Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 110 - 116 Available Online at jurnal. id/focus KOMUNIKASI VERTIKAL DAN HORIZONTAL MASYARAKAT DALAM MITIGASI GEMPA BUMI DESA BANDORASAKULON. KECAMATAN CILIMUS. KABUPATEN KUNINGAN Rahadean Karunia Adiningrat1*. Arie Surya Gutama2*. Sahadi Humaedi3*. 1,2,3 Departemen Kesejahteraan Sosial. FISIP. Universitas Padjadjaran Article history Received : 26 Januari 2024 Revised : 25 Juni 2024 Accepted : 24 Juli 2024 *Corresponding author Email : rahadeank@gmail. No. doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Adanya risiko gempa bumi di sekitar wilayah Gunung Ciremai Baribis Ciremai mengakibatkan Desa Bandorasakulon memiliki risiko terhadap bencana gempa bumi. Oleh karena itu, artikel ini membahas pentingnya komunikasi vertikal dan horizontal sebagai inti dari penyampaian informasi dan koordinasi antara masyarakat dengan pemerintah desa dalam mitigasi bencana gempa bumi di Desa Bandorasakulon. Metode dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif deskriptif yang menggunakan purposive sampling dengan jumlah 30 responden dari total 5 dusun berbentuk sajian data distribusi frekuensi jenis Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas tanggapan responden adalah sangat setuju bahwa terbukanya akses komunikasi vertikal dan horizontal adalah hal yang penting untuk dijaga oleh seluruh masyarakat di Desa Bandorasakulon. Simpulan dari penelitian ini adalah terbukanya komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat dibutuhkan untuk dapat membantu dalam berbagi informasi terkait bencana di sekitar, menghubungkan desa dengan pihak luar sebagai sumber pendukung mitigasi bencana, dan menumbuhkan kewaspadaan masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan aktivitas diskusi secara rutin sebagai bentuk menjaga komunikasi vertikal dan horizontal antara pemerintah desa dengan masyarakat. Kata kunci: komunikasi vertikal dan horizontal. gempa bumi. kapasitas lokal ABSTRACT The risk of earthquakes around the Mount Ciremai and Baribis fault segment of Ciremai resulted in Bandorasakulon Village having a high risk of earthquakes. Therefore, this article discusses the importance of vertical and horizontal communication as the core of information delivery and coordination between the community and the village government in mitigating earthquake disasters at Bandorasacillon Village. The method in this study is descriptive quantitative approach that uses purposive sampling with a total of 30 respondents from 5 hamlets in the form of crosstabulation type frequency distribution data. The results of the study showed that the majority of respondents' responses strongly agreed that open access to vertical and horizontal Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 110 - 116 Available Online at jurnal. id/focus communication is important to be maintained by all communities in Bandorasakulon Village. The conclusion of this study is that vertical and horizontal communication of the community can help in sharing information related to disasters, connecting villages with outside parties as a source of disaster mitigation support, and fostering community awareness. Therefore, regular discussion activities are needed as a form of maintaining vertical and horizontal communication between the village government and the community. Keywords: vertical and horizontal communication. disaster mitigation. local capacity PENDAHULUAN Kabupaten Kuningan adalah salah satu wilayah di Provinsi Jawa Barat dengan kelas risiko sedang pada bencana gempa bumi. Hal ini diperlihatkan Kabupaten Kuningan mendapatkan skor sebesar 10,19 pada indeks risiko bencana gempa bumi tahun 2022 (BNPB, 2. Risiko gempa bumi di Kabupaten Kuningan pada dasarnya disebabkan oleh Gunung Ciremai vulkanik termasuk gempa bumi sejak 1698 hingga 1973 dan sesar Baribis segmen Ciremai (Pratomo, 2. Adanya risiko gempa bumi di sekitar wilayah Gunung Ciremai dan sesar Baribis segmen Ciremai mengakibatkan Desa Bandorasakulon memiliki risiko bencana gempa bumi karena desa tersebut masuk ke dalam kawasan rawan bencana I. II, dan i berdasarkan peta kawasan rawan bencana Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan (Kementerian ESDM, 2. Adanya risiko Desa Bandorasakulon terkait bencana gempa bumi didasari oleh banyaknya kelompok rentan yang tinggal di desa tersebut. Berdasarkan Profil Desa Bandorasakulon . , total jumlah penduduk dari desa ini adalah 120 jiwa dan kelompok rentannya 720 jiwa atau 72% dari total Menurut Siregar dan Wibowo . , kelompok rentan terdiri dari penyandang disabilitas, lanjut usia, perempuan, serta anak-anak. Meskipun begitu, masyarakat lainnya yang bukan termasuk kelompok rentan tetap berisiko terkena dampak dari bencana gempa Oleh karena itu, diperlukan mitigasi bencana gempa bumi bagi seluruh masyarakat sebagai tindakan untuk mereduksi risiko bahaya secara mengurangi dampak apabila bahaya tersebut benar terjadi (Noor, 2. Komunikasi merupakan dasar dari kehidupan manusia untuk saling berhubungan, memahami satu sama lain, serta berbagi informasi dalam mitigasi bencana gempa bumi. Selain itu, kerentanan yang dimiliki oleh masyarakat dalam konteks mitigasi bencana pada dasarnya dapat direduksi melalui komunikasi. Sebab. Nurdin . menyatakan bahwa komunikasi dalam bencana tidak hanya dibutuhkan saat kondisi darurat bencana saja, tetapi harus dibentuk sejak pra-bencana. Lasswell . alam Mulyana dan Rakhmat, 1. medefinisikan komunikasi sebagai menggunakan media tertentu untuk memunculkan suatu efek tertentu, sedangkan komunikasi vertikal dan horizontal menurut Yati . adalah Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 110 - 116 Available Online at jurnal. id/focus alur interaksi yang didasarkan atas perbedaan tingkatan ataupun kesamaan Pyles . alam Gutama et al. menyatakan bahwa komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat merupakan satu dari empat elemen penting dari kapasitas lokal di dalam pengorganisasian komunitas dalam konteks mitigasi bencana. Pengorganisasian komunitas atau community organizing adalah proses masyarakat untuk berkembang hingga memiliki kehidupan yang lebih layak. Ross dan Lappin . mendefinisikan pengorganisasian komunitas sebagai proses yang dimiliki oleh masyarakat atau komunitas untuk mengidentifikasi, mengembangkan kepercayaan diri, serta memunculkan kemauan kerja sama antara satu sama lain dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kualitas hidup bersama. Terbukanya akses komunikasi secara vertikal dan masyarakat memiliki kemauan untuk kerja sama untuk menyelesaikan masalah bersama (Gutama, 2. Oleh sebab itu. Haddow . alam Roskusumah, 2. menyatakan bahwa komunikasi yang timbul dalam setiap interaksi dan kerja sama antar masyarakat di suatu komunitas merupakan salah satu aspek penanggulangan bencana. Penelitian pentingnya komunikasi dalam mitigasi bencana dilakukan oleh Hardiyanto dan Pulungan . dengan hasil bahwa dibutuhkan informasi, edukasi, dan adanya komunikasi antar masyarakat serta lembaga pemerintahan sebagai upaya preventif dalam menghadapi bencana alam untuk mereduksi korban jiwa Penelitian lainnya dilakukan juga oleh Kurniawati . dengan hasil bahwa banyak sekali masyarakat yang tidak memiliki kesiapan dalam menilai risiko bencana, merencanakan kesiapan, menyiapkan alur mobilisasi, tidak memiliki pengetahuan, serta kurang koordinasi karena tidak ada komunikasi di antara sesama masyarakat ataupun masyarakat dengan pemerintah. Berdasarkan urgensi dan penelitian terdahulu, dibutuhkan kajian mengenai komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat dalam mitigasi bencana gempa bumi. Artikel ini bertujuan mengembangkan ilmu pengorganisasian komunitas terutama dalam aspek komunikasi vertikal dan horizontal Hasil kajian dari penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam mengetahui pentingnya keterbukaan akses komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat pada konteks mitigasi bencana alam, terutama gempa bumi kerentanan, dan risiko dapat direduksi. METODE Penelitian pendekatan kuantitatif deskriptif dengan Desa Bandorasakulon. Kecamatan Cilimus. Kabupaten Kuningan sebagai wilayah rawan terhadap bencana gempa bumi vulkanik dari Gunung Ciremai dan tektonik dari sesar Baribis segmen Ciremai. Proses non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Peneliti mengambil 30 responden terkait isu dari penelitian ini agar hasil pengujian mendekati kurva normal dengan jumlah sampel responden ditentukan dari seluruh dusun yang ada di Desa Bandorasakulon, yaitu lima dusun untuk mewakili seluruh populasi desa terkait isu komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat dalam mitigasi bencana gempa bumi. Kesesuaian proses Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 110 - 116 Available Online at jurnal. id/focus sampling disesuaikan dengan skala data yang digunakan, yaitu non-metrik berupa skala ordinal. Tabel 1. Tabel skala ordinal komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat dalam mitigasi gempa bumi Keterangan Nilai Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Sumber: (Penelitian, 2. Adapun berbentuk tanggapan responden tentang terbukanya komunikasi vertikal dan Desa Bandorasakulon dalam bentuk distribusi frekuensi jenis crosstabulation. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas Komunikasi Desa Bandorakulon Aktivitas komunikasi masyarakat Desa Bandorasakulon dalam mitigasi bencana gempa bumi dilakukan oleh tiga pihak utama, yaitu pemerintah desa, masyarakat umum, dan kelompok tani hutan bernama Bhakti Mandiri II. Untuk mawadahi segala aktivitas komunikasi. Desa Bandorasakulon memiliki grup Whatsapp yang di dalamnya memuat seluruh masyarakat desa sebagai wadah bertukar informasi dan pelaporan Pada konteks mitigasi bencana, pihak pemerintah desa dan kelompok Bhakti Mandiri II memiliki fungsi sebagai koordinator utama dalam memberi arahan kepada masyarakat serta menjadi penghubung antara Desa Bandorasakulon dengan pihak luar seperti Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), desa lain, pemadam kebakaran, kepolisian. Taruna Siaga Bencana (TAGANA). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ataupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai pendukung eksternal dari aktivitas pencegahan bencana Meskipun pemerintah desa dan kelompok Bhakti Mandiri II menghubungkan desa dengan pihak luar, masyarakat tetap rutin melaksanakan aktivitas diskusi ringan serta gotong royong secara inisiatif setiap pergantian musim yang dipimpin oleh pemimpin lokal. Akses Desa Bandorasakulon masyarakat ataupun masyarakat dengan pemerintah pada dasarnya terbentuk dengan sendirinya karena terdapat keeratan antara satu sama lain. Namun, bahwa pemerintah desa seringkali hanya melakukan diskusi dengan sesama aparatur desa dan beberapa perwakilan masyarakat yang dirasa memahami aktivitas mitigasi bencana saja. Oleh sebab itu, masyarakat pun merasa bahwa Desa Bandorasakulon berada pada Hal menunjukkan bahwa pihak desa masih belum melibatkan masyarakat secara keseluruhan dalam merencanakan serta melaksanakan rencana yang telah dirumuskan berkenaan dengan mitigasi bencana gempa bumi. Di sisi lain, komunikasi antara sesama masyarakat ataupun masyarakat dengan pemerintah diperlukan untuk menjaga segala pesan yang disampaikan terkait kebencanaan tetap berada dalam pikiran dan tindakan Desa Bandorasakulon. Pentingnya Komunikasi Vertikal dan Horizontal dalam Mitigasi Bencana Gempa Bumi Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 110 - 116 Available Online at jurnal. id/focus Munculnya komunikasi vertikal dan horizontal sebagai salah satu dimensi penting pengorganisasian komunitas di Desa Bandorasakulon berdasarkan Pyles . alam Gutama et al. , 2. terkait mitigasi bencana dapat dilihat ketika terdapat komunikasi vertikal dari pihak pemerintah desa untuk menginisiasi pembentukan aktivitas komunikasi masyarakat melalui grup Whatsapp. Selain itu, terdapat juga diskusi tertutup membahas tentang kebencanaan di sekitar desa. Komunikasi horizontal di Desa Bandorasakulon diperlihatkan saat terdapat aktivitas gotong royong atas inisiasi masyarakat setiap pergantian musim dan diskusi informal antar Berdasarkan hasil analisis tersebut, potensi dari keeratan masyarakat Desa Bandorasakulon untuk bekerja sama dapat menjadi sumber pendukung vertikal dan horizontal secara baik. Tabel 2. Tanggapan responden terkait terbukanya akses komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat dalam mitigasi bencana gempa bumi. Terbukanya akses Aspek komunikasi vertikal N S SS Total Terbukanya Total 1 12 17 Sumber: (Penelitian, 2. sedangkan tanggapan responden terkait komunikasi horizontal adalah 2 netral, 9 setuju, dan 19 sangat setuju. Banyaknya tanggapan setuju dan sangat setuju dari responden pada Tabel 2 menunjukkan bahwa terbukanya akses komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat dalam mitigasi bencana gempa bumi di Desa Bandorasakulon merupakan hal yang penting untuk dijaga baik oleh masyarakat dengan pemerintah desa. Hal tersebut selaras dengan penelitian Darmadi . dengan hasil bahwa komunikasi yang dibangun antara merupakan aspek penting guna menjaga kelancaran dan mencegah kepanikan masyarakat saat bencana benar-benar terjadi. Berdasarkan hasil dari Tabel 2, maka diskusi yang dilakukan oleh pemerintah desa bersama dengan hanya beberapa perwakilan masyarakat saja kurangnya pelibatan oleh pemerintah desa kepada masyarakat umum untuk Kurangnya masyarakat oleh pemerintah desa terkait mitigasi bencana gempa bumi diperkuat dengan temuan bahwa Desa Bandorasakulon masih merasa dirinya aman dari gempa Padahal, gempa bumi yang bersumber dari Gunung Ciremai dan sesar Baribis segmen Ciremai dapat terjadi kapan saja, meskipun aktivitas terakhir dari Gunung Ciremai tercatat pada tahun 1973. Berdasarkan Tabel 2, tanggapan responden terkait perlunya keterbukaan akses komunikasi vertikal adalah 1 netral, 12 setuju, dan 17 sangat setuju. Gambar 1. Ringkasan Analisis Komunikasi Vertikal dan Horizontal Masyarakat dalam Mitigasi Bencana Gempa Bumi Desa Bandorasakulon Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 110 - 116 Available Online at jurnal. id/focus Komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat (Pyles dalam Gutama et al. Feedback . Terdapat grup desa di Whatsapp untuk tukar informasi, pemberian peringatan, serta pelaporan seputar . Terdapat musyawarah tertutup antara pemerintah dan masyarakat . Terdapat gotong royong pergantian musim . Terdapat aktivitas diskusi secara informal terkait kebencanaan oleh sesama masyarakat Sumber: (Penelitian, 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan analisis, dapat disimpulkan bahwa terbukanya akses komunikasi vertikal dan horizontal masyarakat adalah aspek penting dalam keberhasilan mitigasi bencana gempa bumi. Sebab, terbukanya masyarakat ataupun masyarakat dengan pemerintah desa dapat membantu dalam berbagi informasi menghubungkan desa dengan pihak luar sebagai sumber pendukung mitigasi bencana, dan menumbuhkan kewaspadaan masyarakat secara keseluruhan sehingga risiko dari direduksi secara berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan aktivitas diskusi secara rutin yang melibatkan dengan pemerintah desa untuk menjaga kewaspadaan, tindakan, dan hubungan baik antara setiap pihak di Desa Bandorasakulon. DAFTAR PUSTAKA