Journal of Divinity. PeaceStudies and Conflict Studies Journal of Divinity. Peace and Conflict Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Submitted: 25 Maret 2025 Accepted: 19 Desember 2025 Published: 30 Desember 2025 I DonAot Belong Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Lovely Rering Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta parera@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract Dissociative Identity Disorder (DID) is a condition characterized by the presence of two or more distinct identities, each with its own personality, memories, behaviors, and even ways of speaking. Moses, a Hebrew born to a Levite family and raised in the Egyptian court, exhibits a unique dynamic between his dual identities. This complexity is evident in Exodus 2:11Ae15, where Moses kills an Egyptian oppressing a Hebrew and later intervenes in a conflict between two Hebrews. When his actions become known. Moses flees to Midian. This paper aims to explore whether MosesAos behavior in this passage can be interpreted as a manifestation of DID, using Andrew KilleAos Psychological Biblical Criticism as a framework. This critique aims to understand why someone behaves in such a way. To do so, the interpreter needs to examine human behavior, including intuition, memory, perception, personality, and many other factors in the field. The goal is to provide a deeper understanding of the identity dynamics in Exodus 2:11Ae15. Keywords: dissociative identity sisorder. Moses, psychological biblical criticism. Andrew Kille. Abstrak Dissociative Identity Disorder merupakan kondisi ketika seorang individu memiliki dua atau lebih identitas, yang memiliki kepribadian berbeda-beda. Masing-masing identitas I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. memiliki sifat, memori, tingkah laku, dan bahkan gaya berbicara yang berbeda. Musa merupakan keturunan Lewi, orang Ibrani, yang dibesarkan dalam tradisi kerajaan Mesir. Dinamika dua identitas yang ia miliki ini diyakini menunjukkan kompleksitasnya dalam narasi Keluaran 2:11Ae15. Narasi menunjukkan bahwa Musa membunuh orang Mesir yang sedang menindas orang Ibrani, kemudian juga menunjukkan Musa yang menegur dua orang Ibrani yang kedapatan berkelahi. Oleh karena pembunuhan yang dilakukan Musa terungkap, ia kemudian melarikan diri ke Midian. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan untuk meneliti apakah Musa termasuk dalam kategori individu dengan Dissociative Identity Disorder, dengan menggunakan Psychological Biblical Criticism yang diperkenalkan oleh Andrew Kille. Kritik ini bertujuan untuk memahami mengapa seseorang berperilaku demikian. Untuk melakukannya, penafsir perlu mengkaji perilaku manusia, termasuk intuisi, ingatan, persepsi, kepribadian, dan banyak faktor lain di bidang tersebut. Harapannya, hasil pembacaan yang dihasilkan dapat memberikan pemahaman yang terjadi atas dinamika yang ada dalam narasi Keluaran 2:11Ae15. Kata-kata kunci: dissociative identity sisorder. Musa, psychological biblical criticism. Andrew Kille. Pendahuluan Alkitab sebagai Firman Allah seringkali memunculkan pandangan bahwa pembacaan terhadapnya harus dilakukan secara telanjang dan apa adanya. Kesenjangan-kesenjangan waktu, budaya dan bahasa antara teks dan pembaca . i masa kin. seharusnya melahirkan kesadaran bahwa perlu ada usaha-usaha eksternal agar pembaca dapat memahami apa yang sebenarnya tertulis dan ingin disampaikan melalui teks yang dibaca. Untungnya dewasa ini, usaha untuk memahami teks-teks Alkitab dari berbagai macam metode mulai berkembang serta secara perlahan dan sedikit demi sedikit mulai mendapatkan perhatian juga dari kaum Sebagai teks yang AuterbukaAy untuk diteliti, para teolog memiliki privilege tersendiri untuk menemukan relevansi serta mengeksplorasi sejauh mana teks-teks dalam Alkitab bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Istilah penafsiran Alkitab sebenarnya tidak melulu berbicara tentang Alkitab maupun teologi. Penafsiran Alkitab dapat dikatakan sebagai sebuah proses penerjemahan bahasa asing yang bentuknya dapat berupa teks, simbolsimbol dan gerakan. Penafsiran Alkitab bisa digunakan dan dijadikan sebagai suatu jalan yang menandakan adanya percakapan atau dialog untuk mencapai kesepahaman. Keberadaan berbagai macam metode yang dapat digunakan dalam penafsiran suatu teks tentu bisa Lovely Rering Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies dilihat sebagai permasalahan, jika yang dicari dari setiap pembacaan adalah kebenaran Tulisan ini secara khusus dituju kepada para pembaca yang selama ini meyakini bahwa hanya ada satu makna atau absolute truth atas teks-teks dalam Alkitab. Harapan Penulis, tulisan ini dapat membantu para pembaca untuk memaknai teks-teks Alkitab lebih luas lagi dari apa yang selama ini dipahami. Dari antara berbagai macam metode dan kritik yang digunakan dalam penafsiran Alkitab. Psychological Biblical Criticism membuka suatu ruangan baru bagi pembaca untuk dapat meneliti teks-teks Alkitab dengan menggunakan ilmu-ilmu psikologi. Andrew Kille, memperkenalkan Psychological Biblical Criticism sebagai jalan bagi pembaca untuk menafsirkan teks dari sudut pandang psikologis (Kille, 2013: . Kritik ini bertujuan untuk memahami mengapa orang berperilaku seperti itu. Untuk melakukannya, penafsir perlu mengkaji perilaku manusia, termasuk intuisi, ingatan, persepsi, kepribadian, dan banyak faktor lain di bidang tersebut (Kille, 2013: . Tidak ada pedoman mutlak bagaimana menerapkan kajian ini, namun berdasarkan perkembangannya, penafsir harus memulainya dengan menyadari serta mengakui perilaku-perilaku yang muncul sebelum menelitinya lebih jauh. Layaknya kritik-kritik lainnya, kritik psikologis juga bukan tanpa masalah. Kille menyadari terbatasnya sumber yang tersedia untuk mempraktikkan kritik ini. Meskipun demikian. Kille percaya bahwa terdapat beragam teks mengungkapkan perilaku dan emosi manusia yang menyebabkan kritik ini cukup relevan untuk digunakan dalam suatu usaha penafsiran Alkitab. Penelitian ini akan mengupayakan Psychological Biblical Criticism yang diperkenalkan oleh Kille dalam tulisannya yang berjudul Psychological Biblical Criticism dalam buku New Meaning for Ancient Text: Recent Approaches to Biblical Criticism and Their Applications yang disunting oleh Steven L. McKenzie dan John Kaltner. Jika berbicara tentang Musa, maka beberapa hal akan terlintas seperti bahwa ia diangkat menjadi anak oleh Putri Firaun, ia dibesarkan oleh ibu kandungnya dan ketika ia sudah cukup besar, ia dikembalikan ke istana Mesir. Musa kemudian dipilih untuk menjadi pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, dimana ia melewati berbagai macam konflik selama ia menjadi seorang pemimpin. Meskipun Musa tidak mengantar bangsa Israel sampai di Kanaan sebab ia meninggal dunia. Musa kemudian digantikan oleh Yosua. Lebih dalam lagi. Musa dikaruniai oleh berbagai macam kemampuan untuk melakukan mukjizat selama masa kepemimpinannya. Bahkan setelah ia mengakui kemampuannya yang tidak pandai berbicara, ia masih diperkenankan untuk memimpin dengan bantuan kakaknya. Harun. Mengingat bahwa Musa merupakan keturunan Ibrani yang dibesarkan dengan tradisi Mesir, hal ini dirasa menarik untuk diteliti secara khusus ketika membaca narasi dalam Keluaran 2:11Ae15. Narasi menunjukkan Musa yang menegur I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. orang Mesir yang kedapatan menindas orang Ibrani dengan membunuhnya. Pada ayat-ayat selanjutnya. Musa kedapatan menegur dua orang Ibrani yang saling berkelahi. Dinamika teguran-teguran yang dilakukan Musa ini menarik untuk diteliti. Musa yang telah melakukan pembunuhan ternyata memiliki audacity untuk menegur dua orang yang sedang berkelahi. Hal ini dilihat oleh Penulis sebagai hal yang bertolak belakang. Sehingga muncul dorongan untuk meneliti perilaku Musa berdasarkan Keluaran 2:11Ae15, untuk melihat apakah Musa merupakan seorang individu dengan DID. Meskipun demikian. Penulis tidak berasal dari latar belakang Psikologi. Namun memiliki ketertarikan khusus pada bidang ilmu psikologi yang mendorong Penulis untuk meneliti teks dengan pendekatan psikologis. Psychological Biblical Criticism Alkitab sebagai teks yang kaya akan sejarah, teologi, dan budaya, telah lama mempengaruhi cara berpikir dan perilaku manusia. Salah satu pendekatan untuk memahami teks-teks Alkitab adalah melalui Psychological Biblical Criticism, yang menggunakan teori-teori dan modelmodel psikologi untuk menganalisis bagaimana teks Alkitab mempengaruhi, membentuk, dan dipengaruhi oleh psikologi pembacanya. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk memahami asal-usul teks, tetapi juga untuk melihat bagaimana teks tersebut berinteraksi dengan pembaca, serta bagaimana dinamika psikologis pembaca mempengaruhi interpretasi mereka terhadap teks. Psychological Biblical Criticism menganggap bahwa teks-teks Alkitab tidak hanya berbicara tentang peristiwa historis atau moralitas, tetapi juga mengenai keadaan emosional, psikologis, dan mental manusia, baik itu karakter yang ada dalam teks, pengarang, atau bahkan pembaca teks itu sendiri. Pendekatan ini menyarankan bahwa teks Alkitab memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perilaku, sikap, dan hubungan antara individu, serta bisa memberikan wawasan tentang dinamika psikologis yang terjadi dalam kehidupan manusia. Psychological Biblical Criticism memandang teks Alkitab melalui tiga dimensi utama yakni Behind the Text. Of the Text, dan In Front of the Text. Setiap dimensi ini membantu penafsir untuk memahami konteks teks, struktur, dan bagaimana teks itu berinteraksi dengan pembacanya. Behind the Text. Dimensi ini berfokus pada asal-usul teks, proses penulisan, penyuntingan, dan konteks sejarah di mana teks tersebut ditulis, termasuk menganalisis siapa yang menulis teks tersebut, untuk siapa teks itu ditulis, serta latar belakang sosial, politik, dan budaya pada saat teks itu ditulis (Kille, 2013: . Dengan memahami Aubehind the textAy. Psychological Biblical Criticism mencoba untuk Lovely Rering Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies menggali konteks psikologis yang melatarbelakangi penulisan teks tersebut. Namun, dimensi ini saja tidak cukup untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang teks. Of the Text. Karena dimensi Behind The Text tidak cukup untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh, dibutuhkan dimensi yang kedua yakni dimensi Of the Text. Dimensi kedua ini berfokus pada isi dan struktur teks itu sendiri seperti bahasa yang digunakan, gaya narasi, deskripsi karakter, urutan peristiwa, serta teknik retoris yang diterapkan dalam teks (Kille, 2013: . Melalui dimensi ini. Psychological Biblical Criticism memeriksa bagaimana teks dibangun secara psikologis. Misalnya, bagaimana karakter-karakter dalam cerita berinteraksi satu sama lain, bagaimana konflik emosional dan psikologis digambarkan, dan bagaimana ini dapat mempengaruhi Ini membantu kita untuk memahami apakah teks itu menyampaikan pesan tentang pengalaman manusia yang lebih dalam, seperti perasaan takut, cemas, penyesalan, atau harapan. In Front of the Text. Dimensi ini berfokus pada pembaca, pendengar, atau penafsir yang berinteraksi dengan teks (Kille, 2013: . Psychological Biblical Criticism berpendapat bahwa teks tidak hanya berkomunikasi dengan pembaca melalui katakata yang tertulis, tetapi juga memengaruhi pembaca melalui dinamika psikologis yang terlibat dalam proses pembacaan. Pembaca tidak hanya menginterpretasikan teks secara rasional, tetapi juga terlibat secara emosional dan psikologis dengan teks tersebut. Pembaca mungkin merasakan empati terhadap karakter-karakter dalam cerita, mengalami ketakutan atau kegembiraan bersama mereka, atau bahkan merasakan transisi emosional yang mendalam berdasarkan bagaimana teks tersebut berhubungan dengan pengalaman pribadi mereka. Setiap usaha untuk memahami teks dengan metode tertentu pasti memiliki tantangannya tersendiri. Salah satu tantangan dalam Psychological Biblical Criticism adalah keterbatasan akses terhadap pengalaman langsung orang-orang yang pertama kali mengalami peristiwa-peristiwa yang ada dalam teks Alkitab. Mengingat teks-teks Alkitab ditulis ribuan tahun yang lalu, sulit untuk benar-benar memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang-orang pada saat itu. Oleh karena itu. Psychological Biblical Criticism cenderung lebih berfokus pada dimensi In Front of the Text yaitu bagaimana teks itu berfungsi untuk mempengaruhi pembaca kontemporer (Kille, 2013: . Meskipun Alkitab tidak menggunakan istilah psikologis modern secara eksplisit, banyak bagian dalam Alkitab yang mengungkapkan emosi manusia secara mendalam. Teks-teks Alkitab menggambarkan I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. berbagai pengalaman manusia, seperti kegembiraan, kesedihan, kecemasan, ketakutan, penyesalan, dan banyak lagi. Dengan pendekatan psikologis ini, pembaca dapat memahami bagaimana teks-teks Alkitab mengaktifkan respons emosional pembaca, serta bagaimana karakter-karakter dalam cerita mencerminkan dinamika psikologis yang kompleks. Psychological Biblical Criticism ini memiliki berbagai cara untuk mengkaji teks-teks Alkitab dan interaksi pembaca dengan teks tersebut. Beberapa cara kerja dalam mempraktikkan Psychological Biblical Criticism antara lain: Mengkaji ulang asal-usul, konteks sejarah, dan isi teks (Kille, 2013: . Menelusuri kembali latar belakang teks, siapa yang menulisnya, untuk siapa teks itu ditujukan, serta bagaimana sejarah sosial dan budaya saat itu memengaruhi penulisan teks Mengeksplorasi pengaruh teks terhadap perilaku dan sikap pembaca (Kille, 2013: Memeriksa bagaimana teks-teks Alkitab mempengaruhi perilaku, sikap, dan hubungan orang yang membacanya. Misalnya, apakah pembaca menjadi lebih penyayang, lebih adil, atau lebih berhati-hati setelah membaca bagian tertentu dari Alkitab? Menganalisis dinamika fenomena religius (Kille, 2013: . Mengeksplorasi fenomena religius seperti glossolalia . erbicara dalam bahasa ro. , mimpi, kerasukan setan, atau nubuat dalam konteks psikologi. Bagaimana fenomena ini dapat dipahami melalui lensa psikologis dan bagaimana mereka berhubungan dengan pengalaman emosional dan spiritual pembaca atau individu yang mengalaminya? Menganalisis dampak teks dalam sejarah dan masyarakat (Kille, 2013: . Mengkaji dampak historis dan sosial dari teks-teks Alkitab, serta bagaimana teks-teks tersebut mempengaruhi individu dan komunitas sepanjang waktu. Menganalisis dinamika kekerasan dalam Alkitab (Kille, 2013: . Psychological Biblical Criticism juga mengeksplorasi bagaimana teks Alkitab mendukung atau menentang sikap dan hubungan yang berkaitan dengan kekerasan, baik dalam konteks pribadi maupun sosial. Mengeksplorasi kontribusi dalam menyembuhkan jiwa (Kille, 2013: . Salah satu tujuan utama teks Alkitab adalah untuk memberi dampak positif pada pembacanya, baik dalam aspek emosional, mental, maupun spiritual. Psychological Biblical Criticism berusaha untuk mengungkapkan bagaimana teks ini berkontribusi pada penyembuhan jiwa, serta bagaimana teks tersebut dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis Lovely Rering Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Salah satu konsep psikologi yang penting dalam bidang penafsiran Alkitab adalah Transference (Kille, 2013: . Dalam psikologi, transference adalah proses di mana individu mentransfer perasaan dan emosi yang awalnya ditujukan kepada orang-orang penting dalam hidup mereka . eperti orang tua atau figur otorita. kepada orang lain atau situasi lain (Kille, 2013: . Dalam konteks teks Alkitab, pembaca dapat mentransfer perasaan pribadi mereka kepada karakter-karakter dalam teks. Misalnya, pembaca mungkin merasa marah atau simpatik terhadap seorang karakter dalam cerita, dan perasaan ini mungkin dipengaruhi oleh pengalaman mereka sendiri. Teks-teks Alkitab sering kali memunculkan respons emosional yang mendalam dari pembaca, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi cara mereka menginterpretasikan dan merespon pesan yang terkandung dalam teks tersebut. Hal ini adalah contoh bagaimana teks tidak hanya dipengaruhi oleh konteks sejarah atau sosialnya, tetapi juga bagaimana teks tersebut bekerja pada tingkat psikologis pembaca. Dissociative Identity Disorder Dissociative Disorders merupakan kondisi mental yang memiliki gangguan secara khusus pada bagian ingatan, identitas, emosi, persepsi, tingkah laku dan kesadaran diri. Sehingga kondisi seperti ini dapat mengganggu fungsi mental secara keseluruhan. Salah satu gejalanya adalah terputusnya koneksi individu dengan tubuhnya, serta pengalaman akan hilang ingatan. Disosiatif sendiri dapat dipahami sebagai keadaan terputusnya koneksi pikiran orang individu dengan ingatannya, perasaannya, tingkah lakunya serta kesadaran akan siapa dirinya. Sebenarnya hal ini merupakan hal umum yang pernah dialami oleh manusia (Spiegel, 2. Pada disosiatif yang ringan, biasanya disosiatif berkaitan dengan daydreaming. AutenggelamAy dalam buku yang dibaca ataupun film yang ditonton, serta perasaan yang menunjukkan dirinya bukanlah bagian dari dunia. Ketika sedang mengalami trauma berat, disosiatif ini bisa membantu seorang individu menjadi lebih tegar dalam menghadapi masa-masa sulit. Karena pada masa seperti ini biasanya seorang individu tidak lagi terhubung dengan ingatan akan suatu tempat atau suatu perasaan yang berkaitan dengan trauma berat tersebut. Sehingga biasanya seorang individu akan mengalami kesulitan dalam mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi, seperti apa yang sering dialami oleh korban-korban kecelakaan atau bencana alam (Spiegel, 2. Dissociative Disorder juga seringkali dikaitkan dengan trauma masa Terdapat tiga macam Dissociative Disorder antara lain (Spiegel, 2. Dissociative Identity Disorder Dissociative Amnesia Depersonalization/Derealization Disorder I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Untuk dapat membedakannya satu sama lain. Penulis akan menjelaskan ketiga Dissociative Disorder di bawah ini: Dissociative Amnesia merupakan kondisi di mana seseorang tidak dapat mengingat hal-hal tentang dirinya sendiri . erbeda dengan lupa AubiasaA. Biasanya amnesia pada tahapan ini berkaitan dengan kejadian-kejadian traumatik yang dibagi menjadi tiga jenis antara lain: - Localized . idak bisa mengingat kejadian-kejadian traumatis. Dissociative Amnesia ini merupakan jenis yang paling umu. - Selective . idak bisa mengingat kejadian atau peristiwa tertentu dalam waktu - Generalized . idak bisa mengingat satu hal pun, termasuk masa lalu dan identitas dir. Dissociative Amnesia seringkali dikaitkan dengan trauma masa kecil yang berkaitan dengan kekerasan emosional. Biasanya individu dengan Dissociative Amnesia tidak menyadari akan amnesianya sendiri. Depersonalization/Derealization Disorder - Depersonalization merupakan kondisi dimana seorang individu mengalami hal-hal yang berada di luar dirinya, sama sekali tidak terhubung dengan dirinya. Seperti contoh, seorang individu bisa melihat jiwanya terpisah dari tubuhnya selagi melihat hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. - Derealization merupakan kondisi di mana seorang individu merasakan hal-hal yang tidak nyata, merasa terpisah dari dunia atau menganggap bahwa dunia tidaklah Dissociative Identity Disorder (DID) merupakan keadaan perubahan kesadaran atau identitas seorang individu (Nevid, 2021: . DID merupakan kondisi ketika seorang individu memiliki dua atau lebih identitas yang memiliki kepribadian berbeda. Masing-masing identitas memiliki sifat, memori, tingkah laku, dan bahkan gaya berbicara yang berbeda. Ada kepribadian utama yang tidak sadar dengan identitas lain tetapi identitas lainnya itu sadar dengan kepribadian utama, dan ada juga yang tidak sadar satu sama lain. Terkadang dua kepribadian yang berbeda saling bersaing untuk memperoleh kontrol penderita. DID seringkali dikaitkan dengan trauma masa kecil (Dorahy dkk. , 2014: . DID yang dahulunya disebut sebagai Multiple Disorder meliputi permasalahan mental seperti ingatan, emosi, persepsi, tingkah laku serta kesadaran diri (Wulandari dan Samanik, 2022: . Sebagai suatu kondisi gangguan Lovely Rering Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies mental yang sulit untuk dipahami. Penulis akan memaparkan berbagai macam gejala umum DID berdasarkan beberapa sumber. Seorang ahli psikologi. Caglar Sezis merumuskan empat gejala umum yang ada pada individu dengan DID, antara lain (Sezis, 2023: . Identitas Alter. Individu dengan DID memiliki dua atau lebih identitas. Masingmasing identitas memiliki kepribadian yang berbeda, bahkan nama, karakteristik serta perilakunya juga berbeda-beda. Dalam beberapa kasus DID, identitas yang satu berganti pada identitas yang lain tanpa disadari oleh individu dengan DID. Amnesia. Individu dengan DID sering mengalami amnesia jangka pendek, atau kehilangan ingatan jangka pendek. Hal ini dapat terjadi ketika identitas yang satu sedang mengambil kontrol. Sehingga identitas yang lain tidak akan memiliki ingatan akan apa yang dilewati oleh identitas yang satu. Secara keseluruhan, ingatan akan apa yang terjadi memiliki gaps atau jarak yang tidak dapat menghadirkan ingatan tersebut secara penuh dan sempurna. Depersonalisasi atau Derealisasi. Individu dengan DID juga dapat mengalami episode depersonalisasi dan derealisasi. Depersonalisasi merupakan kondisi dimana individu merasa terpisah dari tubuh atau bahkan kesadaran diri mereka sendiri. Sedangkan derealisasi merupakan kondisi dimana individu mulai memikirkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sebagai yang tidak nyata. Pikiran atau Suara Mengganggu. Individu dengan DID terkadang mendengar suara-suara yang Autidak ada,Ay yang mengganggu, atau berbicara kepadanya, yang mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang biasanya membahayakan dirinya Selain itu. American Psychiatric Association (APA) juga menjelaskan beberapa gejala DID antara lain (Spiegel, 2. Keberadaan dua atau lebih identitas diri yang disertai dengan perilaku, ingatan serta gaya berpikirnya masing-masing. Kondisi ini bisa saja disadari oleh individu dengan DID. Ingatan akan peristiwa-peristiwa yang tidak penuh atau lengkap, secara khusus tentang apa yang dilalui dalam keseharian bahkan juga tentang trauma masa lalu. Dua gejala di atas ini dapat menimbulkan permasalahan sosial sebab berkaitan erat dengan fungsional seorang individu. DID dapat memiliki pengaruh yang substansial terhadap I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Individu mungkin mengalami kesulitan dalam interaksi karena adanya identitas yang berbeda-beda dalam seorang individu, yang dapat menimbulkan ide, perasaan, dan perilaku yang bertentangan. Fenomena ini berpotensi menimbulkan ambiguitas dan ketegangan dalam hubungan personal. Selain itu, individu yang didiagnosis dengan DID mungkin menghadapi tantangan dalam mempertahankan pekerjaan yang konsisten karena gejala yang tidak dapat diprediksi (Sezis, 2023: . Individu yang didiagnosis dengan DID menunjukkan kesulitan dalam mengendalikan emosi mereka dan mengelola stres dengan efektif, yang mengakibatkan ledakan emosi yang sering atau kesulitan dalam menghadapi rintangan sehari-hari (Sezis, 2023: . Individu yang didiagnosis dengan DID mungkin memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam aktivitas yang merusak diri sendiri dan berisiko tinggi. Perilaku ini termasuk melukai diri sendiri, penyalahgunaan obat, mengemudi secara tidak bertanggung jawab, atau berpartisipasi dalam aktivitas berbahaya tanpa memperhatikan konsekuensi yang dapat terjadi (Sezis, 2023: . Tingkah laku seorang dengan DID bahkan hingga hal-hal yang diskuainya . akanan, hobi, pakaia. juga bisa berubah-ubah sesuai dengan identitas yang sedang berada dalam kontrol (Spiegel, 2. Perubahan identitas yang berada dalam kontrol ini tidak berada pada kendali individu tersebut. Sehingga tidak jarang bahwa individu dengan DID sering menjadi AupengamatAy atas diri mereka sendiri (Spiegel, 2. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Dissociative Disorder merupakan kondisi terputusnya individu dengan ingatan, identitas, emosi, persepsi bahkan tingkah laku. Dari antara ketiga Dissociative Disoders yang ada yakni Dissociative Amnesia. Depersonalization/Derealization Disorder, dan Dissociative Identity Disorder (DID), dapat dikatakan bahwa DID merupakan gangguan disosiatif yang lebih kompleks. DID merupakan kondisi yang gejala-gejalanya berasal dari 3 gangguan disosiatif lainnya yakni Dissociative Amnesia dan Depersonalization/Derealization Disorder. Dengan demikian, gangguan disosiatif adalah kondisi yang serius dan kompleks yang berhubungan erat dengan trauma masa lalu, dan membutuhkan pemahaman serta penanganan yang hati-hati dari para profesional untuk mendukung pemulihan individu yang mengalaminya. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa gangguan disosiatif tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga dapat mempengaruhi hubungan sosial dan fungsionalitas sehari-hari mereka. Individu dengan gangguan disosiatif sering kali mengalami kesulitan dalam berinteraksi secara konsisten dengan orang lain, dan mungkin merasa terasing dari diri mereka sendiri atau dunia sekitar mereka. Hal ini menambah tantangan dalam kehidupan sosial, pekerjaan, dan pengelolaan emosi mereka. Lovely Rering Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Latar Belakang Kitab Keluaran Berdasarkan bahasa Latinnya. Exodus, yang berarti keluaran menggambarkan bahwa kitab ini merekam kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Kitab Keluaran dilihat sebagai pusat pengalaman iman Israel sekaligus juga dokumen yang menyimpan segala interaksi bangsa Israel dengan Yahweh (Craghan, 2002: . Kitab ini memberikan gambaran tentang penindasan yang harus dilalui oleh orang-orang Israel. Pada akhirnya, melalui kepemimpinan Musa, orang-orang Israel berhasil keluar dari Mesir, menyeberangi laut merah dan meninggalkan Firaun serta pasukannya yang sedang mengejar (Jacob, 1992: xx. Keluaran 1-2 memuat berbagai kisah menarik seperti populasi orang Israel yang bertambah sehingga Firaun memerintahkan agar semua bayi laki-laki Ibrani dibunuh, kisah kelahiran Musa yang diangkat menjadi anak oleh putri Firaun, serta aksi pembunuhan terhadap orang Mesir yang dilakukan oleh Musa sehingga ia melarikan diri ke Midian (Baden, 2012: . Narasi ini diyakini berasal dari tradisi penulisan Y dan P (Baden, 2012: . Tafsir Keluaran 2:11Ae15 Musa digambarkan sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga Lewi (Keluaran 2:1-. Tradisi penulisan Y menggambarkan Musa yang memiliki banyak latar belakang (Craghan, 2002: . Sewaktu masih bayi, ia diselamatkan oleh putri Firaun dari air Sungai Nil, yang akhirnya membuatnya diangkat menjadi anak angkat dalam keluarga kerajaan Mesir (Wandaningsih, t. : 32-. Nama Musa diberikan oleh putri Firaun, yang berarti AuAku telah menariknya keluarAy (Keluaran 2:. , merujuk pada penyelamatan dirinya dari air. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa arti nama dari Musa adalah AulahirAy (Craghan, 2002: . Meskipun diangkat oleh orang Mesir. Musa dibesarkan dengan pemahaman bahwa dirinya berasal dari suku Ibrani (Wandaningsih, t. : . Narasi Keluaran 2:11-15 memperkenalkan Musa sebagai sosok yang terjebak di antara dua dunia, ia berasal dari garis keturunan keluarga Lewi tetapi dibesarkan sebagai orang Mesir. Tradisi penulisan Y menggambarkan Musa yang memiliki banyak latarbelakang (Craghan, 2002: . Ia memang adalah seorang Lewi namun ia dibesarkan sebagai orang Mesir dan kemudian menikah dengan orang non-Israel (Craghan, 2002: . Ketika sudah dewasa. Musa menyaksikan seorang Mesir memukul seorang Ibrani. Peristiwa ini memicu respons emosional yang kuat dalam dirinya. Dalam Keluaran 2:11-12, rasa empati dan kemarahannya terhadap penindasan terhadap bangsanya mendorongnya untuk bertindak impulsif. Ia membunuh orang Mesir tersebut, dengan harapan dapat I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. melindungi orang Ibrani itu. Musa mengalami kesadaran akan nasionalisme dan juga perubahan gejolak kejiwaan yang mendorongnya untuk melakukan pelanggaran hukum (Lie dan Kusuma, 2022: . Ketika Keluaran 2:11 dibaca dalam kesatuan dengan Keluaran 2:1-10, menunjukan bahwa Musa telah menemukan identitas yang barangkali selama ini tersembunyi ketika ia dibesarkan di Istana Mesir (Baden, 2012: . Tindakan kekerasan ini bisa dipahami sebagai reaksi terhadap ketidakadilan yang ia lihat di sekelilingnya (Baden, 2012: . Namun setelah itu, ia kelihatan menegur orang Ibrani yang saling berkelahi. Ketika Musa menegurnya, orang Ibrani itu berkata pada Musa. AuSiapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?Ay Sehingga diyakini bahwa orang Ibrani ini merupakan orang Ibrani yang ia selamatkan sebelumnya pada ayat 11 (Makujina, 2012: . Karena menyadari bahwa tindakannya terungkap. Musa melarikan diri ke Midian. Setelah melarikan diri ke Midian, kehidupan Musa mengalami perubahan yang drastis. Ia beralih dari seorang pangeran yang hidup dalam kemewahan di istana Mesir menjadi seorang gembala di tanah asing (Keluaran 2:16-. Selama di Midian. Musa menikah dengan Zipora, putri seorang imam Midian, yang semakin menunjukkan perpisahannya dari identitas Mesir dan keterkaitannya dengan budaya nonIsrael. Tindakan pembunuhan Musa diyakini mencerminkan empati dan rasa keadilan yang mendalam terhadap bangsa Ibrani yang tertindas. Pembunuhan ini adalah usaha pertama Musa untuk menyelesaikan masalah ketidakadilan (Friedman dan Friedman, 2019: . Beberapa ahli berpendapat bahwa tindakan Musa ini bisa dilihat sebagai sebuah ekspresi keadilan yang didorong oleh rasa solidaritas terhadap orang-orang Ibrani yang tertindas (Friedman dan Friedman, 2019: . Musa sebagai seorang pangeran yang memiliki hak istimewa dan kekuasaan di Mesir, meninggalkan semua itu untuk berpihak pada bangsanya yang tertindas. Pembunuhan yang ia lakukan merupakan usaha pertama untuk mengatasi penindasan yang ia lihat. Dalam pelariannya ke Midian. Musa memilih untuk meninggalkan kehidupan yang nyaman dan status sosialnya demi solidaritas dengan orang Ibrani (Friedman dan Friedman, 2019: . Ada pendapat yang menyatakan bahwa Firaun marah ketika mengetahui keluarganya, yakni Musa tidak berada pada sisinya (Fieldman, 2003: . Namun, tradisi penulisan Y menunjukkan Musa dilihat sebagai orang biasa, bukan bagian dari keluarga Firaun, itulah sebabnya ia melarikan diri ke Midian (Baden, 2012: . Jika memang Musa adalah bagian dari keluarga Firaun, hal itu tidak akan terjadi. Lovely Rering Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Psychological Biblical Criticism Terhadap Keluaran 2:11Ae15 Narasi menunjukkan Musa yang Aukeluar,Ay barangkali dari istana sebagai wilayahnya, untuk melihat kerja paksa yang dialami oleh saudara-saudaranya. Penulis teks tanpa pusing menekankan identitas Musa sebagai orang Ibrani dalam narasi ini (Fretheim, 1991: . Musa kemudian melihat seorang Mesir yang memukul seorang Ibrani, orang sebangsanya. Ia melihat ke sana kemari untuk memastikan bahwa tidak ada orang, membunuh orang Mesir itu, lalu menyembunyikan mayatnya di dalam pasir. Hal ini menunjukkan bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Musa bukanlah suatu tindakan impulsif (Fretheim, 1991: . , melainkan suatu tindakan yang telah terlebih dahulu ia pikirkan dan rencanakan di dalam kepalanya. Keesokan harinya, ia keluar lagi dan menemukan dua orang Ibrani yang sedang berkelahi serta berusaha untuk menjadi mediator dengan bertanya. AuMengapa engkau pukul temanmu?Ay Namun respon orang Ibrani tersebut menekankan bahwa Musa tidak memiliki otoritas apapun untuk terlibat dalam perkelahian yang sedang berlangsung (Hamilton, 2. Sebab pada ayat 14, orang Ibrani itu menjawab Musa dengan sebuah pertanyaan retoris. AuSiapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?Ay The Accuser, becomes the accused (Fretheim, 1991: . Di sini terlihat bahwa Musa dikhianati oleh bangsanya sendiri, bangsa yang ia lindungi pada hari sebelumnya. Karena menyadari bahwa perbuatannya telah terungkap. Musa melarikan diri ke Midian. Salah satu tafsiran memberikan interpretasi yang menarik secara khusus pada ayat ini, bahwa orang Ibrani yang kedapatan berkelahi merupakan orang Ibrani yang sama, yang diselamatkan Musa pada hari sebelumnya. Oleh karena ketika bermaksud untuk membunuh orang Mesir. Musa telah terlebih dahulu memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya. Musa yang melarikan diri bisa saja menunjukkan bahwa pada dasarnya ia tidak merasa dirinya AucukupAy untuk dikatakan sebagai orang Ibrani, dan juga tidak AucukupAy untuk dikatakan sebagai orang Mesir (Miller, t. Sebagai yang melindungi orang Ibrani, bahkan ia ditegur dan barangkali merasa AuterancamAy oleh sesamanya sendiri. Sebagai yang dibesarkan dalam keluarga Firaun. Musa tidak setuju akan penindasan yang keluarganya lakukan. Tindakan yang awalnya barangkali ia lakukan demi tujuan berbela rasa pada yang tertindas, menempatkan dia pada posisi yang tidak aman dari segala sisi. Hal inilah yang kemudian memunculkan rasa takut dalam diri Musa sehingga ia melarikan diri. Musa berada pada posisi yang serba salah. Ia tidak bisa membawa orang Mesir yang menindas orang Ibrani ke Firaun untuk diadili, sebab Firaun sendiri menindas orang-orang Ibrani. Sehingga, menangani penindasan yang ia lihat sendiri dengan caranya sendiri merupakan keputusan yang dianggapnya paling tepat untuk dilakukan. I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Narasi yang menekankan Musa sebagai seorang Ibrani bertujuan untuk menunjukkan bahwa Musa, pertama-tama, berpihak pada mereka yang tertindas. Jika tidak demikian, maka Musa tidak akan pernah pergi keluar untuk menyaksikan penindasan yang dilakukan terhadap bangsanya. Sehingga tindakan pembunuhan yang ia lakukan merupakan tanda bahwa Musa berbela rasa, menunjukkan empati tetapi pada saat yang sama juga merasa helpless, tidak mengetahui cara untuk menghentikan penindasan Firaun. Barangkali kesadaran Musa untuk membantu yang menyebabkannya membunuh orang Mesir yang menindas merupakan hal kecil yang bisa ia lakukan untuk tidak menghasilkan penindasan yang lebih dalam lagi. Respon Musa yang melarikan diri barangkali juga bukanlah sekedar melarikan diri dari Firaun, sebab Musa melarikan diri ke negeri asing. Barangkali baik di Mesir, sebagai bagian dari keluarga Firaun ataupun keturunan Ibrani. Musa tidak merasa menjadi bagian dari keduanya. Sehingga ia memutuskan untuk pergi ke negeri asing sebab pikirnya. Aui donAot belong anywhere, here. Ay Kesimpulan Berdasarkan pemaparan di atas. Penulis akan berusaha untuk menjawab pertanyaan dasar dari penelitian ini, yaitu apakah Musa dapat digolongkan sebagai individu yang mengalami Dissociative Identity Disorder (DID). DID adalah sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan keberadaan dua atau lebih identitas atau kepribadian yang terpisah dalam satu individu, di mana masing-masing identitas memiliki sifat, perilaku, dan kenangan yang Dalam konteks ini, penting untuk menilai apakah gejala-gejala yang tampak pada diri Musa dapat disandingkan dengan kriteria klinis DID yang telah dikenal. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak ada bukti yang cukup dalam teks yang menunjukkan bahwa Musa mengalami kondisi DID. Dalam narasi yang kita baca. Musa tidak tampak bingung atau terpecah dalam hal identitas dirinya, baik sebagai orang Ibrani maupun sebagai bagian dari keluarga Firaun. Sebaliknya, penulis teks secara eksplisit menekankan identitas Musa sebagai seorang Ibrani, dan ini menjadi inti dari narasi pembentukan karakter Musa. Ketika Musa menyaksikan penindasan yang dialami oleh sesama Ibrani, identitasnya sebagai seorang Ibrani terbangun dan menjadi motivasi utama dalam tindakan yang ia ambil, yaitu melawan penindasan tersebut. Teks ini tidak menggambarkan adanya pergulatan internal yang mengarah pada perasaan terpecah antara dua identitas yang berbeda, melainkan menunjukkan sebuah proses pembentukan identitas yang jelas dan konsisten sebagai seorang Ibrani. Terkait dengan tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh Musa, kita bisa melihat bahwa ini bukanlah suatu tindakan impulsif yang sering kali menjadi salah satu gejala utama pada individu dengan DID. Tindakan impulsif biasanya muncul tanpa pertimbangan matang. Lovely Rering Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies sering kali didorong oleh dorongan emosional yang kuat dan tidak terkendali, seperti rasa marah atau ketakutan. Sebaliknya, pembunuhan yang dilakukan oleh Musa terhadap orang Mesir tersebut lebih dapat dipahami sebagai suatu keputusan yang telah dipikirkan secara Musa tidak bertindak secara gegabah atau tanpa perencanaan. ia terlebih dahulu memastikan bahwa tidak ada orang lain yang menyaksikan perbuatannya, yang menunjukkan bahwa tindakan tersebut bukanlah hasil dari reaksi emosional yang spontan. Tindakan ini lebih cocok dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang disaksikan oleh Musa terhadap saudara-saudaranya. Musa mungkin memang tidak sepenuhnya mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari tindakannya, seperti reaksi dari Firaun atau apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri setelahnya. Namun, hal ini lebih berkaitan dengan ketidakmampuan atau ketidaksiapan untuk menghadapi konsekuensi tindakan tersebut, bukan karena adanya perpecahan kepribadian atau identitas yang terjadi dalam dirinya. Tindakan pembunuhan ini, meskipun mungkin tidak sepenuhnya rasional, adalah ekspresi dari perasaan empati dan pembelaan terhadap orang Ibrani yang tertindas. Musa melihat dirinya sebagai bagian dari mereka dan merasa bahwa membunuh orang Mesir yang menindas sesama Ibrani adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri penindasan tersebut pada saat itu. Selain itu, penting untuk dicatat bahwa tindakan Musa setelah pembunuhan, yaitu melarikan diri ke Midian, lebih mencerminkan rasa takut dan ketidakpastian yang dialaminya, bukan indikasi dari perubahan identitas yang mendalam atau perpecahan kepribadian. Reaksi ini lebih masuk akal jika kita melihatnya sebagai respons terhadap ancaman dari Firaun dan pengkhianatan yang ia alami dari sesama Ibrani, yang justru menentang intervensinya. Ini adalah reaksi manusiawi terhadap sebuah situasi yang penuh ketegangan dan ancaman, yang jauh lebih berakar pada faktor sosial dan psikologis, bukan karena adanya transisi atau peralihan identitas yang khas pada DID. Dengan demikian, berdasarkan analisis naratif dan psikologis yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa Musa tidak dapat digolongkan sebagai individu dengan DID. Teks menggambarkan seorang Musa yang memiliki identitas yang jelas sebagai seorang Ibrani, meskipun ia menghadapi dilema besar dalam menjalani kehidupannya yang terpecah antara dua dunia, sebagai anak angkat keluarga Firaun dan sebagai bagian dari bangsa yang Ketika Musa bertindak, ia tidak menunjukkan adanya perpecahan kepribadian, melainkan lebih mencerminkan perjuangan internal antara rasa empati, kewajiban moral, dan ketidakmampuannya untuk mengubah sistem yang ada. Oleh karena itu, meskipun Musa berhadapan dengan krisis identitas dan konflik emosional yang mendalam, hal ini tidak cukup untuk mengklasifikasikannya sebagai penderita DID. Ungkapan AuI DonAot BelongAy dirasa cocok untuk menggambarkan situasi Musa yang disalahpahami atas tindakannya yang berupaya untuk mengurangi penindasan yang sedang terjadi. I DonAot Belong: Membaca Kembali Keluaran 2:11Ae15 Melalui Kritik Psikologi Andrew Kille Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Daftar Pustaka