. ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Optimalisasi Kinerja Simpang dengan Metode Local Area Traffic Management (Studi Kasus: Simpang Empat Bersinyal Toddopuli Kota Makassa. Optimizing Intersection Performance Using The Local Area Traffic Management Method (Case Study: Signalized Intersection at Toddopuli. Makassar Cit. Aisyah Zakariah1,. Bustamin Abdul Razak. ,Fadly Arirja Gani. Ardiansyah. Muh. Ikhlasul Amal Bahar. 1,2,3,4,. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang Koresponden: . aisyahzakariah_78@poliupg. ABSTRAK Konflik lalu lintas, terutama di persimpangan jalan, menjadi penyebab utama kemacetan dan tundaan. Di Makassar, simpang empat bersinyal Toddopuli merupakan salah satu lokasi yang mengalami masalah lalu lintas serius, terutama pada jam sibuk, dengan tingkat pelayanan yang buruk. Survei geometrik, arus lalu lintas, dan kondisi lingkungan persimpangan dilakukan untuk mengumpulkan data, yang kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel dan dianalisis lebih lanjut dengan PTV VISSIM untuk Selain itu, perangkat Local Area Traffic Management (LATM) dipilih untuk menyusun skema alternatif optimalisasi simpang, denga pemilihan perangkat berupa penggunaan rambu lalu lintas, perubahan arah pergerakan, dan pemasangan marka jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja simpang empat bersinyal Toddopuli pada kondisi eksisting berada pada tingkat pelayanan yang buruk, terutama pada siang hari dengan tingkat kejenuhan (DJ) 1. 00 dan tundaan 76,29 detik/SMP, yang mengindikasikan arus lalu lintas mendekati kapasitas maksimum. Setelah dilakukan optimalisasi menggunakan metode Local Area Traffic Management. Skema Alternatif 3 berhasil meningkatkan tingkat pelayanan simpang dengan mencapai LoS B untuk Simpang Empat Toddopuli dan LoS B untuk Simpang Tiga Borong, serta LoS A untuk Simpang Empat Batua Raya, dengan tundaan yang jauh lebih rendah. Kata Kunci: Transport. LATM. Vissim. PKJI. Pada beberapa persimpangan di Makassar, masalah lalu lintas seperti kemacetan, antrian, dan tundaan masih sering muncul. Masalah tersebut umumnya muncul selama jam-jam sibuk, yaitu saat berangkat dan pulang kerja atau sekolah. Sehingga dari permasalahan lalu lintas tersebut perlu adanya upaya atau tindakan untuk mengatasi persoalan kemacetan di kota Makassar. Simpang empat bersinyal Toddopuli adalah lokasi dengan berbagai pusat kegiatan, termasuk akses ke kantor dan PENDAHULUAN Makassar adalah salah satu kota yang sering menghadapi masalah transportasi, terutama di area persimpangan. Volume kendaraan yang besar ini menyebabkan diperparah dengan tidak lengkapnya rambu-rambu pengatur lalu lintas di sekitar persimpangan, alhasil semua pengendara saling menyerobot, dan tidak mau 32/44 . ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Periode waktu pagi pukul 06. 00 Ae 09. periode waktu siang pukul 11. 00 Ae 14. dan periode waktu sore pukul 16. 00 Ae sekolah, serta arus bolak-balik antar kota pada jam berangkat dan pulang sekolah, kerja, dan kuliah. Akibatnya, banyak masyarakat yang melewati simpang tersebut, menyebabkan kemacetan, antrian panjang, serta meningkatkan risiko dan ancaman terhadap keselamatan para pengguna jalan. Penelitian yang dilakukan oleh Hasmar Halim dkk. menunjukkan bahwa evaluasi kinerja simpang bersinyal di persimpangan jalan Toddopuli lengan Toddopuli Raya Timur berdasarkan tundaan rata-rata kendaraan menghasilkan tingkat pelayanan D pada pagi hari dengan tundaan sebesar 52,431 detik/kendaraan. Pada siang hari, tingkat pelayanan turun ke E dengan tundaan sebesar 73,365 detik/kendaraan, dan pada sore hari, tingkat pelayanan tetap E dengan tundaan sebesar 58,734 detik/kendaraan. Meskipun hasil optimalisasi simulasi menggunakan perangkat lunak VISSIM menunjukkan tingkat pelayanan didominasi oleh E, penggunaan 4 fase dengan waktu siklus 100 detik dapat menghasilkan tundaan sebesar 54,41 detik/kendaraan atau tingkat pelayanan D. Hal ini yang mendasari masih perlu adanya alternatif lain atau solusi terbaru untuk lebih mengoptimalkan simpang empat bersinyal Toddopuli. Oleh sebab itu, persimpangan tersebut dengan judul AuOptimalisasi Kinerja Simpang Dengan Metode Local Area Traffic Management (Studi Kasus: Simpang Empat Bersinyal Toddopuli Kota Makassa. Ay Alat Survei Alat survey yang digunakan pada penelitian ini yaitu Formulir dan Alat tulis. Roll meter. Laptop. Kamera, dan Thing Counter. Metode Survei Survei Geometrik Simpang: Survei ini bertujuan untuk mendapatkan informasi langsung tentang tata guna lahan dan dimensi pada simpang, yang berguna untuk analisis data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan data langsung di lapangan. Survei Arus Lalu Lintas: Survei ini dilakukan untuk menghitung volume kendaraan sesuai klasifikasi yang Toddopuli. Metode yang digunakan adalah dengan merekam semua kendaraan yang masuk dan keluar dari persimpangan menggunakan kamera. Survei Kondisi Lingkungan Simpang: Survei ini mengukur pengaruh kondisi lingkungan jalan, hambatan samping, dan besarnya arus KTB akibat kegiatan di sekitar simpang terhadap kapasitas Semua faktor ini digabungkan menjadi satu nilai faktor koreksi hambatan samping (FHS). Metode Analisis Data Data yang diperoleh di lapangan akan ditabulasi, kemudian diolah dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan metode PKJI 2023. Data-data yang telah terkumpul dari survei langsung akan disimulasikan menggunakan perangkat lunak PTV VISSIM. METODE PENELITIAN Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi pada simpang empat bersinyal Toddopuli. Kota Makassar. Metode Pemilihan Perangkat LATM Penelitian ini dilakukan selama 3 hari. Pengambilan data volume kendaraan di persimpangan diambil di hari kerja . elasa & rab. dan akhir pekan . pada periode waktu pagi, siang, dan sore hari. Berdasarkan Hipotesa dan survei pendahuluan yang kami lakukan, maka dalam penelitian ini perangkat yang kami pilih dalam menyusun Skema Alternatif Optimalisasi simpang berupa perangkat 33/44 . ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Rambu larangan dan rambu rerintah lalu lintas, perubahan arah pergerakan lalu lintas, dan Pemasangan marka jalan. ANALISIS PENELITIAN Hasil Survei Survei Kondisi Lingkungan Simpang Menurut data Badan Statistik Sulawesi Selatan jumlah penduduk kota Makassar tahun 2023 adalah sebesar 956 jiwa, oleh karena itu kota Makassar masuk golongan kota besar. Survei Geometrik Simpang Data geometrik kondisi saat ini di lapangan mencakup tipe lingkungan jalan, hambatan samping, median, kelandaian pendekat, dan ukuran masing-masing lebar pendekat. Informasi kondisi eksisting pada simpang empat bersinyal Toddopuli dapat dilihat pada Tabel 1. Survei Volume Kendaraan Volume masing-masing simpang sesuai dengan tipe kendaraan dan arah pergerakannya pada jam puncak dalam satuan kendaraan per jam . end/ja. sebagaimana dalam Tabel 2. Berdasarkan PKJI 2023, tipikal dan klasifikasi kendaraan meliputi: - Sepeda Motor (SM): meliputi sepeda motor dan kendaraan bermotor roda - Mobil Penumpang (MP): meliputi sedan, jeep, minibus, mikrobus, pick up, dan truk kecil. - Kendaraan Sedang (KS): meliputi bus jeep, bus tanggung, bus metromini, dan truk sedang. - Kendaraan Tak Bermotor (KTB): meliputi sepeda, becak, dan kendaraan yang ditarik oleh hewan. Bagan Alir Penelitian Secara garis besar metode penelitian digambarkan dalam bentuk bagan alir dapat dilihat pada Gambar 1 flowchart bagan alir penelitian sebagai berikut: Gambar 1. Flowchart Bagan Alir Penelitian Tabel 1. Geometrik Simpang empat Toddopuli Kode Tipe . om/res/r. Hambatan Median Pendekat BKiJT Ya/Tidak /- % Ya/Tidak 34/44 Lebar Pendekat ( m ) pada pada awal garis Lajur henti LM LBKiJT LK . ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Tabel 2. Survei Volume Kendaraan Periode Waktu Pagi Jl. Anggrek Raya Siang Sore Pagi Jl. Toddopuli VII Siang Sore Pagi Jl. Toddopuli Raya Siang Timur Sore Pagi Jl. Toddopuli Raya Siang Barat Sore Lengan Simpang Volume Kendaraan SM MP KS KTB 1222 309 22 1589 375 16 2287 404 17 1850 531 287 1934 394 20 1157 222 20 1456 336 16 989 253 27 Gambar 3. Distribusi Kumulatif Kecepatan Arus Bebas MP Survei kecepatan kendaraan Adapun hasil survey kecepatan kendaraan dilapangan untuk masingmasing lengan simpang pada tiap-tiap periode dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kecepatan Rata-Rata Tiap periode Lengan Simpang Kecepatan Rata-Rata Pagi Siang Sore Jl. Anggrek Raya Jl. Toddopuli VII Jl. Toddopuli Raya Timur 24. Jl. Toddopuli Raya Barat Gambar 4. Distribusi Kumulatif Kecepatan Arus Bebas KS Analisis Evaluasi Kinerja Simpang APILL berdasarkan PKJI 2023 Fase Isyarat Secara Eksisting Simpang empat Toddopuli memiliki fase sinyal 2 fase, konflik-konflik primer sebagaimana dalam Gambar 5. Survei Hasil survei kecepatan arus bebas di lapangan untuk masing-masing simpang yang dilakukan pada hari Selasa pukul 00 WITA dapat dilihat pada Gambar 2, 3, dan 4. Gambar 5. Tipikal Pengaturan Fase APILL Simpang Empat Toddopuli dengan 2 Fase Untuk waktu merah semua dan waktu hilang hijau diperoleh dari kondisi eksisting APILL dilapangan. dalam Tabel 4. Tabel 4. Waktu Merah Semua (WMS) dan Waktu Hijau (WHH) Penentuan waktu merah WMS Fase 1 ke Fase 2 WMS Fase 2 ke Fase 1 WK semua fase . detik 2 fas. WHH = S(WMS WK) Semua, . etik/siklu. Gambar 2. Distribusi Kumulatif Kecepatan Arus Bebas SM 35/44 ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Tipe Pendekat Berdasarkan survei yang dilakukan simpang empat bersinyal Toddopuli dikategorikan tipe pendekat Terlawan (O). Tabel 6. Arus Jenuh Dasar (J. Hasil Interpolasi Tiap Periode Kode qBKa qBKa,O LE Pendekat Pagi Siang Sore Periode Tipe Pendekat Dari hasil survei lapangan lebar BKiJT <2 m, maka kendaraan BKiJT dianggap tidak dapat mendahului antrian kendaraan lainnya selama isyarat merah. Maka LE = LM LBKiJT. Tabel 5. Lebar Efektif (LE) Lebar Pendekat ( m ) Pada Kode Pada Pada BkiJT Lajur Lebar Awal Garis Belok Efektif Lajur Henti Kiri Ya/Tidak L LM LBKiJT LE Arus Jenuh terhadap Arus Jenuh Dalam menganalisis rasio arus terhadap arus jenuh. Rq/J, perlu diperhatikan bahwa jika arus BKiJT harus dipisahkan dari analisis, maka hanya arus lurus dan belok kanan saja yang dihitung sebagai nilai q. Perhitungan perbandingan arus dengan arus jenuh dapat dihitung dengan menggunakan Rumus. Rq-/J = a/J Salah satu contoh untuk perhitungan pada periode pagi pada pendekat Utara yaitu: = 301/1850 = 0. Perhitungan rasio fase dapat dihitung dengan menggunakan Rumus: RF = Rq/J / RAS Arus Jenuh (J) Dalam menentukan arus jenuh masing-masing pendekat, terlebih dahulu Perlu ditentukan arus jenuh dasar (J. dan faktor penyesuaian (FHS. FUK. FG. FP. FBKi. FBK. Arus menggunakan rumus: J = J0 y FHS y FUK y FG y FP y FBKi y FBKa. Arus jenuh dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7. Tabel 7. Arus Jenuh Dasar (J. Hasil Interpolasi Tiap Periode Periode Pagi Siang Sore Kode Pendekat FUK FHS FBKa FBKi 36/44 ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Salah perhitungan pada periode pagi pada pendekat Utara yaitu: RF = Rq/J / RAS RF = 0. 279 / 1. 076 = 259 Untuk hasil perhitungan Rq/J. RAS dan RF untuk masing-masing pendekat dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil Perhitungan Rq/J. RAS dan Panjang Antrian (PA) Jumlah rata-rata antrian kendaraan (SMP) pada awal isyarat lampu hijau (N. dihitung sebagai jumlah kendaraan terhenti (SMP) yang tersisa dari fase hijau sebelumnya (Nq. ditambah jumlah kendaraan (SMP) yang datang dan terhenti dalam antrian selama fase merah (Nq. Panjang antrian (PA) diperoleh dengan mengalikan Nq (SMP) dengan luas area rata-rata yang digunakan oleh satu mobil penumpang (SMP) yaitu 20 m2, kemudian dibagi lebar masuk . PA = Nq x 20 / LM = 10,2 x 20 / 2 = 102 Kode Periode Pendekat Pagi Siang Sore SMP/JAM SMP/JAM Rq/J RAS/ Rq/J Panjang Antrian (PA) Sebelum menghitung NKH maka perlu di cari nilai RKH, dihitung RKH = 0,9 x (Nq/. ) x 3600 RKH = 0,9 x . ,2 / 516 x . x 3600 = Sehingga rumus mencari nilai NKH dihitung menggunakan Persamaan 2. Waktu Siklus dan Waktu Hijau Waktu isyarat terdiri dari waktu siklus . dan waktu hijau (WH). Pada kondisi eksisting APILL Simpang Empat Toddopulli WH tiap fase yaitu: 35 dtk x 2 fase = 70 dtk Jadi waktu siklus adalah S = WHH WH = 14 70 = 84 dtk NKH = q y RKH NKH = 516 y 0. 76 = 395 Tundaan (T) Tundaan pada Simpang APILL disebabkan oleh dua faktor: . tundaan lalu lintas (TLL), dan . tundaan geometri (TG). Tundaan rata-rata untuk pendekat i dihitung dengan menggunakan rumus: Ti = TLLi TGi Ti = 14. 1 = 17. Kapasitas Simpang (C) Kapasitas bersinyal dapat dihitung sebagai berikut: C = J y WH/S C = 1850 y = 1. Untuk hasil perhitungan nilai C. DJ. PA. NKH, dan T masing-masing lengan simpang tiap periode dapat dilihat pada Tabel 9. Derajat Kejenuhan (DJ) Derajat kejenuhan (DJ) dihitung menggunakan rumus: DJ = q/J DJ = q/J = 516 / 771 = 0. 37/44 ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Tabel 9. Hasil Perhitungan C. DJ. PA. NKH, dan T Kode Pendekat Periode Arus Kapasitas Derajat Rasio Panjang Rasio Jumlah Tundaan kejenuhan Hijau Antrian Kendaraan Kendaraan Tundaan Tundaan Tundaan rata- Tundaan Terhenti Terhenti lalu lintas geometrik Total rata-rata rata-rata smp/jam smp / jam Pagi BKiJT Kode Pendekat Periode Siang det/smp det/smp det/smp T = TL TG T x q Totaltundaan: 45043 Tundaan simpang rata-rata . et/sm. : 14. Arus Kapasitas Derajat Rasio Panjang Rasio Jumlah Tundaan kejenuhan Hijau Antrian Kendaraa Kendaraa Tundaan Tundaan Tundaan n Terhenti n Terhenti Tundaan geometrik rata-rata Total lalu lintas rata-rata rata-rata smp/jam smp / jam NKH smp/jam Total jumlah kendaraan terhenti = Rasio kendaraan terhenti rata-rata . top/sm. = RKH stop/smp RKH NKH stop/smp smp/jam det/smp det/smp det/smp BKiJT 478. T = TL TG T x q Totaltundaan Tundaan simpang rata-rata . et/sm. : 34. Kode Arus Kapasita Derajat Rasio Panjang Rasio Jumlah Tundaan Pendekat lalu kejenuha Hijau Antrian Kendaraa Kendaraa Tundaan Tundaan Tundaan Tundaan n Terhenti n Terhenti lalu lintas geometrik rata-rata Total rata-rata rata-rata Periode Total jumlah kendaraan terhenti = Rasio kendaraan terhenti rata-rata . top/sm. = smp/jam smp / jam Sore BKiJT RKH NKH TL TG Txq stop/smp smp/jam det/smp det/smp det/smp Total jumlah kendaraan terhenti = Rasio kendaraan terhenti rata-rata . top/sm. = Berdasarkan Tabel 8. Derajat Kejenuhan setiap lengan simpang berbedabeda tergantung pada kondisi arus lalu lintas setiap periodenya. Untuk periode Pagi DJ tertinggi terjadi pada lengan Jl. Toddopuli VII dengan DJ 0. 81, tundaan 23,12 detik/SMP dengan tingkat pelayanan C, pada periode Siang DJ tertinggi terjadi pada lengan Jl. Toddopuli raya Timur dengan DJ 1. 00, tundaan 76,29 Tundaan simpang rata-rata 15. et/sm. detik/SMP dengan tingkat pelayanan F, pada kondisi ini arus lalulintas telah melebihi kapasitas simpang dan pada periode Sore DJ tertinggi terjadi pada lengan Jl. Toddopuli raya Barat dengan DJ 86 tundaan 30,87 detik/SMP dengan tingkat pelayanan D. Dari hasil tersebut, terlihat bahwa DJ setiap lengan simpang mendapatkan nilai yang tinggi dan bergantian di setiap 38/44 . ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 periodenya dengan DJ >0,85. Ini mengindikasikan bahwa arus lalu lintas pada bagian jalinan tersebut mendekati arus jenuh, yang pada akhirnya akan menyebabkan antrian panjang selama kondisi lalu lintas puncak. Skema Alternatif 1 Tabel 10. Deskripsi Penerapan LATM Skema Alternatif 1 Nama Lengan Simpang Simpang Deskripsi Penerapan Local Area Traffic Management Simpang Jl. Membuat Empat Toddopuli menerapkan jalan satu Arah Bersinyal Timur dan perubahan fase sinyal Toddopuli menjadi 3 fase Jl. Membuat Toddopuli memasang rambu stop, hanya Barat memperbolehkan belok kiri dan kanan, dan perubahan fase sinyal menjadi 3 fase Jl. Membuat Toddopuli memasang rambu larangan VII belok kanan, hanya boleh belok kiri, dan perubahan fase sinyal menjadi 3 fase Jl. Anggrek Membuat marka jalan dan Raya menerapkan jalan Satu arah Simpang Jl. Batua Memasang rambu larangan Empat Raya belok kanan, dan hanya Batua boleh belok kiri dan lurus Jl. Borong Menerapkan jalan Satu arah Raya Jl. Anggrek Memasang rambu stop, dan Raya hanya boleh belok kiri dan (Cana. kanan Jl. Batua Memasang Rambu Stop, dan Raya Xi rambu larangan belok kanan, (Cana. serta hanya boleh belok kiri Simpang Jl. Batua Menerapkan jalan Satu arah Tiga Raya Borong Jl. Borong Memasang Rambu Stop dan Raya hanya boleh belok kiri Jl. Toddopuli Menerapkan jalan Satu arah Maka perlu dilakukan perubahan untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja Jalinan jalan, yaitu dengan menerapkan metode Local Area Traffic Management dan melakukan perubahan isyarat fase Penerapan Metode Local Area Traffic Management Rencana Skema menggunnakan metode LATM menerapkan pemilihan perangkat peralatan pengatur lalu lintas secara fisik seperti marka jalan dan pejalan kaki, peralatan pengatur lalu lintas secara peraturan seperti rambu larangan dan rambu perintah, dan pengaturan lingkungan jalan dan tata guna Dalam hal ini dengan menerapkan metode LATM ada beberapa perankat peralayan yang dapat memberikan dampak terhadap arus lalu lintas pada jaringan jalan yang lain, yaitu pada simpang empat pergerakan lalu lintas seperti pemberian satu arah pada salah satu lengan maka dapat berpengaruh pada simpang tiga borong dan simpang empat Batua raya. Timur Maka untuk Mengoptimalkan kinerja Simpang Empat Toddopuli dan Skema Alternatif 2 Tabel 11. Deskripsi Penerapan LATM Skema Alternatif 2 memberikan dampak efektivitas pada jaringan jalan di sekitar simpang, dinilai perlu memperhitungkan simpang tiga borong dan simpang empat batua raya. Lengan Nama Simpang Simpang Deskripsi Penerapan Local Area Traffic Management Membuat Jl. menerapkan jalan satu Arah Toddopuli dan perubahan fase sinyal Timur menjadi 4 fase Simpang Empat Membuat Bersinyal Jl. Toddopuli Toddopuli belok kiri dan kanan, serta Barat menjadi 4 fase Sehingga diperlukan data volume lalulintas, data kecepatan, dan data geometrik simpang pada simpang tiga borong dan simpang empat Batua raya. Berikut deskripsi rencana skema metode Local Area Traffic Management : 39/44 ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Tabel 11. (Lanjuta. Tabel 12. Deskripsi Penerapan LATM Skema Alternatif 3 Lengan Nama Simpang Simpang Deskripsi Penerapan Local Area Traffic Management Membuat memasang rambu larangan Jl. belok kanan, hanya boleh Toddopuli belok kiri dan lurus, serta VII Simpang menjadi 4 fase Empat Bersinyal Membuat Toddopuli memasang rambu larangan Jl. Anggrek belok kanan, hanya boleh Raya belok kiri dan lurus, serta menjadi 4 fase Memasang rambu larangan Jl. Batua belok kanan, dan hanya Raya boleh belok kiri dan lurus Jl. Borong Tetap Skema Raya Sebelumnya Simpang Empat Jl. Anggrek Memasang rambu stop, dan Batua Raya hanya boleh belok kiri (Cana. Jl. Batua Memasang Rambu Stop, dan Raya Xi rambu larangan belok kanan, (Cana. serta hanya boleh belok kiri Jl. Batua Tetap Skema Raya Sebelumnya Simpang Jl. Borong Tetap Skema Tiga Raya Sebelumnya Borong Jl. Toddopuli Menerapkan jalan Satu arah Timur Lengan Nama Simpang Simpang Deskripsi Penerapan Local Area Traffic Management Membuat marka jalan, memasang rambu stop. Jl. Toddopuli memperbolehkan belok kiri VII Simpang Empat simpang menjadi tidak Bersinyal Toddopuli Membuat marka jalan, menerapkan jalan Satu Jl. Anggrek arah, dan perubahan jenis Raya simpang menjadi tidak Memasang rambu larangan Jl. Batua belok kanan, dan hanya Raya boleh belok kiri dan lurus Jl. Borong Menerapkan jalan Satu arah Raya Simpang Menerapkan jalan Satu Jl. Anggrek Empat arah, memasang rambu Raya Batua stop, dan hanya boleh belok (Cana. kiri dan kanan Memasang Rambu Stop. Jl. Batua dan rambu larangan belok Raya Xi kanan, serta hanya boleh (Cana. belok kiri Jl. Batua Menerapkan jalan Satu arah Raya Simpang Jl. Borong Memasang Rambu Stop dan Tiga Raya hanya boleh belok kiri Borong Jl. Toddopuli Menerapkan jalan Satu arah Timur Skema Alternatif 2 Tabel 12. Deskripsi Penerapan LATM Skema Alternatif 3 Berikut gambar rencana skema metode Local Area Traffic Management : Lengan Nama Simpang Simpang Deskripsi Penerapan Local Area Traffic Management Membuat marka jalan. Jl. menerapkan jalan satu Arah Toddopuli dan Timur simpang menjadi tidak Simpang Membuat marka jalan. Empat memasang rambu stop. Bersinyal Toddopuli Jl. Toddopuli memperbolehkan belok kiri Barat simpang menjadi tidak Gambar 6. Skema Alternatif 1 40/44 ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Hasil Survei Simpang 3 borong dan simpang 4 batua raya Survei Geometrik Simpang Hasil survei ditunjukkan pada Tabel 13 dan Tabel 14 Gambar 7. Skema Alternatif 2 Gambar 8. Skema Alternatif 3 Tabel 13. Kondisi Eksisting Geometrik Simpang Empat Batua Raya Kode Tipe . om/res/r. Com Com Com Com Hambatan Median Pendekat BKiJT Ya/Tidak /- % Ya/Tidak Lebar Pendekat ( m ) pada pada awal garis Lajur henti LM LBKiJT LK Tabel 14. Kondisi Eksisting Geometrik Simpang Tiga Borong Kode Tipe pendekat lingkungan . om/res/r. Com Com Com Hambatan Median Pendekat BKiJT Ya/Tidak /- % Ya/Tidak 41/44 Lebar Pendekat ( m ) pada pada pada awal garis lajur Lajur henti belok keluar LM LBKiJT . ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 Survei Lalu Lintas Hasil Tingkat Pelayanan Simulasi Skema Eksisting dengan Software PTV VISSIM Tingkat pelayanan yang diperoleh dari hasil simulasi menunjukkan variasi nilai untuk setiap pergerakan pada pendekat simpang, dengan nilai tingkat pelayanan untuk Simpang Empat Toddopuli mencapai LoS D dengan nilai Tundaan 41. 66 detik. Simpang Tiga Borong Toddopuli mencapai LoS F dengan nilai Tundaan 66. 47 detik, dan Simpang Empat Batua Raya mencapai LoS D dengan nilai Tundaan 30. 37 detik. Hasil Tingkat Pelayanan Simulasi Skema Alternatif Skema Alternatif 1 Tingkat pelayanan hasil simulasi memiliki nilai yang berbeda-beda untuk masing-masing simpang, dengan nilai tingkat pelayanan untuk Simpang Empat Toddopuli mencapai LoS E dengan nilai Tundaan 79. 38 detik. Simpang Tiga Borong mencapai LoS A dengan nilai Tundaan 5. 83 detik, dan Simpang Empat Batua Raya mencapai LoS A dengan nilai Tundaan 5. 29 detik. Tabel 15. Volume Jam Puncak Simpang Tiga Borong Raya Nama Simpang : Lengan Simpang Simpang Tiga Borong Periode Waktu Pagi Jl. Batua Raya Siang Sore Pagi Jl. Toddopuli Siang Sore Pagi Jl. Borong Siang Raya Sore Volume Kendaraan SM MP KS KTB 1690 170 11 1638 280 29 2895 301 16 10 2143 308 25 2015 464 40 2429 634 33 3245 504 10 1949 296 14 1890 357 24 41 Tabel 16. Volume Jam Puncak Simpang Empat Batua Raya Nama Simpang : Lengan Simpang Simpang Empat Batua Periode Waktu Pagi Jl. Batua Raya Siang Sore Pagi Jl. Borong Siang Raya Sore Pagi Jl. Anggrek Siang Raya Sore Pagi Jl. Batua Raya Siang Sore Volume Kendaraan SM MP KS KTB 2102 188 19 1840 275 40 3121 308 17 14 4125 416 24 16 2730 432 38 18 2352 303 18 23 874 70 1 1419 35 1 127 13 5 Skema Alternatif 2 Tingkat pelayanan hasil simulasi memiliki nilai yang berbeda-beda untuk masing-masing simpang, dengan nilai tingkat pelayanan Simpang Empat Toddopuli Mencapai LoS E dengan nilai Tundaan 80 detik. Simpang Tiga Borong Mencapai LoS D dengan nilai Tundaan 91 detik, dan Simpang Empat Batua Raya Mencapai LoS E dengan nilai Tundaan 38. 51 detik. Tabel 17. Kecepatan Rata-rata Kendaraan Simpang Empat Batua Raya Lengan Simpang Jl. Batua Raya Jl. Borong Raya Jl. Anggrek Raya (Cana. Jl. Batua Raya Xi Kecepatan Rata-rata Pagi Siang Skema Alternatif 3 Tingkat pelayanan hasil simulasi memiliki nilai yang berbeda-beda untuk masing-masing simpang, dengan nilai tingkat pelayanan untuk Simpang Empat Toddopuli mencapai LoS B dengan nilai Tundaan 17. 45 detik. Simpang Tiga Borong Toddopuli mencapai LoS B dengan nilai Tundaan 10. 10 detik. Tabel 18. Kecepatan Rata-rata Kendaraan Simpang Tiga Borong Raya Lengan Simpang Jl. Batua Raya Jl. Toddopuli Eaya Jl. Borong Raya Kecepatan Rata-rata Pagi Siang Sore 42/44 ISSN 2775-0213 Journal of Applied Civil and Environmental Engineering Ae Vol. No. Oktober 2024 dan Simpang Empat Batua Raya mencapai LoS A dengan nilai Tundaan 6. 89 detik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hal-hal Kinerja simpang Empat Bersinyal Tooddopuli pada kondisi eksisting berdasarkan perhitungan PKJI 2023 DJ tertinggi terjadi pada lengan Jl. Toddopuli raya Timur pada periode Siang dengan DJ 1. 00, tundaan 76,29 detik/SMP dengan tingkat pelayanan Dari hasil tersebut dapat dilihat DJ yang diperoleh >0,85 yang berarti bahwa arus lalu lintas pada bagian jalinan tersebut mendekati arus jenuhnya dan akan menyebabkan antrian panjang pada kondisi lalu lintas puncak. Dari 3 sekema Alteratif yang diberikan. Optimalisasi pengaturan simpang menggunakan metode Local Area Traffic yang direkomendasikan yaitu Skema Alternatif 3 dengan hasil Tingkat pelayanan untuk Simpang Empat Toddopuli mencapai LoS B dengan nilai Tundaan 17. 45 detik. Simpang Tiga Borong Toddopuli mencapai LoS B dengan nilai Tundaan 10 detik, dan Simpang Empat Batua Raya mencapai LoS A dengan nilai Tundaan 6. 89 detik. Perbandingan sebelum dan sesudah dilakukan skenario menggunakan metode Local Area Traffic Management yaitu pada perhitungan PKJI 2023 diperoleh DJ tertinggi terjadi pada lengan Jl. Toddopuli raya Timur pada periode Siang dengan DJ 1. 00, tundaan 76,29 detik/SMP dengan tingkat pelayanan Pada kondisi eksisting berdasarkan Simulasi VISSIM diperoleh tingkat pelayanan untuk Simpang Empat Toddopuli mencapai LoS D dengan nilai Tundaan 41. 66 detik. Simpang Tiga Borong Toddopuli mencapai LoS F dengan nilai Tundaan 66. 47 detik, dan Simpang Empat Batua Raya mencapai LoS D dengan nilai Tundaan 37 detik. Setelah dilakukan Optimalisasi dengan Local Area Traffic Management diperoleh Skema Terbaik yaitu Skema Alternatif 3 hasil Tingkat pelayanan untuk Simpang Empat Toddopuli mencapai LoS B dengan nilai Tundaan 17. 45 detik. Simpang Tiga Borong Toddopuli mencapai LoS B dengan nilai Tundaan 10. 10 detik, dan Simpang Empat Batua Raya mencapai LoS A dengan nilai Tundaan 89 detik. DAFTAR PUSTAKA