JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 6 No. 1 Tahun 2021 | 11 Ae 24 JPK : Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan http://journal. id/index. php/JPK/index ISSN 2527-7057 (Onlin. ISSN 2549-2683 (Prin. Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah : Internalisasi Nilai-nilai Islam Dalam Membangun Wawasan Kebangsan di Lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Muhammad Junaedi A 1. Fajar Muharram A 2 . Muhammad Yani A 3 Informasi artikel Sejarah Artikel: Diterima November Revisi Desember 2021 Dipublikasikan Januari Keywords : Pancasila. Darul Ahdi Wa Syahadah. Islamic Values. National Insight. Muhammadiyah Higher Education How to Cite : Muhammad Junaedi. Fajar Muharram. Muhammad Yani. Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah : Internalisasi Nilai-nilai Islam Dalam Membangun Wawasan Kebangsan di Lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 6. DOI: http://dx. org/10. 9/jpk. ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk memahami makna konsep Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah dan bentuk-bentuk implementasi akan internalisasi nilainilai Islam dalam membangun wawasan kebangsan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah tepatnya di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Gresik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan diskriptif kualitatif dengan pendekatan fenemenologi. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara terhadap pimpinan Universitas dan civitas akademika Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna konsep negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah adalah sebagai pedoman pemikiran dan perilaku mengenai hubungan antara agama, negara dan organisasi sekaligus sebagai ijthad politik Muhammadiyah yang bertujuan untuk menguatkan harmonisasi kebangsaan. Sedangkan model internaliasai nilai-nilai Islam yang diterapkan di dalam penguatan wawasan kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah yaitu dilakukan dalam dua bentuk pertama dengan model dakwah gerakan tanwiriyah sebagaimana konsep Islam berkemajuan dan kedua dakwah Bil Amal sebagaimana dalam prinsip teologi sosial Al MaAoun ABSTRACT The Pancasila State as Darul Ahdi Wa Syahadah: Internalization of Islamic Values in Building National Insights in Muhammadiyah Higher Education . This article aims to understand the meaning of the concept of the Pancasila State as Darul Ahdi Wa Syahadah and the forms of implementation of the internalisation of Islamic values in building national insight in the Muhammadiyah Higher Education environment, precisely at Muhammadiyah University Sidoarjo. Muhammadiyah University Surabaya and Muhammadiyah University Gresik. The methods used in this research is a qualitative description with a phenemenological approach. Data collection is done by means of observation, documentation and interviews with university leaders and the campus academic community. and organization as well as Muhammadiyah political ijthad which aims to strengthen the harmonization of the nationality, while the internalization model of Islamic values which is applied in strengthening the national insight in Muhammadiyah universities is It is carried out in two forms, the first with the model of the tanwiriyah movement . as the advanced Islamic concept and the second to the Bil Amal . as in the principles of social theology of Al Ma'un. Alamat korespondensi: Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Indonesia E-mail: junaedimuhammad@umsid. fajarmuharram@umsida. muhammad_yani@umsida. Copyright A 2021 Universitas Muhammadiyah Ponorogo PENDAHULUAN Fenomena kehidupan sosial kebangsaan akhir-akhir ini terusik dengan adanya berbagai macam krisis sosial kemanusiaan yang mengarah pada disintegrasi bangsa, hal yang paling lazim terdengar adalah munculnya faham radikalisme yang melahirkan kekerasan atas nama agama atau kekerasan suci, konflik komunal, menguatnya politik identitas dengan mengakarnya ikatan-ikatan primordial, peristiwa DOI: http://dx. org/ 10. 24269/jpk. email: jpk@umpo. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan yang terjadi pada pada kasus bom bunuh diri di Polrestabes Medan pada 13 November 2019, dimana sebelumnya juga terdapat kasus bom bunuh diri yang sama terjadi di tiga lokasi Surabaya yaitu Gereja Santa Maria. Gereja Pantekosta dan Polrestabes Surabaya pada 14 Mei 2018 ataupun kasus konflik komunal di Wamena pada 23 September 2019, pembakaran bendera yang didalamnya terdapat simbol agama dan berbagai macam bentuk jenis hate spech/syiar kebencian, berita hoax dan lain sebagaianya, peristiwa-peristiwa tersebut secara keseluruhan hampir dilatar belakangi dengan ciri khas yang sama yaitu menjadikan agama sebagai bingkai politik identitas dan kekuasan yang Sejatinya semua ajaran agama, baik yang bersumber dari agama ardhi . yang lahir melalui sistem kepercayaan lokal masyarakat dan agama samawi . yang lahir melalui proses wahyu kenabian, sangat menekankan arti penting penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana juga prinsip toleransi dalam kehidupan keragaman masyarakat, dalam konteks ini Indonesia merupakan negara dengan ciri pluralitas masyarakat yang sangat tinggi, karenanya perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, batasan identitas, kecurigaan dalam hubungan antar kelompok yang melahirkan stereotipe etnis, dan berbagai identitas politik aliran haruslah dikesampingkan agar tercipta integrasi nasional bangsa Indonesia. Perjalanan historis bangsa tercatat bahwa kemerdekaan yang digapai oleh bangsa Indonesia adalah akumulasi keberhasilan yang dicapai oleh semua pejuang bangsa dengan berbagai macam latar belakang identitas etnis kelompok, suku, ras dan agama, oleh karenanya rumusan Pancasila yang ditetapkan dalam rapat BPUPKI guna membangun dasar negara merupakan hasil perjanjian bersama oleh para perumus dasar negara yang semestinya dihormati dan dijaga dengan baik, meskipun pada saat perumusan dasar negara terdapat berbagai macam silang sengkarut pendapat antar tokoh, namun Pancasila adalah hasil kesepakatan bersama dalam membangun wawasan kebangsan, dengan demikian ia adalah ideologi final yang tidak bisa dirubah karena ia lahir sesuai dengan nilai historis kearifan lokal bangsa Indonesia sendiri. JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Ketika kesepakatan sudah terbentuk maka kesaksian adalah kunci utama dalam membuktikan kesetiaan warga negara Indonesia dalam menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, atas dasar pandangan tersebutlah Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang juga telah berperan dalam perumusan dasar negara Pancasila memandang penting untuk memberikan menerapkan Pancasila sebagai dasar dan multidimensional bangsa, hal inilah yang Muhammadiyah dalam membangun wawasan Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makasar tahun 2005, dengan merumuskan konsep negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, yang secara etimologis berarti Pancasila sebagai rumah perjanjian dan kesaksian, artinya tidak cukup hanya mengikat janji bersama dalam ideologi Pancasila namun ikatan janji itu harus dibuktikan dengan pengamalan etik dalam kehidupan sosial kebangsaan. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam memperjuangkan maupun mengisi kemerdekaan bangsa ini, hal yang sama juga bagi organiasi Islam lainnya seperti NU, keduanya merupakan organisasi keislaman maintrem dengan pengikut Muslim terbanyak di Indonesia, ia merupakan bagian dari kekuatan dan gerakan Islam yang telah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, terdapat tokoh-tokoh besar dari kalangan NU maupun Muhammadiyah yang ikut merumuskan dasar negara Bangsa Indonesia seperti Kiai Bagus Hadikusumo, yang merupakan salah satu anggota BPUPKI, kehadiran tokoh-tokoh Islam sebagai founding father bangsa sejak awal kemerdekaan bangsa ini telah menunjukkan sikap penerimaan diri dengan lapang dada yang sangat besar meskipun terjadi perubahan sila satu dalam piagam Jakarta, sikap inilah yang kemudian perlu diejawantahkan dan diteladani oleh semua lapisan sosial masyarakat dan bangsa Pada saat ini. Muhammadiyah sudah memasuki satu abad lebih, diusianya yang sekarang, menampakkan bahwa eksistesni Muhammadiyah mampu memberikan perubahan yang signifikan bukan hanya pada konteks kehidupan nasional kebangsaan saja, namun Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan juga pada kancah global, prinsip gerakan Islam yang didasarkan pada harokah gerakan tajdid atau pembaharuan dan harokah tanwiriyah . erakan penceraha. mampu menghadirkan gerakan Islam yang dinamis dan kontekstual, ia menjawab perubahan zaman dengan berbagai macam tantangan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan keamanan ditengah krisis identitas nasional bangsa akibat adanya proses modernisasi dan globalisasi yang keluar dari nafas nilai-nilai Islam dan kearifan lokal masyarakat Indonesia, dengan karakter organisasi yang moderat dan wastaiyah inilah Muhammadiyah mampu menghadirkan gerakan dakwah yang mencerahkan, merangkul semua pihak, menerima keragaman dalam konteks kehidupan kebangsaan sehingga mampu menangkal berbagai faham ideologi ataupun sikap yang jauh dari nilai-nilai ekstrimisme maupun radikalisme, dengan prinsip Teologi Sosial Al Maun yang diusung oleh Kh Ahmad Dahlan Muhammadiyah menekankan pada sikap Tasamuh . Tayusbislmi . idup dalam sebuah kedamai. Attaaruf . aling mengenal satu sama lai. maupun Attarohum . aling mengasih. Secara umum bukti keauntetikan Muhammadiyah dalam sikap kebangsaan dalam situasi dan kondisi sekarang adalah menerima secara penuh Pancasila sebagai dasar dan Ideologi Negara Republik Indonesia dan tetap mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah dengan berbagai bidang terutama pendidikan dan kesehatan serta lembaga-lembaga filantropi lainnya, salah satu bentuk Amal Usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan yaitu dengan hadirnya Peguruan Tinggi Aisiyah dan Muhamadiyah yang tersebar diseluruh santero republik ini, dalam dokumen resmi PP Muhammadiyah tercatat memiliki 4786 sekolah dan 171 Universitas yang tersebar diseluruh Media pendidikan dirasa memilki pengaruh yang sangat besar ini kerena menyangku sumber daya manusia, yang pada akhirnya diharapkan mampu menaikkan indeks pembangunan manusia di Indonesia yang unggul dan berkarakter, unggul didukung dengan sistem pendidikan yang berkemajuan dan berkarakter didukung dengan pengembangan pendidikan yang sarat dengan nafas nilai-nilai Islam dan Dalam penelitian terdahulu konsep negara Pancasila sebagai sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, sebenarnya sudah banyak dikaji secara teoritis dan praktis dalam berbagai forum akademis maupun non-akademis di lingkungan media dakwah persyarikatan Muhammadiyah, namun buku khusus yang sudah diterbitkan tentang internalisasi nilai-nilai Islam dalam membangun wawasan kebangsaan melalui kepustakaan dan buku pokok mata kuliah landasan kepribadian seperti pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan masih perlu dikembangkan lagi meskipun disana terdapat buku bahan ajar yang sudah diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, secara mendiskrisipkan secara teoritis bisa dilihat dalam runtutan esay dan gagasan berikut : Pertama hand book yang diterbitkan langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai hasil dari Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makasar tahun 2005 yang menetapkan rumusan Pancasila sebagai Sebagai Darul Ahdi Wa Sahadah, didalamnya diuraikan tentang bagaimanakah proses pemebentukan negara indonesia, peran strategis Muhammadiyah, kedudukan negara Pancasila dan proyeksi Muhammadiyah kedepan dalam membangun Kedua penelitian yang dilakukan oleh beberapa akademisi perguruan Muhammadiyah diantaramya yang ditulis oleh Didik Baihaqi Arif dari Universitas Ahmad Dahlan tentang konsep negara Pancasila : Negara Perjanjian dan persaksian, kemudian oleh Muhammad Salihul Hakim dkk tentang sosialisasi konsep negara Pancasila sebagai Sebagai Darul AhAodi wa Sahadah melalui media di Lingkungan persarikatan Muhammadiyah (Muhammad Saiful Hakim, 2. , kemudian oleh Dr Syamsul Hidayat akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta yang menulis tentang negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Sahadah dan kontribusi Muhammadiyah bagi NKRI (Syamsul Hidayat. Kemudian karya Hasnan Bahtiar tentang Dar Al-Ahdi Wa Al-Shahadah: Upaya dan Tantangan Muhammadiyah Merawat Kebinekaan, kemudian karya Prihma Shinta Utami tentang urgensi internaliasi nilai-nilai Kemuhammadiyahan kebangsaan melalui konsep negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Prihma Shinta Utami, 2. Ketiga, berbagai rangkaian kegiatan sosialisasi dan kerja sama Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Menko PMK dalam penyebaran nilai-nilai Pancasila sebagai Darul JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan Ahdi Wa Syahadah di lingkungan media dakwah Muhammadiyah maupun yang ada di luar persyarikatan Muhammadiyah, serta terdapat kumpulan khotbah Jumat yang bertemakan tentang Darul Ahdi Wa Syahadah, secara umum memang kajian dan penelitian tentang konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Sahadah sudah cukup banyak dilakukan, namun dalam penelitian ini peneliti akan mengfokuskan bagaimanakah makna konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah serta bentuk internalisasi nilai-nilai Islam dalam membangun wawasan kebangsaan yang diterapakan di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah khususnya yang terdapat di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Surabaya dan Gresik METODE Metode penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan diskriptif kualitatif, dengan pendekatan dengan pendekatan ini peneliti berharap mampu memahami proses konsruksi sosial dalam pemahaman tentang makna dan bentuk internaliasi nilai-nilai Islam dalam membangun wawasan kebangsaan dengan mengintegrasikan sumber-sumber ajaran Islam yang relevan dengan nilai-nilai Pancasila, oleh karenananya kajian pemaknaan dan tafsir sosial atas kenyataan penting difahami guna membangun konsepsi negara Pancasila sebagai Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah agar mampu diterapkan secara optimal, khusunya dalam ruang lingkup persarikatan Muhammadiyah ataupun masyrakat umum. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan observasi. Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Wakil Rektor Tiga Universitas Muhamadiyah Surabaya Kemuhammadiyahan dan Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik serta civitas akademika yang terkait, dan dokumentasi kegiatan penelitian sebagai bagian dari data primer penelitian, dengan melakukan observasi dan wawancara langsung tentu peneliti akan mudah memahami tafsir atas pemaknaan informan dalam mengkaji konsepsi Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Sahadah serta integrasi nilainilai Islam dalam wawasan kebangsaan yang terkandung dalam Pancasila, sedangkan data sekunder peneliti akan mengkaji dan meriwiew kembali penelitian terdahulu serta hasil dari sosialisasi Pancasila sebagai darul Ahdi Wa . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Sahadah yang sudah di sosialisasikan melalui media lembaga persarikatan Muhammadiyah. Secara umum berikut gambaran proses pengumpulan dan teknik analisis data yang Gambar 1 : Skema alur dan tahapan penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Fenomena kehidupan sosial masyarakat saat ini diwarnai dengan berbagai macam tantangan krisis identitas nasional, hal ini ditandai dengan lunturnya nilai-nilai kearifan lokal masyarakat, meningkatnya kriminalitas, degradasi moral anak bangsa, merebakanya disintegrasi bangsa dengan menguatnya konflik identitas, populisme Islam, mengakarnya faham dengan munculnya berbagai organisasi sosial maupun keagaman dengan beragam ideologi yang menjadi latar belakang pemikirannya, sampai pada pudarnya semangat gotong royong antar kelompok dalam kehidupan Ditambah meningkatnya kasus korupsi, disparitas, ketidakadilan sosial dan lain sebagainya, berangkat dari berbagai permasalahan tersebut maka diperlukan upaya pemaknaan dan revitaliasi, penguatan kembali Pancasila sebagai dasar dan Ideologi negara agar nilai-nilai yang ada didalam lima sila Pancasila itu bisa terlaksana dengan baik dalam semua sendi kehidupan kebangsaan. Sejatinya hubungan antara agama dan kehidupan sosial-politik itu tidak bisa terpisahkan satu sama lain, agama hadir sebagai pedoman dan pijakan masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan aturan-aturan ajaran keagamaannya, sila satu yang berbunyi Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan Ketuhanan Yang Maha Esa, ini adalah konsep Tauhid yang menjadi sumber, penguat akan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, kemufakatan dan keadilan, meskipun Indonesia memiliki beragam keyakinan dalam faham keagamaan, ini meniscayakan bahwa ajaran dalam sebuah agama apa-pun itu mengajarkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan hubungan anatar kewarganegaraan di Indonesia ini menjadi lebih Karena itulah. Muhammadiyah sebagai organiasi sosial keagamaan yang berbasis pada nilai-nilai Islam juga ikut serta bertanggung jawab untuk memajukan bangsa ini menjadi lebih berkemajuan, guna menjawab berbagai macam tantangan kehidupan kebangsaan tersebut maka perlu dirumuskan dan ditegaskan kembali pengautan konsep negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, yang artinya Pancasila merupakan perjanjian bersama yang bersifat final, dan kedua kita semua sebagai warga negara harus mengikat diri untuk bersaksi guna mengisi kehidupan kebangsaan ini menjadi lebih baik dan bermakna, sehingga sudah tidak tepat lagi berbicara perdebatan ideologi Pancasila, namun yang terpenting adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari. Lantas bagaimanakah makna atau pemahaman Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah ini khsusunya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah bagaimanakan implementasi atau penerapan internalisasi nilai-nilai Islam dalam penguatan Wawasan Kebangsaan. Makna Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Konsep Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah memang sudah banyak disosialisasikan di berbagai lembaga atau-pun Amal Usaha Muhammadiyah sejak 2015, pasca muktamar di Makasar, termasuk didalamnya yang terdapat di Perguruan Tinggi Aisiyah dan Muhammadiyah. Sosialiasi ini bertujuan untuk memberikan penguatan kembali wawasan kebangsaan bagi civitas akademika dosen dan mahasiswa yang ada di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, fenomena yang muncul dikalangan masyarakat ataupun mahasiswa masih ada sebagian individu maupun kelompok yang mempertentangkan rumusan dasar negara Pancasila dengan apa yang menjadi basis Pancasila dengan Negara Bersyariat Islam, hal ini bisa dilihat dengan menariknya diskursus Pancasila dengan Syariat sebagai bagian dari pertarungan Ideologis baik di kalangan akdemisi maupun kelompok atau masyarakat secara luas, ada sekelompok yang cukup militan dan teguh dengan pemikirannya bahwa salah satu cara untuk menegakkan bangsa ini agar menjadi negeri yang lebih baik maka harus kembali pada ajaran agama Ilahi, ajaran syariat Islam. Berangkat dari permasalahan inilah kita bisa meninjau beberapa referensi yang sudah di tulis oleh beberapa akademisi, misalnya penelitian terbaru yang dilakukan oleh Deny JA dengan LSI-nya melakukan survey tentang peneriman Pancasila sebagai dasar negara menurutnya 13 tahun terahir, presentase publik pro-Pancasila menurun hingga 10 persen. Seperti yang diungkapakan oleh Deny JA pada tanggal 17 Juli 2018 dalam laman detik. pada tahun 2005, publik yang pro-Pancasila angkanya mencapai 85,2 %. Lima tahun kemudian tahun 2010, angkanya menjadi 81,7%. Tahun 2015 angkanya menjadi 79,4 % dan tahun 2018 menjadi 75,3%. Jadi dalam waktu 13 tahun, jumlah publik yang pro-Pancasila menurun 10 %, hasil survey menunjukkan ketika publik pro-Pancasila menurun, disisi yanglain publik yang pro-NKRI bersyariah mengalami kenaikan 9 % selama 13 tahun dari tahun 2005 yang angkanya 4,6 % tahun 2018 menjadi 13,2%. ( Laporan Deni JA , 2. Dalam buku AuNKRI Bersyariah Atau Ruang Publik yang Manusiawi Au . , kita bisa meninjau tentang diskursus hubungan antara Agama, negara, dan Pancasila. Buku lain yang ditulis oleh Prof Haidar Nasir, ketua umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, beliau dalam disertasinya juga sudah menulis tentang Islam Syariat . , dan juga apa yang ditulis oleh Baidawy . dalam karyanya, ia menawarkan sebuah sintesa gagasan wawasan kebangsaan dengan mengkorelasikan konsep negara dalam bingkai Islam dan bingkai Pancasila dengan konteks keindonesiaan, sebuah gagasan profetik yang membumikan nilai-nilai Agama dalam kehidupan kebangsaan. Terlepas dari perdebatan dalam pemaknaan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Muhammadiyah menegaskan hubungan antara agama dengan politik, dalam seminar Pramuktamar Muhammadiyah ke 48 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tahun 2020. Prof Haidar Nasir dan Prof Din Syamsudin, menegaskan kembali bahwa konsep negara JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan Pancasila sebagai Darul Ahdi adalah sesuatu yang final, ia tidak perlu diperdebatkan lagi karena menjadi kesepakatan bersama oleh semua lapisan sosial masyarakat, selanjutnya yang terpenting adalah kesadaran kolektif bangsa ini dalam mengisi dan mengimplementasikan nilainilai Pancasila dalam kehidupan sosial kebangsaan, menurut Prof Din Syamsudin sudah saatnya kita mengarah pada Dinul Hadhorol Wal Fadhilah yaitu negara yang berperadaban dan berkemajuan, ini adalah ijtihad politik Muhammadiyah hal ini selaras dengan apa yang diusung oleh Muhammadiyah dengan Islam yang berkemajuan, hal yang sama juga ditegaskan oleh Prof Haidar Nasir bahwa kita tidak perlu menguras energi dalam pertentangan ideologi dan bentuk ideal suatu negara, apa yang sudah menjadi konsensus bersama di Indonesia harus ditegakkan bersama-sama, jangan sampai ada penegasian terhadap kelompok yang berbeda (Sidoarjo : 2. Islam syariat dalam konteks khilafah Islam, memang tidak menemukan bentuk yang ideal di negara Indonesia bahkan di negaranegara Timur Tengah sekalipun yang notabenenya sebagai negara-negara Muslim, karena ia bertentangan dengan sistem tata negara yang bersangkutan, menurut Prof Haidar Nasir ada dua alasan penting dalam politik sistem pemerintahannya harus disesuaikan dengan negara-negara yang bersangkutan, pertama adalah alasan teologis, misal dalam ayat Al Quran ada ayat Kholifah fil Ardy, manusia memang menjadi kholifah pemimpin di muka bumi, untuk memakmurkan bumi maka dibutuhkan konsep negara, namun ayat yang berbicara tentang istahlaf kepemimpinan tidak mewujud dalam bentuk pola sistem tertentu melainkan ia bersifat ijtihad. Kedua adalah alasan historis setelah masa Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak menunjuk penggantinya sebagai pemimpin, setelah itu kemudian kepemimpinan Islam mewujud dalam bentuk Khulafaurrosyidin, berlanjut masa dinasti-dinasti. Ummayah. Abasiyah dan seterusnya, realitas sejarah ini menunjukkan tidak tunggal, setiap masa dan negara masing-masing mendirikan negara dengan bentuknya masing-masing seperti saat ini Arab Saudi dengan Mamlakah Arabiyah. Iran dengan Republik dan lain-lain. Bagi Muhammadiyah Islam diperbolehkan untuk saling menegasikan kelompok yang berbeda, maka ijtihad politik Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan slogan-slogan cinta NKRI semata melainkan mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan aksiasksi nyata (Sidoarjo, 2. Karena itulah demi menguatkan pentingnya Pancasila sebagai dasar negara di tengah krisis politik dan populisme Islam. Muhammadiyah menegaskan kembali pengatan Pancasila, hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Rektor Tiga Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dr Mahsun. Ag yang membidangi kemuhammadiyahan (Surabaya : 2. menurutnya, di kalangan warga Muhammadiyah terjadi polarisasi dalam memaknai Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, realitasnya ada yang berbasis pada pemahaman khilafah, meskipun ada yang mengatakan itu kesusupan, entah itu kesusupan atau tidak tapi nyatanya mereka itu warga Muhammadiyah, tapi pemikirannya menyimpang dari pakem Muhammadiyah, oleh sebab itu dengan adanya sosialisasi Darul Ahdi Wa Syahadah ini mulai terlihat orang-orang yang tidak faham ideologi Muhammadiyah, itu menjadi kelihatan sikapnya, menurut Dr Mahsun M. Ag. Muhammadiyah tidal mengenal faham tentang Khilafah itu. Lalu mereka beranggapan kok Muhammadiyah enteng begini dengan menerima Pancasila, mereka beranggapan harus tegakkan hilafah dan syariah padahal khilafah itu tidaklah real bisa Indonesia. Muhammadiyah itu spesifik Aumenegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat islam yang sebenarbenarnya, itu lebih tajam daripada khilafah dan syariah, dengan adanya sosialisasi negara Pamcasila jelas ini merupakan pedoman Sejalan dengan pendapat para tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, akademisi di Perguruan Tinggi Muhammadiyah misalnya apa yang disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Dr Hidayatullah M. Si, dalam wawancara dengan peneliti, beliau menegasakan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang sudah final, dan kalau menilik sejarah berdirinya Republik ini peran tokoh-tokoh Islam luar biasa didalamnya, mereka berkorban bukan hanya untuk kelompok Islam saja tapi juga untuk kepentingan bangsa dan negara, konsep tauhid sebagaimana sila satu didalamnya menjadi sumber pengamalan nilainilai kebangsaan. Dalam pernyataanya Dr Hidayatullah menegaskan bahwa : Saya kira kita semua sudah mengikuti sejarah Indonesia, bahwa Indonesia Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan ini dibangun, diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Agama khususnya Islam, dan perjuangan mereka itu bukan hanya untuk komunitas Muslim saja tapi untuk seluruh Rakyat Indonesia, bagi Muhammadiyah Pancasila itu sudah dinilai selesai baik secara ideologi maupun sebagai dasar negara, lantas bagaimana kemudian nilai-nilai yang ada dalam Pancasila mulai sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu pasti agama , konsep Tauhid disana, dan semua agama punya konsep Tauhid, dalam pandangan Islam yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa itu diyakini sebagai keyakinan terhadap Allah SWT, maka semua ummat Islam sesungguhnya sudah tidak ada masalah pada sila pertama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah sejalan dan selaras dengan konsep Tauhid La Illa Ha Illah, maka itu menjadi dasar dari seluruh proses kehidupan kebangsaan dan kenegaraan, apalagi dalam batang tubuh juga dijelaskan negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa itu mejadi lebih kuat lagi. (Sidoarjo . Realtiasnya bahwa hubungan antara agama dan negara sangat kelihatan sekali, karena ia masuk dalam dokumen resmi UUD 45 yang menjadi dasar dalam pijakan kehidupan kebangsaan ini, tapi kemudian memang praktek dari kehidupan kebangsaan dan kenegaraan ini masih banyak yang belum sejalan dengan nilainilai Pancasila itu, misal tentang nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, banyak disana-sini terdapat intimidasi dari kelompok satu kepada kelompok lain, termasuk juga adanya potensi terjadinya disintegrasi yang kaitannya dengan sila ketiga persatuan Indonesia, karena itulah Indonesia ini tidak boleh retak atau pecah, maka konsep persatuan itu menjadi luar biasa, ada sebuah kesadaran bahwa Indonesia ini sangat majemuk, sangat plural dari berbagai sisi, untuk mengikat itu diperlukan kesefahaman untuk membangun kehidupan kebangsaan. Dalam konteks agama, inilah yang kaitannya dengan Muamalah atau hubungan antar sesama manusia ini harus bisa ditemukan persamaanya bukan perbedaanya, kalau kita berusaha untuk mencoba mencari persamaanpersamannya maka tidak mungkin yang muncul perbedaan-perbedaan, diusahakan itu mencari persamaan-persamannya maka pasti akan melahirkan persatuan, tapi kalau kaitannya dengan faham agama itu masingmasing memiliki kesadaran untuk saling menghormati, seperti tatakala adanya perubahan dalam rumusan Piagam Jakarta dengan perubahan sila satu, ini menunjukkan sikap kenegaraan, penghormatan dan sikap toleransi dari tokoh-tokoh Muslim. Muhammadiyah memandang bahwa Pancasila itu sudah selesai dari sisi rumusan didalam lima sila Pancasila jadi ia tidak perlu diperdebatkan, namun yang perlu ditindak lanjuti adalah pengamalan akan nilai-nilai Pancasila ini seyogianya bisa diterapkan dalam kehidupan individu, kelompok, sampai pada kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan, hal inilah yang perlu dijabarkan lebih luas lagi, sampai pada ranah kebijakan pemerintah, contoh sederhana untuk memahami masalah ini misalnya kalau dikaitkan dengan sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dari aspek rumusan Pancasila ini sudah jelas, bahwa semua orang menyetujui bahwa keadilan sosial itu harus bisa dirasakan oleh semua lapisan sosial kehidupan masyarakat, tapi kalau melihat fakta yang terjadi di masyarakat Indonesia ini masih jauh sekali, hal ini bisa dibuktikan dengan Indeks gini yang ketimpangan luar biasa antara kelompok the have orang kaya dengan orang miskin, kelompok borjois dan proletar. Bagi Dr Hidayatullah M. Si, ia setuju dengan apa yang di disampaikan Pak Din, sekarang ini kita sudah selesai bicara Darul Ahdi wa Syahadah, dan perlu dikembangkan lagi konsep Darul Hadhoroh wal Fadhilah jadi negeri yang berkemajuan dan berkeunggulan. Dalam konteks ini, untuk membangun negara Indonesia yang berkemajuan dibutuhkan kekuatan sumber daya manusia jadi aspek manusia harus menjadi perhatian serius dengan meningkatkan Human Development Index, disamping masalah ekonomi dengan disparitas atau ketimpangan sosial yang cukup signifikan, hal ini berimplikasi pada tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang masih rendah, masyarakat tidak mampu menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah yang bermutu karena persoalan biaya, disamping itu juga jumlah sekolah sekolah atau lembaga pendidikan yang bermutu di Indonesia itu sedikit sekali, pada konteks ini penting untuk meningkatkan sumber daya manusia. Permasalah pendidikan ini semestinya perlu dituntaskan, dengan meningkatkan kesadaran kolektif baik pemerintah ataupun masyarakat, dengan demikian Indonesia akan cepat mengalami perkembangan, dengan adanya JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan dukungan akan kebijakan-kebijakan pemerintah memihak kepada rakyat, dalam pandangan Rektor UMSIDA konsep Darul Ahdi wa Syahadah sudah selesai, tapi kemudian menerjemahkan konsep ini yang jauh lebih mengantarkan Indonesia menjadi negara yang maju dan keunggulan, dengan pendidikan yang bagus dan rakyatnya terdidik secara otomatis akan mampu meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan buahnya adalah teknologi. Bentuk-bentuk internalisasi nilai-nilai Islam dalam membangun wawasan kebangsan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Sidoarjo. Surabaya dan Gresik Perguruan Tinggi Muhammadiyah merupakan salah satu bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, karena itulah tata kelola yang ada didalamnya mengacu pada aturan Persyarikatan Muhammadiyah, lantas apa yang menjadi tujuan berdirinya Perguruan Tinggi Muhammadiyah, sebagaimana yang tertuang dalam pedoman penyelenggaraan Perguruan Tinggi Muhammadiyah terselenggaranya catur dharma pendidikan tinggi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, serta Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Hal ini bertujuan untuk : Pertama : Berkembangnya potensi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlaq mulia, cerdas, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarbenarnya. Kedua : Terwujudnya kemampuan penciptaan, pengembangan, teknologi dan seni masyarakat, bangsa, negara, dan ummat manusia dan Ketiga terbinanya keislaman dan kemuhammadiyahan yang mencerdaskan, dan mencerahkan bagi seluruh civitas akademika dan kehidupan yang luas. Sebagaimana yang teruraikan diatas jadi secara umum jelas bahwa Muhammadiyah berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertuang dalam amanah pembukaan Undang-Undang 1945, ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa guna membangun sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas, dalam konteks ini melalui jalur keislaman dan keindonesiaan, lantas bagiamanakah kemudian model gerakan Tinggi Muhammadiyah dalam upaya internalisasi nilai. JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan nilai Islam dalam membangun wawasan Secara umum terdapat dua model nilai-nilai Islam membangun dan menguatkan wawasan Model dakwah dengan Gerakan Pencerahan (Harokah Tanwiriya. : Penguatan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kurikulum serta kegiatan kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Muhammadiyah gerakan pembaharu, yang mengusung gerakan amar amaAoruf nahi munkar, dengan asas Islam yang didasarkan pada Alquran dan Assunah. Muhammadiyah menghadirkan upaya Purifikasi atau pemurnian Aqidah. Syariah, maupun Akhlaq, gerakan pemurnian dalam konteks ini bukan berarti berhenti dalam satu kondisi dan keadaan tertentu, namun Muhammadiyah juga menghadirkan konsep gerakan Tajdid dalam menjawab setiap tantangan kehidupan sosial kebangsaan ini. Dengan mendasarkan pada gerakan pencerahan maka upaya internalisasi nilai-nilai Islam dalam berbagai sendi kehidupan bangsa ini bisa tercapai secara maksimal, gerakan pencerahan meniscayakan sebuah transformasi sosial yang liberatif dan emansipatoris namun tetap dalam koridor transendensi nilai-nilai keagamaan sebagaimana misi profetik atau kenabian. Dalam dokumen berita resmi PP Muhammadiyah hasil Tanfid keputusam Muktamar ke 47 disebutkan bahwa gerakan dakwah Pencerahan adalah gerakan yang berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi . enguatan kembal. erubahan dinami. untuk melahirkan amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak pada kaum mustadAoafin serta memperkuat masyarakat madani . asyarakat sipi. bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Dalam Muhammadiyah berpijak pada koridor tajdid yang bersifat purifikasi dan dinamisasi, serta mengembangkan orientasi praksis untuk pemecahan masalah kehidupan. Muhammadiyah mengembangkan pendidikan sebagai strategi pengembanganpotensi dan akal budi manusia secara utuh. Sementara itu, pembinaan keagamaan terus dikembangkan pada pengayaan nilai-nilai akidah, ibadah, akhlak dan muamalatduniawiyah yang membangun kesalehan Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan mengembangkan tatanan sosial baru yang lebih religius dan humanistik. Seperti yang dikemukakan oleh Prof Haidar Nashir . bahwa gerakan pencerahan ini merupakan bagian dari spirit Islam berkemajuan, sebuah gagasan keagamaan yang mengedepankan nilai-nilai praktis humanisme universal, berorientasi pada upaya penyelesaian ummat, dengan terus melakukan upaya transformasi dan dinamisasi dalam berbagai bidang permasalah bangsa sehingga spirit nasionalisme mampu membumi dan diwujudkan dengan aksi-asksi nayata, hal ini-pun juga sejalan dengan Matan Kayakinan dan Cita-cita hidup Muhammadiyah serta pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah, lantas seperti apakah betuk internaliasi nilai-nilai keislaman dalam penguatan wawasan kebangsaan di Muhammadiyah Sidoarjo. Surabaya dan Gresik Sebagaimana ketentuan yang dibuat Pedoman Pendidikan Tinggi Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Majlis Dikti Litbang Muhammadiyah . , bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah merupakan bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah dan Muhammadiyah, karena perguruan tinggi Muhammadiyah itu adalah Amal Usaha Muhammadiyah maka ia harus mengikuti kebijakan dan sekaligus mengamalkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Muhammadiyah, jadi payung besar PTM itu adalah Muhammadiyah, karena itu dalam praktek penyelenggaraan pendidikan spirit yang diusung adalah spirit tujuan Muhammadiyah dengan prinisp dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan berasas Islam, berlandas Assunnah guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Karenanya menurut Dr Hidayatullah Si, selaku rektor UMSIDA menyatakan bahwa, dari sini ada dua hal yang cukup penting untuk diperhatikan oleh Amal Usaha Muhammadiyah termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah. Pertama Muhammadiyah merupakan sebagai sebuah persyarikatan organisasi, dan organisasi itu meniscayakan adanya keteraturan, ada keteraturan dalam sebuah sistem. Sehingga Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi itu, setidaknya kalau ditarik ke amal usaha dalam bentuk perguruan tinggi Muhammadiyah, terdapat dua hal pertama ada sistem yang kedua teratur. Maksud dari sistem adalah PTM itu bagian dari subsistem organisasi, karena itu kebijakan-kebijakan dari dari Muhammadiyah itu harus diikukti dan selaras, dan tidak boleh keluar dari kebijakan Muhammadiyah. Untuk menyelaraskan kegaitan pendidikan dalam PTM maka kemudian persyarikatan menerbitkan berbagai macam peraturan sebagaimana yang tertuang dalam aturan majlis pendidikan tinggi Muhammadiyah. Untuk menjabarkan tentang gerakan pencerahan, atau harokah tanwiriyah khususnya dalam mengembangkan praktek kebangsaan yang bernafaskan Islam dan Keindonesiaan di perguruan tinggi Muhammadiyah di Sidoarjo. Surabaya dan Gresik, maka perlu dipahami beberapa bentuk gerakan Muhammadiyah, dimana Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, gerakan Amar MaAoruf Nahi Munkar dan Gerakan Tajdid, ketiga gerakan Muhammadiyah ini terkoloborasi menjadi satu model gerakan yang keempat yaitu gerakan yang bersifat Pertama : Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, maka semua proses yang ada di perguruan tinggi Muhammadiyah itu juga harus mengembangkan nilai-nilai Islam, dan gerakan Islam yang dimaksud oleh Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berkemajuan. Islam yang berkemajuan itu adalah adalah Islam yang serba bermutu, sehingga punya kemampuan yang berdaya saing, itu sebagai gerakan Islam. Jadi tidak hanya sekedar nilai-nilai Islam berhenti di situ saja tapi juga harus berdasarkan nilai-nilai Islam yang memajukan, jadi yang ada di PTM itu harus memunculkan nilai-nilai Islam dan perilaku yang berkemajuan. Sebagaiamana yang diatur dalam visi berdirinya Perguruan Tinggi Muhammadiyah oleh Majlis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah, salah satu ciri khasnya adalah adanya menanamkan nilai-nilai Islam yang merupakan salah satu bagian dari catur darma perguruan tinggi Muhammadiyah, hal ini bisa kia lihat misalnya pada visi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan slogannya menjadi perguruan tinggi yang unggul dan inovatif dalam pengembangan IPTEKS berdasarkan nilai-nilai Islam untuk kesejahteraan masyarakat. Visi Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai uiversitas yang unggul dibidang moralitas, intelektualitas dan berjiwa enterpreneur. Visi Universitas Muhammadiyah Gresik dengan slogannya 2030 menjadi universitas unggul, mandiri yang dijiwai dengan nilai-nilai enterpreneurship islami. Nafas Islam JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah memang sudah menjadi ciri khas, dan Islam yang dibangunpun memiliki ciri wasatiyah moderat dan bersifat inklusif, materi kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan yang menjadi ciri khas PTM dikemas dalam sajian yang inklusif, demikian juga dengan materi pendidikan pancasila dan kewarganegaraan juga disajikan dengan nafas nilai-nilai Islam yang Dalam sajian kurikulum di Perguruan tinggi Muhammadiyah, mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan merupakan mata kuliah wajib Universitas, dimana materi AIK ini terdiri dari 4 tema yang ditempuh dalam empat semester. AIK satu mengkaji tentang manusia dan tuhan. AIK dua mengkaji tentang ibadah, akhlaq dan muamalah. AIK Tiga membahas tentang kemuhammadiyahan dan AIK Empat membahas tentang hubungan Islam dengan berbagai disiplin ilmu, dengan mengampu mata kuliah ini diharapkan lulusan mahasiswa PTM mampu menguatkan keimanan dan kepribadian dan mampu menghadapai tantangan zaman dengan tetap memperteguh nilai-nilai Islam dan visi Muhammadiyah demi kemajuan Agama dan bangsa bisa diwujudkan, misal di UMSIDA dikembangnya materi Pendidikan Karakter Mata Kuliah Al Islam dan Kemuhammaduyahan (PKMU) yang bertujuan untuk mengembangkan karakter yang baik sesuai syariat Islam dan berlandas pada nilai dan norma sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat serta bangsa dan Hal yang sama juga di Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Gresik praktek penyelenggaraan pendidikan karakter selain diinsersikan didalam mata kuliah juga ditanamkan sejak mahasiswa memasuki awal semester saat menjadi mahasiswa baru, serta praktek-praktek keseharian dalam kampus seperti dalam perkuliahan, seminar dengan tema nilai-nilai Islam dan penguatan wawsan kebangsaan serta membudayakan saling salam, silaturahim dan peduli sesama dengan adanya kegaitan-kegiatan ekstrakurikuluer ataupun penguatan dan pengembangan organisasi IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiya. Kedua Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar maka di perguruan tinggi Muhammadiyah juga harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai dakwah Islam Amar Ma'ruf Nahi Munkar itu, yang sudah barang tentu itu dakwah yang ada dalam lembaga pendidikan tidak seperti dakwah yang ada di masjid-masjid, pengajian pengajian. JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan karena perguruan tinggi berada dalam sebuah organisasi, maka tentunya dalam praktek penyelenggaran pendidikan juga menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai karakter dalam kehidupan di kampus, misal seperti yang diungkapkan oleh Dr Hidayatullah. Si, sejatinya perlu ada keteladan sistem, misalnya ketika bertindak, kita harus menunjukkan kejujuran, tidak boleh melakukan penggelapan atau penyimpangan, karena ini lembaga maka harus dibuat sebuah sistem, bagaimana membangun sistem keuangan di kampus ini yang baik, kita harus menguatkan sistem keuangan, bagaimana memastikan penggunaan anggaran yang tidak dilakukan sebuah penyimpangan maka di awal tahun harus berpijak pada rencana operasional dan rencana anggaran belanja, mereka mengajukannya by sistem pencairannya by sistem laporan by sistem, semua harus dilakukan validasi pengecekan unit kerja yang mengajukan keuangan juga harus dicek cocok tidak dengan rencana operasional RAB yang ada itu, setelah dicairkan digunakan ternyata nanti masih di cek lagi oleh SPI satuan pengawas internal, hal ini merupakan contoh bagian dari menerjemahkan konsep Amar Ma'ruf Nahi Munkar, kita mengajak kepada kebaikan dan mencegah supaya orang tidak berbuat kemungkaran sebisa Bagi Prof Setyo Budi selaku rektor Universitas Muhammadiyah Gresik . menyampaikan bahwa disamping diperlukan pengutan karakter kepada mahasiswa, sejatinya bagi pendidik atau dosen harus menjadi uswah atau teladan, dengan cara melakukan kegiatan produktif sesuai tanggung jawab dosen yaitu melakukan catur darma perguruan tinggi, meningkatkan nilai-nilai Islam sesuai dengan matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah, sekaligus produktif dalam kegiatan penelitian dan pengabdian, baginya korupsi bukan hanya sekedar masalah penyelewengan kewenangan dan uang semata, melainkan ia juga bisa dalam bentuk yang lain seperti lalai dalam waktu dan tanggung jawabnya sebagai dosen dalam mendidik mahasiswa dan produktif sebagai dosen, demikian juga dalam praktek keagamaan juga harus dibarengi dengan tindakan-tindakan nyata, karena ibadah bukan hanya sebatas pada hubungan terhadap Allah SWT semata melainkan ia perlu diturunkan dalam praktek ibadah-ibadah sosial. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan Demikian juga dalam aturan kepegawaian dosen-dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Surabaya dan Gresik dalam praktek mengajar selaku selaku pengampu mata kuliah itu tidak hanya cukup transfer of knowledge . ransfer pengetahua. saja pada mahasiswa karena mereka juga terikat sebagai bagian dari gerakan Muhammadiyah gerakan Islam Amar Ma'ruf Nahi Munkar maka di sela-sela mengajar ia juga harus memasukkan nilai-nilai Islam, integrasi nilai-nilai Islam tidak hanya masuk pada materi struktur kurikulumnya, tapi di implementasi pembelajarannya itu juga harus memasukkan nilai-nilai Islam sekaligus ada proses dakwah Amar ma'ruf nahi mungkar, misalnya dalam praktek penyelenggaraan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, nilai-nilai Islam dalam penguatan persatuan kebangsaan juga bisa digali dalam Ayat-ayat Al Quran misalnya dalam surat Al Hujurat yang menekankan pentingnya nilai-nilai ukhuwah atau persaudaraan, attaoruf atau hidup untuk saling mengenal satu kelompok dengan kelompok lain, attarahum hidup untuk saling mengasihi, attayus bil silmi hidup saling berdampingan, ini merupakan upaya dalam menamkan nilai-nilai Islam dalam membangun wawasan kebangsaan. Ketiga Muhammadiyah sebagai gerakan Tajdid pembaharuan di Muhammadiyah terdapat dua makna pertama purifikasi pemurnian di dalam Aqidah Ibadah dan akhlak tapi kalau menyangkut masalah muamalah Pendidikan termasuk muamalah maka berapa mana yang kedua yaitu tajdid sebagai modernisasi di sesuai dengan konteks zamannya pendidikan pada masa Kiai Ahmad Dahlan sangat sederhana tapi pada waktu itu sudah luar biasa, kita melihat saat sekarang sederhana tapi waktu itu luar biasa karena nggak ada kan tapi dalam konteks sekarang kita sudah tidak bisa lagi menerapkan sebatas apa yang diterapkan oleh Ahmad Dahlan, jadi harus harus ada kontekstualisasi dan modernisasi. Maka kita sudah masuk masa revolusi industri 4. 0 salah satunya Universitas Muhammdiyah Sidoarjo. Surabaya dan Gresik mengembangkan e-learning dan seterusnya jadi ini dimensi yang ketiga yaitu tajdid. Ketiga gerakan sebagai Al-Harokah Tanwiriyah atau yang disebut sebagai gerakan pencerahan, jadi semua proses dalam dimensi gerakan Muhammadiyah yaitu Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan Amar ma'ruf Nahi Munkar dan gerakan tajdid itu harus Muhammadiyah juga bagi warga di luar Muhammadiyah, gerakan tanwiriyah ini kemudian diaktualisasikan dalam bentuk internalisasi nilai-nilai Islam dalam penguatan wawasan kebangsaan, sehingga menjadi bagian dari karakter mahasiswa. Model dakwah dengan Gerakan Aksi Nyata (DaAowah Bil Ama. : Gerakan Filantropi di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Sejak berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912. Kiai Ahmad Dahlan sudah konsen pada upaya untuk membebaskan manusia dari berbagai belenggu ketertindasan, karena Islam membebaskan, karena itulah pada masa kolonialisme. Kyai Ahmad Dahlan berusaha untuk membebaskan masyarakat dari belenggu penjajahan dan keterbelakangan masyarakat dengan mengembangkan sistem pendidikan, seperti yang diungkapkan oleh Dr Mahsun. Ag Wakil Rektor 3 UM Surabaya bahwa agama Islam sejatinya memiliki sifat tahrir . , dengan demikian agama mengajarkan nilai-nilai emansipatif dan liberatif sebagaimana misi profetik atau kenabian, jadi yang namanya membebsaskan tentu akan melahirkan semangat altruisme, ini yang menjadi jargon utama Muhammadiyah jadi bukan Islam retorika. Islam wacana . Islam teoritis, tapi Islam praktis. , sehingga pemahaman terhadap Islam itu bisa berdaya, hal senada juga diungkapkan oleh Dr Hidayatullah M. Si, menurutnya Muhammadiyah merupkan gerakan untuk kesejahteraan kemajuan dan kemandirian, dari awal berdirinya. Ia lebih menampilkan sebagai gerakan amal, karena itulah kemudian melahirkan amal usaha Muhammadiyah yang berkembang hingga sekarang ini dengan berbagai macam wujud dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi dan seterusnya, bahkan Prof Budi Setiyadi Rektor UM Gresik mengungkapkan bahwa andai saja seseorang bisa mengamalkan tujuan akan visi Muhammadiyah dengan sesunggunya maka sejatinya ia membuka jalan kebaikan menuju kerdidhoan Tuhan demi kebaikan terhadap sesama manusia (Gresik: 2. Dalam catatan sejarah. Kyai Ahmad Dahlan dan murid-muridnya sangat kuat pada kerja-kerja kemanusiaan, kepada sesama, sangat cinta sesama, dan gandrung pada pekerjaan pekerjaan amal atau JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan filantropis, misalnya dalam film Sang Pencerah, betapa Kyai Ahmad Dahlan mengajarkan kepada murid-muridnya tentang pentingnya memahami Surat Al Maun sampai pada prakteknya, muridmuridnya disuruh mencari anak-anak jalanan yang belum memiliki pakaian, yang belum makan, mereka di bawa pulang diberikan pakaian dan makanan, beginilah praktek Dakwah bil Amal yang diajarkan oleh Kyai Ahmad Dahlan, beliau dikenal sebagai orang orang yang pemurah, dermawan dan suka menolong pada sesama. Teologi Al Maun merupakan refleksi sosial Kyai Ahmad Dahlan dalam membaca kehidupan sosial masyarakat, sejarah mencatat bahwa PKO (Pusat Kesengsaraan Umu. yang berdiri pada tahun 1918 adalah awal cikal bakal dari bentuk kedermawanan sosial, ia merupkan model lain dari filantropi Muhammadiyah. Muhammadiyah berkembang dengan mendirikan layananlayanan sosial seperti Panti Asuhan asraman bagi anak yatim piatu dan lain-lain, ini adalah betuk dakwah bil amal yang secara nyata dilakukan oleh Muhammadiyah. Spirit inilah yang kemudiin di implementasikan dalam pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah di UM Sidoarjo. Surabaya dan Gresik, dengan mengembangkan Lazismu sebagai media gerakan zakat dan Infaq. Gerakan Infak Zakat Mahasiswa di UMSIDA (GIZMA), serta MDMC ataupun kini saat pandemi covid 19 mendirikan PP Muhammadiyah beserta Amal Usaha yang ada dibawah naungannya juga turut andil dalam penanggulangan dan pemberdayaan bagi masyarakat Indonesia yang terdampak Covid 19 dengan pendirian Muhammadiyah Covid 19 Command Center : MCC Sebagai gambaran misalnya. MDMC merupakan layanan sosial Muhammadiyah yang diberikan bagi masyarakat yang sedang terkena bencana, gerakan ini merupakan salah satu bentuk gerakan filantropi yang dalam pelaksanannya ditunjang dengan Lazismu. Zakat. Infaq atauun sedeqah yang dihimpun oleh persyarikatan Muhammadiyah yang dikelola dan tersebar di seluruh Kantor layanan Lazismu yang ada di setiap Amal Usaha Muhammadiyah sampai pada tingkat ranting. Memang Muhammadiyah terkenal dengan lembaga pendidikan dan kesehatannya, namun pada tingkatkan periode ini Muhammadiyah mengembangkan sayapnya, mengembangkan gerakan filantropis. Terdapat dua lembaga yang . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan kemudian dimunculkan oleh Muhammadiyah yaitu Lazismu di semua tingkatan termasuk di amal usaha yang kedua adalah MDMC, dimana saat ini menjadi gerakan filantropi yang menembus batas nasional bangsa Indonesia saja dan tidak hanya dalam konteks Muhammadiyah saka, akan tetapi sekarang sudah bisa menembus batas negara di dunia dan MDMC adalah salah satu lembaga kemanusiaan yang diakui oleh PBB mendapatkan apresiasi dari PBB. Kehadiran Lazismu tentu memberikan banyak hal yang bersifat filantropis menolong memajukan dari berbagai kalangan masyarakat yang menembus berbagai bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sosial. Lazismu mengajak kepada seluruh elemen masyarakat yang memiliki kelebihan rizki untuk bersamasama menyalurkan zakat infaq sedekahnya melalui Lazismu digunakan untuk kegiatan kemanusiaan kegiatan pendidikan kegiatan kesehatan yang semuanya diorientasikan untuk masyarakat kembali, dalam prakteknyat banyak lembaga-lembaga yang mendapatkan bantuan dari Lazismu, sebagai bagian dari nilai kemanusiaan bantuan Lazismu bahkan bukan hanya masyarakat muslim saja melainkan juga untuk masyarakat nonmuslim juga mendapatkan layanan dari Lazismu. Sebagai spirit Al Maunisme, pimpinan pusat Muhammadiyah memberikan intruksi untuk mendirikan kantor Pelayanan Lazismu di cabang di amal usaha Muhammadiyah, dalam prakteknya semua PTM mendidrikan Lazismu, mengikutsertakan seluruh karyawan dosen mahasiswa untuk bergerak bersama-sama. Tujuan berdirinya Lazismu, setidaknya bisa membantu sekian ribu mahasiswa agar bisa merasakan uluran tangan kampus guna mendapatkan pendidikan yang layak. Misal tercatat di mahasiswa UM Sidoarjo ada sekitar 1500 mahasiswa yang mendapatkan bantuan , bukan hanya dalam bentuk beasiswa saja bantuan juga diberikan dalam bentuk peralatan sekolah, panti asuhan dan rumah sakit. Bentuk nyata lainnya, guna menamamkan nilai empati dilaksanakanlah GIZMA yaitu Gerakan Infaq Sedekah Mahasiswa, yang slogannya dari mahasiswa untuk mahasiswa, dalam prakteknya kepedulian mahasiswa luar biasa, kegiatan ini dikoordinir disetiap jurusan dan setiap hari kamisnya, infaq atau sedekah mahasiwa dikumpulkan, menurut catatan pengelola LAZISMU kampus Sidoarjo, terdapat Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan fluktuasi yang meningkat dari waktu kewaktu, dulu awal-awalnya sebulan terkumpul 10 juta, 15 juta hingga 30 juta, namun sekarang sudah sempat menembus 40 juta, ini berarti menunjukkan adanya kesadaran dari mahasiswa untuk mahasiswa, demikian salah satu bentuk dakwah nyata di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, itu merupakan contoh model aksi nyata dalam menanamkan karakter empati terhadap sesama, khususnya pada saat ini dengan adanya pandemi covid-19 mahasiswa bisa berempati dalam gerakan yang nyata, sprit kebangsaan dalam kontek Pancasila sebagai Syahadah adalah berperan dengan aksi nyata. Secara umum berikut gambaran makna konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, dan bentuk implementasi dari upaya internalisasi nilai-nilai Islam dalam membangun wawasan kebangsaan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Sidoarjo. Surabaya dan Gresik. Gambar 2 : Skema ringkasan penelitian SIMPULAN Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah merupakan rumusan yang telah di tetapkakan oleh Muktamar Muhammadiyah pada tahun 2015, rumusan ini menjadi sikap tegas Muhammadiyah dalam memposisikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang bersifat final, karena ia merupakan perjanjian dan kesepakatan bersama yang harus tertap terjaga jadi seyogianya tidak perlu, lebih dari pada itu adalah, setiap warga negara memiliki tanngungjawab kolektif agar ia mampu menjadi saksi hidup dengan mengisi kehidupan kebangsaan ini dalam bentuk kegiatan-kegiatan produktif yang bisa memajukan bangsa, karena itulah penekanan berikutnya adalah menciptkan bangsa yang memiliki peradaban maju dan berkemajuan Dinul Hadhoroh Wal Fadhilah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, makna Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Sayhadah di lingkungan Peguruan Tinggi Muhammadiyah sebagi pedoman pemikiran dan perilaku mengenai hubungan antara agama, negara dan organisasi sekaligus sebagai ijthad politik Muhammadiyah yang bertujuan untuk menguatkan harmonisasi kebangsaan, sekaligus sebagai transformasi dengan menghadirkan perkembangan dan perubahan sistem pendidikan yang mampu melejitkan potensi akademik, maupun non akademik Mahasiswa sehingga tercipta lulusan yang memiliki kapabilitas, integritas dengan nafaskan keislaman dan kebangsaan, hal ini dilakukan dengan dua bentuk atau model gerakan dakwah yang pertama dengan harokah tanwiriah atau gerakan pencerahan dan kedua dengan harokah bil amal atau gerakan dengan aksi nyata, hal ini nampak dengan berbagai macam kebijakan dan model pelaksanaan yang sudah diterapkan di lingkungan PTM. Sebagai saran, kajian tentang konsep negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, pada tahap berikutnya bisa diarahkan dalam bentuk yang lebih holistik kembali, hal ini dilakukan agar ia menemukan bentuk yang lebih fleksibel dan mudah dipahami oleh Mahasiswa khususunya dalam memberikan pemahaman lebih tentang peran Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan, hal ini dilakukan dengan nilai-nilai Kesilaman Kemuhammadiyahan dalam materi kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan, dengan demikian ia bisa menjadi pedoman pemahaman yang lebih praktis sehingga bisa diaplikasikan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kegiatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas berbagai pihak yang telah memberikan kesempatan dan terselenggaranya kegiatan penelitian ini, secara khusus penelitian ini meupakan hibah riset institusi yang difasilitasi oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam bentuk hibah internal Riset Terapan Institusi Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Nomor 442/II. AU/02. 00/C/KEP/I/2020 dan Perjanjian /Kontrak Nomor 72/II. AU/14. 00/C/PER/I/2020, sehingga dengan adanya penunjang hibah ini penelitian JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Muhammad Junaedi, dkk | Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Wawasan Kebangsaan bisa terlaksana meskipun perlu penyempurnaan dan perbaikan lebih lanjut. DAFTAR PUSTAKA