Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 Respons Kedelai (Glycine max Merr. ) terhadap Variasi Jenis dan Frekuensi Aplikasi PGPR Achmad Fachrurijal Baihaqi. Andree Saylendra,. Sri Ritawati. Imas Rohmawati. Fakultas Pertanian. Jurusan Agroekoteknologi. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Jl. Raya palka KM 3. Sindangsari. Pabuaran. Kab. Serang. Provinsi Banten. Telp 082298979737, *Corresponding author : fachrurijalbaihaqi@gmail. * Received for review November 30, 2025 Accepted for publication December 5, 2025 Abstract Soybean (Glycine max Merr. ) is a strategic food commodity whose productivity needs to be increased to meet national needs. The use of Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) is an innovative approach to improve plant growth and yield. This study examined the effect of the type and frequency of PGPR application on the growth and yield of Grobogan soybean varieties. The study was conducted in JuneSeptember 2025 using a 2-factor Randomized Block Design (RBD). The first factor was 5 types of PGPR treatments . ithout PGPR/control, bamboo roots, mimosa pudica. Imperata cylindrica, and Pennisetum purpureu. and the second factor was 3 frequencies of PGPR application, resulting in 15 treatment combinations with three replications. This study used a two-factorial ANOVA test and further tests using 5% DMRT, the results of the ANOVA test obtained a significant interaction between the type of PGPR and the frequency of PGPR application on the number of soybean pods. The type of PGPR significantly affected plant height, number of leaves, and number of pods, while the frequency of application affected plant height at 10 weeks after planting and the number of pods. Bamboo root PGPR provided the best response, with a plant height of 78. 84 cm, 43 leaves, and 110 pods after three applications, and was able to increase soybean These results demonstrate the potential of bamboo root PGPR as a biological agent for increasing sustainable soybean productivity. Keywords: Application frequency. PGPR. Soybean. Growth. Yield Abstrak Kedelai (Glycine max Merr. ) merupakan komoditas pangan strategis yang produktivitasnya perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional. Pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) menjadi pendekatan inovatif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini mengkaji pengaruh jenis dan frekuensi aplikasi PGPR terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai varietas Grobogan. Penelitian dilaksanakan pada Juni-September 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Faktor pertama adalah dengan 5 jenis perlakuan PGPR (Tanpa PGPR/kontrol,akar bambu, putri malu, alang-alang, dan rumput gaja. serta faktor kedua adalah 3 frekuensi aplikasi PGPR, menghasilkan 15 kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan. Penelitian ini menggunakan uji Anova dua faktorial dan menggunakan uji lanjut menggunakan DMRT 5%, hasil uji Anova didapatkan adanya interaksi nyata pada jenis PGPR dan frekuensi aplikasi PGPR terhadap jumlah polong kacang kedelai. Jenis PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah polong, sementara frekuensi aplikasi berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada 10 MST dan jumlah polong. PGPR akar bambu memberikan respons terbaik dengan tinggi tanaman 78,84 cm, 43 helai daun, dan 110 polong pada tiga kali aplikasi. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 serta mampu meningkatkan produktivitas kedelai. Hasil ini menunjukkan bahwa PGPR akar bambu berpotensi sebagai agen hayati dalam peningkatan produktivitas kedelai berkelanjutan. Kata kunci: Frekuensi pengaplikasian. Hasil panen. Kedelai. PGPR. Pertumbuhan Copyright A 2025 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Kedelai (Glycine max Merril. ) merupakan komoditas pangan strategis yang memiliki nilai ekonomi dan kandungan gizi yang tinggi. Tanaman ini berperan penting sebagai sumber protein nabati, asam amino esensial, serta berbagai vitamin dan mineral yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat (Krisnawati, 2. Selain itu, kedelai juga merupakan bahan utama bagi industri pangan seperti tempe, tahu, kecap, tepung kedelai, dan susu kedelai Seiring meningkatnya konsumsi masyarakat, kebutuhan kedelai nasional terus bertambah, namun produksi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan tersebut sehingga ketergantungan terhadap impor masih tinggi (Kementerian Pertanian RI, 2. Data produksi kedelai dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kondisi yang fluktuatif akibat keterbatasan lahan, penurunan kualitas tanah, serta penggunaan input kimia yang tidak Penurunan kesuburan tanah menjadi salah satu faktor utama rendahnya produktivitas kedelai karena penggunaan pupuk kimia secara berulang menyebabkan degradasi sifat biologi tanah dan berkurangnya populasi mikroorganisme yang berperan dalam penyediaan hara. Kondisi ini menghambat proses fisiologis tanaman yang memerlukan unsur hara esensial dalam jumlah Oleh sebab itu, upaya perbaikan sistem budidaya kedelai perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih ekologis melalui pengoptimalan peran mikroba tanah sebagai penyedia hara Salah satu inovasi yang berpotensi menunjang peningkatan pertumbuhan kedelai adalah pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). PGPR merupakan kelompok bakteri yang hidup di sekitar perakaran dan mendukung pertumbuhan tanaman melalui mekanisme fiksasi nitrogen, pelarutan fosfat, produksi hormon tumbuh, serta perlindungan akar dari patogen. Potensi PGPR sangat dipengaruhi oleh sumber rizosfer tanaman, di mana beberapa tanaman liar seperti bambu, rumput gajah, putri malu, dan alang-alang diketahui memiliki komunitas mikroba yang kaya dan dapat dikembangkan sebagai sumber isolat PGPR yang efektif (Istiqomah et al. , 2. Selain jenis PGPR, frekuensi aplikasi turut menentukan efektivitas kolonisasi bakteri di daerah perakaran sehingga respons pertumbuhan tanaman dapat berbeda. Informasi mengenai jenis PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteri. yang paling efektif serta frekuensi aplikasi optimal pada kedelai varietas Grobogan masih terbatas. Informasi ini penting untuk meningkatkan produktivitas kedelai nasional, memperbaiki kesuburan tanah, dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia (Sutariati, 2. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa PGPR berperan dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melalui peningkatan penyerapan hara, produksi fitohormon, serta perlindungan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Aplikasi bakteri penghasil eksopolisakarida mampu meningkatkan populasi mikroba tanah, pertumbuhan, dan serapan nitrogen pada tanaman kedelai, sedangkan Willyans et al. menyatakan bahwa aplikasi PGPR dapat memperbaiki sifat kimia tanah ultisol yang mendukung ketersediaan hara bagi tanaman. Selain itu. Andrean et al. menambahkan bahwa PGPR berpotensi meningkatkan efisiensi serapan nitrogen serta pertumbuhan vegetatif tanaman legum seperti kedelai. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis pengaruh berbagai jenis PGPR dan frekuensi aplikasinya terhadap pertumbuhan serta hasil kedelai varietas Grobogan. Hasil penelitian diharapkan memberikan rekomendasi ilmiah mengenai kombinasi perlakuan paling efektif untuk meningkatkan produktivitas kedelai secara berkelanjutan. Mengingat meningkatnya kebutuhan kedelai nasional dan rendahnya produktivitas pada sistem budidaya konvensional, hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan teknologi hayati yang aplikatif untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. BAHAN DAN METODE 1 Bahan Penelitian dilaksanakan pada JuniAeSeptember 2025 di lahan pekarangan rumah di Kampung Kadupinang. Mandalasari. Kecamatan Kaduhejo. Kabupaten Pandeglang. Banten. Kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan kedelai dengan suhu rata-rata 28Ae30AC, kelembapan 70Ae 80%, dan pH tanah 7 . Alat yang digunakan meliputi penggaris, cangkul, gembor, gelas ukur, pot tray, timbangan analitik, dan hand sprayer. Bahan penelitian mencakup benih kedelai varietas Grobogan, polybag 40 y 40 cm, media tanam campuran tanah top soil, kompos, dan arang sekam . :1:. , pupuk NPK 16:16:16, serta pestisida Furadan. Decis, dan Antracol. PGPR dibuat dari campuran 25 L air, 8 kg dedak halus, 250 g akar tanaman sumber . ambu, alang-alang, putri malu, dan rumput gaja. , 250 g sari kacang hijau, 50 g penyedap rasa, 50 g terasi, dan 4 sendok makan kapur pertanian, kemudian difermentasi selama dua minggu agar mikroorganisme dapat berkembang secara optimal dan menghasilkan inokulum aktif untuk dapat diaplikasikan pada tanaman kedelai. 2 Metode Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor, dengan faktor pertama berupa jenis PGPR dan faktor kedua berupa frekuensi pengaplikasian, yang masing-masing disusun sesuai perlakuan yang ditetapkan. Jenis PGPR: P0 yaitu tanpa PGPR . P1 yaitu PGPR akar bambu 20 ml/liter air P2 yaitu PGPR akar putri malu 20 ml/liter air P3 yaitu PGPR akar alang-alang 20 ml/liter air P4 yaitu PGPR akar rumput gajah 20 ml/liter air Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 Frekuensi aplikasi: F1 yaitu 1 kali aplikasi . aat tana. F2 yaitu 2 kali aplikasi . aat tanam dan 2 MST) F3 yaitu 3 kali aplikasi . aat tanam, 2 MST dan 4 MST) Masing masing perlakuan terdapat 3 ulangan sehingga total satuan percobaan Adalah 45 unit. 3 Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini mengacu pada tahapan budidaya kedelai dengan penerapan PGPR dari berbagai sumber rizosfer. Media tanam disiapkan dengan mengisi empat puluh lima polybag menggunakan campuran tanah top soil, kompos dan arang sekam sebanyak 3/4 bagian. Polybag disiram hingga lembap dan diletakkan pada lokasi terbuka yang bebas genangan. Benih kedelai varietas Grobogan yang sehat dan seragam disemaikan selama tujuh hari, kemudian bibit yang telah memiliki daun sejati dipindahkan ke polybag dengan satu tanaman per unit percobaan. Akar tanaman sumber PGPR . ambu, alang-alang, putri malu, dan rumput gaja. masingmasing direndam selama tiga malam. Bahan tambahan berupa 8 kg dedak halus, 50 g terasi, 50 g penyedap rasa, 250 g gula pasir, dan 25 L air dimasak hingga mendidih untuk proses sterilisasi, kemudian dicampurkan dengan 250 g sari kacang hijau, hasil rendaman akar, 4 sendok makan kapur pertanian, dan air bersih. Campuran tersebut difermentasi selama tujuh hari dalam wadah tertutup longgar, kemudian disaring untuk menghasilkan inokulum PGPR siap pakai. Aplikasi PGPR dilakukan sesuai perlakuan, yaitu tanpa PGPR . , akar bambu, putri malu, alang-alang, dan rumput gajah dengan dosis 20 mL per liter air. Frekuensi aplikasi diberikan satu, dua, dan tiga kali melalui penyiraman pada media tanam selama masa pertumbuhan. Pemeliharaan meliputi penyiraman rutin, penyiangan gulma, serta pengendalian hama menggunakan insektisida untuk menekan populasi semut merah dan kutu kebul dengan dosis aman dan hanya satu kali aplikasi. Pengamatan dilakukan sejak dua minggu setelah tanam hingga panen, meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah polong. 4 Pemeliharaan dan Pengamatan Pemeliharaan tanaman dilakukan melalui penyiraman secara rutin sebanyak 1 atau 2 kali setiap hari sesuai kondisi lapang untuk menjaga ketersediaan air pada media tanam. Penyiangan gulma dilakukan secara manual agar tidak terjadi persaingan unsur hara yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pengamatan dilakukan secara berkala meliputi tinggi tanaman pada umur 2-10 MST, jumlah daun pada umur yang sama yaitu 2-10 MST dengan interval 2 MST antar pengmatan dan jumlah polong per tanaman pada 10 MST. 5 Analisis Data Data hasil pengamatan disusun dalam bentuk tabel kemudian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5%. Apabila terdapat perbedaan nyata antarperlakuan maka dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Seluruh proses pengujian statistik dilakukan menggunakan software DSAASTAT Excel Ver. guna memperoleh hasil perhitungan yang akurat dan reliabel. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Anova Tabel 1. Rekapitulasi sidik ragam respon beberapa jenis dan frekuensi pemberian Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai Perlakuan Variabel Pengamatan Tinggi Tanaman . Jumlah Daun . Jumlah Polong. Keterangan Umur Tanaman (MST) Jenis PGPR (P) Interaksi (P x G) KK (%) Frekuensi Pemberian (G) 10,72% 10,10% 7,86,% 7,93% 5,45% 21,96% 21,25% 11,64% 10,54% 11,03% 2,52% : Berpengaruh nyata pada yu = 5% : Berpengaruh sangat nyata pada yu = 1% : Berpengaruh tidak nyata : Koefisien Keragaman Hasil sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa jenis PGPR berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter pertumbuhan pada tanaman kedelai. Pada tinggi tanaman, pengaruh nyata terlihat pada umur 4, 6, 8, dan 10 MST, sedangkan frekuensi aplikasi hanya memberikan pengaruh pada umur 10 MST, yang mengindikasikan bahwa respons pertumbuhan vertikal lebih ditentukan oleh kualitas mikroba PGPR dibandingkan intensitas aplikasinya. Jumlah daun juga dipengaruhi nyata oleh jenis PGPR pada umur 4, 6, 8, dan 10 MST, sementara frekuensi maupun interaksi kedua faktor tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter tersebut. Pola ini menunjukkan bahwa fase vegetatif sebagian besar dipengaruhi oleh kemampuan mikroba dalam memproduksi hormon pertumbuhan dan meningkatkan penyerapan hara, sehingga jenis PGPR menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan frekuensi aplikasinya. Pada fase generatif, jumlah polong memberikan respons yang jauh lebih kuat dengan menunjukkan pengaruh sangat nyata dari jenis PGPR, frekuensi aplikasi, dan interaksi keduanya. Hal ini menegaskan bahwa fase generatif tanaman kedelai lebih sensitif terhadap kombinasi perlakuan PGPR karena proses pembentukan bunga, pembuahan, dan pengisian polong sangat bergantung pada ketersediaan hormon, nutrisi, serta stabilitas kolonisasi mikroba. Respons yang lebih besar pada fase generatif dibandingkan fase vegetatif juga menunjukkan bahwa aktivitas mikroba PGPR memberikan dampak yang lebih signifikan ketika tanaman memasuki fase pembentukan hasil. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa efektivitas PGPR bergantung pada kesesuaian jenis mikroba dan fase pertumbuhan Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 tanaman, di mana kombinasi perlakuan PGPR menjadi lebih penting pada fase generatif dibandingkan fase vegetatif. Pengaruh Jenis PGPR dan Frekuensi Aplikasi Terhadap Tinggi Tanaman Kedelai Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa jenis PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kedelai pada umur 4, 6, 8, dan 10 MST, sedangkan frekuensi aplikasi hanya berpengaruh nyata pada umur 10 MST. Selain itu, tidak ditemukan adanya interaksi yang pada faktor terhadap parameter tinggi tanaman. Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan software DSTAAT,perlakuan jenis PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteri. memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kedelai pada 4, 6, 8, 10 MST, sedangkan frekuensi aplikasi dua kali menunjukkan pengaruh nyata pada 10 MST. Interaksi antara kedua perlakuan tersebut tidak menunjukkan pengaruh nyata, sehingga masing-masing perlakuan bekerja secara mandiri dalam memengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman. Rata-rata tinggi tanaman pada perlakuan PGPR tertentu menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, mengindikasikan kemampuan PGPR dalam meningkatkan aktivitas fisiologis tanaman. Peningkatan tinggi tanaman pada perlakuan PGPR akar bambu menunjukkan bahwa sumber rizosfer ini memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan PGPR dari akar putri malu, alang-alang, maupun rumput gajah. Keunggulan tersebut berkaitan dengan keragaman komunitas mikroba fungsional pada perakaran bambu, terutama kelompok Bacillus sp. Pseudomonas fluorescens, dan Azospirillum sp. , yang berperan aktif dalam fiksasi nitrogen, pelarutan fosfat, dan produksi fitohormon seperti IAA, giberelin, dan sitokinin Roidelindho et al. Mekanisme ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan aktivitas meristem dan pemanjangan sel pada batang, sehingga pertumbuhan tinggi tanaman berlangsung lebih cepat. Hal tersebut sejalan dengan temuan Sulastri & Nazara . yang menjelaskan bahwa peningkatan hormon endogen dan efisiensi penyerapan hara melalui aplikasi PGPR mampu mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman legum. Rata-rata tinggi tanaman kedelai dari umur 2-10 MST pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman . tanaman kedelai umur 2 Ae 10 MST pada perlakuan beberapa jenis dan frekuensi pemberian PGPR Jenis PGPR . ml/L ai. 2 MST Rata-rata 4 MST Rata-rata 6 MST Frekuensi Pemberian Cm. Rata-rata 31,70 36,53 40,60 38,97 39,13 37,39 35,57 40,20 38,27 36,57 36,70 37,46 34,40 40,20 38,77 36,83 38,13 37,67 33,89 38,98 39,21 37,46 37,99 51,67 61,93 56,63 58,13 58,80 57,43 52,20 66,60 63,43 59,70 57,57 59,90 54,37 55,53 54,03 55,47 61,60 56,20 52,74 b 61,36 a 58,03 ab 57,77 ab 59,32 a 59,27 59,37 59,57 59,40 b Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 Jenis PGPR . ml/L ai. Rata-rata 8 MST Rata-rata 10 MST Rata-rata Keterangan: Frekuensi Pemberian Cm. 67,97 70,77 60,90 71,00 64,73 67,20 65,17 62,57 63,61 66,18 Rata-rata 64,13 62,53 65,63 67,40 63,85 67,62 a 64,81 ab 65,86 a 65,04 a 66,67 72,00 68,77 72,23 68,17 69,57 65,43 78,70 75,70 73,83 69,10 72,55 64,40 68,73 68,87 72,87 73,87 69,75 65,50 b 73,14 a 71,11 ab 72,98 a 70,38 ab 71,97 77,97 74,20 75,83 74,13 74,82 b 73,50 83,90 80,67 79,93 74,53 78,51 a 72,17 74,67 74,60 75,93 80,00 75,47 ab 72,54 b 78,84 a 76,49 ab 77,23 a 76,22 ab Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%. Pada perlakuan tinggi tanaman, respons yang lebih rendah pada PGPR akar putri malu, alangalang, dan rumput gajah disebabkan oleh terbatasnya keragaman dan aktivitas mikroba dalam rizosfer ketiga sumber tersebut. Mikroba yang hidup pada tanaman liar ini umumnya memiliki kapasitas fiksasi nitrogen, pelarutan fosfat, serta produksi fitohormon yang lebih rendah, sehingga stimulasi pemanjangan sel pada batang tidak terjadi secara optimal. Akibatnya, peningkatan tinggi tanaman pada perlakuan tersebut cenderung kecil dan tidak konsisten antarwaktu. AAoyun et al. menyatakan bahwa efektivitas PGPR sangat ditentukan oleh kemampuan mikroba melakukan kolonisasi akar dan menghasilkan metabolit pertumbuhan secara berkelanjutan, sehingga sumber rizosfer dengan aktivitas mikroba tinggi seperti bambu memberikan respons paling kuat terhadap peningkatan tinggi tanaman. Oleh karena itu, perbedaan kapasitas mikroba dan stabilitas kolonisasi ini menjelaskan mengapa PGPR akar bambu secara konsisten menghasilkan tinggi tanaman tertinggi dibandingkan PGPR dari putri malu, alang-alang, dan rumput gajah pada penelitian ini. Pertumbuhan kedelai tertinggi diperoleh pada perlakuan PGPR akar bambu dengan dua kali aplikasi, yaitu saat tanam dan dua minggu setelah tanam. Frekuensi ini menjaga populasi mikroba di rhizosfer sehingga fiksasi nitrogen dan produksi hormon tetap stabil AAoyun et al. PGPR akar bambu juga meningkatkan panjang dan percabangan akar, memperluas penyerapan hara dan Umami & Wiharyanti . serta Wicaksono et al. melaporkan peningkatan panjang akar hingga 30%, yang berdampak langsung pada pertumbuhan vertikal. Hal ini menunjukkan efektivitas PGPR akar bambu berasal dari sinergi aktivitas mikroba, frekuensi aplikasi, dan efisiensi penyerapan hara. Kondisi lingkungan yang baik mendukung peningkatan tinggi tanaman kedelai melalui ketersediaan hara, aerasi, dan cahaya yang optimal. Aktivitas PGPR menyediakan nitrogen yang Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 meningkatkan pembentukan klorofil dan protein untuk pertumbuhan batang. Santana et al. menyatakan bahwa keseimbangan fotosintesis dan respirasi menjadi faktor utama pertumbuhan PGPR akar bambu memberikan pengaruh paling signifikan, sedangkan frekuensi aplikasi berperan mendukung. Hal ini menunjukkan bahwa mikroba rizosfer PGPR akar bambu berperan penting pada fase vegetatif melalui peningkatan aktivitas hormon, penyerapan hara, dan efisiensi Pengaruh Jenis PGPR dan Frekuensi Aplikasi Terhadap Jumlah Daun Tanaman Kedelai Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa jenis PGPR berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun kedelai pada umur 4, 6, 8, dan 10 MST, sedangkan frekuensi aplikasi tidak memberikan berpengaruh nyata hingga akhir pengamatan. Tidak terdapat adanya interaksi di antara kedua faktor terhadap jumlah daun. Perlakuan jenis PGPR akar bambu menunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah daun tanaman kedelai pada 4, 6, 8, dan 10 MST. Perlakuan yang memperoleh jumlah daun tertinggi umumnya berasal dari PGPR yang memiliki kemampuan menghasilkan hormon pertumbuhan seperti auksin, sitokinin, dan giberelin. Senyawa tersebut mendukung aktivitas pembelahan dan pembesaran sel pada jaringan meristem sehingga jumlah daun meningkat lebih cepat pada fase vegetatif. Mekanisme ini sejalan dengan hasil penelitian Aiman et al. yang menyatakan bahwa aplikasi PGPR akar bambu meningkatkan produksi daun kedelai edamame melalui perbaikan aktivitas hormon endogen. Pada Tabel 3. disajikan rata-rata jumlah daun tanaman kedelai umur 2Ae10 MST. Tabel 3. Rata-rata jumlah daun . tanaman kedelai Jenis PGPR . ml/L ai. 2 MST Rata-rata 4 MST Rata-rata 6 MST Rata-rata 8 MST Rata-rata 10 MST Frekuensi Pemberian Helai. Rata-rata 7,00 9,00 8,67 6,67 9,00 8,07 8,67 8,00 10,00 8,33 9,33 8,87 10,67 7,67 8,33 7,67 9,00 8,67 8,78 . 8,22 . 9,00 . 7,56 . 9,11 . 10,33 17,67 16,00 12,33 15,33 14,33 12,33 21,00 16,67 12,67 15,00 15,53 13,33 15,67 14,33 13,00 13,33 13,93 12,00 bc 18,11 a 15,67 ab 12,67 c 14,56 bc 17,33 24,33 24,67 20,00 21,67 21,60 18,33 26,67 25,00 21,33 21,33 22,53 18,33 24,33 22,00 22,00 19,33 21,20 18,00 c 25,11 a 23,89 a 21,11 b 20,78 b 24,00 34,00 35,67 31,67 28,00 30,67 26,00 37,33 34,00 30,33 31,33 31,80 24,67 35,00 29,00 29,00 30,33 29,60 24,89 c 35,44 a 32,89 ab 30,33 b 29,89 b 30,6 c Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 Jenis PGPR . ml/L ai. Rata-rata Keterangan: Frekuensi Pemberian Helai. Rata-rata 43,0 a 38,8 b 37,9 b 35,3 b Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%. Respon jumlah daun yang meningkat juga berkaitan dengan kemampuan PGPR akar bambu memperbaiki penyerapan unsur hara pada sistem perakaran. Tanaman yang memperoleh suplai nitrogen, fosfor, dan unsur hara esensial lain secara optimal akan membentuk jaringan daun lebih banyak karena kebutuhan metabolisme tercukupi. Kondisi ini didukung oleh penelitian Setyawan et . yang menunjukkan bahwa kombinasi pupuk organik dan PGPR akar bambu dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif kedelai termasuk pembentukan daun. Frekuensi aplikasi PGPR tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun kedelai, kemungkinan karena kolonisasi mikroba sudah optimal sejak aplikasi pertama sehingga tidak menimbulkan respons tambahan (Anam et al. , 2. Stabilitas pertumbuhan vegetatif varietas Grobogan juga membatasi peningkatan jumlah daun meski frekuensi aplikasi ditambah. Jumlah daun dipengaruhi kondisi lingkungan dan kapasitas fotosintesis, di mana daun berperan penting dalam penyerapan cahaya dan pembentukan fotosintat. Wuryantoro & Dhuhava . menyatakan bahwa pertumbuhan daun meningkat jika ketersediaan cahaya dan hara optimal. Hasil ini menunjukkan bahwa PGPR akar bambu berperan penting dalam mendukung fase vegetatif dan berpotensi meningkatkan produktivitas kedelai pada fase generatif berikutnya. Pengaruh Jenis PGPR dan Frekuensi Aplikasi Terhadap Jumlah Polong Tanaman Kedelai Hasil sidik ragam pada parameter jumlah polong tanaman kedelai menunjukkan bahwa faktor jenis PGPR memberikan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah polong yang dihasilkan. Frekuensi aplikasi PGPR juga berpengaruh sangat nyata secara mandiri, menandakan bahwa intensitas aplikasi turut menentukan efektivitas respons tanaman. Selain itu, interaksi antara jenis PGPR dan frekuensi aplikasi menunjukkan pengaruh sangat nyata, yang mengindikasikan bahwa kombinasi kedua faktor tersebut saling memperkuat dalam memengaruhi pembentukan polong pada fase Rata-rata jumlah polong dari setiap kombinasi perlakuan jenis PGPR dan frekuensi aplikasi disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Rata-rata jumlah polong . tanaman kedelai Frekuensi Pemberian Jenis PGPR . ml/L ai. Rata-rata 52,33 j 110,00 a 102,33 b 68,00 i 76,00 g 81,73 a 42,56 d 97,56 a 88,22 b 79,44 c 86,56 b Buah. 10 MST Rata-rata 30,33 l 85,00 f 72,33 h 92,33 d 95,67 c 75,13 c 45,00 k 97,67 c 90,00 de 78,00 g 88,00 ef 79,73 b Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jenis PGPR akar bambu memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah polong tanaman kedelai. Perlakuan PGPR yang memiliki kapasitas lebih tinggi dalam fiksasi nitrogen dan produksi fitohormon menyebabkan jumlah polong yang dihasilkan meningkat secara signifikan. Mekanisme ini berkaitan dengan kemampuan mikroorganisme rizosfer dalam menstimulasi pembentukan bunga serta mencegah gugurnya bunga pada fase generatif. Sipayung et al. menjelaskan bahwa aplikasi PGPR dapat meningkatkan pembentukan bunga dan polong kedelai melalui peningkatan asimilasi nitrogen dan produksi sitokinin. Jika dibandingkan jenis PGPR putri malu, alang-alang, dan rumput gajah. PGPR akar bambu memiliki keragaman mikroba lebih tinggi, terutama Bacillus sp. dan Pseudomonas fluorescens, yang aktif menghasilkan auksin dan sitokinin. PGPR dari tanaman liar tersebut cenderung memiliki populasi mikroba dan aktivitas fisiologis yang lebih rendah, sehingga kemampuannya dalam mendukung proses pembungaan dan pengisian polong tidak seoptimal PGPR akar bambu. Perlakuan frekuensi aplikasi PGPR menunjukkan bahwa aplikasi berulang memberikan respons yang lebih baik terhadap pembentukan polong dibandingkan aplikasi tunggal. Aplikasi yang dilakukan pada fase vegetatif awal hingga fase pembungaan memberikan kesempatan bagi populasi mikroba untuk tetap aktif dalam menyuplai hormon dan nutrisi sehingga tanaman mampu mempertahankan pembungaan secara optimal. Penemuan ini sejalan dengan pendapat Kalay et al. yang menyatakan bahwa pemberian mikroba hayati secara berkala mampu meningkatkan sinkronisasi pembungaan dan menurunkan persentase bunga yang gugur pada tanaman legum. Interaksi antara jenis PGPR dan frekuensi aplikasi menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tertentu menghasilkan jumlah polong lebih tinggi dibandingkan perlakuan tunggal. Hal ini mengindikasikan bahwa efektivitas PGPR tidak hanya ditentukan oleh jenis mikroba, tetapi juga oleh frekuensi aplikasi yang menjaga kestabilan populasi dan aktivitas mikroba di rhizosfer. Aplikasi berulang memungkinkan mikroorganisme bekerja secara berkesinambungan dalam menyediakan nitrogen, fosfor, serta hormon pertumbuhan pada saat tanaman memasuki fase pembungaan dan pembentukan polong. Pada fase generatif, kebutuhan hara dan hormon meningkat untuk mendukung pembentukan bunga dan pengisian biji, sehingga aktivitas PGPR mencapai titik Hal ini sejalan dengan temuan Puspasari et al. yang menyatakan bahwa interaksi perlakuan hayati dan frekuensi aplikasi mampu meningkatkan serapan hara serta sintesis fitohormon, yang berperan penting dalam pembentukan dan pengisian polong kedelai. Jumlah polong yang dihasilkan juga berkaitan dengan kondisi fisiologis tanaman selama fase Tanaman yang memiliki tajuk sehat, jumlah daun mencukupi, dan kemampuan fotosintesis tinggi cenderung menghasilkan lebih banyak polong karena ketersediaan fotosintat untuk mendukung perkembangan biji tidak terganggu. Ketersediaan hara yang meningkat akibat aktivitas PGPR memperkuat proses pengisian polong sehingga jumlah polong bernas dapat meningkat. Hal ini sesuai dengan penelitian Rusmana et al. yang menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi fotosintesis dan ketersediaan nitrogen berdampak langsung pada jumlah polong kedelai. Hasil keseluruhan memperlihatkan bahwa jenis PGPR akar bambu dan frekuensi tiga kali aplikasi memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah polong kedelai, dan interaksi PGPR akar bambu dan frekuensi tiga kali aplikasi dapat menghasilkan pengaruh signifikan terhadap jumlah Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI:10. 32585/ags. Baihaqi dkk, 2025 polong dibandingkan perlakuan tunggal. Menurut Aiman et al. peningkatan jumlah polong mencerminkan keberhasilan PGPR dalam meningkatkan efisiensi metabolisme tanaman, kestabilan pembungaan, serta kapasitas pengisian polong. Perlakuan kombinasi yang optimal dapat menjadi rekomendasi dalam budidaya kedelai guna meningkatkan produktivitas tanaman. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, aplikasi PGPR akar bambu dengan konsentrasi 20 ml per liter air dan frekuensi aplikasi tiga kali selama satu musim tanam direkomendasikan untuk diterapkan di lapangan sebagai strategi peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Pengaplikasian dapat dilakukan pada saat tanam, 2 MST, dan 4 MST melalui penyiraman media atau perakaran agar kolonisasi mikroba berlangsung optimal. Penggunaan PGPR ini sebaiknya diintegrasikan dengan praktik budidaya standar, seperti pemupukan berimbang, pengelolaan air yang tepat, serta penggunaan bahan organik untuk menjaga kondisi mikrobiologis tanah, sehingga peningkatan produktivitas dapat tercapai secara berkelanjutan. Petani juga dianjurkan untuk melakukan aplikasi PGPR pada kondisi lingkungan yang stabil, terutama pada pagi atau sore hari, guna menjaga viabilitas mikroba dan memaksimalkan efektivitasnya di lapangan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengevaluasi respons kedelai terhadap PGPR akar bambu pada berbagai varietas dan kondisi frekuensi aplikasi dengan dosis lebih tinggi atau lebih rendah dari 20 ml, sehingga diperoleh informasi lebih komprehensif mengenai pengaruh terhadap tanaman dan hasil kedelai. Selain itu perlu dilakukan formulasi berbasis bahan lokal yang lebih stabil untuk pembuatan PGPR, serta studi mendalam mengenai mekanisme fisiologis yang terlibat terutama terkait dinamika kolonisasi akar, produksi fitohormon, dan interaksi dengan pupuk organik maupun anorganik. Pengamatan jangka panjang juga penting dilakukan untuk menilai dampak PGPR akar bambu terhadap kesehatan tanah serta keberlanjutan produktivitas kedelai pada sistem budidaya yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA