. 15 Ibid. wawasan dalam menafsirkan realitas. Nalar Irfani, sebagai suatu sikap, mendasarkan pada rasa cinta atau mahabbah untuk mendekat menuju dan menyatu dengan Tuhan. Sebagai sebuah metode berfikir irfani mengarah pada interpretasi secara batin dan cara pandang yang lebih spiritual dalam memandang Konstruksi nalar Irfani dapat dillihat dalam beberapa karakteristik yang 18 Pertama, prinsip ketauhidan, melalui teologi para sufi menjadikan Tuhan sebagai pusat. Dalam pandangan Muthahhari memberikan bahwa alam semesta pada esensi Auinna lillahiAy . erasal dari Alla. dan Auwa inna ilaihi rajiAounAy . an akan kembali kepada Alla. Kedua, nalar irfani mengutamakan sifat keikhlasan. Sifat ini merupakan salah satu parameter penting pada praktek kehidupan individual dan sosial. Ketulusan menjadi nilai inti pada diri seorang sufi. Sifat ini menjadikan seorang sufi jauh dari sikap yang mementingkan pencitraan, haus pujian, pengakuan, dan popularitas. Karena segala prilaku para sufi didasari oleh pendekatan kepada Tuhan, dan di luar adalah bentuk kepalsuan dan kepurapuraan. Ketiga, nalar irfani dibangun berdasarkan model keberagamaan berbasis afektif dan rasa, dengan peningkatan moral dan kelurhuan budi Sebagaimana bagi sufi yang menjalani kehidupan dengan akhlaq yang mulia, . ttakhalluq bi akhlaqilla. Keempat, nalar irfani dikontsruksi melalui pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran. Watak toleransi para 16 M. Abid al-Jabiri. Bunyat al-Aql al-AoArabi (Beirut: al-Markaz ats-Tsaqafi al-AoArabi, 19. , h. 17 Sauqi Futaqi. Nalar Sufistik Islam Nusantara Dalam Membangun Perdamaian. Dar ElIlmi, 5. 18 Ibid. , h. 19 Murtadha Muthahhari. Fundamental of Islamic Thought (Bandung: Mizan Press, 1. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan sufi misalnya pernah dijelaskan dalam The Ventur of Islam bahwa umumnya, para sufi cenderung toleran terhadap perbedaanperbedaan lokal. Nalar Irfani Dalam Islamisasi Di Nusantara Secara historis Islam masuk ke nusantara dengan penuh kedamaian . enetration pacifigur. , dan pada periode tertentu Islamisasi terjadi justu secara massif besar-besar, apa penyebabnya, berikut ini akan diuraikan sejarah Islamisasi di Nusantara. Osman Bin Bakar, mengatakan bahwa Islam datang di Kepulauan Melayu melalui perdagangan dan kegiatan dakwah. Sumber-sumber China menyebutkan pembangunan pemukiman Arab dan boleh jadi pemukiman Muslim lainnya di pesisir Barat Sumatra pada 674 M. 20 Imigrasi besar-besaran para pedagang Muslim berikutnya ke Kepulauan itu, terjadi pada 878 M akibat pemberontakan Huang ChAoao di China Selatan di mana sekitar 120 atau 200 ribu pedagang dari Barat, sebagian besar darinya adalah Muslim. Orang-orang Muslim yang selamat dari pembunuhan ini, terutama yang berkebangsaan Arab dan Persia, melarikan diri ke kepulauan itu dan berdiam di Kalah, di pesisir barat Semenanjung Malaysia serta di San-fo-ch-i (Palemban. di bagian timur Sumatra. Pedagang Muslim awal terkumpul pada perkampungan yang terletak di Champa pada 1039 M dan di Jawa 1082 M. Akan perkampungan Muslim awal, diketahui bahwa tidak ada kegiatan dakwah yang penting di kalangan Muslim sampai sekitar akhir abad ke- 13 M. Kegiatan dakwah ini 20 Lihat. Arnold. The Preaching of Islam (Lahore: Ashraf Publication, 1. , h. dalam Osman Bin Bakar. AuTasawuf Di Dunia Melayu AuTasawuf Di Dunia Melayu-IndonesiaAy, dalam Seyyed Hossein Nasr (Ed. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam. Manifestasi. (Bandung. Mizan, 2. terus meningkatkan pada abad ke- 14 M dan menguasai seluruh kepulauan Nusantara dalam abad berikutnya. Kebangkitan Muslim yang sangat mencolok di kepulauan Nusantara ini yang berawal pada abad ke-13 M perlu diteliti sebabsebabnya, dan beberapa teori tentangnya telah dikemukakan oleh para sarjana. Pandangan yang pertama dikemukakan oleh J. van Leur, yang Aesekalipun mengakui ketidakmampuannya untuk menyebutkan dengan pasti penyebab sesungguhnya dari awal penyebaran Islam yang intensif pada abad ke-14 M, meyakini bahwa faktor perdagangan merupakan penyebab utamanya. Pandangan ini, dan pandangan berikutnya dinilai oleh Osman bin Bakar tidaklah masuk akal, karena Islam dan perdagangan di Kepulauan Melayu itu sudah terkait erat sekurangkurangnya sejak abad ke- 8 M. Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa catatan penting, yaitu bahwa Islam sudah hadir di Nusantara abad ke 8 M, yang dibawa oleh para pedagang, namun sampai abad 14 M baru aktivitas dakwah mulai intensif, bahkan sejarawan lain menyebutkan baru mulai pada pertengahan abad ke-15, 22 artinya selama hampir 8 Abad lamanya Islam datang, para pribumi belum banyak yang masuk Islam. Namun ketika abad ke-14 ke akhir 15 M dalam waktu yang singkat itu justru terjadi proses Islamisasi besar-besaran di Nusantara. Inilah yang kemudian J. Leur tidak mampu menyebutkan dengan pasti penyebabnya. Beberapa teori yang menjelaskan penyebabnya adalah sebagai Johns, sejarawan Barat mengatakan Islam yang masuk di Nusantara terutama daerah Melayu adalah Islam yang bercorak tasawuf. Ia menegaskan bahwa Islam tidak bisa dan 21 Ibid. , h. 22 Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo, (Jakarta: Pustaka Iman, 2. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan tidak akan pernah bisa berakar di kepulauan Nusantara (Melay. hingga berkembangnya tarekat-tarekat sufi, dan bahwa cepatnya penyebaran Islam setelah abad ke-7 H/13 M terutama berkat kerja keras para juru dakwah sufi. Salah satu bukti adalah karya al-Attas yang membahas tentang sejumlah gagasan dan ajaran Hamzah al-Fanshuri, seorang penyair sufi Melayu abad ke-10 H/16 M. Dalam karyanya, al-Attas mengungkapkan bahwa tasawuf tumbuh dan berkembang secara sedemikian rupa sehingga pastilah memiliki pengaruh penting dalam pengislaman kepulauan Melayu yang berskala besar. Agus Sunyoto, dalam bukunya AuAtlas WalisongoAy mengatakan bahwa baru pertengahan abad ke-15, yaitu era dakwah Islam yang dipelopori tokohtokoh sufi yang dikenal dengan sebutan Wali Songo, yang dikisahkan mempunyai kemampuan supra natural atau biasa disebut sebagai karomah dari Tuhan, sehingga Islam dengan mudah diterima Nusantara. 24 begitu juga di tanah Sumatra atau Melayu Islam dibawa oleh para wali. Salah diungkapkan oleh Agus Sunyoto dalam sebuah seminar bahwa melalui penelitian sosiologi masyarakat pada waktu itu, bahwa Islam selama 8 abad lamanya telah datang di Nusantara waktu itu, sukar untuk diterima secara masal oleh para pribumi, alasanya adalah karena Nusantara sendiri waktu itu sudah memiliki kebudayaan, ilmu pengetahuan dan peradaban yang jauh lebih maju, dibandingkan dengan peradaban-peradaban dari bangsa lain misalnya dari peradaban Arab yang dianggapnya sebagai bangsa padang pasir. Ketika para saudagar atau pedagang 23 Osman Bin Bakar. AuTasawuf Di Dunia Melayu-IndonesiaAy, dalam Seyyed Hossein Nasr (Ed. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam. Manifestasi. (Bandung. Mizan, 2. , h. 24 Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo. , h. membawa agama Islam ke Nusantara, peradaban kita sudah sangat jauh lebih maju dari peradaban mereka. Oleh karena itu, ketika agama Islam di bawa oleh bangsa lain yang notabene adalah orang asing, sehingga orang pribumi memandangnya berkelas lebih rendah apalagi oleh seorang pedagang yang dianggap tidak memiliki spiritualitas yang tinggi karena ia mencari kekayaan, maka akan sukar agama Islam dapat diterima secara masiv. Namun, ketika abad ke-13 hingga 14-an, agama Islam yang masuk ke Indonesia dibawa oleh para sufi, para wali, mereka adalah golongan yang memiliki spiritualitas yang tinggi, yang memang ke Nusantara bukan untuk mencari kekayaan, dan bagi pribumi orang yang paling dihormati adalah orang yang paling tinggi spiritualitasnya, bukan orang yang paling banyak hartanya, dan itu sejajar dengan para bangsawan, maka ketika para bangsawan sudah masuk Islam, para pribumi secara masal berbondongbondong masuk Islam. Faktor sufi, wali atau spiritualitas yang tinggi tampak sebagai penjelasan yang paling masuk akal bukan hanya karena mendapatkan dukungan yang cukup dari bukti sejarah yang diberikan oleh hikiayathikayat lokal Melayu, melainkan juga karena penjelasan ini sesuai dengan iklim keagamaan dan spiritual yang melanda dunia Muslim setelah abad ke-13 M. Dalam karya Al-Attas menjelaskan tentang segenap gagasan dan ajaran Hamzah alFanshuri, seorang penyair sufi Melayu abad ke-16 M. Karya ini menyoroti aktivitas intelektual dan spiritual bangsa Melayu sejak abad ke-15 M hingga akhir abad ke-19 M, mengungkapkan bahwa tasawuf tumbuh dan berkembang secara sedemikian rupa sehingga pastilah memiliki pengaruh penting dalam pengislaman kepulauan itu yang berskala 25 Agus Sunyoto, dalam Pengajian dan Diskusi Atlas Walisongo di PBNU Jakarta . Januari 2. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan besar, sebuah proses yang terjadi selama kurun waktu itu ini. Dalam hikayat lokal dan juga tradisitradisi lisan, terdapat banyak keterangan tentang istilah-istilah yang terkait dengan nilai ketinggian spiritual Islam yang sudah sangat akrab di Kepeluauan Melayu, misalnya istilah faqir . , wali . rang suc. , karomah . dan syaikh . , istilah teknis yang terdapat dalam tradisi tasawuf, yang bahkan setelah dipungut oleh bahasa Melayu dan dipakai secara populer tetap dipertahankan makna-makna teknis yang khusus sebagaimana dipahami dalam tasawuf sehingga memberi kesan sangat kuat bahwa para penyebar ini adalah kaum sufi. Sejarah menyebutkan bahwa Syaikh Ismail, yang dikirim ke Samudra Pasai, oleh Syarif dari Mekkah untuk menyebarkan Islam di sana pada pertengahan abad 13 M. Syaikh Ismail akhirnya berhasil mengislamkan Raja Samudra Pasai. Merah Silu atau Meurah Sila. Raja pertama Pasai yang memiliki peranan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara. Meurah Sila akhirnya diberikan gelar Sultan Malik alShalih, karena selama pemerintahannya keadan negeri Pasai sangat makmur dan berlimpah kekayaanya serta memiliki militer yang kuat. 28 Tome Pires, menyatakan bahwa Sultan Malik al-Shalih berasal dari Bengal. India. 29 Namun, keterangan lain menyebutkan bahwa Malik al-Shalih atau Meurah Silo adalah asli pribumi Aceh, merupakan keturunan bangsawan Meurah. Anak dari Meurah Seulangan/Meurah Jaga. Demikian di bawah Sultan Malik alShalih. Kerajaan Pasai telah menjadi pusat 26 Osman Bin Bakar. AuTasawuf Di Dunia Melayu-Indonesia. , h. 27 Ibid. 28 Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo. , h. 29 M. Abdul Karim. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Bagaskara, 2. Cet. V, h. 30 Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo. , h. pengembangan struktur politik baru dan dakwah Islam terpenting di Sumatra dan Selat Malaka serta Jawa. Pada abad ke 15 hingga 16 istana-istana kerajaan menjadi pusat pengembangan keilmuan Islam atas perlindungan resmi penguasa, yang kemudian memunculkan tokoh-tokoh ulamaAo intelektual terkenal semacam Hamzah Fansuri. Syams al-Din Pasai. Nur al-Din al-Raniri, dan Abd al-RaAouf alSingkili. Tokoh-tokoh ini memiliki jaringan intelektual Islam yang cukup luas, baik di dalam maupun luar negeri, sehingga menunjang pengembangan Islam, dan gagasan-gagasan mereka sendiri. Nalar Irfani Pada Perkembangan Islam Di Natuna Corak perkembangan Islam di Natuna tidak jauh berbeda dengan corak perkembangan Islam di Nusantara pada umumnya, yaitu corak keislaman yang moderat dan cinta damai. Corak keberagamaan Islam di Natuna ini yakni Islam yang terbuka, toleran dan kosmopolitan, disinyalir sebagai akibat bahwa Natuna sejak lama telah menjadi tempat persinggahan perdagangan global. Hal ini juga menunjukkan adanya keterkaitan dengan corak nalar irfani dalam proses Islamisasi di Natuna. Oleh karena itu, nalar irfani pada perkembangan Islam di Natuna dapat teridentifikasi dalam beberapa poin sebagai Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Di Natuna Dalam kajian terhadap buku Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Natuna, 32 yang dilakukan melalui penggalian dari manuskrip dan artefakartefak kuno, dan juga dari khasanah cerita lisan masyarakat, seperti forklore, dongeng dan cerita-cerita lisan lainnya di Natuna, sejarah perkembangan Islam di Natuna 31 Umar Natuna dkk. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Natuna, (Jakarta: Puslitbang LKKMO, 2. , h. 32 Ibid. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan penuh dengan nuansa irfani. Penyebaran Islam di Natuna memiliki kemiripan pola dengan proses islamisasi Islam di Nusantara yakni dengan cara damai dan tanpa kekerasan. Dalam kajian sejarah tersebut diuraikan beberapa kesimpulan tentang bentuk islamisasinya yaitu: Pertama, melalui perkawinan, yaitu perkawinan antara Engku Fatimah putri dari Sultan Johor Alauddin Riayat Syah i dengan penduduk lokal bernama Demang Megat. 33 Demang Megat sebelumnya berbahas siam dan beragama Budha kemudian diislamkan. Demang Megat ini kemudian menjadi penguasa di daerah itu yang berpusat di kampung Segeram, dengan pemberian gelar dari putri Sultan, yaitu gelar Orang Kaya Dina Mahkota. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1616 M. Dari kampung Segram ini kemudian Islam menyebar ke daerah sekitarnya. Peristiwa ini dipercaya menjadi awal mula masuknya Islam di Natuna yang kisahnya berasal dari cerita-cerita lisan di Natuna. Nalar Irfani, teridentifikasi dalam sejarah masuknya Islam melalui perkawinan, namun cerita lisan di masyarakat menyebutkan bahwa Demang Megat ketika sudah masuk Islam, ia kemudian berkhalwat menyendiri dan meninggal dunia di tempat khalwatnya dan meninggalkan makam yang hingga kini diyakini masyarakat sebagai makam keramat binjai. Beberapa cerita versi lain tentang keramat Binjai juga ditemukan dari Zurmidan . uru Kunci Maka. keramat Binjai pada abad ke-12 Masehi sudah ada. Keramat Binjai adalah Syekh Ahmad Kamil Basah. Ia merupakan seorang wali, bahkan kedatangannya lebih awal dari pada para walisongo yang berdakwa di Jawa. 33 Ibid. , h. Anastasia Wiwik Swastiwi. Toponimi Daerah Natuna, (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjung Pinang, 2. , h. 35 Ibid. , h. Keramat atau karomah merupakan sebuah anugrah dari Tuhan yang diberikan kepada seorang wali Allah. Hal merupakan bagian tradisi dari Nalar Irfani. Proses Islami selanjutnya melalui dakwah dan dialog antara para pedagang dengan masyarakat lokal yang dalam perkembangan selanjutnya terbentuk beberapa komunitas atau perkumpulan kecil, atau disebut dengan syirkah. Beberapa sirkah yang terbentuk melainkan juga untuk dakwah Islam. Dalam buku Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Wan Mohd Shaghir Abdullah menyebutkan beberapa syirkah yang terbentuk adalah: Pertama. Syarikat Natoena Co, atau yang disebut juga Natuna Syirkah Sedanau . 8 H/1900 M), berpusat di Genting. Sedanau. Pendirinya adalah Raja Haji Idris Bin Raja Haji Umar. Kedua adalah Tarempa Syarikat Siantan . 2 H/1913 M) berpusat di Tarempa. Pendirinya Haji Muhammad bin Muhammad Nur Siantan. Ketiga. Persekoetoean Moeafakat Poelaoe Midai . 2/1. , berpusat di Midai, pendiri ialah Haji Muhammad bin Haji Abdul Jalil. Kelima. Kampar-Kawantan syirkah . 2 H/1913 M) berpusat di Midai. Keenam. Air poeteh syirkah Midai . 2 H/1913 M) berpusat di Midai. Pendirinya Haji Abdullah bin Yusuf. Pola Islamisasi yang Ketiga, akulturasi budaya dan seni. Islamisasi di Natuna juga dilakukan dengan mengunakan akulturasi budaya dan seni. Berbagai seni budaya yang ada di Natuna seperti Suluk. Hikayat Mendu. Lang-Lang Buana. Zapin atau jepen. Bredet atau Burdah. Ayam Sudul. Main Alu dan Silat adalah media yang digunakan para dai atau mubalig dalam melakukan dakwah Islam di Natuna. Keempat, melalui delegasi atau Dai yang dikirim ke Natuna untuk melakukan Hal ini dapat dilihat dari 36 Ibid. , h. Ibid. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan beberapa tokoh atau ulama yang pernah datang ke Natuna. Seperti Umar Daud dari Johor. Muhammad Sholeh Fatani . ahir 1901 M) dari Patani dan tokoh lainnya, yang dikirim oleh para Sultan dari berbagai daerah seperti Samudra Pasai. Patani. Champa. Melaka. Johor dan Riau Lingga. Melihat pola islamisasi di Natuna di atas, memberikan gambaran pada corak Nalar Irfani tokoh-tokoh ulamaAonya yaitu sebagai berikut: Tokoh UlamaAo Natuna Corak irfani dalam perkembangan Islam di Natuna juga tidak terlepas dari peran tokoh Ulama dari Natuna yang mendakwahkan Islam yang bercorak Diantara tokoh yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: Syekh Muhammad Nasir Pulau, ia pernah mengajar di Mesjid Al-Haram Ae Mekkah. Haji Muhammad Yunus Ahmad dari Midai, ia menulis sebuah kitab yang berjudul Panduan Taruna. Syekh Abdul Wahab Siantan, yang mempunyai karangan berjudul Hikayat Gulam. Syekh Abdullah Bin Muhammad Siantan. Tuan Alim Jubah Hijau, julukan dari masyarakat di Kampung Segeram, karena ia memakai jubah berwarna hijau. Nalar irfani juga semakin terlihat karena berbagai pendekatan, langgam, serta bentuk atau model dalam dakwah Islam di Natuna. Hal ini mengidentikkan pola dakwah Islam di Natuna bercorak tasawuf yang tidak bersifat monolog melainkan lebih bersifat multidialog. Tokoh ulamaAo di Natuna ini biasa dipanggil Tuan Guru atau Tok Imam, membentuk suatu perkumpulan di masyarakat tentang berbagai keilmuan seperti ushuludin. Materi ushuludin atau sifat dua puluh, tasawuf dan syariah. Untuk syariah dititikberatkan pada kebutuhan masyarakat dalam melakasanakan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan seperti Fiqh Ibadah. Muamalah. Mawaris Munakahat. Gambaran pola Dakwah di Natuna terbagi menjadi tiga yang terpusat pada Pertama, di rumah-rumah Tuan Guru atau Tok Imam. Kedua. Masjid atau Mushola dan Ketiga. Madrasah atau Sekolah. Sedangkan Istilah Pesantren belum banyak dikenal di Natuna, yang lebih dikenal adalah istilah langgar atau rumah wakaf. Pada tahap yang terakhir ini pusat kegiatan dakwah berada di lembaga pendidikan, yakni madrasah atau sekolah. Di era ini kegiatan dakwah tidak hanya dikendalikan oleh Tuan Guru atau Tok Imam melainkan juga oleh aparatur pemerintah seperrti Kepala Ugama atau KUA, para guru dan aktivis Islam lainnya. Para ulama yang teridentifikasi berjasa dalam mengembangkan dakwah Islam di Natuna sangat banyak, namun beberapa ulamaAo yang bercorak Irfani adalah sebagai berikut: Wan Abu Bakar Wan Abu Bakar, merupakan ulamaAo paling awal dalam mengembangkan Islam di Natuna, sekitar abad 18 M. Ia belajar agama Islam langsung di Mekkah alMukarromah. Beliau hidup sezaman dengan ulama besar dari Patani, yaitu Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani . 3 H/1847 M). Dikarenakan keduanya masih ada hubungan kekeluargaan. Sepulang Mekah, diperintahkan oleh Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani untuk menyebarkan Islam di kepulauan asalnya. Ia kemudian berdakwah di Kepulauan Anambas beliau menjadikan Kepulauan Siantan sebagai pusat penyebaran Islam, yaitu di Air Bini. Yang kemudian Wan Abdurrahman yang merupakan anak dari Wan Abu Bakar yang juga belajar di Mekah, berdakwah di Natuna ia menjadikan Pulau Midai sebagai 38 Ibid. , h. 39 Ibid. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan pusat penyebaran Islam di sekitar Laut Cina Selatan. Datuk Kaya Wan Husein UlamaAo selanjutnya adalah Wan Husein adalah Datuk Kaya yang memerintah di Bunguran Timur. Natuna dari tahun 1908 sampai tahun 1927 M. 41 Di samping sebagai kepala pemerintahan waktu itu, ia juga seorang ulama yang mengajarkan ilmu agama Islam kepada Bahkan disebutkan bahwa beliau seorang ulama besar yang memiliki kitab karangan dalam ilmu tasawuf. Muhammad Janek Ia berasal dari Banjarmasin. Kalimantan Selatan, ia berdakwah di daerah Pengadah. Kecamatan Bunguran Timur Laut. Sekitar abad ke-19 sampai awal abad ke-20 M. Selain ahli dalam bidang agama, ia juga ahli dalam ilmu lain, seperti obatobatan, perbintangan, bela diri dan lainlain. H Muhammad Janek juga mengajarkan kesenian, silat dan lain-lain dengan tujuan agar masyarakat tidak jenuh dan bosan dalam mempelajari agama. 44 Ia dikenal sebagai ulamaAo yang senang mengadakan jamuan makan menggunakan dulang di rumahnya sebelum mengadakan Para murid yang datang menimba ilmu kepadanya berasal dari desa sekitar yaitu Desa Ceruk. Desa Teluk Buton. Desa Pengadah. Desa Tanjung, dan Kelanga. Bahkan ada pula murid yang berasal dari Cemaga. Di Desa Pengadah H. Muhamad Janek bersama-sama mendirikan masjid yang dinamakan dengan AuMasjid Darun NaAoimAy. Masjid ini dianggap sebagai masjid yang pertama kali di bangun di Pulau Bunguran. Muhammad Janek juga memilki murid yang berasal dari Kelarik. Yaitu Bedul Kuning dan Bedul Hitam. Murid beliau yang berasal dari Kelanga adalah Abdurrasyid. Sedangkan murid beliau yang berasal dari Cemaga adalah Muhammad Syarif. Di antara murid beliau ada yang menjadi imam yang ke delapan masjid Jamek Sabang Barat Midai, yaitu H. Musa Muhammad Bin Muhammad Qosim. Haji Muhammad Janek keturunan sama sekali. Tahun wafat beliau pun tidak diketahui. Hanya ada yang mengatakan beliau wafat dan dimakamkan di Pengadah. Abdurrahman Ambon Haji Abdurrahman Bin Haji Muhammad Nur nama lengkapnya. dikenal dengan julukan Pak Tuan Alim Ambon. Ia belajar ilmu agama di Mekah dan menetap di sana sekitar 40 tahun. 46 Di sana ia belajar dengan ulama yang juga pernah mengajar Wan Abdurrahman Bin Wan Abu Bakar. Abdurrahman Ambon dikenal sebagai ulama sufi pengamal tarikat Ia adalah ulama yang juga kaya raya, memiliki banyak kebun di Sededap. Pulau Tiga. Natuna. Haji Abdurrahman Ambon merupakan cucu dan murid dari Syeikh Ahmad Khathib As-Sambasi (W. 1875 M) dalam bidang tarekat Qadiriyah. Di Natuna, ia mengembangkan Islam di Sedanau. Sededap Pulau Tiga, dan terakhir di Midai. Tuan Abdurrahman Ambon adalah imam masjid Jamik Sabang Barat Midai yang ke-3. Murid beliau sangat Ibid. , h. 46 Ibid. , h. 40 Ibid. , h. 41 Nuraini dan Novendra. Peninggalan Bersejarah Keramat Binjai, (Ranai. Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna, 2. , h. 42 Umar Natuna dkk. Sejarah. , h. 43 Ibid. , h. 44 Ibid. , h. 47 Ibid. , h. Syeikh Ahmad Khatib alSambasi merupakan peendiri Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah . 3-1875 M), lihat juga Elmansyah dan Patmawati. AoEksistensi Tasawuf di Kalimantan Barat: Kajian Terhadap perkembangan Tarekat,Ao Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, 3. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan banyak, di antara yang diketahui dari murid beliau adalah 1. Habib Nong (Sedana. , 2. Haji Muhammad Shalih (Serawak. Malaysi. , 3. Bujang (Imam Masjid Jamik Sabang Barat ke 4 Mida. , 4. Haji Mat Tali (Imam Masjid Jamik Sabang Barat ke-5 Mida. , 5. Muhammad Mirun (Imam Masjid Jamik Sabang Barat ke 6 Mida. , 6. Muhammad Jamin (Imam Masjid Jamik Sabang Barat ke 7 Mida. , 7. Haji Musa (Imam Masjid Jamik Sabang Barat ke 8 Mida. Tokoh-tokoh ulamaAo dipaparkan di atas merupakan sebagian ulamaAo yang menurut analisa penulis memiliki corak nalar Aoirfani yang cenderung pada tasawuf. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ulamaAo yang berdakwah di Natuna, seperti: KH Muhammad Saleh Fathony . ahir 1901 M). 49 Asal muasal beliau adalah dari Patani Thailand Selatan, tepatnya dari Kampung Cabang Tiga Patani. Ayahnya adalah seorang ulama besar dunia Melayu yang tinggal di Mekah bernama Syekh Abdurrahman Gudang Al-Fathoni. Pada tahun 1955 sampai tahun 1957 Haji Muhammad Saleh datang ke Natuna sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Bunguran Timur dan juga menjadi guru agama yang mengajarkan masyarakat akan ilmu-ilmu agama Islam. Banyak tokoh agama di Natuna yang belajar darinya. antara banyak murid H. Abdurrahman Ambon terdapat tiga orang murid utama beliau di Natuna, yaitu Imam Qolun Usman dari Tanjung. Imam Haji Ismail dari Ranai Darat dan H. Arief dari Singgangbulan dan masih banyak tokoh ulamaAo lainnya. Seni dan Tradisi Keagamaan di Natuna Corak nalar Irfani juga teridentifikasi pada bidang seni dan tradisi keagamaan di Natuna. Kesenian dan tradisi ini merupakan salah satu representasi dalam menampilkan karakteristik lingkungan masyarakat yang berfungsi sebagai identitasm kepribadian dan sarana Kesenian yang berkembang di Natuna adalah. Mendu. Zapin. Hadrah, berzanji, beredah, ratif saman, tingkah alu, berturun, nyanyian wak-wak, pangkak gasing, jung kate dan sebagainya. Beberapa seni dan tradisi ini sudah bertaut dan berakulturasi dengan Islam. Beberapa kesenian di Natuna yang kental dengan nuansa irfani, sebagai berikut. Pertama. Berdah atau lebih popular disebut: beredetAy merupakan salah satu jenis kesenian yang membacakan syair dengan lagu yang dimainkan. Berdah berisikan dzikir dan shalawat. Berdah dimainkan pada malam hari dan biasanya dimulai agak larut malam hingga menjelang subuh. Meskipun sekarang kurang diminati oleh generasi muda. Kedua. Hadrah dan ayam sudur masyarakat Natuna yang diiringi dengan musik dan nyanyian. Kedua bentuk seni ini memilki beberapa jenis lagu dan gerakan baik pada saat duduk bersimpuh maupun pada saat berdiri. Ketiga. Zapin merupakan perpaduan dari gerak dan tarian yang berakar dari zapin Arab. Zapin telah diadaptasi dalam kehidupan masyarakat Natuna, seperti Zapin Elang Tetak dan beberapa zapin Keempat. Kompang/Qasidah menggunakan rebana. Seni ini dimainkan untuk menyambut atau mengiringi tamu, pesta pernikahan, dan lainnya. Kelima. Mendu merupakan satusatunya memasyarakat, yang kini perlahan mulai menghilang di tengah masyarakat padahal 48 Ibid. , h. 49 Ibid. , h. 50 Ibid. , h. 51 Anastasia Wiwik Swastiwi. Toponimi . Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan kesenian ini kaya dengan nilai keluhuran. Kesenian ini berbentuk semacam pentas teater rakyat yang menceritakan hikayat dewa mendu. Seni pertunjukan Mendu pada zaman dahulu dimulai dengan upacara mistis yang kemudian ditentang oleh golongan tua . Permainan ini dimulai dengan terdengaranya tambur perantara berbunyi. Pemimpin permainan yang disebut Syekh Mendu memberi tanda, isyarat atau semboyan perintah kepada kepada penabuh tambur. Madah dibaca dan bunyi-bunyian memainkan lagu Ladun. Semua pemain keluar seorang demi sorang atau sepasang demi sepasang untuk berladun yaitu melangkah ke depan dengan gerak tari diiringi lagu Ladun. Sesudah itu menurut jalan cerita para pelakon melakukan wayat yaitu beriawyat tentang raja-raja yang mengguliran cerita. Hingga akhirnya sebagai penutup, setiap penggal cerita dalam seni pertunjukkan mendu dilakukan upacara Beremas, semaca, tarian bersama yang dipandang sebagai tari tolak bala, yang kononya pada waktu itulah seniman mendu melepaskan mambang dan peri mengundurkan dari panggung tempat bermain. 53 Dalam permainan mendu ada istilah syeh, yang identik dengan panggilan seorang guru, ahli agama atau penyebar agama. Namun demikian, dalam permainan mendu juga ada angkara dewa, sang putri Siti Mahdewi. Hal ini mencerminkan ada proses akulturasi Islam dan budaya lain dalam permainan mendu. Selain tradisi kesenian-kesenian di atas, corak Nalar Irfani juga nampak dalam tradisi keagamaan masyarakat Natuna, yang identik dengan praktik ajaran tasawuf, di antaranya sebagai berikut: Pertama. Kenduri Arwah merupakan sebuah acara keagamaan yang dilaksanakan 52 Ibid. , h. pada saat sanak saudara atau kerabat meninggal dunia. Masyarakat menyebut acara tersebut dengan beberapa nama, yaitu Meghi Wah. Makan Hol, dan Ceduou. Kedua. Ziarah Kubur, tradisi ini biasa dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kuburan yang diziarahi bukan hanya pada makam sanak saudara. Namun juga beberapa berziarah ke makam-makam yang dikeramatkan oleh masyarakat Natuna. Ketiga. Ratib Saman, tradisi ini awalnya diperkenalkan oleh Imam Hasanudin di Ranai. Setelah beliau wafat kemudian diturunkan kepada anaknya yaitu Imam Hamzah Hasanudin, selajutnya diturunkan kepada Imam Saban56. Ratib Saman diyakini masyarakat dalam rangka untuk menolak wabah penyakit tertentu yang meresahkan masyarakat yang mana terdapat banyak korban meninggal dunia akibat wabah Ratib saman juga dilakukan untuk keperluan hajat tertentu yang biasa dilakukan pada akhir bulan Ramadhan pada malam hari ke 26 atau 27 sebelum acara khatmil QurAoan. Ratib Saman yang dilakukan untuk hajat tertentu biasa dilakukan di dalam masjid atau rumah. Sedangkan untuk menghalau wabah penyakit dilakukan sambil berjalan sekeliling kampung. Pelaksanaan tradisi Ratib Saman dipimpin oleh seorang induk khalifah dan tiga orang khalifah yang masing-masing khalifah membawahi satu kelompok yang terdiri dari kira-kira enam atau tujuh orang. Jadi jumlah peserta ratib saman biasanya dua puluh orang. Kadang juga lebih dari itu dan tidak terbatas jumlahnya sesuai dengan kondisi. Waktu pelaksaan biasa dimulai pada jam sepuluh malam dan 55 Ibid. , h. Ibid. , h. 54 Umar Natuna dkk. Sejarah. , h. 56 Ibid. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan berakhir sampai jam satu atau jam dua Pelaksanaan Ratib Saman untuk menghalau wabah penyakit di sebuah kampung dimulai dari lokasi rumah paling ujung dari kampung ke arah darat . e arah gunung/huta. Kemudian tiga kelompok berpencar menyusuri jalan-jalan yang ada di kampung tersebut. Selajutnya, semua kelompok berjalan masing-masing menuju ke arah pantai sebagai tempat pembuangan wabah dengan harapan masyarakat terbebas dari wabah penyakit yang melanda kampung mereka. Ada pun isi dari ratib saman adalah dzikir kalimat tauhid La Ilaha Illallah, sholawat kepada Nabi Muhammad saw, pembacaan Ayat suci al-QurAoan dan doa. Keempat. Beghedet (Burda. , tradisi ini pembacaan Qoshidah Burdah yang Imam Syarofuddin Muhammad Bin SaAoid al-Bushiri . -698 H). Pembacaan tersebut dilakukan dengan cara dan lagu tertentu. Tradisi ini biasa dilakukan ketika ada acara pernikahan. Dahulu orang-orang tua di Kabupaten Natuna apabila ada yang akan menikah maka pada malam harinya dilaksakan pembacaan burdah tersebut, dan dilakukan semalam suntuk sampai waktu subuh. Kelima. Berzanji, yaitu tradisi membaca kitab Aqdul Jauhar fi Maulidinnabi al-Azhar karya Sayyid JaAofar bin Hasan AlBarzanji . afat tahun 1764 M). Kitab itu berkisah tentang sirah nabawiyyah . ejarah Nabi Muhammad sa. mulai dari kelahirannya sampai hijrah ke Madinah. berkisah tentang budi pekerti Nabi Muhammad saw kemudian di tutup dengan doAoa. Barzanji biasa dilakukan oleh kaum ibu-ibu, mereka memulai pada bulan Rabiul awwal dalam rangka memperingati Nabi Muhammad dilaksanakan di masjid atau surau setiap seminggu sekali sampai bulan Jumadil akhir yang dilaksanakan secara bergiliran dengan surau/masjid lainnya. Tradisi berzanji di daerah tersebut awalnya dibawa oleh seorang ulama yang berasal dari Pontianak dan belajar di Masjidil Haram Mekkah, yaitu Tuan Syekh Abu Bakar Al-Funtiani. Sedangkan untuk kaum laki-lakinya untuk memeringati Maulid Nabi dilakukan tradisi Jike (Dzikir Mauli. , tradisi ini dilakukan pada dua belas Rabiul awwal. Keenam. Ghaye Puase Enam, tradisi ini dilakukan seperti tradisi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dengan saling bersilaturrahmi dan mengunjungi sanak saudara, sahabat dan tetangga terdekat. Tapi tradisi ini juga dilakukan setelah melaksanakan puasa sunnah selama enam hari pada bulan Syawwal. Jadi, orang-orang yang berpuasa tersebut, ketika selesai menunaikan puasanya, melaksanakan tradisi berhari Raya lagi seperti hari raya Idul Adha. Ketujuh. Bubo Asyuro (Bubur Asyur. , tradisi ini dilakukan pada setiap tanggal 10 bulan Muharram untuk memperingati peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Islam yang terjadi pada hari asyuro. Tradisi ini dilakanakan di masjid atau madrasah. Kedelapan. Tepung Tawar, tradisi ini merupakan sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Natuna dalam rangka untuk menolak balaAo . Tepung tawar biasa dilakukan ketika kelahiran seorang anak, atau selepas sunatan atau ketika menjalankan prosesi pernikahan. Kadang tepung tawar juga dilakukan dalam keadaan tertentu yang di anggap penting 58 Ibid. , h. 59 Ibid. , h. 57 Ibid. , h. 60 Ibid. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan seperti peresmian bangunan-bangunan besar dan lain-lain. Biasanya tepung tawar dilakukan Melayu merendam tangan ke dalam bejana air yang sudah dimasukkan berbagai macam dedaunan yang telah ditentukan sambil membaca doa qunut dan doa tolak balaAo oleh seorang imam atau tokoh masyarakat yang dituakan. Lalu air tersebut dipercikkan atau disapukan kebagian tubuh yang diinginkan dengan harapan agar Allah swt. memberikan berkah dan kemudahan dalam segala hal kebaikan atau pun kesembuhan bagi yang sakit. Kesembilan. Mandik Aek Safa (Mandi Air Safa. , tradisi ini dilaksanakan dalam rangka untuk mengimunkan orang dari terkena nahas atau musibah dalam bahasa lain menjauhkan orang/masyarakat dari celaka, karena pada Safar itu masyarakat beranggapan adalah bulan nahas dan mudah saja membuat masyarakat/orang mengalami kecelakaan. Mandi air safar dilakukan dengan cara memasukkan Tulisan al-Quran ke dalam Bak Mandi. Drum dan Sumur (Telag. kemudian airnya digunakan untuk mandi sanak saudara dan masyarakat Demikian kesenian dan tradisi yang telah diuraikan di atas menunjukkan adanya bukti adanya pertautan Islam dengan masyarakat Natuna. Tradisi dan kesenian tersebut memilik corak pemikiran nalar irfani yang kental dengan nuansa Tradisi dan kesenian pada umumnya memiliki karakteristik yang Pertama, berprinsip ketauhidan, yakni sangat religius. Kedua, dalam prakteknya mengutamakan sifat keikhlasan. Yang jauh dari sifat individualistik. Ketiga, tradisi kesenian dan budayanya dibangun Ibid. , h. berdasarkan model keberagamaan berbasis afektif dan rasa, dengan peningkatan moral dan keluhuran budi Keempat, tradisi dan kesenian di Natuna berbasis pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran. Perkembangan Tasawwuf & Tarekat Corak perkembangan Islam di Natuna juga terindentifikasi dalam pemikiran tasawuf di Natuna. Secara umum ulamaAo Natuna berpandangan kepada ajaran tasawuf Imam Junaid Al-Baghdadi. Imam Abu Qosim Al-Qusyairi dan Imam al-Ghazali. Selain imam tasawuf di atas, masyarakat Natuna juga banyak mengkaji Kitab dari ulamaAo nusantara seperti kitab "Siyarus Salikin" yang ditulis oleh Syekh Abdussomad al-Falimbangi. AoIhyaAo UlumuddinAo karya al-Ghazali juga menjadi rujukan utama beberapa Aoulama dalam ilmu tasawwuf di Kabupaten Natuna. Termasuk kitab Minhajul Abidin karya al-Gazali dan kitab Al-Hikam karya Ibnu AoAthoAoilah Al-Askandari. Ajaran tasawwuf di Natuna juga dapat ditunjkkan dengan adanya beberapa tarekat yang dianut oleh ulama dan tokohtokoh di Natuna. Seperti Tarekat Qadiriyyah. Tarekat Naqsyabandiyyah dan Tarikat Syathariyyah, yang memang banyak tersebar di Kepulauan Riau. Salah satu dari ulama Natuna yang terkenal sebagai pengikut tarekat adalah Tuan Abdurrohman Ambon yang mengikuti ajaran tarekat qadiriyyah dan ia juga menjadi salah seorang mursyid dalam tarekat ini. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh sufi yang besar dalam perkembangan Islam di Natuna. Meskipun sebagian masyarakat belum berbaiAoat kepada satu tarekat tertentu, namun mereka tetap melaksanakan amalan-amalan yang berasal dari tarekat-tarekat atau ajaran tasawuf dari para sufi tersebut. Seperti amalan Sholawat DalaAoil Khairot ijazah 62Ibid. , h. 63 Ibid. , h. 64 Ibid. , h. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Alfan Sidik Nalar Irfani Dalam Perkembangan dari sufi dari Maroko yaitu Imam Abi Abdillah Muhammad bin Sulaiman AlJazuli. Ratib al-Haddad karya Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad alHaddad. Barzanji karya Sayyid JaAofar bin Hasan Al-Barzanji . afat tahun 1764 M) dan Qoshidah Burdah karya Imam Syarofuddin Muhammad Bin SaAoid alBushiri . -698 H) dan lain sebagainya. Salah satu kekhasan corak nalar irfani di Natuna misalnya adalah berkembangnya sebuah pemikiran yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Ilmu Nukel/Kaji Nukel, yakni suatu kajian tasawwuf yang didasarkan pada logika atau disebut sekarang dengan istilah tasawwuf Adapun tokohnya di Natuna adalah Tok Imam Muhammad Panjang yang tinggal di daerah Limau Manis. DAFTAR PUSTAKA