Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Menggali Kompetensi Pribadi dan Sosial Konselor Melalui Analisis Tokoh Punakawan Semar (Studi Hermeneutik. Laurentia Gita Charisma Agung Raharjo1. Robertus Budi Sarwono2 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Indonesia laurentiagita99@gmail. Abstrak Konseling merupakan interaksi yang bersifat pribadi dan dilaksanakan secara profesinal antara konselor dan konseli. Interaksi tersebut selain harus dilakukan secara profesional juga membantu konseli untuk memberikan dukungan, bimbingan, pemecahan masalah dan pengembangan diri. Sebagai tindakan yang bersifat profesional kegiatan layanan konseling harus dilakukan oleh konselor yang memiliki kompetensi pada bidangnya. Salah satu kompetensi yang perlu dikuasai oleh konselor selain memahami karaktristik konseli dan permasalahannya temasuk latar belakang yang turut membentuk pribadi konseli. Penelitian ini bertujuan mengidetifikasi nilai-nilai karakter Semar sebagai tokoh Punakawan dan relevansinya terhadap kompetensi pribadi dan sosial seorang konselor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi pustaka. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Gadamer. Analisis tersebut dilakukan melalui tahab-tahab: pra-pemahaman, dialog dengan teks, fusi horizon, dan peran bahasa sebagai medium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semar merupakan salah satu tokoh punakawan yang memiliki berbagai karakter positif, seperti kebijaksanaan, kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama. Karakter-karakter tersebut memiliki relevansi terhadap kompetensi pribadi maupun sosial seorang konselor. Konselor dituntut untuk mampu hadir sebagai pribadi yang dewasa, sabar, empatik, dan mampu membina hubungan terapeutik dengan konseli dari berbagai latar belakang. Semar menunjukkan kemampuan ini dalam setiap perannya. Dengan demikian, tokoh Semar dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang berbasis Kata Kunci: Kompetensi. Konselor. Karakter Semar. Konseling Berbasis Budaya PENDAHULUAN Istilah konseling dapat diartikan secara luas sebagai kegiatan untuk membantu individu dalam menyelesaikan masalahnya. Pepinsky dalam Prayitno . 4: . berpendapat bahwa konseling merupakan suatu interaksi yang bersifat pribadi dan dilaksanakan secara profesional antara konselor dan konseli untuk membantu terjadinya perubahan tingkah laku konseli, sehingga konseli mampu memperoleh keputusan yang dapat memuaskan kebutuhannya. Interaksi ini hanya dapat dilakukan oleh seorang konselor yang memiliki kompetensi di bidangnya. Secara formal kompetensi konselor telah dirumuskan pada asosisasi profesi konselor. American School Counselor Association (ASCA) sebagai asosiasi konselor sekolah Amerika telah merumuskan standar etik dan tanggung jawab dan kompetensi bagi konselor sekolah yang bertujuan sebagai panduan untuk praktek konseling dengan standar etis bagi semua tenaga layanan konseling sekolah, memberikan dukungan dan tuntunan untuk pelaksanaan layanan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 konseling sekolah dan menginformasikan kepada seluruh stakeholder pendidikan dalam upaya penanaman nilai-nilai dan perilaku yang diharapkan. Sehingga melalui dokumen standar etik konselor sekolah ini, konselor sekolah mampu memiliki kualifikasi akademik dan keterampilan yang memadai dan mampu menjadi pemimpin, inisiator, kolaborator sekaligus konsultan yang menciptakan perubahan secara sistematis untuk mendorong terjadinya hasil-hasil pendidikan yang adil melalui program konseling sekolah (ASCA. Dalam konteks pendidikan di Indonesia. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) sebagai asosiasi konselor di Indonesia juga memberikan sejumlah rujukan bagi konselor dalam menjalankan layanan bimbingan dan konseling. ABKIN telah merumuskan kompetensi yang harus dikuasai oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling yang selaras dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Melalui kompetensi ini, seorang konselor profesional dapat memberikan layanan memberikan layanan berupa pendampingan . , pengkoordinasian, mengkolaborasi dan memberikan layanan konsultasi yang dapat menciptakan peluang yang setara dalam meraih kesempatan dan kesuksesan bagi konseli (ABKIN, 2. Namun berbagai tindak kurang terpuji yang pernah dilakukan satu atau dua konselor sekolah dapat membangun citra negatif baik terhadap konselor sekolah atau pelaksanaan tugas tersebut. Sebut saja misalnya kasus seorang guru bimbingan dan konseling di SMA 11 Kupang yang memukul salah satu muridnya hingga menyebabkan cedera. Kasus ini menunjukkan realita di lapangan bahwa masih terdapat konselor yang belum memiliki kompetensi sebagaimana yang diharapkan. Selain itu juga dapat menghambat terjalinnya hubungan yang baik dalam proses konseling dan menghambat tercapainya tujuan proses Kondisi tersebut dapat menumbuhkan berbagai stigma negatif yang disematkan pada konselor atau guru bimbingan dan konseling, mulai dari konselor sekolah sebagai Aupolisi sekolahAy yang hanya bertugas menangani kasus-kasus yang dialami oleh peserta Sehingga tidak sedikit peserta didik yang memandang ruang bimbingan dan konseling sebagai ruang yang menakutkan. Wahyu Nanda Eka dkk. 5: . mengatakan bahwa tidak sedikit konselor di Indonesia yang masih merujuk pada karakter konselor dari luar negeri, seperti pada pribadi yang dicanangkan oleh Rogers dan menganggapnya sebagai kunci utama profesionalitas seorang konselor. Padahal seorang konselor juga dapat mengkaji kearifan lokal yang dapat dijadikan rujukan dan teladan dalam tugasnya. Menurut Darmono kearifan lokal merupakan cara berpikir, bersikap, bertingkah laku dari suatu daerah yang sudah banyak dipahami akan keluhuran budi dan kebaikan-kebaikannya sehingga secara objektif perlu diteladani dan Maka tepatlah pendapat Collins & Arthur . dalam Wahyu Eka dkk . 5: . bahwa seorang konselor harus menyadari warisan budayanya sendiri. Wayang merupakan salah satu contoh budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Khususnya bagi masyarakat Jawa, wayang merupakan sebuah seni pertunjukan yang memiliki peranan sebagai sarana edukatif dan refleksi filosofis (Udasmoro . dalam Wahyu Eka dkk . 5: . Wayang bukan hanya tontonan yang menarik tetapi juga Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 menjadi tuntunan yang memberi berbagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Tokohtokoh wayang menampilkan berbagai karakter baik yang posiftif maupun negatif. Misalnya, tokoh Semar sering digambarkan sebagai pribadi yang sederhana tetapi juga waskitha dan bijaksana sehingga menginspirasi banyak orang. Semar berasal dari kata AuSamaraAy yang dapat diartikan bergegas. Semar adalah dewa ngejawantah. Ia rela meninggalkan kemuliaannya sebagai dewa dan menjadi sosok manusia sederhana. Dengan rela dan kerendahan hatinya Semar mengasuh dan menjadi penasihat para kesatria Pandawa. Semar memainkan peran yang tidak kalah penting dalam memperjuangkan kebenaran. Pada penelitian terdahulu yang relevan berjudul AuSemar Puppet Counseling Model to the Development of Multi Culture Counseling PracticeAy oleh Bakhrudin All Habsy . menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dimililiki oleh Semar, seperti cipta, rasa, dan karsa, dapat diintegrasikan dalam model konseling untuk mendukung keberagaman budaya dan karakteristik konselor di Indonesia. Selain itu, karakter dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Semar dapat dijadikan dasar dalam pengembangan model konseling yang mampu menyesuaikan dengan konteks budaya masyarakat Indonesia. Berdasarkan paparan di atas, seorang konselor harus mampu peka terhadap keragaman budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi rujukan dalam meningkatkan kompetensi pribadi dan sosialnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun karakter yang meneladani kepribadian dari budaya lokal seperti Semar. Karena itu, dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk meneliti karakter Semar sebagai tokoh Punakawan sebagai salah satu bentuk kearifan lokas dan tokoh ini dipilih karena mampu mempresentasika budaya Indonesia yang bersifat kolektif dengan fokus penelitian pada studi hermeneutik dimana peneliti akan menggali karakter Semar melalui kajian terhadap teks dan video yang mengisahkan tentang karakteristik Semar. Sehingga tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai-nilai karakter Semar sebagai tokoh Punakawan dalam lakon pewayangan dan untuk mengetahui relevansi nilai-nilai karakter kehidupan Semar sebagai tokoh Punakawan terhadap kompetensi pribadi dan sosial seorang konselor. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yang mana dapat diartikan sebagai penelitian dengan pendekatan dengan data-data berupa kata-kata dan gambargambar yang dikumpulkan dan diperoleh melalui hasil wawancara, catatan lapangan, foto, video tape, dokumentasi pribadi, catatan, atau memo dan dokumentasi lainnya (Moleong. Pendekatan ini digunakan untuk memaparkan masalah yang timbul serta mendeskripsikan data dalam bentuk kata-kata secara jelas, objektif, sistematis, dan kritis mengenai relevansi kompetensi pribadi dan sosial konselor berbasis budaya lokal melalui nilai-nilai karakter Semar sebagai tokoh Punakawan. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui metode studi pustaka dengan memanfaatkan data berupa teks tentang nilai-nilai karakter Semar sebagai Punakawan dan kompetensi pribadi sosial menurut ASCA dan ABKIN. Punakawan dan kompetensi pribadi sosial menurut ASCA dan ABKIN. Selain itu untuk mendukung data tersebut, peneliti juga menggunakan video pertunjukan wayang kulit dengan lakon AuSemar Mbangun KayanganAy yang dipentaskan oleh dalang Ki Seno Nugroho. Studi pustaka sendiri dapat artikan sebagai merupakan rangkaian kegiatan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 mengumpulkan data yang bersumber dari literatur, baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan masalah yang sedang dikaji (Mestika Zed, 2. Penelitian kepustakaan ini memiliki sumber data sebagai berikut: Buku berjudul AuEnsiklopedia Wayang IndonesiaAy karya Drs. Solichin et all . Buku berjudul AuDunia SemarAy karya Ardian Kresna . Buku berjudul AuJagad WayangAy karya Amrin RaAouf . Jurnal berjudul AuASCA Ethical Standards for School CounselorsAy yang disusun oleh ASCA . Jurnal berjudul AuKode Etik Bimbingan dan Konseling IndonesiaAy yang disusun oleh Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia atau ABKIN . Video pementasan wayang dari Ki Dalang Seno Nugroho berjudul AuSemar Mbangun KayanganAy Data yang didapat dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan pendekatan hermeneutika yang dikembangkan oleh Hans-Georg Gadamer atau yang sering dikenal dengan pendeketan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika menurut Gadamer dalam buku AuSeni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai DerridaAy . adalah suatu pendekatan filosofis yang menekankan pada pemahaman sebagai proses dialogis dan Bagi Gadamer, hermeneutika bukan hanya metode memahami suatu teks, ujaran atau pengalaman, namun juga sebuah pengalaman dialog antara penafsir yaitu peneliti dan yang lain yang dapat berupa teks, narasi, atau pengalaman orang lain dalam konteks sejarah dan tradisi yang membentuk keduanya. Dalam konteks menganalisis data, pendekatan hermeneutika gadamer menurut Hardiman . , dapat dilakukan melalui beberapa Pra-pemahaman, yaitu setiap penafsir atau peneliti membawa pra-pemahaman yang dipengaruhi oleh latar belakang, budaya, dan pengalaman pribadi. Dialog dengan teks, yaitu pemahaman terjadi melalui dialog antara peneliti dan teks, di mana peneliti terbuka terhadap makna yang ditawarkan pada teks tersebut. Fusi Horison, yaitu proses di mana horison pemahaman peneliti dan teks bertemu dan menyatu, sehingga menghasilkan pemahaman baru yang lebih kaya. Bahasa sebagai medium. Bahasa memiliki peran sentral dalam proses pemahaman, karena melalui bahasa makna sebuah teks dapat diungkapkan dan dipahami. Penelitian ini dimulai dengan menentukan sumber-sumber tekstual . uku dan literatur lai. dan video yang relevan pada bulan Februari 2025. Kemudian dilanjutkan untuk dianalisis sampai bulan Mei 2025. Uji keabsahan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi data yang secara detail dijelaskan oleh dan triangulasi dengan metode. Metode ini dijelaskan secara detail oleh Denzin . dalam buku AuMetodologi Penelitian KualitatifAy dari Moleong . Triangulasi data. Pada penelitian ini, hal tersebut dapat dicapai dengan membandingkan hasil pengumpulan data dengan isi suatu dokumen berupa buku, jurnal, dan video yang sesuai dengan topik penelitian yaitu kompetensi pribadi dan sosial konselor pada tokoh punakawan Semar. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Triangulasi data berdasarkan metode. Pada penelitian ini, triangulasi dengan metode dilakukan dengan pengecekan pada hasil pengumpulan data yang ditemukan dengan beberapa teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan observasi sebuah video. HASIL DAN PEMBAHASAN Semar merupakan salah satu tokoh yang penting dalam pewayangan Jawa yang dikenal memiliki berbagai karakter positif, seperti kebijaksanaan, kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama. Semar tidak hanya berperan sebagai punakawan, namun juga hadir sebagai penasihat spiritual dan pengasuh bagi para kesatria Pandawa. Kepribadiannya yang penuh kasih, sederhana namun mendalam, menjadikan Semar sebagai sosok yang dihormati dan dipercaya oleh para tokoh utama dalam berbagai lakon wayang. Berdasarkan hasil pengumpulan data dan analisis ditemukan lima karakter positif yang menjadi keistimewaan Semar sebagai tokoh punakawan. Kelima karakter tersebut adalah momong, momot, momor, mursid, dan murakbi. Karakter-karakter yang dimiliki Semar ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan kehidupan manusia, termasuk dalam profesi pendidikan dan layanan sosial. Karakter-karakter positif pada Semar ini memiliki relevansi yang kuat terhadap kompetensi seorang konselor khususnya dalam kompetensi pribadi dan kompetensi sosial. Lima karakter keistimewaan utama Semar ini terdiri dari momong, momot, momor, mursid, dan murakabi ini dapat menjadi nilai-nilai universal dan tetap dapat diadopsi oleh konselor dari luar Jawa tanpa harus memahami seluruh konteks pewayangan. Pertama, karakter momong pada konteks kompetensi konselor dapat diartikan sebagai konselor harus mampu memiliki sifat keibuan yang memiliki kesediaan untuk merawat dan membimbing konseli dengan penuh kasih, kesabaran, dan ketulusan. Karakter momong juga dapat ditampilkan dengan seorang konselor memiliki sifat kebapakan dimana hal ini ditunjukkan dengan menunjukkan empati, penerimaan tanpa syarat, dan kehangatan, serta kesediaan mendampingi konseli dalam proses pengembangan diri, baik secara pribadi maupun sosial, sehingga konseli merasa aman, dihargai, dan didukung dalam mencapai pertumbuhan Kedua, karakter momot dapat diartikan sebagai karakter konselor yang mampu menerima cerita atau pengalaman yang disampaikan konseli tanpa menghakimi dan mampu merahasiakan masalah yang dihadapi oleh konselinya. Ketiga, karakter momor pada konteks kompetensi konselor dapat diartikan bahwa konselor dituntut untuk tidak mudah sakit hati jika mendapat kritikan dan tidak mudah bangga jika disanjung apabila berhasil. Keempat, karakter mursid pada konteks karakter konselor berarti konselor harus mampu memiliki pengetahuan yang luas terkait dengan tugas dan perannya dan memiliki kepekaan kebutuhan konseli . ampu mengetahui persoalan konseli dan mampu mengetahui penyelesaian dari persoalan yang dihadapi konsel. Kelima, karakter murakabi yang mana secara umum memiliki arti sebagai karakter yang bermanfaat bagi sesamanya. Pada konteks kompetensi konselor, murakbi ditunjukkan dengan konselor memiliki kepribadian yang altruistik, empatik dan peduli terhadap kesejahteraan konseli. Konselor dituntut mampu menempatkan kebutuhan konseli di atas kepentingan pribadinya, menghadirkan diri secara autentik, dan memberikan bantuan yang konstruktif. Dengan demikian, kehadiran konselor Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 tidak hanya menyelesaikan masalah konseli, namun membawa manfaat nyata bagi perkembangan konseli. Dengan demikian, tokoh Semar dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kompetensi pribadi dan sosial konselor yang berbasis multikultural. Tokoh Semar dalam pewayangan Jawa menghadirkan nilai nilai karakter luhur yang relevan dengan kompetensi pribadi dan sosial seorang konselor berbasis budaya. Lima keistimewaan utama Semar, yaitu momong . erawat dan membimbing penuh kasi. , momot . enerima dan menjaga rahasia konsel. , momor . endah hati dan tidak mudah tersinggun. , mursid . erpengetahuan luas dan peka terhadap kebutuhan konsel. , serta murakabi . ltruistik, empatik, dan pedul. , mencerminkan sikap ideal yang perlu dimiliki konselor. Nilai-nilai ini dapat menjadi landasan universal dalam praktik konseling karena mendukung konselor untuk hadir secara autentik, penuh kasih, dan berorientasi pada kesejahteraan konseli, sehingga konseling tidak hanya membantu penyelesaian masalah, tetapi juga mendorong pertumbuhan pribadi dan sosial konseli secara optimal. Selain itu, kelima keistimewaan utama pada karakter Semar ini juga merupakan representasi dari budaya timur yang lebih bersifat kolektif dan representasi kompetensi konselor multikultural. KESIMPULAN Hasil dari analisis data dan pembahasan yang telah diperoleh dalam penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yaitu tokoh Semar dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kompetensi pribadi dan sosial konselor yang berbasis multikultural. Tokoh Semar dalam pewayangan Jawa menghadirkan nilai nilai karakter luhur yang relevan dengan kompetensi pribadi dan sosial seorang konselor berbasis budaya. Lima keistimewaan utama Semar, yaitu momong . erawat dan membimbing penuh kasi. , momot . enerima dan menjaga rahasia konsel. , momor . endah hati dan tidak mudah tersinggun. , mursid . erpengetahuan luas dan peka terhadap kebutuhan konsel. , serta murakabi . ltruistik, empatik, dan pedul. , mencerminkan sikap ideal yang perlu dimiliki konselor. Nilai-nilai ini dapat menjadi landasan universal dalam praktik konseling karena mendukung konselor untuk hadir secara autentik, penuh kasih, dan berorientasi pada kesejahteraan konseli, sehingga konseling tidak hanya membantu penyelesaian masalah, tetapi juga mendorong pertumbuhan pribadi dan sosial konseli secara optimal. Selain itu, kelima keistimewaan utama pada karakter Semar ini juga merupakan representasi dari budaya timur yang lebih bersifat kolektif dan representasi kompetensi konselor multikultural. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa terdapat relevansi antara karakter Semar terhadap kompetensi pribadi dan sosial konselor sebagaimana dirumuskan dalam ASCA maupun ABKIN. Selain itu, dalam konteks pengembangan kompetensi konselor berbasis budaya lokal penelitian ini menjadi relevan karena kajian ini dilakukan dengan menganalisis karakter Semar yang merupakan salah satu tokoh wayang sebagai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Jawa khususnya. Di mana kelima keistimewaan utama pada karakter Semar merupakan representasi dari budaya timur yang lebih bersifat kolektif serta representasi kompetensi konselor multikultural. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 DAFTAR PUSTAKA