Copyright A 2022 pada penulis Abdimas Singkerru. Vol. No. 1, 2022 Pelatihan Budidaya Rumput Unggul di Kelurahan Massepe Kabupaten Sidrap Muh. Irwan 1*. Reza Asra 2. Aksal Mursalat 3. Trisnawaty 4 1 Ae 4 Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang *1 muhirwanprima@gmail. 2 rezaasraahmad@gmail. 3 aksalmursalat@gmail. ar508@gmail. Abstrak Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi peternak dalam hal budidaya rumput unggul secara menyeluruh. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kelompok Ternak Jaya Bersama yang berkedudukan di Kelurahan Massepe Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA). Metode ini adalah serangkaian atau sekelompok kegiatan dengan metode yang memungkinkan mitra dapat mengamati, mengkaji, saling berbagi, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi dan aspek-aspek yang berkaitan untuk menunjang kreativitas dan kemandirian peternak dalam menyediakan pakan berbahan baku lokal yang berkualitas. Tahapan kegiatan ada 3 yakni sosialisasi, pelatihan budidaya, dan evaluasi Kesimpulan dari kegiatan ini adalah Kegiatan dinilai efektif berdasarkan hasil evaluasi yang mendapatkan bobot penilaian sebesar 87,71. Nilai tersebut menunjukkan kegiatan pengabdian yang dilaksanakan dikategorikan berhasil pada aspek peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang berorientasi pada aspek kompetensi teknis peserta. Kegiatan ini layak dilanjutkan untuk implementasi lapangan dengan skala yang lebih besar. Kata Kunci: rumput unggul, mulato, rumput gajah mini tipe DL Pendahuluan Ketersediaan hijauan pakan dalam beberapa tahun terakhir mengalami masalah bagi usaha peternakan ruminansia. Sulitnya pakan khususnya pada musim kemarau menjadi hal yang biasa ditemukan setiap tahun. Hal ini telah memberikan dampak negatif terhadap peternakan ruminansia khususnya sapi potong. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sulitnya pakan mengakibatkan harga ternak sapi potong menjadi anjlok. Kondisi yang paling merugikan adalah ketika sapi potong yang selama ini digembalakan menderita malnutrisi. Dampak dari kejadian tersebut adalah ternak menjadi kurus dan pada akhirnya akan mati. Kekurangan hijauan pakan pada musim kemarau, pada dasarnya tidak hanya disebabkan oleh pegaruh musim. Degradasi padang penggembalaan dan penurunan kualitasnya menjadi dua hal mendasar yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Irwan, dkk . mengemukakan bahwa padang penggembalaan memiliki peran sentral dalam penyediaan hijauan pakan. Maraknya alih fungsi padang penggambalaan yang terjadi setiap tahun dan dalam skala yang cukup besar menjadi pemicu turunnya produksi hijauan pakan. Permasalahan ini harus diatasi dengan teknologi peternakan yang berkembang. Salah satu diantaranya adalah https://jurnal. id/index. php/singkerru/article/view/155 Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. program intensifikasi lahan melalui budidaya hijauan pakan unggul. Program ini seyogyanya dapat diintensifkan sosialisasinya di masyarakat agar tidak terjadi kekurangan hijauan pakan. Ketersesediaan hijauan pakan yang berkualitas menjadi salah satu faktor mendasar dalam usaha peternakan ruminansia. Hijauan pakan berkualitas merupakan persyaratan utama dalam peternakan ruminansia (Irwan, dkk. , 2. Hijauan pakan berkualitas adalah jenis rumput dan legume yang memiliki kandungan nutrisi di atas rata-rata rumput alam, memiliki palatabilitas yang tinggi, dan daya cerna yang tinggi. Keberadaan hijauan pakan unggul khususnya yang dibudidaya dengan baik akan membantu peternak dalam penyediaan pakan bagi ternak. Apabila hal ini dapat digalakkan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, maka masalah kekurangan pakan yang sering dihadapi peternak pada musim kemarau dapat diatasi dengan baik sehingga ternak yang dipelihara akan tumbuh berkembang sesuai yang diharapkan. Ketersediaan hijauan pakan yang bersumber dari padang penggembalaan harusnya diperhatikan secara cermat. Hal ini karena pengembangan ternak ruminansia oleh masyarakat, pada umumnya dilakukan melalui metode penggembalaan karena berbagai alasan. Hal ini mengakibatkan peternak sangat bergantung pada padang penggembalaan. Irwan, dkk . mengemukakan bahwa ketergantungan peternak pada padang penggembalaan terjadi karena biaya pemelihraannya menjadi murah serta teknik pemanfaatannya mudah karena ternak hanya dilepaskan di pagi hari dan dikembalikan ke kandang pada sore hari. Bahkan beberapa peternak melepaskan ternaknya di padang penggembalaan selama 24 jam dengan ketentuan lokasi tersebut aman dari tanaman pangan. Oleh karena itu, kualitas padang penggembalaan seharusnya diperhatikan dan padang penggembalaan alami sebaiknya ditingkatkan melalui introduksi hijauan pakan Budidaya rumput unggul adalah bagian dari keilmuan Ilmu Tanaman Pakan yang seyogyanya didiseminasikan kepada peternak sebagai bagian dari pembangunan masyarakat peternak yang lebih baik. Budidaya rumput unggul tidak hanya berbicara tentang menanam tetapi mengenal jenis hijauan, mempersiapkan bibit tanam, memelihara, menumbuhkan khususnya setelah dipanen . adalah hal-hal yang sangat penting untuk ketahui dan dipahami oleh peternak. Kompetensi budidaya rumput unggul bagi peternak akan membantu dalam penyediaan hijauan pakan berkualitas Kegiatan ini sesungguhnya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peternak dalam hal budidaya rumput unggul secara menyeluruh. Rumput yang digunakan pada kegiatan ini merupakan hasil dari penelitian yang dilaksanakan oleh tim pada salah satu jenis rumput unggul yakni rumput mulato atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama Brachiaria hybrid cv. Mulato. Rumput mulato tergolong sebagai rumput potong dan rumput gembala. Selain rumput mulato, tim kegiatan juga memperkenalkan teknik budidaya rumput gajah yang tepat. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelompok Ternak Jaya Bersama. Kelompok ini merupakan kelompok yang dibina oleh tim dalam hal pengembangan hijauan pakan, populasi, bisnis, serta berbagai jenis kegiatan yang berafiliasi dengan peternakan. Melalui kegiatan diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi kelompok untuk selanjutnya disebarluaskan kepada kelompok lainnya. Vol. No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Onlin. Metode Pelaksanaan Kegiatan ini dilaksanakan pada Kelompok Ternak Jaya Bersama yang berkedudukan di Kelurahan Massepe Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi selatan. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA). Metode ini adalah serangkaian atau sekelompok kegiatan dengan metode yang memungkinkan mitra dapat mengamati, mengkaji, saling berbagi, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi dan aspek-aspek yang berkaitan untuk menunjang kreativitas dan kemandirian peternak dalam menyediakan pakan berbahan baku lokal yang berkualitas. PRA hakekatnya dalah metode untuk mengetahui potensi serta permasalahan mitra lalu memberikan solusi dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut (Mustanir et. , 2. Kelompok ini dipilih karena telah menjadi binaan oleh. Selain itu, dalam aspek teknis ditemukan bahwa kelompok ini masih mengandalkan rumput alam yang kualitas nutrisinya rendah jika dibandingkan rumput unggul. Produksi hijauan pada skala luasan tertsntu juga menjadi permasalahan mendasar. Atas dasar tersebut, tim menetapkan kelompok ini sebagai tempat atau lokasi pengabdian. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Januari LOKASI KEGIATAN Gambar 1: Lokasi Kegiatan Pengabdian Kegiatan pengabdian dilakukan melalui 3 tahap yaitu: Sosilisasi, pelatihan budidaya, dan evaluasi kegiatan. Ketiga tahapan ini dilaksanakan dalam satu hari secara tersetruktur dan terukur. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal yakni peningkatakan kompetensi peternak terhadap budidaya kedua rumput tersebut. Adapun alur kegiatan dapat dilihat pada gambar berikut: Sosialisasi: Pengenalan rumput Pengenalan teknis pemeliharaan Pelatihan budidaya: Penyiapan bibit tanam dan metode Gambar 2. Alur kegiatan pengabdian Evaluasi kegiatan menggunakan teori (Ningsih, dkk. Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. Sosialisasi Sosialisasi merupakan tahap awal kegiatan pengabdian. Perlu diketahui bahwa usaha peternakan ruminansia khususnya sapi potong telah mengalami perkembangan yang pesat mengikuti tingkat kebutuhan daging sapi di Indonesia. Semangat ini harus tetap terjaga karena kreativitas dan kemandirian merupakan bagian dari pengembangan diri yang harus terikat erat dalam jiwa manusia. Dalam tahap ini tim pengabdian memperkenalkan rumput unggul yang terdiri atas dua jenis yaitu rumput mulato (Brachiaria hybrid cv. Mulat. dan rumput gajah mini lambat berbunga (Dwarf late Napiergras. Kedua jenis rumput ini memiliki kelebihan yakni dapat digunakan sebagai rumput potongan dan juga rumput gembala. Kelebihan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kedua rumput ini dapat dibudidayakan pada padang penggembalaan. Dalam tahapan ini, tim pengabdian menguraikan secara jelas teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan kedua jenis rumput yang meliputi: metode penyiapan bibit rumput, metode penanaman, metode pemeliharaan pasca tanam . , metode pemanenan, metode pemeliharaan pasca panen . , dan metode penyimpanan apabila produksi berlebih. Berbagai metode tersebut dimaksudkan untuk membuka wawasan peternak lebih jauh lagi sehingga tingkat pengetahuan mereka tidak hanya terfokus pada pemeliharaan ternak. Tahapan sosialisasi juga membuka ruang diskusi tentang berbagai masalah yang dialami oleh peternak selama ini. Ruang diskusi tersebut dibuka dengan tujuan untuk mendalami lebih dalam tentang berbagai masalah yang dihadapi peternak dan apa sesungguhnya yang diinginkan guna mengembangkan usahanya menjadi lebih baik. Ruang diskusi juga sekaligus menjadi wadah bagi peternak untuk memperkenalkan usahanya sehingga tim pengabdian mendapatkan data informasi baru tentang bisnis yang selama ini dilakukan. Hal tersebut menjadi modal awal bagi tim pengabdian untuk melakukan pendampingan yang lebih komprehensif lagi dalam sisi manajemen bisnis ke depannya. Pelatihan budidaya rumput unggul Pelatihan budidaya rumput unggul merupakan tahapan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi teknis peternak. Kompetensi ini menjadi sangat penting bagi peternak karena selama ini mereka hanya mengandalkan rumput alam yang diperoleh dari padang penggembalaan. Apabila ditemukan diantara peternak melakukan budidaya rumput maka jumlahnya sangat sedikit. Kompetensi budidaya rumput adalah kompetensi dasar yang harus selalu dikembangkan oleh peternak. Evaluasi kegiatan Evaluasi kegiatan merupakan tahap akhir dari kegiatan pengabdian. Evaluasi dilaksanakan melalui penyebaran angket yang memuat pertanyaan-pertanyaan dengan bobot tertentu. Hasil dari penyebaran anket tersebut, selanjutnya ditabulasi untuk menghitung nilai keberhasilan kegiatan dalam bentuk kualitatif. Indikator Keberhasilan dalam kegiatan ini adalah tingkat serapan ilmu, pengetahuan, dan keterampilan peternak yang merujuk pada tingkat efektifitas kegiatan. Nilai indikator yang digunakan adalah apabla nilai dari hasil evaluasi di atas 50% maka dinyatakan efektif (Ningsih, dkk. Vol. No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Onlin. Hasil dan Pembahasan Budidaya rumput unggul seyogyanya dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah penyediaan pakan yang dihadapi peternak pada masa sekarang. Rumput unggul yang sejatinya adalah berkualitas dalam sisi produksi dan nutrisi, selayaknya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan peternak ruminansia. Urgensi tersebut sangat jelas dan menjadi tantangan yang besar bagi peternak ruminansia. Pada beberapa kasus yang terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang dan sekitarnya, kekurangan rumput pada musim kemarau telah menjadi masalah berulang setiap tahun sehingga dibutuhkan langkah antisipatif yang salah diantaranya sangat layak dilakukan adalah budidaya rumput unggul. Pada kegiatan pengabdian ini, tim melakukan proses transformasi ke dalam beberapa bagian yang selanjutnya akan dijelaskan sebagai berikut: Sosialisasi Sosialisasi kegiatan dihadiri oleh peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Jaya Bersama sebanyak 20 orang dan peserta dari luar kelompok sebanyak 10 orang. Kegiatan sosialisasi diawali dengan memperkenalkan tim yang terdiri dari empat orang dengan latarbelakang keilmuan yang berbeda. Kegiatan sosialisasi menjadi hidup karena dilaksanakan dalam suasana yang bebas / tidak kaku. Pada kegiatan ini, tim pengabdian menjelaskan secara komprehensif tentang tujuan dan maksud kedatangan tim ke lokasi. Kegiatan ini juga mendapatkan respon yang baik dari pihak pemerintah setempat. Kegiatan yang selanjutnya diisi dengan pemaparan materi / teori ilmiah serta diskusi yang intensif, menjadi lebih hidup dengan adanya umpan balik dari peserta. Kondisi seperti ini adalah implementasi dari metode PRA. Gambar 3. Diskusi Intensif bersama peserta pengabdian Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. Kegiatan diskusi dilakukan untuk mengkaji lebih dalam permasalahan yang dihadapi peternak sekaligus menakar kualitas pengetahuan dan kompetensinya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data primer yang akan digunakan sebagai tindak lanjut dalam kegiatan pengabdian yang akan dilakukan selanjutnya. Data yang dihasilkan tersebut, selanjutnya akan diolah dan dijadikan sebagai rujukan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi selama ini. Pelatihan Budidaya Rumput Mulato (Brachiaria hybrid cv. Mulat. Kegiatan diawali dengan pelatihan penyediaan bibit tanam. Secara umum, penyediaan bibit tanam pada rumput terbagi menjadi 3 metode yakni menggunakan stek, tiller, dan pols. Akan tetapi, untuk penerapan metode tersebut dilakukan berdasarkan kondisi bagian vegetatif tanaman yang akan digunakan serta kondisi lapangan khususnya kesiapan peternak dalam mengelola rumputnya. Rumput mulato adalah jenis rumput unggul yang Kegiatan penyediaan bibit pada rumput mulato dilaksanakan sesuai dengan kondisi bagian batangnya yang tidak berkayu dan tidak berbuku. Pada tanaman dengan tipe seperti ini, penyediaan bibit tanamnya secara umum dilakukan dalam dua bentuk yakni pols atau yang lebih dikenal dengan sobekan rumpun dan menggunakan tiller/anakan/tanaman bagian rumput tanaman yang masih muda. Pada kegiatan pengabdian, tim berupaya memfokuskan pembelajarannya kepada penggunaan pols sebagai bibit tanam. Metode ini dipilih karena cenderung lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan tiller. Kegiatan pelatihan pada tahapan pemeliharaan, dilakukan dengan memutar video dokumenter tim pada saat melakukan penelitian. Pada tahapan ini, diskusi antara tim dan peternak menjadi sangat hidup karena terdapat banyak hal yang berbeda yang dilakukan peternak selama ini. perbedaan tersebut terletak pada bagian pemupukan yang selama ini dilupakan oleh peternak. Lebih jauh lagi, tim pengabdian menjelaskan aspek kebutuhan nutrisi tanaman pada fase pertumbuhan. Pada tahapan ini, peternak diajarkan untuk memperhatikan aspek nutrisi tanaman pada awal-awal pertumbuhan. Kelemahan peternak pada lokasi pengabdian selama ini adalah tidak memperhatikan aspek tersebut padahal sangat dibutuhkan oleh Pupuk yang direkomendaskan adalah pupuk kandang maupun pupuk organik cair yang bisa diperoleh dari usaha peternakan yang dijalankan selama ini. Metode pemanenan merupakan salah salah satu bagian penting dalam pengabdian ini. Pemanenan pada rumput mulato melalui pemotongan, dilakukan pada umur-umur tertentu yakni pada saat rumput tumbuh dengan sempurna sebelum fase generatif. Hal ini dilakukan untuk memperoleh produksi rumput yang maksimal dari segi produksi maupun nutrisi. Menjadi sebuah kekeliruan selama ini adalah ketika peternak melakukan pemanenan pada saat rumput berumur tua yakni fases tanaman mengandung nutrisi yang rendah. Penekanan ini dilakukan kepada peternak karena faktor kebiasaannya yang tidak memperhatikan umur tanaman sebelum dipotong. Kondisi tersebut mengakibatkan produksi rumput yang diperoleh menjadi tidak maksimal. Rumput Gajah Lambat Berbunga (Dwarf Late Napier Gras. Rumput Gajah Mini Tipe DL memiliki banyak sekali perbedaan dengan rumput mulato yang secara morfologi tampak pada bagian vegetatif dan generatifnya. Bagian vegetatif terutama batang Rumput Gajah Mini Tipe DL tampak berbuku Vol. No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Onlin. dengan internode yang sempit, rasio daun lebih besar dibandingkan batang, serta daun yang lembut dibandingkan rumput sebangsanya. Kegiatan penyediaan bibit tanam rumput gajah pada kegiatan pengabdian dilakukan dengan memperkenalkan metode 1 node 1 bibit. Metode ini diperkenalkan karena dapat menghemat penggunaan batang sebagai calon bibit yang berguna apabila akan diaplikasi pada lahan yang luas. selain itu, alasan lain sehingga metode ini dipilih karena para peternak telah memahami metode konvensional budidaya rumput gajah pada varietas yang lain. Adapun untuk penggunaan tiller dan pols, penjelasannya dilakukan secara umum. Hal ini karena kedua metode tersebut cenderung sudah dipahami oleh peternak dan telah diaplikasi. Penyediaan bibit dengan metode 1 node 1 bibit dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal teknis yaitu: kondisi batang yang akan di-stek atau batang yang digunakan adalah batang yang sudah tua dan bernas/berisi, bagian batang yang dipotong adalah internode atau bagian antara node yang satu dengan yang lain . osisi miring lebih bai. , bagian yang terpotong utuh atau tidak pecah, media pembibitan adalah tanah yang subur dan sebaiknya telah dicampur dengan bahan organik atau pupuk kandang yang kering. Bibit yang telah mulai tumbuh ditandai dengan munculnya bakal tiller yang terdapat pada bagian node. Apabila tiller pada bagian node telah mulai bertumbuh dan mengeluarkan bagian vegetatifnya yang serupa dengan daun maka tanaman tersebu siapt ditransplanting ke tanah yang sudah disiapkan sebelumnya. Metode transpalanting diawali dengan menyiapkan lahan yang sudah diintroduksi dengan bahan organik sampai gembur. Langkah ini bertujuan agar bibit tersebut dapat bertumbuh dengan baik dan sempurna. Pada kegiatan pengabdian, tim memperlihatkan contoh bibit yang ditumbuhkan dengan teknik ini yang telah dibawa dari kampus. Pemeliharaan Rumput Gajah Mini Tipe DL dilakukan berdasarkan standar yang sudah ada. Pada kegiatan pengabdian, pelatihan pemeliharaan hanya berbasis diskusi intensif melalui kunjungan lapangan pada lokasi kebun percobaan yang akan Kegiatan pendampingan lebih diutamakan pasca kegiatan pengabdian. Namun pada tahap ini, tim pengabdian berupaya menjelaskan secara komprehensif terkait dengan metode pemeliharaan rumput yang tepat. Pada kesempatan tersebut, metode pemeliharaan yang dijelaskan terbagi menjadi dua bagian yaitu pemeliharaan fase pertumbuhan dan pemeliharaan pasca pemanenan atau pemotongan . Kedua bagian tersebut merupakan titik kritis keberhasilan yang harus dipahami secara benar oleh peternak. Kegagalan memperoleh puncak produksi pada budidaya Rumput Gajah Mini Tipe DL sering disebabkan oleh kedua bagian tersebut. Oleh karena itu, tim pengabdian mengintesifkan pemaparan teori ilmiah berbasis data penelitian kepada peternak yang ikut dalam kegiatan Proses pemanenan merupakan bagian yang sangat penting untuk diketahui Kegiatan pemanenan adalah proses pemanfaatan rumput pasca mencapai pucak produksi sebelum fase generatif. Pemanenan menjadi sangat penting karena memuat dua hal yakni produksi dan kualitas nutrisi rumput. Kesalahan dalam pemanenan akan mengakibatkan produksi rendah apabila dipanen lebih cepat dan kualitas nutrisi rendah apabila dipanen pada umur yang sangat tua. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada peternak untuk melakukan pemanenan awal pada usia tidak melebihi 90 hari dan pemanenan selanjutnya dapat dilakukan O 60 hari / Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. tergantung kondisi pertumbuhan rumput. produksi rumput gajah akan lebih maksimal jika dipupuk dengan dosis yang tepat. Pupuk yang direkomendasikan adalah pupuk organik (Wadi, dkk 2020 dan Wadi, et. Gambar 4 memperlihatkan kegiatan perhitungan produksi hijauan yang dilaksanakan pada lokasi pengabdian setelah Gambar 4. Menghitung produksi Rumput Gajah Mini Tipe DL . ilaksanakan di luar pengabdian/masa pane. Evaluasi Kegiatan Evaluasi kegiatan pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan pengabdian yang dilaksanakan. Angket yang disebarkan memuat 7 pertanyaan yang keseluruhannya menilai aspek kepuasaan peserta kegiatan. Data yang diperoleh selanjutnya ditabulasi dan dijadikan rujukan pelaksanaan kegiatan Tabel 1. Hasil Evaluasi Kegiatan Indikator Tim melakukan pelayanan sesuai dengan kebutuhan peserta Penyampaian kegiatan mudah dimengerti oleh peserta setiap tanggapan yang diajukan ditindaklanjuti dengan baik Materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan peserta dalam menjalan usaha peternakan Peralatan praktik memadai Tingkat kepuasan peserta Jika kegiatan dilaksanakan kembali, peserta bersedia berpartisipasi Rataan Nilai Nilai 87,71 Vol. No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Onlin. Berdasarkan data pada tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian yang telah dilakukan pada Kelompok Ternak Jaya Bersama adalah efektif karena rataan nilai yang dicapai adalah 87,71% (Nengsih, et. , 2. Efektifitas tersebut tercapai karena peserta yang merupakan anggota kelompk ternak dan masyarakat sekitar merasakan manfaat kegiatan pengabdian tersebut dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan . yang nantinya akan digunakan dalam usaha peternakan yang dijalankan. Lebih daripada itu, peningkatan pengetahuan khususnya dalam mengetahui manfaat dari budidaya rumput unggul memberikan ruang yang besar kepada peternak untuk mengembangkan kreatifitas mereka dalam menjalankan usahanya karena aspek teori ilmiah yang merupakan dasar pengetahuan telah dipahami secara baik. Hal tersebut juga telah dibuktikan peternak saat melaksanakan pemanenan pasca mengikuti pelatihan (Gambar . Kesimpulan Kegiatan pengabdian ini sesungguhnya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peternak dalam hal budidaya rumput unggul secara menyeluruh. Kegiatan ini dinilai efektif berdasarkan hasil evaluasi yang mendapatkan bobot penilaian sebesar 87,71. Nilai tersebut menunjukkan kegiatan pengabdian yang dilaksanakan dikategorikan berhasil pada aspek peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang berorientasi pada aspek kompetensi teknis peserta. Kegiatan ini layak dilanjutkan untuk implementasi lapangan dengan skala yang lebih besar. Ucapan Terimakasih Tim pengabdian mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesarbesarnya kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang Bapak Prof. Dr. Jamalaluddin Ahmad. Sos. Si serta Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Bapak Ir. Muhammad Rais Rahmat Razak. Si atas dukungan yang diberikan selama pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Lebih lanjut tim pengabdian juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kelurahan Massepe beserta masyarkat dan Anggota Kelompok Ternak Jaya Bersama. Referensi