JOURNAL OF EDUCATIONAL REVIEW AND RESEARCH Vol. 8 No. July 2025. Page: 29-41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Penerapan Strategi Peta Konsep untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Materi Teks Deskripsi Siswa MTs. Ubadussomad NW Kalijaga Selatan Kelas Vi TA. 2025/2026 NurFathil Maula Arina1. Siti Rohana Hariana Intiana2. Pipit Aprilia Susanti3,Johan Mahyudi4 Universitas Mataram. Mataram. Indonesia1,2,3,4 maolaarina793@gmail. com1, rohana@unram. id2, pipitaprilia@staf. johanmahyudi82@gmail. Keywords : Concept Map. Writing. Descriptive Text. Classroom Action Research ABSTRACT This research aims to improve the descriptive text writing skills of eighth-grade students at MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan in the academic year 2025/2026 through the application of the concept map method. This study employed Classroom Action Research (CAR), conducted in one cycle with two meetings. The research subjects consisted of 18 students. Data were collected through observation, writing tests, and documentation, and were analyzed both quantitatively and qualitatively. The results revealed that the implementation of the concept map method successfully enhanced students. ability to write descriptive texts. This was evident from the average score at the end of the cycle, which reached 81. 94, with a 100% mastery level, indicating that all students exceeded the Minimum Mastery Criteria (KKM) of 75. Qualitatively, students became more skilled in organizing ideas, constructing sentences, and applying the structure of descriptive texts. Therefore, the concept map method is proven to be effective in teaching Indonesian language, particularly in improving studentsAo descriptive writing PENDAHULUAN Kurikulum merdeka merupakan inovasi terkini dalam pendidikan Indonesia yang diperkenalkan pada tahun 2020 oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Semua pihak akan merasakan pengaruh dari kurikulum ini seiring dengan upaya bersama kita menuju satu tujuan: memberdayakan generasi muda. Fokus utama dari kurikulum ini adalah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan mencari solusi terhadap masalah yang muncul dalam proses pendidikan (Kemendikbudristek, 2. Kurikulum Merdeka memiliki tiga kelebihan: pertama, kurikulum ini menitikberatkan pada materi yang esensial. kedua, terdapat pelajaran khusus yang ditujukan untuk pengembangan karakter siswa. dan ketiga, kurikulum ini memberikan kebebasan kepada sekolah untuk merancang kurikulum serta memungkinkan guru untuk menyesuaikan dengan kemampuan belajar siswa. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Impelementasi Kurikulum Merdeka pada semua satuan pendidikan termasuk jenjang SMP/MTs mulai diberlakukan pada tahun pelajaran 2022/2023. Salah satunya, satuan pendidikan MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka pada tahun pelajaran 2023/2024 untuk kelas 7 saja, sedangkan kelas 8 dan kelas 9 tetap mengacu pada kurikulum 2013. Kemudian pada tahun pelajaran 2025/2026, implementasi kurikulum merdeka diberlakukan untuk dua rombelan yakni kelas 7 dan kelas 8, sedangkan rombelan untuk kelas 9 tetap mengacu pada kurikulum Dengan diimplementasikannya Kurikulum Merdeka di MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan dalam hal materi belajar tentunya mengikuti muatan kurikulum Merdeka termasuk materi belajar Bahasa Indonesia. Materi untuk pembelajaran bahasa Indonesia pada kelas VII Kurikulum Merdeka yang menjadi fokus penelitian ini merupakan bahan ajar yang berlandaskan teks. Jenis-jenis teks tersebut mencakup teks deskripsi, teks prosedur, teks berita, teks iklan, teks artikel, puisi, cerita pendek, teks laporan, dan teks Semua bahan inti yang berlandaskan teks ini memiliki sasaran pembelajaran dalam aspek pengetahuan dan kemampuan. Kemampuan tersebut mencakup mendengarkan, berbicara, membaca/ melihat, dan menulis. Dari berbagai macam teks yang menjadi fokus pembelajaran di tingkat sekolah menengah atas, kajian ini terfokus pada materi teks deskriptif. Hasil observasi yang dilakukan di MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan pada tanggal 17 Februari 2025 menunjukkan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan memahami teks deskripsi. Hal ini tercermin dari hasil asesmen pertama yang dilakukan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia Ahmad Sarbini. Pd. , pada mata pelajaran menulis deskripsi. Pada semester genap tahun 2025, nilai rata-rata siswa hanya 65 poin, masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 70 poin. Nilai yang rendah ini menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami secara tuntas struktur dan isi teks deskripsi. Adapun menurut (Ariani dkk, 2. , mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan yang cukup tahan lama dalam perilaku atau keterampilan berperilaku yang dipicu oleh pengalaman atau latihan yang diberikan dorongan. Menurut Dahar dalam (Haidir, 2. , menyatakan bahwa peta konsep adalah metode untuk menunjukkan gagasan dan dugaan dalam suatu area belajar. Menurut Nur (Trianto, 2. , peta konsep ada empat jenis, yaitu: pohon jaringan, rangkaian kejadian, peta konsep siklus, dan peta konsep laba-laba. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang selama ini digunakan guru adalah strategi inkuiri. Strategi ini merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam mencari dan menemukan informasi melalui kegiatan bertanya, meneliti, dan Pendekatan ini mendorong siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalamannya sendiri. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran yang dapat memudahkan siswa dalam menangkap konsep, contohnya adalah dengan menerapkan strategi peta konsep. Peta konsep sangat sesuai digunakan untuk materi teks deskripsi karena memudahkan siswa mengelompokkan informasi seperti ciri, fungsi, dan kesan terhadap objek yang dideskrispsikan. Strategi ini juga meningkatkan keterlibatan aktif dalam pembelajaran, karena mereka secara langsung menyusun kerangka ide yang akan dikembangkan menjadi tulisan. Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka penelitian dengan judul Au Penerapan Strategi Peta Konsep untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Materi Teks Deskripsi Siswa Kelas Vi MTs. Ubbadussomad DS NW Kalijaga Selatan Tahun Pelajaran 2025/2026Ay . Penelitian ini sangat perlu METODE Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang memadukan metode kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan strategi pemetaan konsep untuk meningkatkan hasil belajar pada materi teks deskripsi. Menurut (Ibda, 2. , penelitian tindakan kelas merupakan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 suatu metode yang dilakukan oleh guru di kelasnya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan evaluasi langsung. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya untuk memahami bagaimana penerapan metode kualitatif dan kuantitatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam konteks materi teks deskripsi dengan menggunakan strategi pemetaan Gambar 1 Bagan Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Perencanaan Menurut (Kemmis dan McTaggart, 1. , perencanaan merupakan tahapan dimana guru merancang serangkaian langkah yang terarah dan rasional berdasarkan masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran di kelas. Pada tahap perencanaan dalam penelitian ini, peneliti menyiapkan berbagai perangkat pembelajaran yang diperlukan guna mendukung kelancaran pelaksanaan tindakan kelas. Perangkat tersebut mencakup modul ajar. LKPD, instrumen penilaian, serta alat dokumentasi. Pelaksanaan Menurut (Kemmis dan McTaggart, 1. , pelaksanakan merupakan proses penerapan tindakan yang telah dirancang sebelumnya ke dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pada tahap pelaksanaan penelitian ini, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia berperan sebagai pelaksana tindakan, yaitu menerapkan strategi peta konsep yang telah dirancang sebelumnya guna mengatasi kendala dalam proses pembelajaran di kelas. Sementara itu peneliti bertugas sebagai observer terhadap proses penerapan strategi tersebut secara sistematis, mencatat aktivitas guru dan siswa, serta mengevaluasi keaktifannya. Dalam kegiatan observasi ini, peneliti dibantu oleh Sulaemaniyah yang bertindak sebagai kolaborator guna menjamin keakuratan dan objektivitas data yang dikumpulkan. Pengamatan Menurut (Kemmis dan McTaggart, 1. , pengamatan merupakan proses sistematis dalam mengamati dan mencatat segala hal yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pada tahap ini, peneliti mencermati pelaksanaan pembelajaran oleh guru, termasuk cara penyampaian materi, pola interaksi dengan siswa, serta tingkat keaktifan siswa selama proses belajar berlangsung. Peneliti juga mencatat tanggapan siswa terhadap penggunaan peta konsep, keterlibatan mereka dalam kegiatan menulis, dan kendala yang dihadapi selama tindakan berlangsung. Semua hasil observasi dicatat dalam instrumen observasi dan catatan lapangan sebagai dasar untuk melakukan refleksi dan perbaikan pada silkus berikutnya. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Refleksi Menurut (Kemmis dan McTaggart, 1. Refleksi adalah suatu proses menelaah secara kritis dan mendalam terhadap tindakan yang telah dilaksanakan, dengan tujuan memahami dampak dari tindakan tersebut. Pada tahap ini, peneliti bersama guru kolaborator menganalis data hasil pengamatan, catatan lapangan, dan hasil tulisan siswa guna mengevaluasi efektifitas strategi peta konsep dalam meninngkatkatkan keterampilan menulis teks deskripsi. Refleksi dilakukan untuk menilai pencapaian yang telah diraih, mmengidentifikasikan kendala yang muncul selama pembelajaran, serta menentukan aspek yang perlu diperbaiki pada siklus berikutnya, dengan harapan proses pembelajaran menjadi lebih optimal dan tujuan penelitian tercapai dengan baik. Menurut (Sugiyono, 2. , menyatakan bahwa populasi mengacu pada sekelompok objek atau subjek yang bersifat umum dan memiliki karakteristik serta sifat tertentu Menurut (Arikunto, 2. , data meliputi semua fakta dan angka yang dapat dijadikan dasar pengumpulan informasi. Menurut (Abubakar, 2. Teknik pengumpulan data merupakan pendekatan yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan guna memecahkan masalah penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Rentang Skor atau Kriteria Nilai Siswa Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), hasil belajar siswa tidak hanya dianalisis berdasarkan skor mentah, tetapi juga dikategorikan ke dalam rentang nilai tertentu. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kuantatif tentang pencapaian siswa. Dengan adanya kategori ini, guru dapat lebih mudah melakukan refleksi pembelajaran dan menentukan langkah perbaikan. Kategori penilaian membantu dalam mengukur sejauh mana metode yang digunakan berhasil meningkatkan keterampilan menulis teks deskripsi. Tabel 4. 1 Rentang Skor atau Kriteria Nilai siswa Rentang Nilai 85 - 100 Kriteria Penilaian Sangat Baik 75 - 84 Baik 60 - 74 Cukup < 60 Kurang Keterangan Siswa mampu menulis semua aspek, baik dari kesesuaian peta konsep dengan teks deskripsi, struktur kalimat, struktur isi teks deskripsi, unsur-unsur teks deskripsi, tanda baca, penggunaan ejanya. Siswa mampu menulis Sebagian besar aspek, baik dari kesesuaian peta konsep dengan teks deskripsi, struktur kalimat, struktur isi teks deskripsi, unsur-unsur teks deskripsi, tanda baca, penggunaan Siswa mampu menulis hanya beberapa aspek, baik dari kesesuaian peta konsep dengan teks deskripsi, struktur kalimat, struktur isi teks deskripsi, unsur-unsur teks deskripsi, tanda baca, penggunaan Siswa mampu menulis Sebagian kecil aspek, baik dari kesesuaian peta konsep dengan teks deskripsi, struktur kalimat, struktur isi teks deskripsi, unsur-unsur teks deskripsi, tanda baca, penggunaan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Pelaksanaan Siklus 1 Hasil pencapaian hasil belajar pada siklus 1 keterampilan menulis teks deskripsi siswa kelas Vi MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan tahun ajaran 2025/2026 masih dikategorikan rendah. Hal ini tercermin perolehan skor akhir sebagian besar siswa yang masih di bawah Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75 poin. Berikut daftar hasil pencapaian hasil belajar pada siklus 1 materi teks deskripsi siswa kelas Vi MTs Ubbadussomad DS Kalijaga Selatan tahun ajaran 2025/2026. Pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan dengan waktu 2x40 menit pada hari rabu tanggal 3 juli 2025, pukul 07:00-08:20 jam pertama-kedua. Tahapan pada siklus 1 adalah Perencanaan. Pelaksanaan. Observasi dan Refleksi. Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan penerapan metode peta konsep dalam proses pembelajaran dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran pada siklus I dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan dengan mengimplemetasikan kegiatan pembelajaran sesuai dengan modul ajar yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti bertindak sebagai pengamat . Hasil Observasi Lembar observasi aktivitas pembelajaran guru bertujuan untuk menilai pelaksanan pembelajaran oleh guru dan mengidentifikasi kendala atau keberhasilan selama tindakan. Aktivitas guru dan siswa pada siklus I dalam setiap pertemuan mengalami penurunan terutama pada siswa karena siswa kurang memperhatikan apa yang dijelaskan guru didepan kelas. Hal ini dikarenakan guru belum optimal dalam menerapkan metode peta konsep. Refleksi Berdasarkan hasil pencapaian hasil belajar, diketahui bahwa pada siklus 1 keterampilan menulis teks deskripsi siswa kelas Vi MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan masih rendah. Hal ini terlihat dari perolehan jumlah seluruh nilai siswa sebanyak 1295 dan nilai rata-rata sebesar 71,94. Berdasarkan penghitungan nilai ini diperoleh jumlah persentase ketuntasan yakni sebanyak 6 siswa . ,33%) dikategorikan siswa yang tuntas karena sudah memenuhi kriteria Ketuntasan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) 75 poin, sedangkan sebanyak 12 siswa . ,67%) dikategorikan siswa yang tidak tuntas karena perolehan nilainya di bawah 75 poin. Dengan demikian, pencapaian hasil belajar materi teks deskripsi siswa kelas Vi MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan tahun ajaran 2025/2026 perlu ditindaklanjuti pada siklus 2. Pelaksanaan Siklus 2 Pembelajaran pada siklus 2 dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan untuk mengadakan evaluasi atau tes di akhir siklus . terhadap pembelajaran pada siklus 1 pada hari jumAo at tanggal 1 Agustus 2025 pukul 09:20-10:40 jam ketiga-keempat. Tahapan pada siklus 2 adalah Perencanaan. Pelaksanaan. Observasi dan Refleksi. Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan penerapan metode peta konsep dalam proses pembelajaran dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran dan hasil belajar siswa Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran pada siklus 2 dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan dengan mengimplemetasikan kegiatan pembelajaran sesuai dengan modul ajar yang telah dipersiapkan Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti bertindak sebagai pengamat . Hasil Observasi Lembar observasi aktivitas pembelajaran guru bertujuan untuk menilai pelaksanan pembelajaran oleh guru dan mengidentifikasi kendala atau keberhasilan selama tindakan. Aktivitas guru dan siswa pada siklus 2 dalam setiap pertemuan mengalami peningkatan dari Hal ini dikarenaka guru telah optimal dalam menerapkan metode peta konsep dan telah melakukan asesmen . pada siklus 2. Refleksi Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Setelah dilakukannya tindakan siklus 2 dengan menerapkan metode peta konsep, terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil penilaian siswa. Dari seluruh siswa, yakni 18 siswa 100% berhasil mencapai nilai tuntas dengan rata-rata nilai diatas KKM. Perubahan ini menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan belajar sebesar 66,67% dari kondisi awal. Hal ini membuktikan bahwa metode peta konsep sangat efektif dalam membantu siswa Menyusun dan menuliskan teks deskripsi secara sistematis dan terarah. Berdasarkan tabel pencapaian hasil belajar pada siklus 2, diketahui bahwa keterampilan menulis materi teks deskripsi kelas Vi MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan tahun ajaran 2025/2026 sudah mengalami peningkatan seluruhnya . %). Hal ini terlihat dari perolehan jumlah seluruh nilai siswa sebanyak 1475 dan nilai rata-rata sebesar 81,94. Dari penghitungan nilai ini diperoleh jumlah persentase ketuntasan yakni sebanyak 18 siswa . %) dikategorikan siswa yang tuntas karena sudah memenuhi kriteria Ketuntasan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) 75 poin, sedangkan siswa yang dikategorikan tidak tuntas 0%. Dengan demikian, penelitian kemampuan menulis materi teks deskripsi kelas Vi MTs Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan tahun ajaran 2025/2026 berakhir pada siklus 2. Perbandingan Siklus 1 dan siklus 2 Hasil Observasi Aktivitas Pembelajaran Guru Gambar 2 Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Pembelajaran Guru Gambar 2 tersebut menunjukkan perbandingan hasil observasi aktivitas pembelajaran guru antara Siklus 1 dan Siklus 2 pada tiga aspek observasi, yaitu Kegiatan Awal. Kegiatan Inti, dan Kegiatan Penutup. Terlihat bahwa pada seluruh aspek. Siklus 2 mengalami peningkatan dibandingkan Siklus 1. Persentase aktivitas guru pada Siklus 2 mendekati atau mencapai 100%, sedangkan pada Siklus 1 masih berada di kisaran 70Ae 80%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kinerja guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dari Siklus 1 ke Siklus 2. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Gambar 3 Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Siswa Gambar 3 tersebut memperlihatkan perbandingan hasil observasi aktivitas siswa antara Siklus I dan Siklus II pada beberapa aspek kegiatan pembelajaran. Aspek yang diamati meliputi mendengarkan penjelasan guru, menemukan ide pokok, menjawab pertanyaan guru, diskusi kelompok, menyusun peta konsep, dan menyajikan hasil di depan kelas. Terlihat bahwa pada semua aspek, aktivitas siswa meningkat pada Siklus II dibandingkan dengan Siklus I. Jika pada Siklus I persentase aktivitas siswa berada di kisaran 60Ae 70%, maka pada Siklus II meningkat hingga mendekati atau mencapai 100%. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran meningkat secara signifikan setelah dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Hasil memilih Pada siklus 1 dan Siklus 2 Gambar 4 Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Siswa Gambar 4 tersebut menunjukkan perbandingan hasil belajar siswa antara Siklus 1 dan Siklus 2 dari total 18 siswa. Terdapat empat kategori nilai, yaitu Sangat Baik . Ae . Baik . Ae . Cukup . Ae . , dan Kurang (<. Dari grafik terlihat bahwa pada Siklus 2, jumlah siswa dengan kategori Sangat Baik mengalami peningkatan dibandingkan Siklus 1, sedangkan kategori Baik sedikit menurun, dan kategori Cukup menurun drastis. Tidak ada siswa yang berada pada kategori Kurang. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa secara keseluruhan pada Siklus 2, yang menandakan keberhasilan perbaikan pembelajaran. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Perbandingan Siklus 1 dan Siklus 2 Gambar 4. 4 Perbandingan Siklus 1 dan Siklus 2 Berdasarkan diagram batang berjudul Perbandingan Nilai Siklus 1 dan Siklus 2Ay , terlihat adanya peningkatan hasil belajar siswa antara kedua siklus. Pada Siklus 1, nilai rata-rata siswa sebesar 67, sedangkan pada Siklus 2 meningkat menjadi 88. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 21 poin setelah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam proses pembelajaran. Peningkatan nilai tersebut menggambarkan bahwa tindakan yang diterapkan pada Siklus 2 berjalan efektif dan mampu meningkatkan pemahaman serta kemampuan siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran pada Siklus 2 lebih berhasil dibandingkan dengan Siklus 1, baik dari segi keterlibatan siswa maupun hasil belajar yang diperoleh. PEMBAHASAN Menurut (Kemmis dan McTaggart, 2. , siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terbagi empat yakni Perencanaan. Pelaksanaan. Observasi, dan Refleksi. Merujuk pada pendapat ini, penelitian ini dilaksanakan dalam 1 siklus dengan setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dengan alokasi waktu 6 jam pelajaran . x40 meni. pada setiap tatap muka. Tahap Perencanaan Tahap perencanaan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam penelitian tindakan kelas. Perencanaan ini didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks deskripsi siswa kelas Vi MTs. Ubbadusshomad DS NW Kalijaga Selatan masih tergolong rendah. Nilai rata-rata siswa hanya 71,94, dengan persentase ketuntasan belajar 33,33% atau 6 dari 18 siswa yang mencapai KKM. Fakta tersebut menegaskan bahwa diperlukan metode pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Pada tahap perencanaan, peneliti dan guru menyusun perangkat pembelajaran berupa modul ajar. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), instrumen penilaian, serta lembar observasi untuk guru dan siswa. Selain itu, disiapkan pula instrumen tes berupa pretest dan posttest untuk mengetahui perkembangan keterampilan siswa dari sebelum hingga sesudah tindakan. Materi yang dipilih adalah teks deskripsi dengan tema objek sekolah, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan siswa. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan merupakan realisasi dari perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Dalam penelitian ini, pelaksanaan tindakan berlangsung dalam dua kali pertemuan, masing-masing berdurasi 2 y 40 menit. Pada pertemuan pertama . Juli 2. , guru memperkenalkan konsep peta konsep serta melatih siswa menemukan gagasan utama dan gagasan penjelas dari teks deskripsi. Guru memberikan contoh peta konsep sederhana, kemudian meminta siswa menyusun peta konsep berdasarkan bacaan yang disediakan. Kegiatan ini bertujuan agar siswa terbiasa mengorganisasi ideide secara terstruktur sebelum dituangkan dalam bentuk tulisan. Pada pertemuan kedua . Agustus 2. , siswa diminta mengembangkan teks deskripsi dengan berpedoman pada peta konsep yang telah mereka buat. Siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menyusun teks, lalu mempresentasikan hasil tulisannya di depan kelas. Guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan arahan, bimbingan, serta umpan balik terhadap hasil tulisan siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas guru sudah sesuai dengan skenario pembelajaran. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Tahap Refleksi Tahap refleksi dilakukan setelah seluruh rangkaian tindakan pada siklus I selesai dilaksanakan. Refleksi bertujuan untuk menelaah kelebihan, kekurangan, serta dampak dari penerapan metode peta konsep terhadap keterampilan menulis siswa. Berdasarkan hasil tes akhir siklus, diperoleh rata-rata nilai siswa sebesar 81,94 dengan tingkat ketuntasan mencapai 100% atau seluruh 18 siswa berhasil melampaui KKM. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dibandingkan kondisi awal sebelum tindakan dilakukan. Selain itu, secara kualitatif terlihat bahwa siswa lebih terampil dalam mengorganisasi ide, menyusun kalimat, serta memperhatikan struktur teks deskripsi. Implikasi Hasil penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi guru, siswa, maupun sekolah. Bagi guru, metode peta konsep dapat dijadikan alternatif metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan menulis teks deskripsi. Bagi siswa, metode ini membantu mereka berpikir lebih runtut, sistematis, serta mempermudah dalam menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Sementara itu, bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan inovasi pembelajaran guna meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil Siswa Berdasarkan Kriteria Hasil Siswa Kriteria Sangat Baik Gambar 5 Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kriteria Sangat Baik inisial OK Siswa atas nama OK dari kelas Vi memperoleh nilai 88 pada penugasan menulis teks deskripsi dengan judul Sekolah Baruku. Hasil tulisan menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyusun teks deskripsi secara runtut dan sesuai struktur. Siswa mampu mengidentifikasi objek yang dideskripsikan, yaitu sekolahnya, serta menjelaskan bagian-bagian sekolah secara rinci dan Dari aspek isi dan struktur, teks telah memuat identifikasi, deskripsi bagian, dan deskripsi penutup dengan baik. Dari aspek kebahasaan, siswa menggunakan kalimat efektif, kosakata yang tepat, serta ejaan dan tanda baca yang cukup benar. Tulisan juga rapi dan mudah dibaca. Berdasarkan hasil observasi dan penilaian, siswa dinilai telah memahami konsep teks deskripsi dan mampu menerapkannya dalam bentuk tulisan yang komunikatif dan menarik, sehingga layak memperoleh nilai 88 . ategori sangat bai. Purnamasari. , et al . menganalisis kemampuan siswa menulis teks deskriptif dengan memerhatikan beberapa indikator seperti isi . , organisasi . , penggunaan bahasa . anguage us. , kosakata . , dan mekanik . dalam konteks siswa. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Gambar 6 Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kriteria Sangat Baik Nisisial NA Siswa bernama NA memperoleh nilai 85 karena mampu menulis teks deskripsi berjudul Sekolah Baruku dengan isi yang jelas, runtut, dan menarik. Tulisan menggambarkan kondisi sekolah, fasilitas, dan suasana belajar dengan baik. Bahasa yang digunakan komunikatif dan mudah dipahami, serta tulisan rapi meskipun ada sedikit kesalahan ejaan. Berdasarkan penilaian keseluruhan, hasil karya Nasrillah termasuk dalam . ategori sangat bai. Meneurut Suparman. , et al bahwa eningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks deskriptif yang terstruktur dan baik. Hasil Siswa Kriteria Baik Gambar 7 Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kriteria Baik inisial ZJ Siswa ZJ mendapat nilai 78 karena mampu menulis teks deskripsi Sekolah Baruku dengan isi yang cukup jelas dan sesuai struktur. Tulisan menggambarkan sekolah, fasilitas, dan kegiatan dengan baik, meski masih ada sedikit kesalahan ejaan dan kalimat kurang runtut. Secara keseluruhan hasilnya termasuk . ategori bai. Penelitian yang dilakukan oleh Munira. , & Utami. penelitian ini membahas kesalahan ejaan siswa dalam teks laporan observasi, yang menyentuh aspek Ausedikit kesalahan ejaanAy dalam tulisan siswa Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Gambar 8 Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kriteria Baik inisial RA Siswa RA memperoleh nilai 77 karena mampu menulis teks deskripsi Sekolah Baruku dengan isi yang cukup lengkap dan sesuai struktur. Tulisan menggambarkan lokasi sekolah, fasilitas, kegiatan, dan suasana belajar dengan baik. Namun, masih terdapat sedikit kekurangan pada kerapian dan ketepatan ejaan. Menurut Nurgiyantoro. Menguraikan rubrik penilaian tulisan, termasuk aspek mekanik . jaan, tanda baca, dan kerapia. sebagai indikator ketepatan penggunaan bahasa Secara keseluruhan, hasil karya menunjukkan pemahaman yang baik terhadap teks deskripsi sehingga mendapat . ategori bai. Hasil Siswa Kriteria Cukup Baik Gambar 9 Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kriteria Cukup Baik Inisial AT Siswa AT memperoleh nilai 68 karena mampu menulis teks deskripsi Sekolah Baruku dengan isi yang cukup sesuai, namun masih terdapat beberapa kekurangan. Tulisan sudah menggambarkan sekolah, fasilitas, dan kegiatan, tetapi struktur kalimat belum sepenuhnya runtut dan ada kesalahan ejaan serta tanda baca. Kerapian tulisan juga masih perlu ditingkatkan. Meskipun demikian, isi teks menunjukkan pemahaman terhadap materi, sehingga hasilnya termasuk . ategori cukup bai. Kerena menurut Tarigan . , tulisan yang baik harus memperhatikan kerapian, ketepatan bahasa, dan urutan logis gagasan. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Gambar 9 Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kriteria Au Cukup BaikAy Inisial AR Siswa AR memperoleh nilai 67 karena tulisan deskripsi yang dibuat sudah menunjukkan pemahaman terhadap topik Sekolah Baru, namun masih terdapat beberapa kekurangan. Struktur paragraf sudah terbentuk, tetapi isi kurang mendalam dan kurang bervariasi dalam penggunaan Selain itu, ejaan dan tanda baca masih perlu diperbaiki agar lebih rapi dan mudah Secara keseluruhan, siswa sudah berusaha menulis dengan baik namun perlu meningkatkan kerapian, ketepatan bahasa, dan pengembangan isi agar hasilnya lebih maksimal sehingga siswa layak mendapat . ategori cukup bai. Sesuai Kemendikbud. bahwa panduan penilaian keterampilan menulis, aspek yang dinilai meliputi isi, struktur paragraf, kosakata, dan mekanik tulisan KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian tindakan ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diketahui bahwa penelitian ini dilaksanakan cukup satu siklus karena tujuan penelitian ini terlaksana secara optimal pada siklus I. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode peta konsep dalam pembelajaran menulis teks deskripsi untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas Vi MTs. Ubbadussomad DS NW Kalijaga Selatan pada tahun ajaran 2025/2026, dengan mempertimbangkan tahapan pelaksanaannya, perkembangannya, serta pengaruhnya sudah terlaksana secara optimal. Hal ini dibuktikan dengan hasil lembar obesrvasi aktivitas pembelajaran guru dan siswa sudah memenuhi target maksimal . %). Sedangkan pencapaian hasil belajar peningkatan kemampuan menulis teks deskripsi pada siswa kelas Vi MTs. Ubbadussomad DS NW Kalijaga Selatan setelah penerapan metode peta konsep pada tahun ajaran 2025/2026 sudah memenuhi target Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yakni 75 poin ke atas diperoleh seluruh siswa . %). Hal ini dibuktikan dari peningkatan hasil belajar dari kondisi awal diperoleh jumlah persentase ketuntasan yakni sebanyak 6 siswa . ,33%) dikategorikan siswa yang tuntas karena sudah memenuhi kriteria Ketuntasan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) 75 poin, sedangkan sebanyak 12 siswa . ,67%) dikategorikan siswa yang tidak tuntas karena perolehan nilainya di bawah 75 poin. Untuk hasil belajar pada siklus I, diperoleh jumlah persentase ketuntasan yakni sebanyak 18 siswa . %) dikategorikan siswa yang tuntas karena sudah memenuhi kriteria Ketuntasan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) 75 poin, sedangkan siswa yang dikategorikan tidak tuntas 0%. Dengan demikian, dengan adanya peningkatan terhadap hasil belajar peserta didik yang telah memenuhi target pada siklus 1, maka tidak perlu melaksanakan siklus Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan telah diuraikan sebelumnya agar proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia lebih efektif dan lebih memberikan hasil belajar yang baik bagi siswa , maka disampaikan saran sebagai berikut: . diharapkan sekolah dapat mendapatkan pemahaman dari penelitian ini mengenai penerapan metode pembelajaran yang efektif dan efisien, yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas pengajaran. diharapkan agar guru mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai pendekatan pengajaran, mendapatkan perspektif baru, serta mengumpulkan pengalaman dan inovasi dalam menjalankan proses pembelajaran. untuk para siswa, penggunaan strategi peta konsep dapat berpengaruh pada hasil belajar, ketertarikan, dan semangat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. July 2025: 29 -41 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 DAFTAR PUSTAKA