Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: at-tarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Strategi Guru dalam Menangani Cyberbullying pada Generasi Alpha Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MI Bahrul Ulum Panggang. Glagah. Lamongan Muassisatul Fatihah*) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia muassisatulf911@gmail. *)Corresponding Author Received: 14-03-2025 Revised: 26-04-2025 Approved: 29-04-2025 Abstrak Generasi Alpha akan menjadi generasi yang paling melek teknologi sepanjang sejarah. Mulai dari bermain, belajar, hingga bersosialisasi melalui berbagai kanal daring. Seiring dengan meningkatnya ketergantungan Generasi Alpha terhadap teknologi. Begitu juga, mereka rentan terhadap risiko yang muncul secara online, seperti cyberbullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi yang diterapkan oleh guru dalam menangani cyberbullying pada generasi Alpha melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MI Bahrul Ulum. enelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan guru sebagai subjek penelitian, observasi terhadap proses pembelajaran, serta analisis dokumen terkait program pendidikan yang Sumber data utama dalam penelitian ini adalah guru, dokumen program pendidikan, dan hasil observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di MI Bahrul Ulum menerapkan beberapa strategi yaitu . memberikan edukasi tentang akhlakul karimah, era digitalisasi dan bahayanya cyberbullying, . mengajak siswa untuk membiasakan diri melakukan kegiatan keagamaan seperti membaca Al-QurAoan dan sholat dhuha berjamaah sebelum memulai pembelajaran di kelas, . pada sela-sela pembelajaran PAI guru akan menerangkan bahaya cyberbullying dan pentingnya menjaga lisan dan akhlakul karimah, serta mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan cyberbullying. Kata Kunci: Strategi Guru. Cyberbullying. Pembelajaran PAI Abstract Generation Alpha is emerging as a highly-technology literate generation from playing, learning, to socializing through various online channels. Along with the increasing of Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 generation Alpha's dependence on technology, they are also vulnerable to the online risks such as cyberbullying. This research aims to identify and analyze the strategies applied by teachers in dealing with cyberbullying among generation Alpha through Islamic education at MI Bahrul Ulum. This research used a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews with teachers as research subjects, observation of the learning process, as well as document analysis related to the education programs. The main data sources in this study were teachers, education program documents, and the results of field observation. The results describe that teachers at MI Bahrul Ulum implemented several strategies, namely . providing education about akhlakul karimah, digitalization era and the dangers of cyberbullying, . inviting students to familiarize themselves with religious activities such as reciting the Qur'an and do dhuha prayer before starting learning in class, and . during the learning process, teachers explain the dangers of cyberbullying and the importance of minding speech and uphold akhlakul karimah, as well as organizing activities that raise awareness about cyberbullying. Keywords: TeachersAo Strategy. Cyberbullying. Islamic Education PENDAHULUAN Cyberbullying merupakan fenomena yang semakin marak di kalangan anak-anak dan remaja, terutama di era digital saat ini. Generasi Alpha, yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025, adalah generasi yang tumbuh dengan teknologi digital sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka. (Rimayati, 2. Hal ini menjadikan mereka lebih rentan terhadap berbagai bentuk perilaku bullying yang terjadi di dunia Penelitian menunjukkan bahwa dampak dari cyberbullying dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan mental dan emosional anak-anak. (Kumala & Sukmawati. Istilah-istilah yang berhubungan dengan generasi seperti AuGenerasi MilenialAy. AuGen ZAy, dan AuGen AlphaAy semakin populer akhir-akhir ini. Sebagai generasi termuda dari ketiga generasi tersebut. Generasi Alpha dianggap memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dari generasi sebelumnya. Sterbenz mendefinisikan Generasi Alpha sebagai kelompok orang yang lahir antara tahun 2011 hingga 2025, yang mayoritas dilahirkan oleh ibu dari generasi milenial. Mereka diciptakan sebagai generasi yang paling terbiasa dengan teknologi terbaru sejak usia muda. (Ismail et al. , 2. McCrindle mengklaim bahwa karena generasi Alpha sangat bergantung pada teknologi, mereka tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain. Hanya ada sedikit interaksi sosial. Menurut psikolog Neil Aldrin, generasi alpha menunjukkan watak praktis dan materialistis yang merupakan hasil dari kemajuan teknologi revolusi Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Mereka didominasi oleh pemikiran yang serba instan, yang menyebabkan mereka kurang memperhatikan moralitas dan nilai-nilai evolusi masa depan. Mereka akan dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang cepat dalam berbagai hal, termasuk media sosial sehari-hari, materi pelajaran di sekolah, gaya belajar, dan pendekatan. Mereka dapat berkomunikasi dengan teman-teman mereka, bertukar cerita, dan mengekspresikan diri mereka secara kreatif berkat media sosial. (Budi & Ula, 2. Generasi Alpha tumbuh dengan pesatnya kemajuan teknologi digital. Dalam penelitian (Sahara et al. , 2. , demografer Mark McCrindle memprediksi bahwa Generasi Alpha akan menjadi generasi yang paling melek teknologi sepanjang sejarah. Mulai dari bermain, belajar, hingga bersosialisasi melalui berbagai kanal daring, kehidupan mereka sangat bergantung pada internet dan gadget digital. Karena banyak dari mereka yang terpapar teknologi sebelum bisa membaca atau menulis, mereka terbiasa menggunakan gawai dan internet secara teratur. Seiring dengan meningkatnya ketergantungan Generasi Alpha terhadap teknologi, begitu pula kerentanan mereka terhadap risiko online yang muncul, seperti cyberbullying. (Nadhifah et al. , 2. Anak-anak Generasi Alpha sebagian besar menggunakan internet untuk koneksi sosial selain untuk hiburan dan pendidikan. Hal ini membuka ruang bagi munculnya cyberbullying, di mana perilaku bullying dapat terjadi hampir di mana saja dan kapan saja, tidak hanya di lingkungan sekolah yang sebenarnya. Menurut penelitian pertumbuhan media sosial dan platform game telah menyebabkan peningkatan cyberbullying di kalangan Generasi Alpha. Meskipun ada banyak keuntungan dari teknologi, sangat penting untuk terus membuat rencana yang menjamin generasi ini tidak hanya tahu cara menggunakannya dengan baik, tetapi juga memiliki keterampilan sosial, moral, dan integritas yang kuat yang diperlukan untuk menghadapi kesulitan di era digital. (Nurpratiwi et al. , 2. Dalam konteks pendidikan, guru memiliki peran yang sangat penting dalam menangani masalah ini. Mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi siswa. (Rizqi et al. , 2. Dengan strategi yang tepat, guru dapat membantu siswa memahami dan mengatasi masalah cyberbullying. Melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ditemukan potensi yang besar dalam membentuk karakter dan moral siswa. Melalui pembelajaran PAI itu pula, siswa Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 diajarkan nilai-nilai etika dan moral yang dapat membantu mereka berperilaku baik terlebih di lingkungan sekolah. (Iqbal, 2. Cyberbullying menjadi salah satu tantangan serius dalam dunia pendidikan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja yang semakin terpapar teknologi digital. Madrasah Ibtidaiyah, di mana siswa mulai mengembangkan interaksi sosial secara lebih luas melalui media sosial dan platform online, kasus cyberbullying dapat berdampak negatif pada perkembangan psikologis dan emosional mereka. (Arthika et al. , 2. penelitian menunjukkan kenyataan bahwa fenomena cyberbullying sudah terjadi di lingkungan pendidikan, terutama di kalangan siswa yang menggunakan media sosial, yang sering kali menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan mereka. Peneliti mengindikasikan bahwa seharusnya ada upaya yang lebih terstruktur dan sistematis untuk mencegah hal ini melalui pendidikan yang berbasis nilai-nilai moral. Sebagai upaya untuk mengatasi masalah ini, guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan memberikan pendidikan moral kepada siswa. Melalui strategi yang tepat dalam pembelajaran PAI, guru dapat menanamkan nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan tentang pentingnya saling menghormati, empati, dan menjaga perilaku yang baik di dunia maya, sehingga dapat meminimalkan terjadinya cyberbullying di kalangan siswa. Namun, belum ada penelitian sebelumnya yang mengkaji secara mendalam bagaimana strategi pembelajaran PAI dalam mengurangi cyberbullying di Madrasah Ibtidaiyah, yang merupakan gap penelitian yang ingin diisi dalam studi (Zakiyullah & Sofa, 2. Strategi adalah metode tindakan yang dipersiapkan dan dipilih dengan cermat dengan tujuan untuk menyelesaikan tugas dengan sukses. Dengan kata lain, strategi adalah pola yang terencana dan disengaja yang digunakan untuk melaksanakan suatu tindakan atau tugas. Strategi mencakup tujuan kegiatan, peserta, isi, prosedur, dan sarana untuk memfasilitasinya. Beberapa kegiatan pembelajaran termasuk dalam teknik pembelajaran, seperti menarik perhatian siswa, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan mengulang pembelajaran untuk memastikan siswa memahaminya. (Herawati, 2. Strategi guru dalam menangani cyberbullying melalui pembelajaran PAI di Madrasah Ibtidaiyah tidak hanya melibatkan pengajaran tentang norma-norma agama, tetapi juga memberikan pemahaman tentang etika digital dan bahaya dari perilaku negatif di dunia maya. Pembelajaran PAI dapat mencakup penanaman nilai-nilai Islam Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 yang mengedepankan kasih sayang, kejujuran, dan keadilan, yang menjadi landasan utama dalam membentuk perilaku positif. (Aprilia et al. , 2. Selain itu, guru PAI juga dapat mengintegrasikan materi tentang pengendalian diri, pentingnya komunikasi yang baik, dan dampak buruk dari penyebaran informasi yang tidak benar atau menyakiti orang lain di media sosial. Dengan pendekatan yang holistik dan berbasis nilai-nilai agama, guru dapat membantu siswa memahami dan mencegah perilaku cyberbullying di dunia digital yang semakin berkembang. (Andrivat & Tjasmini, 2. METODE PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk lebih memahami bagaimana Strategi Guru Dalam Menangani Cyberbullying Pada Generasi Alpha Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan fokus pada metode studi kasus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari lebih lanjut tentang makna yang mendasari sebuah kasus yang sebelumnya sulit untuk diidentifikasi dan dipahami. Pendekatan naturalistik dan interpretatif terhadap fenomena dunia merupakan komponen penting dalam penelitian kualitatif. Namun, perlu diperhatikan bahwa studi kasus adalah metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk memahami secara mendalam sebuah kasus, dengan mempertimbangkan konteks dan potensi yang dimilikinya. (Gunawan, 2. Penelitian ini mengumpulkan data dari dua sumber utama, yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer terdiri dari tiga jenis kegiatan: pertama, wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk memperoleh informasi langsung mengenai pelaksanaan pembelajaran PAI dan pengaruhnya terhadap pengurangan cyberbullying. Kedua, observasi langsung di lapangan untuk melihat situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah, terutama yang berkaitan dengan interaksi siswa di dunia maya. Ketiga, dokumentasi, yang mencakup pengumpulan data terkait dengan program-program pendidikan yang diterapkan di sekolah, seperti kurikulum dan kebijakan terkait pengurangan cyberbullying. Sumber data sekunder diperoleh dari referensi berupa buku, e-book, jurnal, atau artikel yang relevan dengan tema penelitian ini, untuk memperkaya validitas dan pemahaman terhadap topik yang (Pahleviannur et al. , 2. Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis melalui beberapa langkah, seperti kondensasi data yakni dengan mengumpulkan seluruh informasi yang diperoleh dari objek penelitian dalam hal ini adalah MI Bahrul Ulum yang terletak di Jl. Manfaat Ds. Panggang Rt/Rw: 02/01 Kec. Glagah Kab. Lamongan Rt. / Rw. Kabupaten Lamongan, kemudian membedakan antara data yang relevan dan yang tidak relevan, penyajian data dilakukan dengan mengelompokkan data yang penting sesuai dengan topik penelitian, dan penarikan kesimpulan yakni dengan mengambil kesimpulan dengan bahasa yang jelas dan sesuai dengan hasil penelitian. Proses analisis data ini mengacu pada teori Milles. Huberman. Selain itu, penelitian ini juga melakukan verifikasi keabsahan data melalui triangulasi. Triangulasi sangat penting dalam penelitian untuk memastikan adanya konsistensi antara data, metode, teori, analisis, dan temuan yaitu dengan membandingkan hasil wawancara antara informan yang satu dengan yang lainnya, membandingkan wawancara dengan observasi, membandingkan (Madina et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendekatan yang Diterapkan oleh Guru PAI di MI Bahrul Ulum untuk Mengedukasi Siswa tentang Bahaya Cyberbullying Pendidikan tentang bahaya cyberbullying menjadi sangat penting dalam konteks pendidikan Generasi Alpha yang tumbuh dengan pesatnya teknologi digital. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membekali siswa dengan nilai-nilai moral dan etika yang dapat membimbing mereka dalam berinteraksi di dunia maya. Oleh karena itu, pendekatan yang diterapkan oleh guru PAI di MI Bahrul Ulum dalam mengedukasi siswa mengenai bahaya cyberbullying sangat relevan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan karakter (Rimayati, 2. Pendekatan yang digunakan oleh guru PAI di MI Bahrul Ulum melibatkan beberapa langkah penting, yang tidak hanya mencakup penyampaian materi teoretis tentang cyberbullying, tetapi juga penerapan nilai-nilai Islam yang mendasari tindakan pencegahan. Dalam hal ini, guru PAI mengintegrasikan pembelajaran etika digital dan akhlakul karimah, yang merupakan bagian dari ajaran Islam, dengan fokus pada membentuk sikap empati, saling menghormati, dan kesadaran akan bahaya Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 perundungan di dunia maya. Proses pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai dampak negatif cyberbullying, baik terhadap korban maupun pelaku, serta memberi pengetahuan tentang cara menghadapi dan mencegah perilaku (NiAomah, 2. Selain itu, guru PAI juga menggunakan pendekatan yang lebih praktis dan interaktif dalam membahas cyberbullying dengan melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi kelas dan penggunaan media sosial sebagai contoh dalam Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif, sehingga siswa dapat langsung mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sehari-hari di dunia maya. Berikut ini adalah data temuan yang menguatkan pendekatan yang diterapkan oleh guru PAI, yang akan dipaparkan lebih lanjut melalui hasil wawancara dan observasi yang dilakukan di MI Bahrul Ulum. Dalam wawancara dengan Kepala MI Bahrul Ulum, beliau menjelaskan bahwa sekolah sangat memperhatikan masalah cyberbullying yang semakin marak di kalangan siswa, khususnya pada Generasi Alpha yang lebih sering mengakses teknologi sejak usia dini. Kepala madrasah menekankan bahwa penanganan cyberbullying perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua pihak, termasuk guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Beliau menyatakan, "Kami sebagai pihak madrasah sangat mendukung langkah-langkah yang diambil oleh guru PAI untuk menanamkan nilai-nilai agama yang menekankan pentingnya saling menghargai dan menjaga etika dalam berinteraksi di dunia maya. " Kepala madrasah juga menjelaskan bahwa mereka mengintegrasikan tema tentang etika digital dalam kurikulum PAI, di mana siswa diajarkan untuk memahami bahaya dari perundungan digital serta cara menghadapinya Islam (Dokumentasi MI Bahrul Ulum, 2025, n. ) Guru Pendidikan Agama Islam di MI Bahrul Ulum dalam wawancaranya, mengungkapkan bahwa mereka menggunakan pendekatan yang berbasis nilai-nilai agama untuk menangani kasus cyberbullying di kalangan siswa. "Dalam setiap pembelajaran, kami berusaha untuk menanamkan prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan kasih sayang, kejujuran, dan rasa empati, yang sangat relevan dengan penghindaran cyberbullying," kata guru tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa selain pembelajaran teori, mereka menerapkan praktik langsung dengan memberikan contoh perilaku baik melalui media sosial yang bisa dicontohkan oleh siswa. Guru tersebut mengaku bahwa mereka juga mengadakan Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 diskusi kelas untuk membahas masalah yang sering ditemui di dunia maya, sehingga siswa bisa saling berbagi pengalaman dan mendapatkan solusi bersama. AuKami juga melibatkan orang tua untuk memberikan pemahaman yang sama mengenai pentingnya pengawasan penggunaan teknologi bagi anak-anak," tambahnya. (Dokumentasi MI Bahrul Ulum, 2025, n. Selama PAI mengintegrasikan pembelajaran tentang etika digital dan nilai-nilai Islam dalam setiap sesi pembelajaran. Guru menggunakan metode ceramah yang diikuti dengan diskusi kelompok, di mana siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan pengalaman mereka terkait penggunaan media sosial. Selain itu, guru juga menggunakan video pendek yang menggambarkan contoh perilaku positif di media sosial dan bagaimana menghadapi situasi cyberbullying. Siswa tampak antusias dalam mengikuti kegiatan ini, menunjukkan minat yang tinggi terhadap materi yang diajarkan. Ada juga momen di mana beberapa siswa bertanya tentang bagaimana cara melaporkan cyberbullying yang mereka alami atau saksikan, yang menunjukkan bahwa mereka mulai memahami pentingnya melawan perundungan di dunia maya. (Dokumentasi MI Bahrul Ulum, 2025, n. Dokumentasi yang diperoleh selama penelitian menunjukkan bahwa MI Bahrul Ulum cyberbullying melalui pendidikan agama Islam. Salah satunya adalah pelaksanaan kegiatan "Pembelajaran Anti Cyberbullying di Era Digital" yang diadakan oleh sekolah, di mana siswa diberikan pelatihan tentang penggunaan media sosial secara bijak dan Dalam kegiatan ini, dokumentasi menunjukkan bahwa siswa diajarkan untuk tidak hanya berhati-hati dalam berbicara secara online, tetapi juga diajarkan untuk selalu mengedepankan nilai-nilai Islam dalam setiap interaksi. Selain itu, di ruang guru, terdapat materi pengajaran yang bertema "Islam dan Etika Digital" yang menjadi panduan bagi guru PAI dalam mengarahkan siswa mengenai bagaimana seharusnya berperilaku di dunia maya. Kegiatan-kegiatan ini terlihat sangat efektif dalam membangun kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga sikap dan menghindari perilaku bullying di dunia digital. (Dokumentasi MI Bahrul Ulum, 2025, n. ) Adapun rincian kegiatan tersebut dapat dilihat melalui tabel berikut. Tabel 1 Kegiatan Pembelajaran Anti Cyberbullying di Era Digital di MI Bahrul Ulum Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 No. Waktu Kegiatan 00-10-30 Jenis Kegiatan Apel pembukaan Sholat dhuha berjamaah Pemberian materi, video, dan kuis Evaluasi dan refleksi Doa bersama dan pulang Strategi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Menangani Cyberbullying pada Generasi Alpha di MI Bahrul Ulum Cyberbullying dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, terutama di lingkungan di mana orang berinteraksi secara sosial, seperti di sekolah. Fenomena ini seringkali terjadi di dunia maya, yang membuatnya lebih sulit untuk dideteksi dibandingkan dengan perundungan fisik. Cyberbullying yang terjadi di lingkungan sekolah dapat mencakup perilaku mengolok-olok, penghinaan, atau bahkan penyebaran rumor yang merugikan korban. Sebagai bagian dari upaya mengatasi masalah ini, penting untuk memahami bahwa masalah perundungan digital ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga mempengaruhi suasana sosial di sekolah. Untuk itu, dibutuhkan peran aktif guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dalam mengatasi masalah ini. Seorang guru PAI tidak hanya mengajar materi pelajaran agama, tetapi juga bertanggung jawab dalam membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki moralitas yang tinggi. Guru PAI memiliki kesempatan besar untuk menanamkan nilai-nilai agama yang mengajarkan kasih sayang, empati, dan kejujuran, yang dapat membantu mencegah perundungan di dunia maya. Selain itu, guru PAI juga bertindak sebagai fasilitator dalam memberikan pencegahan terhadap cyberbullying, dengan memberikan edukasi tentang etika digital dan bagaimana siswa dapat menjaga diri mereka sendiri dan orang lain di dunia maya. (Syahfitra et al. , 2. Cyberbullying di MI Bahrul Ulum termasuk dalam kategori normal dan tidak meningkat menjadi kekerasan fisik. Mencari tahu apa yang memotivasi siswa untuk mempermalukan tubuh, mengolok-olok dengan nama yang tidak pantas, atau mengejek teman sebayanya adalah langkah pertama dari perundungan itu sendiri. Semua cyberbullying yang dilakukan siswa tidak diragukan lagi merupakan hasil dari tindakan Guru Pendidikan Agama Islam seharusnya sudah mengetahui alasannya sebelum mereka melakukan tindakan cyberbullying. (Anggraini, 2. Penting untuk memahami pemicu cyberbullying agar dapat menanganinya dengan tepat dan menghindari penanganan selanjutnya yang salah karena penanganan yang tidak tepat. Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Jika seorang guru tidak mengetahui masalah dan akar penyebabnya, bagaimana mereka dapat mengatasinya, akan lebih mudah untuk menangani cyberbullying dengan penanganan yang tepat jika Anda mengetahui penyebabnya. Ada beberapa elemen yang berkontribusi terhadap cyberbullying. Memiliki saudara kandung yang melecehkan, rasa tidak aman, dan hubungan orang tua-anak yang buruk, semuanya dapat berkontribusi pada masalah ini selain kurangnya empati. (Anggraini, 2. Di MI Bahrul Ulum, cyberbullying ditangani dengan cara mengedukasi siswa tentang nilai perilaku yang baik dan bagaimana mencegah perundungan karena hal tersebut merugikan orang lain. Tujuan pendidikan dalam menghindari dan mengurangi cyberbullying adalah agar setiap individu memiliki pengetahuan dan kemampuan, kesehatan fisik dan mental, karakter yang matang, kemandirian, dan kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Agar setiap siswa memahami nilai-nilai yang dipegang dan nilai-nilai yang perlu dijunjung tinggi. MI Bahrul Ulum meningkatkan pendidikan akhlaqul karimah dan sifat-sifat sesuai dengan pelajaran yang dipelajari melalui pendidikan yang luas akan ditekankan dengan akhlak yang baik. Setelah itu, ajarkan mereka tentang risiko cyberbullying, konsekuensinya, dan sumbersumber pengaruhnya. (NiAomah, 2. Salah satu strategi yang digunakan oleh guru PAI di MI Bahrul Ulum adalah dengan mengintegrasikan materi tentang etika digital dalam pembelajaran. Melalui pendekatan ini, guru memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bahaya dari perilaku tidak etis di dunia maya dan pentingnya menjaga sikap positif di media sosial. Guru PAI juga menekankan nilai-nilai Islam yang mengajarkan saling menghormati, kasih sayang, dan empati, yang menjadi dasar utama dalam membentuk perilaku yang baik di dunia digital. Dalam setiap pelajaran, siswa diberikan contoh konkret tentang bagaimana menghindari dan melawan cyberbullying sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Dengan cara ini, siswa tidak hanya diberi pemahaman teoritis, tetapi juga diajarkan keterampilan praktis yang dapat mereka aplikasikan dalam kehidupan seharihari, baik di sekolah maupun di luar sekolah. (Rukhayati, 2. Salah satu tujuan MI Bahrul Ulum adalah untuk menumbuhkan hati yang kuat dalam beribadah, maka data yang dihasilkan di sana membantu peneliti menjelaskan bagaimana kebiasaan beribadah memperkuat akhlaqul karimah. Hal ini dikarenakan sekolah percaya bahwa pondasi agama yang kuat dan penanaman akhlaqul karimah Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 akan menguatkan kebaikan-kebaikan lainnya, terutama dalam hal perilaku, apapun Karena seorang siswa dengan hati yang suci, selalu dekat dengan Allah, tidak akan rela menodai hidupnya dengan dosa atau apapun yang bertentangan dengan kehidupan, apalagi aturan agama yang telah ditetapkan, seperti cyberbullying. Ibadah dan Akhlakul Karimah yang tertanam akan menghadirkan raga yang terus terpacu untuk berbuat baik. Secara alamiah, seorang siswa yang berakhlakul karimah akan menunaikan kewajibannya baik sebagai siswa dengan tidak melakukan cyberbullying kepada orang lain. Dalam rangka beribadah dan meningkatkan Akhlakul Karimah. MI Bahrul Ulum tidak saja mengajarkan materi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, namun juga menerapkan dan membiasakan ibadah seperti sholat dhuha secara (Rozikin et al. , 2. Selain itu, guru PAI di MI Bahrul Ulum juga melibatkan orang tua dan masyarakat dalam menangani cyberbullying. Menyadari bahwa lingkungan rumah dan masyarakat memiliki peran besar dalam perkembangan siswa, pihak sekolah mengadakan pertemuan rutin dengan orang tua untuk membahas masalah ini. Dalam pertemuan ini, guru memberikan panduan kepada orang tua tentang bagaimana mengawasi penggunaan teknologi anak-anak mereka di rumah dan cara berbicara tentang dampak negatif dari cyberbullying. Kolaborasi ini memastikan bahwa pesan yang disampaikan oleh guru PAI dapat diterima dengan baik oleh siswa dan didukung oleh lingkungan sekitar mereka. Dengan pendekatan yang holistik ini. MI Bahrul Ulum berusaha menciptakan ekosistem yang aman dan positif bagi Generasi Alpha, mengurangi risiko cyberbullying, dan memperkuat karakter moral siswa. (Arifyadi et al. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis peneliti yang telah dilakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi diperoleh penarikan kesimpulan bahwa di MI Bahrul Ulum terkait strategi guru dalam menangani cyberbullying pada generasi alpha dengan menggunakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu dengan menggunakan beberapa pendekatan yang bermanfaat untuk masa depan siswa seperti: Pendekatan kepada siswa dan mencari faktor-faktor yang menjadi penyebab cyberbullying, . Memberikan edukasi tentang akhlakul karimah, era digitalisasi dan Muassisatul Fatihah DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 bahayanya cyberbullying, . Memberikan nasihat supaya bijak dalam menggunakan gadget dan tidak melakukan cyberbullying, . Pembiasaan program keagamaan seperti membaca Al-QurAoan sebelum pembelajaran dimulai dan sholat dhuha berjamaah dengan tujuan membentuk Akhlakul karimah serta, . Guru memberi suri tauladan yang baik supaya dijadikan contoh oleh seluruh siswa. DAFTAR PUSTAKA