Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 REVIEW ARTIKEL : POTENSI TANAMAN OBAT DALAM MENGATASI HIPERURESEMIA ARTICLE REVIEW : POTENTIAL OF MEDICINAL PLANTS IN OVERCOMING HYPERURESEMIA Diana Sri Zustika*. Mardiyah Nur Asrie Maryatisna. Shanty Nur Azizah. Alya Nisrina Fauziyyah. Neng Hilda Nurhalida. Tia Ayu Halidatunur Prodi S1 Farmasi. Universitas Bakti Tunas Husada Jl. Mashudi No. 20 Kel. Kahuripan Tawang. Kota Tasikmalaya. Jawa Barat 461115 *e-mail korespondensi : asriacita@gmail. ABSTRAK Hiperurisemia merupakan kondisi peningkatan kadar asam urat dalam tubuh yang dapat memicu terjadinya asam urat dan berbagai gangguan metabolik lainnya. Di Indonesia, prevalensi hiperurisemia terus meningkat seiring bertambahnya usia dan pola hidup yang tidak sehat sementara terapi konvensional seperti allopurinol masih memiliki keterbatasan akibat efek samping yang menyertainya. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan alternatif yang lebih aman dan efektif salah satunya melalui pemanfaatan tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau potensi tanaman obat dalam menurunkan kadar asam urat berdasarkan hasil - hasil studi in vivo. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah 32 jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan dalam lima tahun Dari analisis tersebut diperoleh 15 tanaman herbal yang memiliki aktivitas antihiperurisemia, terutama karena kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan Mekanisme utama yang teridentifikasi adalah penghambatan enzim xantin oksidase dan peningkatan ekskresi asam urat melalui urin. Tiga tanaman yang menunjukkan hasil paling signifikan dalam menurunkan kadar asam urat secara in vivo adalah daun leilem, bunga sepatu, dan daun kelor dengan dosis optimal masing - masing. Kesimpulan dari pengamatan ini menunjukkan bahwa tanaman obat memiliki prospek besar sebagai terapi pendamping atau alternatif dalam pengelolaan Namun, validasi lebih lanjut melalui uji klinis masih sangat diperlukan untuk mendukung pengoperasian secara luas dalam praktik klinis. Kata Kunci : Hiperurisemia. Asam Urat. Tanaman Obat. Flavonoid. Xantin Oksidase ABSTRACT Hyperuricemia is a condition of increased uric acid levels in the body that can trigger gout and various other metabolic disorders. In Indonesia, the prevalence of hyperuricemia continues to increase with age and an unhealthy lifestyle while conventional therapies such as allopurinol still have limitations due to the accompanying side effects. Therefore, a safer and more effective alternative treatment is needed, one of which is through the use of medicinal plants. This study aims to review the potential of medicinal plants in reducing uric acid levels based on the results of in vivo studies. The method used was a literature study by reviewing 26 national and international journals published in the last five From the analysis, 15 herbal plants were obtained that have antihyperuricemia activity, mainly due to the content of secondary metabolite compounds such as flavonoids, alkaloids, saponins, and The main mechanisms identified were inhibition of xanthine oxidase enzyme and increased uric acid excretion through urine. The three plants that showed the most significant results in reducing uric acid levels in vivo were leilem leaves, hibiscus flowers, and Moringa leaves with their respective optimal doses. The conclusion from this observation shows that medicinal plants have great prospects Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 as companion or alternative therapies in the management of hyperuricemia. However, further validation through clinical trials is needed. Keywords: Hyperuricemia. Uric Acid. Medicinal Plants. Flavonoids. Xanthine Oxidase Diterima: 07 Mei 2025 Direview: 23 Juni 2025 Diterbitkan: 06 Agustus 2025 PENDAHULUAN Gout atau asam urat merupakan jenis radang sendi akibat pembentukan kristal monosodium Kondisi ini merupakan terminasi dari lintasan metabolisme purin. Pada pria dan wanita, konsentrasi serum asam urat normalnya sebaiknya tidak melebihi 6 mg/dL pada wanita dan 7 mg/dL pada pria. Sumber purin yang dikonversi menjadi asam urat sebagian besar berasal dari metabolisme sel dalam tubuh . % atau lebi. , sedangkan sisanya sekitar 20% berasal dari makanan yang dikonsumsi sehari - hari (Marlina et al. , 2. Hiperurisemia sendiri didefinisikan sebagai kondisi peningkatan kadar asam urat dalam darah (SUA Ae serum uric aci. yang melebihi ambang kelarutan kristal monosodium urat (MSU Ae monosodium urat. , yaitu sekitar 6,8 mg/dL atau 404 AAmol/L. Namun hingga saat ini belum ada kesepakatan internasional mengenai batas nilai pasti kadar asam urat sebagai acuan diagnosis Beberapa sumber menyebutkan batas >6 mg/dL, sementara lainnya menetapkan >7 mg/dL, bahkan ada pedoman klinis yang membedakan ambang batas berdasarkan jenis kelamin. Peningkatan kadar SUA menjadi faktor utama dalam pembentukan kristal MSU yang memicu gout, meskipun tidak semua penderita hiperurisemia mengalami gejala klinis (Timsans et al. , 2. Saat ini, prevalensi gangguan metabolik seperti hiperurisemia terus meningkat baik di tingkat dunia maupun di Indonesia. Di Indonesia, gout tercatat sebesar 6 hingga 13,6 per 100. 000 penduduk dan angka ini diketahui terus meningkat seiring bertambahnya usia. Menurut laporan Global Burden of Disease (GBD), prevalensi hiperurisemia di Indonesia mencapai 18% (Latief et al. , 2. Studi PolSenior di Polandia mencatat prevalensi hiperurisemia sebesar 28,2% pada wanita dan 24,7% pada pria berusia 65 tahun ke atas, sedangkan studi GOAL di Finlandia menunjukkan prevalensi mencapai 48% pada rentang usia 52Ae76 tahun, dengan 60% pada pria dan 31% pada wanita. Secara global, risiko gout pada pria tercatat 3,26 kali lebih tinggi dibandingkan wanita, sehingga perlu mendapat perhatian serius sebagai masalah kesehatan masyarakat (Timsans et al. , 2. Masalah kesehatan terkait gout umumnya diperburuk oleh pola hidup tidak sehat serta pola makan tinggi purin, seperti konsumsi hati, paru-paru, kerang, ginjal, ekstrak daging, limpa, dan organ otak yang dapat memicu peningkatan kadar asam urat dalam darah. Gejala umum asam urat muncul mendadak berupa nyeri sendi yang sangat menyakitkan, terutama pada malam hari, mengganggu mobilitas, dan berkembang cepat dalam beberapa jam (Anwar Syahadat & Yulia Vera, 2. Penanganan hiperurisemia secara konvensional umumnya menggunakan obat penurun kadar asam urat seperti allopurinol atau febuxostat. Obat allopurinol bekerja dengan cara menghambat perubahan hipoksantin dan xantin menjadi asam urat. Namun penggunaannya dapat menimbulkan efek samping seperti diare, mual, muntah, neuropati perifer, serta anemia non-trauma (Manopo et al. , 2. Di sisi lain, obat - obatan ini juga berisiko menimbulkan reaksi alergi berat, gangguan fungsi ginjal, serta memerlukan pemantauan rutin sehingga sering memengaruhi kepatuhan pasien (FitzGerald et al. Sebagai alternatif, pendekatan non-farmakologis melalui penggunaan tanaman obat semakin banyak diteliti. Bahan alami mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, dan polifenol yang berpotensi menurunkan kadar asam urat dengan menghambat enzim xantin oksidase dan xantin hidrogenase (Manopo et al. , 2. Senyawa tersebut juga dinilai memiliki mekanisme kerja yang lebih beragam dengan risiko efek samping yang relatif lebih rendah dibandingkan obat sintetik (Kozak et al. , 2. Flavonoid berperan dalam mengkatalisasi proses oksidasi hipoksantin dan xantin menjadi asam urat (Muzuni et al. , 2. Beberapa tanaman yang dilaporkan memiliki aktivitas antihiperurisemia di antaranya Ekstrak Etanol Daun Leilem (Clerodendrum minahasa. Ekstrak Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa Ae Sinensis L. Ekstrak Etanol Herba Suruhan (Peperomia pellucida Kunt. Ekstrak Daun Sesewanua (Clerodendrum fragrans [Ven. Willd. Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam. Ekstrak Etanol Kencur (Kaempferia galanga L. ) dan Jahe Hitam (Kaempferia parviflor. Ekstrak Etanol Seledri (Apium graveolens L. Ekstrak Etanol Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus (Blum. Miq. Ekstrak Etanol Buah Pare (Momordica charantia L. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Ekstrak Etanol Daun Sidaguri (Sida rhombifolia L. Kersen Hijau (Muntingia calabura L. Salam (Syzygium polynathu. dan Suruhan (Peperomia pellucida L. Kelor (Moringa aloeifere L) dan Sukun (Artocarpus altili. Mangga (Mangifera indica. Kawista (Limonia asam L. Artikel ini disusun dengan tujuan memberikan informasi dan pemahaman tentang berbagai tanaman yang dapat menjadi alternatif pengobatan untuk gout. Penjelasan yang disajikan diharapkan membantu masyarakat dan pembaca memanfaatkan informasi ini secara optimal. METODE PENELITIAN Pencarian materi yang telah disajikan dalam artikel tinjauan ini dilakukan melalui metode studi Proses pencarian berlangsung secara daring menggunakan berbagai platform seperti Google Scholar. PubMed, serta beberapa aplikasi pendukung lainnya dengan kata kunci AuTanaman AntihiperurisemiaAy. AuUji Aktivitas AntihiperurisemiaAy, dan AuAsam UratAy. Dari pencarian ini diperoleh 32 jurnal yang relevan dari tingkat nasional maupun internasional yang dijadikan acuan atau referensi dengan rentang tahun publikasi dalam 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2019 hingga 2024. Di antara jurnal - jurnal tersebut 15 di antaranya membahas tanaman yang berpotensi mengatasi masalah asam urat dan 17 jurnal lainnya berfungsi sebagai referensi pendukung. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyakit asam urat tergolong kategori radang sendi yang timbul akibat menumpuknya kristal monosodium urat. Penumpukan itu dipicu oleh meningkatnya kadar asam urat yang memicu pembentukan kristal mengendap di area sendi serta menimbulkan nyeri serta pembengkakan. Kristal tersebut dapat mengendap di berbagai sendi, contoh sendi jari kaki, lutut, maupun pergelangan kaki dengan manifestasi klinis yang paling umum terjadi pada ibu jari kaki . endi metatarsofalangeal Rentang normal kadar asam urat dalam darah berada pada kisaran 2,4 Ae 6,0 mg/dL untuk perempuan, 3,4 Ae 7,0 mg/dL untuk laki - laki, dan 2,0 Ae 5,5 mg/dL untuk anak Ae anak (Marlina et al. Tumbuhan tersusun atas senyawa metabolit primer contohnya protein, lemak, karbohidrat serta metabolit sekunder contohnya tanin, terpenoid/steroid, alkaloid, flavonoid dan saponin (Asfahani et , 2. Senyawa metabolit sekunder contohnya terpenoid, alkaloid, polifenol, flavonoid serta resin diketahui aktivitasnya sebagai antioksidan. Flavonoid secara khusus berkontribusi dalam proses penghambatan aktivitas enzim xantin oksidase serta penurunan produksi radikal bebas berupa superoksida, sehingga berpotensi menurunkan sintesis asam urat dalam tubuh. Dalam pengelolaan hiperurisemia, dua mekanisme utama yang menjadi sasaran terapi, yaitu penghambatan enzim xanthine oxidase (XO) dan peningkatan ekskresi asam urat melalui penghambatan transporter reabsorptif di ginjal . Xantin oksidase merupakan enzim kunci dalam proses pembentukan asam urat, yang mengkatalisis konversi hipoksantin menjadi xantin dan selanjutnya menjadi asam urat. Inhibitor XO seperti allopurinol dan febuxostat bekerja dengan menghambat langkah ini, sehingga mengurangi produksi asam urat secara langsung. Di sisi lain, pendekatan urikosurik bertujuan menurunkan kadar asam urat dengan meningkatkan ekskresinya melalui ginjal, terutama dengan menghambat transporter reabsorptif seperti URAT1 (SLC22A. OAT4, dan OAT10. Obat - obatan seperti probenesid, lesinurad, dan benzbromarone berfungsi sebagai inhibitor URAT1, yang menggeser keseimbangan transport asam urat menuju sekresi bersih. Jurnal ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar agen urikosurik bekerja lebih poten terhadap URAT1 dibandingkan dengan transporter sekresi seperti OAT1. OAT3, atau BCRP, menggaris bawahi dominasi peran URAT1 dalam pengaturan kadar serum urat. Dengan demikian, strategi penurunan kadar asam urat dapat dilakukan melalui dua jalur utama penghambatan produksi di tingkat enzimatis dan peningkatan eliminasi melalui manipulasi sistem transportasi ginjal (Tytrai et al. , 2. Pengobatan utama untuk hiperurisemia biasanya menggunakan allopurinol, obat ini mampu menekan kadar asam urat melewati mekanisme inhibisi terhadap aktivitas enzim xantin oksidase. Aktivitas dari flavonoid sebagai antioksidan dikaitkan dengan keberadaan gugus -OH berikatan dengan cincin aromatic yang dapat menangkap radikal bebas dan muncul melalui proses peroksidasi lemak, pada akhirnya dapat mengurangi kadar asam urat (Devi et al. , 2. Allopurinol telah lama menjadi pilihan utama dalam pengobatan hiperurisemia karena kemampuannya dalam menurunkan kadar asam urat melalui mekanisme penghambatan enzim xantin Namun, penggunaan jangka panjang obat ini tidak jarang menimbulkan efek samping yang cukup mengganggu, seperti gangguan pencernaan, reaksi alergi, hingga kelainan darah. Hal ini Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 mendorong perlunya alternatif yang lebih aman namun tetap efektif. Penelitian oleh Gao dkk. menunjukkan bahwa febuxostat sebuah inhibitor xantin oksidase non-purin memiliki kemampuan yang lebih kuat dibandingkan allopurinol dalam menurunkan kadar asam urat pada pasien hiperurisemia dan asam urat. Selain itu, febuxostat juga menunjukkan profil keamanan kardiovaskular yang lebih baik pada beberapa parameter klinis. Fakta ini memperkuat pemahaman bahwa penghambatan enzim xantin oksidase merupakan mekanisme terapeutik yang penting, dan dapat pula diperoleh dari senyawa alami. Sejumlah tanaman obat yang mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid terbukti memiliki efek serupa dalam menurunkan kadar asam urat melalui jalur enzimatik Oleh karena itu, pemanfaatan tanaman obat dapat menjadi strategi potensial sebagai terapi pendamping atau bahkan alternatif bagi pasien yang tidak toleran terhadap pengobatan konvensional (Gao et al. , 2. Flavonoid merupakan kelompok senyawa alami yang diketahui memiliki berbagai potensi aktivitas biologis dan farmakologis, termasuk sebagai agen antioksidan, antibakteri, antivirus, serta bersifat antimutagenik. Senyawa ini juga memiliki kemampuan untuk menghambat aktivitas berbagai enzim penting, seperti fosfoinositida 3-kinase, xantin oksidase, siklooksigenase, dan lipoksigenase. Xantin oksidase dikenal sebagai enzim yang berperan dalam reaksi oksidatif yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan serta berkaitan dengan hiperurisemia . eningkatan kadar asam urat dalam tubu. Dalam proses tersebut, flavonoid berfungsi menghambat reaksi oksidasi hipoksantin dan xantin menjadi asam urat (Muzuni et al. , 2. Namun demikian, tingginya kandungan flavonoid pada suatu tanaman tidak selalu linier dengan efek penghambatan xantin oksidase atau penurunan kadar asam urat, karena aktivitasnya sangat bergantung pada struktur senyawa . isalnya perbedaan aglikon dan glikosida, serta jumlah dan posisi gugus AeOH), sebagaimana ditunjukkan dalam studi 35 flavonoid oleh Zhao et al. , yang melaporkan ICCICA bervariasi mulai dari 0,0001 M hingga >2 M meskipun memiliki kandungan flavonoid total yang serupa. Kolkisin merupakan salah satu jenis senyawa alkaloid berfungsi menekan produksi asam urat sekaligus bersifat antiinflamasi. Mekanismenya melibatkan penghambatan migrasi sel - sel inflamasi lokasi menuju jaringan kristal urat sehingga dapat menurunkan reaksi peradangan yang terjadi. Selain itu, alkaloid lain seperti kafein juga berperan dalam menurunkan pembentukan asam urat. Sebagai senyawa golongan metil xantin, kafein bertindak sebagai penghambat kompetitif terhadap aktivitas enzim xantin oksidase sehingga menghambat interaksi antara xantin dan enzim tersebut yang pada akhirnya menurunkan produksi asam urat (Rachmania et al. , 2. Sementara itu, senyawa polifenol yang bersifat antioksidan juga berkontribusi dalam menurunkan kadar asam urat plasma dan diyakini dapat membantu dalam proses penyembuhan penyakit gout (Latief et al. , 2. Tanin telah terbukti mempunyai efek antioksidan yang memiliki kemampuan menangkap radikal bebas selama pembentukan asam urat dari purin serta bersifat astringen pada membran mukosa. Tanin merupakan turunan saponin, yang juga bersifat antihiperurisemia menghambat enzim xantin oksidase (Latief et al. , 2. Saponin bekerja mirip flavonoid yaitu menghambat enzim xantin oksidase dengan tujuan mengurangi kadar asam urat, memacu ekskresi urin, serta menangkal radikal bebas (Indriani et al. , 2. Terpenoid pun diduga memiliki efek serupa yaitu menghambat XO dan menurunkan kadar asam urat (Ulya et al. , 2. Artikel ini bertujuan untuk meninjau, menganalisis, dan merangkum hasil temuan dari 32 jurnal nasional maupun internasional terkait berbagai tanaman herbal lokal yang berpotensi sebagai agen antihiperurisemia. Peninjauan ini difokuskan pada identifikasi spesies tanaman, senyawa metabolit sekunder yang dikandungnya, mekanisme kerja penurunan kadar asam urat, serta bukti efektivitas melalui uji in vivo, sehingga dapat memberikan informasi ilmiah sebagai dasar pengembangan alternatif pengobatan gout berbasis herbal. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Tabel 1. Tanaman untuk mengatasi hiperurisemia Nama dan Bagian Tanaman Ekstrak Etanol Daun Leilem (Clerodendrum minahasa. Ae Daun Senyawa Metabolit Flavonoid, terpenoid, dan Senyawa Mekanisme Metode Flavonoid Penghambatan aktivitas xantin Eksperimental Tingkat (Rumondor & in vivo. Komalig, 2. ekstrak yang BIO-EDU: dengan maserasi paling optimal Jurnal etanol . %) didapatkan pada Pendidikan pemberian dosis Biologi 1 sebesar 150 https://doi. mg/kgBB. 32938/jbe. Ekstrak Bunga Antosianin. Sepatu saponin, dan (Hibiscus rosa- flavonoid. sinensis L. ) Bunga Flavonoid. Antosianin Menghambat aksi xantin oksidase, mengubah purin menjadi asam urat Eksperimental Tingkat in vivo, ekstrak yang dengan maserasi paling optimal etanol . %) adalah pada mg/kgBB. Ekstrak Etanol Flavonoid Tumbuhan Suruhan (Peperomia Kunt. - Akar batang dan daun Ekstrak Daun Flavonoid. Sesewanua fenol, dan (Clerodendrum steroid fragrans [Ven. Willd. ) - Daun Flavonoid Ekstrak Daun Flavonoid. Kelor (Moringa steroid, tanin, oleifera Lam. - saponin, dan Daun Flavonoid. Alkaloid Ekstrak Etanol Kencur (Kaempferia Flavonoid. Fenol Flavonoid. Flavonoid, alkaloid, tanin. Alkaloid dan polifenol Hasil Referensi (Agista C. Imbar . Edwin de Queljoe . Indonesian Journal of Public Health and Nutrition https://doi. 15294/ijphn. Inhibisi xantin Eksperimental Dosis ekstrak (Imbar et al. oksidase pada basa in vivo, yang paling efektif yaitu 200 Pharmacon dengan maserasi mg/gr BB . osis https://doi. penurunan asam etanol . %) 35799/pha. Meningkatkan Eksperimental Dosis ekstrak pembuangan asam in vivo, yang paling urat dari tubuh, efektif yaitu 0,5 bukan menghambat dengan maserasi g/kgBB. %) adalah cara lain untuk menurunkan kadar asam urat. (Emilio et al. Jurnal Penelitian Biologi https://ejurnal. id/in php/prosidi ng2020/issue/vi ew/125 Penghambatan Eksperimental Dosis ekstrak (Meilanda et al. aktivitas enzim in vivo, yang paling yang mengkatalisis ekstraksi efektif yaitu 18 Sehat Mas oksidasi hipoxantin dengan maserasi mg/gBB . osis https://doi. dan xantin secara etanol . %) 32938/jbe. efektif mencegah pembentukan asam Menghambat enzim Eksperimental Dosis (Wikantyasning xantin oksidase in vivo, kombinasi yang et al. , 2. (XO) paling efektif Jurnal JPS Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 galanga L. ) dan Jahe Hitam (Kaempferia parviflor. Ae Rimpang Ekstrak Etanol Flavonoid. Flavonoid. Kencur alkaloid, tanin. Alkaloid (Kaempferia dan polifenol galanga L. ) dan Jahe Hitam (Kaempferia parviflor. Ae Ekstrak Etanol Flavonoid. Seledri (Apium saponin dan graveolens L. ) Ae tanin Herba Flavonoid. Saponin Ekstrak Etanol Flavonoid Daun Kumis Kucing (Orthosiphon (Blum. Miq. ) Daun Ekstrak Etanol Flavonoid. Buah Pare saponin dan (Momordica charantia L. ) Ae Daun Flavonoid Flavonoid. Saponin Ekstrak Etanol Flavonoid. Alkaloid. Daun Sidaguri alkaloid, tanin. Flavonoid (Sida dan saponin rhombifolia L. Ae Daun dengan maserasi yaitu kelompok etanol . %) dosis 3 dengan mg/kgBB. https://doi. 36490/journal Menghambat enzim Eksperimental Dosis (Wikantyasning xantin oksidase in vivo, kombinasi yang et al. , 2. (XO) paling efektif Jurnal JPS dengan maserasi yaitu kelompok https://doi. %) dosis 3 dengan 0. 36490/journal mg/kgBB. Inhibitor enzim Eksperimental Dosis ekstrak (Nurfitriana et xantin oksidase in vivo, yang paling , 2. efektif yaitu Jurnal maserasi dengan kelompok dosis Kesehatan etanol . %) 2 dengan 50 Madani Medika mg/kgBB. https://mail. id/JMM/artic le/view/316 Antioksidan, dan Eksperimental Dosis ekstrak (Mokalu et al. penghambat xantin in vivo, yang paling efektif yaitu Pharmacon dengan maserasi dosis 3 . https://doi. %) mg/200 g BB). 35799/pha. Inhibisi enzim Eksperimental Dosis ekstrak xantin oksidase in vivo, yang paling secara kompetitif, ekstraksi efektif yaitu dengan maserasi dosis 1 . ,9 pembentukan asam etanol . %) mg/200 g BB). Proses penurunan Eksperimental Tingkat asam urat terjadi in vivo, ketika proses maserasi dengan ekstrak yang sintesis asam urat maserasi etanol paling optimal dapat dihindari . %) adalah pada melalui blokade enzim xantin mg/kgBB. Kersen Hijau (Muntingia calabura L. ) Ae Buah Flavonoid Flavonoid Penghambat enzim xantin oksidase berfungsi pada proses sintesis asam urat Eksperimental Efek yang in vivo, maserasi dengan signifikan etanol . %) terlihat pada dosis 5,4 mg. Salam (Syzygium dan Suruhan (Peperomia Flavonoid Flavonoid Aktivitas enzim yang terhambat akan terjadi Eksperimental Dosis 3,6 mg in vivo, memiliki hasil maserasi dengan yang paling etanol . %) (Gultom et al. Pharmacon https://doi. 35799/pha. (Barus et al. Jurnal Penelitian Farmasi & Herbal https://doi. 36656/jpfh. (Walid et al. Forte Journal https://doi. 51771/fj. (Manopo et al. Pharmacon Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 pellucida L. ) Ae Daun https://doi. kosentrasi asam 35799/pha. Kelor (Moringa Alkaloid. Flavonoid. Menghambat dan Eksperimental Kombinasi (Mahmudah et aloeifere L) dan saponin, tanin Alkaloid mengganggu proses in vivo, ekstrak daun , 2. dan flavonoid konversi purin maserasi dengan kelor 0,21 mg/g Jurnal Mandala (Artocarpus menjadi asam urat etanol . %) BB dan ekstrak Pharmacon altili. Ae Daun daun sukun 0,16 Indonesia mg/g BB https://doi. menjadi dosis 35311/jmpi. paling efektif. Mangga Vitamin c, fenol Flavonoid. Mengintervensi Ekperimental in Dosis 300 (Brajawikalpa et (Mangifera dan flavonoid Vitamin C oksidasi xantin dan vivo, maserasi mg/200g BB , 2. varietas dengan etanol tikus paling Malahayati gedong gincu Ae sehingga asam urat . %) Nursing Journal Buah tidak terbentuk. https://doi. 33024/mnj. Kawista Triterpenoid. Triterpenoid. Menurunkan kadar Metode Efektivitas (Yusnaini et al. (Limonia asam fitosterol, dan Fitosterol asam urat eksperimental in tertinggi ) Ae Buah asam lemak vivo, maserasi tercapai pada Pharmaceuticals dengan etanol dosis 200 https://doi. mg/BB. 3390/ph1603 Kristal monosodium urat yang terakumulasi dalam tubuh dapat memicu timbulnya penyakit Asam urat adalah output dari serangkaian reaksi metabolisme purin, yang diperoleh dari asam nukleat dalam sel - sel somatik. Tinggi rendahnya perubahan kadar asam urat dalam tubuh dipicu oleh berbagai faktor risiko ada dua macam. Pengelompokan factor - faktor menjadi dua jenis utama yaitu yang bersifat tetap dan yang dapat dimodifikasi. Faktor - faktor yang sifatnya tidak bisa dimodifikasi mencakup predisposisi genetik seseorang, jenis kelamin, serta usia. Sementara faktor yang dapat dimodifikasi dan berpotensi meningkatkan kadar asam urat meliputi konsumsi alcohol secara berlebihan, indeks massa tumbuh (IMT), asupan purin yang berlebih serta pengunaan obat - obatan tertentu (Riswana & Mulyani, 2. Flavonoid dan senyawa fenolik merupakan kelompok senyawa yang berpotensi sebagai agen Flavonoid memiliki aktivitas sebagai antioksidan dengan menghambat pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) melalui mekanisme penghambatan aktivitas enzimatik atau kerusakan sel, serta pengkhelatan ion logam yang berperan pada pembentukan radikal bebas. Dalam cara kerja ini, flavonoid memiliki peran dalam mengurangi kadar asam urat dengan menghambat pembentukan ROS. Senyawa fenolik juga memiliki potensi serupa karena memiliki kemampuan mengurangi kinerja enzim xantin oksidase. Peran enzim ini penting pada jalur metabolisme purin manusia dengan mengkatalisis proses oksidatif dari hipoksantin dimetabolisme menjadi xantin, yang kemudian ditransformasi lebih lanjut menjadi asam urat. Proses ini merupakan bagian dari jalur degradasi purin yang menghasilkan ROS seperti anion superoksida dan hidrogen peroksida melalui reduksi oksigen di pusat flavin enzim (Sonia et al. , 2. Ekstrak Etanol Daun Leilem (Clerodendrum minahasa. Pada hewan uji yang mengalami peningkatan kadar asam urat akibat induksi etilen glikol menunjukkan respons yang berbeda terhadap pemberian ekstrak etanol daun Clerodendrum Pengunaan ekstrak dengan dosis 150 mg/kg berat badan tikus terbukti lebih ampuh dalam menurunkan kosentrasi asam urat dibandingkan dengan dosis yang lebih tinggi , yaitu 300 mg/kg berat badan tikus. Hasil ini mengindikasikan bahwa peningkatan dosis tidak selalu berbanding lurus dengan efektivitas dan terdapat dosis optimal untuk mencapai efek terapeutik maksimal. Untuk mendapatkan ekstrak, metode maserasi diterapkan dengan menggunakan etanol berkadar 96% sebagai pelarut yang efektif mensolvasi senyawa aktif baik polar maupun non-polar, contohnya flavonoid dan fenol Senyawa ini berperan dalam menahan aktivitas enzim xantin oksidase sebagai mekanisme utama guna meredakan kadar asam urat (Rumondor & Komalig, 2. Ekstrak Bunga Sepatu (Hibiscus rosa Ae sinensis L. Pemberian ekstrak etanol bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L. ) tidak menimbulkan pengaruh, yang signifikan yang disebabkan oleh dosis 250 mg/kgBB pada tikus putih jantan galur wistar yang telah diinduksi dengan 2 mL/kgBB jus hati ayam. terjadi penurunan kadar asam urat yang mencolok secara statistik dibandingkan kelompok kontrol. Pelarut etanol 96% digunakan dalam metode maserasi selama 5 hari untuk mengekstrak senyawa aktif polar dan semipolar secara efisien. Kandungan senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak meliputi flavonoid . uersetin dan sianidi. , antosianin, dan saponin. Cara kerja flavonoid dan antosianin dalam pengendalian jumlah asam urat dalam tubuh dilakukan dengan cara menghalangi aktivitas enzim xantin oksidase. Biokatalisator bertugas mempercepat reaksi perubahan purin bertransformasi menjadi asam urat, serta berperan sebagai antioksidan dan antiradang (Agista C. Imbar . Edwin de Queljoe . , 2. Ekstrak Etanol Herba Suruhan (Peperomia pellucida L. Kunt. Karakterisasi aktivitas antihiperurisemia yang dimiliki ekstrak etanol herba suruhan dilakukan pada hewan uji tikus yang kosentrasi asam uratnya ditingkatkan melalui pemberian kafein dosis 300 mg/kg berat badan. Studi ini mengelompokkan hewan uji ke dalam lima bagian diantaranya kontrol negatif diberikan CMC 0,5% sebagai pelarut, kontrol positif diberikan allopurinol 5,4 mg, begitu pula dengan tiga kelompok perlakuan yang setiap kelompoknya diberikan ekstrak etanol suruhan dengan pemberian dosis 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB. Hasil menunjukkan bahwa kelompok standar mengalami penyusutan konsentrasi asam urat paling besar diikuti oleh kelompok ekstrak dosis 200 mg/kg BB, 50 mg/kg BB dan 100 mg/kg BB. Tidak menunjukkan penurunan mencolok pada kelompok kontrol negatif. Proses maserasi menggunakan etanol 96% sebagai pelarut dengan tujuan memperoleh ekstrak yang mengekstraksi senyawa aktif seperti flavonoid dan saponin. Flavonoid memperlambat aktivitas enzim xantin oksidase, sementara saponin turut berpartisipasi dalam menurunkan kadar asam urat (Imbar et al. Sesewanua (Clerodendrum fragrans [Ven. Willd. Ekstrak etanol daun Clerodendrum fragrans (Sesewanu. terbukti efektif menurunkan kadar asam urat pada tikus yang diinduksi diet tinggi purin, terutama pada dosis 0,5 g/kgBB. Meskipun tidak dilakukan uji statistik inferensial secara mendalam, hasil deskriptif mengindikasikan potensi aktivitas antihiperurisemia dari ekstrak tersebut. Pelarut etanol 70% digunakan dalam metode maserasi untuk memperoleh ekstrak, yang secara efektif mampu melarutkan senyawa aktif polar seperti flavonoid dan senyawa fenolik. Hasil analisis fitokimia mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder berupa flavonoid, senyawa fenol, dan steroid. Mekanisme farmakologis yang mendasari aktivitas penurunan kadar asam urat diduga kuat berkaitan dengan kemampuan senyawa flavonoid dan fenol dalam memperlambat enzim xantin oksidase, yakni enzim utama yang memicu konversi purin menjadi asam urat, sehingga sintesis asam urat dalam tubuh dapat meminimalkan secara signifikan (Emilio et al. Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam. Ekstrak etanol daun Moringa oleifera Lamk. (Kelo. juga menunjukkan efektivitas signifikan dalam menurunkan kadar asam urat pada hewan uji yang diinduksi diet tinggi purin. Dosis 18 mg/g berat badan Lamk segar menunjukkan efektivitas tertinggi dalam menurunkan konsentrasi asam urat, terutama pada pengukuran menit ke-120 pasca pemberian. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian dosis tinggi memberikan efek terapeutik yang lebih optimal, dan bentuk sediaan segar menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan bentuk kering. Pelarut etanol 96% digunakan dalam metode maserasi untuk memperoleh ekstrak yang diketahui efektif dalam melarutkan senyawa aktif dengan berbagai tingkat kepolaran. Hasil uji fitokimia keberadaan senyawa metabolit sekunder antara lain tanin, saponin, flavonoid . ermasuk querceti. , steroid, dan alkaloid. Flavonoid khususnya quercetin berperan sebagai langkah untuk mereduksi jumlah asam urat melalui proses inhibisi terhadap enzim xantin oksidase, sehingga menghambat proses konversi hipoksantin menjadi asam urat. Selain itu, flavonoid juga memiliki aktivitas antiinflamasi dan analgesik yang dapat membantu mengurangi inflamasi pada sendi akibat bergelombangnya kristal asam urat (Meilanda et al. , 2. Ekstrak Etanol Kencur (Kaempferia galanga L. ) dan Jahe Hitam (Kaempferia parviflor. Ekstrak etanol dari rimpang kencur Kaempferia galanga L. dan jahe hitam Kaempferia parviflora diketahui mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, polifenol. Senyawa - senyawa tersebut berperan sebagai inhibitor enzim xantin oksidase, enzim yang memegang peran utama pada tahap pembentukan asam urat. Proses penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimental in vivo pada tikus wistar jantan yang dibuat mengalami hiperurisemia melalui pemberian kombinasi jus hati ayam dan kalium oksonat. Maserasi dilakukan dengan etanol 96% termasuk teknik yang dipakai untuk Tikus dikelompokkan menjadi kontrol negatif (Na CMC 0,5%), kontrol positif . llopurinol 10 mg/kgBB), serta perlakuan yang diberi ekstrak kencur dan jahe hitam pada tiga dosis berbeda yaitu dosis 1 dengan 12,5 mg/kgBB, dosis 2 dengan 25 mg/kgBB, dan dosis 3 dengan 50 mg/kgBB. Studi ini memperlihatkan bahwa kedua ekstrak terbukti memiliki kemampuan yang besar dalam mengurangi kadar asam urat . <0,. , dosis 50 mg/kg BB dosis paling efektif meskipun belum melebihi efektivitas allopurinol (Wikantyasning et al. , 2. Ekstrak Etanol Seledri (Apium graveolens L. Seledri Apium graveolens L. yaitu jenis tumbuhan herba diketahui memiliki aktivitas antihiperurisemia karena kandungan flavonoidnya, terutama apigenin dan apiin, serta saponin dan Senyawa tersebut berperan dalam memperlambat aktivitas enzim xantin oksidase yang menyebabkan terbentuknya asam urat. Hewan diuji diinduksi hiperurisemia menggunakan kalium bromat . ,2 mg/200 g BB). Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70%. Tikus dikelompokkan menjadi kontrol negatif (Na CMC 0,5%), kontrol positif . llopurinol 5,4 mg/kgBB), serta perlakuan ekstrak etanol herba seledri dosis 1 dengan 25 mg/kgBB, dosis 2 dengan 50 mg/kgBB, dan dosis 3 dengan 75 mg/kgBB. Hasil dari semua tingkat dosis efektif dalam menurunkan konsentrasi asam urat, dosis 2 . mg/kgBB) menghasilkan penyimpangan ke bawah paling signifikan (A62,95%), memperlihatkan efektivitas tertinggi bertujuan untuk meminimalkan kadar asam urat di antara kelompok uji (Nurfitriana et al. , 2. Ekstrak Etanol Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus (Blum. Miq. Daun kumis kucing atau Orthosiphon aristatus (Blum. Miq. memiliki kandungan flavonoid di dalamnya bersifat antioksidan dan berperan dalam menekan enzim xantin oksidase, yang berkontribusi menurunkan konsentrasi asam urat dalam darah. Dilakukan penelitian secara eksperimental in vivo terhadap tikus putih jantan (Rattus norvegicu. yang diinduksi hiperurisemia dengan kalium oksonat sebagai bahannya. Daun diekstraksi memanfaatkan metode perendaman . yang dilakukan menggunakan etanol 96% sebagai medium pelarut. Tikus dikelompokkan menjadi lima kelompok diantaranya kontrol negatif (Na CMC 1%), kontrol positif . llopurinol 1,8 m. , serta tiga kelompok perlakuan ekstrak kumis kucing dengan dosis yang berbeda seperti 4,5 mg, 9 mg dan 18 mg per 200 gr BB. Hasil menunjukkan bahwa semua dosis ekstrak dapat secara signifikan menurunkan kadar asam urat. Penurunan paling stabil dan mendekati efektivitas allopurinol terjadi pada kelompok dosis 3 . mg/200 g BB). Dengan demikian, diketahui semakin tinggi dosis efek penurunan kadar asam urat semakin besar namun masih dalam rentang aman. Efektivitas ini disebabkan oleh aktivitas flavonoid dalam menghambat xantin oksidase dan mencegah pembentukan kristal asam urat (Mokalu et al. , 2. Ekstrak Etanol Buah Pare (Momordica charantia L. Tanaman ini berasal dari famili Cucurbitaceae dan dikenal sebagai pare. Buahnya memiliki rasa pahit khas dan telah digunakan secara tradisional di berbagai negara Asia seperti India. Tiongkok, dan Indonesia untuk mengatasi gangguan metabolik, termasuk diabetes dan peradangan. Ekstrak etanol dari buah pare kaya akan senyawa aktif contohnya polifenol, flavonoid dan saponin. Flavonoid diketahui mampu menghambat aktivitas enzim xantin dehidrogenase, yaitu enzim turut serta dalam pembentukan asam urat, dengan mekanisme kerja yang serupa dengan allopurinol. Penelitian oleh Gultom et al. melakukan pengujian terhadap aktivitas antihiperurisemia melalui pemberian ekstrak etanol dari buah pare pada hewan uji yaitu tikus putih Jantan yang telah diberikan kafein sebagai pemicu hiperurisemia. Tikus dibagi lima kategori uji di antaranya termasuk ketegori kontrol negatif, kontrol positif . serta tiga kelompok dosis ekstrak 0,9 mg, 1,8 mg dan 3,6 mg/200 g BB. Hasil menunjukkan bahwa semua dosis menurunkan kadar asam urat, dengan dosis 0,9 mg memberikan efek paling signifikan dan hampir setara dengan allopurinol. Efek penurunan ini menguatkan peran flavonoid dalam menghambat xantin oksidase, menjadikan buah pare sebagai kandidat potensial terapi herbal antihiperurisemia (Gultom et al. , 2. Ekstrak Etanol Daun Sidaguri (Sida rhombifolia L. Sida rhombifolia L. , atau dikenal sebagai sidaguri, merupakan tanaman dari famili Malvaceae yang banyak digunakan secara tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit, termasuk asam urat. Kandungan flavonoid, tanin, alkaloid dan saponin ditemukan dalam ekstrak etanol daun sidaguri berpotensi memberikan efek farmakologis sebagai antihiperurisemia. Salah satu mekanisme utama adalah inhibisi enzim xantin oksidase, memiliki peran dalam konversi hipoksantin terkonversi menjadi asam urat. Aktivitas ini serupa dengan cara kerja allopurinol sebagai terapi standar pada hiperurisemia. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental in vivo pada tikus putih jantan galur wistar yang telah diperlakukan dengan potassium oxanate dosis 250 mg/kg BB untuk menciptakan kondisi hiperurisemia. Tikus kemudian dibagi menjadi lima kelompok termasuk kelompok kontrol negatif (CMC 0,5%), kontrol positif . llopurinol 126 mg/kg BB), serta tiga kelompok perlakuan menggunakan ekstrak etanol daun sidaguri dosis 50, 100, dan 200 mg/kg BB. Berdasarkan nilai yang diperoleh dari pengukuran, semua kelompok dosis mengalami penurunan kadar asam urat secara bertahap, namun penurunan paling signifikan terjadi pada dosis 200 mg/kg BB bahkan mendekati efektivitas allopurinol. Oleh karena itu dosis tersebut dianggap paling optimal dalam penurunan kadar asam urat, memperkuat potensi daun sidaguri sebagai alternatif terapi herbal antihiperurisemia (Barus. Kersen Hijau (Muntingia calabura L. Tanaman kersen (Muntingia calabura L. ) Sebagai salah satu flora yang menyimpan kandungan flavonoid, karena kandunngan tersebut buah kersen berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai ramuan tradisional. Senyawa tersebut diketahui memiliki potensi sebagai antihiperurisemia. Proses perolehan ekstrak buah kersen menggunakan metode perendaman . dalam pelarut etanol 70%. Tikus Jantan putih galur wistar digunakan untuk pengujian dengan metode eksperimental in Tikus dikelompokan menjadi 5 kelompok di antaranya kelompok 1 dengan dosis ekstrak buah kersen 1,8 mg, kelompok 2 dengan dosis ekstrak buah kersen 3,6 mg, kelompok 3 dengan dosis ekstrak buah kersen 5,4 mg, kelompok 4 kontrol positif dengan allopurinol 5,4 mg, dan kelompok 5 kontrol negative dengan CMC Na 0,5%. Tikus diinduksi menggunakan kalium oksonat. Kelompok tikus yang memiliki persen penurunan tinggi yaitu kelompok 3 dengan persentase penurunan 30,1 % (Walid et , 2. Salam (Syzygium polynathu. dan Suruhan (Peperomia pellucida L. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa flavonoid yaitu Daun salam (Syzygium polynathum (Wight. ) Wal. dan tanaman suruhan (Peperomia pellucida (L. ) Kunt. Sebagaimana terbukti secara ilmiah senyawa bioaktif flavonoid memiliki kemampuan dalam menekan aktivitas enzim xanthine oxidase, enzim tersebut memiliki peran dalam proses oksidasi purin menjadi asam Oleh karena itu terhambatnya enzim ini, sintesis asam urat di dalam tubuh bisa ditekan yang membuat kadar asam urat dalam darah menurun. Daun salam dan daun suruhan dibuat ekstrak melalui metode maserasi dan etanol 96% sebagai pelarut. Pengujian aktifitas antihiperurisemia dilakukan kepada tikus putih jantan (Raattus norvegiu. Penelitian ini menetapkan kelompok 1 sebagai kontrol negatif, yang diberi larutan CMC 1%. Allopurinol diaplikasikan pada kelompok 2 sebagai kontrol positif. Kelompok 3 menerima campuran ekstrak daun salam dan daun suruhan dengan kadar yang sama, yakni 0,9 mg. Campuran kedua ekstrak dengan dosis 1,8 mg untuk setiap komponen diberikan kepada kelompok 4. Selanjutnya, kelompok 5 mendapatkan kombinasi ekstrak daun salam dan daun suruhan dengan dosis 3,6 mg per ekstrak. Terungkap dari hasil studi bahwa dosis 3,6 mg pada kelompok 5 paling efektif dalam mereduksi tingkat asam urat pada tikus. Pada tikus menunjukkan kadar asam urat sebesar 4,17 g/dL (Manopo et , 2. Ekstrak etanol Kelor (Moringa aloeifere L. ) dan daun Sukun (Aartocarpus altili. Penelitian ini mengungkapkan bahwa senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin terkandung dalam ekstrak daun kelor dan ekstrak daun sukun. Dalam studi ini minyak essensial, alkaloid, flavonoid, tanin glukosida irodoid, senyawa fenolik dan kumarin terlihat adanya potensi penurunan kadar asam urat dengan proses menghambatan xantin oksidase. Ekstraksi serbuk simplisia dilakukan dengan metode maserasi dan etanol 96% sebagai pelarut. Tikus Jantan (Rattus norvegicu. digunakan sebagai hewan uji. 24 ekor tikus dibagi ke dalam 6 kelompok, kelompok pertama control negative menggunakan Na. CMC 0,5%,kelompok kedua control positif menggunakan allopurinol 100 mg/kh BB tikus, kelompok ketiga dosis 1 . ombinasi EDK 0,21 mg/200g BB tikus dan eDS 0,16 mg/200g BBtiku. , kelompok ke empat dosis 2 . ombinasi EDK 0,21 mg/200g BB tikus dan EDS 0,8 mg/200g BB tiku. , kelompok kelima dosis 3 . ombinasi EDK 0,10 mg/200g BB tikus dan EDS 0,26 mg/200g BB tiku. , kelompok ke enam dosis 4 . ombinasi EDK 0,10 mg/200g BB tikus dan EDS 0,8 mg/200g BB tiku. Berdasarkan besarnya persentase penurunan kadar asam urat, dosis kombinasi ekstrak paling efektif yaitu kelompok dosis 1 (EDK 0,21 mg/200g BB tikus dan eDS 0,16 mg/200g BB tiku. (Mahmudah et al. , 2. Ekstrak etanol buah Mangga (Mangifera indica L. ) varietas gedong gincu Flavonoid, antioksidan dan vitamin c merupakan kandungan fitokimia yang khas pada mangga (Mangifera indica L. ) varietas gedong gincu. Potensi flavonoid untuk penghambatan xantin oksidase membuka peluang penggunaannya sebagai obat alternatif untuk asam urat. Simplisia yang telah diubah menjadi serbuk kemudian dimaserasi menggunakan etanol 96%. Dalam penelitian ini digunakan 35 ekor tikus dan dikelompokan dalam 5 kelompok, di antaranya kelompok kontrol normal, kelompok kontrol positif, kelompok pertama menggunakan dosis 75 mg/200g BB tikus, kelompok kedua menggunakan dosis 150 mg/200g BB tikus, kelompok ketiga menggunakan dosis 300 mg/200g BB tikus. Kelompok ketiga menggunakan dosis 300 mg/200g BB tikus menjadi dosis paling efektif dalam penurunan konsentrasi asam urat pada tikus (Brajawikalpa et , 2. Kawista (Limonia asam L. Ekstrak etanol dari Limonia asam L. menunjukkan aktivitas antihiperurisemia yang disertai dengan penurunan kadar asam urat. Aktivitas ini diduga berkaitan dengan kandungan triterpenoid . anosterol dan lupeo. , fitosterol . tigmasterol dan sitostero. , serta asam lemak. Lanosterol dan turunannya dikabarkan mampu untuk menjadi penghambat aktivitas enzim xantin oksidase, maka berkontribusi dalam penurunan konsentraasi asam ura. Pengujian aktivitas antihiperurisemia menggunakan tikus jantan. Tikus dikelompokan menjadi 6 kelompok normal, kelompok control, kelompok allopurinol, kelompok dosis 1 . mg/200g BB tiku. , kelompok dosis 2 . mg/200g BB tiku. dan kelompok dosis 3 ( 400 mg/200g BB tiku. Kelompok dosis terbaik ada pada dosis 200 mg/200g BB tikus, pemberian dengan dosis 400 mg/200g BB tikus dapat menyebabkan toksisitas ginjal dari ekstrak (Yusnaini et al. , 2. KESIMPULAN Dari berbagai tanaman yang disebutkan, tiga tanaman yang menunjukkan potensi paling baik berdasarkan data uji in vivo adalah daun leilem (Clerodendrum minahasa. dengan dosis optimal 150 mg/kgBB, bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L. ) dengan dosis efektif 250 mg/kgBB, dan daun kelor (Moringa oleifera Lam. dengan dosis efektif 18 mg/gBB. Ketiganya terbukti mampu menurunkan kadar asam urat secara signifikan melalui mekanisme utama penghambatan enzim xantin oksidase, sekaligus mendukung efek antiinflamasi dan antioksidan berkat kandungan flavonoidnya. Senyawa - senyawa tersebut bekerja melalui berbagai mekanisme, seperti menginhibisi aktivitas enzim xantin oksidase yang mempengaruhi proses sintesis asam urat, dapat mengoptimalkan pelepasan asam urat dari tubuh melalui urin, serta mengurangi pembentukan radikal bebas yang dapat memperburuk peradangan akibat kristalisasi monosodium urat. Flavonoid, merupakan senyawa utama yang sering terdeteksi memainkan peran penting dalam aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta inhibisi enzim. Secara keseluruhan, keberadaan senyawa - senyawa tersebut mendukung efektivitas tanaman herbal sebagai alternatif pengobatan alami dalam menangani hiperurisemia atau gout. DAFTAR PUSTAKA