Jurnal Ayurveda Medistra ISSN. 2656-3142 | Volume 5 Nomor 2 Agustus 2024 | pages: 1 - 10 Avalaible online at http://ojs. stikesmedistra-indonesia. HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT OAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS (TBC) DI RS CIBITUNG MEDIKA TAHUN 2023 Sarimawati Siallagan1 . Rotua Suriany Simamora2 Ernauli Meliyana3 1Program Studi Ilmu Keperawatan (S. STIKes Medistra Indonesia, siallagansari@gmail. 2Program Studi Ilmu Keperawatan (S. STIKes Medistra Indonesia, rotuasuriany12@gmail. 3Program Studi Ilmu Keperawatan (S. STIKes Medistra Indonesia, ernaulimeliyana6972@gmail. ABSTRAK Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan bagi bangsa Indonesia dan dunia yang menjadi 10 besar penyakit penyebab kematian secara global. Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat OAT pada pasien tuberculosis (TBC) di RS Cibitung Medika Tahun 2023. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan model deskriptif observatif yang menggambarkan ada tidaknya hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat OAT pada pasien tuberculosis (TBC) di RS Cibitung Medika Tahun 2023 dengan metode cross sampel sebanyak 44 responden. Analisis menggunakan uji chi-square. Didapatkan hasil ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat OAT pada pasien tuberculosis di RS Cibitung Medika Tahun 2023. Didapatkan nilai p-value . Berdasarkan hasil penelitian diharapkan dukungan keluarga dapat ditingkatkan agar pasien lebih patuh dalam berobat OAT pada pasien Tuberculosis di RS Cibitung Medika. Kata Kunci : dukungan keluarga, kepatuhan minum OAT, tuberculosis ABSTRACT Tuberculosis (TB) is a health problem for the Indonesian nation and the world and is one of the top 10 causes of death globally. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium Tuberculosis. The aim of this research is to determine the correlation between family support and adherence to taking OAT medication in tuberculosis (TB) patients at Cibitung Medika Hospital This type of research is quantitative research with an observational descriptive model that describes whether there is a relationship between family support and adherence to taking OAT medication in patients. tuberculosis (TB) at Cibitung Medika Hospital in 2023 using the cross sectional method. The sample was 44 respondents. Analysis uses the chi-square test. The results showed that there was a correlation between family support and adherence to taking OAT medication in tuberculosis patients at Cibitung Medika Hospital in 2023. The p-value was obtained ( 0. Based on the research results, it is hoped that family support can be increased so that patients are more compliant in taking OAT treatment for Tuberculosis patients at Cibitung Medika Hospital. Keywords: family support, adherence to taking OAT, tuberculosis LATAR BELAKANG Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan bagi bangsa Indonesia dan dunia yang menjadi 10 besar penyakit penyebab kematian secara global (Zuhra. Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. TB dapat menyerang siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Tetapi kebanyakan orang yang menularkan penyakit ini adalah orang dewasa, lebih banyak kasus pada pria dibandingkan wanita, dan 30 negara dengan kasus TB tertinggi menyumbang hampir 90% setiap Menurut WHO . yang menyatakan bahwa 10 juta penduduk dengan kasus TB, dimana pria lebih banyak menyumbang dibanding wanita. Secara goegrafis Indonesia menyumbang 8,5% penduduk dengan kasus TB, lebih tinggi dibanding dengan Negara Cina . ,4%) (Fatimah, 2. Indonesia merupakan negara berkembang yang menyumbang kasus TB tertinggi setelah India. Menurut laporan nasional Riset Kesehatan Dasar 2018, tuberkulosis tersebar di 34 Provinsi seluruh Indonesia, dengan prevalensi Jawa Barat . ,63%) yang merupakan provinsi tertinggi ketiga setelah papua . ,77%) dan Banten . ,76%) dan provinsi Bali . ,13%) penyumbang kasus TB Prevalensi TB paru sebanyak 20% lebih tinggi diderita laki-laki dibandingkan perempuan (Rosa, 2. Menurut data Kementerian Kesehatan . kasus tuberkulosis (TBC) di seluruh Indonesia. Dimana Negara Indonesia berada pada peringkat ketiga dengan penderita TBC tertinggi di dunia setelah India dan China (Kemenkes RI, 2. Laporan Profil Kesehatan Indonesia . , kasus TBC paling banyak ditemukan di Jawa Barat, diikuti Jawa Tengah dan Jawa Timur, ketiga provinsi tersebut menyumbang angka sebesar 44% dari jumlah seluruh kasus tuberkulosis di Indonesia. Adapun kasus TBC paling banyak ditemukan di kelompok umur 45-54 tahun dengan proporsi 17,5% dari total kasus Diikuti kelompok umur 25-34 tahun dengan proporsi 17,1%, dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 16, 9% (Kemenkes RI. Dalam profil kesehatan Kabupaten Bekasi . , semua kasus TB tercatat 4. Paru dibandingkan tahun 2020 sebanyak 4. penderita TB. Sementara itu capaian CDR semua kasus TB sebesar 55% dari target sebesar 90%. Adapun angka kesembuhan atau Curte Rate dari kasus yang diobati pada tahun 2020 angka kesembuhan atau Cure Rate sebesar 65. 27% keadaan ini menurun bila dibandingkan dengan tahun 2019 dengan sebesar 82%. Dalam upaya peningkatan capaian cakupan indikator program TB Beberapa langkah kegiatan telah dilaksanakan oleh Dinas kesehatan diantaranya adalah dilakukannya Bimbingan Teknis untuk meningkatkan kemampuan petugas dilayanan dalam penangan kasus TB sehingga pengobatan dilaksanakan sesuai dengan standar yang Disamping itu dinas kesehatan telah pula memenuhi sarana penunjang program lainnya seperti pengadaan format pelaporan dan bahan KIE lainnya, karena TB paru masih menjadi masalah serius dilapangan (Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, 2. Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia yakni dengan melakukan pembagian obat anti tuberkulosis (OAT) secara cuma-cuma kepada semua penderita yang terdeteksi positif tuberkulosis paru hanya saja terdapat beberapa masalah yang sering dijumpai di masyarakat seperti, kesulitan masyarakat menerima pasien TB paru di masyarakat, drop out pengobatan dan ketidakteraturan minum obat (Muna, 2. Apabila masalah ini tidak teratasi maka penderita tersebut akan terus menjadi sumber penularan. Berdasarkan WHO Kemenkes mengatakan bahwa untuk pengobatan yang efektif dibutuhkan waktu 6 bulan dimana tidak boleh ada kelalaian selama masa pengobatan. Dalam hal ini dukungan dari keluarga sangat diperlukan untuk mengingatkan penderita selama dalam pengobatan (Kemenkes RI. Keluarga merupakan suatu sistem pendukung yang utama dalam pengobatan TB paru. Dukungan berupa motivasi yang diberikan keluarga kepada penderita sangat membantu dalam proses pengobatan dan dapat mencegah terjadinya penghentian minum obat pada pasien TB paru. Motivasi dan dukungan keluarga dapat diberikan berupa keluarga menjadi pengawas minum obat (PMO) (Muna. Dukungan yang diberikan keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan masalah, selain itu dukungan keluarga juga dapat menambah rasa percaya diri dan motivasi untuk menghadapi masalah (Ningrum, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Maulidan and Dedi, 2. dengan judul Dukungan Keluarga Berhubungan dengan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis Paru, keluarga yang tidak mendukung sebanyak 55,6%, dan yang 44,4%. Artinya mayoritas keluarga tidak mendukung/memberi motivasi pengobatan tuberculosis. Lebih banyak keluarga yang tidak mendukung dari yang mendukung dan tingkat kepatuhan pasien minum obat tuberkulosis kurang. Hal ini dibuktikan dari hasil uji statistik menunjukkan adanya dukungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru minum obat secara teratur di Rumah Sakit. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Retnaningsih, 2. dengan judul Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita TBC, sebagian besar mendapatkan dukungan keluarga yang baik . ,8%). Kepatuhan minum obat pada pasien TBC di Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga cukup baik yaitu 56,7%. Pada penelitian ini didapatkan nilai p-value < 0,05 . artinya ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat terhapat pasien TB di Rumah Sakit Paru Ario Wirawan Salatiga. Berdasarkan penelitian Akbar . , profil kepatuhan pasien dianalisis berdasarkan jenis kelamin, usia, latar belakang pendidikan dan Secara keseluruhan jumlah pasien patuh lebih besar dari pada pasien yang tidak patuh dalam pengobatan, jumlah pasien yang patuh yaitu 87 % dibandingkan 13 % yang tidak Berdasarkan penelitian , dukungan keluarga yang baik maka mempengaruhi tuberkulosis yang diharapkan akan membantu keberhasilan penderita tuberkulosis untuk Semakin tinggi Dukungan keluarga pada TBC maka semakin baik kepatuhan minum obat TBC dan menunjukan bahwa ada hubungan yang sangat bermakna antara Dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada penderita Tuberkulosis. Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan di RS Cibitung Medika, dari 10 responden yang diwawancarai diperoleh hasil 3 responden patuh minum obat karena selalu diingatkan oleh keluarga, 3 responden patuh minum obat karena tidak mau merepotkan orang lain, dan 4 responden tidak patuh minum obat karena keluarga mereka memang sibuk, tidak pernah diingatkan. Selain hal demikian, dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat yang diberikan kepada pasien TB di RS Cibitung Medika. Berdasarkan uraian di atas, peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian di RS Cibitung Medika dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis (TB) Di RS Cibitung Medika Tahun 2023. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan model deskriptif observatif yang menggambarkan ada tidaknya hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan TBC pada pasien di RS Cibitung Medika. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu mempelajari pengobatan TBC di RS Cibitung Medika dengan observasi atau pengukuran terhadap variabel bebas dan variabel terikat dimana pengambilan data terhadap beberapa variabel penelitian dilakukan pada satu waktu (Ismail. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, data primer mencakup variabel dukungan keluarga dan kepatuhan dengan menggunakan lembar kuesioner sebagai alat pengumpul data. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien TBC yang berobat jalan dipoliklinik Paru RS Cibitung Medika, dimana dalam 1 bulan pasien yang berobat jalan dengan jumlah rata-rata 50 Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien TBC yang berobat jalan dipoliklinik Paru RS Cibitung Medika, dimana dalam 1 bulan pasien yang berobat jalan, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 44 Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi frekuensi karakteristik responden Karakteristik responden distribusi frekuensi sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Pendidikan. Pekerjaan Responden Di Rumah Sakit Cibitung Medika 2023 (N=. Variabel Jumlah Prosentase (%) Usia Dewasa Awal Dewasa Akhir Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Pekerjaan Karyawan Swasta PNS Total Distribusi frekuensi dukungan keluarga Dukungan keluarga dengan distribusi frekuensi terdiri dari dukungan keluarga. Hasil ulasan dukungan keluarga sebagai berikut : Tabel 2 Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga Di Rumah Sakit Cibitung Medika 2023 . Variabel Jumlah Prosentase (%) Dukungan Keluarga Kurang Baik Total Distribusi frekuensi kepatuhan minum OAT Kepatuhan minum OAT dengan distribusi frekuensi didapatkan hasil ulasan kepatuhan minum OAT sebagai berikut : Tabel 3 Distribusi frekuensi kepatuhan minum OAT di Rumah Sakit Cibitung Medika 2023 Kepatuhan minum obat OAT Frekuensi Persentase (%) Tidak patuh Patuh Total Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum OAT Tabel 4 Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum OAT Pada Pasien Tuberculosis Di Rumah Sakit Cibitung Medika 2023 (N=. Kepatuhan minum OAT Odds ratio Total Dukungan Value Tidak Patuh Keluarga Kurang 14,3 14 14,000 ,587-75,. Baik 0,002 Total Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui dari 44 responden pasien memiliki usia dewasa awal sebanyak 20 responden . ,5%), dan usia akhir sebanyak 24 responden . ,5%). Jenis kelamin laki-laki sebanyak 11 responden . ,0%), perempuan sebanyak 33 responden . ,0%). Pendidikan SMP sebanyak 4 ,1%). SMA sebanyak 31 ,5%), sebanyak 9 responden . ,5%). Pekerjaan karyawan swasta sebanyak 35 responden . ,5%). PNS sebanyak 9 responden . ,5%). Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui dari 44 responden dengan dukungan keluarga yang kurang baik sebanyak 14 responden . ,8%) dan dukungan keluarga yang baik sebanyak 30 responden . ,2%). Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui dari 44 responden kepatuhan minum OAT dengan kategori tidak patuh sebanyak 21 responden . ,7%), sedangkan kategori patuh sebanyak 23 responden . ,3%). Berdasarkan tabel 4 diatas dapat diketahuai bahwa responden dengan dukungan keluarga dengan kategori kurang dari 14 responden dimana 12 orang . ,7%) tidak patuh dan 2 orang atau 14,3 % patuh. Sedangkan responden dengan dukungan keluarga kategori baik dari 30 responden terdapat 9 orang atau 30,0% tidak patuh dan 21 orang atau 70,0% patuh. Hasil analisa bivariat dengan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan atau CI 95% maka diperoleh p value sebesar 0,002. Hal ini menunjukan terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minuman obat pada pasien tuberculosis di Rumah Sakit Cibitung Medika. Hasil Analisa statik menunjukan diperolah Odds Ratio sebesar 000 yang artinya dukungan keluarga yang baik memiliki peluang 14 kali terciptanya kepatuhan minum oat dibandingkan dukungan keluarga yang kurang PEMABAHASAN Usia Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui dari 44 responden pasien memiliki usia dewasa awal sebanyak 20 responden 45,5%, dan usia dewasa akhir sebanyak 24 responden 54,5%. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Akbar . yang menyatakan bahwa pada pasien dengan TB paru sebagian besar memiliki usia dalam rentang 40-60 Bahkan di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun. Hal ini disebabkan karena imunitas penduduk di Indonesia yang menurun akibat dari kurangnya asupan nutrisi. Hasil penelitian ini didukung oleh dasar teori dari Wibowo . menyatakan bahwa beberapa faktor resiko penularan penyakit TBC Paru di Amerika salah satunya adalah yaitu usia. Dimana variabel umur berperan dalam kejadian penyakit TBC. Khususnya pada tempat-tempat penampungan orangorang lansia, gelandangan, dimana kurangnya asupan nutrisi serta imunitas yang menurun membuat para lansia mengalami atau tertular penyakit tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai usia. Prevalensi TBC Paru menurunnya imunitas dan fungsi organ. Menurut analisa peneliti bahwa penyakit tuberculosis dapat menyerang siapa saja, khususnya seseorang dengan usia yang semakin meningkat. Dimana semakin tua maka imunitas semakin menurun, akibatnya dengan usia semakin tua maka akan mudah terserang berbagai penyakit, apalagi penyakit yang menular seperti tuberculosis. Oleh sebab itu bagi pasien yang sudah tertular penyakit TBC maka tidak boleh putus obat dan selalu mematuhi instruksi dokter, agar penyakit tuberculosis cepat untuk disembuhkan, dan tidak menularkan kepada orang lain. Maka dari itu untuk menghindari putus obat, sebelum obat habis, harus sudah kontrol terlebih 75,0%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahma . yang menyatakan bahwa perempuan dewasa awal lebih banyak terpapar TBC, karena imunitas wanita lebih laki-laki. Perempuan terpapar penyakit TBC karena memiliki riwayat terpapar asap rokok dari suami atau tetangganya, sehingga banyak wanita yang menjadi perokok pasif. Hasil penelitian ini didukung oleh dasar teori berdasarkan Wibowo . yang menyatakan bahwa prevalensi TBC paru tampaknya meningkat seiring dengan pola kesehatan Angka pada pria selalu cukup tinggi pada semua usia tetapi angka wanita melampaui usia subur. Wanita sering mendapat tuberkulosis paru sesudah bersalin. TBC paru pada wanita cenderung lebih meningkat hal ini disebabkan karena imunitas wanita melemah serta akibat dari perokok pasif yang disebabkan dari anggota keluarga Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Zuhra . yang menyatakan bahwa seorang wanita sering didiagnosa Hal ini dimungkinakan karena seorang perempuan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu seorang wanita lebih sering mengalami penurunan imunitas. Sedangkan seorang lakilaki tidak dapat menjaga pola hidup sehat, seperti suka merokok, suka minum-minuman Sehingga menyebabkan kerusakan organ dan mudah terserang berbagai macam Menurut Analisa peneliti bahwa penyakit tuberculosis merupakan penyakit yang dapat menularkan penyakit kepada orang lain, khususnya yang sedang mengalami imunitas Penyakit tuberculosis sebenarnya dapat menyerang semua orang, baik laki-laki maupun wanita. Lebih lagi jika dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat menerapkan pola hidup sehat. Pasien baik laki-laki dan wanita memiliki resiko tertular penyakit tuberculosis yang sama. Jika seseorang tidak dapat menjaga asupan gizi, kurang olahraga, rumah yang ventilasinya kurang maka sangat rentan terserang penyakit TBC. Oleh sebab itu pentingnya meningkatkan imunitas dengan merubah pola hidup bersih dan sehat adalah salah satu cara mencegah dan memberantas Jenis kelamin Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui dari 44 responden pasien memiliki jenis kelamin laki-laki sebanyak 11 responden 25,0%, perempuan sebanyak 33 responden penyakit TBC. Pendidikan Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui dari 44 responden pasien memiliki pendidikan SMP sebanyak 4 responden 9,1%. SMA sebanyak 31 responden 70,5%, perguruan tinggi sebanyak 9 responden 20,5%. Berdasarkan Analisa peneliti bahwa lebih banyak penderita TBC dengan prndidikan SMA namun kurang dalam mendapatkan informasi bagaimana cara menghadapi TBC sehingga banyak penderita TBC dengan pendidikan SMA namun tidak mampu dalam menerapkan pola hidup sehat dalam mencegah TBC. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Ratnawati . yang menyatakan bahwa sebagian besar responden yang menderita tuberculosis adalah responden dengan pendidikan SMA. Dimungkinkan pasien kurang mendapatkan informasi dalam penanganan TBC serta tidak mampu dalam menerapkan pola hidup sehat. Dimana dengan pendidikan SMA ini akan mempengaruhi pola pikir dan ketajaman dalam menerima informasi sehingga dapat meningkatkan pengetahuan Dimana pengetahuan maka akan semakin baik perilaku dan semakin luas wawasannya. Hasil penelitian ini didukung oleh dasar teori dari Wibowo . yang menyatakan bahwa pendidikan sangat penting dalam membentuk pola pikir seseorang. Dimana semakin tinggi pendidikan maka akan semakin mudah dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit dengan meningkatkan imunitas tubuh, baik dengan gizi maupun dengan oleharaga secara Menurut Analisa peneliti bahwa dengan SMA, responden dalam melakukan pola hidup bersih dan sehat masih dibilang kurang. Banyak responden yang tidak mengetahui bagaimana Oleh sebab itu pemberian informasi yang cukup tentang tuberculosis perlu digalakkan lagi agar penularan tuberculosis dapat segera teratsi. Pekerjaan Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui dari 44 responden pasien memiliki pekerjaan karyawan swasta sebanyak 35 responden 79,5%. PNS sebanyak 9 responden 20,5%. Berdasarkan Analisa peneliti bahwa lebih banyak penderita TBC terdapat pada reponden yang bekerja diPT Swasta dibandingkan orang yang bekrja dikantoran seperti PNS. Ini terjadi karena orang yang bekerja di PT Tingkat polusi nya lebih tinggi dibandingkan orang yang bekerja didalam ruangan tertutup dan ber AC. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Caron . yang menyatakan bahwa sebagian besar responden yang menderita tuberculosis adalah pegawai Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan identik dengan aktifitas sehari-hari. Selain itu penghasilan yang kecil, maka akan berdampak pada asupan gizi serta pengaruh dari pengobatan pada tuberculosis. Karena asupan gizi yang cukup dapat berpengaruh dalam meningkatkan imunitas tubuh. Hasil penelitian ini sejalan dengan dasar teori Wibowo . yang menyatakan bahwa pekerjaan menetukan faktor resiko apa yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan mobilitas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TBC Paru. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Kusumoningrum . yang menyatakan bahwa jenis pekerjaan seseorang akan mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga aku mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah . ontruksi ruma. Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga status gizi yang kurang akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TBC Paru. Dalam hal jenis pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TBC Paru. Menurut Analisa peneliti bahwa sebagai karyawan swasta dengan pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga status gizi yang kurang akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TBC Paru. Dalam hal jenis kontruksi pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TBC Paru. Dukungan keluarga Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui dari 44 responden dengan dukungan keluarga yang kurang baik sebanyak 14 responden 31,8% dukungan keluarga yang baik sebanyak 30 responden 68,2%. Berdasarkan Analisa peneliti bahwa dukungan kelurga mayoritas mendaptkan dukungan yang baik dari keluarga yang diperoleh melalui informasi keteraturan obat,larangan makanan,selalu tersampaikan oleh keluraga dan keluarga juga selalu mendampingin anggota keluarga untuk kontrol ulang ke Rumah Sakit. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Hasyim . yang menyatakan bahwa sebagian besar dukungan keluarga yang diberikan kepada pasien adalah dalam kategori yang baik, sebanyak 70%. Dimana dengan memberikan dukungan keluarga membantu dalam memenuhi kebutuhan yang diperlukan seperti biaya pengobatan, adanya informasi, dukungan spiritual, dukungan emosional dari pasien, dimana dengan semakin besar dukungan keluarga yang diberikan maka pasien akan semakin terpenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hasil penelitian ini didukung dasar teori menurut Muna . mendefenisikan dukungan keluarga sebagai suatu konstruksi multidimensi yang meliputi bantuan fisik dan instrumental, berbagai informasi dan sumber daya, dan menyediakan dukungan emosional dan psikologis. Istilah ini juga dapat merujuk kepada pelayanan formal yang diterima dari para profesional, organisasi formal atau yang semi formal seperti klub-klub sosial, atau organisasi-organisasi bahwa keluarga itu penting dalam gaya hidup. Dukungan keluarga terbagi menjadi beberapa kategori yaitu dukungan praktis . , dukungan informasi, dukungan penghargaan, dan dukungan emosional. Hasil penelitian yang dilakukan Talayon . menyatakan bahwa dengan memberikan dukungan keluarga kepada pasien yang dilakukan pengobatan tuberculosis maka anggota keluarga dapat membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan yang diperlukan seperti biaya pengobatan, adanya informasi, dukungan spiritual, dukungan emosional dari pasien, dimana dengan semakin besar dukungan keluarga yang diberikan maka pasien akan semakin terpenuhi kebutuhannya sehari-hari. Menurut Analisa peneliti bahwa dukungan keluarga sangat penting diberikan kepada pasien khususnya yang mengalami penyakit yang menular dan kemungkinan sembuhnya juga kecil. Dimana dengan adanya dukungan keluarga maka dapat membantu pasien dalam mempercepat proses penyembuhan dan proses pemulihan. Dukungan keluarga sangat penting diberikan kepada pasien yang memerlukan kebutuhan seperti emosional, informasi, penghargaan, materi. Dimana dengan adanya dukungan keluarga maka pasien terhindar dari stress sehingga lebih cepat sembuh dan pulih kembali. Adanya dukungan materi atau dukungan praktis kepada pasien tuberculosis maka dapat membantu pasien agar merasa nyaman dan terpenuhi kebutuhannya karena pasien mendapat perhatian dari keluarga. Dengan adanya dukungan praktis atau materi dari anggota keluarga diharapkan dapat membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya seperti biaya pengobatan sehingga diharapkan pasien mampu rutin berobat dan bisa cepat pulih. Dengan adanya dukungan materi diharapkan semangat pasien akan muncul kembali dan pasien akan mendapatkan perhatian atau kepedulian dari keluarga tentang kebutuhan sehari-hari atau finansial. Kepatuhan minum obat OAT Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui dari 44 responden kepatuhan minum OAT dengan kategori tidak patuh sebanyak 21 responden 47,7%, sedangkan kategori patuh sebanyak 23 responden 52,3%. Hasil Analisa peneliti bahwa kepatuhan minum obat OAT pada pasien tuberculosis ditunjukan melalui jumlah obat yang diberikan pada saat kontrol kembali obat sudah habis. Peneliti juga melihat jadwal kontrol pasien tuberculosis selalu sesuai dan tepat waktu. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil Retnaningsih menyatakan bahwa pada 62 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 53 orang . ,5%) tergolong Hal ini didukung oleh dasar teori dari Wibowo . yang menyatakan bahwa kepatuhan merupakan suatu bentuk perilaku. Perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada di dalam diri manusia, sedangkan dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Kepatuhan adalah minum obat sesuai dosis, tidak pernah lupa, tepat waktu, dan tidak pernah Kepatuhan dalam meminum OAT mrupakan faktor terpenting dalam menekan jumlah virus tuberculosis dalam tubuh Penekanan jumlah virus yang lama dan stabil bertujuan agar system tubuh imun tetap terjaga tinggi. Dengan demikian, orang yang terinfeksi virus tuberculosis akan mendapatkan kualitas hidup yang baik dan juga mencegah terjadinya kesakitan dan Salah satu hal yang perlu dipahami meningkatkan tingkat kepatuhan adalah pasien memerlukan dukungan, bukan Adapun dari hasil didapatkan tingkat kepatuhan dengan kategori yang tidak patuh. Hal ini terjadi kemungkinan disebabkan oleh karena responden tersebut mengalami alergi terhadap obat OAT yang dikonsumsi, akibat imun yang tidak adekuat untuk mengkonsumsi Obat OAT. Dengan demikian pengelola program tuberculosis dapat dipertimbangkan kelanjutan OAT pada responden tersebut setelah dikonsultasikan dengan dokter pengelola tuberculosis di Rumah Sakit Cibitung Medika. Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi responden mendapatkan terapi OAT sesuai indikasi. Berdasarkan fakta dan teori di atas dapat dijelaskan bahwa pengobatan OAT membutuhkan waktu yang lama, maka untuk menjadi seseorang yang patuh harus mmiliki keyakinan untuk sembuh dengan berobat secara teratur di samping adanya dukungan dari keluarga. Selain itu juga peneliti dapat menemukan kajian dari responden yaitu dengan adanya pengobatan OAT ini, terjadinya perubahan klinis pada respoden seperti peningkataan berat badan responden, ekspresi responden semakin cerah dan tambah semangat sehingga responden yang patuh lebih banyak daripada yang tidak patuh karena responden ingin sembuh dari penyakit tuberculosis. Hasil Analisa bivariat Berdasar hasil penelitian menunjukan terdapat dukungan antara keluarga dan kepatuhan minum obat dengan nilai p value sebesar 0,002 dan Odds Ratio sebesar 14,000. Berdasarkan Analisa peneliti bahwa peningkatan dukungan keluarga sangat diperlukan dalam hal kepatuhan minum obat OAT. Pentingnya dilakukan dukungan keluarga ini adalah untuk meningkatkan kesehatan pasien melalui kepatuhan minum obat. Sangat perluh dukungan keluarga untuk aspek informasi agar konsisten memberikan informasi kepada Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rosa . yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat OAT pada pasien tuberculosis. Hasil uji chisquare didapatkan p-value < 0,05 . Artinya semakin baik dukungan keluarga maka akan semakin patuh pasien dalam minum obat OAT. Hasil penelitian ini didukung dasar teori menurut Muna . yang mendefenisikan dukungan keluarga sebagai suatu konstruksi multidimensi yang meliputi bantuan fisik dan instrumental, berbagai informasi dan sumber daya, dan menyediakan dukungan emosional dan psikologis. Istilah ini juga dapat merujuk kepada pelayanan formal yang diterima dari para professional, organisasi formal atau yang semi formal seperti klub-klub sosial, atau organisasi-organisasi bahwa keluarga itu penting dalam gaya hidup. Dukungan keluarga terbagi menjadi beberapa kategori yaitu dukungan praktis . , dukungan informasi, dukungan penghargaan, dan dukungan emosional. Menurut Analisa peneliti bahwa dukungan keluarga sangat diperlukan dalam pengobatan OAT membutuhkan waktu yang lama, maka untuk menjadi seseorang yang patuh harus mmiliki keyakinan untuk sembuh dengan berobat secara teratur di samping adanya dukungan dari keluarga. Selain itu juga peneliti dapat responden yaitu dengan adanya pengobatan OAT ini, terjadinya perubahan klinis pada respoden seperti peningkataan berat badan responden, ekspresi responden semakin cerah dan tambah semangat sehingga responden yang patuh lebih banyak daripada yang tidak patuh karena ingin sembuh. KETERBATASAN PENELITIAN Dalam penyusunan laporan hasil penelitian ini, penulis memiliki beberapa keterbatasan dalam penelitian yaitu : Kegiatan pelaksanan penelitian dilakukan waktu yang lama karena menunggu konfirmasi dari lokasi penelitian terkait pelaksanaan penelitian. Peneneliti ini hanya mengkaji 2 variabel saja yaitu dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat padahal masih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat. KESIMPULAN Berdarkan penelitaian yang telah dilakukan dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat OAT Pada Pasien Tuberkolosis (TBC) Di RS Cibitung Medika maka diperoleh kesimpulan sebagai Karateristik responden berdasarkan usia berdarkan jenis kelamin mayoritas perempuan, sedangkan berdasarkan pekerjaan mayoritas di sektor swasta Pendidikan mayoritas SMA. Dukungan Tuberkolosis mayoritas dengan dukungan keluarga baik. Tingkat kepatuhan minum obat OAT pasien Tuberculosis di Wilayah Kerja Rumah Sakit Cibitung Medika sebanyak 30 orang atau 68,2% mayoritas patuh. Terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap tingkat kepatuhan minum pada pasien Tuberculosis dengan p-value < 0,05 . dan Odds Ratio sebesar 14,000. SARAN