ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI CABAI RAWIT DI KECAMATAN TERNATE UTARA KOTA TERNATE PROVINSI MALUKU UTARA Income Analysis of Cayenne Pepper Farming in North Ternate District Ternate City North Maluku Province Haris Mahmud1 . Jainuddin2 . Natal Basuki3 . Syahroni4 1,2,3,4 Fakultas Pertanian. Program Studi Agribisnis. Universiras Khariun Email: haris. mahmud@unkhair. id1 , jainuddin@gamil. com2 , natal. basuki@unkhair. syahroni@unkhair. Abstrak Usahatani cabai rawit memiliki prospek yang cukup baik karena komoditas ini banyak dibutuhkan masyarakat sebagai penambah cita rasa makanan, dengan tingkat konsumsi yang terus naik setiap tahun seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pendapatan petani cabai rawit serta besarnya biaya pengolahan usahatani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara. Responden penelitian adalah petani yang tergabung dalam beberapa kelompok tani di Kelurahan Tubo. Kecamatan Ternate Utara. Analisis pendapatan dihitung dari selisih antara total penerimaan atau Total Revenue (TR) dengan total biaya atau Total Cost (TC). Rata-rata pendapatan usahatani cabai rawit yang diperoleh petani di Kecamatan Ternate Utara adalah sebesar Rp16. 846 per hektar per musim tanam. Pendapatan tertinggi mencapai Rp44. 000 per musim tanam, sedangkan pendapatan terendah sebesar Rp8. 000 per musim tanam. Kata Kunci: Pendapatan. Cabai Rawit. Usahatani Abstract Cultivating cayenne pepper has considerable potential because it is in high demand by the community to add flavour to food, with consumption levels continuing to increase each year in line with population growth. Therefore, this study aims to determine the income of c ayenne pepper farmers and the processing costs of cayenne pepper farming in North Ternate District. This study used farmers from several farmer groups in Tubo Village. North Ternate District as respondents. The income analysis used in this study was calculated from the difference between total revenue (TR) and total cost (TC). The income from cayenne pepper farming obtained by farmers in North Ternate Subdistrict averaged Rp16,246,846 per planting season per hectare. The highest income earned by farmers was Rp44,150,000 per planting season, while the lowest income earned by f armers was Rp8,188,000 per planting season. Keywords: Income. Bird's Eye Chili. Farming Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni PENDAHULUAN Tanaman cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang memiliki prospek usaha sangat menjanjikan. Cabai tergolong sayuran buah bernilai ekonomi tinggi karena permintaannya yang terus meningkat, baik di pasar domestik maupun internasional. Cabai tidak hanya dibutuhkan sebagai bumbu masakan sehari-hari, tetapi juga menjadi bahan baku industri pangan, farmasi, kosmetik, dan bahkan penelitian bioteknologi. Kompleksitas fungsi dan tingginya permintaan tersebut menyebabkan cabai menjadi komoditas strategis yang sangat diperhatikan dalam pembangunan pertanian nasional (Rahayu et al. , 2024. Sembiring & Hadi, 2021. Kementerian Pertanian RI, 2022. Nugroho & Widodo, 2. Di Indonesia, komoditas cabai terkenal sebagai komoditas yang mengalami fluktuasi harga cukup tinggi. Ketidakstabilan harga dipengaruhi oleh kondisi produksi, perubahan iklim, pola tanam petani yang tidak merata, hingga gangguan distribusi. Fluktuasi tersebut sering menimbulkan gejolak inflasi dan berdampak luas pada perekonomian masyarakat. Beberapa penelitian menegaskan bahwa cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar dalam kelompok pangan bergejolak . olatile foo. sehingga pemerintah menempatkan komoditas ini sebagai perhatian utama dalam stabilisasi harga pangan nasional (Mulyani et al. , 2021. Sapahelut & Manurung, 2. Usahatani cabai rawit, khususnya, memiliki prospek yang baik karena tingginya konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2018 produksi cabai rawit merah nasional mencapai 1,21 juta ton dengan tingkat konsumsi sekitar 1,56 kg per kapita per tahun. Namun pada 2019 terjadi penurunan produksi menjadi 1,12 juta ton, sementara konsumsi meningkat menjadi 1,58 kg per kapita per tahun. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara produksi dan kebutuhan masyarakat, yang kemudian mendorong peluang bagi petani untuk meningkatkan budidaya cabai rawit (Badan Pusat Statistik, 2020. Mumu. Kapantow, & Lumingkewas, 2023. Direktorat Jenderal Hortikultura, 2021. Sari & Pratama, 2022. Lestari & Gunawan, 2. Pertumbuhan permintaan cabai tidak hanya terjadi di pusat-pusat produksi besar di Pulau Jawa, tetapi juga di wilayah-wilayah berkembang seperti Kota Ternate. Kota Ternate merupakan daerah yang mengalami peningkatan jumlah penduduk dan percepatan pembangunan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan penduduk yang pesat, urbanisasi, serta meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat mendorong kenaikan kebutuhan terhadap komoditas hortikultura, termasuk cabai (Dinas Pertanian Kota Ternate, 2022. Yusuf & Nur. Meskipun wilayah pemukiman semakin meluas, masih terdapat kawasan yang mempertahankan aktivitas pertanian, salah satunya Kelurahan Tubo. Sebagian masyarakat di wilayah ini masih bergantung pada sektor pertanian dan tergabung dalam kelompok tani seperti Bina Tani. Kelompok ini memproduksi berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, serta sayur-sayuran lainnya. Keberadaan kelompok tani tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertanian tetap relevan dan memiliki potensi ekonomi lokal yang signifikan (Ma'ruf & Samad, 2021. Alwi & Talib, 2. Menurut data BPS Maluku Utara tahun 2022, produksi cabai di Kota Ternate mencapai 788,37 kwintal. Di Kecamatan Ternate Utara sendiri terdapat 548 rumah tangga usaha pertanian, terdiri dari 501 laki-laki dan 47 perempuan. Pada subsektor hortikultura, terdapat 204 rumah tangga usaha yang menjadi tulang punggung produksi berbagai komoditas bernilai tinggi. Selain itu, jumlah pelaku usaha pertanian perorangan di subsektor hortikultura mencapai 206 orang, menunjukkan bahwa budidaya cabai dan tanaman hortikultura lainnya masih menjadi sumber pendapatan yang penting bagi masyarakat (BPS Maluku Utara, 2022. Badan Penyuluhan Pertanian Malut, 2023. Karim & Usman, 2. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni Harga cabai rawit dikenal sangat fluktuatif. Dalam beberapa periode, harga dapat naik tajam akibat pasokan yang menurun, terutama pada musim hujan ketika risiko serangan hama dan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya, harga dapat turun drastis pada musim panen Ketidakstabilan harga ini menjadi tantangan bagi petani di Kota Ternate, termasuk di Kecamatan Ternate Utara, karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan usahatani. Selain itu, pasar-pasar besar di Kota Ternate membutuhkan pasokan cabai dalam jumlah besar setiap hari, sehingga kontinuitas produksi menjadi penting untuk memenuhi permintaan tersebut (Rahim & Hastuti, 2020. Hermanto & Swastika, 2022. Sari & Firmansyah, 2021. Pratiwi & Malik, 2. Melihat kondisi tersebut, analisis pendapatan usahatani cabai rawit menjadi sangat penting untuk mengetahui kelayakan ekonomi, efisiensi usaha, dan prospek pengembangannya di masa depan. Kajian ini juga diperlukan sebagai dasar penyusunan strategi peningkatan produktivitas, stabilisasi harga, serta penguatan kelembagaan petani agar mampu beradaptasi terhadap dinamika pasar yang cepat berubah (Susanto & Hidayat. Nurhayati & Amin, 2. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Ternate Utara, salah satu kecamatan yang berada di Kota Ternate. Provinsi Maluku Utara. Kegiatan penelitian berlangsung dari April hingga Agustus 2024. Metode Penentuan Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh petani cabai rawit yang berusahatani di Kecamatan Ternate Utara, dengan jumlah total 13 orang. Karena populasi relatif kecil, seluruh anggota populasi dijadikan responden sehingga jumlah sampel adalah 13 petani. Penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh, yaitu seluruh populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Sampling jenuh adalah metode penentuan sampel di mana seluruh anggota populasi dijadikan responden. Teknik ini umumnya digunakan ketika ukuran populasi tergolong kecil, biasanya kurang dari 30 orang, atau ketika penelitian menuntut generalisasi dengan tingkat kesalahan yang sangat rendah (Sugiyono, 2. Jenis Data dan Sumber Data Penelitian ini memanfaatkan data primer dan sekunder. Data tersebut diperoleh melalui wawancara dengan para petani di Kecamatan Ternate Utara serta dari berbagai instansi terkait yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian. Metode Pengumpulan Data Untuk memperoleh berbagai data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan beberapa metode, yaitu: Observasi, dilakukan dengan cara mengamati objek penelitian secara langsung. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data melalui berbagai keterangan tertulis atau dokumen yang relevan dengan kebutuhan penelitian. Wawancara, yakni melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak yang berwenang atau kompeten menggunakan daftar pertanyaan . yang telah disiapkan sebelumnya. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni Metode Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Data hasil penelitian kemudian diolah menggunakan rumus tertentu untuk menghitung besarnya pendapatan petani. Analisis Biaya Analisis biaya diperoleh dengan menjumlahkan biaya tetap (Fixed Cost/FC) dan biaya variabel (Variable Cost/VC), dengan menggunakan rumus sebagai berikut: TC = FC VC Keterangan: TC = Total Cost (Total Biay. FC = Fix Cost (Biaya Teta. VC = Variabel Cost (Biaya Variabe. Analisis Penerimaan Penerimaan diperoleh dari hasil perkalian antara harga jual dan jumlah produk yang berlaku, dengan menggunakan rumus sebagai berikut: yaeR = P x Q Keterangan: TR = Total Penerimaan (Total Revenu. P = Harga Jual (Pric. Q = Jumlah produk yang dihasilkan (Quantit. Analisis Pendapatan Pendapatan diperoleh dari selisih antara total penerimaan (Total Revenue/TR) dan total biaya (Total Cost/TC), dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Pd = TR - TC Keterangan: Pd = Pendapatan Usahatani TR=Total Revenue (Total Penerimaa. TC = Total Cost (Total Biay. Menurut Nababan. Hidayati, dan Nursan . , untuk mengetahui tingkat keuntungan pada usahatani cabai rawit dapat digunakan analisis rasio B/C dengan rumus sebagai berikut: B/C = A/TC Keterangan: B/R ratio = nilai rasio antara income atau pendapatan (R. dengan cost atau biaya (R. A = Benefit / Pendapatan (R. TC = Total Cost / Total Biaya (RP) Adapun kriteria yang digunakan yaitu: Apabila B/C rasio > 0 maka usahatani cabai rawit menguntungkan. Apabila B/C rasio < 0 maka usahatani cabai rawit merugikan. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni HASIL DAN PEMBAHASAN Biaya Tetap Biaya tetap merupakan biaya yang nilainya tidak berubah meskipun jumlah produksi naik atau turun. Jenis biaya ini tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya hasil produksi dan tetap harus dikeluarkan dalam kondisi apa pun. Dengan kata lain, besar kecilnya biaya tetap tidak bergantung pada tingkat produksi. Dalam penelitian ini, biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara meliputi biaya penyusutan alat dan biaya pajak lahan. Tabel 1 Rata-Rata Biaya Tetap Petani per musim tanam Uraian Total Biaya (R. Nilai penyusutan alat Pajak Sewa lahan Jumlah 796,462 965,538 653,846 2,415,847 Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel 1 memperlihatkan bahwa komponen biaya tetap yang ditanggung petani cabai rawit meliputi penyusutan alat dengan rata-rata Rp796. 462, pajak sebesar Rp965. 538, dan biaya sewa lahan sebesar Rp653. 846 per tahun. Jika dijumlahkan, total biaya tetap yang harus dikeluarkan setiap musim tanam mencapai Rp2. Besaran biaya tetap ini tidak berubah meskipun jumlah produksi meningkat atau menurun. Di antara petani responden, biaya sewa lahan tertinggi mencapai Rp5. 000, sementara nilai penyusutan alat terbesar tercatat sebesar Rp3. Biaya Variabel Biaya variabel adalah biaya yang berubah sesuai dengan jumlah produksi atau biaya yang habis digunakan dalam satu siklus produksi. Sementara itu, biaya tetap yang dikeluarkan petani selama proses produksi antara lain sebagai berikut: Benih Petani menggunakan benih cabai rawit Dewata 43 F1 berkualitas yang dibeli dari toko pertanian di sekitar lokasi penelitian. Varietas Dewata ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain tahan terhadap penyakit, berdaya hasil tinggi dengan produksi ratarata sekitar 13 ton per hektar, serta menghasilkan buah yang lebat. Cabai ini cocok dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi, dan tetap kuat pada musim hujan. Buahnya bertekstur keras, tahan disimpan, memiliki rasa yang pedas, serta digemari untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Warna buahnya putih dan berubah menjadi oranye kemerahan saat matang. Sebagian petani juga memproduksi benih sendiri dari hasil panen Rata-rata biaya yang dikeluarkan petani untuk benih cabai rawit mencapai Rp148. 077, dengan harga benih sekitar Rp35. 000 per bungkus. Pupuk Pupuk menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan usahatani karena berpengaruh besar terhadap tingkat produksi. Banyaknya pupuk yang dipakai biasanya disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki petani. Penggunaan pupuk oleh petani cabai rawit dapat dilihat pada Tabel 2. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni Tabel 2 Rata-Rata penggunaan pupuk pada Usahatani Cabai Rawit No Jenis Pupuk Kandang Urea Phonska Jumlah Jumlah (K. Biaya (RP) 960,000. 432,500. 462,500. 1,855,000. Sumber Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar petani menggunakan jenis pupuk yang sama, dengan rata-rata biaya penggunaan pupuk sebesar Rp1. 000,00. Pupuk dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi tanah serta meningkatkan kesuburannya agar hasil panen lebih optimal. Para petani responden umumnya memberikan pupuk sebanyak tiga kali dalam satu bulan hingga masa panen. Pestsida Pestisida merupakan zat yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman, baik yang berbentuk bubuk maupun cair. Penggunaannya harus disesuaikan dengan dosis serta teknik aplikasi yang tepat. Setiap petani menerapkan takaran pestisida yang berbeda-beda, bergantung pada luas lahan serta tingkat serangan penyakit. Informasi mengenai penggunaan pestisida pada usahatani cabai rawit disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Rata-rata Penggunaan Pestisida Pada Usahatani Cabai Rawit No Jenis pestisida Jumlah . Biaya (R. Curacron 90,417 Demolish 385,000 Regen 210,000 Saporo 130,000 Sumo 130,000 Jumlah 1304 945,417 Sumber Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel 3 memperlihatkan bahwa rata-rata biaya penggunaan pestisida kimia pada usahatani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara mencapai Rp945. 417 per musim tanam. Petani responden umumnya melakukan penyemprotan pestisida dua kali seminggu, atau lebih sering jika diperlukan, terutama ketika muncul serangan hama seperti kutu daun, ulat buah, dan hama lainnya. Total Biaya Usahatani Cabai Rawit Total biaya usahatani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara merupakan hasil penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap mencakup pajak atau sewa lahan serta penyusutan alat, sedangkan biaya variabel meliputi seluruh pengeluaran untuk benih, pupuk, dan obat-obatan. Rincian total biaya usahatani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara disajikan pada Tabel 4. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni Tabel 4 Total Biaya Usahatani Cabai Rawit per Rp/Mt Jenis Biaya Biaya Biaya Tetap 2,415,847 Biaya variabel 1. Total Biaya 4,176,231 Sumber Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel 4 memperlihatkan bahwa rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani cabai rawit mencapai Rp2. 847, sedangkan rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp1. Dengan demikian, total biaya yang diperlukan per musim tanam adalah Rp4. Total biaya tersebut merupakan hasil penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel, yang nantinya akan dikurangkan dari total penerimaan penjualan cabai untuk memperoleh besarnya pendapatan petani. Penerimaan Usahatani Cabai Penerimaan diperoleh dari total produksi panen cabai rawit yang dikalikan dengan harga jual yang berlaku di pasar. Petani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara menjual hasil panennya baik secara langsung ke pasar maupun melalui pengepul. Besarnya penerimaan petani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 rata-rata Penerimaan dari Usahatani Cabai Rawit per Rp/Ha/Mt Uraian Total Jumlah produksi (K. Harga jual (R. Penerimaan (R. Sumber Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata produksi petani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara mencapai 400 kg per musim tanam. Dengan harga jual rata-rata Rp51. 538 per kilogram, maka penerimaan rata-rata yang diperoleh petani adalah sekitar Rp20. setiap musim tanam. Petani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara biasanya melakukan panen sekali setiap minggu setelah tanaman berumur sekitar tiga bulan sejak penanaman. Masa panen dapat berlangsung hingga lima bulan, sehingga dalam satu musim petani dapat memanen cabai rawit sekitar 20 hingga 30 kali. Setiap kali panen, jumlah cabai yang diperoleh berkisar antara 10 hingga 25 kilogram. Puncak produksi umumnya terjadi pada panen ke-13 hingga panen ke-17. Secara keseluruhan, hasil panen petani cabai rawit di Kecamatan Ternate berkisar antara 200 kilogram hingga 1. 000 kilogram per musim. Hasil panen para petani biasanya dijual kepada pengepul langganan atau kepada rumah makan yang sudah menjadi pelanggan tetap. Sebagian petani juga memilih menjualnya langsung ke pasar. Harga jual mengikuti kondisi pasar saat itu, dengan kisaran harga cabai antara Rp45. 000 hingga Rp85. 000 per kilogram. Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni Pendapatan usahatani adalah selisih antara total penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan, atau dengan kata lain, hasil yang diperoleh setelah semua pengeluaran dihitung. Pendapatan ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta membiayai kegiatan usahatani berikutnya. Adapun selisih antara penerimaan tunai yang diperoleh dari usahatani dengan seluruh pengeluaran tunai disebut pendapatan tunai usahatani, yang mencerminkan kemampuan usaha tani dalam menghasilkan uang (Soekartawi, 2. Pendapatan petani dalam usahatani cabai rawit diperoleh dari selisih antara total penerimaan dan seluruh biaya yang dikeluarkan. Perhitungan ini dilakukan pada lokasi penelitian di Kecamatan Ternate Utara dan ditampilkan pada Tabel 6 (Soekartawi, 2. Tabel 6 Rata-Rata Pendapatan Dari Usahatani Cabai Rawit Per Rp/Ha/Mt URAIAN TOTAL (RP) PENERIMAAN TOTAL BIAYA TOTAL PENDAPATAN 20,423,077 4,176,231 16,246,846 Sumber Data Primer Setelah Diolah, 2024 Tabel 6 memperlihatkan bahwa rata-rata penerimaan petani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara mencapai Rp20. 077,00 setiap musim tanam. Sementara itu, rata-rata total biaya yang dikeluarkan petani sebesar Rp4. 231,00 per musim tanam. Dengan demikian, pendapatan bersih yang diperoleh petani rata-rata adalah Rp16. 846,00 per musim tanam. Produksi cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara mencapai rata-rata sekitar 4. 000 kg per musim tanam. Petani menggunakan berbagai pola jarak tanam, mulai dari 40Ae50 cm dengan model lurus maupun zigzag, hingga ada yang menerapkan jarak tanam sampai 1 Beragam inovasi terus dilakukan dalam praktik budidaya untuk membandingkan dan meningkatkan hasil produksi. Adapun luas lahan petani responden berkisar antara 0,10 hingga 1,00 hektare. Petani mulai memanen setelah tanaman berusia sekitar tiga bulan, dengan frekuensi panen 20 hingga 30 kali. Kegiatan panen dilakukan setiap minggu selama kurang lebih lima Dalam satu kali panen, petani dapat memperoleh 10 hingga 20 kilogram cabai rawit. Setelah dipanen, hasil cabai biasanya dijual kepada pedagang pengumpul yang datang langsung ke lokasi petani. Sebagian petani juga memasarkan hasilnya langsung ke pasar atau memasok ke rumah makan/warung yang sudah menjadi langganan. Harga jual cabai rawit berkisar antara Rp45. 000 hingga Rp85. 000 per kilogram, dengan rata-rata harga Rp51. per kilogram. Dari penjualan tersebut, rata-rata penerimaan petani mencapai Rp20. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani responden terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap mencakup peralatan pertanian seperti cangkul, parang, ember, sprayer, serta pajak lahan (PBB). Sementara itu, biaya variabel meliputi pembelian pupuk, benih, dan pestisida. Jenis pupuk yang digunakan petani adalah pupuk kandang, urea, dan ponska, dengan frekuensi pemupukan 1Ae3 kali per bulan untuk mempercepat pertumbuhan Pestisida yang dipakai antara lain Regent. Curacron. Demolish. Sapporo, dan Sumo, yang berfungsi mengendalikan hama seperti kutu daun, lalat buah, semut merah, dan Penyemprotan umumnya dilakukan dua kali seminggu. Rata-rata biaya pestisida yang dikeluarkan petani cabai rawit mencapai Rp945. 417 per musim tanam. Total biaya variabel yang dikeluarkan petani mencapai Rp1. 384 per musim tanam, sementara biaya tetap yang mencakup seluruh penyusutan dan pajak selama satu tahun Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Haris Mahmud. Jainuddin. Natal Basuki. Syahroni berjumlah Rp2. 847 per musim tanam. Secara keseluruhan, rata-rata biaya produksi petani adalah Rp4. 231 per musim tanam, dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp20. 077 per musim tanam. Dengan demikian, pendapatan bersih yang diperoleh petani responden rata-rata mencapai Rp16. 846 setiap musim tanam. Berdasarkan tabel 6, nilai penerimaan lebih besar dibandingkan total biaya, sehingga dapat disimpulkan bahwa usahatani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara memberikan keuntungan bagi petani. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis pendapatan usahatani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara, diketahui bahwa rata-rata pendapatan petani mencapai Rp16. 846 per hektar setiap musim tanam. Pendapatan tertinggi yang dicapai petani adalah Rp44. 000 per musim tanam, sedangkan pendapatan terendah sebesar Rp8. 000 per musim tanam. Selain itu, petani cabai rawit di Kecamatan Ternate Utara diharapkan terus meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mereka dalam subsektor pertanian untuk mengelola usahatani cabai rawit secara lebih optimal sehingga keuntungan dapat terus meningkat. Pemerintah setempat juga diharapkan terus memberikan dukungan dalam bentuk bantuan, baik berupa benih, pupuk, maupun peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan usahatani cabai rawit. DAFTAR PUSTAKA