Jurnal Ilmiah Keperawatan Dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN :2963-9042 online : https://jurnal. id/index. php/JIKKA PEMBERIAN FOOT MASSAGE UNTUK MENGATASI NYERI AKUT PADA PASIEN HIPERTENSI Dian Yunita Nur Primasari1. Retno Lusmiati Anisah2. Ratna Kurniawati3 1,2,3 Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung Email Korespondensi : dianyunita948@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Hipertensi menjadi salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh Salah satu gejala yang dialami oleh penderita hipertensi adalah sakit kepala, apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, dapat berkembang menjadi kondisi yang tidak diharapkan seperti stroke, jantung koroner, dan gagal ginjal. Terapi foot massage diketahui dapat mengurangi nyeri pada pasien hipertensi. Tujuan: Mengetahui keberhasilan foot massage untuk mengatasi nyeri akut pada pasien hipertensi. Metode: case study dengan 2 pasien dewasa yang menderita hipertensi dengan nyeri kepala sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa setelah dilakukan terapi foot massage selama 3 hari pada sore hari, nyeri akut teratasi dibuktikan dari skala 4 . dan 3 . menjadi 0 . idak nyer. (NRS). Kesimpulan: Pemberian foot massage terbukti dapat mengatasi nyeri akut pada pasien hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi. Nyeri Akut. Foot massage GIVING FOOT MASSAGE TO OVERCOME ACUTE PAIN IN HYPERTENSION PATIENTS ABSTRACT Background: Hypertension is one of the most common diseases experienced by the One of the symptoms experienced by hypertension sufferers is headaches, if not treated properly, it can develop into unexpected conditions such as stroke, coronary heart disease, and kidney failure. Foot massage therapy is known to reduce pain in hypertension patients. Objective: to determine the effectiveness of foot massage in treating acute pain in hypertensive patients. Method: case study with 2 adult patients suffering from hypertension with headaches according to the inclusion criteria. Results: The results of the study showed that after foot massage therapy was carried out for 3 days in the afternoon, acute pain was resolved as evidenced by a scale of 4 . and 3 . to 0 . o pai. (NRS). Conclusion: Providing foot massage has been proven to be able to overcome acute pain in hypertensive patients. Keywords: Hypertension. Acute Pain. Foot massage PENDAHULUAN Hipertensi dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia dan jenis Menurut (WHO, 2. , 1,28 hipertensi di dunia usia 30Ae79 tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018, di Indonesia prevalensinya mencapai 34,1% pada usia di atas 18 tahun (Kemenkes RI, 2. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa di Provinsi Jawa Tengah sebesar 37,57%. Pada 2021, terdapat sekitar 8,7 juta penderita hipertensi berusia di atas 15 tahun atau 30,4% dari populasi usia tersebut (Suminar, 2. Hipertensi terjadi ketika tekanan dalam pembuluh darah melebihi 140/90 mmHg (WHO, 2. , dan secara umum ditandai dengan gejala seperti sakit kepala, pusing, lemas, sesak napas, mual, hingga penurunan kesadaran (Falo et al. Salah satu gejala hipertensi adalah nyeri kepala, yang terjadi akibat perubahan struktur pembuluh darah, peningkatan resistensi di pembuluh darah otak (Arianto et al. , 2. Sementara itu hipertensi dapat menyebabkan komplikasi seperti stroke akibat peningkatan tekanan intrakranial, penyakit jantung koroner karena penebalan arteri koroner, serta gagal ginjal dan retinopati akibat kerusakan pembuluh darah pada ginjal (Saputra & Huda, 2. Penatalaksanaan untuk mengontrol tekanan darah tinggi dilakukan dengan dua cara yaitu secara farmakologis dan non farmakologis. Penatalaksanaan hipertensi dilakukan secara farmakologis yaitu dengan obat antihipertensi yang berisiko menimbulkan efek samping jika tidak dikonsumsi sesuai aturan, dan secara nonfarmakologis melalui terapi akupunktur, akupresur, serta foot massage yang aman dan membantu melancarkan sirkulasi darah (Awaliah & Mochartini, 2. Penelitian (Ayu et al. , 2023. Mutawadingah & Kurniawan, 2019. Winantuningtyas & Ismoyowati, 2. membuktikan bahwa terapi foot massage yang dilakukan selama 3 hari berturutturut terbukti efektif dalam mengurangi nyeri kepala dan mengatasi ketegangan Karena sebagian besar pasien hipertensi mengalami nyeri kepala maka mengetahui seberapa efektif pemberian foot massage untuk mengatasi nyeri akut pada pasien hipertensi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode studi kasus kualitatif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Subjek penelitian terdiri dari dua pasien wanita dewasa yang mengalami hipertensi derajat sedang disertai keluhan nyeri kepala, memiliki riwayat hipertensi O 5 tahun, dengan durasi nyeri < 3 bulan, mengonsumsi obat antihipertensi, berada dalam kondisi sadar penuh, mampu berkomunikasi verbal, dan bersikap kooperatif selama proses asuhan Metode keperawatan yang meliputi wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan Media yang digunakan yaitu menggunakan lembar pengkajian hipertensi, pengkajian nyeri akut menurut Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), dan pengkajian skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Studi kasus yang memenuhi kriteria tersebut akan diberikan terapi foot Evaluasi menggunakan lembar evaluasi tingkat Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang mencakup evaluasi skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS) dan tekanan darah serta nadi. Terapi foot massage ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut pada sore hari 1 jam sebelum minum obat, selama 15 menit. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Februari 2025. Pasien dalam manifestasi dari gejala hipertensi, seperti tekanan darah Ou140/90 mmHg, nyeri kepala bagian belakang, gangguan tidur, pandangan berkunang-kunang, dan mudah lelah. Pasien pertama, memiliki riwayat hipertensi hampir 5 tahun yang disebabkan oleh faktor genetik dari Ia juga didiagnosis menderita diabetes melitus sejak 2 tahun lalu dan sering mengalami gangguan tidur akibat frekuensi berkemih malam hari . Pasien 1 rutin mengonsumsi obat dan telah menerapkan pola makan Sementara itu, pasien kedua, memiliki riwayat hipertensi selama 4 tahun yang juga disebabkan oleh faktor keturunan dari ibunya. Hipertensinya tergolong hipertensi diastolik. Meskipun telah mengatur pola makan, pasien 2 tidak mengonsumsi obat secara rutin karena sering lupa. Hasil pengkajian hipertensi yang dilakukan pada kedua pasien diuraikan pada tabel 1. Tabel 1. Hasil Pengkajian Hipertensi Meningkatnya tekanan darah yaitu C 140 / 90 mmHg Ny. Tidak Oo Ny. Tidak Oo Sakit kepala bagian belakang Oo Sulit tidur Mata berkunang-kunang Mudah lelah Pernyataan Oo TOTAL (Bachrudin & Najib, 2. Berdasarkan disimpulkan bahwa kedua pasien mengalami hipertensi. Dari hasil pengkajian hipertensi, kedua pasien 80% terdapat masalah sesuai dengan tanda gejala hipertensi Pengkajian terhadap kedua pasien dilanjutkan dengan mengkaji masalah keperawatan nyeri akut sesuai dengan tanda dan gejala mayor serta minor, hasil pemeriksaan diuraikan pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Pengkajian Nyeri Akut Pernyataan Ny. Tidak Oo Ny. Tidak Oo Mengeluh nyeri Tampak meringis Bersikap protektif Gelisah Frekuensi nadi meningkat Sulit tidur Tekanan darah meningkat Oo TOTAL (PPNI, 2. Hasil dari pengkajian masalah keperawatan yang diuraikan pada tabel 2, dapat disimpulkan kedua pasien mengalami masalah keperawatan nyeri akut yang disebabkan oleh agen pencedera fisiologis . Pengkajian pada kedua pasien diperoleh data yaitu mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur, tekanan darah meningkat. Setelah tindakan foot massage, menggunakan luaran keperawatan untuk mengukur keefektifan terapi foot Hasil evaluasi tingkat nyeri setelah dilakukan tindakan terapi foot massage pada tabel 3, 4 dan 5. Tabel 3. Evaluasi Skala Nyeri Numeric Rating Scale (NRS) Hari Ny. Ny. Sebelum . Sesudah . Sebelum . Sesudah . idak nyer. idak nyer. idak nyer. (Nurhanifah & Sari, 2. Tabel 3 menunjukkan bahwa terjadi penurunan skala nyeri kepala pada kedua pasien dari hari pertama hingga hari Pada Ny. Id, nyeri kepala mengalami penurunan dari skala 4 . menjadi skala 0 . idak nyer. Demikian pula. Ny. In mengalami penurunan nyeri kepala dari skala 3 . menjadi skala 0 . idak nyer. Tabel 4. Evaluasi Tekanan Darah dan Nadi Hari Ny. Ide Tekanan Darah Nadi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 180/ 90 160/80 160/ 90 150/90 170/100 150/90 Tabel 4 menunjukkan adanya penurunan tekanan darah dan frekuensi nadi pada kedua pasien dari hari pertama hingga hari ketiga. Pada Ny. Id, tekanan darah menurun dari 180/90 mmHg menjadi 150/90 mmHg, sementara frekuensi nadi berkurang dari 88x/menit menjadi 74x/menit. Demikian pula, pada Ny. Tekanan Darah Nadi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 180/100 160/100 160/80 160/ 90 170/90 160/100 Ny. In, terjadi penurunan tekanan darah dari 180/100 mmHg menjadi 160/100 mmHg, serta penurunan frekuensi nadi dari 87x/menit menjadi 76x/menit. Hasil ini mengindikasikan bahwa foot massage . ijat kak. berkontribusi dalam menurunkan tekanan darah terutama sistolik dan frekuensi nadi. Tabel 5. Evaluasi Tingkat Nyeri (Standar Luaran Keperawatan Indonesia / SLKI) Pernyataan Mengeluh nyeri Tampak meringis Bersikap protektif Tampak gelisah Sulit tidur Ny. Ny. Keterangan : meningkat . , cukup meningkat . , sedang . , cukup menurun . , menurun . Frekuensi nadi Tekanan darah Keterangan : memburuk . , cukup memburuk . , sedang . , cukup membaik . , membaik . Tabel 5 menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri pada kedua pasien setelah dilakukan foot massage . ijat kak. : mengeluh nyeri di kepala bagian belakang menurun, tampak meringis, bersikap protektif, tampak gelisah, dan sulit tidur menurun. Frekuensi nadi membaik dan tekanan darah cukup membaik dan sedang. PEMBAHASAN Kedua pasien mengalami hipertensi di mana tekanan darahnya di atas 140/90 mmHg yang disebabkan faktor genetik, pola konsumsi garam yang berlebihan, serta tingkat stres juga berperan dalam (Prayitnaningsih et al. , 2. Kelelahan dan kurang tidur meningkatkan hormon stres, menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan tekanan darah (GecaiteStonciene et al. , 2021. Subagiartha et al. Pasien dengan hipertensi, nadi sering kali menjadi lebih cepat . , terutama jika hipertensi disertai dengan stres, kecemasan, atau gangguan aktivitas sistem saraf simpatis. Mekanisme ini terjadi karena aktivasi sistem saraf simpatis dan peningkatan kadar katekolamin seperti adrenalin dan norepinefrin, yang mempercepat denyut jantung dan mempersempit pembuluh darah (Palatini, 2. Nyeri kepala yang dialami pasien gangguan sirkulasi otak. Kondisi ini (PPNI, 2. meningkatkan resistensi pembuluh darah otak, yang berkontribusi pada timbulnya nyeri kepala (Murtiono & Ngurah. Sulit tidur pada kedua pasien pembuluh darah yang meningkatan tekanan darah serta gangguan sirkulasi Akibatnya, terjadi nyeri kepala yang membuat pasien merasa tidak nyaman dan mengalami kesulitan tidur, bahkan dapat menyebabkan insomnia (Martini et al. , 2. Kurangnya suplai oksigen akibat gangguan sirkulasi darah juga dapat metabolisme di tungkai, yang berujung pada kelelahan . (Lainsamputty. Pada pasien hipertensi kecemasan kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan tekanan darah secara tiba-tiba, komplikasi serius (Sunarti et al. , 2. Foot massage adalah terapi komplementer yang dapat meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi rasa nyeri, merelaksasi otot, dan memberikan kenyamanan kepada pasien (Ainun et al. Pelaksanaan foot massage dilakukan selama 3 hari berturut turut selama 10-20 menit dengan 12 gerakan. Gerakan pertama yaitu menggunakan tumit telapak tangan untuk menggosok dan memijat telapak kaki dari arah dalam ke sisi luar pada bagian terluas kaki kanan, lalu bagian yang sempit dari kaki kanan. Selanjutnya, semua jari dipegang tangan kanan sementara tangan kiri menopang tumit, kemudian pergelangan kaki diputar 3 kali searah jarum jam dan 3 kali Gerakan maju-mundur dilakukan 3 kali untuk menilai Berikutnya, digerakkan ke depan dan belakang dengan posisi tangan menopang dan memberi tekanan lembut menggunakan Masing-masing jari kaki diputar dan dipijat 3 kali pada kedua arah untuk memeriksa ketegangan. Setelah itu dilakukan pijatan lembut pada punggung kaki hingga ke bawah jari, bergantian dengan tangan yang menopang tumit dengan gerakan yang sama. Pijatan dilanjutkan dengan memberi tekanan lembut pada punggung, tumit, dan pergelangan kaki. Tumit kemudian diputar searah dan berlawanan jarum jam, diikuti pijatan lembut pada sela-sela jari kaki dengan gerakan naik-turun. Gerakan terakhir adalah menekan bagian bawah kaki menggunakan tumit tangan sambil memegang jari kaki ((Puthusseril, 2. dalam (Ainun et al. , 2. Tindakan foot massage membantu menurunkan nyeri pada penderita hipertensi melalui sentuhan yang mampu mengurangi ketegangan, merilekskan otot, serta memberikan distraksi sementara pada area tubuh yang terasa sakit (Nurlaily Afianti & Mardhiyah. Fase terakhir yaitu evaluasi yang dilakukan untuk menilai keberhasilan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (PPNI, 2. Fokus luaran dalam penilaian tingkat nyeri yaitu mengeluh nyeri menurun dari sedang . menjadi menurun . , tampak meringis menurun . , bersikap protektif menurun . , tampak gelisah menurun . , sulit tidur menurun dari meningkat . menjadi menurun . , frekuensi nadi membaik . , tekanan darah cukup membaik dari sedang . menjadi cukup membaik . Dari hasil luaran dapat disimpulkan bahwa pemberian foot massage dapat mengurangi nyeri pada penderita KESIMPULAN Hipertensi adalah kondisi tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi yaitu Ou140/90 mmHg, yang sering disertai gejala seperti sakit kepala belakang dan nyeri akut, ditandai dengan keluhan nyeri, gelisah, sulit tidur, dan peningkatan tekanan darah serta denyut Foot massage merupakan terapi komplementer berupa pijatan lembut pada kaki untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Foot massage terbukti dapat dalam mengatasi nyeri akut dan tekanan darah terutama sistolik pada pasien hipertensi dibuktikan dengan penurunan skala nyeri menurun yaitu dari skala 4 dan skala 3 menjadi skala 0 (NRS) pada kedua pasien. Foot massage dapat menurunkan skala nyeri dan tekanan darah apabila dikombinasikan dengan minum obat yang rutin, istirahat yang cukup, mengatur pola makan yang sehat dan bukan terapi utama pengganti obat. DAFTAR PUSTAKA