Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI DENGAN PERTUMBUHAN DAN KESEHATAN BAYI USIA 2 BULAN Maria Lepong1. Endang Titi Amrihati2. Hosizah3 1Nutritionist 2Polytechnic of Health Jakarta II. Department of Nutrition. Ministry of Health Republic of Indonesia 3Department of Nutrition Faculty of Health Sciences. Esa Unggul University hosizah@esaunggul. Abstract Early Initiation of Breastfeeding (IMD) is a government program to increase the quality and quantity of breast feeding for infants. Breast milk is the main food for infants, it also reduce the risk of infectious diseases that can adversely affect to the growth of infants. The objective of this study was to understanding the effect of IMD on the growth and health for infants aged 2 months. This study is retrospective study with total sample was 41 and get data from KMS with the complete data of birth weight and routinely monitored every month until the age of 2 months. The infants do not have abnormality or specific disease since birth. The Indicators of this study is IMD with breastfeeding within 1 hour after birth. The growth of infants, measured by an increase in body weight (BW ) and body length ( PB ) from birth until the age of 2 months. The health data, measured by the frequency of occurrence of illness from birth until the age of 2 months. Analysis of the data using T-test Independent and regression test. The results shows the number of infants who with IMD is 31. 96 %. The average of weight and length infants who with IMD greater than infants with non-IMD. The increase average of weight and length for infant with IMD respectively are A 179. 89 g ( t = 2. 197 , p = 034 ) and A 2. 138 cm ( t = 2. 197 , p = 0. 034 ). The incidence of illness in infants with IMD less than infants with non-IMD, which is about -7. 034 ( t = 1. 953 , p = 048 ) scor event of sickness. IMD in this study led to the growth and health of infants to be better than non-IMD. Keywords: IMD. Growth and Health. Infants 2 months Abstrak Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberian ASI kepada bayi. ASI merupakan makanan utama bagi bayi. ASI juga dapat mengurangi risiko penyakit infeksi yang dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan bayi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh IMD terhadap pertumbuhan dan kesehatan bayi berusia 2 bulan. Penelitian bersifat retrospektif dengan sampel berjumlah 41 dan memiliki data KMS dan berat badan lengkap dari kelahiran dan dipantau rutin setiap bulannya hingga berusia 2 bulan. Bayi tidak mempunyai kelaianan atau penyakit khusus sejak lahir. Indikator penelitian ini ialah IMD yaitu pemberian ASI dalam waktu 1 jam setelah lahir. Pertumbuhan bayi, diukur berdasarkan peningkatan berat badan (BB) dan panjang badan (PB) sejak lahir sampai usia 2 bulan. Kesehatan, diukur berdasarkan frekuensi kejadian sakit dari lahir sampai usia 2 bulan. Analisa data yang digunakan adalah uji T dan uji regresi. Berdasarkan hasil analisis diketahui jumlah bayi yang IMD sebesar 31,96%. Rata-rata BB dan PB bayi IMD lebih besar dibandingkan bayi non-IMD. Bayi IMD rata-rata peningkatan BB A179,89g . =2,197. p=0,. dan rata-rata peningkatan PB A2,138cm . =2,197. p=0,. Kejadian sakit pada bayi IMD lebih sedikit dibandingkan bayi non-IMD, yaitu sebanyak -7,034 . =1,953. p=0,. scor kejadian sakit. IMD dalam studi ini menyebabkan pertumbuhan dan kesehatan bayi menjadi lebih baik dibandingkan non-IMD Kata Kunci: IMD. Pertumbuhan dan Kesehatan. Bayi usia 2 bulan Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan disusui dalam 1 jam pertama setelah Angka ASI eksklusifpun masih rendah, yaitu hanya sebesar 7,8% diantara bayi-bayi yang diberi ASI sampai usia 6 bulan. Lama pemberian ASI hanya 22 bulan, dan ratarata pembeian ASI eksklusif adalah hanya 1,6 bulan. Bahkan data WHO 2002, menyebutkan bahwa hanya 39% dari semua bayi di dunia yang mendapat ASI eksklusif (WHO, 2. ASI dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas karena disamping nilai gizinya tinggi juga melindungi bayi dan balita dari berbagai macam infeksi. ASI menyumbang 13% dalam menurunkan angka kematian pada anak balita (Lancet Child Survival Series Rendahnya tingkat konsumsi ASI, baik dari pemberian ASI 1 jam pertama setelah kelahiran maupun ASI eksklusif khususnya pertambahan berat badan dan panjang badan bayi menjadi terhambat. Kondisi berat badan bayi dan panjang badan bayi yang tidak sesuai dengan standar pertumbuhan merupakan salah satu faktor terjadinya penyakit pada bayi. Berdasarkan angka proporsi penyakit yang menyebabkan kematian bayi masih tinggi di Indonesia hasil Riskesdas 2007, proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari adalah sebagai berikut . meningitis/encephalitis 9. 3%, malnutrisi Fenomena inilah yang pada akhirnya mendorong pemerintah untuk menggalakkan program inisiasi menyusu dini. Namun penelitian berpengaruh tentang inisiasi dini terhadap kejadian sakit dan perubahan berat badan belum banyak Oleh karena itu penelitian ini bermaksud untuk mengetahui apakah ada Pengaruh antara penerapan inisiasi menyusu dini dengan pertumbuhan dan kesehatan pada bayi, khususnya bayi dalam usia 0 Ae 2 bulan pertama. Pendahuluan Dalam upaya pencapaian derajat meningkatkan mutu kehidupan bangsa, keadaan gizi yang baik merupakan salah satu unsur penting. Kekurangan gizi, morbidiatas terutama pada bayi dan Sebagai indikator derajat kesehatan anak. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka kematian balita merupakan indikator yang penting. Menurut SDKI, kematian bayi menurun sebesar 48A selama satu dekade dari 68 per1000 kelahiran hidup pada periode 1987 Ae 1991 menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup pada periode 1998 Ae Begitu juga dengan angka kematian balita, pada kurun waktu yang sama menurun sebesar 52A dari 97 menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup. Walaupun kemajuan sangat bermakna, namun tingkat kematian di Indonesia masih negara-negara ASEAN. Diperkirakan bahwa 20 bayi meninggal setiap jam sebelum mencapai usia 1 tahun. Hampir setengah dari kematian bayi ini terjadi pada masa neonatal yaitu pada bulan pertama kelahiran (Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2002-3 (Indonesia DHS, 20. Berbanding lurus dengan hal tersebut, masalah kurang gizi di Indonesia juga masih tinggi, hal ini ditandai dengan 13,0 % anak balita di Indonesia menderita kurang gizi dan 5,4 % anak balita menderita gizi buruk (Riskesdas 2. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kematian pada bayi dalam masa tersebut adalah melalui pemberian ASI. Penerapan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), yaitu pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah kelahiran merupakan salah satu program yang dilakukan ASI. Menurut Edmond, et. dalam Pediatrics. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dapat melindungi bayi baru lahir. Sebanyak 22% angka kematian bayi baru lahir dapat dicegah dengan menyusui dalam waktu 1 jam setelah lahir. 2 Namun Metode Penelitian Lokasi penelitian ini dilaksanakan di beberapa rumah bersalin swasta dan RS bersalin di bawah Puskesmas di wilayah Jakarta Timur. Waktu penelitian telah dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu sayangnya hanya 3,7% bayi di Indonesia Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan bulan Agustus 2009. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan studi deskriptif analitik. Penelitian ini bersifat memaparkan hasilhasil penelitian dalam bentuk statistic sederhana sehingga lebih mudah mengerti dengan mendapatkan gambaran yang jelas mengenai hasil penelitian dan pada terhadap variabel dan secara analitik untuk menganalisa variabel yang diteliti. Penelitian ini menggunakan rancangan retrospektif karena masalah yang diamati pada waktu yang telah berlalu dengan menggunakan data primer. Populasi menyusui/ibu yang baru melakukan persalinan dan bayi yang tinggal di daerah Jakarta Timur. Sampel adalah penelitian ini adalah ibu menyusui/ibu yang baru melakukan persalinan dan bayi yang Jakarta Timur, berjumlah 41 sampel dan memiliki kriteria sebagai berikut : Kriteria Lokasi Penelitian Terletak di dua kecamatan yang ada di Jakarta Timur, kecamatan Matraman dan Makasar Kriteria Ibu Menyusui Ibu-ibu yang menyusui/ ibu yang baru melahirkan di puskesmas Negeri dan klinik bersalin swasta. Ibu-ibu yang menyusui/ ibu yang baru melahirkan 2 bulan terakhir Bersedia menjadi sampel, dengan mengisi form konklusi dan bersedia Kriteria Bayi Bayi berusia 2 bulan, tidak memiliki penyakit bawaan atau kelainan bawaan atau cacat pada saat lahir. Bayi yang memiliki data riwayat kesehatan yang saat lahir maupun saat penelitian dilakukan. Bayi mendapatkan ASI Teknik Pengambilan Sampel Lokasi Penelitian Penentuan Matraman Makasar mewakilkan kesepuluh kecamatan yang Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 ada di wilayah Jakarta Timur. Menyusui dan Bayi Pengambilan sampel dengan cara probability sampling yaitu dengan simple random sampling, pengambilan sampel dilakukan secara acak ibu menyusui atau kepada bayi, dijadikan sampel yang akan diteliti. Pengambilan sampel ini menggunakan Hasil dan Pembahasan Karakteristik Responden Penerapan Inisiasi Dini Berdasarkan dapat diketahui bahwa 41 ibu menyusui, 34,1% pemberian ASI 1 jam pertama setelah Data ini selaras dengan Survey Cepat ASI Ekslusif di kelurahan Jakarta Timur pada tahun 2005 oleh Dinas Kesehatan Propinsi DKI, berdasarkan data yang ada, jumlah ibu menyusu yang menerapkan IMD hanya sebanyak 28%. Rendahnya jumlah ibu menyusui yang menerapkan IMD ini juga Indonesia, dimana hanya 3,7% bayi di Indonesia disusui dalam 1 jam pertama setelah kelahiran. Berat Badan Bayi Rata-rata badan bayi adalah sebesar 1495,12g. Jika dibandingkan dengan rata-rata peningkatan berat badan bayi normal sebesar 1400gr. Maka data ini dapat dikatakan sesuai. Namun peningkatan berat badan bayi terendah adalah 300g Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan termasuk dalam peningkatan BB dalam kelompok buruk. (Soetjiningsih, 1. Pada peningkatan BB tertinggi adalah Angka ini cukup tinggi, hampir 2 kali lipat dari peningkatan normal. Kondisi ini dapat terjadi apabila konsumsi bayi akan ASI baik, dan produksi ASI ibu juga dalam kualitas dan kuantitas yang Jika dibandingkan dengan hasil survey pada tahun 2005, diwilayah Jakarta timur bayi yang memiliki status gizi normal sekitar 71%, maka dapat dilihat bahwa hasil penelitian ini cukup selaras dengan hasil survey tersebut. Pengaruh Penerapan Inisiasi Menyusu Dini dengan Peningkatan Berat Badan Pertumbuhan bayi dengan indikator berat badan didapatkan bahwa sekalipun tidak terdapat Pengaruh yang signifikan antara peningkatan BB bayi dengan IMD. Hal ini dapat dikarenakan fungsi dari penerapan IMD adalah mengoptimalkan pemberian ASI yang dimulai sejak bayi dilahirkan. Pemberian ASI selama 1 jam setelah melahirkan akan memberi kesempatan sekaligus zat antibody yang sangat dibutuhkan oleh bayi yang banyak terdapat didalam kolostrum. (Savitri. Namun peningkatan rata-rata BB pada bayi yang IMD . lebih tinggi dibandigkan dengan yang tidak IMD . yaitu sebesar, 200,10g, cukup memberikan gambaran bahwa dengan pemberian IMD, mengkatkan kualitas kesehatan dan pertumbuhan pada bayi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sjahmien, bahwa rata-rata pertumbuhan bayi terjadi umum kepada seluruh bayi, sebab pada masa tersebut bayi memasuki masa pertumbuhan emas. Bahkan tak jarang bayi dengan konsumsi PASI dibandingkan bayi dengan ASI, sebab tingginya lemak dalam susu sapi. Panjang Badan Bayi Rata-rata peningkatan panjang badan bayi adalah sebesar 8,88cm. Peningkatan Panjang terpendek adalah 4 cm dan terpanjang 14 Rata-rata peningkatan PB tersebut dalam kriteria peningkatan PB bayi normal, sebab rata-rata peningkatab PB bayi dalam kondisi normal adalah 4 Ae 4,5 cm/ bulan. Panjang badan dapat pertumbuhan fisik karena berhubungan dengan pertumbuhan komposisi tulang. Selain dari pada itu perhitungan PP menurut umur juga dapat dijadikan indikator status gizi bayi. Frekuensi Kejadian Sakit pada Bayi Kesehatan berdasarkan hari dan tingkat kejadian sakit . cor 1 untuk tidak sakit dan 5 untuk setiap kejadia. maka dapat diketahui bahwa rata-rata frekuensi kejadian sakit adalah sebanyak 2 kali . cor=10,. Jumlah frekuensi kejadian sakit tersering . 9 kali, dan terendah tidak perneh mengalami sakit. Jika dilihat dari data kejadian sakit yang ada, maka jenis penyakit yang paling sering dialami oleh bayi adalah diare dan batuk pilek. Hal ini sesuai dengan hasil survey, tahun 2005 yang menunjukan status kesehatan bayi, dilihat dari pernah mengalami sakit, maka diketahui, jumlah bayi yang menderita diare adala sebesar 9,2 %, dan menderita ISPA 60,9%. Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Pengaruh Penerapan Inisiasi Menyusu Dini dengan Peningkatan Panjang Badan Pertumbuhan indikator panjang badan dapat diketahui bahwa terdapat Pengaruh yang signifikan antara peningkatan PB bayi dengan IMD. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa merupakan salah satu cara untuk kesehatan bayi. Selain daripada itu terdapat juga peningkatan rata-rata PB pada bayi yang IMD . lebih tinggi dibandigkan dengan yang tidak IMD . juga memberikan gambaran yang jelas dipengaruhi oleh pemberian ASI, dan IMD. Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan Diagram 1 Pengaruh IMD dengan pengkatan BB Diagram 2 Pengaruh IMD dengan pengkatan TB Diagram 3 Pengaruh IMD dengan Kejadian Sakit pada bayi Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan sehat juga dapat diartikan kondisi bayi tidak mengalami kecacatan fisik, tidak mengalami gangguan fungsi tubuh, juga tidak terinfeksi oleh penyakit. Pengaruh Penerapan Insisiasi Menyusu Dini Dengan Kesehatan Bayi Melalui Frekuensi Kejadian Sakit pada Bayi Berdasarkan didapatkan terdapat Pengaruh yang signifikan antara Kejadian Penyakit pada Bayi dengan IMD. Hal ini berarti penjelasan bahwa kandungan kolostrum yang terdapat dalam ASI saat pertama kali diberikan memiliki kandungan antibody yang tinggi untuk dapat menjaga kondisi kesehatan bayi dari berbagai macam Hal ini juga terlihat, bahwa pada bayi yang diberikan penerapan IMD memiliki frekuensi kejadian sakit lebih rendah . dibandingkan dengan yang bayi yang tidak IMD . Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan WHO terhadap kesehatan ASI menjadi asupan makanan terlengkap bagi bayi yang baru dilahirkan. Bayi yang diberikan ASI tanpa ada asupan tambahan lain akan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dan lebih tahan terhadap penyakit. Sama halnya dengan hasil penelitian Yekti Widodo . yang mengatakan bahwa bayi yang mengalami gangguan kesehatan berupa diare, demam, flu dan batuk pada bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif lebih besar daripada bayi yang mendapat ASI Eksklusif menjadi baik. Kesimpulan Jumlah memberikan penerapan Inisiasi Menyusu Dini hanya sebesar 34,1% dan yang tidak melakukan (IMD) sebesar 65,9%. Ratarata peningkatan berat badan bayi adalah sebesar 1495,12 g sedangkan rata-rata peningkatan panjang badan bayi adalah 8,88 Sesuai pertumbuhan optimal pada bayi normal. Rata-rata frekuensi kejadian sakit adalah sebanyak 2 kali . cor=10,. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara peningkatan BB bayi dengan IMD (POu0. namun peningkatan rata-rata BB pada bayi yang IMD . 2,86 . lebih tinggi dibandigkan dengan yang tidak IMD . 2,96 . Terdapat Pengaruh yang signifikan antara peningkatan PB bayi dengan IMD (P <0. Peningkatan ratarata PB pada bayi yang IMD . 29 c. lebih tinggi dibandigkan dengan yang tidak IMD . 15 c. Terdapat Pengaruh yang signifikan antara Kejadian Penyakit Bayi IMD. Terdapat Pengaruh peningkatan berat badan dan panjang badan dengan frekuensi kejadian peningkatan berat badan dan panjang badan bayi maka semakin tinggi frekuensi kejadian sakit (P<0. Perlu adanya Peningkatan pembinaan kepada ibu-ibu hamil tentang IMD. ASI eksklusif, yang sehingga secara otomatis akan memacu semangat meningkatkan pemberian kolostrum pada bayi. Jika hal terrealisasikan dengan baik di kalangan ibu-ibu balita maka pemberian susu formula pada bayi akan menurun dan pemberian MP- ASI tepat pada waktunya yaitu usia 6 bulan akan Pengaruh Pertumbuhan Berdasarkan Peningkatan Berat Badan Peningkatan Panjang Badan Dengan Kesehatan Bayi melalui Frekuensi Kejadian Sakit Pada Bayi Berdasarkan dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara peningkatan berat badan dan peningkatan panjang badan pada bayi dengan frekuensi kejadian Dimana peningkatan panjang badan bayi/ berat badan bayi maka semakin tinggi frekuensi kejadian sakit. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa seorang anak atau bayi pertumbuhan fisik dan perkembangan terjadi sesuai dengan tahapan-tahapan tumbuh kembang yang optimal. Selain itu Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Daftar Pustaka Baskoro A. Asi Panduan Praktis Ibu Menyusui. Jakarta. Banyu Media : Djoko S. Penyakit Anak Dan Cara Penanggulangannya, (Bandung : Nexx Media : 2005 Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan Hellbrugge. Theodor Dan J. Von Wimpffen. Hari Pertama Perkembangan Bayi Sehat. Ditejermahkan Oleh Rasfiati Iskarno (Jakarta: Pustaka