Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 791-797 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pola Komunikasi Orangtua dengan Remaja Adiksi Internet Anggie Febriyanti RaharjoA. Sumardjijati A Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur anggieferaharjo@gmail. ABSTRACT The development of the digital era in the world is marked by new technology, namely the Internet which is a facility that can be accessed by everyone around the world. The internet can not only be used for chatting and browsing, but in its development the internet can be increasingly widespread in its use. The existence of the internet is also felt by the people of Surabaya. The internet has a positive impact in the form of convenience for its users to access information with an online system that is easy, fast and affordable. Besides having a positive impact, the internet can also have a negative impact such as the occurrence of internet addiction, especially in teenagers. To prevent this from happening, good communication is needed between parents and children regarding the dangers of the internet so that addiction does not occur. This study uses a descriptive qualitative approach with an analysis of communication patterns according to Diana Baumrind. This data collection technique uses in-depth interviews with parents who have teenagers who experience internet addiction in the city of Surabaya. From the results of the study it can be concluded that parents apply permissive or liberating communication patterns, lack of interaction between parents and children and low supervision in internet use is the cause of children experiencing internet addiction. Keywords: communication patterns, internet addiction. Surabaya ABSTRAK Semakin berkembangnya era digital di dunia ditandai dengan teknologi baru yakni Internet yang merupakan fasilitas yang dapat diakses oleh semua orang di seluruh Internet tidak hanya dapat digunakan untuk chatting dan browsing, namun dalam perkembangannya internet dapat semakin meluas dalam penggunaannya. Keberadaan internet juga dirasakan oleh masyarakat Kota Surabaya. Internet memiliki dampak positif berupa kemudahan bagi penggunanya untuk mengakses informasi dengan sistem online dengan mudah, cepat dan terjangkau. Selain memiliki dampak positif, internet juga dapat memberikan dampak negatif seperti terjadinya adiksi internet khususnya pada anak remaja. Agar hal ini tidak terjadi, diperlukan komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak mengenai bahaya internet agar tidak terjadi adiksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis pola komunikasi menurut Diana Baumrind. Teknik pengumpulan data ini dengan menggunakan wawancara mendalam dengan orang tua yang memiliki anak remaja yang mengalami adiksi internet di Kota Surabaya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat dua pola komunikasi yang diterapkan oleh orangtua dengan remaja adiksi internet di Kota Surabaya yakni permissive dan authorative. Penerapan pola komunikasi demokratis atau authorative menunjukkan bahwa kebebasan dan pengawasan berjalan selaras dengan kesepakatan kedua belah pihak. Penerapkan pola komunikasi permissive atau membebaskan, disebabkan kurangnya interaksi antara orangtua dengan anak dan pengawasan yang rendah dalam penggunaan internet. Kata kunci : pola komunikasi, adiksi intenet. Surabaya 791 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 791-797 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. PENDAHULUAN Perkembangan di era digital ditandai dengan adanya teknologi baru yang dinamakan internet. Kehadiran internet sebagai salah satu bentuk perkembangan teknologi di bidang komunikasi merupakan suatu hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia. Munculnya teknologi internet membuat proses komunikasi yang baru, proses komunikasi tersebut masuk ke dalam media baru atau new media. Littlejohn . mengungkapkan bahwa perkembangan internet sebagai new media . he second media ag. menandai periode baru di mana teknologi interaktif dan komunikatif jaringan khususnya dunia maya akan mengubah masyarakat. Keberadaan internet bisa memberikan dampak negatif kepada penggunanya seperti penipuan, kecanduan internet, pembajakan, dan lainnya. Akan tetapi, internet juga memberi dampak positif berupa kemudahan bagi penggunanya untuk mengakses informasi dengan sistem online. Keberadaan internet sebagai media informasi dan komunikasi menjadi jalur alternatif bagi setiap orang yang menggunakannya. Hal ini terjadi karena cenderung mudah seseorang terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan efek yang akan diterima saat melakukan aktivitas internet (Dharmawan, 2. Tingginya penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia adalah untuk mengakses media sosial, layanan publik dan transaksi online (APJII,2. Remaja sebagai mayoritas pengguna aktif internet, yaitu dengan 59% pengguna online usia 18-29 tahun menggunakan internet untuk mengakses media sosial dan informasi (A. Jackson, 2. , remaja cenderung memiliki berbagai pengetahuan dalam memanfaatkan internet. Adanya teknologi membawa dampak positif dan dampak negatif bagi generasi ke generasi, hal ini tentu saja tergantung bagaimana cara generasi tersebut menghadapinya. Remaja harus menanggapi kemajuan teknologi ini dengan cara yang positif. Cara positifnya yaitu dengan menyaring halhal yang kita dapatkan dalam teknologi dan tidak terjerumus kedalam hal yang Kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna internet menyebabkan remaja menggunakan secara berlebihan serta dapat menimbulkan kecanduan (Nurnaningsih Siti F, 2. Adiksi atau kecanduan dalam berinternet merupakan salah satu faktor dari kenakalan remaja. Kurangnya perhatian dan komunikasi antara anak dan orang tua sehingga anak tidak memiliki atau bahkan tidak mengetahui batasan-batasan dalam Padahal, tujuan orang tua mengizinkan anak mereka menggunakan internet adalah untuk menunjang pembelajaran yang semakin berkembang di era digital saat ini. Penggunaan internet tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, khususnya remaja. Hal tersebut dikarenakan hampir sebagian besar kegiatan remaja membutuhkan internet, baik untuk kebutuhan akademik maupun non-akademik (Nur Rahmawati, 2. Peran orang tua sangat dibutuhkan anak usia dini hingga remaja di tengah perkembangan era digital dalam mengatur waktu, bahasa, dan sikap di dunia nyata hingga di dunia digital. Tidak sedikit dari orang tua akhirnya memilih untuk membiarkan anak-anak mereka bermain gadget agar anak mereka tetap berada 792 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 791-797 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dalam jangkauan mata. Oleh karena itu komunikasi antara orang tua dan anak sangat penting untuk dilakukan dalam mencegah dampak yang merugikan anak dan orang tua yang disebabkan oleh internet yakni kecanduan. Remaja yang mengalami kecanduan akan menjadi sangat tergantung terhadap internet, sehingga mereka rela menghabiskan waktu yang lama hanya untuk mencapai kepuasan (Fauziawati, 2. Cukup tingginya penggunaan internet di Surabaya, dan mudahnya akses dan tersedianya sarana dan prasarana menyebabkan masyarakat menjadi lebih gemar mengakses internet. Hal ini diperkuat dengan adanya banyak warung kopi . dan cafe yang ada di Surabaya. Tempat tersebut dapat memfasilitasi masyarakat khususnya remaja untuk bebas menggunakan wifi yang telah di sediakan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Adanya realita sosial ini menjadi penyebab dari kesenjangan antara harapan orangtua membuat remaja khususnya di Kota Surabaya dapat dengan bebas mengakses internet seperti media sosial dan game online sehingga mereka menjadi adiksi internet. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami realitas sosial yang ada, yaitu melihat dunia dari apa adanya, bukan dunia yang seharusnya. Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif juga digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan (Mamik, 2. Berdasarkan hasil dari realita sosial yang ada dan banyaknya penduduk usia remaja di Kota Surabaya, bahwa penggunaan internet cukup tinggi dan didukung dengan adanya sarana dan prasarana penyedia internet seperti wifi pada warkop atau cafe dan kurangnya perhatian dari orang tua menyebabkan banyak remaja di Surabaya menjadi adiksi dengan internet. Hal ini tidak sejalan dengan harapan dan tujuan awal orang tua yang mengharapkan adanya perkembangan teknologi yakni internet tersebut untuk menunjang pendidikan. Dan penulis menemukan kesenjangan yang menjadi keresahan orang tua di era digital ini. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya. Dengan Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan studi literatur. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara bersama dengan empat pasang orangtua dengan remaja yang telah memenuhi kriteria informan. Dampak negatif dari internet tidak hanya akan merugikan diri sendiri namun juga dapat merugikan orang lain terutama pada lingkup kecil yakni pada keluarga. Keluarga yang seharusnya adalah lingkup terdekat untuk saling berkomunikasi, menyayangi dan bertukar fikiran menjadi akan asing dan kurang interaksi karena penggunanya terdampak adiksi Sehingga dibutuhkan peran dari orang tua dan penerapan pola komunikasi 793 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 791-797 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. yang tepat dengan anak remaja agar menghindari terjadinya adiksi internet. Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih satu bulan dengan cara peneliti melakukan observasi terlebih dahulu dengan melihat kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh informan. Setelah melakukan observasi, peneliti melakukan wawancara mendalam . ndepth intervie. terhadap empat pasang informan orang tua dan anak remaja yang adiksi internet. Penggunaan Internet oleh Remaja Adiksi internet merupakan ketidakmampuan mengontrol diri dalam penggunaan internet yang dilakukan secara berlebihan. Adiksi internet pada remaja biasanya ditandai dengan beberapa gejala yang ditunjukkan oleh remaja melalui beberapa perilaku yang terus menganggu aktifitas utamanya dikehidupan nyata. dan adiksi internet pada remaja merupakan fenomena yang marak terjadi dengan menggunakan internet secara berlebihan hingga memunculkan internet addiction atau adiksi internet pada anak terutama pada remaja. Dalam penggunaan internet, remaja merupakan pengguna paling aktif di Indonesia (APJII,2. Remaja biasa bermain internet hingga 8 hingga 10 jam perhari dimana hal tersebut sudah melebihi batas wajar dalam penggunaan internet. Namun, pengguna internet dapat dikatakan adiksi atau kecanduan tidak cukup hanya berdasarkan durasi penggunaanya saja. Gejala atau kriteria lain yang memperkuat bahwa remaja Kota Surabaya mengalami adiksi internet adalah loss of control, salience, tolerance, mood modification and relapse. Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh peneliti menunjukkan bahwa dari ke empat remaja yang menjadi informan memiliki intensitas penggunaan internet sangat tinggi dan telah memenuhi kriteria adiksi internet. Hal tersebut selaras dengan teori kriteria adiksi internet menurut kuss and grifft tahun 2015, meliputi remaja mengalami insomnia, kehilangan kontrol dalam penggunaan internet . oss of contro. dan ingin meningkatkan durasi secara terus menerus . , menjadikan internet sebagai pelarian dari penatnya aktivitas sekolah . ood modificatio. dan lain sebagainya. Pola Komunikasi Orangtua dengan Remaja Fenomena tingginya penggunaan internet pada remaja hingga terjadi adiksi internet tentunya memiliki keterkaitan dengan pola komunikasi yang diterapkan oleh orangtua kepada remaja. Setelah peneliti melakukan wawancara dan mendapatkan hasil bahwa tiga dari empat informan orangtua di Kota Surabaya menerapkan pola komunikasi permissive atau membebaskan yakni dimana orangtua memiliki kecenderungan dalam membebaskan dan memenuhi kebutuhan remaja. Orangtua hanya memberikan teguran atau ancaman kepada anak mereka tanpa memberikan sanksi yang berat agar remaja merasa jera. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara bersama para orangtua yakni tingginya kebebasan yang diberikan kepada anak seperti durasi, frekuensi penggunaan internet, pemilihan tipe hp atau smartphone yang di inginkan anak selalui dipenuhi dengan pengawasan yang rendah. Kedekataan dan interaksi antara orangtua dengan remaja dalam keseharian juga sangat terbatas, kurangnya interaksi 794 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 791-797 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. juga berpengaruh pada keterbukaan diri antara orangtua dengan anak dan Alasan orangtua melakukan hal tersebut adalah adanya kesibukan seperti bekerja, menjahit dan lain sebagainya sehingga pengawasan yang diberikan kepada remaja dalam penggunaan internet tidak maksimal sehingga terjadi adiksi Selain hal tersebut keterbukaan antara orangtua dengan remaja dan intensitas interaksi perlu diperhatikan. Berdasarkan data yang telah peneliti peroleh dari wawancara bersama orangtua, mereka tidak mengetahui ataupun mengenali apa yang dimaksud dengan adiksi internet dan apa dampak dari adiksi internet. Padahal adiksi internet dapat memberikan dampak negatif kepada remaja yang telah mereka berikan fasilitas berinternet seperti smartphone, paket data hingga wifi. Dan dapat disimpulkan bahwa orangtua di Kota Surabaya menerapkan dua pola komunikasi yang berbeda yakni membebaskan . dan demokratis . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kepada orang tua dengan remaja adiksi internet. Terdapat dua penerapan pola komunikasi yang berbeda antara orangtua dengan remaja, dari empat informan yang telah dilakukan wawancara, satu diantaranya melakukan penerapan pola komunikasi demokratis atau authoritative kepada remaja yang ditunjukkan dengan adanya interaksi yang cukup baik antara orangtua dengan remaja dan diberikannya kebebasan namun juga tetap memberikan pengawasan kepada remaja pengguna internet. Hal ini dapat dikatakan bahwa adanya keseimbangan dan persetujuan antara kedua belah pihak yakni orangtua dengan Namun walaupun pola komunikasi demokratis telah diterapkan antara orangtua dengan remaja dan interaksi atau komunikasi interpersonal yang terjalin baik, rendahnya pemahaman orangtua mengenai adiksi internet dapat tetap membuat remaja mengalami adiksi internet. Sedangkan tiga diantara empat informan melakukan penerapkan pola komunikasi permissive atau membebaskan, yang artinya antara kebebasan atau bentuk penerimaan tinggi namun aturan dan pengawasan yang di lakukan rendah, sehingga menyebabkan remaja mengalami adiksi internet. Bentuk penerimaan atau kebebasan yang diberikan orangtua kepada remaja adalah dengan memberikan fasilitas yang memadai seperti smartphone, paket data dan intensitas penggunaan internet yang tinggi namun dengan pengawasan yang rendah. Bentuk pengawasan atas aturan yang diberikan oleh orangtua yang menerapkan pola komunikasi permissive sangat rendah dan hanya sekedar memberikan teguran tanpa pemberian sanksi yang tegas kepada remaja. Kurangnya pemahaman mengenai adiksi internet dan tidak adanya keterbukaan antara orangtua dengan remaja dalam berkomunikasi sehari-hari membuat remaja merasa kesepian dan kurang diperhatikan sehingga lebih memilih untuk bermain internet dan mengabaikan lingkungan sekitar hingga mereka tidak menyadari bahwa mereka telah adiksi 795 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 791-797 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Saran