JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Ke-Islaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Journal Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski doi :x/x. PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS MELALUI PEMBIASAAN SHALAT DHUHA PADA PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS DI SEKOLAH DASAR Retno Intan Kuswari1 Filzatun Nafsi2 Ulvia Fatkurin FuadA Sekolah Tinggi Agama Islam KH. Muhammad Ali Shodiq 1 Sekolah Tinggi Agama Islam KH. Muhammad Ali Shodiq2 Sekolah Tinggi Agama Islam KH. Muhammad Ali ShodiqA intanretno900@gmail. nafsifilzatun@gmail. fuad@gmail. Abstract Character education is an effort to create a generation of intelligent and noble people. The success of character education is not necessarily seen from the perspective of the cognitive domain, but how to balance the cognitive, affective, and psychomotor domains to achieve the desired learning goals. Character education is one of the bulwarks needed in moral improvement in Islam, one of which is the Dhuha prayer activity. During the covid- 19 pandemic, learning is carried out dynamically according to health and safety conditions in each region. Dhuha prayer learning is still carried out even though face-to-face learning is limited. This researcg is descriptive qualitative with case studies. Data collection technique were carried out using in-depth observation methods, in-depth interviews, and documentation. Data analysis is processed through data reduction, data presentation, and conclusions and verification. The result showed that MI Tarbiyatussibyan Tulungagung carried out Dhuha prayer activities in an effort to instill character in schools. Duha prayer activities will continue to be carried out during the covid- 19 pandemic with a hybrid learning system, where 50% of students perform Dhuha prayer activities at school, and the other 50% perform Duha prayer activities online with the zoom application. Keyword: Character education. Dhuha Prayer, and Hybrid learning Abstrak Pendidikan karakter adalah upaya mewujudkan generasi bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia. Keberhasilan pendidikan karakter tidak serta merta dilihat dari perspektif ranah kognitif saja melainkan bagaimana keseimbangan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pendidikan karakter merupakan salah satu benteng yang dibutuhkan dalam pembenahan moral dalam islam, salah satunya dengan kegiatan sholat Dhuha. Pada masa pandemi covid- 19 ini pembelajaran dilaksanakan secara dinamis menyesuaikan kondisi kesehatan dan keselamatan di masing- masing wilayah. Pembelajaran sholat Dhuha tetap dilakukan meskipun dengan pembelajaran tatap muka terbatas. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan studi Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi mendalam, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data diproses melalui reduksi data, penyajian data. Retno Intan Kuswari. Filzatun Nafsi. Ulvia Fatkurin Fuad 76 dan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MI Tarbiyatussibyan Tulungagung melaksanakan kegiatan sholat Dhuha dalam upaya penanaman karakter di sekolah. Kegiatan sholat Dhuha tetap dilaksanakan dalam kondisi pandemi covid 19 dengan sistem pembelajaran hybrid, yaitu 50% murid melakukan kegiatan sholat Dhuha di sekolah, dan 50% lainnya melakukan kegiatan sholat Dhuha secara online dengan aplikasi zoom. Kata kunci: Pendidikan Karakter. Sholat Dhuha, dan Pembelajaran Hybrid Pendahuluan Ada tiga isu utama dalam pendidikan anak muda saat ini. Yang pertama adalah pengembangan visi hidup seseorang yang mencakup penemuan dan/atau pendefinisian misi hidup dan gaya hidup yang diinginkan. Yang kedua adalah pengembangan karakter seseorang, berurusan dengan masalah arah dan kualitas hidup. Yang ketiga berkaitan dengan pengembangan kompetensi yang berkaitan dengan kekhawatiran seberapa baik seseorang mampu melakukan sesuatu1. Pengembangan karakter seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, lingkungan belajar, pola asuh orang tua, lingkungan sosial, dan konsep diri sangat erat berpengaruh dalam pembentukan karakter siswa di sekolah 2 . Sejalan dengan hal tersebut bahwa untuk memperkuat jati diri bangsa diperlukan perangkat untuk meningkatkan kualitas hidup generasi masa depan, sehingga dapat mengembangkan kompetensi secara efektif dan efisien yang dapat dijadikan kekuatan innerbeauty generasi masa depan. Presiden Republik Indonesia sangat memahami modal dasar penting dalam menyiapkan generasi masadepan yaitu Penguatan Pendidikan Karakter yang dituangkan dalam Peraturan Presiden RI (Perpre. Hal ini menunjukkan betapa besar peran karakter dalam menunjukkan kesejatian suatu bangsa. Itu adalah kondisi harapan sebagai suatu bangsa dan perlu untuk sandingkan dengan kondisi riil bangsa ini seperti yang di kemukakan oleh Huitt W. , bahwa pengembangan karakter seseorang berurusan dengan arah dan kualitas hidup. Banyaknya perundungan di dunia pendidikan, melemahnya motivasi menghadapi tantangan kehidupan. Menurut Suyata bahwa dalam beberapa tahun yang lalu Amerika lebih senang menggunakan istilah pendidikan moral, di Asia lebih memilih pendidikan karakter sementara di Inggris menggunakan istilah pendidikan nilai. 3 Sejalan dengan hal tersebut menyatakan bahwa Menurunnya kualitas moral dalam kehidupan manusia Indonesia dewasa ini, terutama di kalangan murid, semakin menambah keyakinan akan pentingnya untuk segera deselenggarakannya penguatan pendidikan Sekolah dituntut lebih proaktif dalam memainkan peran dan tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik dan membantu para siswa membentuk Huitt. Moral and character development. Educational Psychology Interactive. Valdosta. GA: Valdosta State University, 2004 Sekolah Menengah Pertama et al. AuAnalisis Faktor-Faktor Pembentuk Karakter Smart Siswa Di Sekolah Islam Terpadu,Ay Jurnal Pendidikan Karakter 8, no. : 62Ae73, https://doi. org/10. 21831/jpk. Suyata. AuPendidikan Karakter: Dimensi FilosofisAy, dalam Darmiyati Zuchdi . Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pembentukan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Shalat Dhuha Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Di Sekolah Dasar 77 Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu seperti religiusitas dan kemandirian. Era Indstri 4. 0 yang begitu besar pengaruhnya sehingga mampu membuat sekat sekat kehidupan, egosentris menjadi budaya hidup kekinian. Komunikasi personal digital benar benar nyata mampu mengganti peran silaturahmi antar personal dengan tatap muka langsung. Disrupsi teknologi informasi telepon dan sms serta televisi tergantikan bahkan nyaris terdisrupsi dengan teknologi aplikasi berbasis android dan juga IOS. Ketenangan generasi milenial terusik secara sistematis oleh gadget mereka. Kondisi seperti ini yang menjadi trending topik dalam dunia Pendidikan, yaitu perlunya Gerakan Penguatan Pendidikan karakter secara masiv. Pendidikan karakter di MI Tarbiyatussibyan Tulungagung dilaksanakan melalui pembiasaan shalat dhuha di sekolah. Namun pada masa pandemi covid-19 kegiatan pembiasaan ini tidak bisa dilaksanakan disebabkan murid belajar dari rumah. Pembelajaran di masa pandemi berlangsung secara dinamis menyesuaikan risiko kesehatan dan keselamatan masing-masing wilayah sebagaimana ditetapkan pada Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagr. Diterbitkannya Inmendagri No. Tahun 2021 tentang Pemberlakuan PPKM Level 4. Level 3, dan Level 2 Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali menjadi dasar dilaksanakannya pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di sekolahsekolah Sidoarjo. Pemberlakuan PTMT di Sidoarjo menjadi peluang bagi MI Tarbiyatussibyan Tulungagung untuk kembali melaksanakan pembiasaan shalat dhuha agar konsistensi pembiasaan terjaga. Pelaksanaan pembelajaran selama PTMT di MI Tarbiyatussibyan Tulungagung dilaksanakan dengan mengatur jumlah murid yang ke sekolah sebanyak 50% dan 50% murid belajar dari rumah. Untuk memfasilitasi pembiasaan shalat dhuha yang dapat diikuti secara langsung dan bersama oleh murid yang belajar di sekolah dan di rumah, sekolah memerapkan metode pembelajaran hybrid. Berdasar latar belakang tersebut peneliti merasa perlu dan tertarik melakukan penelitian dan menelaah lebih jauh pembentukan karakter religius di masa PTMT melalui metode pembelajaran hybrid. Metode Penelitian ini akan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengunggkap secara gamblang fakta di lapangan mengenai fenomena yang terjadi yang selanjutnya digunakan penelaahan secara mendalam mengenai temuan yang didapatkan. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan- penemuan yang tidak bisa dikur dengan prosedur- prosedur statistik. irtia dati Salsabilah. Zerri Rahman Hakim, and M. Taufik. AuProses Penanaman Karakter Gemar Membaca Pada Siswa Kelas i Melalui Pelaksan Program Literasi,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar 4, no. 115Ae26, https://trilogi. id/journal/ks/index. php/JIPGSD/article/view/682. Creswell. JW. Desain Penelitian: Pendekatan Metode Kualitatif. Kuantitatif, dan Campuran . disi ke-. Thousand Oaks. CA: Sage. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Retno Intan Kuswari. Filzatun Nafsi. Ulvia Fatkurin Fuad 78 Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman obeservasi, dan studi dokumentasi. Adapun langkah-langkah pelaksanaan penelitian adalah mengumpulkan data wawancara dari narasumber yang kemudian diolah, hasil obeservasi pengamatan di lapangan, pengumpulan dokumen-dokumen gerakan literasi sekolah. Kemudian melakukan pengumpulan data keseluruhan dengan membuat gambaran-gambaran data dan langkah selanjutnya melakukan analisis data yang telah terkumpulkan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Kebijakan pemerintah tentang Pendidikan karakter Pemerintah telah menerbitkan Perpres (Peraturan Preside. No 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter murid melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). 6 Selanjutnya diatur juga tentang cara implementasi Penguatan Pendidikan Karakter pada pasal 6 ayat1 dijelaskan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Langkah serius pemerintah ini diperjelas dengan langkah langkah teknik dan sistematis dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter kepada murid melalui pembelajaran yang di integrasikan kedalam setiap muatan mata Disebutkan juga bahwa pelibatan keluarga dan masyarakat dalam kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka efektivitas pelaksanaan penguatan pendidikan karakter sebagai bentuk Gerakan Nasional Revolusi Mental. Sejalan dengan pelaksanaan penguatan pendidikan karakter yang juga bertujuan untuk . membangun dan membekali murid sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan. mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi murid dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya. merevitalisasi dan memperkuat potensi serta kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, murid, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK. 8 Hal ini menunjukkan bahwa Pendidikan karakter menjadi ruh utama Pendidikan di Indonesia dalam rangka membentuk jati diri bangsa yang kuat melalui Pendidikan formal, non formal, dan informal sehingga memiliki karakteristik kebangsaan yang memiliki fleksibility dan adaptable terhadap perkembangan teknologi masa depan. Pada pasal 3 Perpres 87 tahun 2017 mengatakan bahwa PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur. Anshory,S. Kontribusi Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Pendidikan Karakter. Jurnaledueksos. Volume 3 Nomer 2. Ajat Sudrajat. AuMengapa Pendidikan Karakter. Ay Jurnal Pendidikan Karakter I, no. 1 2021: 47Ae58. https://doi. org/10. 21831/jpk. Agniezka Bates. Character education and the Aopriority of recognitionAo. Pages 695-710. Published online: 01 Apr 2019, doi. org/10. 1080/0305764X. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pembentukan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Shalat Dhuha Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Di Sekolah Dasar 79 toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungiawab. Pada tahap ini peneliti mengambil fokus permasalahan pada pembentukan karakter religiusitas murid. 9 Peneliti menganalisis kegiatan yang dilakukan di MI Tarbiyatussibyan Tulungagung tentang pembentukan karakter religiusitas dengan cara memberikan pembiasaan menjalankan sholat dhuha sebagai sarana membentuk karakter murid. Program Pembiasaan Sholat Dhuha MI Tarbiyatussibyan Tulungagung dalam menjalankan proses pendidikan memiliki ke khasan yaitu implementasi pembiasaan positif harian dengan cara menjalankan sholat dhuha di pagi hari. Sebagai pembiasaan positif seperti sholat dhuha*) memiliki tujuan strategis bagi sekolah yaitu upaya pembentukan karakter religious murid. Hal itu sejalan dengan pemikiran Thomas Lickona tentang isu-isu seperti nilai-nilai etika inti dan pembenarannya, definisi karakter, pendekatan yang komprehensif dan disengaja untuk mengembangkan karakter yang baik, mengembangkan sekolah sebagai komunitas yang peduli, hubungan antara pendidikan karakter dan kurikulum akademik dan 10 Hal ini mencerminkan sebuah kondisi pembelajaran yang aktif dan disengaja untuk memberikan pembiasaan . karakter positif yang dikembangkan oleh sekolah dan dijadikan kurikulum tersembunyi . idden curriculu. dan menjadi kekhasan sebuah sekolah. Hal ini juga dikuatkan oleh Agniezka bahwa pengakuan orang lain sebagai prasyarat untuk tindakan moral memberikan landasan bagi pendekatan pendidikan karakter yang memperhitungkan hubungan intersubjektif di sekolah dan konteks sosial yang lebih luas di mana karakter dibentuk. Sekolah merupakan wahana yang efektif untuk penenaman karakter positif peserta didik karena merupakan komunitas masyarakat sosial yang berskala kecil. Dan dapat memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk membentuk karakter positif kepada peserta didiknya secara efektif dengan menjadikannya program wajib sekolah ataupun sebagai kurikulum tersembunyi. MI Tarbiyatussibyan Tulungagung memiliki kemiripan motivasi dalam melakukan proses pembentukan karakter peserta didik dengan pendapat Aristoteles dalam Andrew Patterson yang mengingatkan bahwa 'tidak ada pelajaran yang lebih penting untuk dipelajari atau kebiasaan yang harus dibentuk daripada penanaman nilai nilai kebenaran. 12 MI Tarbiyatussibyan Tulungagung meyakini bahwa konsep pembentukan karakter positif peserta didik melalui aktivitas sholat dhuha setiap pagi merupakan penanaman nilai nilai kebenaran dan dapat menjadikan motivasi dalam meraih prestasi pembelajaran. Program shalat dhuha di MI Tarbiyatussibyan Tulungagung dirancang oleh sekolah dalam rapat kerja sekolah tahunan dan dievaluasi setiap semesternya oleh sekolah yang kemudian dilaporkan Perpres No 87 tentang Penguatan Pendidikan Karakter . https://w. id/arsip/detail/10365/perpres-no-87-tahun-2017 Thomas Lickona. Eleven Principles of Effective Character Education. Pages 93-100 | Published online: 07 Jul 2006, org/10. 1080/0305724960250110 Agniezka Bates. Character education and the Aopriority of recognitionAo. Pages 695-710. Published online: 01 Apr 2019, doi. org/10. 1080/0305764X. Andrew Patterson, 2019. Character education, the individual and the political. Pages 143-157 | Published online: 24 Sep 2019, doi. org/10. 1080/03057240. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Retno Intan Kuswari. Filzatun Nafsi. Ulvia Fatkurin Fuad 80 kepada Persyarikatan Muhammadiyah juga kepada komite sekolah sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program sekolah. Untuk menjaga konsistensi pembiasaan shalat dhuha maka pada saat PTMT kegiatan shalat dhuha tetap dilaksanakan. Kegiatan PTMT di MI Tarbiyatussibyan Tulungagung dilaksanakan dengan cara pembelajaran hybrid, yaitu 50 % murid mengikuti pembelajaran dari rumah secara online melalui zoom meeting dan 50% murid mengikuti pembelajaran dari ruang kelas di sekolah. Pada pembelajaran secara hybrid, murid yang ada di sekolah maupun di rumah mengikuti semua aktivitas belajar, materi, dan waktu yang sama. Hanya tempat belajar saja yang berbeda. Secara teknis program pembentukan karakter religiusitas dilakukan oleh tim guru yang pimpin oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang AL Islam dan Bahasa Arab MI Tarbiyatussibyan Tulungagung dengan sistematika sebagai berikut. Tujuan Program Sholat Dhuha Tujuan dari kegiatan pembiasaan shalat dhuha adalah membentuk akhlakul karimah murid dan menanamkan kebiasaan shalat dhuha sedini mungkin. Dengan adanya pembiasaan shalat dhuha yang dilakukan secara terus menerus diharapkan akan menimbulkan kemandirian shalat dhuha murid dan menumbuhkan kesadaran bahwa shalat dhuha adalah bagian dari kebiasaan baik yang dibudayakan, murid akan merasa menyesal jika mereka meninggalkan shalat dhuha, dan murid menyadari dan memahami keutamaan shalat dhuha yaitu sebagai sedekah bagi anggota badan seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, : AuDari Abu Dzar. Dari Rasulullah SAW, diriwayatkan bahwa beliau bersabda. AuHendaklah setiap pagi setiap pagi setiap sendi salah seorang di antara kamu melakukan sedekah, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah. Semua itu dicukupi dengan dua rakaat yang dilakukan di waktu dhuha. Ay (HR. Musli. Implementasi Pembiasaan shalat Dhuha di masa ini dikerjakan oleh guru, karyawan dan seluruh murid mulai kelas I sampai VI dengan teknis pelaksanaan: Shalat dhuha di ruang kelas Siswa sudah wudlu dari rumah Shalat jamaah di kelas Shalat dhuha di rumah Siswa berwudlu sebelum shalat Shalat dilaksanakan sendiri di Imam shalat dhuha adalah salah Gerakan shalat dan/atau bacaan satu siswa sesuai jadwal imam mengikuti yang terdengar di kelas online . Bacaan shalat: Bacaan shalat: - Kelas 1,2,3 secara jahr dipandu - Kelas 1,2,3 secara jahr dipandu guru kelas/ismuba guru kelas/ismuba yang ada di - Kelas 4,5,6 secara siri - Kelas 4,5,6 secara siri Setelah shalat membaca doa Setelah shalat membaca doa JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pembentukan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Shalat Dhuha Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Di Sekolah Dasar 81 kelas/ismuba Pendamping kegiatan adalah team teaching Ismuba kelas/ismuba Pendamping kegiatan adalah orang tua/anggota keluarga/ diri sendiri Tabel 1. Teknis Pelaksanaan Shalat Dhuha Tim Guru Pendamping Pelaksanaan Sholat Dhuha Tabel 2. Team Teaching Shalat Dhuha Evaluasi Program Dalam sebuah tatakelola yang efektif harus memenuhi kaidah tatakelola yaitu perencanaan, implementasi, evaluasi (PIE) sehingga tatakelola dapat diukur capaian efektivitas dan efisiensi. Dalam permasalahan sholat dhuha ini penulis juga membuat evaluasi dengan cara wawancara langsung kepada informan yang terdiri dari murid, dan wali murid. Penulis menyusun pertanyaan untuk mengukur tingkat capaian dan implikasinya terhadap capaian hasil belajar. Penulis juga membuat inisial untuk melindungi nama informan yang sebenarnya antara lain. murid pertama (M. , murid kedua (M. , dan Murid 3 (M. Sedangkan informan wali murid diberi inisial (WM. untuk wali murid pertama, (WM. wali murid kedua, (WM. wali murid ketiga, sedangkan untuk pewawancara menggunakan inisial (W). AuPada waktu kapan kamu melaksanakan sholat dhuha?Ay M1. M2. M3 AuPagi hariAy WM1. WM2. WM3 AuPagi hariAy AuSiapa yang menyuruh sholat dhuha?Ay M1. M2. M3 AuBu Guru. Mama. Mau sendiriAy WM1. WM2. WM3 AuGuru. Kemauan sendiriAy : AuApa yang dirasakan setelah sholat dhuha?Ay JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Retno Intan Kuswari. Filzatun Nafsi. Ulvia Fatkurin Fuad 82 M1. M2. WM1. WM2. WM3 M1. M2. WM1. WM2. WM3 M1. M2. WM1. WM2. WM3 AuSenangAy : AuSenang. Nyaman. tentramAy : AuMengapa kamu melakukan sholat dhuha?Ay : AuDisuruh Bu Guru. SenangAy AuProgram sekolah. Agar anak terbiasaAy AuBagaimana sholat dhuha dilakukan?Ay AuPagi hari, berwudhu dulu lalu sholat 2 rokaat. Ay AuPagi hari di rumah, berwudhu dulu lalu sholat 2 rokaat. Ay Dari petikan wawancara di atas dapat dipahami bahwa sholat dhuha adalah program sekolah, yang dilaksanakan di pagi hari. Pelaksanaan sholat dhuha diawali dengan berwudhu terlebih dahulu, lalu sholat sebanyak 2 rokaat. Ada yang menjadi garis bawah menarik dari wawancara tentang perasaan peserta didik setelah melaksanakan sholat dhuha yaitu perasaan senang. Untuk dapat belajar dengan maksimal karena berbekal senang dalam menjalankan aktivitas awal atau pagi hari. Bahkan dari hasil wawancara muncul jawaban bahwa melakukan aktivitas sholat dhuha karena kemauan atau keinginan murid sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pembiasaan sholat dhuha sudah menginternal dalam diri peserta didik sehingga sholat dhuha menjadi kebutuhan religious bagi murid. Kesimpulan Pelaksanaan pembiasaan sholat dhuha yang dilakukan oleh MI Tarbiyatussibyan Tulungagung memiliki implikasi positif terhadap pembentukan karakter religious. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa implikasi dari pembiasaan sholat dhuha adalah munculnya karakter religious dari murid dengan adanya jawaban dari murid bahwa melaksanakan sholat dhuha adalah maunya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa proses internalisasi pembiasaan sholat dhuha oleh sekolah dapat membentuk karakter religious paserta didik secara efektif. Saran peneliti kepada para peneliti untuk dapat membuat kajian yang lebih mendalam tentang pembentukan karakter religious dengan menggunakan pembiasaan sholat dhuha. Pembiasaan sholat dhuha yang dilakukan oleh MI Tarbiyatussibyan Tulungagung dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pembentukan karakter religious di sekolah lainnya. Daftar Rujukan Andrew Patterson, 2019. Character education, the individual and the political. Pages 143-157 | Published online: 24 Sep 2019, doi. org/10. 1080/03057240. Agniezka Bates, 2019. Character education and the Aopriority of recognitionAo. Pages 695-710. Published online: 01 Apr 2019, doi. org/10. 1080/0305764X. Anshory,S. , 2014. Kontribusi Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Pendidikan Karakter. Jurnaledueksos. Volume 3 Nomer 2 Dewantara . Ki Hajar. Pemikiran. Konsepsi. Keteladanan. Sikap Merdeka I (Pendidika. Yogyakarta: USTPress. Fattah Hanurawan, 2016. Filsafat Ilmu Dalam Bidang Pendidikan. FPPSI-UM Huitt. Moral and character development. Educational Psychology Interactive. Valdosta. GA: Valdosta State University Inmendagri No. 30 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan PPKM Level 4. Level 3, dan Level 2 Covid-19 di Wilayah Jawa Bali. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pembentukan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Shalat Dhuha Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Di Sekolah Dasar 83 https://covid19. id/storage/app/media/Regulasi/2021/Agustus/inmendagri-no-30-tahun-2021tentang-ppkm-level-4-level-3-level-2-jawa-bali. Pertama. Sekolah Menengah. Kurikulum Pendidikan Nasional. S M P Islam. Terpadu Nurul, and Fikri Depok. AuAnalisis Faktor-Faktor Pembentuk Karakter Smart Siswa Di Sekolah Islam Terpadu. Ay Jurnal Pendidikan Karakter 8, no. : 62Ae73. https://doi. org/10. 21831/jpk. Salsabilah, irtia dati. Zerri Rahman Hakim, and M. Taufik. AuProses Penanaman Karakter Gemar Membaca Pada Siswa Kelas i Melalui Pelaksan Program Literasi. Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar 4, 2 . : 115Ae26. https://trilogi. id/journal/ks/index. php/JIPGSD/article/view/682. Sudrajat. Ajat. AuMengapa Pendidikan Karakter. Ay Jurnal Pendidikan Karakter I, no. : 47Ae58. https://doi. org/10. 21831/jpk. Perpres No 87 tentang Penguatan Pendidikan Karakter . https://w. id/arsip/detail/10365/perpres-no-87-tahun-2017 Santrock. John W. Educational Psychology, terj. Diana Angelica. Jakarta: Salemba Humanika. Shihab. Quraish. Yang Hilang dari Kita Akhlaq. Tangerang: Lentera Hati. Sudrajat. Ajat. Mengapa Pendidikan Karakter. https://doi. org/10. 21831/jpk. Suyata. AuPendidikan Karakter: Dimensi FilosofisAy, dalam Darmiyati Zuchdi . Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press Thomas Lickona, 2006. Eleven Principles of Effective Character Education. Pages 93-100 | Published online: 07 Jul 2006, doi. org/10. 1080/0305724960250110 Walsh. The three dimensions of education. Paper presented at the Annual Meeting of the Pennsylvania School Boards Association. Wolfgang Althof & Marvin W. Bekowitz, 2006. Moral education and character education: their relationship and roles in Pages Published Nov org/10. 1080/03057240601012204 JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 75-83 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski