Jurnal Abdimas Pamenang - JAP E-ISSN : 2964-9625 p-ISSN : 2988 – 327X DOI : 10.53599 Vol. 2 No. 1, Januari 2024, Halaman 65-70 PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA MAKANAN PADA SISWA SMA NURUL JADID KERACUNAN FOODBORNE DISEASE FIRST AID TRAINING FOR SMA NURUL JADID STUDENTS Baitus Sholehah1*, Nailul Karomah2, Hengky Irawan3 1,2 Universitas Nurul Jadid, 3 IIK Strada Indonesia *Korespondensi Penulis : eelhygien@unuja.ac.id Abstrak Keracunan makanan merupakan keadaan gawat darurat yang memerlukan penanganan serius untuk mendapatkan pertolongan pertama segera secara tepat untuk menyelamatkan nyawa. Kasus keracunan makanan sering kali terjadi yang disebabkan faktor kurangnya kebersihan lingkungan dan pengelolaan makanan kurang tepat, serta bahan yang digunakan tidak diperhatikan kebersihannya. Kasus keracunan makanan harus mendapatkan perhatian khusus, terutama di kalangan siswa. Pelatihan pertolongan pertama pada kasus keracunan makanan bagi siswa sangat diperlukan mengingat pentingnya penangana awal pada kasus tersebut. Tujuan dilakukan pengabdian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama kasus keracunan makanan pada siswa Palang Merah Remaja (PMR) SMA Nurul Jadid. Metode yang digunakan berupa pelatihan yang melibatkan siswa PMR sebanyak 40 siswa dan di ukur tingkat pengetahuan sebelum dan setelah diberikan pelatihan menggunakan uji Wicoxon. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan siswa antara sebelum dan setelah pelatihan pertolongan pertama dengan nilai sig. atau p value sebesar 0,000 (p<0,05). Kesimpulan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini mampu memberikan perubahan yang signifikan kepada siswa PMR dalam hal pengetahuan memberikan pertolongan pertama pada kasus keracunan makanan dan memberdayakan siswa PMR dalam kegiatan-kegitan yang berhubungan dengan masalah bantuan hidup dasar di lingkungan sekolah. Kata kunci: Pelatihan; Pertolongan Pertama; Keracunan Makanan; Siswa. Abstract Foodborne diseaseis an emergency situation that requires serious treatment to get immediate first aid appropriately to save lives. Cases of foodborne disease often occur due to lack of environmental cleanliness and improper food management, as well as the cleanliness of the ingredients used. Cases of foodborne disease must receive special attention, especially among students. First aid training in cases of foodborne disease for students is very necessary considering the importance of early treatment in these cases. The aim of this service was to determine the level of knowledge before and after being given first aid training for foodborne disease cases for students of Palang Merah Remaja (PMR) SMA Nurul Jadid. The method used was training involving 40 PMR students and the level of knowledge was measured before and after being given the training using the Wicoxon test. The research results showed that there was an increase in students' knowledge between before and after first aid training with a sig. or p value of 0.000 (p<0.05). Conclusion, Community service activities have been able to provide significant changes to PMR students in terms of knowledge of providing first aid in cases of food poisoning and empowering PMR students in activities related to basic life support issues in the school environment. Keywords: Training; First aid; Foodborne Disease ; Student. Pendahuluan Keracunan makanan merupakan keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani Submitted Accepted Website karena dapat menimbulkan masalah serius bahkan kematian (Rachmania and Widayati, 2022). Keracunan memerlukan penanganan : 15 Desember 2023 : 30 Desember 2023 : jurnal.stikespamenang.ac.id | Email : jurnal.pamenang@gmail.com 65 Pelatihan Pertolongan Pertama Keracunan Makanan Pada Siswa SMA Nurul Jadid......(Baitus Sholehah, dkk) serius dan pertolongan pertama yang tepat untuk menyelamatkan nyawa dan harus diterarapkan dalam segala kondisi (Goktas et al., 2014). Makanan merupakan jalur penyebaran pathogen dan toksin yang diproduksi oleh mikroba (Suarjana and Agung, 2013). Keracunan makanan umumnya terjadi pada lingkungan yang kurang bersih dengan pengelolaan makanan kurang tepat, serta bahan yang digunakan tidak diperhatikan kebersihannya akan menyebabkan pertumbuhan bahan mickroorganisme (Rorong and Wilar, 2020). Data World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa kurang lebih 70% kasus keracunan di negara berkembang disebabkan karena makanan yang tercemar. Sedangkan di Indonesia sering terjadi, menurut data Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) (2014) melaporkan ada 200 laporan kasus kejadian luar biasa keracunan makanan (Mustika, 2019). Data Kominfo Jatim bahwa ada sekitar 10.00.0000 – 22.000.000 kasus penyakit yang berhubungan dengan pencernaan diakibatkan oleh keracunan pangan yang tercemar (Dinas Kominfo, 2022). Berdasarkan data Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes R1 (2023) menyebutkan ada bencana Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menimpa siswa di Kota Probolinggo, dimana 20 siswa harus dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami pusing, mual dan muntah setelah mengkomsumsi makanan/minuman (Kemenkes, 2023). Kasus keracunan makanan harus mendapatkan perhatian khusus, terutama di kalangan pelajar (Fitriana, 2021). Keracunan harus mendapatkan pertolongan pertama yang tepat untuk menghindari hal yang tidak diinginkan (Saptiningrum and Widaryati, 2016). Pengetahuan tentang tatacara pertolongan pertama kada kasus keracunan makanan penting untuk disiosialisasikan dan diberikan pelatihan bagi siswa agar dapat memberikan pertolongan pertama secara tepat dan cepat sebelum dibawa ke rumah sakit (Rachmania and Widayati, 2022). Sekolah Menengah Atas (SMA) Nurul Jadid adalah lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Jadid. PMR SMA Nurul Jadid merupakan organisasi kesiswaan yang aktif melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, salah satunya perannya yaitu menjadi first responder jika ada masalah terkait dengan kesehatan terutama kasus keracunan makanan. Pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan untuk siswa PMR menjadi dasar untuk memberikan pertolongan bagi korban yang mengalami keracunan disekitar sekolah dan pondok pesantren Nurul Jadid. Berdasarkan data yang telah dipaparkan maka penulis tertarik untuk melakukan pengabdian dengan mengangkat tema pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan bagi siswa PMR SMA Nurul Jadid. Metode A. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di SMA Nurul Jadid dilaksankan pada bulan September 2023. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan. Pelatihan merupakan metode yang dapat memberikan pengetahuan tentang bagaimana memberikan pertolongan pertama pada kasus keracunan makanan. Pelatihan ini diberikan kepada siswa Anggota PMR SMA Nurul Jadid yang berjumlah 40 responden yang belum mengetahui atau terampil dalam memberikan penanganan terhadap korban keracunan makanan. Pada tahap pelaksanaan awal, responden yang merupakan siswa anggota PMR dilaksanakan pre test terlebih dahulu sebelum diberikan pelatihan. Pre test diberikan kepada seluruh responden untuk mengetahuan tingkat pengetahuan tentang pertolongan pertama keracunan makanan di lingkungan sekolah dan pondok pesantren Nurul Jadid. Alat ukur yang digunakan yaitu berupa kuisioner tingkat pengetahuan pertolongan pertama keracunan makanan yang terdiri dari 15 item pertanyaan. Tahap berikutnya yaitu diberikan materi tentang pertolongan pertama pada kasus keracunan makana, materi yang akan diberikan adalah materi yang sudah jelas referensinya serta dikonsulkan kepada pembimbing lapangan, penyampaian materi kurang lebih 4x50 menit. Setelah penyampaian materi, maka akan dilanjutkan dengan demontrasi pertolongan pertama yang akan melibatkan siswa PMR SMA Nurul Jadid, dan dilanjutkan ketahap post test, seluruh siswa yang menjadi responden diberikan post test dengan menggunakan 66 Pelatihan Pertolongan Pertama Keracunan Makanan Pada Siswa SMA Nurul Jadid......(Baitus Sholehah, dkk) kuisioner tingkat pengetahuan pertolongan pertama keracunan makanan untuk mengetahui tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pelatihan tentang pertolongan pertama keracunan makanan. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon. Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis komparatif numerik dua kelompok berpasangan distribusi tidak normal dan menguji perbedaan tingkat pengetahuan pertolongan pertama keracunan makanan antara sebelum dan sesudah diberikan pelatihan pertongan pertama keracunan makanan. B. Partisipasi Mitra Mitra yang terlibat dalam pengabdian kepada masyarakat yaitu pihak SMA Nurul Jadid. Mitra ini sangat antusias dengan adanya pengabdian ini dan dalam hal ini memberikan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pelatihan dengan menyedian ruangan untuk dilaksanakan pelatihan, mengumpulkan responden sesuai dengan kreteria yaitu siswa anggita PMR, Menyediakan LCD dan Labtop. Kegiatan pelatihan ini terlaksana dengan lancar atas dukungan pihak mitra. Hasil A. Tingkat pengetahuan pertolongan pertama keracunan makanan pada Siswa PMR SMA Nurul Jadid sebelum dan sesudah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Tabel 3.1 Distribusi frekuensi Pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Varibel Pengetahuan Baik Pengetahuan Kurang Pretest 17 23 % 42.5 57.5 Posttest 33 7 % 82.5 17.5 Berdasarkan hasil dari tabel 3.1 dapat dijelaskan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum diberikan pelatihan yaitu diantaranya pengetahuan baik sebanyak 17 responden (22.5%), dan pengetahuan kurang sebanyak 23 responden (57.5%). Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama yaitu diantaranya sebanyak 33 responden (82.5) mempunyai pengetahuan yang baik, dan sebanyak 7 responden (17.5) mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang. B. Perbedaan tingkat pengetahuan pertolongan pertama keracunan makanan pada Siswa PMR SMA Nurul Jadid sebelum dan sesudah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Tabel 3.2 Distribusi Perbedaan Pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. 1a Mean Rank 14.00 Sum Of rank 14.00 30b 16.00 482 N Pengetahuan sebelum – Pengetahuan Setelah Negative rank Positif rank Ties Total 9c 40 Berdasarkan hasil dari tabel 3.2 dapat dijelaskan bahwa perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan pertolongan pertama keracuanan makanan yaitu diantaranya: terdapat 1 responden dengan hasil tingkat pengetahuan setelah pelatihan lebih rendah daripada sebelum diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan, dengan mean rang atau rata-rata penurunan pengetahuan 14.00. sedangkan 30 responden mempunyai pengetahuan lebih baik setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan, dengan mean rank atau rata-rata peningkatan pengetahuan 16.00, dan terdapat 9 responden mempunyai tingkat pengetahuan yang sama anatara sebelum dan setalah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. C. Uji Beda tingkat pengetahuan sebelum dan setelah Pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan pada siswa PMR SMA Nurul Jadid Tabel 3.3 Perbedaan rata-rata tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid sebelum dan setelah diberikanan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Varibel Perbedaan tingkat pengetahuan siswa sebelum dan setelah Pelatihan Keracunan makanan t -6.747 Asymp. Sig. (2-tailed) 0.000 Dalam tabel 3.3 didapatkan bahwa berdasarkan hasil uji Wilcoxon, didapatkan 67 Pelatihan Pertolongan Pertama Keracunan Makanan Pada Siswa SMA Nurul Jadid......(Baitus Sholehah, dkk) bahwa nilai sig. atau p value sebesar 0,000 (p<0,05. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan rata-rata tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid antara sebelum dan setelah diberikanan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Pembahasan A. Pengetahuan siswa Siswa PMR SMA Nurul Jadid sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, yang didapatkan dari hasil pengindraan terhadap objek yang menjadi dasar untuk pengambilan keputusan dan menentukan suatu tindakan terhadap apa yang dihadapi (Yulyana et al., 2023). Pengetahuan didapatkan dari pendidikan formal dan non formal yang dapat memberikan pengetahuan jangka pendek yang dapat menghasilkan perubahan dan peningkatan pengetahuan. Hasil penelitian sebelum diberikan pertolongan pertama keracunan makanan didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid sebelum diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan masih lebih banyak mempunyai pengetahuan kurang sebanyak 23 siswa (57,5%), sedangkan pengetahuan baik sebanyak 17 siswa (42,5%). Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid lebih banyak mempunyai mempunya tingkat pengetahuan kurang daripada pengetahuan baik. Tingakat pengetahuan yang kurang untuk mencegah keracunan makanan dapat menyebabkan keracunan makanan pada seseorang (Sahara and Pristya, 2022). Dalam penelitian (Mshelia, Osman and Misni, 2022), bahwa ada hubungan yang antara pengetahuan yang kurang dengan terjadinya kasus keracunan makanan dan diperlukan peningkatan pengetahuan serta intervensi yang relevab untuk mencehagah resiko keracunan makanan. Pengetahuan di ukur dalam 2 jenis pengetahuan diantaranya yaitu : pengetahuan konseptual, dimana pengetahuan mencakup pengetahuan tentang klasifikasi, prinsip dan teori (Yulyana et al., 2023). Dalam hal ini untuk melihat tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid tentang pertolongan pertama keracunan makanaan, diberikan pelatihan pertolongan pertama. Pelatihan dapat meningkatkan motivasi serta merangsang panca undera dalam hal ini dapat merubah tingkat pengetahuan dan keterampilan setelah diberikan pelatihan (Tamsuri et al., 2020). Tingkat pengetahuan dapat berubah dengan adanya pendidikan pertolongan pertama, siswa yang mendapatkan pendidikan sebagaian besar mengetahui indikasi dan memberikan petunjuk tentang jenis keracunan dan menyampaikan hal tersebut pada tenaga medis dan mereka juga menentukan keberhasilan pertolongan pertama dan pengobatan setelah korban di rumah sakit (Goktas et al., 2014). Hasil penelitian setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan didapatkan bahwa tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan terjadi peningkatan pengetahuan, sebanyak 33 (82.5%) siswa mempunyai tingkat pengetahuan baik, sedangkan sebanyak 7 (17.5%) siswa mempunyai tingkat pengetahuan kurang. Berdasarkan penelitian (Saptiningrum and Widaryati, 2016), dijelakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang tentang keracunan makanan yaitu salah satunya adalah faktor informasi yang nilai kurang. Dalam hal ini, informasi yang dimaksud adalah informasi tentang bagaimana cara melakukan pertolongan pertama keracunan makanan yang benar sehingga dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan. Dalam penelitian (Fitriana, 2021), dijelaskan bahwa pengetahuan tentang pertolongan pertma keracunan makanan sangat penting untuk diberikan untuk menguragi dampak negatif dari keracunan makanan. B. Perbedaan pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid sebelum dan setelah diberikan pertolongan pertama keracunan makanan Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji Wilcoxon terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan pertolongan pertama keracuanan makanan pada siswa PMR SMA Nurul 68 Pelatihan Pertolongan Pertama Keracunan Makanan Pada Siswa SMA Nurul Jadid......(Baitus Sholehah, dkk) Jadid. Berdasarkan hasil tersebut terdapat 1 siswa yang mempunyai tingkat pengetahuan lebih rendah daripada sebelum diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Sedangkan terdapat 30 siswa mempunyai tingkat pengetahuan lebih baik setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan dan sebanyak 9 siswa mempunyai tingkat pengetahuan yang sama anatara sebelum dan setalah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. Keracunan makanan merupakan kejadian dimana dua korban atau lebih mempunyai gejala yang sama atau mendekati sama setelah mereka mengkonsumsi makanan atau minuman yang merupakan sumber keracunan berdasarkan epidemiologinya (Apriliansyah, Zuhrotun and Astrini, 2022). Keracuna makanan sering kali terjadi kepada masyarakat, termasuk siswa yang sering mengkonsumsi makanan atau minuman yang tidak diketahui tingkat kebersihannya, sehingga perlu untuk diantisipasi sebagai upaya untuk mencegah atau menanggulangi angka mortalitas dan morbiditas turun (Apriliansyah, Zuhrotun and Astrini, 2022). Tingkat pengetahuan yang baik tentang pertolongan pertama keracunan makanan dapat menghindari dampak yang sangat merugikan dalam tubuh, termasuk kematian (Fitriana, 2021). Tingkat pengetahuan pada siswa dapat diberikan melalui cara memberikan pendidikan yang yang baik untuk menurunkan angka keracunan makanan agar memiliki pemahaman tentang keracunan makanan (Mshelia, Osman and Misni, 2022). Siswa merupakan populasi yang beresiko mengalami keracuanan, karena dalam praktiknya mereka mengkonsumsi makanan yang kurang aman. Dalam penelitian (Daniels et al., 2002), siswa sekolah berpotensi mengalami wabah keracunan makanan yang didapatkan dari kantin sekolah yang kurang bersih dan terkontaminasi oleh penjamah makanan, dan perlu adanya promosi kesehatan untuk mendapatkan makanan yang layak dikonsumsi oleh siswa di sekolah. Pengetahuan pertolongan pertama pada siswa dapat membantu siswa untuk mengidentifikasi tanda keracunan makanan dan melakukan pertolongan pertama, dengan menghubungi ambulan untuk segera melakukan pertolongan, dalam penelitian (Goktas et al., 2014), terdapat perbedaan anatara siswa yang mendapatkan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan dengan siswa yang belum mendapatkan pelatihan, siswa yang mendapatkan pelatihan dapat mengidentifikasi sistem pencernaan karena mendapatkan pelatihan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian bahwa didapatkan bahwa nilai sig. atau p value sebesar 0,000 (p<0,05 dan dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, berarti terdapat pengaruh pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan terhadap tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid. Pengabdian kepada masyarakat yang diberikan kepada siswa PMR SMA Nurul Jadid adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan serta membekali siswa dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus keracunan makanan. Kegiatan pengabdian ini telah mampu memberikan perubahan yang signifikan kepada siswa PMR dalam hal pengetahuan memberikan pertolongan pertama pada kasus keracunan makanan dan memberdayakan siswa PMR dalam kegiatan-kegitan yang berhubungan dengan masalah bantuan hidup dasar di lingkungan sekolah. Kesimpulan A. Tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid sebelum diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan mempunyai tingkat pengetahuan katagori pengetahuan kurang lebih besar daripada tingkat pengetahuan katagori pengetahuan baik. Sedangkan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan mengalami kenaikan pengetahuan katagori pengetahuan baik. B. Terdapat perbedaan rata-rata tingkat pengetahuan siswa PMR SMA Nurul Jadid antara sebelum dan setelah diberikanan pelatihan pertolongan pertama keracunan makanan. 69 Pelatihan Pertolongan Pertama Keracunan Makanan Pada Siswa SMA Nurul Jadid......(Baitus Sholehah, dkk) Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih kepada Lembaga Penerbitan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Nurul Jadid yang telah mendanai biaya pengabdian kepada masyarakat Daftar Pustaka Apriliansyah, M., Zuhrotun, A. and Astrini, D. (2022) ‘Bakteri Utama Penyebab Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan’, Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 11(3), pp. 226–242. Available at: https://doi.org/10.15416/ijcp.2022.11.3.2 39. Daniels, N.A. et al. (2002) ‘Foodborne disease outbreaks in United States schools’, Pediatric Infectious Disease Journal, 21(7), pp. 623–628. Available at: https://doi.org/10.1097/00006454200207000-00004. Dinas Kominfo (2022) Dinkes Probolinggo Lakukan KIE Keamanan Pangan, Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur. Available at: https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/din kes-probolinggo-lakukan-kie-keamananpangan. Fitriana, N.F. (2021) ‘Gambaran Pengetahuan Pertolongan Pertama Keracunan Makanan’, Jurnal Kesehatan Tambusai, 2(3), pp. 173–178. Goktas, S. et al. (2014) ‘First aid knowledge of university students in poisoning cases’, Turkiye Acil Tip Dergisi, 14(4), pp. 153–159. Available at: https://doi.org/10.5505/1304.7361.2014.1 5428. Kemenkes (2023) Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan di KOTA PROBOLINGGO, JAWA TIMUR, Pusat Krisi Kesehatan. Mshelia, A.B., Osman, M. and Misni, N.B. (2022) ‘A cross-sectional study design to determine the prevalence of knowledge, attitude, and the preventive practice of food poisoning and its factors among postgraduate students in a public university in Selangor, Malaysia’, PLoS ONE, 17(1 January), pp. 1–27. Available at: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0262 313. Mustika, S. (2019) Keracunan Makanan Cegah, Kenali, Atasi. Malang: UB Press. Rachmania, D. and Widayati, D. (2022) ‘Strategi Edukasi Tentang Penanganan Awal Intoksikasi Makanan Dalam Tanggap Kegawatdaruratan’, Prosiding SPIKesNas: Seminar Publikasi Ilmiah Kesehatan Nasional, 1(2), pp. 393–399. Rorong, J.A. and Wilar, W.F. (2020) ‘Keracunan Makanan Oleh Mikroba’, Techno Science Journal, 2(2), pp. 47–60. Sahara, R. and Pristya, T.Y.. (2022) ‘Jurnal Ilmiah Kesehatan 2022 Jurnal Ilmiah Kesehatan 2022’, Jurnal Ilmiah Kesehatan, 21(1), pp. 14–19. Saptiningrum, E. and Widaryati (2016) ‘Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Demonstrasi Terhadap Pengetahuan Pertolongan Pertama Pada Keracunan Makanan Di Padukuhan Sanggrahan Banjarharjo Kalibawang Kulon Progo’, Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta, pp. 4–11. Suarjana, I.. and Agung, A.A.G. (2013) ‘Kejadian Luar Biasa Keracunan Makanan (Studi Kasus di SD 3 Sangeh Kabupaten Badung)’, Jurnal Skala Husada, 10(2), pp. 144–148. Tamsuri, A. et al. (2020) ‘Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat Pada Karang Taruna’, Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan, 6(1), pp. 1–4. Available at: https://doi.org/10.33023/jpm.v6i1.582. Yulyana, N. et al. (2023) Peningkatan Pengetahuan melalui Pendidikan Kesehatan terhadap Keterampilan Pemeriksaan Payudara Sendiri pada Wanita Usia Subur. 70