TEKNOLOGI PANGAN: Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian Website: https://jurnal. id/v2/index. php/Teknologi-Pangan Licensed: Creative Commons Attribution 4. 0 International License. (CC-BY) Terakreditasi 1439/E5/DT. 00/2024 Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 p-ISSN: 2087-9679, e-ISSN: 2597-436X Pengaruh penambahan serai wangi (Cymbopogon nardus L. ) terhadap mutu teh herbal rambut jagung Effect of lemongrass (Cymbopogon nardus L. ) addition on the quality of corn silk herbal tea Nur Hasnah AR. Nurul Fatya Anaya. Usman Pato. Yanti Nopiani. Yelmira. Rahmadini Payla Juarsa. Mhd. Andry Kurniawan. Bintang Parsitogi. Irma Rahmayani. Baihaqi. 1 Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Riau 2Fakultas Kedokteran. Universitas Pendidikan Ganesha 3Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan. Fakultas Pertanian. Universitas Halu Oleo. *Email korespondensi: nurulftyanaya@gmail. Informasi artikel: Dikirim: 10/08/2025. disetujui: 15/09/2025. diterbitkan: 30/09/2025 ABSTRACT Herbal tea is a functional drink made from a mixture of dried plants that are beneficial to the body. Corn silk has the potential to be used as herbal tea because it contains cholesterol-lowering -sitosterol and phenol compounds as antioxidants. However, the taste is astringent and the aroma is weak, so it is necessary to add lemongrass which has a distinctive aroma and refreshing taste from essential oils. The aim of this research was to obtain the selected ratio of corn hair and citronella to the quality characteristics of herbal tea according to SNI 3836: 2013 dry tea in packaging. This research was conducted experimentally using a completely randomized design with four treatments, namely the ratio of corn hair and citronella RS0 . RS1 . RS2 . , and RS3 . The parameters observed in this research were moisture, ash, crude-fiber, polyphenol, and antioxidant activity. The antioxidant activity was measured using the DPPH method. The results showed that the RS2 treatment herbal tea with the ratio of corn hair and citronella . was the selected treatment which had a moisture of 25%, ash of 4. 36%, crude fiber of 9. 34%, polyphenol of 58. 28 mg GAE/g or 5. and antioxidant activity of 131. 38 ppm Keywords: citronella, corn silk, herbal tea ABSTRAK Teh herbal merupakan salah satu minuman fungsional yang disusun dari campuran bahan nabati kering dan dikenal memiliki manfaat kesehatan. Rambut jagung berpotensi dikembangkan sebagai teh herbal karena mengandung -sitosterol yang berperan dalam menurunkan kolesterol serta senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan. Namun, cita rasa sepat dan aroma yang lemah menjadi keterbatasan utama, sehingga diperlukan kombinasi dengan bahan lain. Serai wangi yang kaya akan minyak atsiri beraroma segar, dipilih untuk memperbaiki karakteristik sensoris sekaligus mendukung nilai fungsional teh herbal. Penelitian ini bertujuan memperoleh formulasi terbaik dari kombinasi rambut jagung dan serai wangi berdasarkan karakteristik mutu yang mengacu pada SNI 3836:2013 tentang teh kering dalam kemasan. Penelitian dilaksanakan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat variasi formulasi perbandingan rambut jagung dan sereh wangi, yaitu RS0 . RS1 . DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Hasnah AR et al. Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 RS2 . , dan RS3 . Parameter mutu yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, kadar polifenol, serta aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan RS2 . % rambut jagung : 30% serai wang. merupakan formulasi terpilih yang memenuhi standar mutu dan berpotensi sebagai minuman fungsional alami dengan nilai kadar air 6,25%, kadar abu 4,36%, kadar serat kasar 9,34%, kadar polifenol 58,28 mg GAE/g . ,82%), dan aktivitas antioksidan 131,38 ppm. Kata kunci : rambut jagung, serai wangi, teh herbal PENDAHULUAN Perubahan gaya hidup masyarakat modern yang cendrung praktis, mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya menjaga Kesehatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memilih pangan fungsional, yaitu produk yang tidak hanya memberi asupan gizi namun juga manfaat Teh herbal merupakan salah satu contoh pangan fungsional yang populer karena mudah dikonsumsi dan memiliki berbagai efek positif bagi tubuh (Fortin et al. Teh herbal merupakan salah satu produk minuman hasil olahan teh dalam bentuk tunggal atau campuran herbal kering yang memiliki khasiat bagi tubuh. Teh herbal disajikan dalam bentuk kering dan diseduh menghasilkan aroma dan rasa teh herbal pada umumnya (Ravikumar, 2. Teh herbal mengandung senyawa bioaktif yaitu senyawa fenolik berupa flavonoid sebagai antioksidan yang dapat menetralkan radikal bebas agar tidak terjadi kerusakan sel. Salah satu bagian tanaman yang berpotensi menjadi minuman teh herbal adalah rambut jagung. Rambut jagung memiliki senyawa polifenol berupa flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Rambut jagung segar memiliki aktivitas antioksidan sebesar 59,4%, sedangkan pada rambut jagung kering memiliki aktivitas antioksidan sebesar 57,95% (Ismiati, 2. Selain itu, rambut jagung juga memiliki senyawa kimia berupa -sitosterol yang bermanfaat untuk penurunan kadar kolesterol darah (Harun et al. , 2. Kandungan mineral per 100 g rambut jagung, yaitu sodium 0,36 g, magnesium 0,12 g, kalium 0,11, kaslium 0,13, mangan 0,001 g, tembaga 0,002 g, kromium 0,0013 g, besi 0,004 g, dan zinc 0,008 g (Singh et al. Kandungan gizi yang terdapat pada rambut jagung bermanfaat bagi tubuh dan berpotensi menjadi teh herbal. Harun et al. menyatakan bahwa dalam pembuatan teh herbal menghasilkan kadar air 8,03%, kadar abu 5,24%, dan serat kasar 8,31%. Saragih et . menyatakan bahwa sampel rambut jagung mengandung flavonoid sebesar 2,99% pada panjang gelombang 366 nm. Penambahan bahan alami dalam pembuatan teh herbal akan meningkatkan nilai kandungan gizi dan antioksidan. Salah satu bahan alami yang dapat meningkatkan kandungan gizi teh herbal adalah rempah serai wangi. Serai wangi (Cymbopogon nardus L. biasanya dijadikan sebagai bahan penunjang minuman ataupun makanan karena dapat memperbaiki aroma dan rasa pada produk (Udawaty et al. , 2. menyatakan bahwa serai wangi memiliki komponen minyak atsiri, seperti sitronelal 19,42%, sitronelol 15,56%, dan geraniol 31,65%. Serai wangi juga memiliki kandungan antioksidan berupa saponin, tanin, flavonoid, dan senyawa fenolik seperti luteolin, glikosida, quercetin, kaempferol, elimicin, catecol, asam klorogenat, asam caffeic yang berkhasiat sebagai obat (Chairina et al. , 2. Penambahan serai wangi pada teh celup bubuk serai dan bubuk kelor semakin disukai oleh panelis (Rahman dan Dwiani, 2. kombinasi sereai wangi 70% dan kayu manis 25% lebih disukai panelis dan aroma serai yang kuat dalamkombinasi minuman serai dan lebon memberikan Kesan meningkatkan kesukaan panelis (Arisanti dan Mutsyahidan, 2. Penambahan serai wangi diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi teh herbal yang dihasilkan. Penelitian ini DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Hasnah AR et al. Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 bertujuan untuk mendapatkan rasio terpilih dari rambut jagung dan serai wangi terhadap karakteristik mutu teh herbal sesuai dengan SNI 3836:2013 teh kering dalam kemasan. METODE Penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu perbandingan bubuk rambut jagung dan bubuk serai wangi . RS0 = 100:0. RS1 = 80:15. RS2 = 70:30. RS3 = 55:45. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 Parameter uji pada penelitian ini terdiri dari kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, kadar polifenol, dan aktivitas antioksidan. Bahan Bahan utama penelitian adalah rambut jagung dari jagung manis varietas Paragon . ongkol 17Ae21 cm, umur 70Ae75 hari, warna kuning tu. yang diperoleh dari kebun jagung di Jl. Lintas Timur Sumatera KM. 21 serta serai wangi tipe Lena Batu . atang tegak 30Ae 35 cm, pangkal hijau muda kemeraha. yang diperoleh dari Pasar Kodim. Pekanbaru. Bahan tambahan yang digunakan meliputi kantong teh, akuades, etanol 70%, asam galat, pereaksi Folin-Ciocalteu, metanol, larutan DPPH. NacOCE 7,5%. HCCSOCE 0,255 N. NaOH 0,313 N. KCCSOCE 10%, dan alkohol 95%. Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian meliputi oven, desikator, tanur. UV-Vis (Shimadz. beserta kuvet, peralatan gelas laboratorium . elas ukur, labu ukur, gelas beker, erlenmeyer, corong pemisa. , timbangan analitik dan digital, mikropipet dengan blue tip, pendingin balik, penangas, stopwatch, kertas lakmus, kertas saring, serta perlengkapan rumah tangga seperti blender (Philip. , kompor, panci, pisau, talenan, loyang, sendok, baskom, toples, saringan, dan ayakan 60 mesh. Metode/ pelaksanaan Rambut jagung yang masih segar berwarna kuning kecokelatan dipisahkan dari jagung dan serai wangi yang tidak layu Rambut jagung dan serai wangi kemudian dicuci hingga bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat dan ditiriskan menggunakan Pembuatan bubuk rambut jagung mengacu pada (Harun et al. , 2. Rambut jagung dilayukan pada suhu ruang selama 18 Rambut jagung dipotong menggunakan pisau secara acak, dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60AC selama 4 jam. Rambut jagung kering yang dihasilkan diperkecil ukurannya menggunakan blender sehingga berbentuk bubuk, kemudian dikemas dalam wadah tertutup . Pembuatan bubuk serai mengacu pada (Rahman dan Dwiani, 2. yang telah dimodifikasi, batang serai yang telah dicuci kemudian diiris A1 cm dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50AC selama 6 Serai wangi yang telah kering dihaluskan menggunakan ayakan berukuran 60 mesh. Setelah itu, bubuk serai disimpan dalam wadah tertutup . Pembuatan teh rambut jagung dan serai wangi mengacu pada (Habi et al. , 2. Bubuk rambut jagung dan serai ditimbang sesuai dengan perlakuan . :0, 85:15, 70:30, dan 55:. , kemudian dihomogenkan dengan cara diaduk menggunakan pengaduk . Bubuk teh rambut jagung dan serai wangi dikemas dalam kantong teh . ea ba. sebanyak 1,85 g, sehingga diperoleh teh herbal rambut jagung dan serai wangi. Bubuk teh sesuai perlakuan kemudian dilakukan analisis meliputi parameter kadar air , kadar abu dan kadar serat kasar, kadar polifenol dan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (Sudarmadji et al. , 1997. Tristantini et al. Rusita et al. , 2. Analisa data Data yang diperoleh dianalisis secara statistic menggunakan software IBM SPSS statistic versi 24 dengan uji Analysis of Variance (ANOVA). Jika Fhitung Ou Ftabel maka dilakukan uji lanjut menggunakan uji DuncanAos multiple range test (DMRT) pada DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Hasnah AR et al. Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis bahan baku teh herbal Analisis bahan baku dilakukan sebelum dilakukan formulasi rasio teh herbal. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi dasar yang meliputi kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, kadar polifenol dan aktivitas antioksidan (ICCICA). Hasil analisis bahan baku disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Analisis bahan baku Kandungan Gizi Bahan baku Bubuk rambut jagung Bubuk serai wangi Kadar air (%) Kadar abu (%) 8,04 4,28 3,19 5,26 Hasil Tabel menunjukkan adanya perbedaan karakteristik gizi antara bubuk rambut jagung dan serai Rambut jagung memiliki kadar air lebih tinggi . ,04%) dibanding serai wangi . ,28%), sehingga lebih lembap, sedangkan serai wangi lebih kering dan stabil. Dari segi mineral dan serat, serai wangi mengandung kadar abu . ,26%) dan serat kasar . ,68%) lebih tinggi daripada rambut jagung . ,19% dan 8,30%). Aktivitas antioksidan serai wangi juga lebih kuat (ICCICA 112,54 pp. sejalan dengan kadar polifenolnya yang lebih tinggi Kadar serat IC50 . kasar (%) 8,30 9,68 176,20 112,54 Kadar (%) 4,77 5,39 . ,39%) dibanding rambut jagung . ,20 ppm dan 4,77%). Kadar air Analisis kadar air dilakukan untuk mengetahui persentase kandungan air dalam bahan, yang berperan penting terhadap mutu dan daya simpan produk. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio rambut jagung dan serai wangi memberikan pengaruh terhadap kadar air teh herbal yang dihasilkan. Rata-rata kadar air teh herbal rambut jagung dan serai wangi dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-rata kadar air teh herbal Bubuk rambut jagung : Bubuk serai wangi Kadar air (%) RS0 . b/b 8,05A0,02d RS1 . b/b 7,16A0,03c RS2 . b/b 6,25A0,01b RS3 . b/b 5,29A0,03a Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. pada taraf 5% Tabel 2 memperlihatkan bahwa semakin sedikit rasio bubuk rambut jagung dan semakin banyak rasio bubuk serai wangi, maka kadar air pada teh herbal semakin rendah dengan nilai sebesar 5,29-8,05%. Penurunan kadar air teh herbal rambut jagung dan serai wangi dipengaruhi oleh proses penguapan selama pengeringan bahan baku segar sebelum menjadi bubuk. Harun et al. penguapan terjadi karena perbedaan tekanan uap air dalam bahan dan udara Semakin lama pengeringan, semakin besar penguapan sehingga kadar air semakin rendah. Hal ini didukung oleh pernyataan Wijanarko et al. , bahwa laju penguapan dipengaruhi oleh tingkat kelembaban dan suhu di sekitar bahan yang Kapasitas penyerapan air suatu bahan juga dipengaruhi oleh komposisi serat dan sifat fisiknya. Rambut jagung memiliki struktur yang lebih mudah menyerap dan mempertahankan kelembaban, sehingga kadar airnya relatif tinggi. Sebaliknya, serai wangi cenderung lebih kering dengan DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Hasnah AR et al. Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 komposisi serat yang tidak mudah menyerap air, sehingga penambahan dalam formulasi dapat menurunkan kadar air akhir (Fiore et , 2022. Singh et al. , 2. Faktor lain yang dapat yang dapat memengaruhi kadar air pada teh yaitu pengecilan ukuran bahan baku. (Wijanarko et , 2. menyatakan bahwa proses pengecilan ukuran pada bahan seperti diiris, dipotong, dan digiling dapat mempercepat proses pengeringan. Ukuran bahan yang lebih kecil cenderung menghasilkan kadar air lebih Perlakuan RS1. RS2, dan RS3 telah memenuhi persyaratan mutu teh kering dalam kemasan SNI 3836:2013 yaitu maksimal 8%, namun perlakuan RS0 belum memenuhi SNI karena memiliki kadar air yang masih tinggi. Kadar abu Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio rambut jagung dan serai wangi memberikan pengaruh terhadap kadar abu teh herbal yang dihasilkan. Rata-rata kadar abu teh herbal rambut jagung dan serai wangi dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rata-rata kadar abu teh herbal Bubuk rambut jagung : Bubuk serai wangi Kadar abu (%) RS0 . b/b 3,19A0,02a RS1 . b/b 3,80A0,01b RS2 . b/b 4,36A0,03c RS3 . b/b 5,55A0,03d Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. pada taraf 5% Tabel 3 menunjukkan bahwa kadar abu teh herbal meningkat seiring dengan meningkatnya rasio bubuk serai wangi. Pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa bubuk serai wangi memiliki kadar abu yang lebih tinggi . ,55%) dibandingkan bubuk rambut jagung . ,19%). Kadar abu dipengaruhi oleh suhu dan lama pengeringan. Serai wangi dikeringkan pada suhu 50AC selama 6 jam, sedangkan rambut jagung pada suhu 60AC selama 4 jam. Patin et al. , semakin tinggi suhu dan lama pengeringan maka semakin banyak air yang menguap sehingga kadar abu meningkat. Hartisyah et al. kadar abu berbanding terbalik dengan kadar air, semakin tinggi kadar abu maka semakin rendah kadar air. Kandungan mineral yang terdapat pada bahan baku juga memengaruhi kadar abu teh Semakin tinggi mineral, maka semakin tinggi kadar abu pada suatu bahan (Zahidin et al. , 2. Kadar abu teh herbal rambut jagung dan serai wangi pada setiap perlakuan telah memenuhi standar SNI 3836:2013 . 8%). Kadar serat kasar Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio rambut jagung dan serai wangi memberikan pengaruh terhadap kadar serat kasar teh herbal yang dihasilkan. Rata-rata kadar serat kasar teh herbal rambut jagung dan serai wangi dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 memperlihatkan bahwa semakin banyak rasio serai wangi, kadar serat kasar pada teh herbal meningkat. Berdasarkan data pada Tabel 4 hal ini disebabkan serai wangi memiliki kandungan serat kasar lebih tinggi . ,83%) dibanding rambut jagung . ,31%). Kadar serat kasar teh herbal dalam penelitian ini berkisar antara 8,31Oe9,83%, lebih rendah dibanding hasil (Habi et al. tentang teh herbal rambut jagung dan kayu manis yaitu 18,40Oe19,71%. Adanya perbedaan ini disebabkan perbedaan bahan baku dan varietas yang digunakan. Hal ini juga berkaitan dengan sifat alami serai wangi yang memiliki daun panjang dengan struktur keras dan tulang daun tebal, sehingga dibandingkan rambut jagung. DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Hasnah AR et al. Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 Tabel 4. Rata-rata kadar serat kasar teh herbal Bubuk rambut jagung : Bubuk serai wangi Kadar serat kasar (%) RS0 . b/b 8,31A0,02a RS1 . b/b 8,72A0,04b RS2 . b/b 9,34A0,06c RS3 . b/b 9,83A0,09d Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. pada taraf 5% Perbedaan kadar serat kasar yang diperoleh juga disebabkan oleh proses pengeringan bahan baku sebelum menjadi Pengeringan akan menurunkan kadar air dan kadar serat kasar akan meningkat. Sejalan dengan penelitian Harun et al. menurunnya kadar air pada bahan menyebabkan kandungan serat kasar Kadar serat kasar pada penelitian ini juga dipengaruhi oleh lama pelayuan. Semakin lama pelayuan, kadar air bahan akan menurun sehingga serat kasar meningkat (Hartanto et al. , 2. Kadar serat kasar teh herbal pada setiap perlakuan telah memenuhi persyaratan mutu teh kering dalam kemasan SNI 3836:2013 . 16,5%). Kadar polifenol Polifenol merupakan senyawa aktif turunan fenol yang berfungsi sebagai Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio rambut jagung dan serai wangi memberikan pengaruh terhadap kadar polifenol teh herbal. Rata-rata kadar polifenol teh herbal rambut jagung dan serai wangi dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rata-rata kadar polifenol teh herbal Kadar polifenol Bubuk rambut jagung : Bubuk serai mg GAE/g RS0 . 47,73A0,20a 4,77A0,02a RS1 . 50,27A0,21b 5,02A0,02b RS2 . 58,28A0,43 5,82A0,04c RS3 . 65,14A0,73d 6,51A0,07d Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. pada taraf 5% Tabel 5 memperlihatkan bahwa kadar polifenol teh herbal berkisar antara 47,73Oe65,14 mg GAE/g . ,77Oe6,51%). Semakin tinggi rasio serai wangi, maka kadar polifenol meningkat. Berdasarkan data pada Tabel 5 diketahui bahwa hal ini disebabkan serai wangi memiliki kandungan polifenol lebih tinggi . ,87 mg GAE/. dibanding rambut jagung . ,73 mg GAE/. Kadar polifenol dalam penelitian ini lebih rendah dibandingkan (Fidyasari et al. , yaitu 85,25Oe122,10 mg GAE/g tentang minuman herbal campuran serai wangi dan daun kemangi. Perbedaan total fenol ini disebabkan oleh bahan baku yang digunakan yaitu penelitian ini menggunakan rambut jagung sebagai kombinasi teh herbal. Wahyudi et al. , polifenol berperan penting dalam meningkatkan kualitas dan umur simpan teh karena sifat antioksidannya yang mencegah kerusakan makanan akibat oksidasi pada teh. Kadar polifenol berhubungan erat dengan aktivitas antioksidan. (Rezaeizadeh et , 2. menyatakan bahwa gugus hidroksil dalam fenolik berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan yang berperan dalam menangkal radikal bebas. Polifenol mampu menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektronnya dan mencegah reaksi berantai pembentukan radikal bebas (Rezaeizadeh et , 2. Semakin tinggi kadar polifenol. DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Hasnah AR et al. Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 maka semakin kuat aktivitas antioksidannya (IC. Penelitian Najmah et al. mengenai skrining fitokimia pada ekstrak serai wangi menghasilkan total fenol sebesar 81,67 mg GAE/g. Hasil penelitian Alwi . tentang pengaruh suhu dan lama waktu pengeringan minuman herbal teh rambut jagung menghasilkan total fenol sebesar 11,68 mg GAE/g. Hal ini menunjukkan bahwa serai wangi memiliki kadar polifenol yang tinggi dibandingkan rambut jagung. Adanya perbedaan varietas tanaman, kondisi tumbuh, umur panen, proses pengolahan dan penyimpanan diduga dapat memengaruhi hasil penelitian. Berdasarkan SNI 3836:2013 . 5,2%), sehingga dalam penelitian ini perlakuan RS0 dan RS1 belum memenuhi syarat mutu, namun RS2 dan RS3 telah memenuhi SNI teh kering dalam kemasan. Aktivitas antioksidan Aktivitas antioksidan pada penelitian ini dianalisis dengan metode DPPH dan dihitung sebagai nilai IC50 . nhibition Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio rambut jagung dan serai wangi memberikan pengaruh terhadap aktivitas antioksidan teh herbal. Rata-rata aktivitas antioksidan teh herbal rambut jagung dan serai wangi dapat dilihat pada Tabel 6 Tabel 6. Rata-rata aktivitas antioksidan teh herbal Bubuk rambut jagung : Bubuk serai wangi IC50 . RS0 . b/b 176,20A1,49a RS1 . b/b 158,78A3,70b RS2 . b/b 131,38A2,72c RS3 . b/b 105,87A3,34d Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. pada taraf 5% Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa aktivitas antioksidan teh herbal berada pada kisaran 105,87Oe176,20 ppm. Nilai IC50 merupakan konsentrasi larutan sampel . yang dapat menghambat 50% radikal bebas. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin tinggi . aktivitas antioksidannya, sedangkan nilai IC50 yang besar menunjukkan aktivitas antioksidan yang lemah. Aktivitas antioksidan meningkat seiring bertambahnya rasio serai wangi dan berkurangnya rambut jagung. Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa hal ini disebabkan perbedaan kandungan polifenol pada bahan yang memengaruhi aktivitas antioksidan pada teh herbal. Hartanto et al. menyatakan aktivitas antioksidan suatu bahan dipengaruhi oleh senyawa fenolik, semakin tinggi total fenol maka semakin kuat kemampuannya menyumbangkan atom hidrogen untuk Menurut Sinala dan Dewi . , suatu sampel dikatakan mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 < 50 ppm, 50Oe100 ppm kuat, 100Oe250 ppm sedang, 250Oe500 ppm lemah, dan >500 ppm tidak aktif. Perlakuan RS0. RS1. RS2, dan RS3 termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan yang sedang berdasarkan nilai IC50. Aktivitas antioksidan penelitian ini lebih kuat dibanding penelitian (Ekaputra, 2. tentang teh celup kombinasi rimpang kapulaga dan akar alang-alang yang menghasilkan nilai IC50 385,437Oe482,698 Hal ini disebabkan perbedaan kandungan polifenol yang berperan sebagai antioksidan pada bahan baku pembuatan teh Aktivitas antioksidan perlakuan RS0 sebesar 176,20 ppm lebih kuat dibandingkan penelitian Alwi . , yaitu 278,1 ppm. Perbedaan ini dipengaruhi oleh varietas tanaman, lingkungan tumbuh, dan metode Rambut jagung mengandung senyawa fenol, flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan (Febriantara et al. , 2. DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Hasnah AR et al. Volume 16. No. 2, . Halaman 325Ae333 Penggunaan serai wangi dalam penelitian ini menghasilkan aktivitas antioksidan yang meningkat. Putri dan Kasim . menyatakan kandungan pada minyak atsiri serai wangi berupa sitronelal, sitronelol, dan geraniol berpotensi sebagai sumber Aktivitas antioksidan meningkat seiring dengan meningkatnya total fenolik dan senyawa bioaktif. Serai wangi mengandung senyawa fenolik seperti luteolin, glikosida, quercetin, kaempferol, elimicin, catecol, asam klorogenat, dan asam caffeic yang juga berperan sebagai antioksidan (Chairina et al. , 2. KESIMPULAN Rasio rambut jagung dan serai wangi memberikan pengaruh terhadap kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, kadar polifenol, dan aktivitas antioksidan (IC. Perlakuan terbaik teh herbal rambut jagung dan serai wangi yaitu pada perlakuan RS2 . asio bubuk rambut jagung 70 : bubuk serai wangi . dengan kadar air 6,25%, kadar abu, 4,36%, kadar serat kasar 9,34%, kadar polifenol 5,82% atau 58,28 mg GAE/g, dan aktivitas antioksidan (IC. 131,38 ppm dan sudah memenuhi SNI 3836:2013 tentang teh kering dalam kemasan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Riau atas dukungan pendanaan penelitian ini melalui Dana DIPA Universitas Riau Tahun Anggaran 2025. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh pihak di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Riau yang telah memberikan bantuan, fasilitas, serta dukungan teknis selama pelaksanaan penelitian hingga penyusunan naskah publikasi ini. DAFTAR PUSTAKA