Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202525527 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Implementasi media pembelajaran berbasis visual thinking strategy dalam membangun berpikir kritis anak usia dini Lilis Suryani*). Novi Andriyati Universitas Pancasakti Bekasi. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Received Jan 21 , 2025 Revised Feb 27th, 2025 Accepted Mar 04th, 2025 Keywords: Media pembelajaran Visual thinking strategy Berpikir kritis Pendidikan anak usia dini Media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy merupakan salah satu bentuk media untuk membangun pengetahuan secara kreatif pada anak usia Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi penggunaan, hambatan dan solusi, serta dampak penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy pada berpikir kritis pada Anak Usia Dini di TK Plus AlFadhilah. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan, dari bulan Juni hingga Agustus 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitiannya adalah guru, dan anak. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Teknik keabsahan data menggunakan teknik Teknik analisis data dengan Miles Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy pada Anak Usia Dini di TK Plus Al-Fadhilah diantaranya memilih strategi yang tepat untuk tujuan pembelajaran, menyiapkan bahan-bahan dan lingkungan belajar yang kondusif serta memberikan instruksi yang jelas dan mudah dipahami, hambatan dan solusi penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy diantaranya masih kesulitan menemukan buku Silent Book, dengan solusi menambah pelatihan guru untuk pengembangan diskusi. dan dampak Visual Thinking Strategy pada Berpikir Kritis pada Anak Usia Dini di TK Plus Al-Fadhilah adalah anak menunjukkan kemampuan analitis yang lebih dalam dengan tidak hanya melihat gambar, tetapi juga menafsirkan maknanya. A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Novi Andriyati. Universitas Pancasakti Bekasi Email: novinoza@gmail. Pendahuluan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah tahap awal dalam proses pendidikan yang mempunyai peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Anak-anak pada usia ini cenderung merespons lebih kuat terhadap pengalaman visual dibandingkan pengalaman verbal atau tertulis. Anak-anak saat ini, hidup di dunia yang berorientasi pada media, dan keterampilan media perlu diajarkan sejak dini. Mempraktikkan produksi media dapat dilihat sebagai kegiatan inti untuk pendidikan media pada anak usia dini. Gagasan ini dikemukakan oleh Zhao & Li . terkait dengan definisi media abad ke-21 yang menganggap media sebagai komunikasi satu arah yang sederhana, akan lebih baik jika menganggap media sebagai bagian dari sistem tindakan dan aktivitas. (Zhao & Li, 2. Kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah merupakan aspek yang perlu diasah dalam perkembangan anak usia dini. John Dewey mengemukakan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan Implementasi media pembelajaranA proses berpikir yang memerlukan pertimbangan aktif, gigih dan cermat terhadap suatu pengetahuan yang diajukan dalam terang dasar yang mendukungnya dan kesimpulan lebih lanjut yang menjadi Kemampuan berpikir kritis pada anak usia dini dapat dilihat dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak yang mana orang dewasa berpikir pertanyaan tersebut tidak mungkin ditanyakan oleh anak. Kemampuan berpikir kritis yang harus dimiliki oleh anak diantaranya anak mampu membuat konsep, menganalisa, mengevaluasi, membuat kesimpulan atau keputusan dengan informasi yang didapat dari hasil observasi, pengalaman langsung, maupun pembelajaran saat di sekolah (Pangestu, 2. Sedangkan menurut ciri ciri kemampuan berpikir kritis adalah seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis adala, mampu berpikir induktif ke deduktif, handal dalam mendeteksi masalah, mampu membandingkan ide ide yang sesuai dan tidak sesuai dengan yang seharusnya, mampu membedakan fakta dan tidak fakta . anya pendapa. , dapat berargumentasi secara logis. (Alucyana & Raihana, 2. Namun hal tersebut pada kenyataannya masih banyak ditemukan anak dengan keterampilan yang tergolong rendah. Hal tersebut bisa terjadi karena anak yang belum mengenal banyak kosakata, tidak berani mengemukakan isi pemikirannya, tidak percaya diri ataupun dari pihak pengajar yang belum menyampaikan dengan baik. (Aini and Hasanah 2. Salah satu proyek tersebut adalah dengan cerita bergambar berupa bentuk bentuk gambar, animasi digital atau video. Ketika mendongeng dikombinasikan dengan aktivitas berbasis permainan, hal ini dapat memberikan stimulus yang efektif untuk literasi awal. Kegiatan mendongeng terstruktur memberikan cara yang layak dan berharga untuk Membangun daya berpikir kritis anak dengan melihat bentuk visual pada gambar yang diamati oleh anak. Hal ini sejalan dengan Maureen et al. , . bahwa literasi visual memberikan respon positif pada anak untuk Membangun daya belajar yang efektif. (Maureen et al. , 2. , namun hal ini bertolak belakang dengan pendapat dari Mussa & Al-Jaafari . yang mengungkapkan bahwa anak-anak hendaknya mewaspadai penggunaan media visual dikarenakan anak perlu diperkaya dengan tata cara berfikir visual sejak dini tergantung pada penilaian dan penerapannya yang dapat mengetahui aspek kemajuan atau keterlambatan pada anak tersebut. Kode perilaku berpikir visual yaitu mengubah, mengkonkretkan, abstrak, memodifikasi, berpikir, menonton, mendengarkan, dan lain Ae lain dikembangkan, dan digunakan untuk menganalisis perbedaan frekuensi kejadian perilaku dan strategi berpikir visual (Visual Thinking Strateg. (Lee et al. , 2. Hubungan antara media Silent Book yang merupakan bentuk dari media berbasis Visual Thinking Strategy ini dengan berpikir kritis memiliki pengaruh untuk merangsang stimulasi imajinasi dalam Membangun kreativitas, pengembangan bahasa serta kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang ada yang tentunya dengan mempertimbangkan asumsi serta sudut pandang anak untuk berdiskusi dan berbagi pendapat bersama rekannya yang tentunya membantu anak akan keterampilan berpikir kritisnya. Berdasarkan hasil uraian Ae uraian tersebut, maka dilakukan penelitian dengan judul Implementasi Media Pembelajaran Berbasis Visual Thinking Strategy Dalam Membangun Berpikir Kritis Anak Usia Dini di TK Plus Al-Fadhilah. Landasan Teori Menurut Amelia dan Rahma . mengemukakan bahwa media dalam pembelajaran dapat menghadirkan materi pembelajaran yang lebih konkrit dan mudah dipahami oleh anak serta lebih menarik. Kemampuan menolong diri sendiri penting diajarkan sejak usia dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap diri sendiri dan lingkungan. Ketika mengajarkan kemampuan menolong diri sendiri/self help skills anak memerlukan bimbingan dari orang dewasa sekitarnya termasuk guru atau pengajar (Rahma & Amelia, 2. Media pembelajaran literasi tidak hanya sebatas membaca bacaan atau aktivitas baca dan tulis saja, melainkan dengan adanya buku cetak, bahan auditory, pembuatan karya hingga bahan digital. Sebagai contoh digital storytelling dengan Silent Book sebagai strategi pengajaran pembelajaran berbasis proyek yang dapat digunakan untuk mempromosikan ketiga sub-keterampilan berpikir kreatif. Secara keseluruhan, penceritaan digital berbasis proyek dengan pendekatan skenario sebagai strategi pengajaran komprehensif yang dapat Membangun keterampilan berpikir kreatif. Salah satu proyek tersebut adalah dengan cerita bergambar berupa bentuk bentuk gambar, animasi digital atau video. Dengan bentuk educational tool dan menjadikan media tersebut dengan kombinasi antara etika mendongeng serta aktivitas berbasis permainan, hal ini dapat memberikan stimulus yang efektif untuk literasi awal (Hoon et al. Kebiasan yang efektif tersebut menjadi suatu habit dalam pembelajaran di ruangan kelas. Anak-anak akan lebih kreatif dalam menjelaskan suatu hal (Leung et al. Kegiatan mendongeng terstruktur memberikan cara yang layak dan berharga untuk membangun daya berpikir kritis anak dengan melihat bentuk visual pada gambar yang diamati oleh anak. Hal ini sejalan dengan Maureen et al. bahwa literasi visual memberikan respon positif pada anak untuk Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Suryani. & Andriyati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. membangun daya belajar yang efektif, namun hal ini bertolak belakang dengan pendapat dari Mussa & AlJaafari . yang mengungkapkan bahwa anak-anak hendaknya mewaspadai penggunaan media visual dikarenakan anak perlu diperkaya dengan tata cara berfikir visual sejak dini tergantung pada penilaian dan penerapannya yang dapat mengetahui aspek kemajuan atau keterlambatan pada anak tersebut. Sedangkan jika disesuaikan dengan bidang seni, media visual bisa lebih dioptimalkan, berlaku dengan anak-anak saat pembelajaran (Mcgillicuddy 2. Namun. Ducrot . dengan bentuk textless visual dan didukung dengan pengulangan narasi. Anak-anak akan lebih mudah mencerna suatu kejadian. Kode perilaku berpikir visual yaitu mengubah, mengkonkretkan, abstrak, memodifikasi, berpikir, menonton, mendengarkan, dan lain Ae lain dikembangkan, dan digunakan untuk menganalisis perbedaan frekuensi kejadian perilaku dan strategi berpikir visual / Visual Thinking Strategy (H. Lee et al. , 2. Visual Thinking Strategy/ VTS menjadikan perhatian bagi anak yang belajar untuk membangun perspektif terhadap suatu permasalahan. Anak bisa terbantu dengan adanya aktivitas pengembangan. Hal tersebut dikemukakan oleh Mendonya, et al . dimana respons terhadap perubahan yang terjadi dalam standar penilaian prestasi siswa yang terkait dengan kebutuhan belajar dan pengembangan soft-skill mereka, sehingga menargetkan aspek-aspek seperti berpikir kritis. pemecahan masalah yang efektif. penalaran logis. mendengarkan konstruktif dan keterampilan produktif bahasa yang meyakinkan, yaitu, berbicara dan menulis. serta kesadaran metakognitif dari proses dan konten perolehan pengetahuan (Albert et al. , 2. Visual Thinking Strategy (VTS) awalnya dikembangkan untuk membangun keterampilan pemikiran siswa yang digunakan untuk Membangun pemahaman tentang karya seni yang dapat ditransfer ke mata pelajaran lain belajar dengan membantu siswa untuk berpikir secara kreatif dan kritis. Misalnya, mengeksplorasi hubungan antara konsep kreativitas dan pemikiran visual dalam seni pendidikan Klugman et al. dalam penelitiannya bahwa pemikiran visual memfasilitasi pemikiran fleksibel dan membantu siswa memecahkan masalah dengan cara yang efektif. Peneliti menekankan pentingnya berlatih pemikiran visual untuk Membangun kreativitas dalam pendidikan seni. Adapun menurut Mou menjelaskan bahwa anak laki-laki sudah memenuhi semua indikator berpikir visual baik itu pada tahap memahami, merencanakan pemecahan dan melaksanakan rencana pemecahan masalah, maupun pada tahap memeriksa Kembali (Mou 2. Penelitian ini didukung oleh A. Lee et al. yang menyatakan bahwa dengan Visual Thinking Strategy Siswa lebih bisa melihat gambar kemudian menuliskan pengamatan yang sesuai dengan keterampilan observasi dan struktur linguistic mengenai pengidentifikasian, pengkodean dan perhitungan, yang mana lebih merangsang siswa untuk berpikir kritis dan Membangun kompleksitas kalimat kohesi dan narasi. Hal ini ditanggapi oleh Cerqueira et al. yang menyatakan bahwa Visual Thinking Strategy Mendorong analisis visual seseorang meskipun masih kurangnya kelompok control, seleksi diri, dan hasil non-standar sehingga di beberapa variasi desain studi masih perlu ditingkatkan evaluasi pasca penelitian. Hubungan antara media Silent Book yang merupakan bentuk dari media berbasis Visual Thinking Strategy ini dengan berpikir kritis memiliki pengaruh untuk merangsang stimulasi imajinasi dalam Membangun kreativitas, pengembangan bahasa serta kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang ada yang tentunya dengan mempertimbangkan asumsi serta sudut pandang anak untuk berdiskusi dan berbagi pendapat bersama rekannya yang tentunya membantu anak akan keterampilan berpikir kritisnya termasuk pada anak dengan spektrum tertentu (Arwood. Kaulitz, and Brown 2. Pendekatan pembelajaran dengan strategi berpikir visual tersebut menggunakan media AuSilent BookAy atau buku yang tidak berisi teks bacaan, hanya berupa gambar dan bentuk visual abstrak. Pada objek pertama tersebut, buku yang digunakan berjudul AuRaksasa HausAy karya Iwan Yuswandi. Buku kedua adalah dengan yang berjudul AuHank Finds An EggAy karya Rebecca Dudley. Penyampaiannya media pembelajarannya dengan: memilih topik buku dan konsep yang akan diajarkan. pemilihan ilustrasi serta pengenalan gambar pada buku secara bertahap. melihat tanggapan dan reaksi anak saat mencermati gambar. mengajukan pertanyaan terbuka untuk merangsang diskusi. memberi kesempatan untuk bertukar pikiran dengan alasan dibalik pendapat yang anak sampaikan. menjelaskan hubungan antar gambar tanpa memberikan pemahaman bahwa tidak ada jawaban yang salah dalam interpretasi gambar. berikan apresiasi. refleksi akhir dengan mendorong anak untuk membagikan pikiran mereka dan berbagi pengalaman secara kritis bersama dunia di sekitar mereka. Kemudian buku selanjutnya yang menjadi media pembelajaran yang terakhir dengan judul AuRe-ZoomAy karya Istvan Banyai Penggabungan antara berpikir kritis dengan Visual Thinking Strategy dalam bentuk media pembelajaran telah dilakukan di Taman Kanak-Kanak TK Plus Al-Fadhilah selama kurun waktu 2,5 tahun yang dimulai dengan meminta siswa untuk memperhatikan, mengamati, dan mengingat anak untuk mencermati gambar, selanjutnya menanyakan kepada anak mengenai beberapa pertanyaan untuk memfasilitasi diskusi pada media pembelajaran visual berbentuk buku bergambar menggunakan 3 kunci pertanyaan terbuka oleh Nelson yaitu Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Implementasi media pembelajaranA Auapa yang terjadi dalam gambar ini?Ay. Auapa yang kamu lihat yang membuatmu berpendapat demikian?Ay, dan Auapa lagi yang bisa kita temukan?Ay (Nelson, 2. Penelitian ini mengambil objek anak usia dini, dimana implementasi media pembelajaran berbasis visual biasa diterapkan pada jenjang usia Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah yang membutuhkan dalam proses pengerjaan soal berbasis logika dan perhitungan. Namun yang menjadi keunikan penelitian ini dilakukan untuk mengolah logika dan mengetahui cara berpikir anak usia dini dalam menghadapi pembelajaran yang berbasis Anak-anak akan memunculkan anekdot yang pada saat media pembelajaran digunakan. Hal tersebut yang menjadi kelebihan dari observasi yang dilakukan (Kartini & Waridah, 2. Menurut Belousova and Muratova . menjelaskan bahwa anak-anak prasekolah dengan kesulitan berbicara berpikir secara visual. Ini menyoroti pentingnya kegiatan kolaboratif dalam sesi terapi wicara untuk meningkatkan keterampilan berpikir mereka. anak-anak dengan keterlambatan bicara menunjukkan peningkatan dalam memecahkan masalah logis, menjadi lebih mandiri dalam pemecahan masalah, mengembangkan pola pikir yang lebih kritis, dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bentuk dan Ini menunjukkan bahwa kegiatan kolaboratif dapat secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir, terutama pemikiran visual, pada anak-anak kecil ini. Langkah pertama dalam proses penerapan Visual Thinking Strategy yang pertama adalah Melihat (Lookin. Apa yang difokuskan yaitu mengidentifikasi masalah dan antar masalah yang terjadi kemudian memahami peluang atau kesempatan. Sedangkan apa yang digunakannya yaitu dengan melakukan proses pengumpulan, memeriksa data, dan aktivitas pemangkasan berdasarkan penilaian terhadap individu, objek, atau informasi tertentu dari sejumlah besar data, atau sampel. Kedua Mengenali (Seein. Apa yang difokuskan yaitu memahami permasalahan dan peluang / kesempatan. Sedangkan apa yang digunakannya yaitu dengan melakukan aktivitas seleksi dan kluster. Ketiga membayangkan (Imaginin. Apa yang difokuskan yaitu menghasilkan yang baru menuju solusi baru. Sedangkan apa yang digunakannya adalah dengan melakukan kegiatan pengenalan pola. Keempat memperlihatkan (Showing and Tellin. Apa yang difokuskan yaitu memperjelas apa yang sudah dimiliki pada akal. Sedangkan apa yang digunakannya yaitu komunikasi, membangun interaksi komunikasi dua arah Gambar 1 Guru mendengarkan informasi yang anak katakan kemudian menanggapi apa yang mereka katakan dengan bahasa tubuh dan ekspresi wajah, kemudian menerima komentar anak dengan netral yang berarti proses untuk tersebut berkaitan dengan pemahaman beda pendapat, terakhir refleksi akan apa yang telah disampaikan. Tiga pertanyaan tersebut dapat membuka gagasan-gagasan baru yang disampaikan oleh anak yang kemudian menciptakan bagaimana anak-anak bisa mendapatkan informasi dari rekan yang disampaikan kemudian terciptalah pemikiran kritis antar anak sehingga diskusi bisa dilakukan dalam proses penyampaian pembelajaran secara visual tersebut (Andayani 2. Berpikir kritis adalah pemikiran reflektif dan masuk akal yang berfokus pada pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan atau diyakini. Kemampuan berpikir kritis mencakup hal-hal seperti: menerapkan informasi yang tersedia pada situasi baru, menganalisis penyebab atau motif situasi, dan mengevaluasi pendapat terhadap subjek, dalam arti lain berpikir kritis (CT) adalah kemampuan yang penting untuk kehidupan kontemporer (Pantaleo 2. Konsep 'bahasa untuk berpikir' menunjukkan bahwa menggunakan kata-kata spesifik yang terkait dengan berpikir dapat membantu peserta didik lebih memahami dan terlibat dalam proses Dengan mengungkapkan 'kata-kata berpikir' ini, anak-anak dapat menginternalisasi proses dan menerapkannya untuk memahami pengalaman mereka. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika anak-anak terpapar bahasa ini, mereka lebih siap untuk memahami proses berpikir dan menggunakan kata-kata ini untuk memperluas ide-ide mereka (OAoReilly. Devitt, and Hayes 2. Selain itu, menurut Normore . manfaat berpikir kritis bersifat seumur hidup, mendukung siswa dalam pengaturan keterampilan belajar mereka, dan selanjutnya memberdayakan individu untuk berkontribusi secara Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Suryani. & Andriyati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. kreatif pada profesi pilihan mereka. Mengingat kompleksitasnya, hanya mencantumkan keterampilan dan perilaku kognitif tidak cukup untuk mendefinisikannya. Berpikir kritis pada dasarnya normatif, artinya melibatkan nilai dan standar (Normore et al. Menurut Ennis (Wati, 2. mengungkapkan bahwa, ada 12 indikator berpikir kritis yang dikelompokkan dalam lima besar aktivitas sebagai berikut: . Memberikan Penjelasan Sederhana. Membangun Keterampilan Dasar. MenyimpulArwood et al. Memberikan Penjelasan Lanjut. Mengatur Strategi dan Teknik. Sedangkan menurut Anderson (Manurung et al. , 2. indikator berpikir kritis meliputi: . Interpretasi. Analisis. Evaluasi. Penarikan Kesimpulan. Penjelasan. Kemandirian. Ennis Membangun taksonomi berpikir kritis (CT) yang berkaitan dengan keterampilan yang mencakup aspek intelektual dan juga aspek perilaku dimana kegiatan reflektif dan praktis yang tujuannya adalah untuk memodifikasi Penelitian Ennis mengenai berpikir kritis ini berkaitan dengan digunakannya metode Taksonomi Bloom . iubah oleh Benyamin S. Bloo. adalah teori yang membahas proses kognitif atau kemampuan Taksonomi Bloom memiliki dua dimensi: pengetahuan dan proses kognitif. Enam kategori terdiri dari dimensi proses kognitif: Mengingat (C. Memahami (C. Mengaplikasikan (C. Menganalisis (C. Mengevaluasi (C. , dan Mencipta (C. Metode Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan mendeskripsikan implementasi penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy Pada Anak Usia Dini di TK Plus Al-Fadhilah Tarogong Kidul Kab. Garut, hambatan dan solusi penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy, dan dampak penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy terhadap Berpikir Kritis pada Anak Usia Dini di TK Plus AlFadhilah Tarogong Kidul Kab. Garut. Dalam konteks alami subjek penelitian melalui desain observasional. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai media pembelajaran yang berbasis Visual Thinking Strategy dalam pengembangan berpikir kritis pada anak usia dini, melihat dari perspektif dan pengalaman individu serta penilaian kompetensi. Desain penelitian observasional digunakan untuk mengamati dan mencatat interaksi anak usia dini dalam pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy dalam Membangun kemampuan berpikir kritis yang menjadi konteks alami yang terintegrasi dengan sub fokus penelitian yang ditetapkan sesuai instrument. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah anak suai dini di TK Al-Fadhilah Kecamatan Tarogong Kidul Garut Jawa Barat dengan menggunakan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy Dalam bentuk Silent Book. Informan penelitian dalam penelitian ini adalah guru TK Al-Fadhilah Kecamatan Tarogong Kidul Garut Jawa Barat sebanyak 10 orang, dan 40 anak dengan 4 kelompok diantaranya kelompok A1. A2. B1, dan B2 dalam kurun waktu selama 7 bulan dari bulan Februari hingga Agustus 2024. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Teknik analisis data dengan Miles Huberman. Dalam penelitian ini, analisis data mengacu pada tahapan analisis data kualitatif dengan melibatkan interaksi pada masing-masing tahap sebagaimana bagan berikut: Gambar 2 Hasil dan Pembahasan Dari penelitian yang dilakukan memperoleh hasil temuan yang dapat digambarkan sebagai berikut : Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Implementasi media pembelajaranA Gambar 3 Implementasi Penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy pada Anak Usia Dini di TK Plus Al-Fadhilah Tarogong Kidul Kab. Garut Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy mampu Membangun kolaborasi antar anak dan anak-anak diajarkan tentang bagaimana implementasi praktek dengan media pembelajaran seperti buku-buku silent book untuk Membangun keterampilan berpikir kritis anak dan menguasai keterampilan visualisasi dan representasi siswa. Visual Thinking Strategy membantu siswa Membangun kemampuan untuk mengamati, menganalisis dan menginterpretasikan gambar atau visual dengan lebih mendalam. Selain itu Visual Thinking Strategy mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat, dan berdiskusi secara diskusi secara kritis tentang apa yang mereka lihat serta membangun kemampuan siswa untuk mengungkapkan ide dan pemikiran mereka dengan jelas dan terstruktur baik secara lisan maupun tertulis. Perencanaan penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy di TK Al Fadhilah yang pertama adalah menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, seperti Membangun keterampilan observasi atau menganalisis gambar, pemahaman konsep dasar, atau Membangun keterampilan berkomunikasi. Kedua, memilih media visual termasuk gambar-gambar sederhana, ilustrasi cerita , karya seni atau foto. Ketiga, merancang sesi Visual Thinking Strategy dengan struktur yang jelas, meliputi pengalaman, observasi, diskusi dan refleksi serta menyesuaikan durasi sesi dengan rentang perhatian anak usia dini, biasanya antara 15-30 menit per sesi. Keempat,memilih tema yang sesuai dengan minat dan perkembangan anak serta menyiapkan bahan-bahan yang mudah diakses dan manipulasi oleh anak. Terakhir, dengan merancang kegiatan yang mendorong partisipasi aktif dan eksplorasi anak memberikan panduan dan arahan yang jelas kepada anak. Nurain . mengungkapkan bahwa media berbasis Visual Thinking Strategy memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah anak dapat segera menyampaikan permasalahan yang mereka lihat dan kemudian mengerti bagaimana cara menyelesaikannya dengan hanya melihat gambar dari sudut pandang yang lebih jelas dan kreatif dari rekan lainnya. Kegiatan berikutnya proses penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy dengan menggunakan silent book berjudul AuRaksasa HausAy kepada anak-anak dengan diawali dengan pertanyaan pemicu observasi AuApa yang kalian lihat di gambar ini?Ay kemudian berikan waktu kepada anak-anak untuk berbicara satu per satu untuk mendeskripsikan apa yang mereka lihat dan cantik dengan pertanyaan interpretasi: Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Suryani. & Andriyati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. AuMenurut kalian, apa yang terjadi di gambar ini?Ay atau AuMengapa kalian berpikir raksasa itu merasa haus?Ay selanjutnya ajukan pertanyaan lebih lanjut: AuBagaimana kalian tahu?Ay atau AuApa yang membuat kalian berpikir begitu?Ay dan yang terakhir pantik dengan pertanyaan refleksi AuApakah kalian pernah merasa haus seperti raksasa ini?Ay atau AuApa yang kalian lakukan saat merasa sangat haus?. Kemudian meminta anak-anak untuk menggambar apa yang mereka bayangkan tentang rumah raksasa terlebih dahulu, kemudian mendiskusikan gambar-gambar yang dibuat anak-anak bersama-sama kemudian yang terakhir meminta anak-anak untuk membuat cerita berdasarkan gambar mereka. Hal tersebut sejalan dengan Surya dalam penelitian (Talib 2. bahwa anak tidak ragu untuk menanyakan detail yang mereka tidak pahami atau untuk mengonfirmasi pemahaman mereka tentang cerita atau situasi yang diilustrasikan dalam buku tersebut. Saat anak menghadapi kesulitan dalam berimajinasi terkait dengan cerita yang mereka baca, anak-anak menunjukkan usaha yang nyata dalam mencari solusi. Semakin sering anak bertanya, semakin banyak imajinasi baru yang didapatkan dengan pemikiran abstrak yang diterima anak. Hambatan dan Solusi Media berbasis Visual Thinking Strategy pada Anak Usia Dini di TK Plus Al-Fadhilah Tarogong Kidul Kab. Garut Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hambatan dari media pembelajaran diantaranya kurangnya pemahaman guru tentang strategi berpikir visual. serta keterbatasan sumber daya dan bahan-bahan. Kurangnya pengetahuan dan pelatihan guru mengenai silent books dan Visual Thinking Strategy belum mengetahui bagaimana menerapkan metode Visual Thinking Strategy, serta tidak berhasil dalam mengelola kelas dengan jumlah siswa yang banyak. Kemudian, terbatasnya waktu dan kesulitan untuk saling berdiskusi mengenai gambar perbedaan kemampuan dan gaya belajar antar siswa. Hambatan yang lainnya yaitu sulit mendapatkan buku silent book interaksi dan diskusi kurang optimal, anak-anak kurang diberi kesempatan berdiskusi dan berinteraksi tentang gambar yang di perlihatkan jika Visual Thinking Strategy dilakukan dengan durasi yang sudah ditentukan. Anak-anak di TK Plus Al-Fadhilah datang dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Sementara beberapa anak dengan cepat memahami konsep melalui gambar, yang lain mungkin memerlukan lebih banyak waktu untuk menghubungkan cerita dengan visual. Sehingga ini menjadi tantangan, anak usia dini cenderung memiliki rentang perhatian yang pendek, yang dapat mempengaruhi keterlibatan mereka dalam kegiatan Visual Thinking Strategy yang memerlukan konsentrasi lebih lama. Sedangkan penelitian menunjukan bahwa Solusi yang dapat diatas diantaranya memperbanyak media visual berbasis Visual Thinking Strategy baik itu silent book ataupun berbagai media mulai dari bentuk visual hingga dalam bentuk digital, kemudian melakukan pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru dengan mengikuti pelatihan rutin kepada guru-guru tentang konsep dan teknik Visual Thinking Strategy. Pelatihan ini mencakup strategi implementasi, penggunaan media visual, dan pendekatan yang sesuai dengan anak usia dini, serta dengan menyediakan sumber daya dan bahan-bahan pendukung yang dibutuhkan lainnya. Dampak penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy terhadap Berpikir Kritis pada Anak Usia Dini di TK Plus Al-Fadhilah Tarogong Kidul Kab. Garut Hasil penelitian menunjukan bahwa dampak penggunaan media pembelajaran yang dihasilkan setelah menggunakan Visual Thinking Strategy, anak mulai menunjukkan kemampuan analitis yang lebih dalam. Mereka tidak hanya melihat gambar, tetapi juga menafsirkan maknanya. Anak belajar untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan makna dan hubungan antara elemen-elemen dalam gambar. Mereka mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam dan reflektif tentang apa yang mereka lihat. Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan keinginan untuk memahami lebih dalam dan menggali informasi lebih jauh, yang merupakan inti dari pemikiran kritis. Temuan di lapangan menunjukan antusiasme anak-anak terhadap bercerita menggunakan media pembelajaran buku baik atau menggunakan media smart TV sangat Hasil temuan lainnya adalah anak-anak menunjukan imajinasi yang tinggi terhadap gambar-gambar dalam raksasa haus, mereka mampu membayangkan dan menginterpretasikan gambar sesuai dengan pemahaman mereka, anak-anak mampu mengamati gambar yang di tunjukan oleh guru kemudian menjawab dengan lugas apa yang di amatinya, anak-anak aktif bertanya mengenai gambar yang mereka ingin ketahui, serta anak-anak mampu membuat cerita baru berdasarkan apa yang mereka amati serta anak-anak mampu mengimajinasikan dengan tokoh yang diketahuinya dalam film. Dampak lainnya yang dilakukan TK Plus Al-Fadhilah yaitu dengan banyak menyelenggarakan pelatihan dan lokakarya workshop tentang Visual Thinking Strategy untuk Membangun pemahaman dan keterampilan guru dalam menerapkan penggunaan dan strategi ini di kelas. Serta menyediakan berbagai macam bahan ajar yang dapat digunakan untuk menerapkan Visual Thinking Strategy seperti buku cerita, gambar, video, dan peta pikiran . ind ma. , selain itu memberikan kesempatan kepada guru untuk mengamati dan belajar dari praktik terbaik di sekolah lain yang telah menerapkan strategi tersebut dengan sukses sehingga banyak pelatihan professional bisa memahami dan menerapkan Teknik Visual Thinking Strategy. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Implementasi media pembelajaranA Simpulan Berdasarkan analisis dan hasil pembahasan diperoleh kesimpulan penelitian Perencanaan penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy yang dilakukan di TK Plus Al-Fadhilah ini menggunakan partisipasi dan keterlibatan anak dalam kegiatannya. Analisis produk-produk yang dihasilkan siswa, seperti gambar, cerita, dan peta pikiran yang dibuat oleh anak-anak menghasilkan pemahaman mereka tentang konsep yang dipelajari serta penilaian diri dan penilaian antar teman, dalam artian rekan anak menjadi bahan penilaian bagi rekannya sendiri bahwa imajinatif anak tidak akan bisa sama. Perencanaan tersebut termasuk ke dalam pencatatan perilaku, interaksi, dan partisipasi anak selama sesi Visual Thinking Strategy berlangsung. Hal tersebut termasuk bagaimana anak mengamati gambar, menjawab pertanyaan, dan berpartisipasi dalam diskusi, mengamati detail, mengajukan pertanyaan, dan memberikan penjelasan, meskipun menurut Huh . hal tersebut bersifat intuitif, tidak rasional dan tidak simetris sebagaimana yang dilakukan anak-anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di TK Plus Al-Fadhilah selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media Visual Thinking Strategy Silent Book terlihat bahwa pengalaman belajar dengan mengamati dan menganalisis, anak menjadi termotivasi untuk memberikan sudut pandang yang berbeda dari apa yang diamati anak. Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan mengenai implementasi penggunaan media pembelajaran berbasis Visual Thinking Strategy adanya aktivitas interaktif. Pada kenyataannya guru diharapkan secara kreatif dan inovatif menggembangkan sendiri kata atau kalimat yang disampaikan anak agar imajinasi anak tersampaikan, seperti mengomentari isinya secara langsung menunjukkan bahwa sebagian besar anak aktif dalam berinteraksi dengan Silent Book. Anak-anak tidak hanya mengamati saja melainkan dengan mencoba menelusuri halaman-halaman dengan jari mereka, tetapi juga sering kali menyentuh atau menunjuk pada gambar-gambar yang menarik minat mereka. Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama memulai penyelesaian masalah dengan cara yang mirip. Yaitu dengan membaca soal, mengumpulkan informasi penting, dan mengelompokkan informasi tersebut untuk memahami Mereka juga berusaha mencari hubungan antara apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dalam Perbedaannya terletak pada cara mereka menyelesaikan masalah. Anak laki-laki cenderung menggunakan cara yang lebih terstruktur. Mereka mencoba menyelesaikan masalah dengan cara menerapkan pola atau strategi yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Ketika mereka menemukan jawaban, mereka biasanya langsung menggambar dan menjelaskan jawaban tersebut dengan jelas. Sebaliknya, anak perempuan cenderung lebih fleksibel. Mereka tidak selalu mengikuti pola yang sudah ada. Saat menyelesaikan masalah, mereka sering ragu-ragu, mengubah-ubah jawaban, dan kesulitan untuk menjelaskan jawaban mereka dengan kata-kata. Seperti pada penelitian (Wan Mohd Nasir. Halim, and Arsad 2. dengan strategi pengajaran komprehensif skenario cerita pada gambar anak dapat membangun keterampilan berpikir kreatif. Ada juga ekspresi verbal yang terjadi, di mana mereka berbicara tentang apa yang mereka lihat atau bertanya tentang detail tertentu. sehingga peran guru diiringi media ajar pun sangatlah penting untuk membangun kemampuan berpikir anak. Anak-anak tentunya mencoba membangun narasi sendiri berdasarkan gambar-gambar tersebut, menunjukkan bahwa mereka menggunakan imajinasi mereka untuk membangun cerita atau situasi dari apa yang mereka lihat. Ini menunjukkan bahwa Silent Book tidak hanya membangkitkan imajinasi mereka, tetapi juga memberi mereka ruang untuk membangun kreativitas mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan dimana pada penelitiannya anak akan memperlihatkan kemampuan menganalisis, memahami, membangun ide dalam bentuk visual juga untuk Membangun kreativitasnya seperti memberikan ekspresi wajah karakter atau objek-objek di latar Ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya melihat secara dangkal, tetapi benar-benar terlibat dalam proses pengamatan yang mendalam. Penelitian selanjutnya menghasilkan adanya tanya jawab pembelajaran yang mengubah banyak konsep terutama dalam konsep abstrak, namun pada kenyataannya anak tidak ragu untuk menanyakan detail yang mereka tidak pahami atau untuk mengonfirmasi pemahaman mereka tentang cerita atau situasi yang diilustrasikan dalam buku tersebut. Saat anak menghadapi kesulitan dalam berimajinasi terkait dengan cerita yang mereka baca, anak-anak menunjukkan usaha yang nyata dalam mencari solusi. Semakin sering anak bertanya, semakin banyak imajinasi baru yang didapatkan dengan pemikiran abstrak yang diterima anak. Hal tersebut sejalan dengan S. Nasution . yang menjelaskan bahwa gaya tangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal berawal dari kumpulan abstrak menjadi bentuk Referensi