Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik Wilayah Indramayu: Kajian Lanskap Linguistik Moh. Fajrul Alfien1*. Ani Rakhmawati1 Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia Article info ABSTRACT Article history: Received: 27-06-2024 Revised : 01-09-2024 Accepted: 03-12-2024 Kata kunci: bahasa Indramayu. Lanskap Linguistik. vitalitas bahasa Pemakaian bahasa pada papan nama toko merupakan salah satu bentuk penggunaan bahasa di ruang publik. Fenomena tersebut secara implisit merepresentasikan vitalitas suatu bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui vitalitas bahasa Jawa dialek Indramayu di ruang publik Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Papan nama toko dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik dokumentasi melalui aplikasi Google Maps. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ditemukan dua bentuk pemakaian bahasa di ruang publik Indramayu, yakni monolingual dan bilingual. Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling sering ditampilkan di ruang publik. sisi lain, bahasa Jawa dialek Indramayu yang menjadi mayoritas bahasa ibu masyarakat lokal tidak mendapatkan porsi yang baik di ruang Dengan demikian, melemahnya vitalitas bahasa Jawa dialek Indramayu di ruang publik menjadi salah satu indikasi kepunahan bahasa daerah. Keywords: Indramayu language. language vitality. Linguistic Landscape The Use of Indonesian in Public Spaces in Indramayu Region: A Linguistic Landscape Study The use of language on shop signs is one form of language used in public spaces. This phenomenon implicitly represents the vitality of a This study aims to determine the vitality of the Indramayu dialect of Javanese in the Indramayu public space. This study uses a qualitative method. Shop signs in this study were collected using documentation techniques through the Google Maps application. The study results show that two forms of language use were found in the Indramayu public space: monolingual and bilingual. Indonesian and English are the languages most often displayed in public spaces. the other hand, the Indramayu dialect of Javanese, which is the majority of the local community's mother tongue, does not get a good portion in public spaces. Thus, the weakening vitality of the Indramayu dialect of Javanese in public spaces is one indication of the extinction of regional languages. Copyright A 2024 Indonesian Language Education and Literature Corresponding author: Moh. Fajrul Alfien. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta. Indonesia E-mail address: fajrulalfien_30@student. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki bahasa terbanyak di dunia. Terdapat sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia (Hadiwijaya, dkk. , 2. Bahasa Jawa dialek Indramayu merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Jawa Barat. Indonesia. Bahasa ini tergolong unik karena memiliki banyak perbedaan dengan bahasa Jawa pada umumnya, terutama pada beberapa kosakata dan dialeknya. Bahasa Jawa dialek Indramayu sering juga disebut sebagai basa Cerbon atau bahasa Cirebon. Hal ini terjadi karena sesungguhnya kedua bahasa tersebut satu ragam, yakni dengan undak-usuk . dan perbendaharaan kata yang tidak jauh Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 berbeda (Kasim, 2. Jika dibandingkan dengan bahasa Jawa pada umumnya, pengguna bahasa Jawa dialek Indramayu tergolong sedikit, hanya sebatas wilayah Indramayu dan Cirebon saja. Hal ini terjadi karena kebanyakan masyarakat Jawa Barat memakai bahasa Sunda sebagai bahasa ibunya. Ketika bahasa Indonesia semakin mendominasi aspek komunikasi dan transmisi antargenerasi, semakin banyak generasi muda yang memakai bahasa Indonesia dalam komunikasi nasional . atau bahkan bahasa Inggris sebagai bahasa global untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan kesempatan karir yang lebih menjanjikan (Rohmah & Wijayanti, 2. Sebaliknya, bahasa daerah cenderung digunakan dalam konteks terbatas, seperti dalam ranah keluarga, dan jarang ditemukan di ruang publik (Paramarta dkk. , 2. Hal tersebut diperparah dengan memudarnya kesadaran akan pentingnya menjaga pelestarian bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa (Saddhono & Rakhmawati, 2. Padahal, banyak bahasa daerah di Indonesia yang terancam dan diambang kepunahan (Collins. Tanpa upaya pemeliharaan dan pelestarian yang baik, maka jumlah penutur bahasa daerah akan semakin berkurang, dan bahasa tersebut akan mati seiring dengan tidak adanya penutur aktif bahasa tersebut (Halim & Sukamto, 2. Penggunaan bahasa di tempat umum merupakan salah satu cara untuk menunjukkan ideologi dan kekuatan suatu bahasa dan juga berkaitan dengan upaya menjaga kelestarian bahasa (Benu dkk. , 2. Hal ini berarti bahwa penggunaan bahasa daerah di tempat umum tidak hanya merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kekuatan suatu bahasa, tetapi juga menyangkut pelestarian bahasa Berdasarkan penjelasan tersebut, secara umum dapat dikatakan terdapat hubungan timbal balik antara vitalitas bahasa dalam kehidupan sehari-hari dengan visibilitasnya di ruang publik. Artinya, tanda-tanda berupa papan nama di ruang publik mempunyai pengaruh yang kuat terhadap penggunaan bahasa (Sudarmanto , 2. Pemakaian bahasa di ruang publik sangat penting karena berkaitan dengan kebutuhan mendasar masyarakat dan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Selain itu, suatu bahasa bisa mendapat publisitas besar karena dianggap penting atau karena upaya masyarakat untuk melestarikan keberadaannya (Andriyanti, 2. Pemilihan bahasa pada tanda di area publik dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu bahasa yang dikuasai pemakainya, bahasa yang dikenal oleh pembaca sasaran, dan harapan dari persepsi pembaca (Zakiyah. Susylowati & Shabrina, 2. Ruang publik di Indramayu merupakan salah satu contoh tempat bagi berbagai macam bahasa digunakan. Bahasa Indonesia, bahasa Jawa dialek Indramayu, dan bahasa Inggris misalnya, bahasa-bahasa tersebut dipakai secara tunggal . atau pun secara bersamaan . Pemakaian bahasa tersebut secara langsung dapat memengaruhi vitalitas salah satu Penelitian tentang pemakaian bahasa pada papan tanda di ruang publik biasa disebut sebagai studi lanskap linguistik . elanjutnya disingkat LL) (Erikha, 2. LL adalah simbol atau tanda tertulis yang terlihat di area publik (Fakhiroh & Rohmah, 2. Linguistic landscapes (LL) mengkaji bahasa yang digunakan dalam papan tanda publik, papan reklame, penamaan jalan atau lokasi, serta nama warung atau toko komersial pada gedung-gedung pemerintah untuk membentuk wilayah lanskap linguistik tertentu (Al Faris, 2. Lanskap linguistik berkaitan dengan ekspresi linguistik yang muncul di area publik, antara lain pertokoan, sekolah, toserba, kantor pemerintahan, kantor perusahaan, bus, dan kampus Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 (Rohmah dkk. , 2. Lanskap linguistik secara umum dikenal sebagai praktik penggunaan bahasa di ruang-ruang publik (Rahmawati, 2. LL menyelidiki korelasi antara bahasa dan lingkungan nyata, serta cara bahasa diekspresikan di ruang publik melalui tulisan, simbol, atau tanda (Iye dkk. , 2. Ada empat jenis tanda di ruang publik. tanda papan nama dengan fungsi . tanda informasi dengan fungsi informatif. tanda perdagangan dengan fungsi komersial dan periklanan. tanda campuran dengan fungsi campuran atau ganda (Mulyawan, 2. Tanda atau simbol di ruang publik dikategorikan ke dalam kelompok monolingual, bilingual, dan multilingual (Shohamy & Gorter, 2. Tanda-tanda di ruang publik mempunyai dua fungsi utama, yaitu informatif dan simbolis. Fungsi informatif mengacu pada pesan komunikasi yang dimaksudkan oleh pembuat tanda. Fungsi simboliknya adalah untuk mengindeks bahasa yang dipakai pada papan nama di ruang publik (Zakiyah. Susylowati & Shabrina, 2. Fungsi papan nama di ruang publik antara lain sebagai pemberi informasi dan peraturan, sebagai simbolisasi sesuatu, melestarikan bahasa daerah, menunjukkan dan mengenalkan jati diri, menunjukkan kesiapan menyambut pengunjung mancanegara, serta menarik lebih banyak konsumen, terutama untuk papan nama yang mengandung bahasa asing ( Fakhiroh & Rohmah. Kategori yang berbeda telah digunakan untuk mengklasifikasikan papan nama dalam lanskap linguistik: 'privat' dan 'publik', 'tidak resmi' dan 'resmi', 'topdown' dan 'bottom-up', serta 'publik' dan 'pribadi' (Shohamy & Gorter, 2. Istilah-istilah ini mengacu pada definisi serupa, yaitu papan nama yang dibuat oleh lembaga pemerintah dan oleh kelompok masyarakat atau swasta, seperti pemilik toko atau perusahaan swasta. Lebih lanjut, papan nama dari atas ke bawah . dibuat oleh pejabat di lokasi tertentu, seperti kantor, sekolah, rumah sakit, dan perpustakaan. Papan nama yang dibuat secara individual, seperti nama bisnis, poster, grafiti, dan papan iklan, disebut sebagai tanda dari bawah ke atas . (Sahril. Harahap & Hermanto, 2. Penelitian lanskap linguistik mengenai pemakaian bahasa daerah di ruang publik pernah dilakukan oleh sejumlah peneliti. Pertama, penelitian oleh Rohmah & Wijayanti . Penelitian ini menganalisis data dari enam wilayah penting di Mojosari ini mengungkapkan bahwa bahasa yang paling sering ditampilkan ialah bahasa Indonesia, diikuti oleh bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak ada tanda khusus bahasa Jawa di LL Mojosari yang seharusnya menjadi sinyal mengkhawatirkan akan potensi kepunahan bahasa Jawa. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Fakhiroh & Rohmah . juga memperlihatkan hal yang sama. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mendominasi lanskap linguistik. Bahasa Arab tidak sesering bahasa Inggris. Selain itu, tidak banyak penduduk Sidoarjo yang memakai Jawa yang merupakan bahasa ibu mereka. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Benu dkk. mengenai pergeseran bahasa daerah, khususnya dalam penggunaannya di ruang publik. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa bahasa daerah di Kota Kupang telah bergeser menjadi bahasa minoritas. Secara kuantitatif, jumlah penduduk bertambah tetapi bahasanya bergeser atau bahkan hilang. Bahasa daerah seolah terpinggirkan, terbukti dengan maraknya penggunaan bahasa daerah di ruang terbuka. Faktor sosial ekonomi turut mendorong pergeseran ke arah bahasa mayoritas dan mengakibatkan punahnya kelompok bahasa minoritas. Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 Penelitian-penelitian mengenai bahasa daerah di Kupang. Sidoarjo, dan Mojosari yang digunakan di ruang publik menunjukkan kecenderungan yang sama. Penelitian tersebut juga bahwa bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris lebih mendominasi di ruang umum dibandingkan dengan bahasa daerah. Penelitian ini akan melihat apakah fenomena serupa terjadi pada bahasa Jawa dialek Indramayu, serta sejauh mana tanda monolingual, bilingual, dan multilingual terdapat di ruang publik Indramayu. Penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan secara jelas bagaimana bahasa Jawa dialek Indramayu digunakan dalam ruang publik Indramayu METODE Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan informasi grafis dalam bentuk katakata yang tersusun atau diucapkan dari individu dan perilaku yang dapat diamati (Taylor. Bogdan & DeVault, 2. Data dalam penelitian ini meliputi kata, frasa, dan kalimat yang dipakai pada tanda pengenal tempat usaha di ruang publik Indramayu. Sumber data dalam penelitian ini berupa tanda pengenal tempat usaha di lima lokasi penting di Indramayu yaitu pasar Jatibarang, pasar Karangampel, pasar Mambo, pasar Patrol, dan pasar Haurgeulis. Penelitian ini dilaksanakan pada April hingga Juni 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan dari ruang virtual dengan memakai aplikasi Google Maps. Pengambilan data analisis linguistik lanskap menggunakan aplikasi Google Maps disebut dengan virtual lanskap linguistik atau VLL (Savitri. Nuswantara & Ratu, 2. Penulis menjelajahi beberapa kawasan di Indramayu melalui aplikasi dan kemudian mengambil tangkap layar dari rambu-rambu yang dipakai sebagai data penelitian ini. Rambu yang ditetapkan sebagai data dalam penelitian meliputi nama restoran, toko dan nama tempat usaha lainnya. Analisis dalam penelitian ini mengadopsi teori Shohamy dan Gorter . yang mengacu pada analisis karakteristik tanda bilingual dan multilingual untuk lebih memahami kota multietnis dan multikultural. Selanjutnya, keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi sumber berupa narasumber dan triangulasi metode berupa analisis dokumen . Teknik analisis data menggunakan teknik mengalir meliputi pengumpulan data, kondensasi data, display data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 2. Setelah memperoleh data, peneliti memasukkan data ke dalam Microsoft Excel dengan fokus pada bahasa yang digunakan dalam data. Berikutnya, bahasa-bahasa yang ditemukan seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Jawa dialek Indramayu akan dikelompokkan ke dalam kategori monolingual atau bilingual menggunakan Setelah itu peneliti menghitung persentase bahasa-bahasa tersebut pada HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti menemukan 310 data penggunaan bahasa pada ruang publik di Indramayu. Peneliti hanya mengidentifikasi tanda yang bersifat bottom-up, tanda-tanda yang dimaksud terdapat pada tempat-tempat usaha yang dibuka secara mandiri oleh masyarakat Indramayu, bukan berupa kantor atau lembaga milik pemerintah. Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 Penelitian ini akan menyajikan hasil observasi berupa identifikasi penggunaan monolingual dan bilingual, serta vitalitas bahasa pada ruang publik yang terdapat di lima lokasi di wilayah Indramayu, lokasi tersebut meliputi pasar Jatibarang, pasar Karangampel, pasar Mambo, pasar Patrol, dan pasar Haurgeulis. Kombinasi penggunaan bahasa yang digunakan di pasar Jatibarang, pasar Karangampel, pasar Mambo, pasar Patrol, dan pasar Haurgeulis ada dua macam, yakni monolingual dan bilingual. Monolingual dapat diartikan sebagai penggunaan satu jenis bahasa, sedangkan bilingual merupakan penggunaan dua bahasa. Penggunaan monolingual dan bilingual pada ruang publik di Indramayu dapat dilihat lebih rinci pada Gambar 1. Jatibarang Karangampel Mambo Patrol Monolingual Hargeulis Bilingual Gambar 1. Kombinasi Tanda Pengenal di LL Indramayu Gambar 1 memperlihatkan kombinasi pemakaian bahasa di ruang publik yang didapat pada setiap wilayah. Penggunaan bilingual lebih sedikit dibandingkan penggunaan monolingual. Seluruh wilayah yang diamati menunjukkan hal yang sama, yakni lebih banyak menggunakan monolingual atau satu bahasa sebagai tanda pengenal tempat usahanya. Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah penggunaan monolingual paling tinggi terdapat di pasar Haurgeulis . %), kemudian disusul oleh pasar Mambo . %), pasar Patrol dan pasar Jatibarang masing-masing . %), dan yang paling rendah ditemukan di pasar Karangampel . %). Penggunaan monolingual dan bilingual sebagai tanda pengenal tempat usaha berkaitan erat dengan latar belakang konsumen. Haurgeulis yang menggunakan monolingual tertinggi merupakan daerah yang jauh dari interaksi dengan orangorang luar Indramayu, hanya orang-orang lokal saja yang mungkin hilir-mudik di pasar dan di tempat umum lainnya. Oleh karena itu, urgensi untuk menggunakan bilingual sebagai tanda pengenal tempat usaha tidak akan memberikan dampak yang signifikan. Sebaliknya, pasar Karangampel, pasar Patrol, dan pasar Jatibarang merupakan wilayah yang sering disinggahi orang-orang luar Indramayu, sebab wilayah tersebut berada di jalan utama dan jalan pantura, sehingga penggunaan bilingual sebagai tanda pengenal tempat usaha mungkin akan memberikan dampak Penggunaan bilingual di pasar Jatibarang, pasar Karangampel, pasar Mambo, pasar Patrol, dan pasar Haurgeulis dapat dilihat secara rinci pada gambar Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 Indonesia-Inggris Indonesia-Arab Indonesia-Indramayu Indramayu-Inggris Indonesia-Jepang Gambar 2. Penggunaan Bilingualisme pada LL di Indramayu Gambar 2 memperlihatkan penggunaan bilingual pada tanda pengenal di wilayah Indramayu. Penggunaan bilingual bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menduduki peringkat paling atas . %). Hal tersebut sangat berbeda jauh dengan penggunaan bilingual lainnya, yakni pada bahasa Indonesia dan bahasa Indramayu . %), bahasa Indonesia dan bahasa Arab . %), dan seterusnya. Penggunaan bilingual pada tanda pengenal di Indramayu dapat dilihat secara rinci pada gambargambar berikut. Gambar 3. Tanda-tanda Bilingual di Indramayu Gambar 3 menunjukkan beberapa tanda yang menggunakan bilingual sebagai tanda pengenal tempat usaha. Pertama, bahasa Jepang dan bahasa Inggris digunakan pada tanda pengenal gerai gawai di pasar Haurgeulis AuFuku PhoneAy. Fuku berasal dari bahasa Jepang yang memiliki arti kebahagiaan atau keberuntungan, sedangkan phone berasal dari bahasa Inggris yang berarti gawai atau ponsel. Tanda tersebut merepresentasikan bahwa gerai AuFuku PhoneAy merupakan gerai yang menjual berbagai macam jenis merk gawai. Selain itu, bahasa Inggris dianggap sebagai simbol modernitas, kemakmuran, mode kelas atas, dan kebebasan pribadi (Sisilda dkk. , 2. Penggunaan bahasa asing dalam Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 pemasaran dapat memberikan manfaat dalam menjangkau pasar yang lebih luas (Lestariningsih dkk. , 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Karam dkk. dan Mubarok dkk. yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Inggris berpotensi memberikan kontribusi nilai tambahan dalam hal keuntungan Kedua, bahasa Jawa dialek Indramayu dan bahasa Indonesia digunakan pada tanda pengenal toko pakaian di pasar Karangampel AuGriya BusanaAy. Griya berasal dari bahasa Jawa dialek Indramayu yang memiliki arti rumah, sedangkan busana berasal dari bahasa Indonesia yang memiliki arti pakaian atau baju. Penggunaan kata griya pada nama toko pakaian merepresentasikan bahwa toko tersebut merupakan tempat bagi berbagai macam pakaian, sehingga kata griya dalam bahasa Jawa dapat memberikan kesan kekomplitan atau ketersediaan. Ketiga, bahasa Jawa dialek Indramayu dan bahasa Inggris digunakan pada tanda pengenal toko elektronik di pasar Patrol AuLanggan ElectricAy. Langgan berasal dari bahasa Indramayu yang memiliki arti pelanggan atau orang yang sering membeli, sedangkan electric berasal dari bahasa Inggris yang berarti listrik atau alat-alat elektronik. Penggunaan kata langgan pada nama toko tersebut memiliki kesan kedekatan dan keakraban dengan konsumen. Kosakata bahasa Jawa dialek Indramayu pada tanda pengenal tempat usaha di atas ditempatkan di bagian depan dan ukuran fontnya sejajar dengan bahasa lainnya. Hal ini memperlihatkan bahwa bahasa daerah memiliki posisi yang sejajar dengan bahasa lain dalam kemunculannya di ruang publik. Penemuan ini bertolak belakang dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Andriyanti . Fakhiroh & Rohmah . Mulyawan . , serta Sakhiyya & Martin-Anatias . , yang menemukan bahwa bahasa daerah mengalami marginalisasi di ranah publik ketika disandingkan dengan bahasa lain. Keempat, bahasa Indonesia dan bahasa Arab digunakan pada tanda pengenal klinik kesehatan di wilayah pasar Jatibarang AuKlinik Utama Al-HikmahAy. Utama berasal dari bahasa Indonesia yang memiliki arti nomor satu atau terbaik, sedangkan al-hikmah berasal dari bahasa Arab yang bermakna kebijaksanaan atau kemampuan untuk menghindari keburukan. Penggunaan bahasa Arab pada tanda pengenal tersebut berkaitan erat dengan pengelola klinik, yakni sebuah yayasan. Kelima, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris digunakan pada tanda pengenal salon di wilayah pasar Mambo AuPangkas Rambut GentlemanAy. Pangkas rambut berasal dari bahasa Indonesia yang memiliki arti tempat untuk mencukur atau merapikan rambut, sedangkan gentleman berasal dari bahasa Inggris yang bermakna laki-laki atau laki-laki. Penggunaan kata gentleman pada nama salon tersebut memiliki kesan maskulinitas atau kegagahan bagi laki-laki. Beberapa tanda pengenal tempat usaha menempatkan bahasa Indonesia di bagian atas, sedangkan bahasa asing berada di bawahnya. Umumnya, penempatan teks di dalam papan tanda menempatkan teks yang paling penting adalah yang terbesar, ditempatkan di atas teks bawahan, atau di tengah (Goebel, 2. Letak dan ukuran font pada tanda bilingualisme dapat menunjukkan perbedaan supremasi dan hierarki antarbahasa yang berbeda (Sakhiyya & Martin-Anatias, 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam beberapa fenomena bilingual di atas, bahasa Indonesia dianggap lebih penting daripada bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan Arab. Meskipun jumlah bilingualisme bahasa Indonesia dan bahasa Inggris paling mendominasi di antara yang lain, kemunculan bahasa Jawa dialek Indramayu pada Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 tanda pengenal tempat usaha yang menggunakan bilingual merupakan hal positif. Apalagi jika dilihat dari penempatan dan fungsinya pada tanda pengenal di atas, bahasa Jawa dialek Indramayu masih dianggap sebagai simbol identitas yang memiliki kesan kedekatan dan keakraban terhadap sesama pengguna bahasa tersebut karena menggunakan diksi langgan yang berarti pelanggan. Selanjutnya, penggunaan monolingual pada tempat usaha di pasar Jatibarang, pasar Karangampel, pasar Mambo, pasar Patrol, dan pasar Haurgeulis dapat dilihat secara rinci pada gambar diagram berikut. Indonesia Inggris Indramayu Arab Jepang Belanda Gambar 4. Penggunaan Monolingualisme pada LL di Indramayu Gambar 4 memperlihatkan pemakaian monolingual pada tanda pengenal tempat usaha di wilayah Indramayu. Pemakaian bahasa Indonesia di ruang publik Indramayu menduduki peringkat paling atas . %). Hal tersebut sangat berbeda jauh dengan penggunaan monolingual lainnya, yakni pada bahasa Inggris . %), bahasa Jawa dialek Indramayu dan bahasa Arab . %), dan seterusnya. Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional mendominasi di ruang publik Indramayu dan bahasa Inggris menduduki peringkat kedua. Bahasa Inggris menempati urutan kedua setelah bahasa Indonesia dalam penggunaannya di ruang publik (Sumarlam. Purnanto & Ardhian, 2023. Riani dkk. , 2021. Khzanah dkk. Penggunaan monolingual pada tanda pengenal tempat usaha di Indramayu dapat dilihat secara rinci pada gambar-gambar berikut. Gambar 5. Tanda-tanda Monolingualisme di LL Indramayu Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 Gambar di atas menunjukkan penggunaan tanda pengenal tempat usaha yang ada di ruang publik Indramayu. AuKing CellAy berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti rajanya telepon selular atau secara kiasan dapat bermakna rajanya gerai gawai, sehingga memiliki kesan terdepan dan terbaik di antara gerai-gerai ponsel lainnya. AuMeneerAy berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti bapak atau laki-laki yang dihormati, tanda tersebut digunakan sebagai tanda pengenal di toko material bangunan. AuEnggal SaeAy berasal dari bahasa krama inggil Indramayu yang memiliki arti segera membaik atau lekas sembuh, tanda tersebut digunakan sebagai papan pengenal apotek yang menjual berbagai macam obat bagi orang sakit, sehingga dengan digunakannya diksi enggal sae, konsumen diharapkan dapat segera sembuh dari penyakit. Kemudian. AuRyuAy berasal dari bahasa Jepang digunakan sebagai tanda pengenal restoran. AuAsy syahadahAy berasal dari bahasa Arab digunakan sebagai tanda pengenal toko perabotan, dan AuAnugrah MuliaAy berasal dari bahasa Indonesia digunakan sebagai tanda pengenal bengkel sepeda. Bahasa Jawa dialek Indramayu yang merupakan bahasa ibu atau bahasa asli masyarakat Indramayu memiliki porsi penggunaan yang sedikit di ruang publik, baik dalam monolingual maupun bilingual. Penggunaan monolingual bahasa Jawa dialek Indramayu di lima lokasi yang diamati hanya menunjukkan jumlah yang sedikit, seperti di pasar Jatibarang . , pasar Karangampel . , pasar Patrol . , di pasar Haurgeulis dan pasar Mambo tidak ditemukan. Penggunaan bilingual bahasa Jawa dialek Indramayu sedikit lebih baik dibanding monolingual, persandingan antara bahasa Indonesia dan bahasa Indramayu ditemukan . , sedangkan bahasa Inggris dan bahasa Indramayu . Temuan tersebut merupakan sebuah realitas di mana bahasa daerah masyarakat setempat tidak mendapatkan porsi yang sesuai di ruang publik, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kepunahan bahasa daerah. Hasil serupa juga telah ditemukan oleh para peneliti terdahulu, seperti Ardhian. Zakiyah & Fauzi . yang melakukan penelitian LL di Malang. Tunliu . yang melakukan penelitian tentang bahasa yang paling banyak digunakan pada nama tempat ibadah di kota Kupang. Paramarta dkk. yang melakukan penelitian LL di Bali Utara. Halim dan Sukamto . yang melakukan penelitian LL di Tana Toraja dan Toraja Utara. Da Silva dkk. yang melakukan penelitian LL di Malioboro. Sudarmanto dkk. yang melakukan penelitian LL di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Zakiyah. Susylowati & Shabrina . yang melakukan penelitian LL di Madura, dan Mubarok dkk. yang melakukan penelitian LL di Lembang. Hasil dari penelitian-penelitian tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa daerah sangat memprihatinkan karena jumlahnya yang sangat sedikit di ruang publik, berbanding terbalik dengan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang mempunyai posisi paling Kuatnya posisi bahasa Indonesia menyebabkan bahasa-bahasa lain di Indonesia berada pada posisi yang lebih lemah di ruang publik (Rohmah & Wijayanti, 2. Padahal di beberapa daerah seperti di Jawa Barat. Jawa Tengah. Yogyakarta. Jawa Timur, dan Bali telah memberlakukan peraturan mengenai penggunaan bahasa daerah. Jawa Barat misalnya. Peraturan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat No. 14 Tahun 2014 tentang pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah seharusnya menjadi pedoman bagi para pemangku kepentingan seperti pemerintah, pengusaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat pada umumnya untuk dapat memakai bahasa daerah di ruang publik. Beberapa contoh yang telah diuraikan mengenai pemakaian bahasa Jawa dialek Indramayu pada Moh. Fajrul Alfien dkk (Penggunaan Bahasa Indonesia A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 213 Ae 225 tanda pengenal tempat usaha merupakan bagian dari contoh upaya untuk menjaga vitalitas bahasa daerah di ruang publik. Pemakaian bahasa pada papan atau tanda di ruang publik merupakan salah satu cara untuk menjaga vitalitas bahasa (Utomo & Yannuar, 2. Hal tersebut juga secara tidak langsung berkontribusi dalam pelestarian bahasa dan budaya lokal (Artawa dkk. , 2. Selain itu, upaya pelestarian bahasa daerah juga dapat dilakukan dengan cara membiasakan penggunaannya dalam aktivitas masyarakat sehari-hari. Bahasa Jawa di daerah lereng gunung Merapi memiliki publisitas yang baik terutama dalam penggunaannya di ruang publik karena masyarakat lokal masih menggunakan bahasa Jawa dalam setiap aktivitasnya seperti dalam acara-acara tradisi atau upacara adat (Rakhmawati. Anisa & Wardana, 2. Hal ini menjadi peluang bagi penelitian-penelitian selanjutnya untuk dapat mengkaji sejauh mana bahasa daerah terutama bahasa Jawa dialek Indramayu digunakan dalam aktivitas masyarakat serta usaha apa saja yang dapat dijalankan untuk menjaga vitalitas dan kelestarian bahasa tersebut. SIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling sering ditampilkan di ruang publik Indramayu, disusul oleh bahasa Inggris di posisi Hal tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki posisi yang kuat. Namun ironisnya bahasa Jawa dialek Indramayu yang merupakan bahasa ibu mayoritas masyarakat lokal memiliki jumlah temuan yang sama dengan bahasa Arab, yakni hanya ditemukan tujuh penggunaan di ruang publik. Hal tersebut tentu merupakan sebuah pertanda buruk bagi keberlanjutan bahasa daerah. Menguatnya posisi bahasa asing sebagai simbol kemajuan peradaban harus diimbangi dengan lestarinya bahasa daerah sebagai identitas suatu kelompok. Penggunaan bahasa Jawa dialek Indramayu di ruang publik harus terus didorong sebagai bagian dari upaya melestarikan dan menjaga vitalitas bahasa daerah. Perda Pemerintah Jawa Barat No. 14 Tahun 2014 tentang pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah harus diperkuat pengimplementasiannya oleh para pemangku kepentingan, seperti pemerintah kabupaten, usahawan, lembaga pendidikan, dan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA