Penerapan Teknik Roleplay Dalam Bimbingan Kelompok Terhadap Keterbukaan Diri Siswa SMA PENERAPAN TEKNIK ROLEPLAY DALAM BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP KETERBUKAAN DIRI SISWA SMA Lingga Mayang Puspa Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya 22009@mhs. Denok Setiawati Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya denoksetiawati@unesa. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas teknik roleplay dalam layanan bimbingan kelompok terhadap peningkatan keterbukaan diri siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental One Group PretestAePosttest Design. Subjek penelitian terdiri dari 9 siswa kelas X-6 dan X-7 SMAN 1 Surabaya yang dipilih menggunakan random sampling. Instrumen penelitian adalah angket keterbukaan diri hasil modifikasi dari Jourard Self-Disclosure Questionnaire (JSDQ) sebanyak 36 item dengan reliabilitas = 0,928. Data dianalisis menggunakan uji parametrik Paired Sample t-Test. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 191,33 menjadi 275,67 dengan gain score rata-rata 84,33. Uji t menghasilkan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,001 < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest. Hasil ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay efektif dalam meningkatkan keterbukaan diri siswa dan dapat dijadikan strategi konseling yang relevan di lingkungan pendidikan. Kata Kunci: Bimbingan Kelompok. Roleplay. Keterbukaan Diri. Siswa SMA. Abstract This study aims to examine the effectiveness of the roleplay technique in group guidance services in enhancing studentsAo self-disclosure. A quantitative approach was used with a pre-experimental One Group PretestAePosttest Design. The research subjects were 9 students from classes X-6 and X-7 at SMAN 1 Surabaya, selected randomly. The instrument used was a modified version of the Jourard Self-Disclosure Questionnaire (JSDQ), consisting of 36 items, with a reliability coefficient of = 0. Data were analyzed using a parametric Paired Sample t-Test. The results showed an increase in the average score 33 to 275. 67, with an average gain of 84. The t-test yielded a significance value (Sig. 2-taile. 001 < 0. 05, indicating a significant difference between pretest and posttest scores. These findings confirm that group guidance using the roleplay technique is effective in improving studentsAo self-disclosure and may serve as a relevant counseling strategy in educational settings. Keywords: Group Guidance. Roleplay. Self-Disclosure. High School Students. Pada masa remaja, keterbukaan diri memiliki peran yang semakin signifikan karena remaja berada pada fase pencarian identitas yang ditandai oleh perubahan emosi dan tuntutan sosial. Santrock . , menegaskan bahwa kemampuan mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara terbuka membantu remaja memahami dirinya secara lebih mendalam sekaligus mengembangkan kemampuan berinteraksi secara adaptif. Dalam konteks ini, keterbukaan diri menjadi penting karena remaja mulai membangun relasi sosial yang lebih luas, terutama dengan teman sebaya. Jourard . , menyatakan bahwa individu yang mampu membuka diri secara sehat cenderung memiliki kesejahteraan emosional yang lebih baik karena dapat membangun hubungan antarpribadi yang autentik. Dengan demikian, keterbukaan diri tidak hanya berfungsi dalam relasi sosial, tetapi juga membantu penyesuaian sosial dan emosional siswa. PENDAHULUAN Keterbukaan diri merupakan proses antarpribadi ketika individu secara sadar mengungkapkan pikiran, perasaan, pengalaman, serta informasi personal kepada orang lain. Proses tersebut tidak berlangsung secara spontan, melainkan melibatkan pertimbangan mengenai isi informasi yang akan dibagikan, waktu pengungkapan, serta pihak yang menerima informasi tersebut. Derlega dan Berg . , menjelaskan bahwa keterbukaan diri berkaitan erat dengan kualitas hubungan antarpribadi yang terbentuk karena pengungkapan diri memungkinkan individu membangun kepercayaan dan kedekatan Oleh karena itu, keterbukaan diri tidak hanya dipahami sebagai tindakan komunikasi, tetapi juga sebagai indikator penting yang mencerminkan kualitas relasi sosial. Penerapan Teknik Roleplay Dalam Bimbingan Kelompok Terhadap Keterbukaan Diri Siswa SMA Sebaliknya, ketika keterbukaan diri berada pada mengungkapkan perasaan maupun permasalahan pribadi, sehingga lebih memilih memendam masalah. Kondisi ini berisiko memperpanjang tekanan emosional karena kebutuhan bantuan tidak tersampaikan secara memadai, sekaligus menghambat terbentuknya relasi sosial yang Nasyar dan Ahmad . , menjelaskan bahwa siswa dengan keterbukaan diri rendah menunjukkan hambatan dalam mengungkapkan masalah personal kepada teman sebaya maupun konselor, yang kemudian meningkatkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Kondisi tersebut menegaskan bahwa keterbukaan diri merupakan kebutuhan perkembangan yang tidak dapat diabaikan dalam konteks pendidikan. Selain itu, permasalahan keterbukaan diri memiliki keterkaitan dengan kesehatan mental remaja secara umum, karena WHO . , melaporkan bahwa sekitar 14,3% remaja usia 10Ae19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, terutama kecemasan dan depresi, yang berdampak pada kemampuan mengekspresikan perasaan serta membangun hubungan interpersonal yang sehat. Dalam lingkungan sekolah, layanan bimbingan dan konseling berperan strategis dalam membantu siswa menghadapi permasalahan perkembangan, termasuk keterbukaan diri. Prayitno . dalam Saputra et al. , menegaskan bahwa layanan bimbingan bertujuan membantu peserta didik mencapai kemandirian dalam memahami diri, mengambil keputusan, serta mengelola hubungan sosial secara sehat. Agar layanan tersebut efektivitasnya perlu dinilai melalui pengukuran yang Masdudi . , menyatakan bahwa keberhasilan layanan bimbingan harus tercermin dari adanya perubahan perilaku maupun respons psikologis siswa setelah mengikuti layanan, sehingga pengukuran sebelum dan sesudah intervensi menjadi bagian penting dalam evaluasi. Salah satu layanan yang relevan untuk meningkatkan keterbukaan diri adalah bimbingan kelompok, karena memanfaatkan dinamika kelompok sebagai sarana pembelajaran sosial. Corey . , menjelaskan bahwa mengembangkan keterampilan interpersonal melalui pengalaman bersama, refleksi, dan umpan balik antarsesama anggota. Keefektifan proses kelompok akan meningkat apabila didukung suasana yang aman dan Yalom . dalam Corey . , menyatakan bahwa perubahan bermakna dalam kelompok muncul melalui faktor terapeutik seperti dukungan emosional dan kohesi kelompok, sedangkan Suhertina . , menambahkan bahwa dukungan antaranggota dapat meningkatkan keberanian siswa untuk mengungkapkan perasaan karena merasa diterima dan tidak terancam. Dengan demikian, bimbingan kelompok menjadi konteks yang kondusif untuk melatih keterbukaan diri secara Agar bimbingan kelompok semakin efektif, diperlukan teknik yang mampu melibatkan siswa secara aktif. Teknik menempatkan siswa pada pengalaman belajar yang kontekstual melalui pemodelan situasi sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui roleplay, siswa dapat mengeksplorasi emosi sekaligus melatih pola komunikasi baru secara aman dan terstruktur. Secara teoretis, hal ini sejalan dengan pandangan Rogers . , yang menekankan bahwa pengalaman emosional langsung dalam suasana aman dapat mendorong individu lebih berani mengekspresikan perasaan dan pikiran secara Habsy . , juga menyebut bahwa roleplay efektif dalam meningkatkan ekspresi emosi dan keterbukaan diri siswa. Temuan lain menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman lebih kuat dalam mendorong perkembangan keterbukaan diri, karena siswa memperoleh kesempatan mengalami, mempraktikkan, dan merefleksikan proses komunikasi secara langsung. Pramuaji et al. , menegaskan bahwa pendekatan berbasis pengalaman lebih efektif dibandingkan metode pasif dalam meningkatkan keterbukaan diri. Kajian penelitian relevan turut menunjukkan bahwa roleplay dalam bimbingan kelompok konsisten memberikan dampak positif pada aspek komunikasi Dharmawan . , membuktikan adanya peningkatan keterbukaan diri setelah intervensi roleplay. Kalimah . , melaporkan peningkatan keterbukaan diri dalam komunikasi teman sebaya setelah layanan berbasis aktivitas kelompok. Nasution dan Siregar . , menemukan peningkatan keterampilan sosial melalui pendekatan eksperimen, sedangkan Hasibuan et al. , juga melaporkan peningkatan rerata kelompok eksperimen setelah penerapan intervensi. Jaelani et al. , menunjukkan bahwa roleplay dengan desain One Group PretestAePosttest berdampak pada peningkatan komunikasi intrapersonal. Hasil tersebut menguatkan bahwa roleplay berpotensi meningkatkan aspek komunikasi dan keterbukaan diri siswa. Berdasarkan keterbukaan diri di SMAN 1 Surabaya masih menunjukkan urgensi yang tinggi. Studi pendahuluan dilakukan pada bulan Agustus 2025 dengan memanfaatkan hasil tes psikologi yang telah dilaksanakan oleh pihak sekolah sebagai alat pemetaan awal kondisi Berdasarkan hasil tes tersebut, peneliti kemudian melakukan wawancara dengan guru bimbingan dan konseling untuk memperoleh informasi pendukung. Guru BK mengungkapkan bahwa sebagian siswa masih Penerapan Teknik Roleplay Dalam Bimbingan Kelompok Terhadap Keterbukaan Diri Siswa SMA kesulitan mengungkapkan perasaan dan masalah pribadi secara terbuka, sehingga kecenderungan memendam masalah masih sering ditemukan. Data observasi juga menunjukkan bahwa 77,2% siswa kelas X-6 dan X-7 mengalami hambatan dalam mengungkapkan perasaan dan permasalahan pribadi. Hal ini menegaskan bahwa kebutuhan layanan bersifat nyata dan memerlukan intervensi yang adaptif terhadap karakteristik siswa. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini relevan untuk dilaksanakan karena penerapan teknik roleplay dalam bimbingan kelompok memberikan ruang yang aman dan aktif bagi siswa untuk melatih keterampilan komunikasi terbuka. Desain One Group PretestAePosttest digunakan untuk menilai efektivitas intervensi secara objektif melalui perbandingan skor sebelum dan sesudah Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat perbedaan skor keterbukaan diri siswa yang signifikan sebelum dan sesudah mendapatkan layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay. diperoleh dari guru BK. Ukuran sampel ditetapkan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 0,32, sehingga diperoleh sekitar 9 siswa. Jumlah ini dipandang sesuai dengan karakteristik bimbingan kelompok yang idealnya berlangsung dalam kelompok kecil (Sugiyono, 2. Sampel akhir ditetapkan setelah siswa terpilih menerima penjelasan tujuan dan prosedur penelitian serta menyatakan persetujuan secara sukarela melalui informed consent (Creswell, 2009. Sugiyono. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pretestAe perlakuanAeposttest. Pretest diberikan untuk mengukur tingkat keterbukaan diri awal, kemudian siswa mengikuti layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay, dan setelah seluruh sesi selesai siswa mengisi posttest menggunakan instrumen yang sama agar perubahan dapat diukur secara langsung. Pelaksanaan penelitian berlangsung kurang lebih enam minggu, dengan jadwal Tabel 1. Pelaksanaan Perlakuan Tahapan Sesi Keterangan Kegiatan Perlakuan Sesi Pemberian Pengisian Pretest Pretest keterbukaan diri. Bimbingan Tahap pembentukan, perkenalan Sesi Kelompok serta Pertemuan bimbingan konseling dan kontrak Bimbingan Menyampaikan apa yang selama Sesi Kelompok ini tertahan kepada orang tua. Pertemuan (Kegiatan roleplay sesi . Bimbingan Menyampaikan pendapat kepada Sesi Kelompok teman yang selama ini hanya Pertemuan dipendam. (Kegiatan roleplay sesi Bimbingan Menyampaikan rahasia pribadi Kelompok yang belum pernah dibagikan. Sesi Pertemuan . egiatan roleplay sesi . serta Refleksi pertemuan sebelumnya. Sesi Pemberian Pengisian Post-test keterbukaan diri/posttest Setiap sesi dilaksanakan 60 menit satu kali per minggu agar siswa memiliki ruang refleksi serta kesempatan menerapkan pemahaman yang diperoleh dari pertemuan Selain pengukuran menggunakan angket, penelitian juga menggunakan instrumen observasi untuk memantau keterlibatan peserta dan perubahan perilaku verbal maupun nonverbal selama proses roleplay, sehingga data kuantitatif memperoleh penguat dari catatan proses layanan. Instrumen utama penelitian berupa kuesioner keterbukaan diri yang dimodifikasi dari Jourard SelfDisclosure Questionnaire (JSDQ) oleh Jourard . , dengan jumlah 36 item yang mencakup enam aspek: sikap METODE Metode penelitian ini dirancang untuk menguji efektivitas layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay terhadap keterbukaan diri siswa secara terukur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental One Group PretestAePosttest, sehingga pengukuran dilakukan dua kali pada kelompok yang sama, yaitu sebelum perlakuan (OCA) dan sesudah perlakuan (OCC), dengan perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok menggunakan teknik roleplay (X). Desain ini dipilih karena memungkinkan peneliti menilai dampak intervensi secara langsung melalui perbedaan skor pretest dan posttest, meskipun tidak melibatkan kelompok kontrol (Creswell, 2009. Sugiyono, 2. Penelitian juga bersifat aplikatif karena bertujuan menguji efektivitas perlakuan untuk menjawab kebutuhan nyata di lingkungan sekolah dan menghasilkan bukti empiris yang dapat digunakan dalam praktik layanan (Ary et al. , 2. Sumber data penelitian berasal dari siswa kelas X-6 dan X-7 SMAN 1 Surabaya yang beralamat di Jalan Wijayakusuma No. Kecamatan Genteng. Kota Surabaya. Jawa Timur. Lokasi ini dipilih berdasarkan studi pendahuluan bulan Agustus 2025 melalui telaah dokumen hasil tes psikologi sekolah serta wawancara guru BK yang menunjukkan bahwa keterbukaan diri siswa masih cenderung rendah, terutama dalam mengungkapkan perasaan, masalah pribadi, dan pendapat secara terbuka. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X-6 dan X7 yang berjumlah 71 siswa (Sugiyono, 2. Sampel ditentukan dengan random sampling, yaitu setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih (Creswell, 2009. Sugiyono, 2. Pengacakan dilakukan menggunakan undian dari daftar nama siswa yang Penerapan Teknik Roleplay Dalam Bimbingan Kelompok Terhadap Keterbukaan Diri Siswa SMA dan opini, selera dan minat, pengembangan pribadisosial/belajar/karier dalam konteks sekolah, keuangan, kepribadian, dan fisik. Skor respons disusun berdasarkan kedalaman . pengungkapan diri, yaitu 0 . elum pernah membicaraka. , 1 . ernah membicarakan secara umu. , 2 . ernah membicarakan secara lengkap dan terbuk. , dan X . nformasi tidak sesuai/kebohonga. yang mempertimbangkan target pengungkapan pada lima kategori signifikan (Ibu. Ayah. Teman Pria. Teman Wanita, dan Saudara Kandun. sebagaimana konsep keterbukaan diri (Jourard, 1. Untuk melengkapi data kuantitatif, digunakan pula observasi sebagai data Observasi dilakukan menggunakan LKPD . embar kerj. yang memuat indikator keterbukaan diri selama roleplay, baik melalui penilaian observer terhadap perilaku verbal dan nonverbal . isalnya keberanian berbicara, menunjukkan emosi, keterbukaan sesuai tema, dan interaksi dua ara. maupun refleksi konseli setelah Penggunaan observasi ini sejalan dengan penjelasan Sugiyono . , bahwa observasi dapat digunakan untuk mengamati perilaku, aktivitas, dan proses yang terjadi langsung pada situasi tertentu. Sebelum digunakan dalam pengumpulan data utama, kuesioner diuji kualitasnya. Uji validitas dilakukan pada 30 siswa kelas XII-7 SMAN 1 Surabaya menggunakan SPSS 27 untuk memperoleh nilai korelasi item, dan seluruh 36 item dinyatakan valid. validitas dimaknai sebagai ketepatan instrumen mengukur konstruk yang seharusnya diukur (Creswell, 2009. Sugiyono, 2. Uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha pada SPSS 27 menghasilkan koefisien = 0,958 . yang menunjukkan konsistensi internal sangat tinggi, sehingga instrumen dinilai stabil dan layak digunakan dalam pengukuran keterbukaan diri (Sugiyono, 2. Analisis data dilakukan menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS 27 for Windows sebagai spesifikasi alat analisis statistik. Tahap awal analisis mencakup uji normalitas sebaran skor pretest dan posttest menggunakan ShapiroAeWilk, karena jumlah sampel kurang dari 50, dengan kriteria Sig. > 0,05 menunjukkan data berdistribusi normal (Sugiyono, 2. Setelah asumsi normalitas terpenuhi, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji t berpasangan untuk mengetahui perbedaan skor keterbukaan diri sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok yang sama. Pengambilan keputusan didasarkan pada taraf signifikansi = 0,05. apabila nilai Sig. -taile. < 0,05 maka HCA ditolak dan HCA diterima, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest sebagai dampak layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay (Sugiyono. Dengan demikian, hasil analisis digunakan untuk menyimpulkan efektivitas intervensi secara kuantitatif dan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Surabaya dengan melibatkan 9 peserta didik perempuan kelas X-6 dan X-7. Data keterbukaan diri diperoleh melalui angket keterbukaan diri hasil modifikasi Jourard Self-Disclosure Questionnaire (JSDQ) oleh Jourard . , yang terdiri dari 36 butir dan telah memenuhi kelayakan instrumen . alidAereliabe. Hasil yang disajikan pada bagian ini merupakan hasil akhir pengukuran pretest dan posttest serta hasil pengujian hipotesis. 1 Data Hasil Pengukuran Awal Kategorisasi skor keterbukaan diri menggunakan interval berdasarkan Mean A 1SD, sehingga terbentuk tiga kategori berikut. Tabel 2. Kategorisasi Skor Keterbukaan Diri Interval Kategori Kriteria Skor Rendah X O (Mean Oe 1SD) 0Ae120 Sedang (Mean Oe 1SD) < X < 121Ae239 (Mean 1SD) Tinggi X Ou (Mean 1SD) 240Ae360 Berdasarkan hasil pretest, sebagian besar peserta berada pada kategori sedang, dua peserta berada pada kategori rendah, dan dua peserta berada pada kategori Tabel 3. Data Hasil Pengukuran Awal No Inisial Kelas Skor Kategori X-7 Sedang AAK X-6 Rendah X-6 Sedang NAM X-7 Sedang NAMS X-6 Sedang QAF X-6 Tinggi QNP X-7 Rendah SAA X-6 Tinggi SAP X-7 Sedang Pola pretest menunjukkan masih adanya peserta yang mengalami hambatan keterbukaan diri . ategori renda. , sehingga layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay relevan untuk diuji sebagai intervensi yang mendorong pengungkapan diri dalam konteks hubungan sosial remaja (Jourard, 1. 2 Data Hasil Pengukuran Akhir Setelah rangkaian layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay, skor posttest menunjukkan pergeseran kategori ke arah yang lebih tinggi. Penerapan Teknik Roleplay Dalam Bimbingan Kelompok Terhadap Keterbukaan Diri Siswa SMA Tabel 4. Data Hasil Pengukuran Akhir Inisial Kelas Skor Kategori X-7 Tinggi AAK X-6 Tinggi X-6 Tinggi NAM X-7 Tinggi NAMS X-6 Tinggi QAF X-6 Tinggi QNP X-7 Sedang SAA X-6 Tinggi SAP X-7 Tinggi dengan teknik roleplay. Hasil ini menegaskan bahwa peningkatan skor bukan sekadar perubahan deskriptif, tetapi perbedaan yang bermakna secara statistik, sehingga intervensi dapat dinyatakan efektif dalam meningkatkan keterbukaan diri siswa. Pembahasan Rumusan masalah penelitian menanyakan apakah terdapat perbedaan skor keterbukaan diri siswa yang signifikan sebelum dan sesudah mendapatkan layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay. Hasil penelitian menjawab pertanyaan tersebut secara eksplisit: terdapat peningkatan rata-rata skor dari 191,33 menjadi 275,67 dan hasil uji menunjukkan perbedaan yang signifikan (Sig. Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok teknik roleplay terbukti efektif meningkatkan keterbukaan diri siswa dalam konteks penelitian ini (Habsy, 2022. Saputri & Nursalim, 2. Temuan ini dapat dijelaskan melalui teori keterbukaan diri Jourard. Jourard . menekankan bahwa keterbukaan diri berkembang ketika individu merasa cukup aman untuk mengungkapkan informasi personal secara sukarela. Dalam roleplay, siswa tidak diminta Aulangsung curhatAy, melainkan berlatih komunikasi melalui skenario, sehingga beban psikologis menurun dan siswa memiliki struktur untuk mengekspresikan pikiran serta Mekanisme ini selaras dengan pandangan bahwa roleplay menyediakan ruang latihan yang aman, membuat siswa lebih berani mencoba bentuk komunikasi baru tanpa takut penilaian negatif (Habsy, 2022. Saputri & Nursalim, 2. Peningkatan keterbukaan diri juga sejalan dengan model Johari Window, ketika area AutersembunyiAy berkurang dan area AuterbukaAy meningkat melalui proses berbagi dan menerima umpan balik (Luft, 1. Dalam konteks layanan, roleplay dipadukan dengan refleksi kelompok memungkinkan siswa memperoleh respons empatik dan umpan balik sosial yang memperkuat keberanian berbicara. Pola ini relevan dengan temuan bahwa refleksi pasca-simulasi memperkaya pemaknaan pengalaman dan mendorong transformasi perilaku komunikasi (Aisyah et al. , 2. Jika ditinjau dari dinamika perubahan, tabel gain score menunjukkan semua peserta meningkat, tetapi besaran peningkatan berbeda. Peserta dengan skor awal rendah . isalnya AAK dan QNP) mengalami lonjakan besar. Ini masuk akal karena pada fase awal mereka memiliki hambatan keterbukaan, lalu memperoleh Aupengalaman korektifAy berupa penerimaan sosial dan latihan komunikasi yang berulang. Penjelasan ini konsisten dengan temuan bahwa dukungan sosial dan kualitas interaksi kelompok dapat mempercepat perubahan keterbukaan diri, terutama bagi siswa yang semula pasif Sebanyak 8 dari 9 peserta berada pada kategori tinggi pada posttest, sedangkan 1 peserta (QNP) berada pada kategori sedang. Secara deskriptif, hal ini menunjukkan peningkatan keterbukaan diri setelah intervensi, yang selaras dengan pandangan bahwa keterbukaan diri dapat berkembang melalui pengalaman komunikasi yang terstruktur dan suportif (Habsy, 2022. Jourard, 1971. Saputri & Nursalim, 3 Perbandingan Skor Pengukuran Awal-Akhir (Gain Sko. Perubahan skor individual seluruh peserta menunjukkan kenaikan . ain score positi. Tabel 5. Perbandingan Hasil Pengukuran Awal dan Akhir No Inisial Pretest Posttest Gain Keterangan Meningkat AAK Meningkat Meningkat NAM Meningkat NAMS 161 Meningkat QAF Meningkat QNP Meningkat SAA Meningkat SAP Meningkat Rata-rata 191,33 275,67 84,33 Rata-rata skor meningkat dari 191,33 menjadi 275,67 . enaikan 84,33 poi. Kenaikan terbesar terjadi pada AAK ( . , diikuti QNP ( . Pola ini mengindikasikan bahwa peserta dengan skor awal rendah berpotensi mengalami lonjakan peningkatan yang kuat ketika memperoleh pengalaman latihan komunikasi dan dukungan kelompok (Athira & Hariyadi, 2022. Taharani et al. , 2. Hasil Pengujian Hipotesis Hasil uji t berpasangan menunjukkan Sig. -taile. = 0,001 (< 0,. , sehingga HCA ditolak dan HCA diterima. Artinya, terdapat perbedaan yang signifikan antara skor keterbukaan diri sebelum dan sesudah mengikuti layanan bimbingan kelompok Penerapan Teknik Roleplay Dalam Bimbingan Kelompok Terhadap Keterbukaan Diri Siswa SMA atau ragu (Athira & Hariyadi, 2022. Irhamna et al. , 2022. Taharani et al. , 2. Sementara itu, peserta yang sejak awal sudah tinggi . isalnya QAF dan SAA) tetap meningkat meski lebih kecil, yang menunjukkan intervensi juga bermanfaat memperhalus kualitas keterbukaan, bukan hanya menaikkan skor. Temuan kecenderungan hasil studi sebelumnya bahwa bimbingan kelompok dengan teknik roleplay efektif meningkatkan aspek komunikasi siswa. Hasil ini sejalan dengan Dharmawan . dan Kalimah . , yang melaporkan peningkatan keterbukaan diri melalui aktivitas kelompok berbasis roleplay, serta sejalan dengan Jaelani et al. , . , yang menunjukkan perbaikan aspek komunikasi intrapersonal setelah rangkaian roleplay. Dengan demikian, penelitian ini mengonfirmasi bahwa roleplay dalam bimbingan kelompok merupakan teknik yang relevan dan efektif untuk membantu remaja meningkatkan keterbukaan diri, khususnya pada konteks siswa kelas X di SMAN 1 Surabaya. sampel, serta menambah durasi intervensi agar hasil penelitian lebih kuat dan mendalam. DAFTAR PUSTAKA Aisyah. Nurmala. , & Wibowo. The Effectiveness of Group Guidance With Role-Playing Techniques to Reduce the Negative Impact of Smartphones. Bisma The Journal of Counseling, 7. , 99Ae106. https://doi. org/10. 23887/bisma. Ary. Jacobs. , & Sorensen. Introduction to Research in Education (C. Shortt . 8th Editi. Wadsworth Cengage Learning. Athira. , & Hariyadi. Journal of Social and Industrial Psychology Pengaruh Interpersonal Trust dan Intimate Friendship Terhadap SelfDisclosure Generasi Z Pengguna Twitter. Journal PENUTUP of Social and Industrial Psychology, 11. , 44Ae52. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik roleplay berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keterbukaan diri siswa kelas X di SMAN 1 Surabaya. Peningkatan terlihat dari kenaikan skor rata-rata keterbukaan diri dari 191,33 . menjadi 275,67 . , serta didukung hasil uji t berpasangan dengan Sig. 0,001 (< 0,. Temuan ini menegaskan bahwa roleplay efektif karena memberikan pengalaman emosional langsung, ruang aman untuk berbagi, dan dinamika kelompok yang suportif sehingga siswa lebih berani mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman pribadi. Peningkatan paling besar terjadi pada peserta AAK, yang menunjukkan bahwa siswa dengan keterbukaan diri rendah dapat berkembang pesat ketika memperoleh validasi dan dukungan kelompok. Saran