Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Gambaran Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Tanjung Bumi Bangkalan Jawa Timur dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Overview of Anti-Tuberculosis Drug (OAT) Use in Tuberculosis Patients at Tanjung Bumi Public Health Center Bangkalan East Java and Its Review According to Islamic Perspective Rizka Damayanti1. Dharma Permana2. Afrizal Tw3 1Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 2Bagian Farmakolog Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 3Bagian Agama Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Email: rizkadamayanti. 5704@gmail. KATA KUNCI Tuberkulosis. Obat Anti Tuberkulosis. Efek Samping, uife al-nafs. AoAdl. MaqAid al-SyarAoah. Islam. Puskesmas ABSTRAK Tuberkulosis (TB) di Indonesia menjadi masalah kesehatan utama, termasuk di Kabupaten Bangkalan. Jawa Timur. Penanganan TB melalui pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) merupakan langkah utama untuk menekan angka penularan, mencegah resistensi obat, dan menjalankan nilai-nilai keislaman dalam menjaga Kesehatan dan kehidupan. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan total sampling. Sampel adalah seluruh pasien TB yang mendapatkan pengobatan di Puskesmas Tanjung Bumi tahun 2023 dan memenuhi kriteria inklusi yang diambil dari rekam medis pasien dan dianalisis secara univariat. Sampel penelitian adalah 74 pasien, terdiri dari 62 pasien kategori 1, kategori 2 sebanyak 2 pasien, dan 5 pasien anak. Seluruh pasien kategori 1 dan anak menerima OAT dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) . RHZE/4RH). Pada kategori 2 mendapat OAT KDT . RHZES/1HRZE/5HRE) sebanyak 71,43% dan lainnya mendapat dosis tunggal . HZES/10HE). Efek samping yang paling banyak dilaporkan adalah urin berwarna merah . ,8%), penurunan nafsu makan . ,6%), dan mual . ,5%). Tingkat kesembuhan tertinggi terdapat pada kategori anak . %) dan kategori 1 . ,8%), sedangkan pada kategori 2 sebesar 71,4%. Penggunaan OAT di Puskesmas Tanjung Bumi telah sesuai standar terapi TB yang dianjurkan, dengan hasil pengobatan yang umumnya efektif. Dari sudut pandang Islam, upaya pengobatan ini sesuai dengan prinsip menjaga jiwa . ife al-naf. dan keadilan (Aoad. dalam pelayanan kesehatan. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 KEYWORDS Tuberculosis. Anti-Tuberculosis Drugs. Side Effects, uife al-nafs. AoAdl. MaqAid al-SyarAoah. Islam. Public Health Center ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, including in Bangkalan Regency. East Java. TB treatment through the administration of Anti-Tuberculosis Drugs (OAT) is a key measure to reduce transmission rates, prevent drug resistance, and fulfill Islamic values in maintaining health and preserving life. Method: This study employed a descriptive quantitative design with a total sampling The sample consisted of all TB patients who received treatment at the Tanjung Bumi Public Health Center in 2023 and met the inclusion criteria. Data were obtained from patient medical records and analyzed using univariate analysis. Results: The study included 74 patients: 62 patients in category 1, 2 patients in category 2, and 5 pediatric patients. All patients in category 1 and all pediatric patients received OAT in the form of Fixed-Dose Combination (FDC) . RHZE/4RH). Among category 2 patients, 71. 43% received FDC . RHZES/1HRZE/5HRE), while the remaining received single-drug regimens . HZES/10HE). The most frequently reported side effects were red-colored urine . 8%), loss of appetite . 6%), and nausea . 5%). The highest recovery rates were observed in pediatric patients . %) and category 1 . 8%), while category 2 had a lower recovery rate of 71. Conclusion: The use of OAT at the Tanjung Bumi Public Health Center complies with national TB treatment guidelines and generally produces effective outcomes. From an Islamic perspective, this medical effort aligns with the principles of preserving life . ife alnaf. and justice (Aoad. in healthcare services. PENDAHULUAN Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang menyerang paru-paru akibat bakteri Myobacterium tuberculosis dan dapat menular melalui udara ketika penderita batuk atau berbicara. Bakteri TB dapat menginfeksi bagian tubuh selain paru-paru, seperti otak, ginjal, dan tulang belakang yang berpindah melalui darah. Meskipun dapat dicegah dan disembuhkan, bakteri TB ialah salah satu dari 10 penyebab utama kematian di seluruh (Nasution, et al. , 2. Berdasarkan laporan WHO dalam Global TB Report 2023 diperkirakan populasi dunia yang telah terinfeksi TB sebanyak 25%. Sekitar 90% dari mereka yang terkena penyakit TB adalah orang dewasa dengan kasus yang paling banyak menyerang bagian paru-paru dibandingkan bagian tubuh Pada tahun 2022. Indonesia menyumbang sekitar 10% dari total kasus tuberkulosis di dunia. Indonesia menempatkan salah satu dari delapan negara dengan beban TB terbesar yang merupakan masalah signifikan dengan insiden yang masih cukup tinggi. (World Health Organization, 2. Pada tahun 2017-2019 Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat kedua dalam kasus TBC tertinggi dengan menyumbang 45% dari total TBC di Indonesia. Dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur adanya peningkatan kasus insiden TBC Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 dari 128 kasus per 100. 000 penduduk pada tahun 2015 menjadi 173 kasus per 000 penduduk pada tahun 2019. Pada tahun 2018 angka penemuan kasus (CDR) TBC sebanyak 50% sehingga belum mencapai angka yang ditargetkan oleh kemenkes sebanyak (Minsarnawati & Maziyya, 2. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur pada tahun 2017 melaporkan di Kabupaten bangkalan sebanyak 1. penderita TBC. Laki-laki ditemukan 790 kasus lebih banyak daripada perempuan yang hanya ditemukan 766 Pada tahun 2018, sebanyak 1. dengan penderita laki-laki ditemukan sebanyak 711 kasus, sedangkan perempuan 539 kasus. Tahun 2019 mengalami peningkatan kasus TB di Kabupaten Bangkalan sebanyak 1. penderita, laki-laki ditemukan 811 dan perempuan 634 kasus. (Faradillah, et , 2. Pasien yang terdiagnosis TBC akan menjalani pengobatan dengan terapi Obat Anti Tuberculosis (OAT). Pemberian OAT dilakakukan untuk upaya pencegahan penyebaran bakteri Myobacterium tuberculosis yang paling Penggunannya dalam jangka waktu 6 sampai 9 bulan dan perlu mendapatkan perhatian khusus karena efek sampingnya dapat membuat pasien gagal menyelesaikan (Kustriyani, et al. , 2. Pemerintah memberikan OAT dalam Kombinasi Dosis Tetap (KDT) Kategori 1 terdiri dari 4KDT (Rifampisin 150 mg. Isoniazid 74 mg. Pirazinamid 400 mg, dan Etambutol 275 m. dan 2KDT (Rifampisin 150 mg dan Isoniazid 150 m. diberikan pada pasien dewasa yang baru terkena TBC. Kategori 2 meliputi KDT Kategori 1 yang ditambah dengan Etambutol 400 mg dan Steptomisin 1000 mg, diberikan pada pasien dewasa yang lanjut pengobatan setelah putus pengobatan . engobatan ulan. Kategori anak digunakan untuk anak yang berusia 014 tahun meliputi 3KDT (Rifampisin 75 mg. Isoniazid 50 mg, dan Pirazinamid 150 m. dan 2KDT (Rifampisin 75 mg dan Isoniazid 50 m. (Kustriyani, et al. Dalam Islam, kesehatan merupakan amanah yang Upaya penyakit merupakan bentuk ikhtiar yang diperintahkan oleh Allah melalui syariat-Nya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. : "Berobatlah kalian. Allah menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan obatnyaAy (HR. Abu Dawu. Dalam kerangka maqAid alsyarAoah, upaya pengobatan merupakan bagian dari penjagaan jiwa . ife al-naf. , yang menjadi salah satu dari lima tujuan utama syariat . aqAid alsyarAoa. Oleh karena itu, penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diberikan kepada pasien di Puskesmas Tanjung Bumi tidak hanya sah secara implementasi dari nilai-nilai keislaman yang bersifat fundamental. (Nawwir. Selain itu. Islam menekankan pentingnya keadilan dalam akses pelayanan kesehatan dan kepedulian sosial terhadap orang yang sakit. Tanggung jawab tersebut tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif, di mana masyarakat dan tenaga medis memiliki peran dalam memberikan dukungan moril maupun materiil kepada pasien. Dengan menempatkan nilai empati, tanggung jawab sosial. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 dan prinsip menghindari mudarat. Islam landasan etis yang kuat dalam praktik Tuberkulosis, terutama di lingkungan masyarakat Muslim. (Aldilawati, et al. , 2. Mengabaikan aspek-aspek pengobatan dapat membahayakan Upaya diharuskan untuk mempertimbangkan pengobatan dan dosis yang tepat untuk memastikan efektivitas dan keamanan Harapannya muslim dapat memberikan pengobatan yang tepat sesuai dengan prinsipprinsip Islam. (Yapanto & Aini, 2. Penelitian ini dirancang untuk menjawab permasalahan mengenai bagaimana gambaran penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada pasien Tuberkulosis di Puskesmas Tanjung Bumi. Bangkalan. Jawa Timur. Penelitian komprehensif mengenai jenis paket obat OAT yang digunakan dalam pengobatan pasien TB, efek samping yang ditimbulkan akibat penggunaan OAT, serta hasil akhir dari pengobatan Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan Aoadl . penggunaan OAT dalam tanggung jawab kesehatan menurut Islam. Sampel ditentukan secara total sampling dari seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien dengan rekam medik lengkap, dan eksklusi, yakni pasien dengan data tidak Data sekunder diperoleh dari rekam medis dan dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik pasien, jenis OAT yang digunakan, efek samping, serta hasil pengobatan, menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain survei deskriptif yang bertujuan menggambarkan penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada pasien Tuberkulosis di Puskesmas Tanjung Bumi. Bangkalan. Jawa Timur, selama periode Januari hingga Desember 2023. Hasil pengolahan data terhadap jenis kelamin pada pasien Tuberkulosis yang melakukan pengobatan di Puskesmas Tanjung Bumi sebanyak 74 Jenis kelamin laki-laki sebanyak 44 pasien . ,46%) dan perempuan sebanyak 30 pasien . ,54%). HASIL Data yang didapatkan dari rekam medik Puskesmas Tanjung Bumi pada periode Januari Ae Desember 2023 terdapat 5. 766 kunjungan pasien. Pasien rawat jalan sebanyak 5. 303 dan 463 pasien rawat inap. Terdapat 83 Tuberkulosis mendapatkan pengobatan dengan persentase 1,61% dari total kunjungan pasien di puskesmas. Data 74 pasien Tuberkulosis inklusi sehingga dijadikan sampel Tabel 1. Hasil Pasien Tuberkulosis Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Frekuensi Persentase Kelamin Laki-laki 59,46% Perempuan 40,54% Jumlah Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Tabel 2. Hasil Pasien Tuberkulosis Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Persentase . 1 Ae 18 6,76% 19 Ae 25 9,46% 25 Ae 35 12,16% 36 Ae 49 27,03% 50 Ae 59 29,73% Ou 60 14,86% Jumlah Pada tabel di atas menunjukkan dari 74 pasien didapatkan rentang usia 1-18 tahun berjumlah 5 pasien . ,76%), usia 19-25 tahun sebanyak 7 pasien . ,46%), usia 25-35 tahun sebanyak 9 pasien . ,16%), usia 36-49 tahun sebanyak 20 pasien . ,03%), dan usia 50-59 tahun sebanyak 22 pasien . ,73%). Dilanjutkan pasien usia Ou 60 tahun adalah 11 pasien . ,86%). Tabel 3. Hasil Pasien Tubekulosis Berdasarkan Kategori Kategori Frekuensi Persentase Pasien Kategori 1 83,78% Kategori 2 9,46% Kategori 6,76% Jumlah Berdasarkan hasil analisa data, didapatkan pasien yang termasuk dalam kategori 1 sebanyak 62 pasien . ,78%), sedangkan kategori 2 sebanyak 7 pasien . ,46%) dan kategori anak terdapat 5 pasien . ,76%). Tabel 4. Hasil Jenis Paket Obat yang Digunakan Jenis Obat Kategori 1 OAT KDT . RHZE/4RH) OAT dosis tunggal Frekuensi Persentase Kategori 2 OAT KDT . RHZES/1HRZE/5HRE) OAT dosis tunggal . HZES/10HE) 71,43% 28,57% Kategori anak OAT KDT . RHZE/4RH) OAT dosis tunggal Pada tabel di atas menunjukkan obat untuk pengobatan Tuberkulosis pada pasien yang termasuk dalam kategori 1 sebanyak 74 pasien . %) diberikan OAT KDT. Kategori 2 yang diberikan OAT KDT sebanyak 5 pasien . ,43%) dan 2 pasien . ,57%) diberikan OAT dosis tunggal. Pasien yang masuk kedalam kategori anak diberikan OAT KDT sebanyak 5 pasien . %). Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Tabel 5. Hasil Laporan terhadap Efek Samping Pengobatan Efek Samping Frekuensi Mual Tidak Persentase 63,5% 36,5% Penurunan Nafsu Makan Tidak 71,6% 28,4% Nyeri Otot Tidak 56,8% 43,2% Gatal Tidak 36,5% 63,5% Urin Berwarna Merah Tidak 83,8% 16,2% Jumlah Berdasarkan tabel di atas, efek samping setelah pemakaian obat terdapat 47 pasien . ,5%) yang merasa mual dan . ,6%) penurunan nafsu makan. Terdapat 42 pasien . ,8%) yang merasakan nyeri Keluhan gatal yang dirasakan pasien sebanyak 27 pasien . ,5%). Pasien Tuberkulosis sebanyak 62 pasien . ,8%) melaporkan urinnya berwarna merah setelah pemakaian Tabel 6. Hasil Pengobatan Pasien Tuberkulosis Setelah Diberikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Hasil Akhir Pengobatan Frekuensi Persentase Kategori 1 Sembuh 96,8% Pengobatan gagal Putus obat 3,2% Tidak dievaluasi/pindah Meninggal Kategori 2 Kategori Anak Sembuh Pengobatan gagal Putus obat Tidak dievaluasi/pindah Meninggal 71,4% 14,3% 14,3% Sembuh Pengobatan gagal Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Putus obat Tidak dievaluasi/pindah Meninggal Tabel 6 menunjukkan data hasil pengobatan pasien Tuberkulosis di Puskesmas Tanjung Bumi. Pada 62 pasien yang termasuk kategori 1 sebanyak 60 pasien . ,2%) dinyatakan sembuh dan 2 pasien . ,2%) dinyatakan putus berobat. Pasien yang termasuk kategori 2 sejumlah 7 pasien, diantaranya 5 pasien . ,4%) sembuh, 1 ,3%) kesehatan, dan 1 pasien . ,3%) dinyatakan meninggal. Seluruh pasien anak yang terdata 5 pasien . %) dinyatakan sembuh PEMBAHASAN Faktor menjadikan banyaknya jenis kelamin laki-laki yang mengalami Tuberkulosis adalah kebiasaan merokok, minum alkohol, dan beban kerja yang berat serta frekuensi berada di luar rumah lebih banyak. Faktor fisiologi juga berpengaruh karena perbedaan sistem hormonal dapat mempengaruhi respon Pada perempuan terdapat meningkatkan respon imun, sedangkan hormon testosteron yang terdapat pada laki-laki dapat menghambat respon (Novalisa, et al. , 2. Hasil tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nursyafni, et al. , 2. pada pasien Tuberkulosis di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau bahwa penderita paling banyak adalah laki-laki . ,7%) dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan . ,3%). Serta hasil penelitian yang dilakukan oleh (Yani, et , 2. terdapat pasien laki-laki berjumlah 16 . ,3%) lebih banyak dibandingkan perempuan berjumlah 14 . ,7%). Pasien Tuberkulosis terbanyak adalah lansia awal dengan rentang usia 50-59 tahun berjumlah 22 pasien . ,73%). Lalu disusul oleh 20 pasien . , 03%) yang berusia dewasa akhir dengan rentang 36-49 tahun dan pasien lansia akhir berusia Ou 60 tahun sebanyak 11 pasien . ,86%). Pasien dewasa awal rentang usia 25-35 tahun sebanyak 9 pasien . ,16%) serta terdapat 7 pasien remaja akhir dengan rentang usia 19-25 tahun. Jumlah tersedikit adalah pasien anak dengan usia 1-18 tahun sebanyak 5 pasien . ,76%). Namun, terdapat perbedaan pada penelitian yang dilakukan oleh (Sitompul, merupakan pasien kelompok umur dewasa awal dengan rentang 17-25 tahun sebanyak 78 pasien . ,8%) dan lansia awal rentang usia 46-55 tahun sebanyak 67 pasien . ,3%). Lalu disusul oleh kelompok dewasa awal sebanyak 61 pasien . ,4%), kelompok lansia akhir sebanyak 48 pasien . ,2%), dewasa akhir sebanyak 34 pasien . ,8%), dan pasien kategori manula sebanyak 24 . ,6%). Pasien remaja awal sebanyak 3 pasien . %) merupakan yang tersedikit. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Pasien yang berusia 50 tahun ke atas sistem imun tubuhnya semakin berkurang sehingga elastisitas paru menurun akibat penurunan fungsi paru Akibatnya pernapasan mengalami penurunan serta dapat menurunkan aktivitas Tingkat penularan yang sangat tinggi pada pasien usia produktif karena sering berinteraksi dengan orang lain. Pada usia produktif seseorang sedang berada di tahap untuk bekerja atau melakukan sesuatu pada diri sendiri maupun orang lain, sehingga sering bertemu dengan orang (Kasni, et al. , 2. Berdasarkan pengobatan yang diperoleh dari rekam medik bahwa pasien yang melakukan pengobatan di Puskesmas Tanjung Bumi mayoritas adalah kategori 1 . ,78%). Sedangkan pada kategori 2 terdapat 7 pasien . ,46%). Pada kategori anak tercatat terdapat 5 pasien . ,76%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Annisa dan Hastanto bahwa pasien TB di RSUD Cilegon Tahun 2017 yang termasuk dalam kategori 1 lebih banyak yaitu 94 pasien dan kategori 2 hanya 19 pasien. Pasien Tuberkulosis diklasifikasikan dalam pengobatan yang akan dijalani. Kategori dalam pasien TB dapat Kategori 1 diberikan pada pasien TB baru yang riwayat pengobatannya belum pernah diobati menggunakan OAT. Pada kategori 2 merupakan pasien yang sudah pernah menjalani pengobatan menggunakan OAT sebelumnya. (Annisa & Hastono. Berdasarkan hasil jenis paket obat yang digunakan bahwa seluruh pasien yang termasuk dalam kategori 1 menggunakan OAT KDT, dengan regimen pengobatan terdiri dari Rifampisin. Isoniazid. Pirazinamid, dan Etambutol selama 4 bulan fase intensif, serta dilanjutkan pemberian Rifampisin dan Isoniazid selama dua bulan fase Namun, pada pasien kategori 2 terdapat 2 pasien yang menggunakan OAT dosis tunggal karena keadaan pasien alergi terhadap Rifampisin serta pasien lainnya tetap menggunakan OAT KDT. Regimen OAT KDT untuk pasien kategori 2 pada fase intensif Rifampisin. Isoniazid. Pirazinamid. Etambutol, dan injeksi Streptomisin selama 2 bulan, pada fase Rifampisin. Isoniazid. Pirazinamid, dan Etambutol selama 1 bulan, dan dilanjutkan pemberian Isoniazid. Pirazinamid. Etambutol selama 5 bulan. Pasien kategori 2 yang diberikan OAT dosis Isoniazid. Etambutol. Pirazinamid, dan injeksi Streptomisin selama 2 bulan pertama dan dilanjutkan pemberian Isoniazid dan Etambutol pada 10 bulan Pada seluruhnya menggunakan OAT KDT. Efek samping yang paling banyak dilaporkan oleh pasien adalah sebanyak 62 pasien . ,8%) karena membuat pasien merasa khawatir rifampisin yang sebenarnya tidak Kemudian terjadi sindrom dyspepsia seperti mual sebanyak 47 pasien . ,5%) dan penurunan nafsu makan sebanyak 53 pasien . ,6%) Rifampisisn. Isoniazid dan Pirazinamid. Efek samping selanjutnya adalah nyeri otot sebanyak 42 pasien . ,8%) akibat kandungan pada Etambutol. Kemudian Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 27 pasien . ,5%) pasien mengeluhkan gatal karena Isoniazid. Jika terjadi efek samping berat yang dialami pasien gangguan penglihatan, sesak napas serta gangguan ginjal maka obat harus dihentikan sementara dan pasien dirujuk ke dokter spesialis atau fasilitas Kesehatan yang lebih memadai untuk penanganan lebih lanjut. Efek samping yang ditimbulkan oleh pasien perlu penanganan agar tidak terjadi dampak negative yang lebih lanjut. Kemungkinan dampak negative seperti kegagalan terapi, penyakit semakin berat, kepatuhan dalam mengonsumsi obat semakin Penanganan yang paling baik dilakukan adalah penyuluhan dan pemberian informasi kepada pasien. Keluhan mual pada pasien dapat diberikan vitamin B6 dan dianjurkan untuk minum air hangat. Pasien yang mengalami penurunan nafsu makan dianjurkan untuk meminum obat di malam hari sebelum tidur dan pemberian vitamin B kompleks. Keluhan nyeri otot dapat ditangani dengan pemberian obat analgetic seperti ibuprofen. Apabila pasien mengalami gatal pada kulit dapat diberikan antihistamin dan bedak Jika urin pasien menjadi warna merah maka dilakukan pemberian informasi bahwa efek samping tersebut aman dan dianjurkan untuk minum air yang banyak. (Musdalipah, et al. , 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada psien kategori 1 didapatkan hasil sebanyak 60 pasien . ,8%) dinyatakan sembuh dan 2 pasien . ,2%) mengalami putus obat karena tidak mengonsumsi OAT selama 1 bulan. Pasien kategori 2 terdapat 5 pasien . ,4%) dinyatakan sembuh, 1 pasien . ,3%) pindah fasilitas kesehatan sehingga tidak dapat dievaluasi, dan 1 pasien . ,3%) dalam pengobatannya kemudian meninggal. Kemudian dinyatakan sembuh 100%. Pasien pengobatan dinyatakan sembuh karena adanya ketepatan dalam diagnosis, ketepatan dalam pemberian OAT, dan pasien mematuhi aturan pengobatan. Aturan berdasarkan durasi waktu, patuh dalam jadwal pengambilan obat, minum obat teratur sesusai dengan jumlah yang ditentukan. Pasien yang mengalami putus obat dapat diartikan selama menjalani pengobatan tidak sesuai waktu dan durasi minum obat sehingga dapat beresiko kambuh. Faktor dari gagalnya pengobatan adalah pasien mendapat pengobatan dengan kategori yang tidak sesuai dan pasien tidak mematuhi aturan minum (Rokiban & Maykasari, 2. Pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam upaya pengobatan tidak hanya termasuk tindakan medis, di dalamnya terdapat perintah Allah dalam penjagaan jiwa . ife al-naf. yang merupakan salah satu dari lima tujuan utama syariat . aqAid al-syarAoa. Pasien Tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan sangat membutuhkan dukungan sosial. Bukan saja dukungan sosial, pemberian obat nilai-nilai kemanusiaan yang selalu dijunjung tinggi juga merupakan hal penting bagi seorang pasien yang ditegaskan oleh Islam ditegaskan oleh Islam. (AlSyathibi, 2. Stigma negatif terhadap pasien Oleh lembut dan penuh empati untuk Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 memberikan dukungan dan semangat. Hal imi diberikan baik kepada pasien maupun keluarganya. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-QurAoan surah Thaha ayat 44: AuMaka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takutAy. Ayat tersebut tersebut mengajarkan agar nasihat disampaikan dengan lemah lembut, penuh empati, serta disesuaikan dengan kondisi dan situasi pasien, agar mudah diterima. (Hasmiati, et al. , 2. Dokter sebagai care provider wajib memberi pelayanan terbaik dengan empati dan tanpa diskriminasi, kepercayaan pasien untuk mendukung proses kesembuhan. Sikap adil dan tidak memihak tercermin dalam prinsip tawassuth, yakni bersikap tengah dan seimbang (Supiyanti & Muhardi, 2. Hal ini sejalan dengan Surah Al-Baqarah ayat 143: AuDan demikian Kami telah menjadikan kamu . mat musli. , sebagai umat yang di pertengahan agar kamu dapat menjadi saksi atas . manusia dan agar Rasul (Muhamma. kamuAy, yang menyebut umat Islam sebagai ummatan wasatan, umat yang adil dan menjadi saksi bagi pernyataannya harus adil dan bijak. (Nurhasanah, et al. , 2. Seorang mempertimbangkan penyakit penyerta sebelum memberikan terapi agar Rasulullah SAW bersabda. AuLA sarara wa lA sirAr,Ay yang berarti larangan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Hadis ini menegaskan bahwa segala tindakan yang berpotensi mudharat harus dihindari. Dokter bertanggung jawab secara moral dan agama untuk memastikan pengobatan dilakukan dengan hati-hati, tepat dosis, dan dipantau efek sampingnya. Ini sejalan dengan MaqAid al-syarAoah dalam menjaga jiwa uife al-nafs, serta Muslim yang amanah dan menjalankan SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tanjung Bumi Tuberkulosis diberikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam bentuk Kombinasi Dosi Tetap (KDT) . RHZE/4RH) pada kategori 1 . ,78%) dan kategori anak . ,76%). Sementara itu, pada kategori 2 . ,46%) terdapat kombinasi pemberian OAT KDT . RHZES/1HRZE/5HRE) OAT . HZES/10HE), karena kondisi pasien tidak memungkinkan apabila diberikan OAT KDT. Hal ini menunjukkan bahwa Puskesmas dalam memberikan obat pada pasien sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan RI yang menekankan kepatuhan dan efektivitas melalui OAT KDT. Efek samping yang paling banyak dilaporkan meliputi urin berwarna merah . ,8%), penurunan nafsu makan . ,6%), mual . ,5%), nyeri otot . ,8%), dan gatal . ,5%). Meskipun sebagian besar mengalami efek samping, pasien tetap melanjutkan pengobatan hingga selesai. Hal ini kesehatan di Puskemsa Tanjung Bumi pengobatan berjalan dengan baik. Hasil menunjukkan pada pasien kategori 1 keberhasilan pengobatan yang cukup Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 tinggi sebesar 96,8% dan 100%. Sementara menunjukkan hasil yang beragam, dengan tingkat kesembuhan 71,4% serta kasus pindah fasilitas Kesehatan dan meninggal yang persentase masing-masing 14,3%. Data ini menunjukkan bahwa efektivitas OAT cukup tinggi jika diberikan tepat waktu dan sesuai dengan kategori pasien. Prinsip keadilan (Aoad. dalam penggunaan OAT di Puskesmas Tanjung Bumi tercermin dalam akses pengobatan yang merata tanpa diskriminasi untuk seluruh pasien. Sesuai dengan nilai solidaritas dan Islam. Tuberkulosis tanggung jawab sosial bersama, baik dari tenaga medis, keluarga, maupun Dalam pelaksanaannya, perlu ketepatan dalam diagnosis, pemilihan jenis obat, serta dosis yang sesuai untuk mencegah timbulnya efek samping yang membahayakan pasien sehingga terhindar dari mudharat. DAFTAR PUSTAKA