JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. Evaluasi Kinerja Web Server Nginx Dan Apache2 Pada Sistem Debian Menggunakan Metode Stress Testing Angela Wita Simanullang1. Erich Ricardo2. Lotar Mateus Sinaga3 Universitas Katolik Santo Thomas. Medan. Indonesia1,2,3 angelawita38@gmail. com1, ericmarbun3@gmail. com 2, lotarmateus88@gmail. *Corresponding author : 2ericmarbun3@gmail. AbstrakAiMeningkatnya kebutuhan terhadap layanan berbasis web yang cepat dan stabil menjadikan pemilihan web server sebagai faktor penting dalam implementasi sistem. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan membandingkan kinerja Apache2 dan Nginx pada sistem operasi Debian 12 menggunakan metode stress testing. Pengujian dilakukan pada lingkungan implementasi yang identik menggunakan Apache Benchmark . 000 request dan 100 concurrent connection. Parameter yang dianalisis meliputi Requests per Second. Time per Request. Transfer Rate, dan Failed Requests. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nginx memperoleh 5500. 65 Requests per Second. Time per Request sebesar 18. 180 ms, dan Transfer Rate sebesar 4555. 23 KBytes/sec, sedangkan Apache2 memperoleh 439. Requests per Second. Time per Request sebesar 227. 448 ms, dan Transfer Rate sebesar 2607. 48 KBytes/sec. Kedua web server berhasil menyelesaikan seluruh request tanpa Failed Requests. Penelitian ini memberikan evaluasi objektif terhadap performa kedua web server sehingga dapat menjadi referensi dalam pemilihan web server sesuai kebutuhan implementasi layanan berbasis web. AbstractAi The increasing demand for fast and reliable web-based services makes web server selection an important factor in system implementation. This study aims to evaluate and compare the performance of Apache2 and Nginx on the Debian 12 operating system using a stress testing approach. Both web servers were deployed in an identical environment and evaluated using Apache Benchmark . with 5,000 requests and 100 concurrent connections. The evaluated parameters included Requests per Second. Time per Request. Transfer Rate, and Failed Requests. The results showed that Nginx achieved 5500. 65 Requests per Second, a Time per Request of 18. 180 ms, and a Transfer Rate of 4555. 23 KBytes/sec, while Apache2 achieved 439. 66 Requests per Second, a Time per Request of 227. 448 ms, and a Transfer Rate of 2607. 48 KBytes/sec. Both web servers completed all requests without Failed Requests. These findings provide an objective performance evaluation and can serve as a reference for selecting web servers based on implementation requirements. Keywords: Web Server. Apache2. Nginx. Debian 12. Stress Testing. Apache Benchmark. This is an open access article under the CC BY-SAlicense. Pendahuluan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong pemanfaatan layanan berbasis web pada berbagai sektor, seperti pendidikan, pemerintahan, kesehatan, bisnis, hingga layanan publik. Seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna internet dan transformasi digital, kebutuhan terhadap sistem yang mampu menyediakan layanan secara cepat, stabil, dan berkelanjutan semakin tinggi. Web server merupakan salah satu komponen utama yang berfungsi menerima permintaan . dari pengguna melalui protokol HTTP/HTTPS, kemudian memproses dan mengirimkan respons sesuai dengan layanan yang diminta. Kinerja web server berpengaruh terhadap kualitas layanan karena berkaitan dengan kecepatan respons, kemampuan melayani banyak permintaan secara bersamaan, serta efisiensi penggunaan sumber daya server . Oleh karena itu, pemilihan web server yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketersediaan layanan dan meningkatkan kualitas pengalaman pengguna. Apache HTTP Server dan Nginx merupakan dua web server yang paling banyak digunakan dalam implementasi berbagai layanan berbasis web. Apache dikenal memiliki fleksibilitas yang tinggi melalui dukungan modul yang lengkap serta kompatibilitas terhadap berbagai teknologi web. Di sisi lain. Nginx dikembangkan menggunakan arsitektur event-driven yang mampu menangani koneksi dalam jumlah besar dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Perbedaan karakteristik tersebut menyebabkan kedua web server memiliki keunggulan masing-masing sesuai kebutuhan implementasi sistem, sehingga diperlukan pengujian untuk mengetahui performa sebenarnya ketika melayani permintaan dari pengguna . Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar bagi administrator sistem dalam menentukan web server yang sesuai dengan kebutuhan implementasi. https://jurnal. id/index. php/jukomika JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. Evaluasi performa web server umumnya dilakukan menggunakan metode stress testing atau benchmarking untuk mengetahui kemampuan server dalam menangani sejumlah permintaan secara bersamaan. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban tertentu sehingga dapat diketahui karakteristik performa masingmasing web server berdasarkan parameter seperti Requests per Second. Time per Request. Transfer Rate, maupun Failed Requests. Hasil pengujian tersebut menjadi dasar dalam menilai efektivitas web server ketika digunakan pada kondisi lalu lintas yang tinggi . Melalui proses evaluasi tersebut, administrator sistem dapat menentukan solusi yang paling sesuai berdasarkan kebutuhan layanan tanpa hanya bergantung pada popularitas suatu web server. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa evaluasi performa web server tidak hanya dilakukan berdasarkan jumlah permintaan yang berhasil diproses, tetapi juga mempertimbangkan parameter seperti response time, throughput, dan latency untuk menilai kualitas layanan pada berbagai tingkat beban kerja. Penggunaan parameter tersebut memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan web server dalam menangani peningkatan jumlah permintaan pengguna. Berbagai penelitian mengenai perbandingan performa web server telah dilakukan menggunakan metode dan lingkungan pengujian yang berbeda. Salah satu penelitian membandingkan Apache. Nginx, dan Lighttpd pada sistem Debian menggunakan perangkat lunak WRK dengan variasi jumlah pengguna dan durasi pengujian. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap web server memiliki karakteristik performa yang berbeda bergantung pada arsitektur, konfigurasi, serta kondisi beban yang diberikan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap web server memiliki karakteristik performa yang berbeda bergantung pada arsitektur, konfigurasi, serta kondisi beban yang diberikan. Oleh karena itu, proses benchmarking menjadi langkah penting untuk memperoleh gambaran objektif mengenai kemampuan masing-masing web server sebelum diterapkan pada lingkungan operasional . Selain penelitian yang berfokus pada pengujian performa, beberapa penelitian juga mengembangkan implementasi web server pada lingkungan yang lebih kompleks, seperti penggunaan Docker dan Kubernetes untuk mendukung mekanisme failover serta autoscaling. Pendekatan tersebut bertujuan meningkatkan ketersediaan layanan dan skalabilitas sistem melalui pengelolaan beberapa node secara Meskipun demikian, penelitian tersebut lebih menitikberatkan pada aspek keandalan infrastruktur dibandingkan evaluasi performa web server secara langsung menggunakan metode stress testing . Selain itu, penggunaan lingkungan pengujian, perangkat lunak benchmark, maupun parameter pengujian yang berbeda pada setiap penelitian menyebabkan hasil evaluasi sulit dibandingkan secara langsung sehingga masih diperlukan penelitian pada lingkungan yang lebih seragam. Berdasarkan telaah terhadap penelitian terdahulu, masih terdapat kesenjangan penelitian . esearch ga. terkait evaluasi performa Apache2 dan Nginx pada sistem operasi Debian 12 menggunakan lingkungan implementasi yang identik serta metode pengujian yang sama. Sebagian besar penelitian sebelumnya menggunakan sistem operasi, perangkat lunak benchmark, maupun infrastruktur yang berbeda sehingga hasil pengujian belum dapat dibandingkan secara objektif. Oleh karena itu, kebaruan . penelitian ini terletak pada evaluasi dan perbandingan performa Apache2 dan Nginx menggunakan Apache Benchmark . pada sistem operasi Debian 12 dengan lingkungan pengujian yang identik. Penelitian ini mengevaluasi kedua web server berdasarkan parameter Requests per Second. Time per Request. Transfer Rate, dan Failed Requests sehingga mampu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai karakteristik performa masing-masing web server. Berdasarkan research gap dan novelty tersebut, penelitian ini bertujuan mengevaluasi serta membandingkan kinerja Apache2 dan Nginx pada sistem operasi Debian 12 menggunakan metode stress testing dengan Apache Benchmark . Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai karakteristik performa kedua web server serta menjadi referensi bagi administrator sistem dalam menentukan web server yang sesuai dengan kebutuhan implementasi layanan berbasis web. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen untuk mengevaluasi dan membandingkan kinerja web server Apache2 dan Nginx pada sistem operasi Debian 12 melalui pengujian stress testing. Pendekatan eksperimen dipilih karena memungkinkan proses pengujian dilakukan pada kondisi yang sama sehingga hasil yang diperoleh dapat dibandingkan secara objektif. Pengujian difokuskan pada pengukuran parameter Requests per Second. Time per Request. Transfer Rate, dan Failed Requests sebagai indikator utama dalam menilai performa masing-masing web server . Penelitian dilaksanakan pada lingkungan pengujian yang identik sehingga setiap web server memperoleh perlakuan yang sama selama proses pengujian https://jurnal. id/index. php/jukomika JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. Tabel 1. Spesifikasi Perangkat Penelitian Komponen Perangkat Penelitian Processor Jumlah Core Logical Processor Memori (RAM) Media Penyimpanan Virtual Machine Sistem Operasi Guest Web Server Sistem Operasi Host Perangkat Benchmark Spesifikasi Laptop ASUS ExpertBook B1402CBA 12th Gen IntelA CoreE i5-1235U 10 Core 12 CPU 16 GB . 84 MB) SSD 512 GB Oracle VirtualBox Debian GNU/Linux 12 Apache2 2. 57 dan Nginx 1. Windows 11 Pro 64-bit Apache Benchmark . Tabel 1 menunjukkan spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan selama penelitian. Seluruh proses instalasi, konfigurasi, dan pengujian dilakukan menggunakan lingkungan perangkat yang sama sehingga hasil pengujian dapat direplikasi dan dibandingkan secara objektif dengan penelitian lain. Tahapan penelitian dimulai dengan melakukan studi literatur, kemudian dilanjutkan dengan instalasi sistem operasi Debian 12 pada lingkungan virtual menggunakan Oracle VirtualBox. Setelah sistem berhasil dijalankan, dilakukan instalasi dan konfigurasi Apache2 serta Nginx secara terpisah agar kedua web server dapat diuji pada kondisi yang sama. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan stress testing menggunakan Apache Benchmark . dengan parameter yang telah ditentukan. Seluruh data hasil pengujian kemudian dianalisis untuk memperoleh perbandingan performa kedua web server berdasarkan parameter yang Tahapan penelitian yang dilakukan pada penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Tahapan Penelitian Berdasarkan Gambar 1, penelitian dilakukan secara bertahap mulai dari studi literatur hingga analisis hasil Setiap tahapan saling berkaitan sehingga proses implementasi, pengujian, dan analisis dapat dilakukan secara sistematis dan menghasilkan data yang dapat dibandingkan secara objektif. Studi literatur dilakukan dengan mengumpulkan berbagai referensi yang berkaitan dengan implementasi web server, evaluasi performa, sistem operasi Debian, serta metode pengujian yang digunakan. Referensi tersebut menjadi dasar dalam menentukan tahapan penelitian, parameter pengujian, serta teknik analisis yang diterapkan sehingga penelitian dapat dilaksanakan secara sistematis dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan . https://jurnal. id/index. php/jukomika JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. Tahap implementasi diawali dengan instalasi sistem operasi Debian 12 pada Oracle VirtualBox sebagai lingkungan server virtual. Setelah proses instalasi selesai, dilakukan konfigurasi jaringan agar server dapat diakses melalui jaringan lokal. Selanjutnya Apache2 dan Nginx diinstal secara bergantian pada lingkungan sistem yang sama hingga layanan HTTP dapat diakses menggunakan browser client melalui alamat IP Seluruh proses konfigurasi dilakukan dengan prosedur yang identik untuk memastikan bahwa hasil pengujian diperoleh pada kondisi yang setara. Pengujian performa dilakukan menggunakan Apache Benchmark . dengan parameter sebagai berikut. ab -n 5000 -c 100 http://192. Keterangan: A -n 5000 : jumlah request yang dikirimkan ke web server. A -c 100 : jumlah koneksi simultan . oncurrent connectio. Parameter pengujian sebesar 5000 request dan 100 concurrent connection dipilih karena mampu merepresentasikan kondisi beban akses menengah hingga tinggi pada web server. Parameter tersebut dinilai cukup untuk mengevaluasi kemampuan server dalam menangani banyak permintaan secara bersamaan tanpa menyebabkan kegagalan layanan selama proses pengujian. Selain itu, konfigurasi tersebut juga banyak digunakan pada penelitian benchmarking web server sehingga hasil penelitian dapat dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Parameter yang diamati pada penelitian ini meliputi: Requests per Second Time per Request Transfer Rate Failed Requests Seluruh parameter tersebut digunakan sebagai dasar dalam mengevaluasi performa Apache2 dan Nginx selama menerima beban akses yang sama. Data hasil pengujian Apache2 dan Nginx dianalisis menggunakan metode komparatif dengan membandingkan nilai Requests per Second. Time per Request. Transfer Rate, dan Failed Requests yang diperoleh dari Apache Benchmark. Web server yang memiliki nilai Requests per Second dan Transfer Rate lebih tinggi serta Time per Request lebih rendah dinilai memiliki performa yang lebih baik. Metode komparatif digunakan karena mampu memberikan gambaran objektif mengenai perbedaan performa kedua web server berdasarkan parameter yang sama sehingga hasil evaluasi dapat dijadikan dasar dalam menyimpulkan kelebihan dan kekurangan Apache2 maupun Nginx pada sistem operasi Debian 12. Hasil dan Pembahasan Sebelum implementasi web server dilakukan, spesifikasi perangkat server terlebih dahulu diperiksa untuk memastikan kapasitas memori dan media penyimpanan mencukupi dalam mendukung instalasi Apache2. Nginx, serta pelaksanaan pengujian menggunakan Apache Benchmark . Gambar 2. Informasi kapasitas memori dan media penyimpanan pada server Debian 12 menggunakan perintah free -h dan df -h. Berdasarkan Gambar 2, server Debian 12 memiliki kapasitas memori dan ruang penyimpanan yang memadai untuk menjalankan layanan web server. Informasi tersebut menjadi dasar bahwa lingkungan pengujian telah siap digunakan pada proses implementasi dan pengujian performa Apache maupun Nginx. https://jurnal. id/index. php/jukomika JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. Sebelum layanan web server diakses oleh client, dilakukan pemeriksaan konfigurasi alamat IP server menggunakan perintah ip a. Alamat IP ini digunakan sebagai media komunikasi antara server dan komputer client pada jaringan lokal. Gambar 3. Konfigurasi alamat IP server Debian 12 menggunakan perintah ip a. Berdasarkan Gambar 3, server telah memiliki alamat IP yang digunakan sebagai alamat akses dari komputer client. Konfigurasi jaringan yang benar memastikan proses implementasi serta pengujian web server dapat dilakukan tanpa kendala komunikasi antar perangkat. Implementasi Apache dilakukan dengan memastikan layanan Apache telah berjalan pada sistem operasi Debian 12. Status layanan diperiksa menggunakan perintah systemctl status apache2, kemudian dilakukan pengujian akses melalui browser Gambar 4. Status layanan Apache Web Server pada Debian 12. Hasil pada Gambar 4 menunjukkan bahwa layanan Apache berada pada status active . , yang menandakan bahwa web server telah berhasil dijalankan dan siap menerima permintaan dari client. Gambar 5. Hasil benchmark performa Apache menggunakan Apache Benchmark . https://jurnal. id/index. php/jukomika JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. Berdasarkan hasil benchmark pada Gambar 5. Apache2 memperoleh nilai Requests per Second sebesar 439,66 requests/sec. Nilai tersebut menunjukkan bahwa Apache2 mampu melayani permintaan pengguna dengan baik, namun peningkatan jumlah koneksi simultan menyebabkan waktu respons meningkat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh arsitektur process-driven yang digunakan Apache2, di mana setiap permintaan diproses menggunakan proses atau thread tersendiri. Ketika jumlah koneksi meningkat, penggunaan sumber daya sistem juga bertambah sehingga memengaruhi performa web server . Gambar 6. Status layanan Nginx Web Server pada Debian 12. Hasil pada Gambar 6 menunjukkan bahwa layanan Nginx berada pada status active . sehingga siap digunakan sebagai web server. Gambar 7. Pemeriksaan penggunaan port 80 oleh layanan Nginx. Berdasarkan Gambar 8, layanan Nginx telah menggunakan port 80 (HTTP) sebagai port komunikasi web server, sehingga implementasi Nginx berhasil dilakukan dengan baik. Gambar 9. Hasil benchmark performa Nginx menggunakan Apache Benchmark . https://jurnal. id/index. php/jukomika JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. Berdasarkan hasil benchmark pada Gambar 9. Nginx memperoleh nilai Requests per Second sebesar 5500,65 requests/sec dengan Time per Request sebesar 18,180 ms. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Nginx memiliki kemampuan menangani permintaan dalam jumlah besar dengan waktu respons yang lebih rendah dibandingkan Apache2. Keunggulan tersebut dipengaruhi oleh penerapan arsitektur event-driven yang memungkinkan satu worker process menangani banyak koneksi secara bersamaan melalui mekanisme asynchronous I/O, sehingga penggunaan CPU dan memori menjadi lebih efisien . Kondisi tersebut menyebabkan Nginx mampu mempertahankan performa yang lebih stabil ketika menerima jumlah koneksi simultan yang tinggi dibandingkan Apache2. Untuk mempermudah proses analisis, hasil benchmark Apache2 dan Nginx menggunakan Apache Benchmark . dirangkum dalam Tabel 2. Penyajian hasil dalam bentuk tabel bertujuan untuk memperlihatkan perbedaan performa kedua web server berdasarkan parameter pengujian yang sama. Tabel 2. Perbandingan Hasil Pengujian Apache2 dan Nginx Menggunakan Apache Benchmark . Parameter Apache2 Web Server Apache2 2. 57 (Debia. Concurrency Level Complete Requests Failed Requests Time Taken for Tests Requests per Second Time per Request . Time per Request . ll Transfer Rate 66 req/sec 448 ms 274 ms 48 KB/sec Nginx Keterangan Versi web server yang Jumlah koneksi simultan Jumlah request yang berhasil Tidak terdapat kegagalan selama pengujian Semakin kecil semakin baik 65 req/sec Semakin besar semakin baik 180 ms Semakin kecil semakin baik Waktu rata-rata pada seluruh 182 ms 23 KB/sec Semakin besar semakin baik Sumber: Hasil pengujian menggunakan Apache Benchmark . Nginx 1. 1 (Debia. Berdasarkan Tabel 2. Nginx menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan Apache2 pada seluruh parameter utama pengujian. Nilai Requests per Second dan Transfer Rate yang lebih tinggi menunjukkan bahwa Nginx mampu memproses permintaan pengguna dengan kapasitas yang lebih besar, sedangkan nilai Time Taken for Tests dan Time per Request yang lebih rendah menunjukkan bahwa Nginx memberikan waktu respons yang lebih cepat dibandingkan Apache2. Selain itu, kedua web server berhasil menyelesaikan seluruh proses pengujian tanpa Failed Requests, sehingga keduanya memiliki tingkat keandalan yang baik pada lingkungan implementasi yang digunakan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa Nginx memiliki kemampuan lebih baik dalam menangani beban akses tinggi dibandingkan Apache. Perbedaan performa tersebut dipengaruhi oleh karakteristik arsitektur yang digunakan masing-masing web Nginx menerapkan arsitektur event-driven yang memungkinkan satu worker process menangani banyak koneksi secara bersamaan melalui mekanisme asynchronous I/O, sehingga penggunaan CPU dan memori menjadi lebih efisien. Sebaliknya. Apache2 menggunakan pendekatan process-driven yang memerlukan proses atau thread tersendiri untuk setiap koneksi sehingga kebutuhan sumber daya meningkat ketika jumlah koneksi simultan bertambah. Kondisi tersebut menyebabkan Nginx mampu mempertahankan performa yang lebih stabil pada beban akses yang tinggi dibandingkan Apache2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan web server perlu disesuaikan dengan karakteristik aplikasi dan kebutuhan implementasi. Nginx lebih sesuai digunakan pada layanan dengan lalu lintas tinggi yang membutuhkan waktu respons rendah dan throughput tinggi, sedangkan Apache2 masih menjadi pilihan yang baik untuk aplikasi web dengan tingkat akses rendah hingga menengah karena memiliki fleksibilitas konfigurasi dan dukungan modul yang lebih lengkap. Temuan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya mengenai pentingnya pemilihan web server berdasarkan kebutuhan implementasi agar diperoleh performa sistem yang optimal. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Nginx memiliki performa yang lebih baik dibandingkan Apache2 pada sistem operasi Debian 12 berdasarkan parameter Requests per Second. Time https://jurnal. id/index. php/jukomika JUKOMIKA (Jurnal Ilmu Komputer dan Informatik. Volume 9. Nomor 1. July 2026 || Hal 96-104 p-ISSN : 2655-7541 . e-ISSN : 2745-5823 DOI : 10. per Request, dan Transfer Rate yang diperoleh melalui pengujian menggunakan Apache Benchmark . Nginx mampu menangani beban akses yang sama dengan waktu respons lebih rendah serta tingkat transfer data yang lebih tinggi dibandingkan Apache2, sementara kedua web server sama-sama berhasil menyelesaikan seluruh pengujian tanpa Failed Requests. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan arsitektur event-driven pada Nginx memberikan efisiensi yang lebih baik dalam menangani koneksi simultan dibandingkan pendekatan process-driven pada Apache2. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi berupa evaluasi objektif terhadap performa kedua web server pada lingkungan implementasi yang identik sehingga dapat menjadi referensi dalam pemilihan web server sesuai kebutuhan layanan berbasis web. Penelitian ini masih terbatas pada satu skenario pengujian menggunakan 5. request dan 100 concurrent connection, sehingga penelitian selanjutnya disarankan menggunakan variasi beban akses, perangkat benchmark yang berbeda, serta mengevaluasi penggunaan sumber daya server agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif. Daftar Pustaka