VOLUME 2 NUMBER 3. NOVEMBER 2024 UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA. INDONESIA SWAGATI: Journal of Community Service Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/swagati P-ISSN 2986-7940 | E-ISSN 2986-7339 Pendampingan Pemanfaatan Aplikasi INSIST untuk Penanganan Stunting Di Kabupaten Bekasi Atya Nur Aisha 1. Zalina Fatima Azzahra 2. Sari Wulandari 3 1Industrial Engineering Department. Telkom University. Jl. Telekomunikasi No. Bandung 40257. Indonesia 2,3Information System Department. Telkom University. Jl. Telekomunikasi No. Bandung 40257. Indonesia Keywords: Stunting Intervention. Coaching. INSIST application Testing Article history: Received 23 September 2024 Revised 07 October 2024 Accepted 23 October 2024 Published 11 November 2024 Kata Kunci: Penanganan Stunting. Pendampingan. Aplikasi INSIST. Uji coba ABSTRACT The Indonesian government has implemented a program to address stunting, aiming to help the golden generation reach their goals. Although stunting rates have decreased from 2018 to 2022, they still exceed the target of less than 14%. To address this issue, the Integrated Solution for Stunting (INSIST) application has been created to track children's growth and development. The app, developed by various groups like Posyandu. Puskesmas, referral hospitals, and the Health Office, has been tested and improved through coaching activities. Mentorship activities, including classes and practice runs of the INSIST app, have been conducted in five sub-districts in Bekasi Regency. Health workers have found the app effective and user-friendly. More mentorship activities are planned to be conducted in various locations. ABSTRAK Pemerintah Indonesia mencanangkan program implementasi penanganan untuk mendukung pencapaian generasi Indonesia emas. Terdapat penurunan tingkat prevalensi stunting selama tahun 2018-2022, namun masih lebih tinggi dari target yaitu kurang dari 14%. Sejalan dengan kebutuhan tersebut, telah dikembangkan aplikasi terpadu INSIST (Integrated Solution for Stuntin. untuk mendukung pemantauan tumbuh kembang balita yang mengintegrasikan berbagai stakeholder, mulai dari Posyandu. Puskesmas. Rumah Sakit rujukan hingga Dinas Kesehatan. Kegiatan pendampingan dilakukan dengan pendekatan sosialisasi, workshop dan simulasi penggunaan aplikasi INSIST yang dikembangkan. Pendampingan ini dilaksanakan lima kecamatan di Kabupaten Bekasi dan melibatkan pihak mitra industri terkait. Hasil dari kegiatan menunjukan respon yang positif dari masyarakat tenaga Kesehatan, serta hasil uji coba menunjukkan bahwa aplikasi INSIST yang dikembangkan dapat dipergunakan dengan baik dan Kegiatan pendampingan lanjutan diharapkan dapat dilakukan pada berbagai lokasi lain agar sejalan dengan pengembangan pusat data terpadu. *Corresponding author: atyanuraisha@gmail. Peer review under responsibility of Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat Univ. Amikom Yogyakarta. A 2024 Hosting by Universitas Amikom Yogyakarta. All rights reserved. http://dx. org/10. 24076/swagati. VOL. NO. NOVEMBER 2024 | PAGE 76 SWAGATI: JOURNAL OF COMMUNITY SERVICE Ae VOL. NO. NOVEMBER 2024 Pendahuluan Salah satu masalah kekurangan gizi yang menjadi perhatian khusus adalah stunting, yang berdampak pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama di negara Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6%. Untuk dapat mengoptimalkan bonus demografi yang akan diperoleh pada tahun 2030. Pemerintah secara konsisten berusaha untuk mengurangi tingkat stunting (Badan Pusat Statistik, 2. Sejalan dengan hal tersebut. Pemerintah mencanangkan program penanganan stunting sebagai salah satu Program Prioritas yang menargetkan penurunan pravelensi stunting menjadi 14% di tahun 2024. Meskipun data prevalensi stunting mulai tahun 2018 hingga 2022 mengalami penurunan, tetapi prevalensi masih lebih tinggi dari target yang diharapkan (Badan Pusat Statistik dan Kementrian Kesehata. Kegagalan untuk menyelesaikan permasalahan stunting dapat mengakibatkan ketidaktercapaian target pembangunan nasional dan risiko menurunnya kualitas sumber daya manusia yang tidak dapat bersaing (Priyono, 2. Risiko stunting juga dapat menghambat perkembangan kognitif yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak-anak (Badan Pusat Statistik dan Kementerian Kesehatan, 2. Gangguan status gizi, dapat pula meningkatkan resiko penyakit infeksi dan penyakit degeneratif, seperti hipertensi (Fahrullah , 2. Oleh karena itu, dengan melakukan pemantauan untuk mempertahankan berat badan normal dapat meningkatkan peluang tercapainya kualitas kesehatan optimal dan usia harapan hidup yang lebih panjang, sehingga adanya suatu teknologi yang dapat memantau status gizi . ormal, kekurangan gizi, dan kelebihan giz. sangat diperlukan. Salah satu permasalahan yang ditemukan terkait penanganan stunting berkaitan dengan integrasi data. Pemantauan data status gizi saat ini dilakukan melalui aplikasi e-PPGBM (Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyaraka. yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan. Namun, kondisi di lapangan ditemukan adanya ketidak akuratan data yang disebabkan diantaranya perhitungan pravelensi dibagi berdasarkan bayi / balita yang terdaftar di daerah tertentu, bukan berdasar bayi / balita yang benar-benar hadir dalam penimbangan, serta pencatatan hanya dengan nama panggilan, sehingga sulit untuk dilakukan tracing, testing, dan Beberapa program penanganan stunting dilakukan melalui pemberian edukasi secara berkala kepada kader posyandu (Sahira dan Assariah, 2. , maupun edukasi kepada ibu hamil dan remaja putri (Zaina dkk. , 2. Selain itu, beberapa program pendampingan untuk penguatan stunting juga dilakukan melalui pengembangan aplikasi pendataan di tingkat posyandu (Gunawan dkk. , 2. , serta tingkat desa (Ristiana , 2. Namun, permasalahan yang dihadapi pada program ini, seringkali bersifat parsial dan dikembangkan untuk konteks objek mitra sasar, sehingga belum dapat digunakan untuk skala yang lebih besar. Pada aplikasi pencatatan eksisting status gizi masyarakat, fokus pada pengumpulan dan pemantauan data kondisi masyarakat saja . encakup aak-anak, ibu hamil, sert lansi. Berkaitan dengan intervensi stunting, pemanfaatan aplikasi eksisting ini dinilai masih belum terintegrasi (Ulfa dan Junaedi, 2. Saat ini telah dikembangkan aplikasi terpadu yaitu INSIST (Integrated Solution for Stuntin. , dimana aplikasi ini berbasis smartphone android yang mampu merekam dan menampilkan informasi tentang status kunjungan ibu hamil, jumlah prakiraan persalinan, bayi berat lahir rendah (BBLR), gizi anak, anak minum ASI, dan lain sebagainya. Selain itu, aplikasi INSIST juga dapat digunakan oleh tenaga kesehatan karena P-ISSN 9286-7940 | E-ISSN 2986-7339 aplikasi memiliki rujukan berjenjang kesehatan (Posyandu Ae Puskesmas Ae RSUD), serta dapat dimanfaatkan oleh Dinas Kesehatan setempat untuk mengukur prevalensi stunting berdasarkan tampilan visualisasi geografis per wilayah. Agar pemanfaatan integrasi terwujud dan pemberian intervensi tepat sasaran, perlu dilakukan uji coba pemanfaatan aplikasi pada lingkup masyarakat yang lebih luas dan berjenjang. Pencegahan dan penanganan stunting di wilayah kabupaten Bekasi melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam masalah stunting diantaranya adalah Dinas Kesehatan. Posyandu. Puskesmas beserta seluruh jajaran tenaga Adapun jumlah Posyandu di wilayah Kabupaten Bekasi saat ini adalah sebanyak 2. 883 Posyandu. Selain itu, ketersediaan Puskesmas di Kabupaten Bekasi adalah sebanyak 51 Puskesmas. Dengan ketersediaan Posyandu dan Puskesmas yang memadai serta dukungan jajaran tenaga kesehatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi penanganan Stunting dapat dilakukan dengan baik. Berkolaborasi dengan pihak Telkom University, bersama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dilakukan optimalisasi upaya percepatan penurunan stuntung dengan melakukan pemanfaatan aplikasi digital dalam pencatatan dan pemantauan tumbuh kembang anak balita. Adapun aplikasi digital yang digunakan adalah aplikasi INSIST. Kegiatan pengabdian masyarakat kolaborasi Telkom University dan Dinas Kesehatan Kabupataen Bekasi dilakukan melalui aktivitas sosialisasi, pelatihan serta pendampingan penggunaan aplikasi INSIST. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendukung terwujudnya poin ketiga dalam pembangunan berkelanjutan . ustainable development goals/SDG. , yaitu good health and well being. Pada poin ini arah tujuan yang diharapkan adalah penjaminan kehidupan dan kesejahteraan yang tercapai bagi seluruh orang dari berbagai kalangan usia, ras, maupun generasi. Melalui akselerasi pencegahaan, penurunan, dan penanganan stunting diharapakan dapat mendukung tercapainya kualitas sumber daya manusia yang memiliki kapasitas unggul. Dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, diharapkan dapat meningkatkan dan mendukung produktivitas dinas kesehatan Kabupaten Bekasi dalam hal pelayanan kesehatan terutama untuk mengurangi kasus gizi buruk dan obesitas di Kabupaten Bekasi. Metode Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dalam tiga tahapan utama yaitu tahap kegiatan awal, tahap kegiatan inti dan tahap kegiatan akhir. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai stakeholder seperti pihak mitra industri, pemerintah daerah, akademisi, serta masyarakat sasar. Mitra industri yang terlibat adalah Alodokter dan Danone Indonesia yang memberikan masukan dan saran dalam kebutuhan pengembangan aplikasi secara terpadu, dari pihak Pemerintah Daerah melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi serta perwakilan Kecamatan yang menjadi sampel dalam pengumpulan data dan uji coba pendampingan penggunaan aplikasi. Selain itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini juga melibatkan masyakat sekitar yaitu kader posyandu, puskesmas setempat, serta masyarakat yang hadir dalam proses penimbangan balita sesuai kegiatan Posyandu yang berlaku di wilayah setempat. Secara umum gambaran tahapan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan diperlihatkan pada Gambar VOL. NO. NOVEMBER 2024 | PAGE 77 SWAGATI: JOURNAL OF COMMUNITY SERVICE Ae VOL. NO. NOVEMBER 2024 P-ISSN 9286-7940 | E-ISSN 2986-7339 coba pada perangkat aplikasi INSIST. Terdapat beberapa fitur yang diujicobakan pada saat pengenalan aplikasi seperti penambahan data serta penggunaan grafik monitoring pertumbuhan anak. Tampilan aplikasi INSIST yang digunakan diperlihatkan pada Gambar 3. Gambar 1. Tahapan kegiatan pengabdian masyarakat Pada tahap kegiatan awal, tim pengabdian masyarakat Fakultas Rekayasa Industri bekerja sama dengan mitra yaitu Alodokter dan PT Sari Husada untuk mengumpulkan informasi terkait proses pelaksananan kegiatan dan menentukan mitra sasar yang tepat untuk menggunakan perangkat keras INSIST yang telah dirancang sebelumnya, pada tahap ini mitra sasar yang dipilih adalah lima kecamatan pada Kabupaten Bekasi. Pada tahap pelaksanaan, dilakukan kunjungan ke kantor Kecamatan yang akan menjadi sampel di Kabupaten Bekasi untuk melakukan simulasi perangkat keras INSIST. Kegiatan simulasi dilakukan dengan pendekatan workshop, sosialisasi, pendampingan serta pelatihan penggunaan perangkat keras maupun aplikasi INSIST. Kegiatan ini melibatkan Kader Posyandu. Tenaga Kesehatan Puskesmas, serta Tenaga Kesehatan RSUD. Pada tahap kegiatan akhir dilakukan evaluasi terhadap seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir, terutama pada kegiatan inti. Masukan dan saran dari mitra sasar yaitu Kabupaten Bekasi akan dijadikan sebagai catatan perbaikan lebih lanjut pada aplikasi INSIST. Indikator keberhasilan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatnya pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dari masyarakat sasar Kabupaten Bekasi dalam pemanfaatan teknologi informasi di bidang Kesehatan. Gambar 3. Tampilan antar muka aplikasi INSIST Setelah para peserta melakukan uji coba penggunaan aplikasi, selanjutnya para peserta diminta untuk memberikan penilaian dan evaluasi terhadap aplikasi INSIST yang dikembangkan. Hasil dari penilaian yang diberikan para pengguna menunjukkan respon yang positif, dengan 41% responden menyatakan aplikasi mudah untuk dipergunakan, 37% menilai bahwa fitur yang tersedia di aplikasi INSIST telah lengkap, dan 33% menyatakan ketertarikannya untuk menggunakan aplikasi Grafik penilaian dari para peserta workshop diperlihatkan pada Gambar 4. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil diskusi awal yang dilakukan dengan perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, kegiatan pendampingan selanjutnya diarahkan untuk dilaksanakan pada lima lokasi kecamatan, yaitu Kecamatan Sukadami. Kecamatan Telaga Murni. Kecamatan Cibarusah. Kecamatan Triamur, serta Kecamatan Sukatani. Setelah ditentukan lokasinya, selanjutnya dilaksanakan kunjungan ke setiap kecamatan dalam rangka penyelenggaran kegiatan workshop untuk pengenalan aplikasi INSIST yang diselenggarakan secara offline, seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Gambar 2. Dokumentasi kegiatan workshop Pada kegiatan workshop diberikan penyampaian materi mengenai pentingnya penanganan stunting serta pengenalan perangkat aplikasi INSIST. Para peserta yang terdiri dari kader Posyandu dan tenaga kesehatan selanjutnya melakukan uji . Gambar 4. Hasil penilaian umpan balik untuk aplikasi INSIST Setelah dilaksanakan pengenalan aplikasi, kegiatan selanjutnya adalah mengadakan pendampingan ujicoba aplikasi di Kegiatan ujicoba lapangan dilaksanakan pada sampel Posyandu dari lima kecamatan yang telah ditentukan. Secara keseluruhan, para peserta workshop menyatakan tertarik dan memberikan respon yang positif pada saat melaksanakan ujicoba penggunaan aplikasi, ditandai dengan lebih dari 30% pengguna memberikan pernyataan setuju dan sangat setuju. Respon lainnya ditunjukkan dengan tanggapan netral pada saat pemberian penilaian. Dari hasil ujicoba dilapangan, berdasarkan grafik pemantauan yang tersedia pada aplikasi INSIST dapat teridentifikasi dengan mudah kondisi anak yang memerlukan rujukan untuk ke tingkat Puskesmas maupun RSUD sebagai penanganan awal pencegahan stunting. Pada tahap akhir dilakukan evaluasi dan pengumpulan umpan balik atas rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang telah diselenggarakan. Tabel 1 menunjukkan hasil rekapitulasi penyebaran kuesioner umpan balik dari pihak mitra dan perwakilan peserta kegiatan. Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa kegiatan pengabdian masyarakat yang telah diselenggarakan memperoleh respon positif dari pihak mitra, namun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Kekurangan dalam hal penilaian terkait pelayanan dan kegiatan VOL. NO. NOVEMBER 2024 | PAGE 78 SWAGATI: JOURNAL OF COMMUNITY SERVICE Ae VOL. NO. NOVEMBER 2024 mendatang dapat menjadi acuan untuk menyusun rencana kegiatan pengabdian masyarakat berikutnya. Tabel 1. Hasil rekapitulasi umpan balik kegiatan Feedback Kegiatan Program Pengabdian Masyarakat sudah sesuai dengan tujuan kegiatan itu Program Pengabdian Masyarakat ini sudah sesuai dengan kebutuhan kami Waktu pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini relatif telah mencukupi sesuai Dosen dan mahasiswa bersikap ramah, cepat dan tanggap membantu selama Kami menerima dan mengharapkan program pengabdian masyarakat saat ini dan masa yang akan Persentase Feedback Positif STS P-ISSN 9286-7940 | E-ISSN 2986-7339 Triamur, serta Kecamatan Sukatani. Hasil uji coba menunjukkan bahwa aplikasi INSIST yang dikembangkan dinilai mudah untuk digunakan, memiliki fitur yang lengkap dan tertarik untuk menggunakan aplikasi tersebut. Setelah rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan, selanjutnya dilakukan evaluasi umpan balik atas pelaksanaan kegiatan. Hasil dari umpan balik ini menunjukan sebesar 78% responden menyatakan respon yang positif dari tenaga Kesehatan dan kader Posyandu terkait dengan kegiatan yang telah Kegiatan pendampingan lanjutan diharapkan dapat dilakukan pada berbagai lokasi lain agar sejalan dengan pengembangan pusat data terpadu. Acknowledgements Ucapan terima kasih diberikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Telkom dan mitra industri yaitu PT Sari Husada untuk dukungan kegiatan Pengabdian Masyarakat dalam Skema Kolaborasi Eksternal. Referensi